BODY
.
.
Park Chanyeol & Byun Baekhyun
with
Other Cast
.
.
M
.
.
YAOI
.
- ChanBaek -
.
.
.
Iringan lagu instrumental yang terdengar sayup-sayup namun menggoda mengiringi permainan ranjang dari seorang pria berambut merah pekat dengan seorang perempuan yang berada dibawahnya. Ruangan itu tidak hanya terdengar suara lagu instrumental yang terus berputar saja, berbagai macam desahan dari yang terkecil sampai yang terbesar pun terus mengiringi permainan panas mereka. Layaknya tak kenal waktu dan lelah sang pria berambut merah terus bermain dengan kelamin sang wanita yang masih berada dibawahnya. gresak-gresuk suara dari selimut yang berada di sekeliling mereka pun turut berpartisipasi, berbunyi karna gerakan masuk keluarnya batang milik sang lelaki dilubang milik wanita itu. Menggeliat karna rasa kenikmatan yang terus menerus datang.
"Ah.." Desahan milik sang wanita keluar karna sang pria tampan yang berada diatasnya telah mengeluarkan sel-sel ulat didalam tubuhnya. mengalir sedikit keluar dari dalam lubangnya. mencegah ulat itu menjadi bayi-bayi kecil, pria itu selalu mewanti lawan main ranjangnya untuk meminum pil pencegah hamil. karna sungguh pria itu amat membenci kondom.
Pria itu melepas penisnya setelah ia merasa bahwa sel-sel ulatnya telah terkuras habis. Bangkit dari atas tubuh wanita itu, dan segera mungkin mencari jubah untuk menutupi tubuh seksi berototnya. Meminum habis segelas air putih yang telah ia sediakan diatas meja kecil sebelum kegiatan penuh kenikmatan itu dimulai. Mengambil ponselnya sekaligus yang tepat berbunyi nyaring. Alarm. Ia menyeringai jahat sesudahnya.
Membelakangi tubuh wanita yang disetubuhinya tadi dan menghadap kearah tiupan tirai ruangan bertembus pandang itu.
"Keluarlah." Pria itu berbicara dengan nada dingin merujuk kepada wanita yang masih sedikit terengah dan letih menderanya, berada dibelakang tubuhnya yang menjulang tinggi.
Wanita yang tidak diketahui namanya itu sedikit terkejut mendengar nada dingin dari pria yang menidurinya dengan panas tadi. pasalnya sebelum menariknya ke hotel ini pria itu merayunya dengan nada yang mengajak, sedikit lembut, dan sangat panas.
Wanita itu terduduk dengan tubuh yang telanjang sepenuhnya.
"Apa kau bilang barusan?" Wanita bertubuh berisi itu bertanya dengan nada terkejut-kejut.
Pria berambut merah panas itu membalikkan tubuhnya, melihat tubuh wanita itu dengan tak berminat kembali, terlihat murahan didalam hatinya ia berkata, ia menyeringai semakin lebar dan berjalan menuju wanita yang terduduk diatas ranjang yang beracak-acak dan beraroma sperma itu.
Menyentuh dagu milik sang wanita dan mengangkatnya dengan kasar.
"Pergilah, sebelum kau menyesal, aku tak berminat kembali padamu. Enyahlah dari hadapanku, Nona Muda." Pria itu mengakhiri ucapannya dengan sentakan kasar pada dagu sang wanita.
Raut wajah wanita itu memerah sepenuhnya, marah, merasa tak terima diperlakukan seperti wanita murahan. yang memang jika kita telisik memanglah seperti itu, harga dirinya terasa diinjak-injak. dengan mata yang berkaca-kaca wanita itu mendecih dan bangkit memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai. Ia memakai bra dan dress ketatnya terlebih dahulu karna itulah yang dilihatnya pertama kali oleh matanya. mencari-cari dimanakah kiranya celana dalamnya. Ia menemukannya tepat berada dibawah sepasang kaki besar milik pria yang membuatnya seperti wanita murahan yang disewa. ia menggeram, berjalan kearah celana dalamnya berada namun hal tak terduga terjadi sebelum ia sampai mengambil celana dalam miliknya. Pria itu, pria yang ingin membuatnya menangis, menginjak-injak celana dalamnya tanpa perasaan sedikit pun, membuat celana dalam itu kotor. sungguh membuatnya ingin menumpahkan air matanya.
