I Want To Dream With You Forever Chater 9: So Long!

"Kau mau masuk jurusan fakultas kedokteran di Paris, Saku? Apa kau yakin?"gadis berambut indigo panjang tersedak saat Sakura membicarakan tentang pendidikannya.

"Iya."

"Aku khawatir. Bagaimana tidak? Dosen di sana killer semua, Sakura."

Sakura tertawa, "Lebih killer mana? Aku atau dosen di sana?"

Mereka berdua tertawa.

"Entahlah. Dua-duanya sama saja."

Sakura mengusap air mata yang sempat keluar dari maniknya, "Kalau kau bagaimana? Mengambil jurusan apa?"

Hinata mengaduk kopinya, "Jurusan Akreolog di Universitas Konoha. Tidak usah jauh-jauh. Di sini saja sudah cukup."kata Hinata.

Sakura mendengus, "Kau menyindirku karena kuliah terlalu jauh?"ucap Sakura datar.

Hinata tersenyum kikuk dan menggelengkan kepalanya.

"Bu, Bukan begitu. Aku hanya... Etto,"Hinata bingung harus menjawab apa.

Sakura tersenyum kemudian, "Tidak apa."

Kemudian mereka memesan makanan di kantin.

I Want To Dream With You Forever Chater 9: So Long!

Naruto bukan punyaku. Penciptanya cari sendiri di mbah gugel.

Sakura H. & Naruto U.

Friendship/Romance

Teen

Ttypo, OOC, OC, abal, gak jelas dan warning lainya.

Oke, Saachan kembali dengan I Want To Dream With You Forever Chapter 9:So Long. Sepertinya chap ini akan menjadi chap terakhir. Sepertinya, ya. Aku membuat chap ini sambil mendengarkan lagu Lyn-My Destiny, kalian yang Kpop-lovers pasti tahu dong ini soundtrack drakor apa? Yang memerankan Kim Soo Hyuun *huaaaaaa... Soohyun itu kakakku yang paling kece #ngarep* ya udah, nanti readers pada bosen lagi, so, let's go to the Read!

Happy Reading!

Aku tidak ingin flame darimu. Jadi, jika kau membenci fanfic ini, silahkan kembali ke page sebelumnya. Karena aku tidak mau memberikan flame yang lebih pedas lagi dari flamemu. CAMKAN ITU! #dia emosi

Tapi, jika kau masih bersikeras membaca fanficku dan memflame apa boleh buat aku terpaska memberikan Flame yang sangat pedas padamu, terutama yang suka menghina fanfic-fanfic buatan Author penggemar NaruSaku.

Don't Like? Don't Read!

Simple and practical!

Enjoy it!

PLAY!

Ting, tong, teng...

Bunyi lonceng sekolah Konoha International High School bergema di seluruh halaman sekolah tersebut, beberapa senior mulai berkumpul di lapangan yang luas tersebut. Para senior tampak rapi dengan seragam lengkap dan di tangan masing-masing senior tergenggam sebuah gulungan kertas dengan pita merah.

Sakura berdiri tak jauh dari teman-temannya. Aura keseluruhan siswa siswi kelas dua belas tampak sangat menggembirakan.

Langit pagi itu tampak sangat cerah dengan beberapa kapas-kapas berwarna putih bergerak dengan pelan, di tambah dengan berseminya bunga sakura di halaman sekolah itu menambah aura menyenangkan dan suka cita dari banyaknya siswa kelas dua belas yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah tersebut.

Seorang wanita paruh baya—Tsunade Senju—berdiri di belakang podium, bersiap-siap untuk berbicara.

Seluruh siswa mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian.

"... dengan ini Siswa/I kelas dua belas, resmi lulus dari Konoha International School. Semoga kalian bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Congratulations!"

Para siswa bersorak dengan gembira dan melompat senang. Para sensei juga merasakan hal yang sama walau ada sebersit perasaan sedih dan tak rela para anak didiknya harus lulus dari SMA Konoha tersebut.

"Wah, wah, tak kusangka para anak didikku yang merupakan 'siswa teladan' semua akan lulus juga. Tak kusangka."sebuah suara bariton terdengar dari belakang kerumunan kelas XII-A.

Semua siswa kelas XII-A menoleh, "Kakashi-sensei!"

Seorang pria setengah baya berambut perak tersenyum, walau Saachan yakin para siswa didikan sensei itu tidak akan melihatnya.

"Hehehehe. Tentu saja, Kakashi-sensei! Kami kan selalu berusaha."Kiba Inuzuka berucap.

Kakashi Hatake mendengus dan menyikut murid nakalnya tersebut, "Berusaha untuk mencontek lembar kerja Sasame ,kan?"

Kiba memerah, "Sensei!"

