Holla Minna,,,,

Thanks buat yang sudah mereview sebelumnya. Meskipun sedikit tapi review dari kalian membuat Ein semangat.

Virgo Saka Mia Terimakasih reviewnya. Iya maaf masih belum terlalu bisa menggunakan tools di . Ini sudah diedit. Semoga berkenan yaa

Byakugan No Hime Hehe, iya Gaara pedofil. Tapi sepertinya jarak 15 tahun tidak terlalu jauh kok. :)

.

.

.

"Kiku", teriak Shikadai sambil berlari mengejar adik sepupunyanya yang sudah melesat menuruni tangga. Kaki-kaki mungil gadis kecil itu cukup lincah untuk membuat seorang Nara Shikadai kelimpungan.

"Oh, ya Tuhan", keluhnya sambil mendekat ke arah Kiku yang kini berada di dalam kamarnya. "Masih kecil tapi tingkahmu sudah sangat merepotkan. Dasar, benarkah kau ini anak pamanku?".

Gadis berusia tiga tahun itu kini sedang merangkak menaiki tempat tidurnya. Wajahnya yang bulat dihiasi surai merah itu kini sedang terkikik sambil berjingkrak-jingkrak diatas kasur Shikadai.

"Kau meragukan anakku, huh?!", hardik Himawari yang kini sedang berada diambang pintu kamar Shikadai. Wajah yang selalu dihiasi senyum itu kini menatap Shikadai tajam.

"Ugh, merepotkan", gumam Shikadai mengabaikan tatapan murka Himawari.

"Tadaima", suara lantang Gaara menggema dari arah pintu masuk.

"Ah, Gaara-kun!", seru Himawari riang melupakan rasa sebalnya terhadap senpai sekaligus keponakannya itu.

"Okaeri, Gaara-kun", sambitnya manis. "Kemarilah, sepertinya Kiku sedang berusaha memporak-porandakan kamar Shikadai. Dan jujur saja sepertinya aku tidak keberatan sama sekali"

"Hahaha", sahut Gaara sambil tertawa.

Kakinya melangkah mengikuti sang istri yang kini sedang memasuki kamar Shikadai.

"Kemarilah sayang, waktunya berpamitan pada Shika-nii", bujuk Gaara hendak meraih gadis kecil yang kini sedang berada diatas perut Shikadai yang sedang berbaring".

"Tidak", gadis kecil itu menghindari tangan ayahnya sambil menjerit-jerit.

"Kiku tidak mau ikut ayah", teriaknya lagi. Kini gadis itu malah mendekap erat Shikadai. "Kiku mau sama Shika-nii. Mau sama Shika-nii. Tidak mau pulang, ayaahh".

DEG

Jeritan Kiku membuat kedua orang tua dihadapannya mengalami dejavu.

Dada gara berdegup cepat. MAu tidak mau ia mengambil Kiku dari dekapan Shikadai. Ia takut karmanya akan membuat mereka menjadi besan kakak dan kakak iparnya. Oh, no no. Itu tidak boleh terjadi.

"Tidak, tidak", bentak Gaara sambil mendekap erat putrinya.

"Jangan coba-coba mendekati anakku, Shika", sahut Himawari menimpali bentakan suaminya pada pemuda Nara yang kini sedang memasang wajah bingung.

Entah kenapa kedua orang dihadapannya ini begitu panik sendiri dan mengabaikan tangisan Kiku.

"Hei, hei, ada apa ini?", tiba-tiba Temari dan Shikamaru datang menghapiri keributan yang terjadi di kamar anak lelaki mereka.

"Eh, itu.. ano, Kiku tidak mau pulang dan dia ingin bersama Shikadai", jawab Himawari guggup mendengar pertanyaan yang dilontarkan wanita bersurai pirang dihadapannya.

"Oh, kenapa justru yang kudengar kalian membentak anakku?", kini tatapan tajam Temari mengarah kearah Gaara.

Wajah mereka berdua kini memerah. Gaara bingung bagaimana cara menjelaskan ketakutan mereka. Tapi Lelaki berambut nanas yang kini berdiri sejajar dengan istrinya itu sepertinya mulai menangkap raut kekhawatiran yang terpancar dari pasangan dihadapannya.

"Apa kalian takut anak kalian mengalami hal yang sama dengan kalian dulu?", tebak Shikamaru yang sontak langsung mendapat perhatian dari keempat orang lainnya kecuali si kecil Kiku.

Gaara memasang tampang datar, tapi wajahnya kini semerah helaian rambutnya. Tangannya semakin mengerat memegangi punggung anak tercintanya. Sedangkan Himawari kini menundukkan wajahnyayang kini tersembunyi dibalik rambut sadakonya.

Shikadai kini menampilkan seringaian usil setelah beberapa detik yang lalu juga sama terkejutnya seperti ketiga orang yang lain.

Sedangkan Temari, alisnya mengangkat sambil melirik Shikadai tajam.

"Ah, sepertinya kau memang anak Shikamaru, Shikadai. Bahkan seleramu", Temari terkikik sambil menatap kearah suaminya yang kini sedang melongo parah.

"Kau tidak tau sayang?", tanya Temari lagi sambil mengibaskan rambutkuncir empatnya itu. "Wah, sepertinya kalian bisa lega sekarang. Karena kabar yang kudengar dari teman-teman Shikadai, putraku ini sekarang sedang berkencan dengan muridmu, Shikamaru".

"Eh? Muridkku?",

"Ya muridmu, Sarutobi Mirai", jelas Temari sambil menatap Shikadai yang kini merona.

.

.

.

Real Fin

.

.

.

.

Gomen ya kalo Feelnya kurang dapet. Abis ngebut banget sih ngerjainnya. Kalo ada waktu Ein edit lagi deh. Thanks buat yang sudah mereview ya.