.

.

Title: Time to Restart

By : Chisana Yuri

Disclaimer : I own nothing but the plot

Rating : T

Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, and other

Warning : BoyxBoy, Typo(s), AU, Highschooltheme, dipublish nyaris setahun yang lalu silahkan baca lagi chapter 1-nya kalo lagi senggang

Type : Chaptered

Don't Like, Don't Read

.

[Chapter 2]

Seorang siswa menepuk pundak siswi di dekatnya, kelihatan sudah tidak kuat menahan rasa tidak sabar yang membuncah saat itu juga. "Permisi, boleh aku bertanya?"

Kelas fisika dengan guru yang pembawaannya tidak bersahabat membuatnya terpaksa menahan hasrat buang air kecil selama pelajaran berlangsung. Sekarang, saat akhirnya ia bisa bebas, keinginan itu justru hilang tak berbekas. Digantikan dengan rasa ingin tahu yang sangat besar ketika pandangannya jatuh pada sosok berkeringat di pinggir lapangan.

Layaknya radar yang memang diprogram untuk mendeteksi sesuatu, secara mendadak lingkaran berulang berwarna hijau muncul memenuhi jarak pandangnya, mengunci sekaligus mengikuti pergerakan targetnya lengkap dengan suara bip-bip kencang.

ALERT! NEW TARGET FOUND!

Ia mematung di tempatnya. Mengagumi laki-laki yang baru pertama kali ia lihat sejak kehidupannya sebagai siswa menengah atas dimulai dua bulan yang lalu. Kalau sistuasinya saat ini digambarkan di komik romance mungkin akan ada sinar menyilaukan yang bisa membutakan matanya saat melihat keringat bercucuran yang membanjiri wajah targetnya.

Sial, kemana saja ia sampai baru melihatnya sekarang.

"Ya?" Siswi itu menjawab.

"Laki-laki yang berdiri di sebelah ring basket, apa kau tahu dia senior atau bukan?"

"Yang kau maksud itu yang di sebelah kanan atau kiri ring basket?"

"Kanan."

"Bukan. Dia dari kelasku, 1-1. Namanya Cho Kyuhyun."

"Oh? Terima kasih!"

Cho Kyuhyun.

TARGET LOCKED.

.

.

Ia datang tepat setelah jam makan siang, seperti yang ia tulis dalam suratnya kepada Cho Kyuhyun dari kelas 1-1. Dan ketika kakinya memasuki ruang musik—tempat yang juga tertulis dalam suratnya, ia mulai meragukan intelegensi dirinya sendiri.

"Jadi... Lee Sungmin?" Laki-laki dengan rambut ikal kecoklatan menggoyangkan amplop putih di tangannya. "Wow ada gay sungguhan di sekolah kita. Keren."

Sebuah tanda tanya besar muncul di kepala Sungmin ketika melihat orang yang menurutnya tidak seharusnya ada disana. Tanpa suara ia menggerakkan tangannya grogi, menunjuk ke arah belakang, lalu ke arah laki-laki di depannya, tiga kali mengulang gerakan yang sama kalau dihitung. Tingkahnya persis orang bodoh.

"Aku—Kupikir kemarin aku memasukkannya ke loker Cho Kyuhyun. Atau mungkin aku salah loker?" ucapnya sedikit linglung.

"Hah?"

"Atau jangan-jangan kau mencurinya dari Cho Kyuhyun?"

"Ap—? Tunggu, tunggu. Jangan bilang kau tidak tahu siapa Cho Kyuhyun?" Laki-laki itu bertanya balik.

"Jangan konyol! Aku tahu siapa Cho Kyuhyun. Sembarangan saja kau ini." Sungmin menutup kalimatnnya dengan tawa gugup.

"Sembarangan?" Sekarang laki-laki membuka amplop di tangannya, membacakan isinya keras-keras.

"Cho Kyuhyun, aku tertarik padamu. Mau temui aku di ruang musik besok setelah makan siang? Lee Sungmin." Lawan bicaranya kemudian menurunkan kertas di tangannya, "Oh, dan satu hal, Lee Sungmin. Perkenalkan. Aku Cho Kyuhyun."

Sungmin menggeleng gusar. Campuran tidak percaya dan malu. "Tidak mungkin. Kau bukan Cho Kyuhyun yang kumaksud. Coba kemarikan kartu pelajarmu kalau kau memang benar."

Dan, hahahaha rasanya Sungmin berharap lantai di bawahnya mau terbelah dan menelannya hidup-hidup saat ia melihat kartu pelajar laki-laki itu, lengkap dengan tulisan Cho Kyuhyun di samping foto formilnya.

Bulir-bulir keringat gugup mulai menuruni keningnya. "Ini pasti kebetulan. Kau tidak berpikir hanya ada satu Cho Kyuhyun di sekolah kita, kan?"

"Kau akan berhutang banyak kalau aku bisa membuktikan ucapanku," ancam laki-laki tinggi itu setelah memutar bola matanya. Ia menarik tangan kanan Sungmin, menyeretnya ke bagian administrasi.

Dibawah tekanan tatapan mata tajam dan paksaan laki-laki itu, Sungmin akhirnya bertanya, meski ragu. "Permisi, boleh saya lihat biodata Cho Kyuhyun dari kelas 1-1?"

Petugas administrasi di belakang meja resepsionis hanya memandangnya lama. Malas menanyakan alasan Sungmin dan memilih menunggu alasan itu datang sendiri.

