Aku membuka mataku perlahan-lahan. Sepertinya aku tau tempat ini, yang benar saja! Ini kan…Kamarku…Tetapi seingatku aku berada di sebuah gang, lalu ada dua orang pria yang hendak menculikku dan muncul orang misterius, setelah itu aku pingsan. Tetap saja ini aneh atau mungkin dia membawaku ke rumah? Darimana dia tau rumahku disini?
"Panda, apa kamu sudah bangun?" Tanya ibuku dari arah dapur
"Su-sudah bu. Aku akan turun!"
"Cepat mandim nanti kamu terlambat"
"Iya!"
Selesai mandi dan mengenakan seragam, aku pergi ke dapur dan bersiap-siap untuk sarapan. Kenapa ayah dan ibu tidak bertanya padaku? Seharusnya aku senang, karena mereka tidak bertany, tetapi, ini sangat aneh. Masa mereka tidak sadar jika aku pulang malam?
"Otou-san, kaa-san" Panggilku
"Ada apa sayang?" Tanya ibuku
"Kemarin aku pulang jam berapa?"
"Hmm…Seingat ibu kamu pulang jam 3 sore"
"Hah?! Masa?"
"Kenapa kaget begitu? Kamu kan selalu pulang tepat waktu. Sebagai hadiahnya hari Minggu nanti ayah akan mengajakmu jalan-jalan. Kau mau?"
"Ba…Baiklah…"
"Oh iya, satu pertanyaan lagi. Apa ibu dan ayah melihat noda darah dibajuku?" Sambungku
"Tidak, ada apa? Apa kamu terluka? Pertanyaan tadi sepertinya membuat ibuku khawatir
"Bu…Bukan…A-aku mau berangkat dulu, nanti terlambat. Bye-bye" Ucapku
Sebenarnya apa yang terjadi? Aku yakin jika aku pulang malam dan juga aku yakin ada noda darah di seragamku. Apa mungkin kejadian kemarin hanya mimpi? Mana mungkin?! Jelas-jelas semua terasa nyata, memikirkannya hanya membuatku pusing saja, lupakan…Akhirnya aku sampai di sekolah. Semua tengah sibuk membicarakan sesuatu, apa yang mereka bicarakan?
"Lucy-chan, rupanya kamu sudah datang"
"Tumben kamu datang jam segini Lu-chan"
"E…Eto…Oh iya, apa yang kalian bicarakan?" Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan
"Oh itu, katanya akan ada murid baru. Menurutmu murid baru itu laki-laki atau perempuan?" Tanya Levy
"Mungkin laki-laki" Jawabku ngasal, karena memang aku tidak peduli
"Aku berharap jika murid baru itu perempuan, dengan begitu aku bisa mengajaknya berteman bersama kita" Ucap Levy riang
"Meski murid baru itu laki-laki, kita kan tetap bisa mengajaknya berteman" Kata Wendy
"Sulit akrab dengan laki-laki, lagian memang anak laki-laki mau berteman dengan perempuan?"
Sepertinya mereka sangat bersemangat membicarakan murid baru, aku sendiri tidak tertarik soal murid baru itu. Pikiranku benar-benar kacau, aku ingin melupakannya tetapi terlalu sulit. Wali kelas kami, Freed-sensei, masuk kedalam kelas. Dibelakangnya ada murid baru yang ternyata laki-laki. Dia cukup tampan atau mungkin benar-benar tampan. Tiba-tiba saja muncul perasaan kaget dari dalam hatiku. Apa mungkin dia…
"Ka…Kau!" Teriakku sambil menunjuknya dengan jari
"Apa kalian saling mengenal?" Tanya Freed-sensei
"Tidak" Jawabnya singkat
Tunggu! Matanya berwarna abu-abu tua, dia menggunakan penutup mata di mata kirinya. Jelas-jelas orang misterius yang kulihat kemarin matanya berwarna merah dan menggunakan penutup mata di mata kanannya. Aku yakin dia itu orang misterius yang menyelamatkanku kemarin, apa mungkin aku salah orang?
