2 tahun telah berlalu. Tidak ada yang mengingatkan Himawari lagi tentang perjanjian konyol itu. Namun bukan berarti masalah itu sudah selesai.

Hinata sedang bersemangat. Ia bernyanyi riang sepanjang pagi. Naruto yang melihatnya menjadi gemas. Ia mendekati istri tercintanya dan mengecup ringan bibir wanita lembut itu. Hinata mencibir suaminya yang berani mesum di pagi hari.

"Hei, salah sendiri kau sangat manis", gombal Naruto sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil istrinya.

"Sayang, tidak enak kalo...", suara Hinata dipotong oeh suara putra kesayanganya yang ternyata sudah bersiap dimeja makan.

"Tenanglah Kaa-san, aku sudah terbiasa", sahut Boruto acuh.

Mendadak Hinata merona menyadari sikap konyol suaminya yang seenaknya masih memeluknya bahkan masih menempelkan bibirnya di leher jenjang Hinata.

"Tousan, Kaasan, kenapa kalian seperti Boruto nii dan Sarada sih?", decak Himawari yang berjalan dari ujung tangga.

"APA?", seru kedua orang tuanya berbarengan sambi menatap sang putra yang mengkeret di meja makan.

.

.

.

.

"Selamat Uang Tahun", seru Sanoko sambil memeluk Himawari riang. "Ini".

Himawari memekik senang sambil membuka bungkusan kado dari adik sahabat kakaknya, sahabatnya.

"Jam tangan ini cantik sekali Sanoko, terimakasih", Himawari kembali memeluk Sanoko sambil mencoba memakai jam tangan putih caspernya.

"Hei lihat", Sanoko menunjuk rombongan kakaknya yang sedang berjalan menghampiri mereka.

"Hima-chan mereka ingin mengucapkan selamat buatmu", seru Boruto yang kini telah lulus dan kuliah di Kirigakure University menyempatkan diri menjemput adiknya beserta keempat karibnya sambil bersemangat.

Tadi pagi Himawari bangun dengan teriakan selamat dan suara terompet yang memekakkan telinga. Kedua orang tuanya memberikan hadiah laptop baru, Kakashi Jisan mengirimkan paket yang datang tepat dihari ulang tahunnya. Isinya satu series novel historical kesukaannya. Boruto dan Sarada membelikan sepasang boneka beruang yang sangat ia sukai.

Inojin, Chouchou, Shikadai dan Tenji mengucapkan selamat bergiliran.

"Selamat uang tahun Hima-chan. Semoga kau makin cantik secantik bunga matahari", rayu Inojin yang dibalas dengan senyuman lebar Himawari.

"Hei, Hima-chan. Selamat Ulang Tahun. Kapan pestanya? Kau yakin tak ada pesta? Yah sayang sekali. Padahal aku ingin sekali mencicipi makanan pesta", ujar Chouchou sambil memeluk Himawari.

Yang lain hanya tertawa mendengar celoteh Chouchou tentang makanan pesta.

"Hei, Bibi. Kau memang semakin cantik. Ck, tapi sayang sekali kalau...", Shikadai menggantung kalimatnya. Membuat mereka semua yang mendengar penasaran.

"Haha... Ya sudahlah. Selamat ulang tahun".

Mereka semua menggerutu kecewa. Tak terkecuali Himawari.

"Hima, aku bawa sesuatu untukmu tahun ini. Kau pasti suka. Ini, selamat ulang tahun", ujar Tenji sambil mengulurkan cristal cycle dan memeluk adik sepupunya singkat.

"Terimakasih Tenji nii. Kau yang terbaik", seru Himawari sambil mengecup pipi Tenji singkat.

.

.

Sore itu Himawari sedang bergelung diatas tempat tidur sambil menikmati novel favoritnya yang baru saja dikirimkan Kakashi Ojisannya ketika terdengar suara riuh dibawah. Mencoba mengabaikan, beberapa menit kemudian langkah tak terdengar ibunya mengagetkan Himawari. Tiba-tiba saja Hinata sudah berada didaam kamar anak gadisnya.

"Kau sudah mandi Hima?", tanya wanita itu datar.

"Ya kaa san", jawab Himawari terbengong melihat ekspresi ibunya.

"Pakailah gaun yang bagus. Ada tamu penting untukmu", sebelum mendengar jawaban Himawari, Hinata sudah membuka lemari pakaian anaknya. Ia membongkar baju dan memilihkan sepatu flat shoes berwarna senada.

