Body
.
.
Park Chanyeol - Byun Baekhyun
Nam Tae Hyun, Kwon Yuri
Choi Sooyoung
Other Cast
.
M
.
YAOI
.
CHANBAEK
.
.
.
Baekhyun mencoba meronta-rontakan tubuhnya secara terus menerus dengan keras, tangannya diikat dibelakang punggungnya dengan ikatan syal berwarna merah satin entah milik siapa, Baekhyun menggeram kesal sesekali, Baekhyun kembali mencoba merontakan tangannya yang diikat beserta bahunya yang ikut bergerak mengikuti pergerakan tangannya itu, mencoba melepaskan ikatan kain syal bersatin dan berwarna merah yang mengikatnya dengan kencang, tangannya mungkin memerah karna ia terus menerus mencoba untuk melepaskannya, ia sedikit meringis kemudian.
"Tanganmu bisa sakit dan terluka jika kau terus-menerus mencoba melepaskannya." Baekhyun berteriak lelah, kemudian menundukan wajahnya. wajahnya penuh dengan aliran keringat padahal kini ia berada didalam mobil mewah dengan suhu yang teratur. Baekhyun memilih masa bodo dengan seseorang yang barusan mencoba memperingatinya.
Baekhyun merasa wajahnya diusap oleh tissue kering yang mengelap aliran keringatnya, Ia melirik jari-jari lentik yang membersihkan aliran keringat itu, dimulai dari; dahi, pelipis, pipi, rahang, dagu, dan lehernya. pada saat jari-jari itu merambat kearah tengkuknya, Baekhyun sedikit kegelian.
"Banyak sekali keringatmu, bahkan beberapa tissue habis dibuatnya." Orang itu terkekeh kecil dengan santai, Baekhyun merasa wajahnya kembali kering setelahnya.
"Tidak ingin memberontak lagi?" Baekhyun melihat wajah orang itu dengan tatapan tajam, Orang itu bahkan meminum segelas wine sambil membalas tatapannya juga, bedanya ia dengan tatapan santai sedangkan Baekhyun sudah pasti tajam.
"Kenapa?" Baekhyun bertanya dengan hentakan, Orang itu mengernyitkan dahinya.
"Aku Yuri, Kwon Yuri." Kini Baekhyun yang mengernyitkan keningnya, "Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi, kini aku sudah memperkenalkan diriku," Tambahnya.
"Aku tidak bertanya namamu, Kenapa kau menculik ku?" Baekhyun tidak mengerti, Ia hanya ingin pulang, dan meminta pelukan Ibunya di malam yang dingin ini, tapi kenapa ia malah diculik oleh orang asing yang tak dikenalnya.
Yuri tertawa dengan kencang namun masih terlihat anggun secara bersamaan.
"Aku tidak menculikmu, kenapa kau berpikiran seperti itu?" Baekhyun mengangkat salah satu alisnya, Jelas-jelas yang seperti ini namanya penculikan baginya.
"Aku hanya membawamu untuk beberapa jam kedepan tahu." Yuri merapatkan mantel bulunya, "Dasar anak kecil," Anak kecil? Ia mengejek Baekhyun dengan sebutan anak kecil, Ia ini pria dewasa tahu. Tanpa sadar Baekhyun menggerutu didalam hatinya.
Yuri yang melihat ekspresi milik Baekhyun mengigit bibirnya menahan untuk tidak terkekeh, pasalnya Baekhyun menatapnya dengan menyalak seperti anak anjing yang tidak diberi makan dan kemudian anak anjing itu kesal. Yuri jadi ingin memelihara Baekhyun rasanya.
"Tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan Baekhyun." Lihat, Bahkan wanita itu mengetahui namanya, siapa dia sebenarnya dan apa tujuannya.
"Kau bilang kau ingin membawaku, Tapi, kemana kau ingin membawaku?" Baekhyun bertanya dengan tubuh yang sedikit condong ke depan. Yuri tersenyum kecil sebelum menjawab, mengikuti Baekhyun yang sedikit memajukan tubuhnya.
