Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Gender:Tragedy,Romance.

Warning: CANON, OOC (mungkin), Gaje, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

Don't Like? Don't Read!

"Te-teme ku mohoh ja-jangan gunakan Susano'o mu! Kalau kau menghancurkan mansion Hyuuga aku bisa dipecat jadi menantu oleh Hiashi! K-ku mohon te-teme."

Semua orang panik karena aksi Sasuke, hey siapa yang bisa memprediksi apa yang terjadi berikutnya? Mungkin saja tidak hanya mansion Hyuuga yang ia hancurkan, mungkin seluruh Konoha akan ikut dihancurkan olehnya.

Shikamaru berteriak, "Ino!"

Ino yang mengerti maksud Shikamaru pun mengeluarkan jurus transfer pikirannya kepada Sasuke "Shintenshin No Jutsu!" Badan Ino yang terkulai lemas ditangkap oleh Tenten.

Susano'o pun perlahan mengilang, Mata Sasuke juga kembali berubah menjadi hitam karena Ino sudah memasuki tubuhnya.

"Segeralah keluar sesaat sebelum Chouji memukul tengkuknya!" Shikamaru kembali member perintah

Ino yang berada di tubuh Sasuke mengangguk, lalu Chouji mengambil posisi dan memukul tengkuk Sasuke.

Ino yang keluar dari tubuh Sasuke sesaat sebelum Chouji memukul tengkuknya telah kembali ke tubuhnya.

Shikamaru kembali berkata, "Sai, ikat dia dengan ular-ularmu. Pastikan ular-ularmu menghisap chakranya bila ia berontak."

Naruto geram, "Kau keterlaluan Shikamaru! Tidak usah sampai mengikatnya segala! Ia hanya kelelahan dan sedang emosi!"

"Kita hanya perlu berjaga-jaga Naruto." Kini Shino yang menimpali

Naruto mendecih, "Tch! Kalian tidak mempercayai teman kalian sendiri?!"

Shikamaru menjawab, "Bukan begitu Naruto, dengan kondisinya yang seperti ini tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan dilakukannya, kau harusnya paham betul dengan kondisinya"

Sai menyetujuinya dan berkata, "Baiklah, kita bawa dia ke Mansion Uchiha dan meminta Karin, Suigetsu dan Juugo untuk memantaunya. Dan salah satu dari kita juga bergantian menjaga dan menenangkannya"

Yang lain hanya mengangguk tanda setuju.

Naruto keluar dari ruangan tersebut dan menonjok tembok dengan tangannya sampai tembok itu hancur.

'Maafkan aku Sasuke, aku tidak bisa membantumu kali ini'

.

.

.

DI SUNAGAKURE

Gaara dan Sakura berjalan beriringan di jalanan Suna

"Wajahmu pucat sekali Sakura. Apakah kau sakit?"

Sakura hanya tersenyum lemah dan menggeleng, "Aku baik-baik saja Gaara, mungkin aku hanya kelelahan karena perjalanan Konoha-Suna"

Gaara pun mengangguk, meski ia tidak percaya perkataan Sakura karena wajah Sakura yang begitu pucat.

'Bahkan tak butuh seorang medic-nin untuk memastikan keadaanmu tidak baik-baik saja Sakura'

Tak lama tubuh Sakura terasa limbung, kalau saja Gaara tidak menahannya pasti ia akan terjatuh.

Sakura memekik kaget, tiba-tiba tubuhnya digendong ala bridal style oleh Gaara.

"Kau seharusnya tidak memforsir dirimu Sakura, bekerja lembur setiap hari tanpa makan yang teratur tetap akan membuatmu sakit sekalipun kau medic-nin terbaik di Negara HI"

Sakura yang merasa canggung memita Gaara untuk menurunkannya,"Gaara turunkan aku"

Gaara memandang Sakura dan menjawab, "Dan membiarkanmu terjatuh seperti tadi? Tidak akan Sakura."

Wajah Sakura memerah sempurna sekarang, bagaimana tidak? Ia digendong oleh pemimpin desa di tengah jalan seperti ini. Apalagi kata-kata Gaara barusan yang sarat akan perhatian.

Ia melihat semua mata penduduk yang berada di sepanjang jalan memandang kearah mereka, mereka memandang dengan tatapan kagum dengan senyuman penuh arti. Sakura hanya mampu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gaara.

Gaara hanya tersenyum melihat kelakuan Sakura, sebetulnya bisa saja ia memakai jurus teleportasinya dengan pasir, namun ia tidak melakukannya.

Kau sengaja melakukannya eh Gaara?

Sakura merasa perjalanan mereka sangat lama,Ia tidak tahu berada dimana sekarang karena ia masih menyembunyikan wajahnya di dada Gaara, ia tidak ingin memalingkan mukanya kearah lain karena ia tau semua penduduk desa sedang membicarakannya karena terdengar suara bisik-bisik yang tidak begitu jelas terdengar ditelinganya.