"Apa yang kau lakukan?" Wanita itu bertanya dengan hati yang membeludak marah.
Namun pria itu tidak memberikan reaksi apapun selain masih mengotor-ngotori celana dalamnya.
"Tidak usah memakai celana dalam ini, biarkan spermaku mengering selama perjalan pulangmu didalam lubangmu." Pria itu melempar celana dalam itu kedalam tong sampah.
Wanita itu berteriak, mencaci maki pria dihadapannya.
Brengsek, ia tak akan berharap untuk bertemu dengan lelaki berperingai iblis ini.
.
.
"Siapa disana?"
"Chanyeol, dimana kau?"
Argh, ini suara wanita tan itu.
"Aku dirumah sehabis orgasme." Chanyeol menggoda lewat suara beratnya.
"Oh, apakah kau menjadikan ku bahan fantasimu?" Perempuan ini benar-benar ingin bermain-main dengannya.
"Aku sedang memegang batangku dan akan menfantasikanmu segera darling." Chanyeol berkedip-kedip cepat, sedang membiasakan olah matanya yang baru saja bangun tidur.
"Ayolah Chanyeol jangan main-main." Chanyeol sedikit terkekeh kecil mendengar rengekan kecil diujung telpon sana.
"Aku akan meneleponmu kemb-"
"Apa kau sudah menemukan modelnya?" Chanyeol mengubah raut wajahnya menjadi keras. Ia duduk diatas ranjang berwarna merah miliknya.
"Apa disana ada Taehyun?" Chanyeol mengalihkan pertanyaan suara wanita ditelponnya.
"Tidak, Ia sedang tidak ada disini."
"Baik. Aku akan kekantor segera. dan kau..jangan kemana-mana Yuri Sayang." Chanyeol langsung mematikan telponnya setelah mendengar cacian Bajingan disebrang sana. Ia meremas kencang handponenya.
"Apa kau sedang bermain-main denganku Taehyun." Ia memandang lurus dengan sorot mata dingin dan tajam.
.
.
"Kau datang." Yuri menyambutnya dengan segelas wine.
"Dia masih belum datang juga?" Pertanyaan itu merujuk ke asistennya.
"Maksudmu Taehyun? Jika iya, maka jawabannya belum, ia belum datang sejak tadi." Chanyeol memejamkan kedua matanya, mengendalikan diri.
"Ah, Modelnya. Chanyeol-ssi." Yuri merusak suasana hatinya kembali.
"Berapa waktu yang ku punya?" Chanyeol bertanya sambil meminum sedikit winenya.
"3 Hari, Kau hanya punya waktu yang tersisa 3 Hari sebelum pemotretan dimulai." Sial! Bagaimana ini.
.
.
Sudah seminggu ini Baekhyun terus melamun dan membuat pelanggan caffenya kesal. Baekhyun meringis kecil mengingatnya. Ini semua karna si rambut merah dan si belah tengah, Taehyun. Kejadian di taman bermain anak-anak itu membuatnya uring-uringan, sehingga sering kali ia memikirkannya tanpa henti. Bahkan, kepalanya sering sekali sakit sejak saat itu.
"Terima kasih, selamat datang kembali." Baekhyun membungkukan tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.
Finish! Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam yang artinya caffenya akan segera tutup. Baekhyun sedikit bernafas lega.
Ia mulai merapihkan caffenya dan menaik-naikan kursi caffenya keatas meja. Menyapu, mengepel, dan mencuci peralatan lainnya. Baekhyun sudah selesai, ia melangkah kearah ruang ganti. Mengganti bajunya dengan segera. Baekhyun pikir mungkin ia membutuhkan beberapa karyawan untuk membantunya. Karna selama ini ia selalu sendirian mengurus caffenya, Taehyun hanya membantunya sesekali saja.
