Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Gender:Tragedy,Romance.

Warning: CANON, OOC (mungkin), Gaje, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

Don't Like? Don't Read!

Sasuke terus berlari dengan kencang, tidak perduli dengan kakinya yang sudah terasa nyeri. Ia bahkan sempat terpeleset beberapa kali karena hujan yang mengguyur membuat jalan yang dilaluinya licin. Hanya ada satu yang dipikirannya, yaitu Sakura. Kalau sampai sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya entahlah apa yang akan Sasuke lakukan. Membayangkannya saja Sasuke tidak sanggup.

Ia mulai merasa chakra Sakura dan Gaara yang semakin dekat dan ada satu chakra lainnya yang kuat. Sedangkan chakra beberapa orang lainnya terasa samar. Dan ia terus mempercepat larinya tanpa perduli dahan di hutan tersebut mengoyak baju dan rompinya.

….

Sakura hanya mampu memejamkan matanya menunggu ajal menjemputnya.

Pedang sang pemimpin bandit itu terayun lalu …

"SAKURA!"

Crassssh!

Gaara's POV

Tes

Tes

Air mata jatuh begitu saja dari kedua kelopak mata Gaara bersamaan dengan hujan yang deras mengguyur bumi.

'Kami-sama, inikah akhirnya? Apakah ini pembalasanmu atas perbuatanku di masa lalu yang telah membunuh banyak orang tidak bersalah ketika tubuhku diambil alih Shukaku? Kami-sama aku memohon kepadamu semenjak dulu, aku selalu bercita-cita menjadi ayah yang baik untuk anakku kelak. Aku berjanji tidak akan memilih jalan yang ditempuh ayahku dengan mengorbankan jiwa istri dan masa depan anaknya sendiri. Berilah aku kekuatan untuk melindungi mereka.'

Dengan sisa chakra dan kekuatan terakhirnya gaara mengambil pedang yang terjatuh di dekat tangannya tadi dan melemparkan pedang itu tepat kearah leher sang bandit.

Crassssh!

"SAKURA!"

Sasuke melihat kejadian yang begitu cepat itu di depan mata kepalanya sendiri, ia melihat sang bandit yang tengah mengarahkan pedangnya tepat kea rah leher Sakura, lalu kemudian ia melihat pesang yang diselimuti chakra kebiruan menancap di leher sang bandit dan membuat bandit tersebut tersungkur tak berdaya di tanah.

Yang ia lakukan selanjutnya adalah menangkap tubuh Sakura yang limbung dan melihat ke arah sumber pedang berchakra tadi. Ia melihat Gaara yang bergumam "Maafkan aku, Sakura" lalu jatuh tak sadarkan diri.

Sasuke sedang termenung diatap gedung kazekage, lalu Shikamaru datang dan duduk di sebelah pemuda itu.

"Maafkan aku,"

Shikamaru menepuk pelan pundak teman satu angkatannya di akademi itu.

"Tak usah kau pikirkan Sasuke, aku justru berterimakasih kepadamu karena sudah menolong mereka."

"Ia sudah tidak sadar dua hari Shikamaru, Aku tidak bisa membayangkan kalau ia tahu bahwa …"

Sasuke tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Hanya rasa penyesalan yang ia rasakan di hatinya. Mengapa harus Sakura? Mengapa ia harus terlambat?

"Kau tahu Sasuke? Kalau saja saat itu kau tidak datang-" Shikamaru melanjutkan perkataannya dengan nada lirih "-mungkin kita semua akan kehilangan Sakura dan calon keponakanku juga."

Sakura mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Kepalanya terasa pening dan sekujur tubuhnya terasa nyeri. Ia baru menyadari kalau ia sedang berada di kamar Gaara di rumah utama kediaman Sabaku. Ia mulai mengingat-ingat apa kejadian yang terjadi sebelumnya, Mungkin itu efek dari kunai beracun yang waktu itu melukainya. Ah, ia jadi mengingat orang terakhir yang ia lihat sebelum ia jatuh pingsan, sosok itu … sosok cinta pertamanya. Hatinya berdenyut mengingat kejadian itu.