Semua murid kelas dua belas A itu tertawa. Mereka semua juga tahu bahwa Kiba menyukai Sasame.

Sasame juga nampaknya salah tingkah. "Oh, ya. Kemana si duren dan Sakura? Dari tadi tidak terlihat."tiba- tiba Ino bersuara.

"Oh, iya, ya. Mereka tidak terlihat semenjak selesai upacara tadi."Tenten menyetujui hal tersebut.

"Paling mereka sedang bermesraan."Temari mendengus. Ino tersenyum lalu mengangguk, "Iya juga, ya."

Di kelas XII-A...

Sakura duduk di kursi kedua dari depan di barisan ketiga. Di kursi inilah, ia menghabiskan masa terakhirnya sebagai seorang murid di Konoha International High School. Di kursi ini ia merasakan kehangatan bersama teman-temannya.

Emerald Sakura menelusuri tiap sudut kelasnya. Semua memori-memori yang di alaminya berputar bagaikan film. Ia ingat sekali suasana di kelasnya saat pagi baru menjelang, saat pelajaran berlangsung, saat istirahat, saat kelasnya menjadi cosplay cafe untuk meramaikan festival budaya di sekolahnya, saat ulangan sejarah dengan soal-soal yang sedikit ambigu, semuanya. Semua memori itu berputar bagaikan roda.

Ya. Roda waktu, roda kenangan.

"Omoide ga mikata ni naru..."sebuah lagu yang baru saja mengalun lembut dari mulutnya terpaksan terhenti. Tiba-tiba pintu kelas menjeblak terbuka, menampilkan seorang pemuda berambut pirang.

Naruto tidak terkejut mendapati sahabatnya berada di ruang kelas ini, karena

ia memang tahu Sakura ada di kelas XII-A.

"Sakura-chan... kau disini rupanya."kata Naruto sambil melangkah mendekati Sakura yang terduduk di kursinya.

"Kau tadi di cari Ino."katanya sambil menduduki kursi yang ada di samping Sakura. Kursi yang dulu sempat di dudukinya di tahun terakhir sebagai siswa SMA. Sakura hanya tersenyum. Ia menatap Naruto dengan lekat. Naruto menghela napas, "Tidak terasa, ya. Kita akhirnya lulus juga."

Sakura tersenyum sambil memandang lurus ke arah papan tulis yang ada di depannya.

"Tadinya kupikir kau tidak akan lulus."ucap Sakura, asal ceplos. Naruto memukul bahu Sakura, lembut. "Tadinya juga kupikir kau tidak akan lulus, mengingat kau selalu membantu gadis Fukushima itu."ucap Naruto.

Sakura mendengus, "Menolong sesama itu baik tahu!"ujar Sakura, kesal.

Naruto tersenyum, sifat Sakura tidak pernah berubah. "Iya, iya. Aku minta maaf."

Hening.

"Rasanya... baru kemarin aku masuk sekolah ini. Konoha International High School."Sakura tersenyum simpul. Naruto yang berada di sebelahnya ikut tersenyum.

"Iya... tiga tahun cepat, ya?"katanya sambil menyandarkan punggungnya.

Manik Sapphire Naruto itu memperhatikan setiap sudut kelasnya, kemudian... kedua pasang mata itu tertutup.

"Hei, apa kau sudah mengerjakan tugas minggu lalu?"

"Pak! Coba sekali-kali kita tidak usah belajar! Aku bosan belajar terus!"

"Apa festival budaya hari ini akan berjalan lancar?"

"Kostum maidnya sudah di pesan, kan? Harus tepat waktu, lo."

"Hari ini makan siang dimana? Di kelas, kantin, atau di atap sekolah?"

"Kalian sudah menentukan universitas dan fakultas yang akan kalian tuju?"

"Ah, aku rasa ini lebih baik. Dari pada yang tadi, jawabannya tidak sesuai logika manusia tahu! Jangan di ganti lagi, lo!"

"Ish, bukan begitu caranya. Begini yang benar!"

Semua suara yang Sakura dan Naruto dengar di kelas ini kembali terdengar. Suara suara itu yang menemaninya di saat tahun terakhir Sakura dan Naruto di bangku SMU. Suara suara ini...tak akan pernah terlupakan olehnya dan Naruto begitu saja.

"Pada akhirnya...kita sudah menuju jalan masing-masing"ucap Sakura tiba-tiba.

Naruto yang berada di samping Sakura menoleh. Sedetik kemudian, dia tersenyum simpul,

"Ya, aku harap, jalan yang kita tuju...tidak mengecewakan"Naruto mengedarkan pandangannya ke langit langit ruang kelas. Sakura tersenyum. "Semoga Saja..."

Suara angin bisikan terdengar dari pintu kelas.

"Aduh, jangan dorong-dorong, dong!"

