Disarankan membaca chapter ini sambil denger OST Naruto yang Sadness and Sorrow
hachikodesuka:hehehe aku juga ga rela. karena gaara harusnya buat aku(?) terimaksih udah me-review ya :D
neela dragnel: ini di update :D makasih buat reviewnya :)
ongkitang: ini diusahain cepet heheh :p makasih buat reviewnya!
Qren: endingnya? masih rahasia nih :pmakasih buat reviewnya hehe
Rara: permintaanmu kukabulkan Karin udh jarang nongol kok di fict ini hehehe. thanks buat reviewnya yah :D
AkaYuki: ini udah update kilat :p makasih buat reviewnya!
Sisanya udah aku bales via pm ya! :D selamat menikmati!
Naruto © Masashi Kishimoto
Rated: T
Gender:Tragedy,Romance.
Warning: CANON, OOC (mungkin), Gaje, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.
Don't Like? Don't Read!
Sudah dua hari ini Sasuke tidak bisa tidur dengan tenang. Ya akhirnya hari ini tiba. Hari dimana ia akan mengawal Sakura pergi ke Suna.
Ia mengepalkan tangannya erat menahan gejolak emosi yang ada, entah apa yang akan dilakukan para tetua Suna maupun Gaara, memikirkannya saja sudah membuat kepalanya ingin pecah.
Ia pergi ke kantor hokage pagi-pagi sekali.
"Kau sudah mepersiapkan dirimu Sasuke?"
Sasuke hanya merespon, "Hn"
"Kuharap kau menyelesaikan masalah ini secara baik-baik Sasuke, tidak ada sharingan, susano'o ataupun jurus-jurusmu yang lainnya"
Naruto sedikit bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada Sakura kalau Sasuke sudah mengeluarkan jurus-jurusnya itu.
Seingai tercetak di wajah tampannya, "Mungkin aku akan menahan diri."
Naruto memicingkan matanya, "Apa yang kau maksud dengan mungkin?"
"Tenanglah dobe, aku tak akan menyakitinya. Ia terlalu berharga untukku"
Naruto mengela napas lega, ya Naruto tahu pasti akan hal itu. Sasuke pasti akan gila kalau sampai sesuatu terjadi kepada Sakura. Sepertinya pun sekarang Naruto merasa sahabatnya itu sudah kurang waras.
Sahabatnya itu sudah meluluhlantakan beberapa training field,dan kini sedang dalam masih bersyukur Sasuke tidak membunuh para tetua karena semua kekacauan ini awalnya disebabkan oleh mereka.
"Aku berharap kau tidak melakukan hal yang nekat Teme"
Sasuke tak mengerti apa maksud sahabat pirangnya, ia lalu betanya."Maksudmu?"
Naruto memperlihatkan mimic seriusnya "Seperti membawa Sakura kabur di tengah perjalanan kalian"
"Tch!" Sasuke mendecih
'Kuso! Dia sudah memperhitungkan semuanya!'
"Para tetua tidak setuju kalau kau yang mengawal Sakura ke Suna Teme, namun aku tetap besikeras dengan mengajukan syarat aku akan mengirimkan beberapa mata-mata untuk mengikuti kalian." Naruto menggeser posisi duduknya." Kau tak perlu khawatir mereka akan mengganggu urusanmu. Karena sudah kupastikan mereka berada pada jarak aman nantinya"
"…."
"Yang kita bicarakan disini bukan hanya perasaanmu dan Sakura-chan Teme, Kau harus mengerti masalah ini menyangkut Konoha dan Suna. Aku hanya tak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. "
"Hn, aku mengerti posisimu sebagai hokage dobe. Aku sangat berterimakasih karena kau memberiku kesempatan untukku."
Tak lama setelah itu pintu terbuka dan menampilka sosok merah muda dengan perlengkapan misinya yang sudah lengkap. Ia hanya menyerocos tanpa memperhatikan sekitarnya
"Naruto aku harus segera pergi! Siapa yang akan menjadi peng-…"
Sakura membelalakan matanya kaget. Ia melihat seseorang yang paling sangat amat dihidarinya saat ini. Dan ia juga sedang berpakaian lengkap untuk misinya.
'Jangan-jangan dia …..'
Sakura membuka mulutnya hendak bertanya, namun Naruto terlebih dahulu memotong
"Sakura-chan, Sasuke yang akan mengawalmu. Sekarang cepat pergilah agar kau sampai ke Suna sebelum gelap"
Sakura ingin merutuki dan mencaci maki sahabat pirangnya itu, Sakura tahu kalau Naruto mengetahui Sakura sedang menghindari Sasuke. Sakura tak menyangka kalau Naruto akan menyatukan mereka di dalam sebuah misi.
Sakura tetap tak bergemin dan membatu di tempat, Sampai sebuah tangan menariknya. Sasuke menarik Sakura keluar ruangan itu dan memulai 'misi'nya
Pintu ruangan telah tertutup, mereka telah pergi dan meninggalkan Naruto dalam keheningan. Ia mengacak rambutnya frustasi dan membatin,
'Tsunade-baachan kau membuatku gila dengan meninggalkan masalah sepert ini pada saat kepemimpinanku! Kami-sama andai saja pelantikan hokage ku diundur satu tahun lagi! Semua masalah ini membuat kepalaku ingin pecah!'
