Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Gender:Tragedy,Romance.

Warning: CANON, OOC (mungkin), Gaje, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

Don't Like? Don't Read!

Seminggu setelah kepergian Gaara, Sakura masih merenung dan tidak mau keluar kediaman Sabaku. Ia hanya keluar kamar seperlunya. Bahkan untuk makan Temari yang selalu mengingatkan atau bahkan memaksanya untuk makan.

Rombongan pelayat dari Konoha sudah pulang semenjak dikuburnya Gaara. Sekarang Shikamaru dan Kankurou sibuk menjalankan tugasnya untuk menghandle tugas Kazekage yang tebengkalai karena kepergian Gaara.

"Temari-nee aku ingin pulang ke Konoha."

Suara Sakura memecah keheningan di dalam kamar itu , membuat Temari menghentikan kegiatannya untuk menaruh makanan di meja nakas di samping ranjang tempat Sakura duduk.

Temari tertegun sejenak, setelah menaruh nampan yang berisi makanan di meja nakas, wanita itu ikut duduk di ranjang menghadap adik iparnya itu dengan senyum keibuannya.

"Sakura," Ujar Temari ramah sambil menggenggam tangannya.

Sakura masih menundukan kepalanya tidak berani menghadap kakak ipar yang dihormatinya itu.

Tangan Temari mulai terjulur untuk menyentuh dagu Sakura, mencoba melihat ekspersi wajah adik iparnya itu.

Air mata yang sudah menggenang di mata Sakura mulai berjatuhan satu persatu. Wanita itu langsung memeluk Temari.

Temari mengelus pungung Sakura dengan sayang, mencoba menenangkan wanita itu.

"Terlalu banyak kenanganku dengan Gaara disini. Aku tidak sanggup nee-chan" Ujar Sakura sambil terisak.

Sekelebat bayangan saat ia pertamakali menginjakan kaki di kediaman keluarga Sabaku, saat Gaara menggendongnya melewati jalanan yang dipenuhi warga Suna, Saat Gaara melamarnya melintas begitu saja membuat isak tangis Sakura semakin keras.

"Aku, Shikamaru dan Kankurou akan membicarakan hal ini dengan para tetua." Jawab Temari mencoba menenangkan Sakura.

.

.

.

"Bagaimana keadaan Sakura?" Tanya Shikamaru kepada istrinya.

"Masih sama. Ia masih tidak mau makan, jika makan pun itu sangat sedikit. Aku khawatir dengan kandungannya." Jawab Temari sambil menghela napas,

"Setidaknya itu sudah lebih baik dibandingkan tidak makan apapun bukan?" Timpal Kankurou yang dijawab anggukan oleh Temari.

"Sakura ingin pulang ke Konoha."

Kankurou dan Shikamaru diam menyimak kata-kata Temari.

"Ia bilang jika disini terlalu banyak kenangannya dengan Gaara, dia tidak sanggup."

"Siapa yang akan mengurusnya ketika ia di Konoha nanti?" Tanya Kankurou.

"Teman-temanku pasti akan mengurusnya dengan baik disana, terutama Hokage." Jawab Shikamaru.

"Kita harus segera membicarakan hal ini dengan para tetua," Ujar Temari yang mendapat anggukan dari kedua Pria di depannya.

.

.

Keesokan harinya Temari, Kankurou dan Shikamaru mengundang para tetua untuk datang ke gedung Kazekage untuk membicarakan soal kepindahan Sakura.

"Jadi, apa yang kalian akan bicarakan sebenarnya sampai harus mengundang kami semua kesini?" Tanya salah satu tetua itu.

"Sebenarnya kami kesini mengundang kalian untuk berdiskusi suatu hal yang penting." Ujar Kankurou.

"tidak usah berbasa-basi Kankurou-sama, katakan intinya saja." Jawab salah satu tetua lainnya.

Kankurou menghela napas mendengar omongan para tetua,

"Kami ingin meminta izin agar Sakura diperbolehkan untuk tinggal di Konoha untuk sementara waktu." Sahut Temari kalem.

"Apa kalian sudah gila?"

"Dia tidak bisa pergi begitu saja dari desa ini. di dalam kandungannya ada pewaris Kazekage. Satu-satunya pengendali pasir terakhir yang tersisa untuk melindungi Suna. Ia adalah senjata Negara!" Ujar Para tetua

Shikamaru sudah menduga sebelumnya jika diskusi ini tidak akan berjalan dengan mudah.

"Sakura tidak bisa tinggal disini." Jawab Temari mencoba sabar.

"Ia seorang istri Kazekage! Tidak seharusnya ia meninggalkan Suna hanya karena Gaara-sama meninggal."

"Sakura butuh waktu untuk menenangkan diri." Jawab Shikamaru yang diamini oleh Kankurou dan Temari.

"Tidak bisa! Sakura-sama harus tetap berada di desa ini."

