Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Gender:Tragedy,Romance.

Warning: CANON, OOC (mungkin), Gaje, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

Don't Like? Don't Read!

Naruto membelalakan matanya ketika membaca pesan tersebut. Ia langsung berlari meninggalkan ruangannya dengan pertanyaan di hatinya.

'Apa yang kau rencanakan sebenarnya Gaara?'

Ia kembali teringat dengan percakapannya bersama Gaara beberapa saat lalu

Flashback

Pintu Kantor Naruto diketuk, lalu munculah Gaara.

"Sedang apa kau disini Gaara? Kukira kau mengantarkan Sakura-chan pulang?"

"Aku sudah mengantarnya."

Lalu pandangan Gaara teralih pada Hinata yang berada disana.

Hinata tahu pandangan Gaara mengatakan ia ingin berbicara berdua dengan Naruto dan ini mungkin urusan pria, jadi ia berpamitan kepada Naruto.

"S-sebaiknya a-aku p-pulang duru Naruto-kun"

Naruto juga mengerti pandangan itu, dan ia mebiarkan Hinata pergi. "Berhati-hatilan dijalan Hinata-chan"

Setelah Hinata keluar dan pintu ditutup Naruto bertanya kepada Gaara

"Apa yang ingin kau bicarakan Gaara?"

"Naruto bolehkah aku meminjam lapangan ujian chunin?"

Naruto menyeritkan alisnya heran, "untuk apa kau memijam lapangan ujian chunin Gaara?"

"Aku membutuhkannya untuk menyelesaikan sesuatu"

"Baiklah kalau itu maumu, kau akan ku ijinkan untuk memakai lapangan itu."

Meski mengijinkan, Naruto tetap bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Gaara, Naruto tahu Gaara bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan, tingkat pengontrolan emosinya pun bagus sekarang, ia tidak mudah meledak, Itulah yang membuat jalan pikirannya agak susah ditebak. Apapun urusan yang akan di selesaikan Gaara, Naruto rasa ini suatu hal yang penting. Makannya ia mengijinkan Gaara untuk memakai lapangan ujian chunin.

"Dan aku ada dua permintaan untukmu Naruto"

Naruto mencoba menahan rasa penasarannya tentang apa yang akan Gaara lakukan.

"Apa itu Gaara?"

"Pertama, apapun yang aku lakukan di lapangan ujian chunin jangan coba menggangu atau menginterupsi. Syarat ini tidak hanya untukmu, namun untuk semua shinobi Konoha"

Naruto memicingkan matanya, namun ia tetap menyetujuinya. "Baiklah, Lalu yang kedua?"

"Buatlah Sakura sibuk selama dua sampai tiga hari ini, apapun hal itu. Dan aku minta kau mengirim seseorang untuk membantunya membereskan barang yang akan dibawa ke Suna."

"Hn baiklah. Tapi bolehkah aku bertanya satu hal?"

"Hn?"

"Apa yang sebenarnya akan kau lakukan?"

Gaara tersenyum, "Kau nanti akan tahu sendiri Naruto"

Lalu Gaara berubah menjadi butira butiran pasir

Flashback end

.

.

Sasuke sampai di lapangan ujian chunin, disana sudah ada Gaara yang menyeringai. Sasuke bersumpah wajah Gaara yang sekarang tiga kali lebih menyebalkan daripada Naruto yang minta ditemani ke kedai Ichiraku pada pagi hari disaat hari libur.

"Kukira kau tidak datang Uchiha"

"Tch! Kau bercanda"

Wajah Gaara mulai terlihat serius.

"Seperti nostalgia bukan? Dulu kita bertarung juga disini saat ujian chunin. "

Sasuke diam.

"Setelah aku dikalahkan Naruto yang waktu itu membantumu aku tidak bertemu lagi denganmu"

Sasuke masih diam

"Namun yang ku dengar kau pergi dari Konoha, meninggalkan teman-teman mu dan orang yang mencintaimu demi membalaskan dendammu"Gaara menekankan kata-kata 'orang yang mencintaimu'

Sasuke masih diam, namun kali ini kepalan tangannya dan rahangnya semakin mengeras

Sadar akan hal itu seringai kembali tercetak di wajah tampan Gaara, "Sekarang kau menyesalinya bukan?"

"Diam kau Brengsek!" Mata Sasuke tidak lagi onyx, melainkan mangekyou sharingan.

