I Want To Dream With You Forever Chapter 6: Ferris Wheel
I Want To Dream With You Forever
Chapter 6: Ferris Wheel
Naruto bukan punyaku. Penciptanya cari sendiri di mbah gugel.
Sakura H. & Naruto U.
Friendship/Romance
Teen
Ttypo, OOC, OC, abal, gak jelas dan warning lainya.
Maaf, ya. Saa-chan gak update-update cerita ini. entah sudah berapa bulan. Saa-chan minta maaf yang sebesar-besarnya. Di tambah Saa-chan sudah masuk sekolah menengah pertama. HUEEEEE! Semakin sulitlah untuk mengupdate cerita ini. Saa-chan juga kecewa dengan Masashi. Sangat kecewa dan sedih, mengapa NaruSaku gak cannon? Kenapa harus NaruHina? Padahal Narutoo lebih cocok sama Sakura daripada Hinata. Bahkan temen Saa-chan sampe bilang "Hinata lebih cocok sama Kiba. Sakura sama Naruto." Padahal dia itu NaruHina Lovers. Tapi, ia sedikit dukung pair NaruSaku dan gak ngehina pair itu. Temen-temen sekelasku juga lebih setuju Naruto sama Sakura karena mereka memang pas jadi pasangan. Aku bahkan sampe heran sama para NaruHina lovers sampe menghina fanfic-fanfic yang berpair NaruSaku, bahkan fanfic NaruSaku kak Barbara123 sampe di flame, lo. Aku kasihan sama kak Barbara123.
Yang semangat, ya kakak.
Yups! Kita akhiri saja curcol tidak jelas ini. back to story.
Aku tidak ingin flame darimu. Jadi, jika kau membenci fanfic ini, silahkan kembali ke page sebelumnya. Karena aku tidak mau memberikan flame yang lebih pedas lagi dari flamemu. CAMKAN ITU! #dia emosi
Tapi, jika kau masih bersikeras membaca fanficku dan memflame apa boleh buat aku terpaska memberikan Flame yang sangat pedas padamu, terutama yang suka menghina fanfic-fanfic buatan Author penggemar NaruSaku.
Don't Like? Don't Read!
Simple and practical!
Enjoy it!
PLAY!
Semua anak-anak panti asuhan itu bertepuk tangan dengan riang.
"Sugoi!"seru seorang bocah perempuan berambut biru.
Sakura bangkit dan mendekati bocah itu.
"Sungguh?"Sakura bertanya dengan ramah. Bocah perempuan itu mengangguk antusias. Tipikal bocah yang masih polos.
"Suatu saat nanti aku mau jadi seorang penyanyi."ucap bocah itu. Sakura terkekeh dan mengusap rambut panjang bocah itu. "Tentu suaramu harus bagus. Siapa namamu?"
Naruto hanya memperhatikan Sakura berbicara dengan coha itu. Cowok bermbut jabrik itu mulai membayangkan kehidupan bahagianya dengan Sakura dan memiliki keluarga yang bahagia juga. Memiliki anak-anak yang cantik-cantik dan tampan-tampan. Haaaah. Kehidupan idaman Naruto.
Ketika ia tersadar, ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang di pikirkannya, sih? Bodoh. Mana mungkin ia dan Sakura bersatu. Tidak mungkin.
Ketika ia mengakhiri khayalan konyolnya, Sakura sudah selesai mengobrol dengan bocah yang bernama Kirara Manami itu.
"Wah, wah, tak kusangka kalian kemari lagi setelah selama setahun, ya."ucap wanita berambut hitam legam dan bermanik aquamarine.
"Jadi, kami tidak boleh kemari lagi, nih?"goda Naruto.
Nishida Azusa menggeleng dan tersenyum kikuk, "Bu, Bukan begitu! Kalian belakang ini jarang sekali berkunjung kemari, kupikir kalian sudah bosan dan melupakan anak-anak malang di panti asuhan ini."kata Nishida.
Sakura dan Naruto tertawa mendengar penuturan Nishida.
Wanita berusia 22 tahun itu menggerutu, "Apa yang lucu, sih? Aku kan serius."ucap Nishida kesal. Sakura mengibaskan tanganya, "Bukan, bukan. Kami hanya merasa geli. Mana mungkin kami melupakan anak-anak dan panti asuhan ini. iya, 'kan, Naruto?"Sakura menyikut lengan cowok di sampingnya.
