My Book, Hiks...
Boruto sedang tersenyum sambil merebahkan kepalanya dibahu Sarada. Gadis itu terkikik menikmati serial anime kesukaanya sambil mengunyah popcorn yang sedari tadi disuapkan Boruto pada bibir mungilnya.
Himawari menatap Kakak dan calon kakak iparnya yang seperti sengaja memamerkan kemesraan mereka disaat kedua orang tua mereka tidak dirumah.
"Aku heran dengan mereka. Disekolah seperti orang asing saja, disini malah seperti suami istri sungguhan", batin Himawari sebal.
"Yak, jangan berisik kalian. Aku tak bisa berkonsentrasi membaca novel", bentak Himawari sambil menatap punggung kedua orang yang sedang bermesraan itu dengan pandangan iri.
"Eh, Iya, Hima-chan. Gomensai, abis lucu sekali sih filmnya. Kau tak mau lihat? Sini duduk disisiku", tawar Sarada sambil mengembangkan senyum manisnya yang jarang ia berikan pada orang lain.
"Cih, biarkan saja. Dia kan yang mengganggu kita. Ah bilang saja kau iri Hime", goda Boruto sambil menengadah menatap mata violet Himawari.
"Tentu saja tidak, bodoh!" teriak Himawari sambil melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju kamarnya.
"Kau keterlaluan", kata Sarada mencoba memberi peringatan pada kekasihnya yang terlihat tolol. Dan benar saja, Boruto hanya memberikan cengiran khasnya menghadapi wajah kekasihnya yang sedikit cemberut.
.
.
.
.
Himawari melangkah kearah taman depan perumahan Konoha de Cluster yang berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya. Ia baru saja menemui Sanoko yang memintanya berkunjung ke rumah sekaligus toko bunga Yamanaka yang paling tersohor di Konoha. Sanoko menceritakan masa kecil mereka yang bertemu pertama kali diulangtahun Chouchou senpai, teman kakak mereka. Saat itu mereka baru berusia 5 tahun. Sanoko sedari kecil tinggal diflat milik Ojisannya di Kirigakure. Baru beberapa hari yang lalu ibu dan ayahnya menjemput Sanoko mengingat usia putrinya yang sudah semakin dewasa dan tak banyak waktu yang mereka miliki untuk dinikmati bersama sebelum nantinya berpisah lagi karena Sanoko harus kuliah atau menikah nanti.
Himawari mulai membuka tas selempangnya sembari duduk disalah satu bangku putih yang menghadap kearah air mancur yang terletak ditengah taman yang asri itu. Tangannya meraih buku novel historial karya Julie Garwood. Beberapa menit kemudian dirinya seolah-oah begitu tenggelam dalam cerita yang menghanyutkan imajinasinya pada jaman inggris kuno itu.
"Boleh duduk disini?", sapa seorang pemuda berusia sekitar 20 tahunan yang berdiri disebelah Himawari. Dengan malas ia mendongakkan kepala melihat siapa setan bersuara bariton yang mengganggu kesenangan kecilnya bersama karya sastra yang menghanyutkan tersebut. Matanya menangkap helaian rambut merah gelap yang berkibar seiring tiupan angin sore. Mata lelaki dihadapannya terihat tegas namun menghanyutkan. Ia seolah-olah tersedot dalam imajinasinya sendiri ketika mendapati lelaki berbadan tegap itu tersenyum kearahnya. Rambut depannya yang berkibar menyingkap tatoo dengan kaligrafi huruf kanji yang berarti cinta. Bibirnya tiba-tiba keluh. Sambil sedikit menganga tolol akhirnya ia mampu mengangguk.
"Terimakasih", jawab lelaki yang lebih tua dan lebih tampan daripada nii-sannya itu sambil duduk disebelahnya.
Pandangan Himawari kembali menatap kearah buku yang dipegangnya. Namun otakknya tidak lagi. Seakan imajinasinya direngut paksa oleh kenyataan yang lebih indah. Ya, kenyataan itu sedang duduk disampingnya saat ini. "Masih menyungingkan senyum indahnya", bisik batin Himawari sambil melirik lelaki disampingnya.
Wajahnya merona ketika lelaki tampan itu tidak berhenti menatapnya. "Tidak sopan", decak batin Himawari. "Tapi aku menyukai sikapnya yang terang-terangan itu", sahut batin Himawari yang lain.
"Hei, dimana harga dirimu nona? Kau senang direndahkan seperti itu?", hardik batin Himawari yang lain lagi.
"Oh, tidak Hima sayang. Dia benar-benar tampan. Dia juga menatapmu penuh minat. Itu sangat tidak pantas disebut merendahkan", batin Himawari yang lain ikut bergejolak.
"Diam!", seru Himawari lantang. Tidak sadar kalau yang berdebat tadi batin-batinnya yang centil dan egois.
"Aku sudah diam daritadi", sahut lelaki disebelahnya sambi menahan tawa.