"Kita sudah sampai Sakura."

Sakura kemudian memalingkan wajahnya dari dada Gaara, ia menyeritkan alisnya heran karena mereka berhenti di depan sebuah rumah yang megah. Gaara yang masih menggendong Sakura melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu.

"Maafkan aku Sakura, para tetua menyuruhmu tinggal dirumahku untuk sementara waktu. Karena Temari-nee belum pulang, jadi kamar tamu belum dibereskan. Kau istirahat dulu dikamarku."

Gaara membuka sebuah pintu dengan pasirnya, lalu ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan itu ternyata kamar tidur Gaara, terlihat sederhana namun nyaman untuk ditempati. Di kamar ini terasa lebih dingin daripada diluar tadi.

Gaara pun membaringkan Sakura diatas ranjangnya dan menaikan selimut untuk menutupi sebagian badan Sakura, lalu ia duduk pinggiran ranjang sebelah Sakura.

Sakura merasa tidak enak kepada Gaara, sambil memainkan selimut yang ada di tangannya ia berkata, "Apakah tidak apa-apa Gaara? Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku bisa menginap di kantor Sakura, atau ….." Gaara menyeringai "aku bisa menemanimu disini"

Dugh!

Sebuah bantal sukses mendarat di wajah Gaara, Gaara hanya terkekeh pelan.

"Tenanglah aku tidak mungkin berbuat macam-macam kepadamu Sakura, aku masih ingat bagaimana pukulanmu yang mengenai Bijuu-Bijuu itu, dan aku tidak mau merasakannya."

Sakura hanya mengurucutkan bibirnya sebal karena Gaara terus-terusan menggodanya, semburat kemerahan masih terlihat jelas di pipinya. Gaara yang menyadari itu hanya tersenyum simpul, wajahnya pun ikut merona karena melihat gadis di depannya ini. Menurutnya gadis itu terlihat sangat manis dan menggemaskan.

Gaara pun beranjak berdiri dari posisinya tadi. Ia merapikan helaian rambut Sakura dengan lembut lalu mengecup keningnya.

"Beristirahatlah, besok pagi-pagi sekali kita harus menemui para tetua desa. Aku pergi dulu."

Sakura mengerjapkan matanya, ia tidak menyangka barusan Gaara …. Menciumnya

Meski hanya di kening, namun tetap saja itu mebuat pipi Sakura semakin memerah.

Ia bahkan sampai tidak menyadari Gaara telah keluar dari kamar itu dengan wajah yang tak kalah merah dari wajahnya.

Hey siapa yang bisa menolak pesona seorang pemimpin muda dan berkharisma seperti Gaara? Sakura adalah salah satu diantaranya.

Banyak pertanyaan di benak Sakura sekarang, dan itu membuat kepalanya berdenyut nyeri.

Tak lama setelah itu Sakura pun memutuskan untuk tidur.

.

.

Sakura bangun keesokan paginya karena cahaya yang masuk melalui sela-sela jendela kamar Gaara.

"Kau sudah bangun Sakura?"

Sakura kaget mendapati Gaara yang tersenyum lembut terduduk di samping ranjangnya.

'Apakah semalam Gaara tidur disini?'

Seakan bisa membaca pikiran Sakura ia berkata

"Semalam aku menginap di kantor, dan kembali kesini pada saat fajar"

Sakura mengangguk tanda mengerti.

"Kau bersiap-siaplah, kita akan bertemu para tetua pagi ini. Tapi sebelumnya kita akan sarapan terlebih dahulu. Kankuro-nii dan Temari-nee sudah menunggu kita."

Gaara kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar ia menengok kembali kearah Sakura

"Aku sudah mengambilkan obat dari rumah sakit untukmu semalam. Obatnya ada di laci paling atas, kalau kau keluar nanti bawa obat itu. Setelah sarapan kau harus meminum obat"

Sakura mendengus geli, menurutnya Sabaku Gaara sekarang seperti ibu-ibu yang memperingati anaknya.

"Kau seperti ibu-ibu Gaara, kenapa kau bisa secerewet itu?"

Gaara menyeringai dan membuat suara beratnya terdengar lebih menggoda, "Karenamu Sakura."

Gaara segera keluar dan menutup pintu karena ia tahu apa yang terjadi setelahnya.

Brukh!

Bunyi sebuah bantal yang menabrak pintu.

Gaara memasang wajah lega, "Untung saja aku cepat menghindar"

Sepertinya sekarang Gaara mempunyai hobi baru untuk menggoda Sakura.

.

.

Setelah membersihkan diri Sakura keluar dari kamar Gaara dan melangkah menuju ruang makan. Disana terlihat Kankurou dan Gaara yang sudah duduk rapi meja makan, dan Temari yang sedang menyiapkan hidangan di dapur untuk dibawa ke atas meja makan.

Sakura berjalan kearah temari, "Temari-nee sini biar aku bantu."