Naruto mengangguk. "Tentu saja. Semua yang ada di sini sudah kami anggap sebagai keluarga, kok."ucap Naruto.
Nishida mengangguk, paham. "Lalu, kenapa kalian, selama setahun ini tidak kemari?"tanya Nishida.
"Jangan salah paham, ya. Setahun ini kami sibuk belajar, mau kemari selalu saja ada yang menghalangi. Seperti PR yang tiba-tiba menumpuk, tugas kelompok dan masih banyak yang lain. Maaf, ya."kata Sakura tersenyum.
Nishida mengangguk lagi. "Aku tidak akan salah paham, kok. Tenang saja."
Wanita itu mengalihkan pandangannya kearah anak-anak yang tengah sibuk memanjat rumah pohon di panti asuhan itu. Nishida panik saat salah satu bocah berumur lima tahun ikut memanjat. "Aku tinggal sebentar, ya. Astaga! Naeko, jangan ikut manjat-manjat dong! Nanti jatuh gimana?"
Akhirnya mereka tinggal berdua. Hening.
"Sakura-chan..."panggil Naruto. Sakura menoleh, "Ya?"
"Ke Konoha Land, yuk. Katanya ada acara peluncuran Hanabi di sana. Mau, ya."ucap Naruto di sertai semburat-semburat merah.
Sakura ikut memerah. Berarti Naruto mengajaknya kencan? Astaga! Kenapa jantungnya serasa mau meledak? Suara Naruto menghentikan asumsi Sakura.
"Jadi?"
Sakura menoleh kesana-kemari, "Terserah, deh. "sahut Sakura.
"Kau menerima ajakan kencanku?" tanya Naruto polos.
Uuh. Rasanya Sakura ingin meninju Naruto karena kepekaan Naruto yang sangat rendah. "Tentu saja, Baka!"
Naruto bersorak dalam hati. "Bagaimana sekarang saja? Hanabinya di luncurkan jam 00:00 JTS, kok."
Sakura mengangguk, "Ya. Aku juga rencananya mau kesana malam ini Cuma tidak ada teman."
Naruto mengerti alasan Sakura hampir menolak undangan Hinata dan Sasuke.
"Sekarang saja, ya?"
Mereka meminta izin pada Nishida agar pulang awal dengan alasan karena di telepon orang tua. Mereka takut di goda terus oleh Nishida.
"Yah. Tidak masalah."respon Nishida.
Sakura dan Naruto meninggalkan halaman panti asuhan menuju Konoha Land.
Konoha Land... 21:00 JTS
Mereka sampai di Konoha Land. Tempat itu tampak sangat ramai. Tentu saja. Ini kan malam minggu. Sakura mengendarkan pandangannya ke segala arah saat mereka sudah masuk ke dalam Konoha Land setelah membeli tiket masuk.
"Naruto, kita mau kemana dulu? Masih ada waktu tiga jam, nih."tanya Sakura sambil melirik jam tanganya.
Sedangkan yang di tanya sibuk mengedarkan pandangannya ke segala penjuru Konoha Land. "Aku juga bingung."gumam Naruto.
Sakura menghela napas dan di saat itu juga ia melihat sebuah gedung dengan papan nama bertuliskan GAME CENTER KONOHA LAND.
Sakura menyikut Naruto. Cowok itu menoleh dan menatap Sakura yang menunjuk kearah sebuah gedung.
"Kita ke game center dulu."usul Sakura. Naruto mengangguk. "Boleh. Setelah itu kita naik Rollercoaster, Shintai the house, Histeria, lalu Ice Skating dan terakhir Ferris Wheel. Bagaimana menurutmu?"usul Naruto di sertai seringai.
Sakura memukul bahu cowok itu, "Kau mau membuatku jantungan, hah? Itu semua berbau horror tau!"Ujar Sakura kesal.
Naruto meringis dan tertawa kecil, "Justru di situlah yang mengasyikannya."kata Naruto. Sakura meninju Naruto, namun Naruto dapat menghindarinya. "Dasar ecchi! Kau mengusulkan itu semua karena agar aku memelukmu saat bagian menakutkannya, kan? Aku tidak akan tertipu."Sakura melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya. "Kita taruhan, apakah kau berani melewati semua wahana itu. Terutama Rollercoaster, Histeria dan Shintai The House."kata Naruto.
