Suara desahan serta nafas yang beradu cepat memenuhi ruangan yang disinari oleh lampu remang. Tampak seorang gadis menahan nafasnya dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang, baru pertama ini Ia merasakan sensasi yang membuat tubuhnya gila dan tak terkontrol.

Tidak, Hinata belum kehilangan keperawanannya. Naruto hanya bermain - main dengan tubuhnya, melayangkan ciuman dan kecupan pada setiap inci dari tubuh sang gadis yang sudah tak ditutupi oleh sehelai benang pun.

"Mmhh, Naru - " Hinata mendesah pelan saat merasakan jari sang kekasih mulai memainkan sebuah tonjolan kecil di daerah kewaniataannya. Merasakan sensai aneh yang tak pernah dirasakannya membuat tangan Hinata mendorong tangan Naruto yang sedang asyik menjelajahi lubang miliknya itu.

"Tanganmu ini nakal sekali, Hime. Daripada kau mencoba untuk menghentikanku, bagaimana jika kau menyentuhku di sini?" Naruto mengarahkan tangan sang gadis untuk menyentuh kejantanannya.

"A... Aku - " Wajah Hinata memerah sempurna. Ia tak sanggup berkata apa - apa, bahkan tangannya terasa kaku saat menyentuh benda keras itu untuk yang pertama kalinya.

"Hahahaha. Kau harus lihat wajahmu Hime. Wajahmu memerah melebihi kepiting rebus yang baru saja matang." Goda Naruto.

"Mo.. Mou Naruto kun jahat." Naruto menghentikan tawanya, Ia kemudian mengelus surai indigo Hinata dan mencium kening gadisnya lembut.

"Maafkan aku." Bisiknya, pemuda itu kemudian menghembuskan nafas beratnya pada telinga Hinata dan memperdalam tusukan jarinya pada miss v Hinata.

"Nghn, Naru - " Desahan demi desahan dilontarkan sang gadis akibat sensani nyaman yang baru pertama kali dirasakannya. Naruto tak hanya diam, Ia terus memberi tusukan disertai dengan ciuman dalam dan sesapan pada leher dan kedua puting Hinata.

"Aahhn, Na.. Naru, ada sesuatu. Aku ingin - "

"Tidak apa - apa Hinata, keluarkan saja. Lepaskanlah." Bersamaan dengan tusukan jarinya yang semakin cepat dan dalam, Hinata melenguhkan badannya ke atas, sesuatu meledak keluar mengaliri tangan sang kekasih.

"Kau sudah sangat basah Hinata, aku tidak sabar untuk segera menyantapmu." ujar Naruto seraya menjilati jari - jarinya. Ia kemudian mengarahkan kejantanannya pada ujung bibir vagina Hinata dan menggeseknya perlahan.

"Ini akan terasa sangat sakit." Bisiknya lalu menatap Hinata sendu, Ia ingin melakukan hal ini namun ragu dan khawatir akan kesakitan yang akan dirasakan oleh gadisnya. Hinata menggeleng, Ia menarik kepala pirang Naruto dan menciumnya lembut; "Lakukanlah semaumu. Aku tidak apa - apa."

Naruto tersenyum lembut, Ia kemudian melumat bibir Hinata dan memainkan lidah sang kekasih dengan penuh perasaan. Pria itu kemudian memajukan pinggulnya sedikit demi sedikit.

"Aaaah," Hinata merintih pelan. Ia sangat ingin menghentikan kegiatan ini, rasanya begitu menyiksa, lebih sakit dibandingkan dengan permainan jari Naruto.

"Bertahanlah Hinata, aku akan melakukannya dengan cepat. Kau bisa menggigitku atau mencakarku jika ini terasa sangat sakit." ujar Naruto. Ia kemudian mengambil nafasnya dalam dan mendorong seluruh kejantanannya untuk masuk ke dalam tubuh Hinata, merobek selaput keperawanan yang telah dijaga Hinata hanya untuk dirinya.

"Mmmmhh - " Hinata menggigit bibir bawahnya keras, rasanya begitu sakit, tubuhnya seakan terbelah menjadi dua bagian.