Oh ya berbicara tentang Taehyun, ngomong-ngomong Baekhyun sudah tidak pernah melihatnya kembali selama seminggu ini pula. Baekhyun sedikit terheran-heran. Apakah ia menyakiti perasaan Taehyun pada saat itu?
"Aku sebentar lagi akan pulang bu, ibu ingin sesuatu?" Baekhyun sedang berbicara dengan ibunya melalui telpon genggamnya. Telpon itu diapitnya diantara telinga dan bahunya. sedangkan tangannya sibuk berganti baju.
"Baiklah, aku akan hati-hati, sampai bertemu dirumah nanti bu." Baekhyun mengakhiri pembicaraan ditelponnya.
Baekhyun menutup pintu lokernya, kembali melamun memikirkan Perkataan Taehyun beberapa hari yang lalu. Ia mengerutkan bibirnya kedalam, dan segera menggeleng-gelengkan kepalanya, menepuk kedua pipinya, menyadarkannya untuk tidak terus menerus melamun.
Baekhyun telah berada diluar pintu caffenya setelah mengganti papan buka menjadi tutup. Kemudian ia mengeluarkan kunci pintu caffe. sedikit menundukan tubuhnya untuk mengunci pintu itu. Bunyi gemericik dari banyaknya kunci itu akibat saling bertubrukan satu sama lain. Cha, akhirnya Baekhyun selesai menguncinya. Ia menakup telapak tangannya menjadi satu dan disatukan dalam satu tautan, berdoa kepada Tuhan agar Caffenya berada dalam keadaan yang baik-baik saja.
Baekhyun pun membalikkan tubuhnya namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat seseorang yang dikenalnya berdiri dibelakang tubuhnya yang hanya berjarak beberapa meter saja. Baekhyun mengeluskan dadanya, terkejut.
"Taehyun, apa yang sedang kau lakukan?" Itu Taehyun.
"Aku menunggumu Baekhyun-ah." Taehyun menatapnya sendu. Baekhyun merasakan kesenduannya dari tatapan itu.
"Mau minum?" Baekhyun mengajaknya minum untuk sedikit menghiburnya.
Taehyun mengiyakannya dengan anggukan kepalanya, sebelah tangannya ia arahkan kearah baekhyun, memintanya untuk menggenggam. dan baekhyun pun menurutinya.
Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan.
Mencari minum, tentu saja.
.
.
Taehyun mengusap bibirnya, mengelap sisa-sisa minuman disana.
"Sudah lebih baik?" Baekhyun bertanya kepadanya.
Taehyun mengusap tengkuknya, kikuk. "Hem, terima kasih Baekhyun-ah." Baekhyun dibuatnya tersenyum kecil.
"Baekhyun, Eum..Maafkan aku," . "Ditaman waktu itu, aku mengatakan hal-hal aneh padamu." Taehyun mengelus-elus tangannya menghilangkan rasa gugup. Baekhyun yang disebrangnya tidak menjawab apapun. Hal itu semakin membuat Taehyun was-was.
"Baek? Kau baik-baik saja?" Taehyun mencoba menegurnya.
Baekhyun melihat Taehyun yang menampilkan raut wajah khawatir padanya.
"Ya, aku baik-baik saja.."
"Taehyun?"
"Mengapa rambut merah menginginkanku?" Taehyun terdiam selama beberapa menit, Ia mengernyitkan dahinya, memikir.
"Tidak tahu baek, aku hanya disuruhnya untuk membawamu padanya." Taehyun mengingat kembali kejadian dimana menyuruh Taehyun membawa Baekhyun kepadanya.
"Aku sudah tidak masuk selama 4 hari baek, jadi sekarang aku tidak tahu keadaannya bagaimana." Baekhyun hanya menyautinya dengan anggukan kecil.
"Apa kau menunggu datangnya surat pemecatan?" Baekhyun dan Taehyun terkekeh kecil secara bersamaan.
"Aku akan menunggunya dan melamarkan diri di caffemu Baekhyun."
"Kalau begitu aku menunggu surat lamaranmu datang Taehyun-ah." Mereka berdua kembali meminum soda mereka dengan membicarakan hal-hal menarik lainnya. Melupakan masalah yang diminta oleh si rambut merah.