Tangannya kemudian membentuk beberapa segel, dikeluarkannya jurus api "Katon Gokakyu no Jutsu!" Kemudian bola api yang sangat besar keluar dari mulutnya.

Gaara tidak bergeming dari tempatnya hanya pasir-pasirnya yang menyelubungi tubuhnya berbentuk seperti bola.

Tanpa jeda Sasuke kembali menyerang Gaara dengan jurus lainnya.

.

Shikamaru dan Temari sampai di tempat kejadian, Temari langsung mengeluarkan kipasnya untuk menghentikan kegiatan Sasuke dan Gaara, namun tangannya ditahan oleh Naruto.

Shikamaru baru menyadari ternyata disana seluruh teman Rokie-12 nya kecuali Ino dan Sakura sudah berada disana menyaksikan Sasuke dan Gaara bertarung tanpa melakukan apapun. Pasti Sai yang mengirim pesan untuk mereka pikirnya.

Naruto kemudian membuka suara, "Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Kita disini hanya untuk memastikan mereka untuk tidak saling membunuh"

Yang lain pun mengangguk setuju dengan perkataan Naruto, meskipun mereka tidak tahu apa sebetulnya maksud semua ini, namun mereka yakin ada alasan lain yang membuat Naruto tidak melerai Gaara dan Sasuke.

.

Sasuke kemudian mengeluarkan jurus apinya lagi yang benbetuk seperti bola-bola "Katon Goryuka no Jutsu!"

Gaara menghalau bola-bola itu dengan pasirnya.

Sasuke mengeluarkan kusanagi nya dan ia mulai menyerang Gaara dalam jarak dekat, Gaara yang merasa terdesak menghindarinya dengan menahan gerakan kusanagi Sasuke dan bergerak mundur.

Sasuke kemudian mundur kembali dan mempersiapkan jurusnya,"Chidori Eiso!"

Kemudian terlihatlah cahaya biru seperti tombak panjang dari tangan kiri Sasuke yang mengarah kearah Gaara.

Gaara terlambat menghindar, cahaya itu melukai pelipisnya dan mengeluarkan darah.

"Amaterasu!"

Beruntunglah kali ini pasir Gaara memblokir Api kehitaman tersebut dengan tepat.

Sasuke sudah terengah-engah karena staminanya dipakai untuk berbagai macam ninjutsu, sedangkan Gaara masih dengan wajah datarnya.

.

Shikamaru yang memperhatikan pertarungan mereka menyeritkan alisnya heran, karena menurutnya pertarungan ini aneh.

Shino bertanya, "Kau menyadarinya tidak Shikamaru?"

"Hn, ya aku tahu"

Temari bertanya, "Apa maksud kalian?"

Akhirnya Shikamaru menjelaskan, "Coba kau perhatikan, sejak tadi Sasuke mengeluarkan jurus-jurusnya untuk menyerang Gaara. Namun apakah kau melihat Gaara menyerang Sasuke? Gaara hanya mencoba menghindar dan melindungi diri dengan pasir-pasirnya"

Temari memperhatikan mereka, lalu mengangguk setuju, "Kau benar Shika"

Shikamaru berpikir dan mencoba menerka-nerka apa maksud pertarungan ini.

'Apa yang sebenarnya direncanakan anak itu'

.

Ternyata tidak hanya Shikamaru dan Shino yang menyadari hal itu, Sasuke pun juga menyadarinya.

'Apa sebenarnya yang diinginkan si merah itu heh? Baiklah kalau tidak ingin bertarung ninjutsu akan kuberikan taijutsu'

Sasuke kembali menyerang Gaara dengan jarak dekat, sekarang ia menggunakan taijutsu. Gaara sudah tidak menggunakan pasirnya untuk menghindari serangan Sasuke.

Tendangan, tangkisan, pukulan mereka lakukan.

Dari segi kemampuan taijutsu memang meraka tidak seimbang. Tentu saja Sasuke yang lebih mengungguli sampai Gaara terkapar di tanah dengan luka-luka lebam dan darah di tubuhnya. Sedangkan Sasuke hanya mendapatkan luka robek pada bibirnya.

Sasuke mendekati Gaara yang terkapar di tanah dan memegang kerah jubah kagenya, Gaara malah menanggapinya dengan seringaian.

"Kau bodoh Sasuke"

"Kau!" Sasuke sudah mengepalkan tangannya dan akan meninju wajah Gaara.