Sudah setahun mereka tidak bertemu, karena memang setelah ia menikah ia belum pernah mengunjungi Konoha karena mengingat kesibukan suaminya yang begitu padat sebagai kazekage.

Ah, berbicara tentang suaminya, sekarang dimanakah ia berada? Biasanya Gaara akan selalu menemaninya ketika ia sedang sakit. Bahkan walau hanya sakit sepele seperti flu.

Ia mendengar sayup-sayup suara ramai di luar kamar, namun di dalam kamar itu suasana terasa begitu sepi. Tak lama kemudian ia mendengar suara pintu terbuka, dan ia melihat kakak iparnya masuk ke kamar.

Ia melihat Temari dengan mata yang bengkak dan merah seperi habis menangis seharian, butuh waktu sedikit lama untuk Temari menyadari bahwa adik ipar pink nya tersebut sudah sadar dari tidur panjangnya. Melihat hal itu Temari langsung menghambur ke pelukan Sakura. Sambil menangis tersedu-sedu ia berkata,

"Syukurlah kau sudah sadar Sakura."

Sakura hanya tersenyum menghadapi kelakuan kakak iparnya itu. Pasti kakak iparnya itu sangat mengkhawatirkan dirinya dan calon keponakannya yang berada di dalam kandungan sehingga sampai menangis seperti itu.

"Aku tidak apa-apa nee-chan, kau tidak usah menangis seperti itu."

Temari tetap menangis terisak di pelukan Sakura,ia pun membatin,

'Kami-sama aku mohon kepada engkau, aku belum siap mengabarkan hal ini.'

Sambil terkekeh Sakura berkata, "Sudahlah nee-chan, kau pasti akan diledek oleh Shikamaru bila ia melihatmu menangis seperti ini."

Temari mulai mengakat wajahnya dan mulai menghapus air matanya, meskipunisakan tetap terdengar dari bibirnya, namun ia berudaha untuk tersenyum di depan adik iparnya ini.

"Nee-chan, kau tahu dimana Gaara? Apakah ia sedang bekerja hingga tidak menemaniku?"

DEG!

Temari merasa nyawanya seakan dicabut saat itu juga. Pertanyaan Sakura adalah pertanyaan yang paling ia takuti dan pertanyaan yang tak sanggup ia jawab.

Temari hanya mampu mengangguk dan tersenyum getir untuk menjawab pertanyaan Sakura.

"Istirahatlah lagi Saku, aku akan membawa makanan untukmu. Dan Jangan keluar kamar, sedang banyak tamu dari desa lain untuk menjengukmu dan Gaara."

Sakura menyeritkan alisnya heran, 'menjenguk? Bukankah Gaara sedang bekerja? Lalu untuk apa ia dijenguk?

Dengan langkah gontai Temari keluar dari kamar Gaara. Air matanya turun begitu saja membanjiri kedua pipinya. Ia melihat lingkungan sekitar yang ramai dengan orang-orang dari berbagai desa untuk menunjukan penghormatan terakhirnya kepada kazekage muda itu. Siapa yang tidak mengenal Sabaku no Gaara kazekage dari Suna? Di umurnya yang masih muda ia membuat pidato yang membakar semangat perang Pasukan Aliansi Shinobi.

"Temari, sedang apa kau di sini?"

Temari langsung menghambur ke pelukan Shikamaru sambil meracau tidak jelas. Hanya kata kata Sakura sudah sadar, Gaara bekerja dan tidak mau yang Shikamaru tangkap dari racauan Temari. Shikamaru mengerti istrinya ini merasa terpukul atas kepergian adik bungsunya itu, apalagi untuk Sakura yang sedang mengandung anak Gaara. Sakura memang belum diberitahukan mengenai berita kematian Gaara karena setelah kejadian itu ia jatuh tidak sadarkan diri akibat racun yang mengenai tubuhnya. Dan kini setelah Sakura sadar, Shikamaru bingung bagaimana caranya ia memberi tahu Sakura perihal kematian Gaara.

