BODY

.

.

Park Chanyeol & Byun Baekhyun

with

Other Cast

.

.

M

.

.

YAOI

.

- ChanBaek -

.

.

.

Pria itu, Chanyeol. Menyeringai kejam.

"Berani sekali kau menatapku." Mengangkat dagunya ke atas, angkuh.

.

.

Angkuh.

Baekhyun bisa melihat sifat itu pada pria berambut merah terang itu.

Chanyeol terus menatapnya dengan sorot tajam, seakan-akan sedang meremukkan tubuhnya.

Kenapa ada pria yang sepertinya? Baekhyun bahkan tak menemukan jawabannya.

"Apa yang kau lakukan pada taehyun?" Baekhyun berbicara dengan nada menantang. Namun chanyeol yang mendengarnya sedikit berdecih tidak terima.

"Kau membuatnya terlambat Pink." Pink? Apa ia sedang mengatai warna rambutnya? Sial! Jangan bercanda disaat yang tidak tepat. Baekhyun bergumam didalam hatinya.

"Bisakah kau untuk tidak mengintimidasinya?" Ucap Baekhyun sembari meracik minuman.

"Siapa memangnya kau beraninya memerintah ku?" Chanyeol berbicara dengan setajam silet. yang dimana otomatis membuat gerakan tangan Baekhyun yang sedang meracik minuman pun terhenti seketika. Baekhyun sedikit menggeram, melepaskan tali apron dari lehernya dan melemparnya dengan keras, kemudian ia pun keluar dari Mini Barnya sembari membawa sebuah gelas plastik berisi Kopi hitam.

Baekhyun berjalan cepat kearah Chanyeol dan setelahnya ia dengan sengaja menumpahkan kopi itu pada kemeja putih bersih milik pria berambut merah terang itu, menekan gelasnya sampai habis dan sesudah habis menjatuhkan gelas kosong itu kebawah tepat di sepatu hitam mengkilapnya, Baekhyun sedang mencoba mengalihkan perhatian pria itu. terbukti pria berambut merah itu tercengang dengan aksinya. baekhyun pun tak menyia-nyiakan waktunya, ia segera menarik lengan bawah taehyun dengan sedikit kasar dan mulai melangkah menjauh dari hadapan chanyeol.

Chanyeol mengepalkan tangannya dengan erat dan kencang, urat-uratnya bahkan terlihat sangat ketara.

"Kau membuat kesalahan." Lontaran dingin dari Chanyeol membuat Baekhyun yang menarik taehyun menjauh seketika terhenti. Baekhyun membalikkan tubuhnya dan memandang pada Chanyeol dengan dahi yang berlipat kecil.

Chanyeol menyeringai kejam, matanya melihat kearah gelas kopi yang berada dibawah sepatunya. Kemudian tanpa diduga ia menginjak gelas tersebut. gelas itu berbunyi, mengkerut menjadi lapisan tipis. Chanyeol menginjaknya dengan perasaan yang tertuang didalamnya. Baekhyun melepaskan tarikan tangannya dari lengan bawah milik taehyun.

"Apa yang kau katakan?" Baekhyun bertanya cepat.

Chanyeol kemudian memandangnya dengan dingin dan tajam.

"Kau..membuat kesalahan besar padaku." Chanyeol menusuknya lewat ucapan dan tatapannya. Baekhyun sedikit gemetar dibuatnya.

"Taehyun, temui aku dikantor segera. Kalau kau berani untuk tidak datang, maka kau tahu akibatnya." Chanyeol memandangnya sekali lagi, padahal ia tengah merujuk pada taehyun.

"Aku ingin mengetahui banyak hal tentangnya." Chanyeol berbalik setelah tersenyum penuh makna padanya. Baekhyun terdiam.

"Aku akan pergi baekhyun, aku akan menemui mu segera." Taehyun merapihkan penampilannya dan mulai melangkah pergi.

Namun sebelum itu,

"Baekhyun terima kasih, Tapi. tidak seharusnya kau melakukan hal itu." Taehyun mulai melangkah semakin jauh, ketukan sepatunya tidak terdengar. Baekhyun menghela nafasnya. Ia merasa nafasnya terikat disatu titik pusat yang tak diketahui keberadaannya. Apa ini, firasat buruk-kah baginya?

.

.

Taehyun mengikuti langkah kaki milik chanyeol yang melangkah kearah ruangannya. Chanyeol sedang ber-aura tidak baik. Hawa panas mengelilinginya, sehingga siapapun yang berdiri didekatnya pasti ikut merasakannya, seperti yang taehyun rasakan saat ini.

Pintu dibukanya dengan sangat kasar, chanyeol masih mendiami taehyun. taehyun tidak tau harus berbuat apa sekarang. dilihatnya chanyeol berjalan kearah toilet khususnya. Lama ia menunggu chanyeol sampai tangannya licin karna keringat. Sampai akhirnya suara guncangan kursi membuat taehyun yang sedang termenung menyentak tubuhnya sendiri, terkejut.