"KENAPA KAU MEMANCING EMOSIKU HAH?!" ia menarik kembali tangannya lalu melemparkan tubuh Gaara ke tanah , dadanya naik turun menahan gejolak emosi.

Gaara tersenyum kali ini, tidak lagi menyeringai. "Karena seharusnya memang aku tempat pelampiasan emosimu Sasuke."

Sasuke tertegun, air mukanya mulai berubah, ia menyadari maksud pertarungan ini sekarang. Namun apakah ini masih termasuk pertarungan? Mengingat Gaara tidak melakukan penyerangan, hanya menghindar dan mempertahankan diri.

"Tch! Memuakkan!"

Lalu Sasuke meninggalkan Gaara yang terkapar di tanah dengan luka yang cukup parah.

.

.

.

.

Ino dan Sakura sedang berkutat dengan barang-barang Sakura yang akan dibawanya ke Suna.

"Kenapa kau bisa ada disini pig?"

"Entahlah Naruto memanggilku dan menyuruhku membantumu, sepertinya itu karena permintaan calon suamimu."

Sakura hanya manggut-manggut tanda mengerti. Sementar Ino menghela napas, ia ingin menanyakan sesuatu kepada sakura namun ia terlihat ragu.

"Sakura, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"

Sakura menengokan kepalanya kearah rasa heran, kalau Ino sudah memanggilnya menggunakan nama aslinya tidak dengan panggilannya yang biasa tandanya Ino sedang ingin berbicara dengan serius, Sakura tahu cepat atau lambat Ino akan membahasnya, namun ia mencoba mengalihkannya.

Dengan nada mengejek ia menjawab, "Bukankah selama ini kau selalu bertanya seenaknya pig? Bagaimana hubunganmu dengan Sai? Ku dengar dia sudah melamarmu"

Ino menjawab dengan sarkasme, "Ya benar, aku berterimakasih karena pengalaman seseorang yang membuat para laki-laki di Rokie-12 melamar para pasangan mereka dengan cepat. Mereka tidak mau mengalami nasib yang sama seperti seseorang tersebut."

Tanpa member jeda untuk Sakura menanggapi Ino kembali berkata "Aku sudah menjawab pertanyaanmu jadi sekarang jangan mengalihkan pembicaraan! "

Sakura hanya terdiam menanggapinya, ia tahu betul siapa seseorang yang dimaksud Ino, Sakura tidak bodoh. Secara tidak langsung Ino menyindirnya juga dengan omongannya barusan.

"Apa kau yakin melakukan ini Saki?"

Sakura hanya tersenyum miris, "Ini yang terbaik Ino, desa akan menjalin kerjasama yang bagus, tidak ada kemungkinan perang yang akan terjadi, dan semua orang bahagia."

Nada suara Ino meninggi, "Apa kau yakin semua orang akan bahagia hah?! Bagaimana dengan perasaanmu? Denga perasaan Sasuke? Apa kalian bahagia?!"

Sakura mecoba mempertahankan suaranya agar tidak terdengar bergetar.

"Ino aku hanya ingin Sasuke bahagia. Ia tak mungkin bahagia bila bersama denganku Ino."

"Apakah kau ingat saat perang berlangsung ia berjanji akan melindungi desa? Kalau dia bersamaku ia tidak bisa memenuhi janjinya. Yang ada kami membawa masalah untuk Konoha."

Ino terdiam mendengarkan ucapan Sakura.

"Kau pun juga tahu kan kalau ia merupakan keturunan terakhir dari klan Uchiha yang begitu hebat di Konoha, dan ia mempunyai impian untuk membangun klannya kembali? Kalau dia bersamaku Konoha akan kehilangan salah satu klan terbaiknya, dia juga tidak akan bisa memenuhi impiannya, karena kemungkinan kami hidup hanya untuk bersembunyi dan berlari karena telah menjadi buronan oleh Negara aliansi Shinobi Ino!"

Ino memeluk Sakura, Ino yakin meski tidak ada air mata disana ia bisa melihat kesedihan yang terpancar jelas saat Sakura berbicara tadi. Ino tak ingin menekan sahabatnya lebih jauh dari ini, karena ia tahu beban sahabatnya sudah terlalu berat untuk ditambahkan.

"Aku menghargai keputusanmu Saki. Sasuke sangat beruntung dicintai oleh orang sepertimu."