'Kuharap Suna tidak akan dipenuhi amatersau dan Konoha akan menjadi padang pasir setelah ini' Ia bergidik ngeri ketika mengingat ucapan asal kiba waktu itu,
"Aku bergantung padamu Gaara"
.
.
.
Keheningan tetap menyelimuti Sakura dan Sasuke. Padahal mereka sudah melewati batas desa dan berjalan sudah cukup lama.
Sasuke merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa memulai pembicaraan ini. Sedangkan Sakura mencoba terlihat acuh, walaupun jantung sedang berpacu tidak karuan di tempatnya
"Sakura!"
Akhirnya Sasuke mengeluarkan suara yang sedari tadi tertahan di ujung lidahnya. Daripada memanggil, sepertinya nada yang dilantunkan oleh si bungsu Uchiha itu lebih terdengar seperti errr-membentak saking gugupnya.
Kami-sama kalau saja Itachi dan Fugaku masih hidup, mereka pasti akan malu mendapati keturunan terakhir Uchiha yang tidak terlihat seperti Uchiha. Untung saja kau Uchiha terakhir eh Sasuke?
Sakura lalu menolehkan kepalanya, tanda bahwa ia merespon. Ia tak bisa mengeluarkan suara. Detak jantungnya semakin tidak bisa diajak berkompromi saat Sasuke memanggil namanya
"Selamat atas pertunanganmu!"
'Kuso! Kenapa kalimat seperti itu yang keluar! Tenangkan dirimu Sasuke. Tenang !'
Sakura hanya tersenyum miris, hatinya terasa dicubit.
"Arigato Sasuke"
Sasuke merutuki kebodohan dirinya sendiri, karena ia tidak ingin salah berkata-kata lagi kemudian ia menarik tangan Sakura lalu mengarahkan Sakura untuk menghadap ke arahnya.
Sakura mengerjapkan matanya kaget, ia masih terkejut atas perlakuan Sasuke . Ia bisa melihat onyx yang biasanya tajam seperti elang, sekarang menunjukan kesedihan dan kerapuhan yang mendalam.
Sakura menggelengkan kepalanya dan mencoba melihat kearah lain. Ia takut tenggelam bila menyelami mata onyx di depannya.
"Sakura, bisa bicara sebentar?"
Sakura masih memalingkan wajahnya. Ia benar benar takut, takut dirinya menyesali keputusan yang telah ia buat, takut air matanya keluar kembali, takut berharap kembali.
Sasuke menangkupkan kedua tangannya di pipi Sakura dan mengarahkan wajah Sakura ke wajahnya "Kumohon tatap wajahku Sakura"
Tes!
Cairan bening lolos begitu saja tanpa bisa dikompromi, Sakura tak tahan melihat onyx yang biasanya begitu terlihat angkuh sekarang terlihat hancur.
Sasuke memeluk erat Sakura seakan tak mau melepaskannya, dan Sakura membalas pelukannya. Air matanya pun menetes, keduanya menyalurkan perasaan masing masing lewat pelukan mereka. Tidak ada kata-kata, hanya pelukan hangat.
Isak tangis Sakura tertahan di dada Sasuke, dan Ia mulai merasa bahunya basah. Ia sedikit kaget mengetahui Sasuke ….. menangis.
Setelah cukup lama berpelukan mereka pun melepaskan pelukannya
"Sakura, aku mencintaimu"
Sakura terkejut dengan pernyataan Sasuke barusan. Kalau saja Sasuke menyatakan cinta padanya saat ia pertamakali kembali ke Kohona mungkin ia akan melompat kegirangan. Namun situasinya kini berbeda.
Sakura hanya tersenyum lemah menanggapinya.
"Sakura, aku kembali ke Konoha untukmu, untuk membangun klan ku kembali bersamamu. Aku ingin menikah denganmu Sakura. Di malam pernikahan Naruto aku sebetulnya ingin melamarmu. Hanya saja ….. hanya saja ….."
Sasuke tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia tidak sanggup. Sakura menangkupkan tanganya di kedua pipi Sasuke, dan menempelkan dahi mereka.
"Aku juga mencintaimu Sasuke. Sangat mencintaimu."
Lalu Sakura kembali mejauhkan wajah mereka.
"Namun sekarang aku tidak bisa Sasuke, aku sudah bertunangan. Aku senang mengetahui kau juga mencintaiku, aku kira perasaanku tak akan terbalaskan seumur hidup." suara Sakura terdengar parau
Sasuke mendekatkan wajahnya kembali ke Sakura, dan dahi mereka bersentuhan kembali."Ku mohon Sakura, tidak bisakah kita mencari jalan keluar lainnya."
Sakura menggeleng lemah, Sakura yakin Sasuke tahu masalah mereka tidak seringan itu,
Sasuke mulai menepis jarak diantara mereka, bibir mereka bersentuhan, mereka berciuman. Ciuman yang sarat akan keputusasaan.
Sementara itu ada seseorang yang melihat kejadian itu dengan Daisan no Me atau mata ketiga
"Maafkan aku Sakura, tapi aku tidak bisa melepaskanmu. Aku juga mencintaimu"
TBC
Maafkan author chapter ini sedikit *dihajar para readers*
terimakasih buat semua yang udah baca fict ini, yang fave, yang reviews, yang follow juga!
semakin banyak yang menyemangati semakin aku semangat buat ngupdate fict ini :')