Shikamaru mencoba menenangkan Temari dengan cara mengelus punggung sambil mempererat pelukannya, lalu ia berkata

"Cepat atau lambat Sakura akan mengetahuinya Temari, dan menurutku lebih cepat lebih baik. aku rasa ia akan kecewa kalau ia tahu kita membohonginya dan menyembunyikan semua keadaan ini."

Masih di dalam pelukan Shikamaru Temari mengeratkan pegangan pada baju yang dipakai Shikamaru.

"Bagaimana kalau ia tidak bisa menerima semua ini dan malah melakukan suatu tindakan yang membahayakan? Aku takut Shika, cukup sudah aku kehilangan Gaara, aku tidak ingin kehilangan Sakura ataupun calon keponakanku."

Tangan Shikamaru beralih dari punggung Temari menuju dagunya, setelah itu ia mengangkat dagu Temari agar ia bisa melihat langsung matanya.

"Aku yakin Sakura bukan orang yang seperti itu, setelah kita memberitahunya, maka tugas kita selanjutnya adalah memberinya semangat dan kekuatan, Temari."

Keesokan paginya terlihat banyak orang yang sedang berkumpul di sebuah ruangan. Orang-orang di ruang itu memasang mimic duka, dan cemas. Terjadi perdebatan diantara mereka.

"Aku tidak setuju," Suara Uchiha bungsu terdengar ke seluruh penjuru ruangan tersebut.

"Sampai kapan kita akan menyembunyikan hal ini Sasuke? Semakin lama ini akan semakin berat untuk Sakura maupun kita!" Kankurou menggeram, kalau saja tidak ditahan oleh Tenten mungkin ia sudah menggebrak meja di depannya.

Kankurou merasa lelah, ia juga merasa kehilangan, sangat kehilangan malah. Namun menurut pendapatnya kalau semakin lama hal ini disembunyikan itu hanya akan menambah luka di hati Sakura maupun mereka. Mengingat ia akan membohongi Sakura terus-terusan tentang keberadaan Gaara nantinya membuat ulu hatinya terasa nyeri. Ia tidak bisa berpura-pura baik-baik saja dan menganggap seolah tidak terjadi apapun di depan semua orang. Itu dapat terlihat jelas dari wajahnya.

Naruto yang juga berada di ruangan itu hanya diam saja, ia bingung harus melakukan apa, andai saja kejadian ini tidak pernah terjadi. Membayangkan kondisi psikis Sakura yang tengah hamil semakin membuatnya kesulitan mengambil keputusan.

"Upacara pemakaman Gaara harus segera dilaksanakan, sampai kapan jasadnya akan disemayamkan? Dan ketika upacara itu berlangsung kita juga tidak mungkin bisa menyembunyikannya dari Sakura." Shikamaru menjawab.

"Kita bisa membuat Sakura tidak sadarkan diri pada hari itu,"

"Cukup Sasuke!" Temari berteriak.

"Aku tahu kau tidak ingin melihat Sakura menderita kembali, namun aku rasa menyembunyikannya bukanlah hal yang baik Sasuke."

Hening, hanya itu yang ada setelahnya, pikiran mereka berkecamuk hal-hal yang mungkin terjadi, bahkan kemungkinan terburuk pun mereka pikirkan terutama Uchiha Sasuke. Tak lama sebuah suara menginterupsi,

"Aku yang akan memberi tahunya,"

"kakashi sensei,"

Sakjra yang baru bangun tidur dengan kondisi yang lebih baik pagi itu menyeritkan alisnya, suaminya belum pulang dari kemarin. Sebanyak itukah tugasnya kali ini?

Sakura melangkahkan kakinya keluar kamar untuk menanyakan perihal ketidak pulangan suaminya kepada kedua kakak iparnya, mungkin saja suaminya masih harus di kantor lebih lama lagi sehingga ia bisa membuatkan sarapan dan makan siang untuknya nanti.