.
.
"Chanyeol, waktunya hanya tersisa 1 hari, dan kau belum juga mendapatkan modelnya." Chanyeol hanya terdiam tidak mendengarkan apapun yang dikatakan dari mulut Yuri.
"Kalau kau tidak juga menemukannya, maka aku akan menarik salah satu model ku untuk produk baru pakaian musim semi mu." Yuri menawarkan modelnya untuk pakaian musim seminya.
"Kau tenang saja Yuri." Chanyeol berbicara dengan tenang tanpa emosi didalamnya.
"Tenang kau bilang? Apa kau tidak pernah berpikir apapun hah? Mudah sekali mengucapkannya." Yuri melempar kertas berisi hasil gambaran pakaiannya kepada meja Chanyeol.
"Suruh sekretarismu membuat suat peringatan yang menuju kepada Nam Tae Hyun, Asisten dari Park Chanyeol." Chanyeol mengangkat tubuhnya dari kursi kekuasaannya, kemudian dia melihat hasil rancangan yang diciptakan oleh tangan milik Yuri, yang berada diatas mejanya, beracak.
"Aku menyukai hasil rancanganmu yang satu ini." Chanyeol menunjukan sebuah kertas berisi hasil rancangan baju yang didasari warna hitam kelam dengan beberapa motif disekitaran bajunya.
"Kurasa dia akan terlihat sangat panas jika memakainya." Yuri melipat dahinya bingung, siapa yang Chanyeol maksud.
Chanyeol kemudian melangkah meninggalkan ruangannya, sebelum..
"Oh, satu lagi pesankan tiket untuk 2 orang ke Spanyol, Besok. Kita akan melaksanakan pemotretan disana, dan pastikan kau tidak melupakannya. Siapkan 1 untukku, dan satu lagi untuk seseorang atas nama-" Berhenti berbicara hanya untuk menyematkan satu seringai jahil dibibirnya.
"Baekhyun, Byun Baekhyun."
"Sedangkan kalian akan menyusul ku setelah aku sampai disana bersamanya."
Kemudian kaki panjang itu mulai melangkah jauh, meninggalkan Yuri yang tengah kewalahan atas sikap dari atasannya, Chanyeol. Yuri menjerit frustasi. Dasar brengsek, memangnya mudah apa menuruti keinginannya. Setidaknya itulah ucapan terakhir dari Yuri untuk Chanyeol walaupun orang yang disebutnya tidak ada diruangan itu.
.
.
Mengganggu!
Taehyun yang masih dalam keadaan tidur itu terpaksa membuka matanya karena mendengar suara ketukan keras pintu kamarnya. Dia mendesis pelan. Mengurut keningnya dengan keras. Mencoba menghilangkan rasa pusing dikepalanya. Sambil mengurut keningnya ia berjalan kearah pintu kamarnya, membuka.
"Taehyun." Ibunya ternyata yang mengetuk-ngetuk pintunya dengan tidak sabaran.
"Ibu, ada apa?" Taehyun menjawabnya dengan suara yang serak, efek bangun tidurnya.
"Untukmu." Ibunya menyerahkan sebuah amplop berwarna putih, Taehyun melihatnya dengan mata yang masih sayup-sayup. Mengambilnya dengan sedikit malas dari tangan milik ibunya.
"Apa ini?" Taehyun membalik-balikan amplop putih itu, meneliti lebih dalam, Matanya tidak bisa diajak berkompromi sama sekali, Taehyun melihatnya dengan pandangan yang masih sedikit buram.
"Entahlah, Ibu hanya mengantarnya untukmu, Seorang tukang pos datang dan ia bilang suratnya untukmu, Ibu punya buktinya, atas namamu kok." Taehyun mengernyitkan dahinya. Ia menguap.
"Aku akan melihatnya nanti." Taehyun mengusak-usak rambutnya, membuatnya bertambah berantakan.
"Terima kasih bu." Lanjutnya, Kemudian Taehyun mengucapkannya sembari menutup pintu kamarnya perlahan. Setelah Ibunya menyelesaikan perkataannya.
