Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Gender:Tragedy,Romance.

Warning: CANON, OOC (mungkin), Gaje, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

Don't Like? Don't Read!

Sakura jatuh tak sadarkan diri, untungnya sebelum tubuhnya mencapai lantai ada seseorang yang bergerak cepat untuk menangkat tubuhnya. Dan orang itu adalah Sasuke Uchiha.

Semua orang yang ada disana semakin kalut dengan situasi yang ada. Kemunculan Sakura yang tiba-tiba merupakan hal yang mereka tidak pernah duga sebelumnya. Sekarang Sakura yang sedang tidak sadarkan diri tengah berbaring di dalam kamar dan sedang diperiksa oleh Ino.

Temari terlihat risau, ia berulang kali berjalan bolak-balik di depan pintu kamar Gaara menunggu Ino yang memeriksa kondisi Sakura. Kondisi itu tidak jauh berbeda dengan orang-orang lainnya yang menunggu di depan kamar tersebut. Di wajah mereka terlukis kegusaran dan kekhawatiran yang begitu kentara. Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok yang dinantikan orang-orang diluar sejak tadi.

"Bagaimana keadaannya Ino?", suara Naruto mewakili semua pertanyaan orang yang ada disana.

Terlihat guratan kesedihan di wajah cantik medic-nin tersebut, "Keadaan Sakura cukup mengkhawatirkan, penyebabnya mungkin shock."

Terdengar helaan napas dari orang-orang yang berada disana. Kejadian ini begitu mengejutkan. Semua orang berharap ini hanya mimpi buruk dan ketika mereka bangun keesokan harinya semuanya kembali seperti semula. Namun ketika mereka melihat jenazah Gaara yang terbujur kaku di tempat persemayaman membuat mereka tersadar ini adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi.

.

.

Ino dan Temari masih menunggui Sakura sadar di kamar Gaara, keheningan menyelimuti mereka sampai suara isakan tertahan Ino mengalihkan perhatian Temari dari Sakura yang sedang terbaring.

"Ada apa Ino?"

"Aku merasa hidup Sakura begitu sulit, mengapa hal seperti ini harus terjadi padanya Temari-nee?"

Temari tidak menjawab, ia hanya terus menyimak apa yang Ino katakan selanjutnya.

"Awalnya aku merasa menjadi wanita paling menyedihkan, tidak memiliki kekasih dan cintaku bertepuk sebelah tangan pada cinta pertamaku." Keadaan hening sejenak sampai Ino melanjutkan ceritanya.

"Saat melihat Sakura yang tidak bisa bersama Sasuke dulu jujur saja aku ikut merasa sedih, Temari-nee, meskipun dengan begitu peluangku mendapatkan Sasuke menjadi lebih besar." Ino melanjutkan ceritanya dan tawa getir.

"Aku tahu bagaimana sakitnya si bodoh itu, dan dia masih saja mencoba terlihat tegar dan baik-baik saja di hadapan semua orang. Aku tahu Gaara laki-laki yang baik untuk Sakura, namun melihat perjuangan cinta yang selama itu harus berhenti di tengah jalan membuatku terus berpikir apa yang sebenarnya si bodoh itu pikirkan."

"Setelah pernikahan itu aku berpikir semuanya akan baik-baik saja, dan memang hal itu terjadi. Ketika aku menjalani misi ke Suna beberapa bulan lalu aku melihat begitu harmonisnya rumah tangga Gaara dan Sakura. Mereka terlihat bahagia, dan aku juga tahu pada saat itu bahwa Sakura mulai menerima dan mencintai Gaara. Dengan melihat perlakuan dan tatapan matanya kau juga pasti merasakannya kan Temari-nee?"

Temari mengangguk mengiyakan.

"Kupikir kisah cinta si bodoh itu akan berakhir bahagia seperti di dongeng-dongeng pada akhirnya. Namun yang terjadi malah sebaliknya."

Suara tangisan Ino terdengar semakin keras. Temari tahu meskipun kedua orang ini ketika bertemu jarang akur namun di dalam hati mereka masing-masing mereka sangat menyayangi dan memahami satu sama lain.

Temari pun berdiri dari sisi ranjang dan menghampiri Ino lalu memberinya pelukan hangat untuk menenangkan Ino.

.

.