"Eeh,mm,, maksudku... Ah aku harus pergi", jawab Himawari tak dapat menyembunyikan rasa malunya lagi. Ia sangat malu. Sambil berlari ia mencoba melirik kebelakang dan sialnya lelaki tadi masih menatapnya sambil melambaikan tangan. Kontan Himawari berlari semakin cepat meninggakan lelaki tampan itu sendirian.
.
.
.
"Kenapa lagi?", cecar Naruto ketika mendapati Himawari menekuk mukanya dimeja makan.
"Tidak", elak Himawari.
"Katakan", desak Naruto pada putri kebanggaannya itu.
"Aku tidak mau Tou-san menyuruhku menikah dengan paman itu", jawab Himawari lesu.
"Bukan Tou-san yang membuat janji itu", jawab Naruto sambil menggertakkan gigi. Bahkan Hinata dan Boruto yang sedari tadi diam ikut terkejut.
"Em, Naru...", cegah Hinata.
"Sudahlah Hinata. Cepat atau lambat dia harus tau yang sebenarnya", potong Naruto sambil meletakkan sendoknya dengan suara lentingan tajam. Himawari dan Boruto yang merasa Tousannya hendak meledak itu buru-buru menundukkan wajah.
"Bukan Tousan yang membuat perjanjian itu. Tapi yah, perjanjian itu memang ada dan disaksikan banyak orang. Tidak seperti Boruto dan Sarada yang memang merupakan perjanjian antara Tousan dan sahabat baik tousan, paman sasuke, untuk menikahkan mereka ketika mereka berdua baru lahir", lanjut Naruto.
"Yang membuat perjanjian itu adalah salah satu dari anggota keluarga Uzumaki".
Gertakan gigi Naruto terdengan nyaring membuat Himawari dan Boruto ketakutan sekaligus penasaran setengah mati. Kalo bukan Tousannya, lalu siapa yang membuat perjanjian nikah itu? Apa Kaa-sannya? Ah, Kaa-sannya mana mungkin bertindak bodoh seperti Tousannya. Kaasan lebih rasional dan lebih berperasaan daripada Tousannya yang ceroboh.
"Keluarga Uzumaki adalah keluarga yang memegang teguh janji. Seperti janji Tousan pada bibi Sakura untuk membawa paman Sasuke pulang, juga seperti janji Tousan pada Ojisan kalian, Hiasi-sama, untuk menjaga Kaasan kalian serta memberikan perlindungan dan kebahagiaan, seperti itupula keluarga Uzumaki lain juga harus menepati janjinya. Dan itu adalah harga mati. Janji adalah utang Dan utang harus digenapi ".
"Tapi, Tousan belum bilang siapa yang membuat janji itu. Siapa Tousan? Siapa orang yang bertanggung jawab karena hendak merampas masa mudaku?"
Naruto dan Hinata berpandangan sejenak. Pandangan mereka menyiratkan rasa khawatir dan kesedihan. Kemudian Hinata mengangguk singkat memberikan ijin pada suaminya untuk menceritakan kisah sebenarnya.
Naruto menghela napas panjang sebeum mengatakan ", Kau, Hima-chan".
Kedua anak mereka tersedak dengan suara keras. Boruto meringis, Himawari terbatuk-batuk sambil mengangkat gelasnya kearah bibir dan meneguk isinya dengan cepat. Hinata mengusap punggung anak gadis kesayangannya dengan putus asa.
"Him-Hima-chan? Ba-bagaimana...?", Boruto menggantung kata-katanya.
"Ku-kuharap aku mengingatnya", gumam Himawari sendu.
"Sudahlah, Hima. Uangtahun ke 17 mu masih dua tahun lagi. Masih ada waktu untuk memikirkan jalan keluar", sahut Hinata menenangkan putrinya.
"17? Maksudnya aku..?" Hima bergidik ngeri memikirkan kemungkinan itu.
"Ya", jawab Naruto mengakhiri pembicaraan mereka.
.
.
.
"Aih sayang, aku benar-benar kasihan pada Hima", ujar Sarada begitu Boruto selesai menceritakan perihal pernikahan adiknya.
"Ya, Sara-chan. Dia bahkan berusia 17 tahun ketika dinikahkan nanti", gumam Boruto sambi menenggelamkan kepalanya dibalik bahu kecil Sarada.
"Dia pasti sedih sekali harus menikah dengan orang yang 15 tahun lebih tua darinya", sambung Sarada. "Untunglah Tousanku lebih rasional. Dia menginginkan kita kuliah dan bekerja dulu sebelum menikah".
"Ah, tak sabar", gumam Boruto sambil mengedipkan mata manja pada kekasihnya.
"Dasar mesum", ledek Sarada sambil mengacak rambut calon suaminya sejak ia berusia 5 hari.
.
.
.
Sore ini Himawari kembali mendatangi taman dekat rumahnya. Ia sedikit gusar karena kemarin tanpa sengaja ia melupakan novelnya ketika ia sangat malu menghadapi lelaki berparas tampan yang ia temui.