"Seseorang ingin menemuimu, jadi aku membawamu untuk bertemu dengannya." Yuri kemudian menyipitkan sedikit matanya, mencoba sedikit bermain-main dengan Baekhyun yang kini membulatkan bibirnya kecil.
"Seseorang?" Baekhyun memundurkan tubuhnya kemudian bola matanya menjelajah, Yuri ikut memundurkan tubuhnya dan menyender dijok mobil dengan santai, memperhatikan Baekhyun.
"Apa aku mengenalinya?" Baekhyun masih menjelajahkan kedua bola matanya, berpikir.
"Mmm, Mungkin." Baekhyun sedikit terkejut dengan jawaban itu, "Siapa?" Baekhyun kembali bertanya kepada Yuri.
Yuri menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman kecil, kemudian menatap Baekhyun yang juga sedang menatapnya.
"Nanti juga kau tahu orangnya Baekhyun-ah." Baekhyun mengernyitkan keningnya, dan mengerucutkan bibirnya, kenapa tidak diberi tahu saja sekarang, Baekhyun terheran-heran.
"Menyebalkan."
.
.
Sudah berapa lama perjalanan ini, Baekhyun tidak mengetahuinya, Ia memandang kearah luar dari kaca jendela mobil ini, tubuhnya condong kebelakang,
"Kita telah sampai." Baekhyun sedikit terserentak kecil mendengarnya, ia tengah melamun tadi, memikirkan akan bertemu siapakah dirinya.
"Turunlah dengan hati-hati dan jangan mencoba untuk lari, kau tahu. Beberapa pria berotot mengawasimu." Yuri menajamkan tatapannya pada Baekhyun yang kini mencemoh ucapannya.
Kini mereka berdua telah turun dari mobil mewah berwarna hitam itu, Baekhyun mendongkakan kepalanya keatas, Ia melihat sebuah bangunan berkelas bintang lima, Astaga, bahkan Baekhyun tanpa sadar membulatkan bibirnya sedikit lebar, terkagum-kagum.
"Baekhyun, berbaliklah memunggungiku." Yuri memerintahnya dengan cepat, Baekhyun yang tadinya sedang terkagum-kagum pada bangunan yang berada dihadapannya langsung mendecakan lidahnya, kesal.
Baekhyun membalikan tubuhnya dengan malas, dan dapat dirasakannya tangan kasar mencoba melepaskan ikatan syal dipergelangan tangannya.
Terlepas, Baekhyun melihat pergelangan tangannya yang memerah dan sedikit lecet, ia mengusap-ngusapnya, dan Baekhyun meringis sakit.
"Kembali berbalik Baekhyun, menghadapku." Baekhyun memutar matanya dan memilih berbalik dengan cepat kembali, ia masih sedikit mengusap-usap pergelangan tangannya, Yuri melihatnya, namun tatapannya terlihat biasa saja.
"Berikan tanganmu, ulurkan keduanya." Baekhyun membelakan matanya, "Cepat Baekhyun," Yuri memilih mengambil pergelangan tangannya dengan sedikit kasar, Baekhyun meringis kembali.
"Kau akan mengikatku kembali?" Baekhyun melihat pergelangan tangannya yang akan kembali diikat dengan syal bersatin merah itu, Baekhyun ingin memberontak sebelum seorang pria berjas hitam layaknya seorang mafia berkelas memegang kedua bahunya kencang, Baekhyun marah tentu saja, Ia terus meronta-rontakan tubuhnya.
"Diam Baekhyun, aku tidak ingin melukaimu." Yuri sedikit membentaknya, Baekhyun mendadak terdiam, matanya sedikit berkaca-kaca, kini ia merasakan ikatan itu tidak terlalu kencang, Yuri tengah mencoba untuk tidak kembali membuat lecet di pergelangan tangan miliknya.
"Ikut aku," Yuri menariknya pelan, "Hanya jangan memberontak kembali Baekhyun, seperti yang kukatakan, aku tidak ingin melukaimu," Kemudian Yuri membawanya masuk kedalam bangunan mewah berbintang lima itu.
.
.
"Tunggulah sebentar." Yuri meninggalkanya bersama Bodyguard yang menjaganya disamping kanan dan kirinya.