"Tapi itu tidak baik untuk kondisi psikologisnya!" Ujar Temari sedikit berteriak.

Air mata Temari mulai menggenang di pelupuk matanya, Para tetua hanya bisa menuntut tanpa melihat dari sudut pandang mereka terutama Sakura. Ditinggal pergi oleh suami saat hamil bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Terlebih lagi Gaara meninggal karena melindungi Sakura.

Sakura terus-menerus menyalahkan dirinya atas kematian Gaara. Sebanyak apapun Temari menjelaskan kepada Sakura bahwa Gaara melakukan itu demi Sakura dan anak mereka, itu tidak mengurangi rasa bersalah Sakura sedikit pun. Sakura merasa kematian Gaara adalah kesalahannya.

Para tetua masih bergeming setelah mendengar teriakan Temari.

"Biarkan ia di Konoha sampai anak itu lahir." Mohon Temari kepada para tetua.

Para tetua menghela napasnya, dan berkata.

"kita harus menyembunyika hal ini dari desa lain."

Temari tersenyum senang, membuat air mata yang menggenang di pelupuk matanya mengalir begitu saja di pipinya.

"Kalian harus meminta Hokage untuk mengirim Bunshin nya kemari untuk mengawal perjalanan ini. Jangan mengambil resiko yang berbahaya." Ujar pimpinan para Tetua sebelum meninggalkan tempat pertemuan itu.

.

.

Yang paling Sakura sesali dari kematian Gaara adalah karena ketidakmampuan ia untuk menyembuhkan Gaara disaat Gaara sedang sekarat. Dan yang terakhir adalah karena ia belum pernah mengatakan kepada Pria itu secara langsung jika ia juga menyayangi dan mencintai Pria itu.

Sakura menemukan diagnosa penyakit Gaara di laci kantor Kazekage beserta surat yang menyatakan jika sakura tengah hamil. Disana juga Sakura menemukan sepucuk surat yang Gaara tulis. Di dalam surat itu Gaara mengatakan keinginannya untuk hidup lebih lama agar bisa melihat dan membesarkan anaknya dengan tangan dan kasih sayangnya sendiri. Sehingga anaknya tidak pernah kekurangan kasih sayang dan cinta, tidak sepertinya dulu.

Hati Sakura merasa sakit mengingat perlakuan semua orang dulu sebelum Gaara berubah menjadi lebih manusiawi. Bahkan Gaara pernah mengalami percobaan pembunuhan oleh Pamannya sendiri atas perintah ayahnya.

Gaara kekurangan kasih sayang dan cinta sampai mentatao dahinya dengan kata 'cinta', Sakura tersenyum miris. Bahkan ia yang berstatus sebagai istri Gaara tidak pernah mengatakan cinta pada Gaara sampai ajal menjemputnya.

Tok Tok

"Sakura."

Suara ketukan pintu menyadarkan Sakura dari lamunannya, ia mencoba menghapus air mata yang sering keluar tanpa ia sadari akhir-akhir ini.

"Nee-chan masuk saja, tidak dikunci."

Setelahnya Sakura melihat Temari masuk ke kamarnya dengan senyuman riang diwajahnya.

Wanita itu langsung memeluk Sakura, membuat Sakura sedikit terlonjak kaget.

"Para tetua keras kepala itu mengijinkannya Saku." Ujarnya setelah melepaskan pelukannya dari Sakura.

Sakura tersenyum dan memeluk Temari kembali, "Terimakasih nee-san. Maafkan aku nee-san."

"Jangan meminta maaf Sakura, aku hanya ingin kau sehat dan bahagia, jagalah keponakanku. Dia peninggalan Gaara satu- satunya." Ujar Temari.

"Aku akan menjaganya dengan baik nee-san." Jawab Sakura.

"Sekarang bersiaplah, Besok bunshin Naruto akan sampai. Ia yang akan mengawal perjalananmu ke Konoha bersama Shikamaru sebagai perwakilan keluarga."

"Terimakasih nee-chan."

.

.

.

Perjalanan ke Konoha yang memakan waktu cukup lama membuat Sakura yang tidak dalam kondisi fit jatuh pingsan saat sampai di depan gerbang. Shikamaru dan Naruto langsung membawa gadis itu ke Rumah Sakit dan langsung ditangani oleh Shizune.

"Bagaimana kondisinya Shizune?" Tanya Naruto.

"Tidak usah khawatir, ia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan kekurangan asupan gizi. Apa Sakura makan dengan baik disana?" Tanya Shizune. Sedikit banyak Shizune mengerti kondisi Sakura.

"Sakura jarang makan disana, kalaupun iya itupun tidak banyak." Jawab Shikamaru.

"Aku mengerti, aku juga turut berduka atas kepergian Kazekage-sama, Shikamaru."