Himawari menurunkan bahunya, lemas, ketika novel kesayangannya tak terlihat. "Tentu saja hilang, Bodoh! Kau meninggalkannya sepanjang sore hingga malam hingga pagi hingga sore lagi. Memangnya yang berkunjung ke taman ini kamu aja?", hardik batin Himawari yang judas
Himawari termenung menyadari ketololannya. Padahal itu novel kesayangannya. Bahkan ia mendapatkan buku itu dari guru Tousannya. Kakashi Ojisan, kakek tampan yang terkenal berotak mesum ketika masih muda. Ah, dia sangat merindukan Kakashi Ojisannya yang kini tinggal diluar negeri. Kakashi Ojisan berjanji akan pulang saat Himawari menikah nanti. Apa Kakashi Ojisan tau perihal janji masa kecilnya itu? Ia bakal sangat malu jika Kakashi Ojisan juga tahu hal itu.
"Hei Bibi, kau jelek sekali manyun begitu", ujar salah satu teman kakak Himawari, Shikadai.
"Ugh, mengganggu saja. Jika benar aku bibimu, senpai pasti akan kubuat susah", geramku sebal sambil menatap wajah malasnya.
"Ah, benar. Sayang sekali. Uh sebenarnya aku berbaik hati hari ini mengingat aku melewatkan waktu tidur soreku yang berharga untuk menemuimu", ujarnya sambil menatap malas ke arah Himawari.
"Ehh?", Himawari terheran mendengar kata-kata Shikadai.
"Jangan senang dulu, aku hanya membawakan pesan dan aku tak akan mengatakan apapun lagi yang bukan urusanku", elaknya sambil menghindari tatapan terkejut Himawari.
"Aku bingung senpai", ujar Himawari.
"Aku juga", gerutu Shikadai. "Ah sudahlah. Kau pasti mencari novelmu. Iya kan?"
Himawari mengangguk dengan semangat.
"Kau harus ke ayunan depan TK Konahakuen. Cepatlah. Yang memungut novelmu bukan orang yang sabaran. Aku pulang dulu. Jaa".
Shikadai langsung berbalik dan meninggalkan Himawari terbengong sendirian.
.
.
Himawari memandang ayunan di depan pintu gerbang taman kanak-kanaknya. Samar-samar teringat ketika ia masih kecil, ia sering sekali meminta Boruto untuk mengunjungi ayunan ini. Secara bergantian mereka akan mengayun dan berhenti ketika mereka lelah atau ketika kedua orang tua mereka datang sambil memukul pantat nii san tersayangnya. Himawari sangat senang mengingat masa itu. Meskipun sebagian ingatannya mulai memudar oleh waktu.
Tanpa sadar ia melangkahkan kakinya mendekati ayunan itu, duduk diatasnya dan mengayunkan ringan. Rasanya masih sama. Menyenangkan. Damai. Seakan ia memiliki dunia baru. Dunia yang membuatnya lupa tentang hal-hal lain. Tentang kedua orang tuanya yang super sibuk, tentang kakaknya yang semakin mesra pada pasangannya, tentang janji yang bahkan ia lupa, juga tentang buku yang hilang
Ah ya, bukunya. Bagaimana ia bisa lupa? Ia kesini untuk mengambil bukunya bukan untuk berayun ayun dengan riang seperti ini.
Dengan riang? DEG
Himawari tersadar bahwa ayunanya lebih cepat daripada yang tadi. Dan ia mulai menyadari bahwa ada seseorang yang mendorong ayunannya agar mengayun lebih cepat.
Ia memekik keras dan menutup matanya ketika ayunan itu hampir 90 derajat.
"Aaaarrghhh", tiba-tiba ayunan tersebut melambat dengan cepat.
"Apa kau takut?", suara bariton yang tak asing membuat Himawari menolehkan kepaanya kearah pria yang- yang ternyata adalah pria yang membuat ia malu kemarin.
"A-ah, iya aku takut", Himawari kembali menyembunyikan wajah dibalik rambut sadakonya.
"Hei itu seram tau", tegur pria itu sambil mengusap rambut Himawari.
Seketika rona merah tipis yang tadi terbit seakan menjalar hingga sudut wajahnya.
"Ini", kata lelaki itu sambil mengulurkan buku novel kesayangan Himawari. "Kau mencarinya bukan?"
Himawari mengangguk semangat. "Te-terimakasih. A-aku senang".
"Aku juga senang", sahut lelaki itu sambi tertawa.
Himawari menatap wajah lelaki yang sedang memandangnya dengan tatapan rindu.
"Uhm, ada apa dengan wajahku?", tanya Himawari canggung. Sontak dia mengutuk diri sendiri karena melontarkan pertanyaan aneh tersebut.
"Ah tidak", jawab lelaki itu sambil tersenyum, lagi. "Kau cantik. Sungguh cantik. Tak sabar".
Setelah mengucapkan kata-kata yang membuat Himawari melongo selama beberapa menit , lelaki itu langsung berlalu tanpa mengucapkan apapun lagi.
TBC
Thanks buat yang sudah mereview. Saya masih newbie jadi mohon bantuannya. #Membungkuk