"Ittai! Jangan bersender di kepalaku!"

"Kubunuh kau! Ini sakit tahu!"

"SSSTTT! Jangan bersuara! Nanti mereka tahu! Tontonan ini jarang ada di SMA tahu!

"KAMI JUGA TAHU!"

BRUUUK!

"Ittai!"

Sakura dan Naruto cengo melihat adegan itu. Jadi, dari tadi mereka dijadikan tontonan gratis. Oke. Apa-apaan ini? Sialan.

"HEI! KALIAN PIKIR KAMI INI ARTIS PAPAN ATAS?" Tunggu. Rasanya ada yang janggal, artis papan atas? Apa hubungannya, ya?

Seluruh siswa berkeringat dingin tak terkecuali Naruto.
"Ano, Sakura-chan. Apa hubungannya artis papan atas dengan mengintip?"Naruto bertanya dengan pelan.

Sakura memerah. Benar juga, ya. Apa hubungannya. Merasa malu, Sakura mengubah topik.

"Bu, Bukan apa-apa. Oh, ya! Hari ini ibuku memasak banyak makanan untuk pesta musim semi. AYO KITA BERPESTA!"

Semuanya bertukar pandang, namun mengiyakan saja.

~Party ga hajimaru yo~

Sakura menatap sekitarnya dengan pandangan malas. Di tangannya ada segelas syirup dengan campuran koktail. Ia sedikit jengkel dengan kejadian saat di kelas tadi.

Dengan sekali teguk, Sakura menghabiskan minumannya dan meletakkan di sebuah meja kecil di dekat pohon Sakura di halaman belakang rumahnya tersebut.

Berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.

Naruto yang tengah mengobrol dengan ayah Sakura dan beberapa teman lelakinya sedikit melirik kearah Sakura yang beranjak meninggalkan wilayah kegembiraan pesta. Naruto izin untuk ke kamar kecil sebentar, agar bisa mengikuti Sakura.

Cowok itu masuk ke dalam kediaman keluarga Haruno.

Sejenak di pandanginya sebuah tangga yang meliuk-liuk ke atas. Dengan segera ia menaiki tangga tersebut dan menelusuri lantai dua untuk mencari kamar Sakura.

Begitu melihat sebuah papan nama di sebuah pintu jati berwarna putih, ia segera berjalan kearah ruangan tersebut dan melihat pintu itu sedikit terbuka.

Naruto hanya berniat untuk mengintip apa yang di lakukan Sakura.

Blue sapphirenya mendapati sesuatu yang di pegang Sakura, ia terbelalak saat melihat apa yang tengah di pegang dan di tatap Sakura.

Sebuah tiket pesawat.

Naruto menghela napas sejenak. Ia harus meminta penjelasan Sakura.

Tangannya mengepal dan siap untuk mengetuk pintu. Namun, pintu jati itu sudah keburu terbuka, menampilkan sosok yang mengisi hatinya.
Sakura terkejut mendapati Naruto berada di depan kamarnya. Ia sedikit kesal.

"Naruto! Sedang apa kau disini?"Sakura bertanya dengan kesal.

Naruto diam seribu bahasa. Sakura menghela napas pelan, lalu berjalan meninggalkan Naruto karena merasa cowok itu akan bungkam.

Langkahnya terhenti begitu tangan cowok itu menahan lengannya.

"Kau bilang, kau tidak akan pergi besok."suara Naruto mendingin.

Sakura mematung, "Memang bukan besok."dusta Sakura.

Naruto menarik lengan Sakura dan mendorong tubuh gadis itu ke dinding. Mengunci dengan sebelah tangan.

Sakura merasa wajahnya memanas. Ia berusaha mendorong tubuh cowok itu, namun sia-sia. Tenaga cowok itu lebih kuat darinya.

"Hentikan, Naruto! Apa yang kau bicarakan?"

Naruto berdecih, "Jangan menyembunyikan sesuatu yang berharga dariku, Sakura!"

Sakura menatap manik cowok itu, "Apa? Apa yang kusembunyikan?"nada Sakura meninggi.

"Bukankah semuanya sudah kau ketahui?"Sakura berujar sinis

"Tidak! Satu yang kau tidak beritahu padaku! Your derpature!"

Sakura merasa kebas seketika. Ia menghela napas dan terus berusaha untuk mengelak.

"Sudah kukatakan, berkatalah jujur!"

"Apa itu penting?!"Sakura berteriak.

Naruto melembutkan tatapannya.

"Kau tidak mengerti, Naruto!"Sakura meneteskan air matanya.

"Aku memang akan pergi besok. Jam 10 pagi. Puas?"

Naruto tidak percaya akan apa yang di dengarnya. Ia berkata lirih.