Temari hanya tersenyum dan menolak permintaan Sakura dengan halus,"Tidak usah Sakura, kau tamu disini dan kami harus melayanimu. Sana duduklah di meja makan, lagipula ini hidangan yang terakhir."

Sakura tersenyum canggung, Kankurou yang mendengar percakapan tersebut pun tersenyum dan ikut menimpali.

"Sakura bukan tamu biasa nee-chan, mungkin bulan ini ia sudah resmi menjadi Sabaku dan tinggal bersama kita."

Temari tersenyum simpul,"Aku tahu betul itu Kankurou, biarlah sekarang ia menjadi tamu kita. Mungkin ia tidak akan merasakan lagi menjadi tamu di keluarga Sabaku karena ia akan menjadi bagian di dalamnya."

Temari dan Sakura berjalan menuju meja makan dan mengambil posisi masing-masing, dan mereka mulai makan dalam keheningan.

Setelah selesai makan dan Sakura meminum obatnya mereka memulai percakapan.

Kankurou mulai membuka suara, "Sakura kapan kau akan pindah kesini?"

Sakura baru membuka mulutnya untuk menjawab namun Gaara telah menyela ucapannya. "Kami belum menikah nii-san, Sakura mungkin akan pindah setelah pernikahan berlangsung."

Sakura mengangguk, ia membenarkan pernyataan Gaara.

"Kuharap kau segera pindah kesini Sakura, aku butuh teman perempuan di rumah ini untuk mengobrol. Aku muak melihat mereka berdua yang tidak bisa kuajak mengobrol sama sekali. Yang satu sibuk dengan dokumen-dokumennya dan yang satu sibuk dengan boneka-bonekanya. Kita bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan bersama Sakura!" Temari mulai mengoceh dengan wajah yang ceria dan bersemangat.

Sakura mengangguk antusias,"Tentu nee-chan! Pasti akan menyenangkan kita menghabiskan waktu bersama."

Gaara membuka suaranya kembali, "Kau disini untuk menjadi istriku Sakura, bukan untuk menjadi teman bermain Temari-nee"

Temari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah shock yang terlihat berpura-pura."Kau posesif sekali Gaara"

Mereka lalu tertawa bersama.

Kankurou menyeringai dan memandang kearah Sakura,"Kurasa tugasmu akan berat Sakura"

Sakura menjawab dengan santai, "Kurasa kau benar nii-san, tugasku pasti berat. Aku harus bersabar menghadapi Gaara yang begitu cerewet seperti ibu-ibu"

Gaara yang mendengar hal itu hanya mendengus, berbeda dengan reaksi kedua kakaknya.

Kankurou dan Temari melotot secara bersamaan, mereka kaget dengan ucapan Sakura barusan. Kalau mereka sedang makan mereka pasti akan tersedak.

Temari ikut menimpali,"C-Cerewet katamu?"

Sakura hanya manggut-manggut menanggapi reaksi Sabaku bersaudara tersebut.

Kankurou kembali menyeringai, kali ini kearah Gaara."Kau tahu Sakura? Ku rasa kau sudah mena-"

Belum selesai Kankurou menyelesaikan kalimatnya Gaara menarik tangan Sakura dan 'menyeretnya' keluar sambil berkata "Kami pergi, para tetua pasti sudah menunggu."

Sakura mencoba menghentikan Gaara namun nihil, tenanganya tak sebanding.

"Kau kenapa sih Gaara? Nii-san kan belum selesai berbicara. Aku penasaran dengan apa yang nii-san katakan."

Gaara hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan tunangannya itu.

Sakura mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya karena ia tidak mendapatkan jawaban dari tunangannya itu.

Gaara terkekeh pelan melihat reaksi Sakura, "Sakura jangan memasang wajah seperti itu. Apa kata warga Suna kalau melihat calon istri pemimpin mereka berwajah jelek seperti itu?"

Sakura makin menekuk wajahnya, dan berjalan mendahalui Gaara.

Gaara semakin terkekeh melihat kelakuan tunangannya itu. Ia tetap berjalan santai tidak menyusul Sakura yang berjalan menjauhinya.

"Sakura, memangnya kau tahu kemana tempat tujuan kita?"

Kata-kata Gaara sukses membuat Sakura berhenti di tempat. Sakura merasa bodoh sekarang.

Tak lama Gaara sudah berada di sampingnya, dan menggandeng tangannya.

Sakura berkata,"Kau menyebalkan!"

Gaara menyeringai kearah Sakura. Sakura hanya mendengus kesal dan membatin,

'Kami-sama aku tak menyangka seorang Sabaku Gaara sangat menyebalkan. Ingin rasanya aku menonjok wajah tampannya.'

Che! kau mengakui dia tampan Sakura!

Menyadari dirinya yang sudah keterlaluan menggoda Sakura, akhirnya ia buka suara.