Sakura melepaskan pelukan mereka dan tersenyum tulus, "Kau memang yang terbaik pig"

Ino menggenggam tangan Sakura dan mengusap punggung tangannya lalu tersenyum."Berjalan-jalanlah di sekitar desa untuk melepas penatmu dan melupakan sejenak masalahmu Sakura. Ku yakin kau membutuhkan itu."

.

.

.

Setelah melihat Sasuke pergi anggota Rokie-12 dan Temari menghampiri Gaara yang masih terkapar di lapangan ujian chunin.

Temari berteriak kesal dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Ia betul-betul mengkhawatirkan keadaan Gaara.

"Apa yang kau lakukan baka ototou!"

Shikamaru memeluk dan mengusap punggung temari, mencoba menenangkan kekasihnya sambil berkata,

"Tenanglah Temari, ia pasti punya alasan khusus melakukan hal ini."

Naruto dan Kiba membantu berdiri Gaara dan memapahnya.

Kiba berkata, "Kau bisa terbunuh Gaara! Apa sebenarnya maksud tindakanmu tadi?!"

"Aku hanya mencoba menebus rasa bersalahku karena aku tidak bisa berbuat banyak untuk perjodohan ini. Kurasa ini tidak seberapa dibandingkan luka yang dia rasakan."

Naruto menimpali, "Kau seharusnya tidak melakukan hal ini Gaara."

Gaara menunjukan seringaiannya, "Aku tahu Naruto, tapi dia perlu melampiaskan emosinya. Setidaknya dengan ini emosinya terlampiaskan kepada orang yang seharusnya, dan tidak ada training field lagi yang hancur. "

Naruto hanya tersenyum menanggapi perkataan Gaara, ya Gaara memang selalu mempunyai suatu alasan untuk melakukan sesuatu. Training field yang Sasuke hancurkan kemarin memang belum sepenuhnya diperbaiki. Entah berapa kerugian lagi yang akan di tanggung Konoha bila Sasuke menghancurkan lagi Traning field yang belum sepenuhnya diperbaiki itu untuk melampiaskan emosinya.

Kiba terheran dan kembali bertanya, "Darimana kau tahu dia perlu melampiaskan emosinya?"

Kali ini Gaara tersenyum, "Karena aku juga seorang pria Kiba."

Semua orang tertegun atas jawaban Gaara barusan, tidak ada yang menyangka seorang Kazekage melakukan tindakan seperti itu.

Temari kembali angkat suara, "Kau harus dibawa ke rumah Sakit Gaara!"

Gaara kemudian mengangguk, "Hn, baiklah." Lalu ia mengarahkan pandangannya kearah Naruto

"Naruto terimakasih karena kau memenuhi permintaanku yang pertama. Kumohon untuk permintaan yang kedua kau bisa memenuhinya."

Naruto mengangguk sedangkan yang lain hanya menyeritkan alis tanda tak mengerti.

Gaara berkata, "Untuk kalian semua, ku mohon jangan sampai Sakura tahu tentang kejadian ini."

Semua mengangguk mengerti. Lalu Gaara diabawa ke Rumah Sakit Konoha.

Mereka tidak sadar dengan sepasang onyx hitam setajam elang yang memperhatikan pembicaraan mereka sambil bergumam, "Arigato Gaara"

.

.

.

Sakura mengikuti saran Ino, ia pun berjalan-jalan menyusuri jalan desa yang mungkin akan jarang ia lewati nantinya. Matanya terbelalak saat mendapati sosok seseorang yang begitu ia kenal berjalanan berlawanan arah denganya dan terdapat luka di wajahnya, lebih tepatnya bibirnya yang sobek.

"Sasuke-kun?"

Sasuke kemudian mengangkat kepalanya yang sedang menunduk, "Sakura"

"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajahmu terluka seperti itu?"

Sasuke hanya terdiam tidak memberikan jawaban, ia hanya memandang mata emerald Sakura, seakan-akan dengan melihat mata emerald itu lukanya bisa langsung sembuh.

Sakura langsung menarik lengan Sasuke dan membawanya menuju Uchiha Mansion.

Ia mendudukan Sasuke di sofa, lalu mengambil beberapa peralatan dan obat di kantung ninja medisnya yang selalu ia bawa kemanapun.

Sakura memegang wajah Sasuke, lalu mulai mengobati luka bibir Sasuke yang sobek.

"Sasuke-kun? Kenapa kau bisa terluka? Apakah kau baru pulang dari misi?"