"Ti-tidak untuk yang aneh-aneh. Hanya...ada keperluan dengan dia tapi tidak tahu wajahnya."

Ketika petugas itu mau menuruti permintaan Sungmin, Sungmin harus berjinjit sedikit untuk melihat data yang ia minta.

'Astaga, Tuhan, cabut saja nyawaku.' Gumamnya dalam hati, mempertemukan gigi atas dan bawahnya keras karena gugup.

"Di sekolah ini hanya ada satu Cho Kyuhyun? Aku mencari Kyuhyun tapi bukan yang ini. Aku mencari yang badannya lebih besar dan kelihatan lebih sehat," tolak Sungmin. "Songsaengnim yakin hanya ini Cho Kyuhyun yang ada di sekolah kita? Tidak ada yang lain? Benarkah? Bisa cek sekali lagi? Kumohon."

Dan gelengan dari petugas itu membuktikan segalanya.

Surat cintanya salah alamat.

Sungmin menengadahkan kepalanya, memasang wajah sememelas yang ia bisa ke arah Kyuhyun yang sekarang tersenyum remeh pada dirinya. Ia kesulitan bernapas saat harus tertawa kaku ke arah Kyuhyun. Tangannya ia gosokkan di depan wajahnya, membuat gestur orang minta maaf.

Kyuhyun yang masih tersenyum akhirnya merangkul Sungmin dan menepuk bahunya beberapa kali, menyeretnya paksa untuk keluar dari ruang administrasi. "Jadi, ternyata benar ada laki-laki yang menembakku. Pesonaku sungguh luar biasa. Lalu, apa sekarang aku harus jadi peran protagonis dengan menerima pernyataan cintamu lalu memproklamirkan diriku sebagai pacarmu atau jadi peran antagonis dengan menempelkan surat cintamu di mading supaya satu sekolah tahu?"

"Kau mau membodohiku ya? Pada akhirnya satu sekolah akan tahu aku gay."

"Kalau kau takut diejek gay, kenapa nekat menembakku?"

"Tolong dengar ceritaku, Kyuhyun. Tadinya aku sudah siap untuk segala kemungkinan, termasuk diejek atau dibully. Tapi sekarang, saat tahu kalau ternyata aku salah orang, aku jadi...ugh. Oke, pada intinya bukan kau yang ingin kutembak, sumpah. Ada laki-laki tegap yang waktu itu kulihat di lapangan basket. Saat itu aku menanyakan namanya pada seorang murid, dia bilang namanya Cho Kyuhyun dari kelas 1-1. Aku percaya saja. Lalu setelahnya aku menulis surat itu, diam-diam mencari loker dengan label Cho Kyuhyun 1-1, dan voila! Itulah kenapa surat itu ada di lokermu. Demi apapun aku bersumpah aku tidak tertarik sedikitpun, kutekankan sekali lagi, benar-benar sedikitpun tidak, padamu. Ini hanya kesalahan teknis. Jadi, bisakah kau menjadi orang baik hati dan anggap ini semua tidak pernah terjadi?"

Entah apa yang mendasari pikirannya, Kyuhyun tiba-tiba iseng mencolek dagu Sungmin sambil mengedipkan mata kanannya. "Halah. Kau itu hanya takut kutolak makanya mengarang alasan tidak jelas begitu. Kau boleh bernapas lega sekarang karena meskipun aku tidak gay paling tidak aku bukan homophobia yang akan mengejekmu. Sekarang, jujur padaku, kau memang benar-benar tertarik padaku kan?"

Sungmin merinding dan langsung mengusap dagunya yang disentuh Kyuhyun berkali-kali. "Kau bercanda? Kau bukan tipeku, astaga. Amit-amit..."

"Yakin?" tanya Kyuhyun dengan nada menggoda sambil mencolek dagu Sungmin sekali lagi, kali ini ditutup dengan menggamit tangan Sungmin, membawanya ke bibirnya untuk kemudian diberi kecupan bercanda.

"HOMO!"

Setelah itu semuanya berlangsung sangat cepat.

Ketika teriakan melengking dari seorang murid bernama Kim Ryeowook yang kebetulan menjadi saksi keisengan Kyuhyun membuat label 'homo' itu melekat kuat pada Sungmin dan Kyuhyun.

Ketika tidak ada seorang pun yang percaya saat Kyuhyun mati-matian menjelaskan kalau ia bukan homo dan apa yang ia lakukan hanyalah sebuah lelucon karena ia sedang iseng mengerjai Sungmin.

Ketika Sungmin secara ajaib mau tidak mau langsung menjadi pasangan gay official dari Kyuhyun di mata orang-orang.

Semuanya berlangsung sangat cepat.

.

.

"Pada akhirnya, beberapa minggu sejak insiden itu, Kyuhyun malah mengajakku jadian sungguhan. Dia bilang, semuanya sudah terlanjur terjadi sehingga tidak ada salahnya jika kita menjadikannya sedikit lebih serius. Alasan yang idiot, tapi aku tidak menolaknya sama sekali waktu itu." Sungmin menyelesaikan ceritanya dengan tertawa hambar. Tidak bisa melupakan bagian dimana Ryeowook yang memberi mereka label hina itu justru menjadi konsultan cintanya dengan Kyuhyun sampai saat ini.

Tapi, terlepas dari kekonyolan Kyuhyun, Sungmin mensyukuri keberadaan laki-laki itu.