"Aku bercanda Sakura."

"Hn"

"Aku minta maaf."

"Hn"

"Yang aku katakan bohong."

"Hn"

"Aku berbohong mengatakan calon istri pemimpin Suna jelek saat mengerucutkan bibirnya dan menggembukan pipinya."

"Hn"

"Menurutku dia terlihat manis kalau seperti itu"

"Hn" Suasana hening, Sakura mencerna kembali kata-kata Gaara barusan dan ia baru sadar kalau yang Gaara bicarakan adalah dirinya.

"E-eh? Maksudmu?"

Gaara tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya kearah lain untuk menyembunyikan rona kemerahan yang menghiasi pipinya. Ia tidak menjawab pertanyaan Sakura.

Baru saja Sakura membuka mulutnya untuk bertanya kembali kepada Gaara namun Gaara mendahului ucapannya.

"Kita sudah sampai."

Sekarang Sakura sudah tidak memikirkan ucapan Gaara tadi, sekarang ia menjadi sangat gugup. Ia belum pernah bertemu para tetua Suna sebelumnya.

Sakura mencengkram tangan Gaara lebih kuat, ia tidak tahu harus melampiaskan kegugupannya dengan cara apa.

Gaara yang mengerti keadaan Sakura tersenyum dan memandangnya dengan pandangan tidak-ada-yang-perlu-dikhawatirkan

Entah mengapa tapi senyuman Gaara barusan membuat Sakura menjadi lebih tenang. Sekarang ia sudah tiding mencengkram tangan Gaara, namun tangan mereka masih saling bertautan.

Ketika masuk ke dalam gedung itu Sakura dan Gaara disambut dengan ramah. Para pelayan yang lewat dan berpapasan dengan mereka pasti membungkuk memberi hormat.

Lalu Gaara mengetuk sebuah pintu dan membukanya.

Terlihat beberapa orang tua disana yang sudah Sakura prediksikan mereka adalah tetua desa Suna. Lalu Sakura dan Gaara membungkukan badan secara bersamaan untuk member hormat, dan mereka menganggukan kepala tanda mereka merespon hormat Sakura dan Gaara. Setelah itu mereka dipersilahkan untuk duduk di bangku yang telah disediakan.

Ruangan ini mengingatkan Sakura kepada ruangan para tetua di Konoha, posisi duduknya pun persis sama pada saat pertamakalinya Sakura diberitahu bahwa ia dijodohkan dengan Gaara. Sakura dan Gaara duduk di sebrang para tetua, dan para tetua berjajar di depan mereka.

"Kami tidak akan berbasa-basi, kami akan langsung ke intinya saja"

Sakura membatin,'Sama seperti tetua di Konoha, apa semua orang tua seperi itu?'

Sakura dan Gaara pun mengangguk mengerti

"Lusa undangan akan dikirim, kalian akan menikah akhir minggu depan. Untukmu Haruno-san, persiapkanlah barang-barangmu yang kau perlukan untuk tinggal disini, nanti biar Kazekage-sama yang mengantarmu. Dan kalian harus menandatangani surat pernikahan segera setelah kalian sampai di Konoha."

Tidak seperti Gaara yang sudah diberitahu sebelumnya,Sakura kaget namun ia masih bisa mengontrol dirinya. Ia tak percaya masa lajangnya yang harusnya masih sekitar dua bulan lagi disandangnya, tiba-tiba berubah menjadi kurang lebih sepuluh hari.

"Apa kalian mengerti?"

Gaara menjawab mewakili dirinya dan Sakura,"Ya kami mengerti"

"Satu pertanyaan lagi, kalian ingin mengadakan resepsi dimana?"

Gaara ragu menjawabnya, ia tidak pernah membicarakan hal ini dengan Sakura sebelumnya.

"Mungkin kami akan mengadakannya di ko-" Sakura menyela ucapan Gaara

"Suna! Kami akan mengadakan resepsi di Suna"

Gaara sebetulnya heran dengan jawaban Sakura, namun ia menutupnya dengan wajah datarnya.

"Baiklah kalau begitu. Persiapkan diri kalian baik-baik"

Mereka mengangguk tanda mengerti, lalu mereka berpamitan kepada para tetua.

"Kau ingin pergi ke kantor Gaara?"

"Hn, iya Sakura. Aku harus menyelesaikan banyak dokumen malam ini agar kita bisa pergi ke Konoha besok, atau setidaknya lusa."

"Bagaimana dengan misiku di Suna yang diberikan oleh para tetua Gaara? Bukankah waktunya dua dampai tiga minggu"

"Ku dengar mereka membatalkan misimu Sakura"

"Baiklah kalau begitu."