"Ssttt, Hime, kau melukai dirimu." Naruto mengelus bibir Hinata kemudian melumatnya dengan lembut, berusaha untuk mengalihkan rasa sakit yang dialami oleh gadis yang sekarang telah resmi menjadi wanitanya.

Naruto mulai menggerakan pinggulnya dengan amat sangat pelan. Pria itu menahan diri, meski Ia sangat ingin melakukannya dengan keras dan cepat. Ia takut akan menyakiti Hinata, wanita yang amat dikasihinya.

"Ngghn, Naruto - " Seakan mendapat tanda, Naruto mulai mempercepat gerakan maju mundurnya mengikuti ritme yang Ia ciptakan. Semakin lama semakin cepat seiring dengan sesuatu yang ingin meledak di dalam tubuh masing - masing insan.

"Gguh, Hinata aku... Aku akan keluar." Naruto mempercepat gerakannya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Hinata, melumat bibir itu kasar sampai -

"Aaakkhhh - " Naruto menenggelamkan wajahnya pada leher Hinata, Ia memajukan pinggulnya pelan menyemburkan seluruh cairan cinta itu pada rahim wanitanya. Selama beberapa detik Naruto tak melepaskan pelukannya pada Hinata, tak ingin cairan itu keluar dengan sia - sia.

"Haah haah." Hinata mengatur nafasnya, orgasmenya yang kedua kali membuat tubuh mungilnya begitu lelah. Naruto membaringkan diri pada samping wanita itu, kemudian memeluknya erat dan mencium keningnya lembut.

"Terima kasih, Hime."

...

Suara dering yang dihasilkan oleh smartphone-nya membuat Naruto terbangun dari tidurnya. Ia mengucek kedua matanya pelan dan mengangkat telepon itu.

"Moshi - moshi."

"Naruto! Kau di mana?! Sekarang sudah jam sembilan dan kau masih belum muncul di sini! Kau benar - benar ingin menghancurkan karirmu hah?!"

Naruto menatap ke arah jam dindingnya, jarum jam tepat menunjuk ke angka sembilan yang berarti itu tandanya Naruto sudah terlambat tiga puluh menit dari waktu yang telah dijanjikan.

"Sial! Aku benar - benar lupa. Katakan padanya, aku akan segera ke sana dalam waktu sepuluh menit, Kakashi san!" ujarnya panik seraya menutup teleponnya dan bergegas untuk memakai pakaian dalam serta kemeja dan celana panjangnya.

Ia bahkan tak meninggalkan pesan untuk Hinata dan segera pergi tanpa menghiraukan sang gadis yang masih terlelap. Atau lebih tepatnya Naruto telah melupakan janjinya, melupakan sang gadis yang telah memberikan mahkota dirinya semalam.

...

"Maaf aku terlambat." Naruto membungkukan badannya, tampak wajahnya yang kusut dan rambutnya yang berantakan serta keringat mengucur membasahi tubuh dan wajahnya.

"Dari mana saja kau, kami sudah menunggumu selama satu jam!" Bentak Kakashi, namun Naruto tak sedikit pun menggubrisnya. Ia hanya menundukkan badannya sekali lagi dan meminta maaf. "Gomenasai."

"Sudahlah, tidak apa - apa. Bagaimana jika kau mengganti bajumu terlebih dahulu dan berdandan. Kita akan mulai proses pemotretannya dua puluh menit lagi." ujar sang fotografer ramah.

"Baik. Sekali lagi, maafkan aku." Tak buang - buang waktu lagi, Naruto bergegas untuk mengganti pakaiannya dan pergi ke ruang rias untuk mengganti baju dengan setelan yang sudah disiapkan untuk pemotretan dan bergegas melanjutkan pekerjaannya.

...

Hinata terduduk di kasurnya, diam dan hanya menatap kosong ke depan. Tubuhnya yang lelah serta rasa sakit yang teramat sangat pada selangkangannya membuat gadis itu tak mampu turun dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya dan mengisi perutnya yang lapar.