Taehyun berjalan gontai kearah ranjangnya, melempar amplop itu di meja nakasnya yang berisikan lampu tidur, jam weker, beberapa foto bingkai, dan kotoran cemilan. Taehyun mendecak malas ketika melihat handphonenya bergetar yang berisikan notif dari beberapa teman kantornya dan Baekhyun serta Adiknya tentu saja.
"Aku akan berhenti dari perusahaan itu." Taehyun berucap tanpa mengetik apapun di handphonenya ketika salah satu temannya menanyakan dirinya yang tidak masuk beberapa hari ini. Ia melempar hpnya kesamping tubuhnya, kemudian ia berbaring, memejamkan matanya. Sesaat ia terlihat tenang, namun kemudiannya ia kembali membuka matanya mendadak setelah teringat surat yang diterimanya dari Ibunya. Taehyun kemudian segera bangkit secara mendadak, mengambil surat beramplop itu di meja nakasnya.
"Siapa ini, kenapa tidak menyertakan nama." Taehyun membuka penyegel amplop itu dengan terburu-buru, menyobeknya.
Setelah terbuka ia kemudian mengeluarkan surat yang berada di dalam amplop itu, terlipat rapih, Taehyun membuka lipatan surat itu dan kemudian membacanya secara perlahan. Ketika sampai pada pertengahan isi surat, Kedua mata miliknya membelalak lebar, bergetar takut. Itu surat peringatan dari YKGK Fashion tempatnya bekerja, Taehyun mengalihkan pandangannya kearah tulisan yang berisi PERINGATAN I, yang artinya adalah ia mendapatkan Hukuman Ringan dengan Hukuman penurunan gaji dan pengurangan hari libur. Astaga, walaupun Hukumannya tidaklah berat seperti PERINGATAN III yang dimana Hukuman Berat dengan pemberhentian tenaga kerja secara tidak hormat. Tetap saja Taehyun merasakan rasa takut. Kenapa tidak langsung saja Taehyun mendapatkan PERINGATAN Ke-Tiga agar ia bisa tenang dan tentu saja bebas dari perusahaan itu dan bebas pula dari kekuasaan milik atasannya. Park Chanyeol Terhormat. Taehyun mengeluarkan nafasnya secara menggebu-gebu disertai tangannya yang sibuk menyobek-nyobek surat itu menjadi kecil dan semakin mengecil. Setelah surat itu disobeknya menjadi sobekan dari kertas tak berguna, ia membuangnya ketong sampah yang ada dikamarnya.
"Selamat tinggal surat." Taehyun menepuk-nepukan telapak tangannya, seolah surat itu adalah debu dan kotoran yang menempel padanya.
Taehyun menguap tidak peduli, mengambil handuknya yang berada di paku-paku pintu kamarnya. Ia tersenyum cerah.
"Baekhyunie, aku datang sayang~" Ia kemudian sedikit menyandungkan lagu-lagu di dalam kamar mandi itu. Sebuah lagu yang hanya berisi nyanyian random. Melupakan amplop dan surat bodoh yang baru saja dirobek dan dibuangnya.
.
.
"Kau manis sekali hari ini Hyung." Yang dipanggil Hyung pun hanya tersenyum kecil mendengarnya.
"Kau juga tampan sekali hari ini Taemin-ah." Baekhyun membalasnya dengan usakan dirambut anak bernama Taemin itu.
"Ish, Minho Hyung bilang aku itu manis Hyung, bukan tampan." Taemin mengerucutkan bibirnya, mendekam kedua tangannya, dan merajuk lah ia seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya. Baekhyun terkekeh kecil.
"Hyung bilang tampan kau tidak mau." Taemin membuang wajahnya tidak mau menatap Baekhyun.
"Tidak mau, karena aku lebih suka apa yang di katakan oleh Minho Hyung dibanding Baekkie Hyung." Taemin semakin mengerucutkan bibirnya.
"Mmm, bagaimana yah, kau sih manis cuman masih sedikit agak tampan." Taemin menoleh kepadanya dengan sebuah senyuman malunya, sangat manis bagi Baekhyun. Bahkan Baekhyun tertular karenanya.