"Su…Sumimasen. Aku salah orang"
"Dasar…Perkenalkanlah dirimu"
"Namaku Jellal Fernandes. Yoroshiku"
"Nah, Jellal kamu duduk dibelakang sana"
Saat ia berjalan kebelakang, aku menatapnya dengan tatapan curiga, dia sempat membalas tatapan mataku lalu duduk dibelakangku. Ya, aku curiga apa dia itu anak terkutuk? Apa dia itu orang misterius yang kemarin menolongku?
Jam pelajaran pun selesai. Ketika jam istirahat tiba, aku tidak membuang-buang waktu, aku langsung mendatanginya. Ia hanya terdiam, tak mengatakan sepatah kata pun.
"Hey, kau!"
"Nani?"
"Siapa kamu?"
"Jellal"
"Aku tau kamu Jellal. Apa kamu orang misterius yang kemarin menyelamatkanku?"
"Kamu salah orang" Jawabnya datar
"Tidak! Jelas-jelas wajahmu mirip dengan orang misterius itu dan juga aku yakin, kamu tidak kehilangan mata kirimu bukan?"
Aku hendak mengambil penutup matanya itu, wajahku dengannya semakin lama semakin dekat, tetapi dengan cepatnya ia memegang lenganku. Sejak kapan dia memegang lenganku? Gerakannya terlalu cepat. Seseorang masuk kedalam kelas dan menghampiri kami berdua, karena kaget aku terjatuh dan menimpa badan Jellal, ternyata yang masuk kedalam kelas adalah Levy-chan dan Wendy-chan.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Levy-chan nampak sangat kaget
"Wajah kalian begitu dekat, apa mungkin kalian berdua mau ciuman?" Tanya Wendy-chan
"HAH?! Aku ciuman dengannya? Tu..Tunggu! Kalian salah paham" Ucapku panik
Wajahku sempat memerah saat wajahku dengannya sangat dekat, bahkan bibirku dan Jellal hampir saja bertemu. Berita tersebut menyebar dengan begitu cepat. Seharian ini aku dikerumuni oleh teman-teman sekelas, mereka bertanya tentang kejadian tadi. Saat jam pulang sekolah mereka terus mengikutiku dan mengulang pertanyaan yang sama. Bahkan…
"Lucy-san, apa benar jika kalian berdua ingin berciuman?"
"Ti…Tidak! Bukan begitu Sting-san. Itu hanya salah paham. Aku pulang dulu"
Bahkan Sting-san, cowok yang aku sukai bertanya seperti itu padaku. Aku melihat jika Jellal hendak pulang ke rumahnya, langsung saja aku mengikutinya secara diam-diam dari belakang. Saat berada ditengah keramaian, aku kehilangan jejaknya. Seorang lelaki berjubah hitam berpapasan denganku, merasa ada yang aneh aku memegang tangan kanannya dan menghadap kearahnya.
"Kenapa kamu memegang tanganku?"
"Menghadaplah kearahku!"
"Kenapa?" Tanyanya lagi
"Kamu Jellal kan? Tidak perlu menutupi wajahmu!"
"Kamu siapa?"
"Aku? Namaku Lucy, Lucy Heartfilia"
"Kenapa kamu mengenal nii-san?"
"Eh? Jangan pura-pura bodoh! Siapa kamu?"
"Aku hanya seorang penyihir"
"Penyihir ya…Sama sepertiku. Senjata apa yang kamu gunakan?"
"Tongkat"
"Oh, aku penyihir pedang. Mau berduel?"
"Tentu"
"Jika aku menang, beritaukan lah identitasmu padaku, jika aku kalah kamu boleh menyuruhku melakukan apapun"
"Aku setuju. Aku tau tempat duel yang bagus. Ayo, ikut denganku"
Bersambung…
A/N : Dicerita ini, mata Jellal itu ad dua warna yaitu abu2 tua dan merah. Aneh kan? Lucy menggunakan pedang? Aneh kan? Menurut author itu bener2 anehhhhh. RnR aja