Ia melihat ke sekililing; kosong dan hampa. Sang kekasih meninggalkannya begitu saja tanpa mempersiapkan apapun untuknya. Bahkan lebih parah lagi, nampaknya sang kekasih lupa janji yang diucapkannya kemarin malam seusai mereka selesai bercinta.

'Apakah masih terasa sakit?' Hinata mengangguk, Ia menyandarkan kepala indigonya pada dada kekar Naruto. Pria itu mencium keningnya dengan sangat lembut dan mengelus surai indigo itu lembut.

'Besok pagi, aku akan melayanimu layaknya seorang ratu. Kau hanya perlu menunggu di atas tempat tidur. Aku akan memasakkan makanan yang kau sukai dan menggendongmu untuk berendam air hangat. Aku akan melakukan segalanya hanya untukmu.'

Ucapan Naruto terngiang di telinganya. Ia merasa menjadi wanita yang paling berbahagia di muka bumi ini ketika mendengar janji manis yang diucapkan sang kekasih untuknya. Bodohnya, Ia mempercayai semua ucapan janji palsu itu.

"Apakah aku tak lagi berharga di matamu, Naruto kun?" gumamnya lirih. Hinata kemudian memaksakan dirinya untuk turun. Satu kaki Ia turunkan menginjak lantai lalu wanita itu menyeret kaki satunya untuk turun. Dengan berpegangan pada sisi ranjang, wanita itu mencoba untuk berdiri.

"Aakkh, " Hinata berhasil untuk berdiri, namun kedua kakinya bergetar hebat. Ia tak hanya merasakan sakit pada selangkangan dan seluruh tubuhnya namun juga pada jantungnya yang berdenyut nyeri.

Hinata melalaikan obat yang harus diminumnya dan hal itu berakibat fatal pada penyakitnya yang semakin memburuk.

*Bruk

Wanita itu menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai yang dingin. Tangan kanannya memegang dada kirinya. Rasa sakit itu benar - benar membuat Hinata tersiksa, wanita itu kesulitan untuk bernafas serta rasa sakit pada tubuhnya membuatnya kesulitan untuk berdiri sedangkan obat - obatan yang disimpannya berada di kamar sebelah.

"Naru... Tolong.. A - " Hinata hanya mampu berharap pada Kami sama agar jangan memanggil pulang jiwanya sekarang. Ia tak ingin meninggalkan Naruto dengan cara seperti ini.

Hinata menitikkan air matanya, Ia tak sanggup lagi untuk bertahan. Wanita itu memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas lantai yang dingin dan kemudian memejamkan kedua mutiara lavendernya, berharap keajaiban akan datang. Atau Naruto pulang lebih cepat untuk memenuhi janjinya.

...

"Yak, pemotretan untuk hari sudah selesai. Terima kasih tuan Uzumaki, senang bekerja sama denganmu dan semoga peluncuran album terbarumu sukses besar." Sang fotografer mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Naruto. Tugasnya sudah selesai, Naruto menghembuskan nafas leganya.

"Baik. Terima kasih banyak, Maito san." Pria pirang itu kemudian duduk untuk menghilangkan rasa lelahnya. Malam panas yang Ia lewatkan bersama Hinata membuat staminanya sedikit terkuras.

Tunggu dulu, Hinata? Bagaimana Naruto bisa sebodoh itu melupakan bahwa Hinata berada sendirian di dalam penthouse-nya dengan kondisi seperti itu? Naruto mengeluarkan smartphone-nya, dengan cekatan Ia menekan nomor sang kekasih dan meneleponnya, memastikan bahwa Hinata baik - baik saja.

*Tuut Tuut

Tak ada satu jawaban pun yang terdengar. Hinata tak mengangkat teleponnya. Pikiran Naruto semakin berkecamuk, apakah mungkin Hinata masih tertidur? Atau mungkin Hinata marah terhadapnya?

"Kakashi san, tolong kosongkan jadwalku sebentar. Aku akan kembali ke rumah untuk memeriksa sesuatu." ujar Naruto cepat seraya menyambar kunci mobilnya namun sang manajer menghalangi jalannya.