Kalau tidak ada Kyuhyun, entah bagaimana nasibnya ketika ia dibully habis-habisan setelah seisi sekolah tahu tentang surat cintanya ke Kyuhyun. Mungkin sampai lulus ia akan sendirian ketika jam makan siang atau pulang sekolah, menjadi bahan olokan, menjadi manusia paling wajib untuk dihina sekaligus dilecehkan.

Tidak ada yang mau dekat-dekat gay, paling tidak begitu kata mereka.

Ditambah, mereka bilang gay itu menular. Sinting.

Sebenarnya Sungmin kasihan pada Kyuhyun, pemuda lurus selurus penggaris itu terpaksa menerima perlakuan yang sama dengan dirinya yang belok. Dikucilkan ketika makan siang, dipermalukan di depan guru-guru, menerima pandangan jijik, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Sungmin tidak bohong kalau dirinya lega karena ada yang senasib sepenanggungan dengannya.

Bisa saja Sungmin menghajar tukang bully di sekolahnya satu persatu, tapi itu hanya akan memperparah nama baiknya. Itulah sebabnya, selama masa-masa menyedihkan itu dia memilih diam, mendengar gerutuan Kyuhyun ketika mereka diasingkan; Saat makan siang berdua di pojok cafetaria, atau ketika mereka jalan pulang berdua.

Berduaan dengan dirinya adalah sebuah keterpaksaan, kata Kyuhyun. Awalnya Kyuhyun tidak mau berurusan lagi dengannya, tapi karena keadaan memaksa, mereka justru berakhir dengan membentuk tim anti-gay bullying—yang, sedihnya, hanya beranggotakan mereka berdua—dan merencanakan misi pembalasan.

Itulah yang mengawali kisah barunya dengan Kyuhyun.

"Kyuhyun-hyung benar-benar meninggalkan banyak kenangan ya, Hyung?"

Sungmin terdiam.

Kenangan, katanya.

Tawa kosongnya lenyap saat ia menatap kosong cermin full body di hadapannya. Sejak tadi hingga saat ini ia ada di kamar adiknya. Sungjin membantu merapikan jas formal hitam yang akan ia pakai sebagai syarat tak tertulis untuk menghadiri sebuah upacara pemakaman.

Benar, sebagai bentuk penghormatan terakhirnya untuk sang kekasih.

Memikirkan bagaimana tiba-tiba otak kecilnya memutar memori saat pertama kali dirinya berurusan dengan Kyuhyun, dan bagaimana mulutnya tanpa sadar mengucapkan semua yang bisa ia ingat, Sungmin menyayangkannya. Keadaannya seperti orang sekarat.

Dan mungkin pernyataan itu bukan sebuah kekeliruan.

Terlepas dari kenyataan apakah kekasihnya meninggal atau tidak, hubungannya dengan Kyuhyun mungkin memang sudah sekarat akibat perselingkuhan Kyuhyun.

"Hyung, ayo." Sungjin menatap kakaknya yang tidak bergerak.

Sungmin menutup matanya berat bersamaan dengan tarikan napasnya yang seperti tersendat di tenggorokan, meresapi semua yang bisa ia ingat tentang Kyuhyun di tengah logikanya yang sekarang dipertaruhkan.

Kyuhyun meninggal. Lucu.

Lelucon macam apa yang Tuhan berikan padanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?

Sekuat apapun ia mencoba menangisi kepergian Kyuhyun dengan keras seperti ibunya, entah untuk alasan apapun, ia tidak bisa.

Kesedihan hanya sempat menjalar di sekujur tubuhnya selama beberapa detik sebelum kemudian digantikan oleh rasa takut.

Ketika dengan histeris ia berteriak kepada ibunya—mengatakan kalau kematian Kyuhyun mustahil terjadi karena belum sampai lima menit yang lalu ia masih merasakan kehadiran Kyuhyun di dekatnya, ia menyeret ibunya ke kolong tempat tidur untuk membuktikan ucapannya.

Tapi, hasilnya nihil.

Ibunya tidak membiarkannya menjelaskan apa yang terjadi. Seolah menganggap apa yang anaknya lakukan adalah bentuk penolakannya atas kematian Kyuhyun.

Saat ia terus berteriak heboh padahal hanya ada boneka dibalut selimut di bawah sana, ibunya memeluknya. Menenangkan dengan mengatakan bahwa itu semua adalah firasat ketika seseorang akan kehilangan orang lain yang disayang.

Tapi, benarkah?

"Hyung..."

Demi apapun, Kyuhyun meninggal tapi Sungmin tidak merasakan emosi yang seharusnya.

Ia takut kematian Kyuhyun adalah ulahnya.

Sungmin terengah saat ia membuka matanya. Memerhatikan dengan seksama dirinya yang sudah terlihat sangat siap.

"Hyung, kita sudah harus berangkat sekarang..."

Ke pemakaman Kyuhyun-hyung, adalah kalimat yang tidak berani Sungjin ucapkan saat melihat raut kusut kakaknya.

.

.

Jantung Sungmin berdegup dengan tidak menyenangkan saat kakinya melangkah memasuki rumah yang sekarang seluruh penghuninya sedang berkabung.

Apa yang seharusnya ia rasakan masih abstrak. Harusnya ia sedih, hancur berkeping-keping karena ditinggalkan atau apalah itu. Tapi, sekali lagi, yang ia rasakan bukan hal-hal semacam itu.