Baekhyun memperhatikan Yuri yang kini tengah berbicara dengan salah satu Resepsionis wanita, entah membicarakan apa, yang pastinya Baekhyun tidak ketahui. Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling bangunan ini, aksennya masih seperti Yunani Kuno, dimana patung-patung menghiasi dan lukisan-lukisan yang Baekhyun tak ketahui maknanya.
"Mari kita menemuinya." Itu Yuri, ia sudah kembali, dan menuntunnya ke arah lift, dilihatnya Yuri memencet tombol berangka 26, disanakah orang itu berada.
Mereka menunggu lift tersebut terbuka. keadaan hening sesaat, sampai akhirnya lift itupun berbunyi, membuka.
Lift itu tidak ada siapun didalamnya, Baekhyun dan Yuri serta beberapa Bodyguard memasuki lift itu. Yuri kembali memencet tombol berangka 26 dan pintu lift supaya tertutup.
Baekhyun merasa lift itu mulai bergerak naik, "Ini apa?" Baekhyun memutuskan bertanya setelah ia merasakan keheningan. Yuri menoleh kearahnya.
"Apartemen." Yuri menjawab singkat, seolah tahu apa maksud dari pertanyaan yang diberikan oleh Baekhyun, Baekhyun kembali terkagum, Apartemen ini pasti mahal, ia hanya bisa mengucapkannya didalam hatinya.
Baekhyun kembali merasakan lift itu, namun kali ini lift itu berhenti, setelah melewati beberapa lantai, Baekhyun heran, kenapa disetiap lantai tidak ada yang menaiki lift yang dihuninya.
Pintu liftpun terbuka setelah beriringan dengan bunyi terbuka.
Yuri kembali menuntunnya, Kini mereka berjalan dilorong-lorong kamar apartemen entah milik siapa. Sepi, itulah sekiranya yang dilihat oleh Baekhyun.
Ia tidak menyadari Yuri telah berhenti di depan pintu kamar bernomor 6666, sampai kemudian dilihatnya Yuri tengah memasuki sebuah kartu berwarna hitam yang diambilnya dari dompetnya, dan memasuki kartu itu kedalam alat yang Baekhyun tak ketahui namanya. Baekhyun mendengar punyi PIP dialat tersebut, dan terbukalah pintu itu.
"Masuklah." Yuri mengajaknya untuk masuk kedalam Kamar bernomor 6666 itu, Baekhyun menurutinya dan memasuki kamar itu dengan patuh, setelah ia masuk tanpa terduga ia merasakan hawa tak biasa, hawa ini seperti pernah dirasakannya.
Mengintimidasi, Baekhyun ingin memeluk tubuhnya, tapi ia tak bisa jika dalam keadaan tangan terikat.
"Aku datang membawanya." Yuri berteriak keras, kegirangan. Entah menuju kepada siapa. Baekhyun terdiam bingung.
"Halooo, apa masih ada orang?" Yuri menaruh tangannya di pinggang rampingnya, kemudian menyusulnya decakan, "Ayolah, jangan bermain-main Park." Yuri memutarkan matanya malas. Baekhyun melihatnya semakin bingung, apa wanita ini gila?
"Kau membawanya?" Suara berat ini, Tidak mungkin.
"Oh, disana kau rupanya," Yuri memekik, membalikkan tubuhnya, "Dan yah, aku membawanya,"
"Chanyeol."
Baekhyun memejamkan matanya, mensuges dirinya. Itu bukanlah pria berambut merah angkuh, itu bukanlah dia. Itu bukanlah dia yang berada dibelakangnya, tengah melubangi punggungnya. Selamatkan aku. Baekhyun menjerit didalam hatinya.
"Bagus, bawa dia." Harapan hanya harapan Byun, itu memang nyatanya. Bahwa ialah memang sih rambut merah angkuh.
Ternyata inilah orang yang ingin bertemu dengannya, Sial! Ia merasa lengan atasnya ditarik dengan kencang kedalam sebuah ruangan.
Astaga, untuk apa ia membawa Baekhyun kedalam ruangan istirahat, Ruang Tidur!?