"Biar kutebak. Hinata bukan?" Naruto tak menjawab, Ia tahu bahwa sang manajer tak akan mengijinkannya jika sesuatu hal menyangkut tentang kekasihnya.

"Kau tidak akan pergi kemana pun. Kita ada janji dengan Kurenai san lima menit lagi. Lagipula Hinata bukan anak kecil lagi. Kau terlalu memanjakannya, Naruto dan hal itu tidak akan berbuah baik bagi karirmu." Naruto mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya Ia melawan dan memberontak namun ucapan sang manajer ada benarnya.

'Hinata bukan anak kecil lagi, aku yakin Ia baik - baik saja.' Batinnya menenangkan dirinya sendiri.

...

Sementara itu kesadaran Hinata yang mulai pulih, membuat wanita itu mengerjapkan matanya, cairan merah kental memgalir dari lubang hidungnya, wanita itu memaksakan dirinya untuk bangun dan duduk menyandar pada kasurnya.

Ia kemudian menyeret tubuhnya dan berusaha meraih smartphone yang terletak di samping kasurnya. Wanita itu bersyukur karena tubuhnya sudah mulai pulih sehingga Ia mampu menghubungi dokter pribadinya untuk membantu dirinya di dalam kesendiriannya.

"Miscall? Dari Naruto kun?" lirihnya saat melihat nama yang terpampang dalam layar smartphone-nya. Naruto meneleponnya, apa itu berarti pria itu masih mengingat keberadaan Hinata?

"Uhuk -" Hinata menutup mulutnya, rasa sesak dalam dadanya muncul kembali. Ia harus segera menghubungi sang dokter agar segera menuju penthouse-nya.

*Tuut

"Hinata?"

"Toneri san, maaf menghubungimu tanpa membuat janji. Bisakah kau datang kemari? Aku membutuhkan bantuanmu." ujar Hinata lemah.

"Kau baik - baik saja Hinata? Suaramu terdengar buruk. Aku akan segera ke sana. Kau ada di mana?"

"Aku sedang berada di tempat Naruto kun. Akan kukirimkan alamatnya padamu."

"Baik, tunggulah, aku akan segera ke sana."

*Piip

Hinata mematikan teleponnya, Ia lalu mengirimkan alamatnya pada sang dokter pribadi dan memberikan nomor password kamarnya. Ia kemudian menunggu dengan menyandarkan kepalanya ke belakang, demi menghentikan darah yang masih mengalir deras dari dalam hidungnya.

...

Tak butuh waktu lama bagi Toneri untuk segera sampai di tempat Hinata berada. Pria itu kemudian segera menerobos masuk dan menemukan pasien yang sekaligus menjadi sahabat masa lalunya tergeletak lemah dan tak berdaya.

"Hinata!" Pria itu langsung memberikan pertolongan pertama pada Hinata, menghentikan darah yang mengalir pada tubuh Hinata dan memaksa wanita itu untuk menelan lima jenis obat sekaligus. Ia kemudian memeriksa tekanan darah dan kondisi jantung Hinata.

"Kau ceroboh sekali." ujarnya. Pria itu membaringkan tubuh Hinata pada ranjangnya, namun perhatiannya sedikit tidak fokus akibat tubuh Hinata yang telanjang dan hanya terbungkus selimut ditambah dengan kasur yang terdapat noda darah serta bekas cairan cinta Naruto dan Hinata membuat dokter muda itu sedikit tidak nyaman.

"Maafkan aku." lirih Hinata pilu.

"Tinggalkan saja pria itu Hinata. Ia tak dapat menjagamu dengan baik." ujar Toneri, sebenarnya pria itu sudah mengincar Hinata sejak dulu namun rasa cinta Hinata pada Naruto membuat dokter muda itu berulang kali mendapat penolakan yang pahit.

"Naruro kun hanya sedikit sibuk." ujar Hinata menghibur dirinya. Toneri menggertakkan giginya. Apa Hinata sudah buta?