Dari tempatnya berdiri saat ini ia bisa melihat jelas peti mati berwarna coklat tua beberapa kaki di depannya. Dari segala penjuru ruangan rasanya ia bisa mendengar isak sedih orang-orang yang hadir hari ini. Ada kumpulan orang-orang yang berdiri di dekat peti mati, bergantian meletakkan bunga krisan saat mendoakan jasad kekasihnya yang terbujur kaku disana. Ia juga melihat teman-teman sekolahnya. Beberapa adalah mereka yang pernah membully dirinya dan Kyuhyun, beberapa lagi benar-benar teman main Kyuhyun. Mereka mengekspresikan perasaan terpukul karena kematian seseorang dengan sangat baik, tidak sepertinya.

Tentu saja, Sungmin menarik bibirnya sedikit. Kyuhyun orang yang menyenangkan, bahkan orang yang pernah membully-nya mengakui itu. Tampan, pintar—sempurna. Berita kematiannya mungkin adalah berita terakhir yang ingin orang-orang dengar di dunia ini.

Changmin menghampirinya. Sahabat Kyuhyun, yang entah sudah berapa kali ia salahkan karena membuat Kyuhyun tidak sembuh-sembuh dari kecanduannya terhadap game, datang tepat saat ia memulai langkahnya ke tengah ruangan dengan tatapan kosong.

"Sungmin..." bisiknya sebelum ia menepuk bahu Sungmin, membawa kekasih sahabatnya ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat dengan tangan gemetar. "Hei, kau yang sabar... Ikhlaskan Kyuhyun."

Ikhlaskan?

Yang dipeluk tidak mengatakan apapun, membalas pelukan Changmin saja ia tidak sanggup. Baru setelah beberapa detik berselang, Sungmin menemukan kekuatannya untuk melepas pelukan Changmin dan memandangnya dengan tidak fokus.

"Aku kesana dulu," pamitnya sambil meremas lengan atas Changmin. Meragukan keberanian dalam kalimatnya sendiri.

Jarak Sungmin dan Changmin berdiri ke peti mati di bagain lain ruangan itu sebenarnya tidak jauh, tapi pelukan dari orang-orang yang mengenalnya terus menghalangi langkah demi langkahnya menemui Kyuhyun, membuatnya perlahan gugup.

Menyapu ruangan dengan seadanya, akhirnya Sungmin menemukan orangtua Kyuhyun. Ibu Kyuhyun menangis di sebelah Ahra sambil menatap figura Kyuhyun yang digantung di hadapan peti mati. Sungmin tidak tahu kapan foto formal Kyuhyun dengan jas abu-abu itu diambil, tapi ia tahu itu foto baru, terlihat dari rambut yang dimodel supaya keningnya terlihat.

Kyuhyun selalu seperti itu, orang itu memang tidak pernah jelek saat difoto. Senyumnya benar-benar memesona, membuatnya otomatis meleleh ketika mengingat cara Kyuhyun akan tersenyum seperti itu padanya.

Seperti ketika ia tahu Kyuhyun sering menatapnya sangat lama sambil tersenyum seperti orang sinting, seolah Sungmin adalah satu-satunya sumber kebahagiaannya. Matanya selalu tulus menyampaikan kekagumannya pada sosok Sungmin, membuatnya gila.

"Sungmin-ah." Hanna-eommonim memanggilnya.

Sungmin menyelesaikan lamunannya. Dengan tubuh tegak ia berjalan ke arah wanita itu.

"Eommonim," ucapnya saat ia menghentikan langkah pastinya di depan Kim Hanna. Senyum tipis ia berikan sebelum wanita favorit Kyuhyun itu memeluknya sangat erat. Ia tidak sanggup melakukan hal lain selain membalas pelukan Ibu Kyuhyun dengan sama eratnya. Saat mendengar tangis wanita itu tepat di samping telinganya, rasanya Sungmin ingin sekali memberikan kata-kata menenangkan kepada wanita yang paling Kyuhyun sayang di dunia ini, tapi itu mustahil.

Kematian Kyuhyun adalah kesalahannya.

Ia yang mengucap mantra terlarang itu, meminta pada Tuhan agar memusnahkan Kyuhyun dari muka bumi ini.

"Kau sudah melihat Kyuhyun?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Hanna ketika ia mengusap pipi Sungmin beberapa kali, membuat Sungmin bingung harus menggeleng atau mengangguk untuk menjawabnya. Usapan di pipinya sudah tidak lagi terasa ketika Sungmin menunggu di tempatnya berdiri sementara Hanna beranjak untuk mengambil bunga krisan putih untuknya.

Tanpa kalimat selanjutnya dari Hanna, Sungmin tahu apa yang seharusnya ia lakukan setelah ini. Dengan tangan gemetar ia menerima setangkai krisan putih dan berjalan menuju foto Kyuhyun, mencermati wajah yang rasanya masih ia lihat dengan jelas tadi pagi.

Kau sudah melihat Kyuhyun?

Bibirnya terkunci rapat saat perhatiannya kemudian teralih pada peti coklat tua di dekatnya. Langkahnya makin berat saat kenyataan kejam menusuknya keras-keras. Ini akan menjadi kali terakhirnya melihat Kyuhyun.

"Pumpkin~"

Bergidik takut, Sungmin kali ini membayangkan Kyuhyun memanggilnya dengan sangat manis. Peti mati itu seolah memanggilnya, memintanya untuk menengok sosok yang sudah terbujur kaku di dalam sana, menunggu penghormatan terakhir darinya, menunggu saat dirinya siap mengantar kepergiannya dengan ikhlas ke dunia yang tidak akan sama lagi dengan dunianya.