Gaara menggandeng tangan sakura lalu berkata, "Aku antar kau pulang"

Sakura melepas genggaman tangan Gaara dan tersenyum kepadanya, "Tidak usah Gaara, aku ingin berjalan-jalan sebentar di daerah pertokoan Suna, aku juga ingin mengenal daerah ini agar saat aku tinggal disini aku tidak akan bergantung padamu terus"

Gaara menghela napas, "Baiklah, aku akan membawamu ke kantorku dan aku akan membebas tugaskan Matsuri hari ini untuk menemaimu berkeliling Suna"

"Tapi Gaara aku ingin berkeliling sendiri" Sakura memohon dengan nada memelas.

Gaara menegaskan nada suaranya, "Aku tidak menerima penolakan Sakura"

Sakura hanya menghela napas mendengar keputusan Gaara.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor Gaara. Setelah sampai disana Gaara langsung menemui Matsuri dan menyuruhnya menemani Sakura berjalan-jalan berkeliling desa.

Sebelum Sakura pergi Gaara berkata,"Nanti malam kita akan makan diluar"

"Bersama Temari-nee dan Kankuro-nii?"

"Tidak, hanya kita berdua. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Bersiap-siaplah, pukul 7 aku akan menjemputmu di rumah."

Sakura mengangguk dan tersenyum kearah Gaara.

"Jaa Gaara~" Sakura melambaikan tangannya kearah Gaara

.

.

.

Di Konohagakure

Di kantor Hokage terlihat Naruto yang sedang termenung memandang keluar jendela, sampai tidak menyadari sang istri yang masuk ke dalam ruangannya.

"Naruto-kun kenapa kau melamun?"

Ya, semenjak mereka menikah hinta sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Naruto, dan ia mulai tidak tergagap lagi. Namun kalau di hadapan banyak orang penyakit gugupnya masih suka kambuh.

Naruto menoleh dan mendapati Hinata yang tengah berdiri di sampingnya. "Hinata-chan! Kapan kau masuk?"

"Baru saja Naruto-kun, apa yang kau pikirkan samapai kau termenung seperti itu? Bahkan bento yang kubawakan untuk makan siangmu tadi masih belum kau sentuh dan masih rapi berada di atas meja kerjamu"

Naruto merasa ia sangat bersyukur mempunyai istri seperti Hinata yang pengertian dan perhatian, bisa mengimbangi dirinya yang ceroboh.

"Aku hanya memikirkan Teme dan Sakura-chan, Hinata-chan. Aku merasa bersalah karena aku tidak bisa membantu mereka"

Hinata menangkup kedua pipi Naruto, "Jangan menyalahkan dirimu Naruto-kun, Kau sudah bertindak sebagaimana mestinya. Mungkin kalau tanpamu mereka belum bisa mengungkapkan perasaan masing-masing."

Naruto tersenyum dan meletakan kedua tangannya diatas kedua tangan Hinata yang masih menangkup di pipinya. "Terimakasih Hinata-chan, Kau memang yang terbaik"

Blush!

Rona kemerahan menghiasi kedua pipi ranumnya, "Y-ya Na-naruto-kun, s-sebaiknya kau m-makan s-se-sekarang. K-kau t-ti-dak boleh s-sa-sakit"

Yap, sepertinya penyakit gugup Hinata kembali lagi.

Naruto mengangguk, lalu berkata dengan manja. "Suapi aku Hinata-chan"

Brukh!

Naruto kaget karena melihat Hinata yang pingsan, untung sebelum itu Naruto sudah menangkapnya terlebih dahulu.

kebiasaan lama memang susah untuk dilangkan bukan?

.

.

.

Sunagakure

Sekarang sudah hampir pukul 7 malam, Sakura sudah siap pergi dan ia sedang duduk menunggu Gaara di ruang tengah. Tak lama Temari menghampiri dan duduk disampingnya.

Temari memulai pembicaraan dengan nada jahil, "Kau akan pergi kencan dengan Gaara kan Sakura?"

Sakura menjawab dengan gugup,"E-eh? Tidak Temari-nee kami h-hanya makan malam bersama."

"Bukankah itu termasuk kencan? Ayolah mengaku saja"

"A-ano …."

"Ehem!"

Sebuah dehaman menghentikan percakapan mereka, ternyata Gaara sudah berdiri di belakang mereka. Sakura dan Temari sampai terlonjak kaget dari tempatnya.

Temari meneriaki Gaara,"Gaara kau mengagetkan kami tahu!"

Yang diteriaki hanya menyeringai kearah sang kakak.

"Temari-nee sebaiknya kau persiapkan dirimu, kita akan ke Konoha kemungkinan tiga sampai empat hari. Kau ingin bertemu dengan kekasihmu dan berkencan dengannya kan?"

tanpa memperdulikan ocehan sang kakak yang salah tingkah Gaara langsung menggandeng tangan Sakura dan mengajaknya pergi dari sana.

.

Mereka memasuki sebuah restaurant di pusat kota Suna, dengan melihat dekorasi di dalamnya bisa dipastikan restaurant tersebut adalah salah satu restaurant mewah.