"Justru kau yang tidak mengerti, Sakura."

Sakura menatap Naruto sinis, "Tidak mengerti? Justru kau yang tidak akan mengerti, Naru-,"

"KAU YANG TIDAK MENGERTI!"Naruto berteriak.

Sakura bungkam, "Apa kau tidak pernah memikirkan dan memahami perasaanku selama ini? Aku sudah mempersiapkannya untuk besok, mempersiapkan kenangan yang tak akan pernah kau lupakan. Tapi, kau malah memilih pergi besok? Apa ini tidak kejam, Sakura?"Naruto berucap.

Gadis itu menunduk. Menyembunyikan air matanya.

"Aku kecewa."

Naruto berjalan dengan cepat meninggalkan Sakura di lantai atas, mengabaikan perasaan tak teganya.

Sakura menatap lantai rumahnya yang dingin dengan air mata mengalir. Tidak sanggup untuk berdiri lagi, ia terduduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis kecil.

Tidak menyangkan akan jadi begini.

~~One More Time~~

Malam ini, Sakura sedang tidur-tiduran di kasurnya, enggan untuk memejamkan mata. Emeraldnya menatap sebuah map biru plastik di meja belajarnya, sejenak di pandanginya map tersebut, lalu meraihnya.

Sakura mengubah posisinya menjadi duduk di tepi tempat tidur. Kejadian empat jam yang lalu masih belum bisa ia lupakan. Tatapannya sendu, jemari-jemarinya membuka map tersebut dan mengambil tiket pesawat yang menyatakan keberangkatanya ke Paris.

12 july.

Gadis itu menghela napas melihat tanggal yang tertera di tiket tersebut.

12 July. Ya. Tepat saat Sakura dan Naruto bertemu sepuluh tahun yang lalu.

Sudah lama memang. Bukan berarti Sakura melupakan kejadian sepuluh tahun yang lalu tanggal 12 July. Tiket itu di masukan kembali ke map tersebut.

Ponselnya bergetar dan melantunkan nada dering ponsel tersebut.

Sakura menoleh dan melihat siapa yang menelponya larut malam begini.

Naruto Namikaze, calling.

Sakura tersenyum simpul sebelum mengangkat telepon tersebut. Bersyukur cowok itu masih peduli padanya.

Sakura menggeser tombol sentuh di ponselnya.

"Moshi-moshi."sapa Sakura.

"Belum tidur?"suara Naruto terdengar lembut dan pelan.

"Aku minta maaf."ucap Naruto lagi.

"Tidak apa-apa. Salahku juga. Belum. Kau sendiri?"Sakura menyahuti.

Terdengar Naruto terkekeh.

"Aku juga belum. Masih ada perkerjaan."kata Naruto.

Sakura mendengus.

"Paling-paling hanya membaca manga. Ya' kan?"

Naruto tertawa.

"Begitulah," hening sesaat.

"Sakura,"suara Naruto terdengar lagi.

Sakura menyahut sambil menyeka air matanya, "Ya?"

Suara Naruto mendadak menjadi parau, "Jangan tinggalkan aku."

Sakura tertawa, menyembunyikan fakta bahwa ia juga tak ingin meninggalkan Naruto.

"Jangan bersikap seperti anak kecil yang di tinggal ibunya, deh. Kau sudah besar, bodoh!"ucap Sakura.

"Aku serius."

Sakura terdiam. Sedikit terkejut.

"Aku membayangkan hari-hariku tanpamu, Sakura. Membayangkan kehidupanku yang tadinya ramai dan penuh warna sekarang menjadi hitam putih tanpa dirimu. Kau bunga sakura yang bersemi di hati dan kehidupanku."

Sakura berusaha menahan air matanya, menahan agar suaranya tidak terdengar parau.

"Jangan berusaha untuk menggombal, Naruto!"

Namun, nyatanya, suaranya tetap saja parau.

"Aku tidak menggombal, Sakura. Hidupku dan hari-hariku akan hampa tanpa omelan, makian, tinjuan dan nasehat darimu."

Sakura tertawa lagi, "Kau anggap apa semua itu, hm?"

"Kau mengajakku bercanda?"

"Sungguh! Kau anggap apa semua itu? Omelan, makian, jeritan, tinjuan dan nasehat dariku?"

"Jeritan tidak termasuk."

"Anggap saja termasuk."

Sakura merasa tidak bisa menahan air matanya lagi. ia terisak.

Naruto tampak tercengang di seberang sambungan.

"Kau.. menangis?" tanya cowok bermarga Namikaze tersebut.

"Menurutmu?"

Sakura masih terisak. Naruto menenangkan.

Air mata Sakura membasahi map tersebut . ia masih terisak dengan Naruto yang menemaninya secara tidak langsung.

To be Countiune...