Dan disaat yang sama...menunggu pertanggungjawabannya.

Dalam hati ia terus berdoa agar Kyuhyun mau mengampuni dosanya. Langkahnya belum sepenuhnya mantap ketika ia tahu setelah melihat Kyuhyun, dirinya akan membawa beban penyesalan seumur hidupnya.

Satu langkah dan ia akhirnya akan melihat rambut ikal disana.

Ya Tuhan!

"Ini tidak mungkin..." Sungmin dengan tiba-tiba menutup mulutnya ketika ia melangkah dan melihat sosok di dalam peti mati itu. Matanya melebar penuh. Tangan kanannya yang menggenggam krisan putih itu melemas. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil mundur sempoyongan menjauh dari tempat itu, dengan bisikan ia bergumam seperti orang kerasukan.

Kyeongsuk yang melihat anaknya bertingkah tidak wajar langsung mendekatinya dengan setengah berlari. Ia menangkap punggung Sungmin sebelum anaknya menabrakkan tubuhnya ke dinding. Ia akhirnya mendengar dengan jelas gumaman Sungmin.

"Itu bukan Kyuhyun... Aku tidak membunuh Kyuhyun. Terima kasih, Tuhan." Suara itu gemetar, tapi percaya diri di saat yang sama. Senyum lega itu bisa dilihat di wajahnya.

"Sungmin...sayang, ada apa?"

"Eomma, itu bukan Kyuhyun." Sungmin tersenyum lebar saat menjawab ibunya, matanya masih terpaku pada peti mati di depannya, "Yang ada di dalam sana bukan Kyuhyun. Itu bukan Kyuhyun. Hentikan pemakaman ini. Kyuhyun tidak meninggal."

"Sungmin-ah, jangan seperti ini." Suara parau ibunya bisa ia dengar, airmata sekali lagi juga terlihat di wajahnya, tapi Sungmin tidak akan memikirkannya sekarang. Tangan hangat ibunya yang bermaksud memeluknya untuk menenangkan dirinya ia tepis. Sungmin membuang bunga krisan di tangannya dan bergegas menuju potret Kyuhyun yang digantung di dekat lilin yang mengelilinginya.

Tanpa pertimbangan ia menurunkan foto itu dan dengan cepat, melempar figura itu ke lantai, menggemakan suara kaca pecah dengan tidak main-main ke seluruh ruangan utama, menarik perhatian semua tamu disana.

"Sungmin!"

Kali ini ia melangkah ke arah keluarga inti Kyuhyun.

"Hentikan pemakaman ini. Itu bukan Kyuhyun." Telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk ke arah yang ia maksud. Matanya menyalang seram pada ayah Kyuhyun yang maju ke depan, menghalangi dirinya mendekati ibu dan kakak perempuan Kyuhyun.

"Apa yang terjadi denganmu, Sungmin-ah?" Ayah Kyuhyun mendekati Sungmin dan meraih kedua lengan atasnya, menggoncangnya sedikit kasar.

"Abonim, aku mohon hentikan semua omong kosong ini. Yang ada di dalam peti itu bukan Kyuhyun. Aku hapal betul Kyuhyun dan yang ada disana itu tidak seujung kuku pun mirip dengan Kyuhyun. Apa Abonim tidak bisa mengenali anak Abonim sendiri?"

'Siapa dia?'

'Itu pacarnya Kyuhyun.'

'Memprihatinkan'

'Dia pasti sangat terpukul. Kasihan sekali.'

'Dia masih belum ikhlas.'

Sungmin bisa menangkap jelas gumaman di sekelilingnya, tapi tidak sedikitpun ia berpikiran untuk menghentikan aksinya saat itu. Orang yang mereka tangisi jelas bukan Cho Kyuhyun. Kyuhyun tidak akan seberisi itu kecuali dia meninggal karena tenggelam selama beberapa hari sampai tubuhnya membengkak.

"Ada apa dengan kalian semua? Dilihat darimana pun itu bukan Kyuhyun! Apa kalian buta?" Sungmin berteriak pada semua orang yang hadir. Lalu ia mengalihkan pandangannya dengan gusar, menyisir seluruh ruangan untuk mencari teman sekolahnya.

Changmin.

Saat menemukannya, ia meraih Changmin, menyeretnya kuat mendekati peti mati. "Shim Changmin, katakan dengan lantang pada mereka kalau jasad yang ada disini bukan Kyuhyun. Kyuhyun tidak mati. Dia masih hidup karena dia tidur di kamarku sampai tadi pagi. Ini semua hanya kesalahpahaman."

Tapi, Changmin menggeleng. Matanya memancarkan keprihatinan saat menatap kekasih sahabatnya.

"Tidak, Sungmin. Ini Kyuhyun."

Sungmin menutup matanya lama, giginya ia gertakkan keras, kepalan tangannya makin erat. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Changmin tidak mengenali wajah teman dekatnya. Bukan hanya Changmin, orangtua Kyuhyun pun sama butanya dengan semua orang yang menangisi orang yang salah.

"Bukan! Yang benar saja. Ini bukan Kyuhyun, Changmin! Apa kau buta?!"

"Lee Sungmin!" Ibunya menamparnya, berniat menyadarkannya. Tapi, percayalah, Sungmin merasa dirinya sangat sadar saat ini. Kebahagiaan memenuhi raganya saat ia tahu ia tidak harus menanggung rasa bersalah seumur hidup.