"Hyung, apa yang sedang Hyung lakukan?" Taemin menjinjitkan kedua kakinya melihat kebalik counter mini bar itu.
"Kau akan terjatuh jika menjinjit Taemin-ah." Taemin mencebikan bibirnya dan kembali terduduk dikursi counter mini bar itu.
"Hyung sedang membuat teh, kau mau?" Taemin mengangkat kedua jempolnya, Ia mau.
Baekhyun dengan serius membuat teh untuk Taemin, sedangkan Taemin sedang menjentikkan jari-jarinya iseng di meja mini bar, mulutnya mengoceh hal-hal random yang tidak dimengerti oleh Baekhyun.
"1 teh hijau berperasa strawberry untukmu Taemin-ssi." Baekhyun meletakkan cangkir kaca itu didepan wajah Taemin yang sedang bertumpu menggunakan dagunya.
"Wah, aromanya enak sekali Hyung." Taemin menghirup aroma teh itu dengan mata yang terpejam, ia mengambil pengangan di cangkir itu, mengarahkan cangkir itu kearah bibirnya, sekali lagi ia menghirupnya, kemudian meminumnya dengan perlahan, meresapi.
"Eummm, enak sekali Hyung, Taemin suka." Taemin terkikik, menyukai teh buatan Baekhyun. Ia terus menerus meminumnya.
"Baekhyunnnnnnn~" Itu bukan Taemin, Tapi Taehyun.
Taehyun memosisikannya dibangku mini bar itu, tepat disamping Taemin, Taemin memutar matanya malas, ia memilih melanjutkankan minumannya.
"Aku juga mau teh seperti Taemin." Baekhyun menatapnya kesal, sedangkan Taemin telah memukulnya kencang. Ringisan terdengar.
"Kau ini baru saja datang sudah langsung meminta teh." Baekhyun menggerutu, tapi tangannya mulai sibuk membuat Teh untuk Taehyun. Taehyun terkekeh.
"Hey bocah mana pacarmu?" Taehyun menolehkan kepalanya kearah Taemin yang sedikit tersedak minumannya.
"Kau ini, bicara apa kau?" Taemin bersiap-siap memukulnya kembali sebelum sebuah kecupan mendarat dipipinya, Taemin berhenti, dan kemudian tersipu malu.
"Hai, sayang."
"Hai, juga sayang." Taemin melototkan matanya kearah Taehyun yang mengejeknya.
"Mmm, Minho Hyung. Apa yang sedang kau lakukan disini?" Taemin mendongkak keatas melihat wajah Minho. Gugup menderanya.
"Lihat siapa yang sedang merona." Taemin kembali melototkan matanya dan menatap Taehyun sinis setelahnya.
"Taehyun jangan menggodanya." Oh, malaikat Taemin datang. Ia tersenyum kepada Baekhyun, berterima kasih.
"Terima kasih Byun." Taehyun menyesap tehnya segera setelah Baekhyun memberikannya dan memberikan untuk Minho yang baru datang juga.
"Aku melayani pembeli dulu, berbincanglah." Kemudian Baekhyun melangkahkan kakinya keluar counter mini barnya, untuk menghampiri pembeli yang ingin memesan, keadaan caffe Baekhyun sedikit tenang dan tidak terlalu ramai.
"So, Minho apa kau sedang menjemput kekasihmu?" Taehyun mengangkat-turunkan alisnya, semakin menggoda Taemin lebih jauh lagi, Taemin memejamkan kedua matanya dan mengatur nafasnya untuk mengendalikan dirinya, karena sungguh Taemin sangat ingin menendang Taehyun. Minho hanya tertawa pelan. Kemudian tangannya mengusak-usak rambut milik Taemin. Taemin mendongkak kembali.
"Aku mendapatkan tugas dari Mamanya untuk menjemputnya pulang." Taehyun semakin menaik-turunkan alisnya menggoda Taemin terus menerus.
"Bawalah, disini dia sangat merepotkan." Taemin menatapnya kesal dan Taehyun mendecih didalam hatinya.