Ini bahaya, dilihatnya Yuri yang berada dibelakang tubuhnya, tengah mendadah-dahkan tangannya, Wanita itu, akan kubunuh nanti.
.
.
"Keluar." Pria bermarga Park itu menyuruh dua orang Bodyguard keluar dari kamar itu setelah menyeret Baekhyun sampai disana.
Dengan patuh, kedua Bodyguard itu memutar tubuh mereka dan keluar setelah pintu ditutup. Baekhyun melihatnya sampai keduanya benar-benar telah menghilang dari pandangannya.
"Baekhyun." Baekhyun memejamkan kedua matanya, tahu bahwa orang itu memanggilnya.
"Apa kau tertarik dengan pintu itu?" Jangan berbicara, itu membuat Baekhyun kesal setengah mati.
"Oh, apa kau tertarik dengan Bodyguard tadi?" Apa dia bilang? Sinting sekali.
"Tidak bisakah kau melihatku?" Chanyeol berbicara dengan nada datar, Baekhyun memutar matanya, dan kemudian mulai melihat kearah Chanyeol yang tengah terduduk di tepian kasur merah miliknya.
Dilihatnya Chanyeol tersenyum miring, puas.
"Kemarilah." Chanyeol mengajaknya, nada itu mengajak, mendekatinya sama saja Baekhyun merasa seperti umpan dalam kandang Singa Jantan yang kelaparan, Baekhyun diam, tidak menanggapi.
Chanyeol mendecak melihatnya, "Kemarilah, Byun, aku tidak ingin mengulanginya," Lanjutnya dengan tatapan menghunus tajam.
"Kenapa?" Sebaliknya, Baekhyun memilih bertanya kepadanya dan kembali menolak ajakan hampiran itu.
Chanyeol memandangnya marah, merasa tak dituruti keinginannya.
Mata bertemu mata, satu dengan marah dan satu lagi dengan tatapan bertanya.
"Kenapa?" Baekhyun kembali bertanya karena tak dihiraukan, dilihatnya Chanyeol mengeraskan rahangnya.
"Kemauanku tak pernah dibantah oleh siapapun Baekhyun, Kemarilah." Chanyeol semakin menunjukan kemarahannya dengan sifat arogantnya yang menonjol.
Baekhyun berjalan dengan satu-satu dan sedikit-sedikit, Ia menahan nafas, sedikit takut, sesekali menelan jakun tak terlihatnya kedalam, tinggal setengah jalan, kemudian ia berhenti seketika, ia tidak menyukai hal ini.
Chanyeol mengerutkan dahinya, "Apa yang kau lakukan?" Chanyeol memandangnya dari bawah keatas.
Baekhyun menundukan wajahnya, terdiam sesaat, apa yang harus ia lakukan? Ia terlihat bingung disaat yang bersamaan.
"Pulang, aku ingin pulang." Baekhyun berujar dengan lirih, ia tidak ingin disini, berdua bersama pria itu.
"Tidak." Setelahnya ia merasakan tarikan dipergelangan tangannya yang diikat, sebelum tubuhnya dibanting keranjang beraroma jantan dan berwarna merah gelap itu.
Baekhyun memejamkan matanya, merasakan lembutnya sesuatu yang berada dibawah tubuhnya, ia kemudian membuka kedua matanya perlahan, ia terkejut dengan dirinya yang berada diatas ranjang dengan tubuh Chanyeol diatasnya.
Mereka terdiam dengan mata yang menyatu dalam, entah apa yang merasukinya, Chanyeol mengusap pipi Baekhyun dengan punggung tangannya dengan perlahan, merambat kearah rambut milik Baekhyun dan sedikit menggenggamnya, Baekhyun terdiam, matanya masih memandang mata milik Chanyeol yang masih beradu pandang dengannya, Chanyeol sedikit menurunkan tubuhnya, Baekhyun tersadar dan memiringkan wajahnya kesamping, setelah ia merasa sinyal berbahaya dari pria diatasnya.
Chanyeol yang melihatnya mendecih, tetapi tidak menjauhkan wajahnya sama sekali, memilih bertahan.