"Hentikan, sayang." Wanita itu terlihat menahan airmatanya saat melihat putra sulungnya mempermalukan dirinya sendiri dengan mengacau di acara berkabung keluarga Cho.

"Eomma yang hentikan! Aku tidak bohong! Kyuhyun di kamarku sejak kemarin malam! Aku tidak bohong saat aku menunjukkan Kyuhyun di kolong tempat tidurku!"

"Kyuhyun sudah meninggal, sayang."

Sungmin menangkup pipi ibunya yang dibasahi air mata. "Eomma, ini salah... Kyuhyun masih hidup. Percaya padaku, ini semua salah."

Dan lagi-lagi ibunya menepis ucapannya dengan gelengan kepala.

"Relakan Kyuhyun, Sungmin-ah. Eomma tahu kau menyayangi Kyuhyun, tapi yang kau lakukan saat ini tidak akan membuat Kyuhyun tenang di sana."

Tangannya perlahan meninggalkan pipi ibunya. Kecewa karena tidak ada seorang pun yang percaya pada ucapannya.

Tenang disana, Sungmin membatin sambil tersenyum miring.

"Aku pulang saja kalau begitu. Percuma aku disini." Ia menghentak kakinya marah dan keluar, tanpa ucapan maaf sedikitpun pada keluarga Kyuhyun karena sudah mengacaukan acara yang menurutnya omong kosong.

Jelas karena Sungmin tidak merasa salah dan harus minta maaf atas apapun, sesederhana itu. Satu-satunya yang ia rasakan saat ini hanyalah perasaan lega.

.

.

"Kyu?" Sungmin melepas jas hitamnya saat ia memasuki kamarnya, melemparnya ke meja belajar di kanan ruangan.

Tidak ada jawaban.

"Kyuhyun? Sayang? Kau dimana?"

Sungmin menyatukan alisnya saat ia memanggil Kyuhyun sekali lagi. Ia yakin Kyuhyun masih ada di kamarnya, paling tidak...seharusnya masih ada. Sebelum ia berangkat, semua pintu ia kunci. Pintu kamar, kamar mandi, bahkan jendelanya. Harusnya Kyuhyun tidak bisa kemana-mana kecuali satu hal. Semua yang terjadi hanyalah sebatas imajinasinya.

"Tidak. Aku tidak berhalusinasi. Tidak mungkin." Matanya menyisir kamarnya sekali lagi. Ia memeriksa kolong tempat tidur dan kasurnya sekali lagi. Penasaran apakah Kyuhyun ke kamar madi, ia juga mengeceknya. Tapi, nihil. Pintu kamar mandinya masih dalam keadaan terkunci, persis seperti saat ia meninggalkannya.

"Min?"

Kyuhyun!

Hampir putus lehernya saat ia memutar kepalanya dengan sangat cepat untuk menemukan sosok familiar yang sedang melongok ke arahnya dari atas lemari.

Rasanya ia ingin menangis sejadi-jadinya saat tahu suara yang ia dengar itu lagi-lagi berasal dari boneka yang ia kemarin lihat, bukan Kyuhyun. Tapi entah kenapa ia juga lega. Karena itu artinya apa yang ia alami kemarin bukan mimpi atau sekadar firasat saat ia akan kehilangan seseorang.

Sungmin memasukkan tangan kanannya ke saku celana, tangan kirinya melambai ke arah lawan bicaranya. "Hai, sayang. Bisa turun sendiri atau aku harus membantumu?" tanyanya kasual saat ia tersenyum lebar pada Kyuhyun—atau mungkin...boneka telanjang dada yang mirip dan bisa mengeluarkan suara Kyuhyun.

"Aku bisa loncat." Mulut boneka itu mengukir senyum yang mengingatkan Sungmin pada senyum tampan Kyuhyun.

.

.

"Kenapa kau bisa ada di atas lemari?" Sungmin duduk bersila di kasurnya, berhadap-hadapan dengan boneka telanjang dada itu. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan singlet hitam dan boxer pink.

"Aku hanya ingin tahu cara keluar dari kamarmu. Yang kutahu kau mengunci pintu kamar dan jendelamu. Kalau aku sedang dalam keadaan normal, aku bisa saja keluar melalui jendela, tapi sayang aku tidak kuat menggeser jendelamu sekarang. Jadi, aku mencari tempat tinggi untuk melihat apa ada celah lain."

"Kenapa kau ingin keluar dari kamarku?"

"Kenapa kau bilang? Aku panik, Min! Saat aku di kolong, teriakanmu dengan ibumu sahut-sahutan seperti di telenovela. Meributkan apakah aku benar mati atau tidak. Gila saja kalau kau pikir aku tidak panik. Aku baru akan keluar dari kolong saat ibumu mengikuti perintahmu untuk memeriksa keberadaanku di kolong."

Sungmin mengerutkan hidungnya tidak mengerti, tapi Kyuhyun tetap melanjutkan.

"Yang aku bingungkan adalah, kenapa saat itu aku malah kembali menjadi boneka. Kau tahu, karena selimut sialan yang aku lilitkan di tubuhku atas usulmu, aku jadi tidak bisa bergerak dan tetap disana. Aku berteriak memanggil namamu, tapi kau mengacuhkanku. Aku butuh kerja keras untuk akhirnya melepaskan kiri dan keluar dari kolongmu."