Mereka lalu duduk di sebuah meja di dekat jendela. Dari jendela tersebut terlihat pemandangan Suna pada malam hari yang dipenuhi lampu-lampu, satu kesimpulan yang Sakura dapat yaitu indah.

Tak lama pesanan pun datang, ternyata Gaara sudah mempersiapkannya terlebih dahulu sebelum mereka pergi kesana. Mereka makan dengan tenang diselingi oleh percakapan ringan tentang hari yang mereka lewati tadi. Gaara menanyakan bagaimana acara jalan-jalannya kepada Sakura, dan Sakura yang menanyakan kegiatan Gaara di kantor.

Setelah selesai makan mereka memulai membicarakan 'hal utama'.

"Kalau boleh tahu, kenapa kau menginginkan pernikahan kita diadakan di Suna Sakura? Aku kira kau lebih memilih Konoha."

"Aku hanya ingin mencoba suasana baru Gaara, aku belum pernah menghadiri pernikahan orang-orang Suna"

'Kau berbohong Sakura, aku tahu itu.'

'Konoha terlalu menyimpan banyak kenanganku dengan Sasuke. Aku takut hatiku akan kembali goyah kalau kita menikah disana.'

"Prosesinya kan sama Sakura, hanya tempat yang berbeda"

"Aku tahu, Aku hanya ingin mencoba hal yang baru Gaara"

"Oh, iya mungkin kita baru bisa ke Konoha lusa, banyak dokumen yang belum aku periksa. "

"Tak masalah Gaara"

Keheningan kembali menyelimuti keduanya, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Gaara terlihat begitu gelisah dan Sakura sedang termenung

Setelah menghela napas panjang Gaara memulai percakapan kembali

Gaara memanggil Sakura, "Sakura?"

Sakura menyeritkan alisnya heran melihat Gaara yang terlihat errr-gugup lalu ia menjawab "Iya Gaara?"

Gaara kembali menghela napas.

"Maaf, mungkin ini sudah sedikit terlambat. Undangan pernikahan kita bahkan akan disebarkan lusa"

Gaara kembali menghela napas, lalu ia mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dari saku celananya dan membuka isinya. Ternyata itu sepasang cincin pernikahan yang terukir nama Gaara dan Sakura di dalamnya.

"Meskipun kita dijodohkan, aku ingin melamarmu sebagai pria Sakura."

"Aku mencintaimu…. Maukah kau menjadi istriku?"

Sakura terperangah, Ia menutup mulutnya kaget akan pernyataan cinta Gaara barusan.

Gaara memandang Sakura dengan tatapan berharap.

Hening. Hanya satu kata yang mampu mendeskripsikan situasi saat ini.

Sakura mulai menurunkan tangannya yang menutup mulutnya tadi, Ia pun tersenyum kearah Gaara. Hatinya terenyuh dengan perlakuan Gaara.

Tangan Sakura mulai meraih kotak biru yang diberikan Gaara, dipakainya ukuran cincin yang lebih kecil di jarinya. lalu ia berkata,

"Tentu saja, Apakah aku bisa menolak Tuan Sabaku?"

'Maafkan aku Gaara'

"Tentu saja tidak Nyonya Sabaku."

'Bukan hal itu yang ingin ku dengar darimu Sakura. Bahkan kau tidak menyinggung pernyataan cintaku'

Kedua insan itu tersenyum seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia, membuat beberapa pasang mata yang melihat merasa iri.

Namun pada kenyataanya? Mereka sama-sama membohongi diri mereka masing-masing, meyakinkan diri mereka kalau semuanya baik-baik saja.

.

.

.

Pada tengah malam, Sakura terbangun karena merasa haus. Ia menuju dapur untuk mengambil minum. Namun ketika ia melewati ruang tengah ia melihat Gaara yang masih berkutat dengan dokumen-dokumennya. Lalu ia menghampirinya.

Gaara yang menyadari keberadaan gadis itu bertanya, "Kau belum tidur Sakura?"

Sakura duduk di samping pemuda itu,"Sudah, hanya aku merasa haus. Ketika aku menuju dapur ternyata aku mendapatimu disini. Kau sedang apa?"

"Mengurus beberapa dokumen, Kalau tidak dikerjakan sekarang mungkin tidak akan sempat diselesaikan besok. Sedangkan lusa kita akan pergi ke Konoha."

"Kau tidak usah memaksakan diri Gaara."

"Aku sudah terbiasa untuk tidak tidur Sakura, meskipun Shukaku telah diambil dari tubuhku."

"Kalau begitu cobalah sekali-kali Gaara. Tidur itu baik untuk kesehatan. Berbaringlah!"

Gaara memandang Sakura dengan pandangan bertanya.

"Baringkan tubuhmu, Taruh kepalamu diatas pahaku."

Gaara hanya mengikuti perintah Sakura, Lalu Sakura mulai mengeluarka chakra kehijauan dari tangannya di kepala Gaara.