Tangan sebelah kirinya merambat dari bahu milik Baekhyun dan turun ke lengan atas Baekhyun dengan perlahan, Baekhyun merasa itu adalah gestur menggoda.
Usapan itu semakin lama semakin pelan dan berhenti dipergelangan tangannya yang diikat dengan syal satin berwarna merah, dan tangan itu berhenti disana, sebelum sebuah hentakan dirasakannya, Baekhyun meringis kencang menerima rasa sakitnya.
Ia mendongkakkan wajahnya sehingga terlihatlah leher mulusnya, tanpa jakun, tak terlihat.
Tangannya berada diatas kepalanya, dengan tangan Chanyeol yang menekannya, Ia masih meringis, bahkan air matanya menetes tanpa ia sadar.
Nafasnya mulai tersendat-sendat dengan air mata yang terus mengalir kecil, dilihatnya Chanyeol yang menatapnya dengan tatapan dalam, Sebelum ia duduk mengangkangi perut Baekhyun, namun tidak menindihnya.
Lelaki itu dengan datar terlihat menjulang, Tangannya kembali merambat di lengan-lengan milik Baekhyun, Dan berhenti di pergelangan tangannya kembali tepat diikatin syal bersatin merah itu, Baekhyun melihatnya, Apa yang akan dilakukan pria itu terhadapnya.
Namun, alih-alih menyakitinya kembali, Baekhyun merasa jari-jari milik Chanyeol membuka ikatan syal itu dengan pelan, Baekhyun melihat keatas kepalanya.
"Aku hanya ingin membukanya," Chanyeol kembali menatapnya dalam dan berhenti sebentar,
"Itu terlihat mengangguku," Lanjutnya, kemudian kembali membuka ikatan itu.
Bebas, Baekhyun terlepas dari ikatan itu, Namun baru saja ia ingin melihat tangannya, Chanyeol kembali menyentak tangannya, menekan pergelangan tangan milik Baekhyun dengan kuat, Baekhyun melototkan matanya.
"Lepas." Baekhyun memberontak, menggerakkan tubuhnya kekanan dan kekiri, meminta dilepaskan, Chanyeol hanya memandangnya datar.
Baekhyun tidak berhenti memberontakan tubuhnya, sebelum dilihatnya Chanyeol kembali menurunkan tubuhnya dan mengarahkan mulutnya kearah bibir milik Baekhyun, Baekhyun yang melihatnya memiringkan wajahnya kembali, Chanyeol yang melihatnya tersenyum licik, kemudian memilih mengarahkan mulutnya kearah telinga merah milik Baekhyun dan berbisik disana.
"Baekhyun,"
"Jadilah modelku."
Baekhyun membelakan kedua matanya, tubuhnya seketika berhenti memberontak, Dilihatnya Chanyeol yang telah menegakkan wajahnya dan kini sejajar dengan wajah milik Baekhyun.
Bibir milik Chanyeol mendekati bibir milik Baekhyun, namun tidak menyentuhnya, Meski terbilang dekat, Chanyeol menatap bolak-balik dari mata ke bibir milik Baekhyun.
"Jadilah modelku Baekhyun, aku menginginkannya." Chanyeol berbisik di bibir milik Baekhyun, menggodanya.
"Aku menginginkanmu."
Ini gila.
.
.
.
Tbc
(Timbangan Bayi Chanyeol).
Hai, aing bawa Chapter 4 Body nicc.
Kira-kira masih ada yang baca kagak eak :')
Secara sedang bersemedi, Azek.
Untuk alur iya, aing emang make lambat, tapi mah kedepannya mulai cepat, wgwg. Sebenernya aing gamau lanjutin cerita ini :'( bukan karna apa-apa, aing cuman merasa ga pEdE, Jujur dah. Masih banyak yang kurang, Yekali baru nulis cerita langsung bilang: Cerita gua bagus, Taiks, songong dong aing -,-
Ugh, terimakasih sudah mau mampir, dan mengoreksi ceritanya eak, ku senang ada yang memperhatikan kesalahan dalam penulisannya, ehehe..
Belum bisa mencantumkan nama, Chapter depan deh, kalo rasa pEdEnya udah ga muncul lagi, ihihi.