"Oke. Siapa takut?"Sakura berjalan melenggang menuju game center meninggalkan Naruto. Ia kesal karena dikira tidak berani melewati wahana berbau horror itu.
Naruto dan Sakura memasuki gedung game center dan bermain banyak permainan, mulai dari tembak-tembakan, Dance, balapan, Photo Box, basket, pancing ikan, robot-robotan virtual, perang- perangan sampai game Shintai The House. Sudah dua setengah jam mereka di game center.
"Nah, Sakura. Aku beri kau clue. Karena kudengar kau tidak pernah bermain game ini, nanti di wahana itu hampir sama seperti di gamenya. Kita harus mengumpulkan buku-buku bersejarah di sana dan mengembalikannya pada yang berhak menyimpannya." Sakura sudah pucat pasi. Bermain gamenya saja sudah membuatnya jantungan apalagi versi actionnya. Bisa-bisa ia pingsan di tengah wahana. Merepotkan.
"Ter, Terserah, deh. Nggak tahan."sahut Sakura. Naruto tertawa mendengarnya.
"Oke, oke. Kubatalkan, deh."ia merasa kasihan pada Sakura. Tentu saja ia tidak ingin membuat Sakura jantungan. "Kita langsung ke wahana Ferris Wheel, ya."
Naruto menuntun Sakura yang sudah sangat pucat layaknya mayat. "Tenanglah. Rileks. Kan' mau melihat Hanabi. Gak seru rasanya kalau kau malah pucat pasi begini."kata Naruto.
Sakura berteriak jengkel, "SALAH SIAPA YANG MENGAJAK MAIN SHINTAI THE HOUSE?"
Semua pandangan tertuju kearah Naruto dan Sakura. Gadis musim semi itu tidak peduli, sebuah kotak Ferris Wheel berhenti dan seorang petugas membuka pintu kotak raksasa tersebut. Sakura segera masuk dan duduk di bianglala. Di ikuti Naruto yang duduk di bangku depannya.
"Maaf, dong. Aku kan Cuma bercanda."ucap Naruto. Ia jadi menyesal telah membuat sahabatnya marah.
Sakura diam, lalu menjawab, "Bercanda kan bisa gak kelewatan. Aku hampir pingsan tadi."kata Sakura dingin. "Sakura-chan, aku minta maaf. Sungguh aku tadi hanya bercanda. Maaf."Naruto berlutut. Sakura merasakan semburat merah di wajahnya.
"He, Hentikan, Naruto."ucap Sakura memegang kedua bahu sahabat lelakinya dan mendudukan Naruto di bangku lagi.
"Aku memaafkanmu."ucap Sakura singkat. Naruto berbinar. "Sungguh?"
Sakura mengangguk singkat. Gadis berusia 17 tahun itu melirik jam tangannya. "semenit lagi Hanabi di luncurkan."lirih Sakura.
Naruto menatap keluar jendela Ferris Wheel. Tiba-tiba Hanabi terluncurkan.
Nguuuuiiing! DUAR! DUAR!
Sakura menatap keluar jendela berbinar. "Kireii..."lirih Sakura.
Mendadak Ferris Wheel berhenti di atas. Sakura tersentak. Ia hampir kehilangan keseimbangan. Namun, akhirnya bisa berdiri lagi berkat Naruto.
"Sankyuu."ucap Sakura memerah. Naruto nyengir, "Nggak masalah."
Hening. Tidak, tidak. Bukan hening. Ramai akibat letusan kembang api.
Ketika Sakura lengah. Naruto meraih tengkuk Sakura. Sakura menoleh ke pemuda itu. Senyuman lembut terpatri di wajah Naruto.
"Sukidayo..."lirih Naruto pelan sebelum mengecup bibir Sakura. Gadis itu merasa terkejut akan perilaku Naruto. Namun, ia hanya diam. Toh, tampaknya ia juga menikmatinya.
Kembang api masih terus di luncurkan dan itu menjadi latar belakang adegan romantis tersebut.
Naruto berharap satu, Sakura menyadari parasaanya. Sakura berharap hanya satu, Naruto tidak melupakannya dan menyadari perasaannya yang sebenarnya.
To Be Countiune...
Please Review...
Sayaka. Kashiwagi.