Gaara merasakan sensasi yang berbeda, ia merasa nyaman dan hangat. Entah itu karena faktor chakra yang dialirkan Sakura atau karena Sakura.

"Kau pasti sering merasa pusing dan palamu terasa berat?"

Gaara hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

"Kau harus merilekskan tubuhmu Gaara, aku tahu kau sibuk karena pekerjaanmu seorang Kage namun kau butuh istirahat. Kau tahu? Seorang Kage pun bisa mengalami sakit Gaara"

Merasa tidak mendapatkan reaksi apapun Sakura akhirnya menyingkirkan tangannya dan melihat keadaan Gaara.

Ternyata Gaara sudah terlelap, wajahnya begitu tenang dan damai. Sakura menyingkirkan rambut Gaara yang menutupi matanya.

Sekarang Sakura tahu dari mana warna hitam di sekitar mata Gaara. Ternyata ia jarang tertidur seumur hidupnya karena takut Shukaku yang mengambil alih kesadarannya ketika ia tidur.

Bahkan ketika Shukaku sudah diambil dari tubuhnya oleh Akatsuki dirinya masih belum terbiasa untuk tidur.

.

.

Pagi menjelang, Sakura dan Gaara masih berada dalam posisi semalam. Keduanya masih tertidur dengan tenang.

Kankurou dan Temari yang melihat mereka berdua hanya tersenyum penuh arti.

"Kau ingat terakhir kali Gaara tidur nee-chan?"

"Tidak Kankurou, lihatlah wajah Gaara begitu tentram dan damai."

"Aku berharap bisa melihat mereka seperti itu setiap hari nee-chan"

"Aku juga beharap…. Tidak, aku sangat berharap Kankurou. Semoga semuanya baik-baik saja"

Mereka mencoba meyakinkan diri mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja.

.

.

.

.

Keesokan harinya di Konoha

Gaara dan Sakura sedang berada di gedung Hokage dan sedang menandatangani surat pernikahan mereka disaksikan oleh Hokage desa dan Istrinya.

"S-Selamat Sakura-chan, K-Kazekage-sama"

Sakura tersenyum dan memeluk Hinata, "Terimaksih Hinata-chan"

Tidak ada yangmenyadari ekspresi Sakura berubah saat memeluk Hinata, dan ketika melepaskannya ia kembali tersenyum.

Sakura merasa heran karena Naruto tidak memberi selamat kepadanya. Namun ia tidak ingin berprasangka buruk, buktinya Naruto tetap tersenyum kearah Gaara dan dirinya.

Sakura dan Gaara kemudian berpamitan kepada Naruto dan Hinata.

Setelah itu mereka menuju apartemen Sakura. Setelah mengantar Sakura ke apartemennya, Gaara meminta ijin kepada Sakura.

"Maaf Sakura aku tidak bisa membantumu membereskan barang-barangmu. Nanti Temari-nee akan membantu kesini setelah ia bertemu kekasihnya. Atau aku akan meminta Naruto untuk mengirimkan ninja lain untukmu"

Walaupun sedikit heran dengan tingkah Gaara Sakura tetap tersenyum. "Tidak apa Gaara, aku bisa melakukannya sendiri. Memang kau akan kemana?"

"Aku ada urusan Sakura, mungkin dua sampai tiga hari. Setelah itu kita akan kembali ke Suna."

Sakura merasakan perasaanya tidak enak dan ingin menahan Gaara untu tidak pergi, tapi ia mencoba menepis semua itu dan ia mengatakan,

"Baiklah, hati-hati Gaara. Jaga kondisi tubuhmu"

Gaara mengangguk,"Setelah tertidur kemarin aku merasa lebih baik"

Lalu ia mendekatkan wajahnya kearah Sakura dan mengecup keningnya

"Aku mencintaimu." Setelah itu Gaara berubah menjadi butiran pasir dan menghilang.

.

.

Sasuke sedang berjalan menyusuri desa bersama Sai, lalu mereka bertemu dengan Gaara. Rahang Sasuke mengeras, giginya bergemeletuk menahan emosi, dan tangannya mengepal.

"Senang bertemu denganmu Sasuke"

"Hn, Kazekage"

Wajah mereka memang datar, namun Sai menyadari aura persaingan diantara mereka. Ia hanya memperhatikan apa yang akan terjadi.

Gaara menyeringai, "Kau sudah menerima undangannya?"

Sasuke menggeram, "Apa maksudmu?!"

Tetap dengan seringaiannya ia menjawab,"Aku dan Sakura akan menikah akhir minggu depan"

Menyiram bensin ke dalam api itulah peribahasa yang tepat untuk Gaara.

Sasuke yang tersulut amarahnya mencengkram leher Gaara.

Namun tubuh Gaara mulai menjadi butir butiran pasir. Sebelum benar-benar menghilang Gaara mengucapkan,

"Kutunggu kau di lapangan ujian Chunnin"

Sasuke yang mendengar hal itu langsung melesat pergi seperti angin tanpa bisa dicegah oleh Sai.