"Dia tidak mencintaimu Hinata!" Toneri menaikkan suaranya, entah apa yang membuat pria itu geram; yang jelas pernyataan Hinata sungguh terdengar tak masuk akal di telinganya.

Hinata terdiam, Ia tak mau membahas hal yang menjadi privasinya dengan Toneri. Merasa sedikit bersalah, Toneri mengelus pipi putih Hinata; "Tinggalkan saja dia Hinata. Pilihlah aku, aku akan setia menjagamu dan aku pasti akan menyembuhkanmu. Kumohon." Pintanya lirih.

"Dia sangat mencintaiku Toneri san dan aku minta maaf, rasa cintaku padanya tak akan pernah berubah sampai kapan pun." Hinata memalingkan wajahnya.

"Pulanglah, terima kasih sudah menolongku. Aku akan membayarmu nanti." Toneri yang mendengar penolakan Hinata hanya mampu terdiam. Ia kemudian melihat ke kanan dan ke kiri.

"Aku sudah muak mendengar penolakanmu Hinata. Jika kau tidak ingin bersamaku, maka akan kupaksa kau untuk menjadi milikku!" Toneri menarik tangan Hinata kasar, membuat wanita itu sedikit tersentak.

"Hentikan! Apa yang kau lakukan Toneri!" Hinata memberontak, namun dengan sigap Toneri mengunci kedua pergelangan tangan serta kaki wanita itu dan menindihnya.

Pria itu berubah menjadi setan yang gelap mata. Rasa iri serta cemburu yang dirasakannya membuatnya gila. Mengapa Hinata tak pernah memandangnya? Mengapa harus Naruto yang wanita itu pilih?

"Tadi malam, apa yang kau lakukan dengannya huh?" Toneri mengelus perut datar Hinata dan melepas selimut yang membungkus tubuh wanita itu kasar.

"Hentikan Toneri! Kau menjijikkan!" Bentak Hinata.

*Plak

Satu tamparan dilayangkan pria itu pada pipi Hinata, membuat sudut bibir wanita itu robek dan mengeluarkan darah.

"Berani sekali mulutmu itu, dasar jalang!" Hinata menatap Toneri tegas, Ia tak sedikit pun ketakutan dan gentar, malah sebaliknya wanita itu terus meronta dan menghiraukan rasa sakit pada tubuhnya. Ia melepaskan sebelah tangannya dan meraih smartphone-nya.

Dengan cepat wanita itu menekan tombol call di saat perhatian Toneri teralihkan oleh tangan dan kaki Hinata yang menendang dan memukulnya.

"Ck, dasar kau! Wanita murahan!" Toneri menepis tangan Hinata sehingga benda itu terjatuh ke atas lantai. Hinata hanya mampu berharap bahwa Naruto mendengar teriakannya serta menolongnya.

"Kumohon Toneri, hentikan. Hentikan."

"Jika sekali lagi kau memohon padaku untuk menghentikanmu, maka aku akan dengan cepat mengirimmu ke neraka, Hinata." Ancam Toneri padanya. Tubuh Hinata gemetar, Ia tak menyangka bahwa dokter yang selama ini membantunya ialah iblis yang hanya menginginkan tubuhnya.

Hinata menarik nafasnya; "Naruto kun, tolong aku!" Ia berteriak sekencang mungkin, berharap Naruto telah mengangkat teleponnya dan mendengar teriakan minta tolongnya.

[...]

つづく

17.02.16 | ©Yuki Hime

...

Balasan Review :

Reksaa234 : Dua - duanya :v

Hime Narakun : Iya kak, wah thank's kak :3

Anonym : Multichap kok, thank's

Mawarputih : Iya, sedihnya hiks.

Guest : Tau aja sad ending, yuki juga suka.

Nico Andrian : Wah, thank's Nico :)

Hl : Ini lanjutannya.

To Guest : Kalau ga suka ga usa baca! Ribet amat jadi orang? Tipikal reader kayak km juga yuki ga suka. Bisanya bersembunyi di balik nama guest dan menghujat. Dont like Dont read dan yang lebih penting DONT COMMENT