Ketika ia berjalan menuju dapur ia mendengar percakapan beberapa orang meskipun secara samar, ia pun menuju ruang tengah dimana suara itu berasal dan betapa kagetnya ia mendengar isi percakapan tersebut, air mata mengalir begitu saja dari kedua bola matanya.

'Jadi setelah penyerangan itu Gaara meninggal dunia? Bagaimana bisa ninja dengan pertahanan paling kuat terbunuh karena sekumpulan bandit. Dunia pasti bercanda. Itu tidak mungkin kan? Temari-nee kemarin bilang Gaara sedag bekerja di kantor. Mereka ada disini karena untuk mengrjaiku bukan? Mereka pasti marah karena aku tidak member tahu tentang kehamilanku sehingga mereka merencanakan semua ini. Ketika aku sudah menangis tersedu-sedu mereka pasti akan langsung mengeluarkan kejutan mereka bukan? Ini semua pasti bohong'

Sakura mencoba meyakinkan dirinya sendiri, ia mencoba menepis semua tanda-tanda kalau suaminya telah meninggalkannya untuk selamanya. Ia mencoba tidak mengingat wajah sendu dan senyum getir Temari saat ia menanyakan soal suaminya, saat ia tidak boleh keluar kamar, saat suaminya tidak ada disampingnya dan mendampinginya disaat ia tidak sadarkan diri, dengan hadirnya teman-temannya dari Konoha di ruangan tersebut, bahkan Naruto yang seorang Hokage ada disana.

"Aku yang akan memberi tahunya,"

"kakashi sensei,"

Semua orang menoleh kearah sumber suara, mereka membelalakan matanya melihat siapa yang mengerluarkan suara tersebut. Sakura berdiri mematung dengan air mata yang mengalir di kedua matanya.

Semua orang yang berada disana merutuki kebodohan mereka yang tidak menyadari pergerakan chakra Sakura karena terlalu sibuk berdebat dan memikirkan hal apa saja yang mungkin terjadi.

"Sakura?!"

Dengan nada getir Sakura berkata, "Katakan sensei, apakah semua itu benar? Kalian pasti bercanda kan?"

Semua orang yang berada disana terdiam membisu. Mereka terlalu kaget dengan kehadiran Sakura.

"KUMOHON KATAKAN KALAU SEMUA ITU BOHONG SENSEI!"

Sakura berteriak histeris, membuat semua orang yang ada diruangan itu membelalakan matanya. Mereka bingung harus menjawab apa.

"itu benar Sakura."

Suara kakashi meruntuhkan dunia Sakura seketika, betapa ia merasa tidak berguna. Ia seorang medic-nin, seharusnya ia bisa menolong suaminya saat itu kalau bukan karena racun sialan tersebut. Ia seharusnya bisa mengeluarkan tenaga monsternya kalau saja chakranya stabil. Seharusnya ia bisa melakukan sesuatu untuk suaminya, seharusnya Gaara tidak menghabiskan chakranya untuk melindunginya, seharusnya…

Bruukhh!

Sakura jatuh tak sadarkan diri, untungnya sebelum tubuhnya mencapai lantai ada seseorang yang bergerak cepat untuk menangkat tubuhnya. Dan orang itu adalah Sasuke Uchiha.

TBC


chapt 12:

"Aku mencintaimu Gaara"

"Nee-san bolehkah aku pindah ke Konoha? Terlalu banyak kenangan dengan Gaara disini, dan itu menyakitkan"

"Kankurou, mereka tidak mengijinkan Sakura pergi ke Konoha karena ia sedang mengandung pewaris Gaara"


A.N haloooo sudah lama tak mengupdate fict ini!

hahaha minggu depan aku UAS lalu Ujian Praktek setelahnya, doakan yaaa!

Setelah itu selesai kemungkinan jadwal kuliahku udah longgar dan pas liburan nanti aku usahain update fict-fict aku.

Terimakasih buat semua review, fav, maupun alerts semua itu bener-bener jadi asupan semangat buat aku.

love you all,

salam BronzeQueen18290