"Aku tidak suka berbasi-basi." Suara atasannya sangat menakutkan, dilihatnya bahwa pria itu telah mengganti kemejanya menjadi berwarna hitam dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Mungkin ditoilet tadi ia mengganti kemejanya yang terkena siraman kopi hitam dari Baekhyun.

Chanyeol mencondongkan tubuhnya disertai tangan yang bertaut didepan wajahnya.

"Siapa dia?" Siapa? Taehyun mengernyitkan dahinya kedalam.

Chanyeol berdecak, "Pria yang berani menyiramku dengan segelas kopi hitam." Oh, bukankah itu Baekhyun.

Taehyun sedikit berdehem, menetralkan nafasnya. "Dia temanku." Taehyun berhasil menjawabnya.

"Namanya?"

"Byun, Byun Baekhyun." Taehyun menjawab dengan sedikit kaku, mungkin efek rasa takutnya masih terasa.

Setelah memberitahu namanya, chanyeol tersenyum miring penuh makna.

"Tingginya?" Apa-apaan itu maksudnya, taehyun hanya bisa mengguman didalam hatinya, namun ia akan tetap menjawabnya.

"Sekitaran 175cm ," . "Saya pun tidak terlalu tahu." Chanyeol semakin tersenyum penuh makna. Taehyun dibuatnya bergedik ngeri.

"Dia.." Taehyun was-was dengan lanjutan atas ucapan dari chanyeol.

"Bawa dia padaku."

"Taehyun.."

Tidak ini alarm, ini bencana baginya, ia tidak mungkin menyerahkan Baekhyun dengan begitu mudah kepada atasannya, .

.

.

"Apa yang harus aku lakukan?" Taehyun kini berjalan dilorong-lorong kantor sambil meremas rambutnya frustasi.

"Tidak mungkin kan aku menarik baekhyun secara paksa dan mengatakan bahwa menginginkannya."

"Baekhyun-ah, apa yang harus aku lakukan?" Taehyun duduk disalah bangku yang berada dilorong-lorong kantor tersebut. Ia kemudian merenung, memikirkan hal berat ini. berulang-ulang kali ia mendesah dan mendecak tidak menemukan jawaban, bagaimana cara ia memulainya.

"Mau minum?"

Apa itu baekhyun yang sedang menawarkan minuman? Tapi, sepertinya tidak. Baekhyun kan sedang berada di caffenya. Karna penasaran taehyun akhirnya mendongak keatas, Oh. ternyata seorang perempuan dengan tubuh langsing dan tinggi. Taehyun bahkan merasakan lehernya sedikit sakit karna mendongkak.

"Kau mau minum tidak?" Wanita bertubuh langsing itu berucap kembali.

Taehyun dibuatnya mendesah, "Terima kasih, Namamu?" Taehyun bertanya setelah menerima sebuah botol minum dari tangan wanita itu.

"Sooyoung." Taehyun mengganguk kecil dan mengucapkan terima kasih kembali.

Hening. Bahkan air didalam botol itu tersisa setengah karna taehyun terus meminumnya.

"Ah, sepertinya aku harus pergi." Perempuan yang diketahuinya bernama Sooyoung itu beranjak berdiri.

"Sampai Jumpa." Taehyun bahkan lupa memperkenalkan dirinya, sungguh tidak sopan. desisnya.

.

.

Apa ini terlalu cepat? Chanyeol berpikir keras. Dahinya yang terbuka luas mengerut, ia merasa tidak suka pada dirinya saat ini.

Pria berambut pink itu, ia harus mendapatkannya. Ia tertarik pada pria bernama baekhyun itu. tentu saja dengan maksud lain. Jika untuk dibawa keranjangnya chanyeol belum berkeinginan untuk itu. walaupun ia sempat tergoda dengan pria itu. Tapi tunggu dulu. Apa yang ia pikirkan. Kurang ajar sekali pria itu merasuki pikirannya.

Chanyeol menggeram dibuatnya.

Ia akan membalas perbuatan pria itu, lihat saja nanti.

Tidak ada seorang pun yang berani melakukan hal itu padanya.

Jika ada ia akan mengincarnya walaupun sampai ke neraka sekaligus, tak akan ia lepaskan sebelum ia puas dan membalasnya. Baekhyun telah melakukan kesalahan besar padanya.

Maka Chanyeol tidak akan melepaskannya sampai ia benar-benar puas membalas pria itu.

.

.

"Aku pergi bu.." Hari ini kembali lagi menjadi pagi setelah ia melalui banyak hal menantang kemarin, bahkan karna hal itu dirinya tidak fokus bekerja sehingga banyaknya pelanggan yang kecewa padanya. Baekhyun menghembuskan nafasnya lirih. hari kemarin benarlah amat kacau. Baekhyun bertekad bahwa hari ini ia akan bekerja lebih baik lagi. Tinggal lupakan masalah yang kemarin, maka ia bisa bernafas lega. Baekhyun melihat jam tangannya yang terus menjalankan waktu, ia terkejut ketika melihat bahwa waktu telah menunjukkan jam 8 tepat, oh tidak. baekhyun terlambat, ia belum merapihkan caffenya. sial!