Sasuke menjawab dengan wajah datarnya, "Tidak"

Sakura semakin penasaran, Ayolah semua orang tahu Sasuke merupakan salah satu ninja yang hebat, apa yang membuatnya sampai terluka? Apalagi ia tidak habis menjalankan misi.

"Lalu kenapa kau bisa terluka?"

"Hn"

Sakura memutar bola matanya, "Itu bukan sebuah jawaban Sasuke-kun"

"Hanya berkelahi dengan orang bodoh"

Sakura mengerutkan keningnya, "Naruto maksudmu?"

Sasuke hanya kembali mengeluarkan jawaban ambigunya, "Hn"

"Astaga Sasuke-kun kenapa kau berkelahi dengan Naruto?! Apakah luka Naruto juga parah? Memangnya apa yang membuat kalian berkelahi hah?! Kalian bukan anak-anak lagi Sasuke-kun! Kalian seharusnya bersikap dewasa jangan seperti waktu kalian masih genin dulu! Mungkin dulu aku bisa sering melerai kalian namun seka-"

Belum selesai Sakura memberika wejangan kepada Sasuke, Sasuke telah memotongnya.

"-Aku tahu mungkin sekarang kau tidak bisa melerai kami lagi karena kepindahanmu ke Suna"

Deg!

Sakura mencoba tertawa, namun suara yang keluar malah sangat aneh.

"Hahaha Aku tidak selamanya berada disana kan? Aku masih bisa sesekali mengunjungi kalian"

Hening.

Tidak ada yang kembali memulai pembicaraan, hanya pergerakan lincah tangan Sakura yang mencoba mencari luka lainnya di tubuh Sasuke.

Setelah selesai dan memastikan kondisi seluruh tubuh Sasuke baik-baik saja, Sakura membereskan barang-barangnya. Lalu ia berdiri sambil berpamitan.

"Sasuke-kun aku aka-"

Sakura tak dapat melanjutkan kalimatnya, sekarang tubuhnya sudah terduduk di sofa karena tarikan tangan Sasuke.

Lalu Sasuke merebahkan diri dan tidur diatas paha Sakura.

"Ku mohon jangan pergi. Untuk sekarang biarkan seperti ini. Hanya sebentar saja"

Sakura hanya diam karena masih kaget dengan perlakuan Sasuke barusan.

Kemudian ia membereskan helaian raven yang menutupi muka sang empunya.

Keadaan cukup hening, hanya terdengar suara nafas teratur dari Sasuke dan debaran jantung Sakura. Merasa Sasuke sudah terlelap, sakura mulai berbicara.

"Kau harus bahagia Sasuke, aku mohon"

Air mata Sakura turun, tanpa isakan. Ia kemudian mengecup kening Sasuke penuh dengan perasaan, seakan-akan itu hal terakhir yang bisa ia lakukan di dunia, lalu ia membisikan sesuatu ke telinga Sasuke.

"Serahkan semuanya kepada takdir."

Kemudian Sakura mengangkat kepala Sasuke dan ia berdiri. Lalu menggantikan posisi pahanya dengan sebuah bantal meninggalkan Sasuke yang tertidur di sofa sendirian.

.

.

.

.

Sakura melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit, ia bosan kalau diam di rumah dan tidak melakukan misi apapun. Sudah dua hari ia hanya berdiam diri di rumah.

Ia juga heran dengan sahabatnya Naruto yang melarangnya untuk bekerja di rumah sakit untuk sementara waktu. Katanya Sakura harus menjaga kesehatannya agar tidak lelah sebelum pernikahannya. Alasan macam apa itu? Padahal pernikahannya masih seminggu lagi.

Sakura ke rumah sakit tujuannya untuk menemui Ino, meskipun ia dilarang bekerja di rumah sakit tapi kalau untuk menemui sahabatnya tidak apa-apa kan? Setidaknya itulah yang ia pikirkan sampai ia mendengar suara.

"Shizune-senpai luka kazekage belum bisa aku sembuhkan sepenuhnya, mungkin lusa baru dia akan keluar rumah sakit. Padahal Naruto sudah menyuruhku agar sebisa mungkin kazekage sembuh hari ini. Aku membutuhkan bantuanmu senpai, aku kan tidak sehebat Sakura dalam ilmu medic-nin."

"Baiklah setelah aku selesai dengan pasien-pasienku aku akan membantumu untuk menyembuhkan kazekage."