"Hem, aku akan membawanya." Minho menganggukan kepalanya, dan mengambil telapak tangan milik Taemin menggenggamnya erat. Taemin semakin tersipu malu, pipinya merah merona. Dan Taehyun hanya mampu bergumam dasar anak perempuan, yang langsung saja dihadiahi tendangan ditempurung kakinya. Aish, sakit. Sekiranya itulah yang keluar dari mulut Taehyun.
Sambil mengelus-ngeluskan lututnya, Taehyun melihat Minho yang berpamitan dengan Baekhyun, Baekhyun hanya tersenyum dan memberikan jempolnya.
"Akhirnya dia pergi juga." Taehyun bergumam pelan sembari menyesap teh buatan Baekhyun dengan nikmat.
.
.
Mereka berdua bergenggaman tangan dengan erat, mengayun-ayunkan kecil tautan tangan itu, nyanyian dari beberapa lagu mereka sendukan, diselingi renyah-renyah tawa.
"Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun?"
"Kenapa, Taehyun, Taehyun, Taehyun?" Mereka tertawa kembali, terdengar lucu.
"Kita berpisah disini." Taehyun mengeratkan genggaman tangan mereka, Baekhyun membalasnya tak kalah erat.
"Kenapa?" Baekhyun bertanya dengan kerutan kecil didahinya.
"Aku ingin ke supermarket terlebih dahulu, Ibu menyuruhku membeli keju untuk adikku," . "Pulanglah lebih dahulu." Taehyun melepaskan tautan tangan mereka.
"Oh, baiklah kalau begitu, kau tidak ingin kutemani?" Baekhyun menawarkan dirinya untuk menemani Taehyun. Taehyun menggeleng.
"Tidak Baek, kau sudah terlihat lelah, pulanglah, aku akan cepat pulang setelahnya." Baekhyun mengerucutkan bibirnya kecil.
"Baiklah, sampai ketemu nanti, berhati-hatilah." Baekhyun mulai berjalan mundur, melambaikan tangannya.
"Kau juga sayang." Baekhyun mendesis, kemudian menjulurkan lidahnya, mengejek, kemudian sedikit berlari meninggalkan Taehyun. Taehyun menghela nafasnya berat, dilihatnya jam yang berada ditangannya. masih jam 11. ia akan segera membeli keju di supermarket yang masih buka selama 24 jam.
.
.
Baekhyun mengusap-ngusap telapak tangannya, meniupnya kemudian, cuaca malam ini agak dingin. Baekhyun mengeratkan jaketnya. Mencegah udara dingin semakin menusuk kulitnya.
"Dingin." Baekhyun kini mengusap kedua lengannya. Ia tidak memakai syal, sarung tangan. Ia hanya memakai jaket yang terdapat kupluk dibelakangnya. Itu tidak mempan terhadap dirinya yang tengah berhadapan dengan hawa dingin dimalam hari, Baekhyun sedikit meringis. Baekhyun terus berjalan, jalan menuju rumahnya tidaklah terlalu jauh, namun ia dan Taehyun sedikit menghabiskan waktu memakan jajanan pasar malam. Ugh, Baekhyun sedikit menyesalinya.
Sedang asiknya berjalan dan berusaha menghilangkan hawa dingin yang menerjangnya. Sepasang kaki jenjang berdiri didepannya, Baekhyun mengernyitkan dahinya, berpikir, apakah ia sedang dihadang orang jahat. Jika begitu Baekhyun mulai bergetar takut. Baekhyun tidak berani mendongkak melihat wajah milik seseorang yang menghalau jalannya pulang.
"Ikutlah denganku," Suaranya, "Byun Baekhyun." Oh tidak, ini bencana.
.
.
TBC
(Sedih karena ada masalah jadinya mendingan Update chapter 3 :'))
Udah panjang belum sih kaya entid-nya Baekhyun?Hemz...
Saran dan Kritiknya masih diterima ya~
kalau ada yang mau ditanya, silahkan ;) sebisanya dibales mulai sekarang, kalau ada waktu.
aku sibuk nyari kerjaan soalnya, orang baru lulus ini :')
Terima kasih :)