Gaun lavender itu mengingatkan dirinya semasa ia berpacaran dengan Naruto dulu. Ah, bahkan Himawari tak punya waktu untuk berpacaran. Ia menatap iba wajah cantik anak gadisnya dalam balutan gaun yang membuatnya tampak sempurna,

"Apa yang datang itu...", Himawari tak kuasa melanjutkan kata-katanya.

"Ya, dia tunanganmu. Sahabat karib Tousanmu. Sudahlah, jangan membuat mereka menunggu lama". Hinata menuntun Himawari menuruni tangga.

Detak jantung seseorang diruangan itu serasa menggebu. Ia tidak sabar menanti calon istrinya. Dia sudah menunggu terlalu lama. Mengabaikan hasratnya, harga dirinya ketika olokan iparnya semakin menjadi, dan mengabaikan tatapan tak terima dari sahabat karibnya yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertuanya.

Gaara menatap Himawari takjub. Himawaripun memandang sosok rupawan dihadapannya dengan hati berbunga-bunga.

"Apa dia?"pikir Himawari.

Senyuman hangat dan uluran tangan pria itu mengembalikan fokusnya. Ia menyambut uluran tangan itu sedikit lebih bersemangat dibanding harapannya. Bahkan terkesan sangat bersemangat. Terdengar suara tersedak dibelakangnya. Suara Tousannya.

"Hei Bibi, jangan bersemangat begitu. Pamanku tak akan kemana-mana kok", terdengar suara cibiran Shikadai dari arah pintu. Yah Tuhan, kenapa ia merasa begitu bodoh tidak menyadari banyaknya orang diruang ini. Yang ia lihat hanya tunangannya, calon suaminya yang begitu rupawan.

"Sepertinya kau tak menyesal", olok Boruto menimpali yang disambut tatapan 'ganggu' Sarada.

.

.

Himawari sedang berada dipangkuan Gaara ketika mereka menyaksikan film kesukaan Himawari. Dua bulan telah berlalu sejak hari ulang tahun Himawari. Mereka telah menikah secara resmi dan Gaara sengaja membeli apartemen yang berlokasi di dekat tempat tinggal keluarga istrinya yang juga merupakan kediaman sahabat karibnya. Meskipun begitu, keduanya berkomitmen menunda kehamilan sampai Himawari lulus sekolah yang artinya tinggal beberapa bulan lagi.. Bahkan jika Himawari ingin kuliahpun Gaara tidak akan mencegahnya. Ia sangat menyayangi dan menghargai istri kecilnya. Ia berjanji akan selau mendukung dan berusaha membahagiakan Himawari.

"Aku heran mengapa aku lupa dengan janji kita. Bisakah kau mengingatkannya untukku?", pinta Himawari sambil memainkan helaian rambut merah gelap suaminya.

"Hm, sebentar", Gaara mencium kening istrinya singkat. Mengangkat tubuh mungil Himawari dan mendudukkannya di sofa yang tadi ia tempati. Gaara berderap kearah almari kaca dan membukanya perlahan. Tangannya meraih buku album berwarna merah tua dan meyodorkan kearah istrinya. Himawari menerima abum itu dengan kening berkerut. Sebelum sempat berkata Gaara sudah mengangkat tubuh Himawari dan memosisikan diri seperti sebelumnya.

"Bukalah", pinta Gaara.

Himawari mulai membuka halaman buku album tersebut. Dia melihat sesosok bayi perempuan bermata lavender sedang berada dipelukan Gaara.

"Usiamu baru satu minggu waktu itu. Kau sangat menggemaskan. Bahkan saat itu aku sudah merasakan getar aneh dalam dadaku", jelas Gaara sambil memandang wajah manis istrinya.

Dibawah gambar bayi itu ada gambar lain ketia ia berusia mungkin satu tahun. Berjalan tertatih menggapai gapai jemari Gaara yang seolah memintanya untuk mendekat.

"Kau berusia, hmm aku lupa. Satu tahun, atau mungkin kurang. Aku sedang menengok Shikadai yang kala itu sakit. Saat itu aku sengaja berkunjung kerumah Tousanmu, sahabat karib. Kau taukan maksudku. Dan disanalah kutemukan sosokmu yang mulai berlarian menghampiri apapun yang bergerak".

Himawari melihat foto yang lain. Ada belasan foto yang diambil ketika ia berusia sekitar 5 tahun dalam album itu.

"Ini banyak sekali", gumam Himawari menatap takjub dirinya dan Gaara dalam berbagai pose.