Keesokan paginya Sakura telah sadar dan hari itu juga mereka telah memutuskan untuk memakamkan Gaara atas persetujuan Sakura.

"Lakukanlah hari ini, namun berikan kesempatan kepadakuuntuk melihatnya untuk yang terakhir kali."

Ino memasang mimik ingin protes mendengar permintaan Sakura, ia takut Sakura pingsan lagi dan membahayakan kandungannya.

Namun Sakura mencoba meyakinkan semua orang yang ada disana. Dengan senyum pedihnya ia berujar,

"Aku harus melihatnya untuk yang terakhir kali, istri macam apa yang tidak mendampingi suaminya di saat terakhirnyaa ? Lagipula ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padanya." Tanpa ia sadari air mata sudah menetes dari kedua kelopak matanya tanpa dicegah.

"Kau tidak usah memaksakan diri Sakura," Suara bass Naruto memecah keheningan yang sempat melanda.

"Aku mohon kepadamu Naruto … ijinkanlah."

Naruto mengalihkan pandangannya kearah lain setelah melihat wajah Sakura yang terarah padanya. Hatinya teriris perih melihat wajah cinta pertama sekaligus sahabatnya itu.

"Baiklah,"

.

.

.

Dan disinilah sekarang Sakura berada, di tempat persemayaman Gaara. Dengan langkah yang sedikit terseret karena melihat jasad suaminya yang pucat dan terbujur kaku.

Sakura berjalan menghampiri ranjang yang menjadi tempat Gaara berbaring beberapa hari ini, Sakura terduduk disamping ranjang tersebut dan mulai mengelus surai merah bata suaminya tersebut, ada beberapa luka lebam yang menghiasi wajah suaminya itu. Disentuhnya satu persatu luka lebam tersebut seakan akan dengan menyentuhnya luka tersebut bisa hilang begitu saja.

Sakura pernah melihat Gaara terbujur kaku seperti ini saat Shukaku diambil dari tubuhnya dulu, dan Sakura tidak menyangka akan melihat keadaan seperti itu lagi disaat ststus Gaara menjadi suaminya dan disaat dirinya sedang mengandung.

Semua orang yang ada disana menahan napasnya melihat hal itu, Beberapa diantara mereka bahkan sudah mengeluarkan air mata tanpa disertai isakan.

"Gaara, maafkan aku tidak bisa menolongmu … seharusnya sebagai ninja medis aku bisa menolongmu. Seandainya saja aku tidak terkena racun itu, Seandainya saja chakraku stabil, seandainya saja kau tidak menolongku, seandainya saja kita tidak pergi ke Konoha hari itu semua ini pasti tidak akan terjadi. Kita masih menjalani hari-hari selanjutnya dengan bahagia menanti kelahiran bayi kita. Seandainya saja … "

Suara lirih dan isakan Sakura terdengar begitu jelas ke seluruh ruangan tersebut, membuat beberapa orang meninggalkan ruangan tersebut karena pemandangan yang begitu mengharukan tersebut.

"Apa yang harus kulakukan Gaara? Bagaimana jika nanti anak ini menanyakan sosok ayahnya? Bagaimana cara aku menjelaskannya jika ayahnya telah meninggal karena ibunya tidak bisa menolongnya? Jawab aku Gaara?!"

Sakura mulai terisak lebih keras, Kakashi yang ada dibelakang Sakura pun memeluknya dan berusaha menenangkan Sakura yang menangis histeris.

"Kau harus terlihat kuat di depannya Sakura, jangan buat dia bersedih disana. Kau tahu ini bukan salahmu. Ia melakukan semua ini demi melindungimu dan anak kalian, karena kalian adalah orang-orang yang ia cintai. Jangan menyalahkan dirimu Sakura. Ingatlah anakmu."

Sakura masih terisak dipelukan Kakashi. Sakura membatin semua omongan Kakashi benar, bagaimanapun juga ia harus kuat demi anaknya, anaknya dengan Gaara. Peninggalan terahir dari suaminya itu.

Setelah melepaskan pelukannya pada Kakashi Sakura kembali melihat kearah jasad Gaara.

"Aku akan berusaha menjaga bayi kita dengan baik, aku janji Gaara. Aku menyayangimu."

Dan setelah Sakura mengucapkan hal itu ia mengecup kening Gaara.