Baekhyun berlari dengan sangat terburu-buru, beberapa orang ia senggol dan kemudian mengucapkan maaf pada dengan cepat pada mereka. Dikit lagi sampailah baekhyun pada caffenya, ia bernafas dengan putus-putus, terterengah-engah.

Sedikit lagi~

"Taehyun?" Setelah berjarak beberapa meter dari arah caffenya ia melihat taehyun yang berdiri didepan pintu caffenya, melamun. Taehyun terserentak kecil, terkejut.

"Baek.."

Taehyun berjeda, dan melihatnya dengan wajah lelah nan sayu. Kemudian mengatakan..

"Maafkan aku.."

Setelahnya Baekhyun ditarik dengan kencang oleh taehyun, yang membawanya entah kemana.

.

.

"Kau konyol." Baekhyun mendesis marah pada taehyun, pasalnya taehyun membawanya lari entah kemana, dan kemudian mereka sampai di sebuah taman bermain anak-anak. Baekhyun bahkan hari ini tidak membuka caffenya.

"Ini menyenangkan baek." Lihatlah, taehyun bahkan mengayunkan tubuhnya pada sebuah ayunan anak-anak.

Baekhyun jengkel, sangat jengkel. Sudah 1 jam mereka disini, namun yang baekhyun dapati adalah taehyun yang keasikan bermain, mencoba wahana dari 1 wahana permainan ke wahana lainnya. dan baekhyun hanya melihatnya, tentu saja melihatnya dengan jengkel.

"Cobalah baekhyun, angkat kakimu tinggi-tinggi, dorong kebelakang, lepas, dan berayun-ayunlah, seperti aku." Taehyun sedikit berteriak padanya.

"Taehyun ayolah, kita bukan anak kecil lagi, sebenarnya ada apa denganmu?" Baekhyun memilih menolak melakukan hal yang diintruksikan oleh taehyun.

"Kau tidak suka ya baek?" Taehyun berhenti dan menunduk sedih, baekhyun memutar matanya malas.

"Hey, bodoh."

Taehyun tidak menjawab ataupun menoleh kearahnya.

"Taehyun, lihat ada ibumu dan suami barunya." Taehyun terkejut mendengarnya.

"Tidak lucu." Baekhyun tertawa lebar, senang akhirnya taehyun menanggapinya.

Baekhyun berjalan kearah taehyun dan mengambil tangannya, menggiring taehyun kearah bangku di taman bermain itu. mereka duduk dengan tangan yang menyatu. Baekhyun mengelusnya lembut, menenangkan.

"Kau baik?" Baekhyun bertanya pelan. Taehyun yang mendengarnya menghela nafas lelah.

"Sejujurnya aku tidak baik baekhyun." Taehyun berbicara dengan sendu.

"Kenapa?" . "Kau bisa bercerita kepadaku." Baekhyun tersenyum lembut padanya.

Taehyun menatap mata kecil milik baekhyun, berpikir dengan keras, berusaha menyelami mata indah itu. Berharap baekhyun tahu perasaannya saat ini. Taehyun meremat jari-jari baekhyun dengan erat.

"Baekhyun-ah?"

Baekhyun hanya menjawabnya dengan deheman singkat.

"Jika aku melakukan suatu kesalahan yang melibatkanmu didalamnya, apakah kau akan memaafkan ku?" Taehyun harus mengungkapkan isi pikirannya.

"Kesalahan apa itu?" Baekhyun mulai memasang raut wajah serius.

"Katakan terlebih dulu byun, apa kau akan memaafkan ku?" Baekhyun tidak menjawab apapun selain kerutan yang menempel di dahinya.

"Mmm, tergantung." Baekhyun hanya mampu menjawab itu. Taehyun semakin meremas tautan tangan mereka.

"Baekhyun..." Taehyun menatapnya dengan berani namun diselingi keraguan.

"Atasanku menginginkanmu," . "Dan aku harus membawamu untuknya."

"Maafkan aku baekhyun."

Baekhyun meliarkan bola matanya, terkejut, disertai guncangan kecil, baekhyun tak pernah menyangka bahwa si rambut merah panas menginginkannya.

Tapi, untuk apa? Mengapa pria itu menginginkannya?

Baekhyun tak mampu berpikir dengan benar setelahnya. Ia bangkit dan meninggalkan taehyun disana begitu saja.

Baekhyun tidak mau jika ia harus bertemu apalagi berurusan dengan pria berambut merah itu, ia tidak mau.

Karna baekhyun, sejujurnya takut.

.

.

TBC

(Telornya Baekhyun Cantik).

Kemarin banyak banget kesalahan tulisan. padahal pas ngetiknya kayanya ga ada. ada beberapa kata yang hilang, dan jadi kalimat yang ga nyambung. maapkeun ya.

Terima kasih.

maaf, ceritanya masih ambaradul, kelambatan/kecepatan, maaf yah.

anak baru soalnya wgwg, bakal belajar lagi deh biar lebih baik :) terima kasih koreksinya, kuterima dengan sebesar dada~

Kritik dan Saran diterima..

See ya.