Sai langsung mengeluarkan gulungannya dan membuat pesan, lalu pesan-pesan itu berubah menjadi tikus dan pergi ke berbagai arah.

.

Dikantor hokage Naruto sedang memeriksa beberapa dokumen, lalu ia mendengar suara cicitan tikus, Ia menyadari itu adalah tikus penyampai pesan dari Sai. Naruto kemudian membuka gulungan kosong dan membiarkan tikus-tikus itu berubah membentuk huruf.

Naruto membelalakan matanya ketika membaca pesan tersebut. Ia langsung berlari meninggalkan ruangannya dengan pertanyaan di hatinya.

'Apa yang kau rencanakan sebenarnya Gaara?'

.

Shikamaru dan Temari yang sedang duduk menikmati awan merasa terganggu dengan suara cicitan tikus. Shikamaru yang menyadari itu tikus penyampai pesan Sai kemudian menyuruh Temari membuka kipasnya. Lalu tikus-tikus itu mulai membentuk huruf-huruf

Gaara mengajak Sasuke berduel di lapangan Ujian Chunnin

"Tch! Kuso!" Shikamaru langsung berlari

Temari mengikuti di belakangnya 'Gaara apa yang sebenarnya kau pikirkan?'

TBC


Semoga kalian suka! :D

Poo: ini chapter selanjutnya! Selamat menikmati! :D terimaksih atas reviewnya :D

Uchiharuno susi: Selamat datang kembali!:D oke akan aku usahakan kalo ada kesempatan buat update kilat hehehhe. Terimakasih buat reviewnya!

UchiHarunoKid: ini udah aku panjangin loh :p Terimakasih buat reviewnya!

Hanazono yuri: hahaha itu sengaja dibikin agak kocak biar ga terlalu serius fict nya. Ntar jatuhnya bosen buat para readers :p ini aku update! Terimakasih reviewnya!

Pinky Blossom: ya memang disini agak sedikit rumit, tapi itu serunya! Hahaha *digeplak* Aku juga nggak rela kalau sasu ama Karin gatau kenapa. Mendingan sasu sama aku aja *di amaterasu* *die* Terimakasih buat reviewnya!

Mitsuka sakurai: setelah aku selesai ngetik itu aku juga bayangin ekspresi naruto! Hahaha. Terimakasih buat reviewnya! :D

Deauliaas: terimakasih udah di fav hihihi *nyengir kuda* ini pernikahannya udah dipercepat :p kalo ada kesempatan aku usahain buat update cepat. Terimakasih reviewnya!

Kim Keyna: Ah terimakasih hahaha! semoga penasarannya sembuh deh karena chapt yang baru udah di update :p Terimakasih reviewnya!

Hachikodesuka: Kalo Gaara mengalah dia buat akuuuu! *kita rebutan Gaara* hahaha Terimakasih buat reviewnya! :D

Jerman: kalo boleh jujur aku juga gay akin genre nya tragedy. Aku baru di fanfict jadi aku kurang ngerti genre- genre itu :D *ditabokin readers* ikutin aja yah ceritanya biar tau sad ending atau happy endingnya :D Terimakasih reviewnya!

Reshapratiwi: Terimakasih pake banget resha! Ini chapt selanjutnya! Selamat menikmati :D Terimakasih buat reviewnya!

Rara: awalnya sasu emang mau ngebawa kabur, tapi gajadi karena beberapa pertimbangan yang udh di jelasin di chapt kemarin hehehe terimkasih buat reviewnya! :D

Shin Aoyama: Benarkah kau menyukaiku? *blushing* hahaha kebetulan aku lagi libur nih jadi semangat buat lanjutin fict nya :D ini aku udh update! Terimakasih buat reviewnya!

MasyaRahma: memang sedih ceritanya hehe :p iyap! Betul ini kisah cinta segitiga yang dicampur tangani oleh para tetua desa. Terimakasih reviewnya!

Meritanursyela: terimakasih udah jadi pembaca setia hahaha heeem… Pokoknya pantengin aja terus biar tau jawabannya Saku bakal ama Gaara apa Sasu heheh :p Terimakasih buat reviewnya!

Princess Emeralyana: hehehe aku mohon maaf karena aku orang baru dif fn jadi aku kurang ngeh masalah genre-genre nya. Buat masalah yang terlalu berat maaf yaa aku ngga tau konflik disini jatuhnya jadi terlalu berat, aku bakal usahain penyelesaian konfliknya ga bakal ngecewain readers. Aku belum spoiler in fanfict ini ke siapapun hehehe. Maaf sekali lagi kalo kamu ga suka sama konflik di fanfict ini. Aku bakal usahain buat akhir fict ini biar ga mengecewakan. Terimakasih untuk kritiknya. Terimakasih buat reviewnya! :D