Sakura menutup mulutnya yang menganga, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Ino?! Shizune-senpai?! Bisakah kalian jelaskan padaku apa yang telah terjadi?"

Shizune dan Ino menoleh, dan tubuh mereka menegang mengetahui siapa yang memanggil nama mereka.

Ino merasa napasnya tercekat, ia menelan ludah dengan susah payah melihat tatapan Sakura yang terkesan mengintimidasi dirinya.

'Kami-sama! aku akan mendapatkan masalah setelah ini' batinnya

Kondisi Shizune pun tidak jauh dari Ino, mukanya sudah pucat dan ia berkeringat dingin.

"S-Sa-Sakura-c-chan "

Sakura menautkan alisnya, menunggu jawaban dari mereka. Sampai ada sebuah suara berat yang menginterupsinya

"Sakura"

Sakura pun menoleh dan mendapati Gaara yang tengah berdiri di belakangnya dengan beberapa lebam di wajahnya.

"Gaara?"

"Ikut aku"

Gaara membawa Sakura ke ruang perawatannya.

Sakura segera membantu Gaara berbaring dan mulai mengalirkan chakra kehijauan dari tangannya untuk mengobati Gaara.

"Apa yang membuatmu menjadi seperti ini Gaara? "

"Aku bertemu para bendit ditengah perjalananku menjalankan urusan"

'Gaara adalah seorang shinobi dengan perisai terkuat, mungkinkah dia akan terluka sebegitu parahnya hanya karena para bandit?'

'Maafkan aku karena aku telah membohongimu Sakura'

"Kapan?"

"Dua hari yang lalu"

Deg!

'Dua hari yang lalu? Mungkinkah….. Sasuke dua hari yang lalu juga mengalami luka'

"Hanya berkelahi dengan orang bodoh"

Kata-kata itu terngiang kembali di telinga Sakura, Memang awalnya Sakura mengira bahwa Naruto orang yang dimaksud Sasuke, Namun Sakura tidak yakin. Karena ia melihat kondisi Naruto yang segar bugar tanpa ada luka sedikitpun di kulitnya. Tapi mungkin saja Naruto lebih hebat dari Sasuke. Tapi melihat Naruto yang biasa saja seperti tidak ada beban membuatnya berpikir kembali.

Terlalu banyak spekulasi di dalam otaknya.

Sakura menggelengkan kepalanya mencoba mengusir apa yang ada di pikirannya.

Gaara yang melihat tingkah Sakura bertanya, "Kau kenapa Sakura?"

"Tidak apa-apa, aku hanya kepikiran sesuatu"

.

.

.

Pada sore harinya Sasuke melangkahkan kakinya ke taman rumah sakit Konoha, ia berjanji akan bertemu dengan seseorang disana.

"Apa kabar Sasuke?"

"Seperti yang kau lihat, bagaimana denganmu Gaara?"

"Aku sudah jauh lebih baik"

"Hn"

Suasana hening tercipta diantara mereka, sampai salah satunya membuka suara kembali.

"Gomen"

"Hn, Aku juga meminta maaf karena memancing emosimu Sasuke"

"Hn"

Setelah terdiam beberapa saat Sasuke kembali angkat suara,

"Gaara, bolehkah aku meminta satu hal?"

"Apa itu?"

"Berjanjilah untuk melindungil Sakura, buatlah dia bahagia"

"Aku akan menjaganya dengan nyawaku Sasuke! Aku berjanji"

Sasuke tersenyum,"Hn. Aku tahu itu, Kalau kau tidak bisa menjaga dan membahagiakannya aku akan mengambilnya darimu"

TBC


Maaf updatenya lama! Aku sibuk bolak balik ngurus keponakan yang sakit tifus, setelah dia sembuh malah aku yang kena -_-

Maaf baru bisa update sekarang! selamat dinikmati, mungkin feel pertarungnnya kurang dapet ya? aaaah aku hanya mencari referensi dari beberapa episode di Naruto dan Google. Maaf kalo kurang memuaskan

Maaf belum bisa bales review satu satu ya hehehe

Rata-rata yang review nanyain masalah pairing, kalo itu aku simpen dulu sampe akhir. jadi yang mau tau baca terus lanjutannya :p

Oh iya mungkin fict ini juga akan selesai dalam beberapa chapter lagi. Sekali lagi terimakasih buat review, fav, follow, kritik dan saran yang diberikan. aku sangat menghargai itu :D

Sampai jumpa di chapter berikutnya!