"Terimakasih Shizune, kumohon berikanlah yang terbaik untuk Sakura dan keponakanku."

"Akua akan memeberikannya beberapa vitamin dan pil penambah stamina yang tidak akan berpengaruh pada kehamilannya Shikamaru, kau tenang saja."

"Terimakasih." Jawab Shikamaru.

"Naruto, aku pamit dulu. Kankurou dan Temari membutuhkanku disana. Aku tidak bisa lama-lama."

"Aku mengerti Shika, Apartement Sakura sudah dirapihkan seperti permintaanmu. Aku dan Sasuke akan menjaganya disini."

"Terimakasih Naruto, aku akan sering datang berkunjung bersama keluarga Sabaku."

"Shikamaru kau tidak menunggu sampai Sakura sadar?" Tanya Shizune yang dijawab garukan kepala Shikamaru.

"Aku akan menunggunya sadar baru pulang ke Suna, Temari bisa membunuhku jika meninggalkan Sakura dalam keadaan tidak sadar, huh merepotkan …"

"Tidak berubah sama sekali." Dengun Shizune.

.

.

.

Sakura mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya, kepalanya sedikit pusing mencium bau rumah sakit yang menyengat di indra penciumannya. Samar-samar ia melihat pria berambuat hitam yang duduk disampingnya,

"Shika?" Tanya Sakura mencoba memastikan.

Srek..

Pintu yang terbuka membuat pengelitan Sakura menjadi lebih jelas, dan ia bisa melihat dengan jelas Shikamaru sedang berdiri di depan pintu bersama Shizune.

"Syukurlah kau sudah sadar Sakura," Ujar Shizune lega. Setelahnya Shizune langsung menghampiri Sakura dan melakukan pengecekan sehingga ia tidak bisa melihat siapa Pria yang duduk disampingnya.

"Terimakasih Sasuke sudah menjaganya," Ujar Shikamaru tulus.

"Hn," Jawab bungsu Uchiha itu.

Sakura mengerjapkan matanya, sedikit terkejut mengetahui pria yang ada disampingnya adalah Sasuke.

"Sakura, Syukurlah kau sudah sadar. aku harus kembali ke Suna sekarang. Temari dan Kankurou pasti akan khawatir jika malam ini aku belum sampai."

"Terimakasih Shika," Jawab Sakura.

"Jagalah dirimu dan calon keponakanku. Aku akan sering datang berkunjung."

"Tentu, nii-san," Shikamaru tersenyum simpul, Sakura hanya memanggilnya nii-san hanya dalam keadaan tertentu saja. Selain mengejek, biasanya disaat pertemuan keluarga Sakura memanggilnya seperti itu.

Shikamaru mengelus kepala Sakura dengan sayang, "Kuatkanlah dirimu Saku,"

Sakura mengangguk mengiyakan perkataan Shikamaru.

"Aku pergi dulu, Shizune Sasuke aku titip Sakura ya."

"Tenanglah Shikamaru, kami akan menjaga wanita keras kepala ini dengan baik."

Setelahnya Sakura mendengar bunyi pintu yang tertutup dan Shikamaru menghilang dibaliknya.

"Baiklah aku masih harus memeriksa pasien lainnya, selamat datang kembali ke Konoha Sakura."

"Terimakasih Shizune-nee, Aku merindukanmu." Ujar Sakura. Terakhir kali ia melihat teman satu mentor nya ini saat pernikahannya dulu dengan Gaara, ketika upacara pemakaman Gaara Shizune tidak dapat hadir karena tugasnya di Konoha yang padat.

"Aku juga, nanti kita akan mengobrol lagi oke? Aku akan memanggil Ino, Hinata dan Tenten nanti."

Setelahnya Shizune pun meninggalkan ruangan itu, meninggalkan kedua orang yang dilanda keheningan.

"Bagaimana keadaanmu?" Pada akhirnya suara itu memecah keheningan diantara mereka.

.

.

.

.

TBC

Autor's Note

Please jangan bunuh saya. Saya tahu ff ini sudah saya terlantarkan sangaaaat lama. Maafin saya. Saya udh jarang ngikutin manga sama komik naruto jadi agak hilang feel nya untuk menulis di fandom ini. sekali lagi maafin saya.

Untuk yang gak suka ceritanya maaf banget ya. Saya buat gaara meninggal disini buat kebutuhan cerita serius deh saya juga sedih harus ngebuat gaara mati disini setelah ngebaca ulang ff ini.

Saya lagi coba buat bangun feel lagi makannya maaf kalo mungkin penulisannya masih berantakan atau gimana. Baca naruto gaiden chapt 4 tuh agak nyesek juga, sasuke udh jadi bang toyib, kagak inget pula sama anaknya. *out of topic*

Word nya dikit? Maaf lagi. Haduuuh pokoknya saya minta maaf sama reader sekalian. Masih ada kah yang menunggu ff ini?