Sungmin mengambil bantal di belakangnya dan melemparnya ke arah Kyuhyun, membuat boneka itu terpelanting ke sisi lain kasur. "Apa-apaan kau? Menyalahkanku sekarang?"

"Bukan begitu, Min. Oke, mungkin kedengarannya seperti itu. Katakanlah aku tadi hanya berandai-andai. Seandainya kau tidak menyuruhku sembunyi di kolong dan langsung memberiku kaos dan bukannya selimut, mungkin sekarang tidak akan seperti ini keadaannya." Boneka itu berjalan ke arah Sungmin. Ia berharap ia tidak berada dalam keadaan ini agar dirinya bisa meraih tangan Sungmin seperti yang biasa ia lakukan.

"Maafkan aku kalau begitu. Aku tidak tahu apa yang terjadi karena ini sangat membingungkan." Kyuhyun memperhatikan kekasihnya yang menggelengkan kepalanya dan menatap kosong pada sprei tempat tidurnya.

"Kau selingkuh, lalu kau jadi boneka, tapi berubah lagi menjadi manusia tadi pagi, tak lama kemudian Eomma bilang kau meninggal, lalu kau jadi boneka lagi. Aku ke rumahmu, melihat fotomu, melihat peti mati itu, dan mengambil bunga krisan dari ibumu," Sungmin mengambil jeda. Kyuhyun melihat kekasihnya mengatupkan bibirnya rapat, matanya diselimuti warna gelap saat menceritakan semuanya. Meski tahu ia tidak bisa menggenggam tangan Sungmin, paling tidak Kyuhyun mendekati Sungmin, menyentuhkan tangan bonekanya pada paha Sungmin.

"Aku mendekat ke peti mati dan saat itulah melihat jasad orang lain disana."

"Orang lain?"

"Aku memberitahukan semua orang termasuk keluarga kita kalau itu bukan kau, tapi tidak ada yang percaya padaku. Bahkan Changmin juga!"

Kyuhyun fifty-fifty dengan cerita Sungmin. Ia tidak percaya kalau orangtuanya sendiri bisa salah mengenali orang lain sebagai dirinya. Tapi ia juga tidak percaya kalau dirinya sudah mati. Ia tidak merasakan sakit luar biasa saat Tuhan mencabut nyawanya.

Ada satu kemungkinan terburuk yang bisa ia simpulkan sekarang: Ia sudah mati, arwahnya merasuki boneka, ia menggentayangi Sungmin, lalu Sungminnya jadi frustasi dan gila. Itulah alasan logis kenapa orang lain bisa melihat jasad di peti mati sebagai dirinya, tidak seperti Sungmin yang menolak keras fakta bahwa ia sudah mati karena, sederhana, Sungmin belum rela kehilangan kekasihnya.

Kesimpulan yang itu... untuk beberapa alasan, tidak akan ia katakan pada Sungmin sekarang.

"Min." Kyuhyun menengadah, memanggil kekasihnya.

"Kau tenang saja. Aku tidak mati. Kau lihat sendiri tadi pagi aku tidur bersamamu."

Pernyataan itu membuat Sungmin diam dan mengangguk. Itu benar.

Sampai titik ini Sungmin memang masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak tahu apa yang harus ia yakini sebagai kenyataan dan mimpi.

Ia belum yakin, tapi ia merasa tenang. Senyum lega itu perlahan muncul di wajahnya. Rasanya sama seperti saat ia dibully dan ada Kyuhyun di sampingnya, menemaninya, dan membuktikan kalau ia tidak sendirian.

Saat menikmati semuanya, tiba-tiba Sungmin merasa bohlam lampu seperti muncul di kepalanya. Dengan semangat ia mengangkat Kyuhyun ke pangkuannya dan menatapnya lama.

"Kyuhyun...bagaimana kalau...ini misalkan saja ya. Bagaimana kalau misalnya..."

"Misalnya?"

"...kau benar-benar dikutuk?"

Melihat ada semangat yang terpancar di mata Sungmin, Kyuhyun menyatukan alisnya, itupun seandainya alis boneka bisa menyatu. "Kenapa kau kelihatannya senang sekali kalau aku dikutuk?"

"Ini kan misalnya."

"Siapa di dunia ini yang berani mengutukku?"

Aku!

Sungmin rasanya ingin meneriakkan kalau ia mengutuk Kyuhyun karena ia selingkuh. Tapi, ia tidak yakin harus mengatakannya saat ini.

"Baiklah ini juga hanya sekadar jawaban misalkan. Kau pernah dengar cerita tentang pangeran yang disihir menjadi kodok, tapi kemudian berubah menjadi pangeran lagi saat ada Puteri cantik yang menciumnya?" Kyuhyun tiba-tiba memotong pikiran Sungmin.

Sungmin mengangguk. Oh ia suka dongeng.

"Mau coba mengikuti jalan ceritanya? Siapa tahu nasibku seperti pangeran kodok yang itu."

Sungmin menaikkan alisnya. Tidak ada salahnya mencoba, 'kan? Toh kalau gagal, tidak akan ada yang dirugikan.

Ia mengangkat tubuh boneka itu, membawanya mendekat ke wajahnya dan menciumnya dengan menutup matanya.

Dalam hati Sungmin berharap cara ini berhasil. Ia mau ada titik terang atas apa yang menimpanya saat ini.

Dan...

Nihil.

"Mungkin bukan, ya."

Mungkin itu hanya salah satu modus Kyuhyun untuk mendapat ciuman.