"Yah, disini awal mula perjanjian itu dimulai", Gaara kini mendapatkan perhatian Himawari sepenuhnya. Wajah penasaran Himawari membuatnya gemas.

"Ini foto yang diambil di Sunagakure. Tempat asalku. Saat itu kau berusia 5 tahun, Hime. Menggemaskan dan sedikit menyebalkan sebenarnya. Tousanmu dan kaasanmu berkunjung ke Suna tanpa Boruto. Menurut cerita Tousanmu, Boruto sedang menemani Hiashisama memancing bersama. Waktu itu kedua orang tuamu terlihat sangat mesra. Semua yang melihatnya pasti iri. Termasuk aku. Dan kau. Kau merajuk dan tak ingin mereka ganggu. Kau mengapitku dan hanya mau bermain bersamaku selama 3 hari kunjunganmu. Hingga saat kalian berpamitan akan pulang bersama dengan rombongan dari Konoha yang lain, kau berteriak dengan lantang".

"A-a, se-sepertinya aku ingat", gumam Himawari sambil menyembunyikan rona merah yang mulai menyebar.

Flash back on

Himawari kecil meloloskan diri dari dekapan ibunya. Ia berlari kebelakang kearah Gaara dan memeluknya. Sambil berteriak ia berkata "Paman, aku tidak mau pulang. Aku mau tinggal sama paman Gaara", teriakan itu sontak membuat kedua orang tua gadis cilik itu bahkan kelima orang dalam rombongan termasuk keluarga kakaknya, Temari,tercengang.

"Eh, Hime harus pulang. Kapan-kapan paman akan berkunjung kesana dan kita bermain bersama lagi", bujuk Gaara.

"Tidak, tidak mau. Apa paman membenciku?", Himawari kecil mulai terisak.

"Tentu saja tidak. Kau ini. Paman berjanji akan berkunjung jika kau menurut pada Tousan dan Kaasanmu. Ayo Hime, mereka sudah menunggu", bujuk Gaara putus asa.

"Baik. Hima-chan akan pulang sama Tousan sama Kaasan sama paman Shikamaru dan Bibi Temari asal paman Gaara mau berjanji satu hal pada Hima-chan", pinta Hima sambil mengeratkan pelukannya pada leher Gaara yang sedang berjongkok.

"Baiklah, katakan. Paman akan berjanji dan menepatinya", jawab Gaara yang akan segera menyesali ucapannya.

"Aku ingin paman menikahiku di usia 17 nanti. Paman tadi sudah berjanji akan menuruti permintaan Hima kan?" tegur Hima yang tak sadar bahwa semua yang mendengarnya sedang shock berat.

"Eh, i-itu", Gaara tergagap.

Tiba-tiba dekapan Himawari terlepas dari lehernya. Naruto dengan wajah memerah menanggung malu dan marah segera mengangkat Himawari dan mengajaknya pulang.

"Paman jangan lupa menikahiku yaa", teriak Himawari lantang mengakhiri pertemuan mereka kala itu.

End of Flash Back

Yah, Himawari sangat malu mengingatnya.

"Tapi kenapa kau tak mengunjungiku hingga aku lupa padamu?" sergah Himawari sedikit kecewa.

"Aku datang setiap tahun pada hari ulang tahunmu, dan bahkan pada hari biasa. Tapi Tousanmu bersikeras melarangku mendekatimu. Tapi beberapa tahun yang lalu ketika usiamu 15 tahun aku datang ke kantor ayahmu dan mengingatkannya tentang janji itu", jelas Gaara.

"Dan karena itulah aku dan Tousan tidak saling tegur kira-kira tiga bulan. Akhirnya aku menyerah. Aku menyayanginya", sahut Himawari.

"Aku paham perasaan Tousanmu ketika aku menikah denganmu. Perasaan ingin memiliki keturunan dan bersama mereka dalam waktu yang lama. Melihat mereka tumbuh dewasa dan menikah", ucapan Gaara membuat pipi Himawari memanas.

"Apa kau ingin,hm, Apa Gaara-kun ingin punya anak?", tanya Himawari ragu.

"Tentu saja. Secepatnya setelah kau lulus. Dan sebaiknya sekarang kita tidur dan memimpikan anak-anak kita dimasa depan". Jawab Gaara sambil membawa tubuh mungil istrinya ke tempat terbaik dibagian apartemen mereka.

End Story

Terimakasih Buat semua yang sudah membaca. :)