Setelahnya, kedua pemuda itu tenggelam dengan pikiran masing-masing. Perlahan Sungmin menurunkan Kyuhyun dan membiarkannya duduk di tempat tidurnya.

"Kyuhyun, karena kau tiba-tiba membawa cerita dongeng, bagaimana kalau Princess Odette? Putri yang disihir menjadi angsa, tapi berubah kembali menjadi Putri saat tengah malam hingga menjelang pagi."

"Memang ada cerita semacam itu? Ngomong-ngomong, kenapa kau tahu cerita-cerita Princess?"

Sungmin memutar bola matanya gerah. "Maaf ya membuatmu malu karena pacarmu ini tahu cerita-cerita Princess."

Kyuhyun tertawa kecil. "Baiklah, lalu bagaimana angsa itu melepaskan kutukannya?"

Sungmin mengingat-ingat. "Dia butuh cinta sejati nan abadi dari seorang pangeran."

Cinta...apa katanya?

"Aku lebih suka kalau aku dikutuk jadi kodok dan hanya butuh ciuman."

"Kenapa?"

"Kau tahu, susah membuktikan kalau cinta itu sejati nan abadi seperti yang kau bilang. Kita masih terlalu muda untuk membicarakan sesuatu yang namanya cinta."

Tawa sinis dari Sungmin. "Tentu saja, mengingat ada yang selingkuh disini."

"Aku tidak selingkuh."

"Jangan mulai, Kyuhyun."

"Aku memang tidak. Kau membuatku sedih kalau terus-terusan menuduhku selingkuh, Pumpkin." Kyuhyun berbicara dengan nada sedih yang terdengar sangat dibuat-buat di telinga Sungmin.

"Diam kau. Kita harus tunggu sampai tengah malam dan lihat apakah kau berubah jadi manusia lagi. Kalau benar kita akan mengikuti cerita Princess Odette. Deal?"

Kyuhyun diam nyaris semenit. Ada beberapa hal yang menggangunya, tapi ada satu yang paling mengacaukan otaknya.

"Tunggu. Kalau benar, berarti aku jadi Princess?" Boneka itu menggerakkan tangannya gusar, tidak terima. Sungmin bisa membayangkan wajah Kyuhyun yang membuat ekspresi jijik sekarang. Tiba-tiba ia merindukan sosok Kyuhyun saat ini.

"Itu bukan poinnya, Kyuhyun sayang," balas Sungmin sarkatis.

"Poinnya adalah kau tidak jadi putus denganku. Benar kan?"

Oh, benar juga. Perselingkuhan Kyuhyun dan status hubungan mereka belum dibahas sejak tadi.

Tapi, mungkin itu bisa menunggu. Kalau ia sudah bisa mengembalikan keadaan Kyuhyun, ia akan membalas kelakukannya nanti.

"Pertanyaan ditangguhkan sampai kita memecahkan misteri ini."

Yang terpenting sekarang adalah mencari peencerahan dari semua ini. Oh, tidak, tidak, bukan itu, yang terpenting adalah menutup rapat-rapat kenyataan kalau penyebab Kyuhyun berubah wujud adalah dirinya sendiri. Ia tidak mau dikatai dukun atau apalah karena ia bisa mengubah wujud seseorang hanya dengan membaca mantra dari sebuah buku.

Sungmin tidak mau ada noda di namanya.

Ia ingin selamanya putih-bersih seperti yang orang lain pikirkan.

.

.

.

To Be Continued

Pertama-tama, saya mau ngasih tau kalo saya ga tau gimana prosesi pemakaman di Korea, tapi yang jelas lebih dari sehari, jadi tolong maklumi ketidakrelevan-an yang ada disini. Toh dari dasarnya ff ini absurd

Kedua-dua, dulu pernah ada yang bilang penggunaan kata homo kasar, jadi saya minta maaf kalo mengganggu. Pengunaan kata homo disini untuk ngasih kesan santai.

Ketiga-tiga, ...saya udah rada ga ada hasrat ngerjain ff ini, jadi ga janji apdet kapan, bisa jadi discontinued terus saya apus :( tergantung mood sama respon.

Keempat-empat, menerima dengan senang hati semua kritik dan maaf ga bales review, saya baca semua kok dan semuanya bikin saya ngerasa bersalah T.T

Kelima-lima, chapter ini dipublish tanpa pengeditan sejak dibuat bulan desember taun lalu. Maaf lagi diumpetin selama 7 bulan

Terakhir...HAPPY JOYDAY SEMUANYAAAAAA HAHAHAHA POKOKNYA SEMUA JOYER HARUS HAPPY. HARUS. HARUS BANGET. KITA UDAH NGEJALANIN NYARIS SATU TAUN SEDIH SEDIHAN BAPER-BAPERAN GALAU-GALAUAN DAN KITA PANTES BUAT HAPPY. YANG MASIH PROSES PENYEMBUHAN SEMOGA CEPET SEMBUH. POKOKNYA SEMUANYA HARUS HAPPY. KARENA PERTAMA INI JOYDAY DAN KEDUA INI JOYDAY #dicapslockdengansengaja

Saya masih di kapal ini kalo kalian nyari (ya kalo misal ada yang nyari) hahahaha diajak ngobrol aja kalo misal ketemu dimana kek gitu. Btw kalo ada yang mau nanya nanya kontak saya atau semacamnya, pm aja jangan takut, saya ga gigit. Sumpah.