A/N : Makasih ya udh riview, ga nyangka bisa dapet 3 riview :D Semoga chap 3 gak mengecewakan.

Dia mau membawaku kemana sih? Sudah alam berjalan rasanya tak sampai-sampai ke tempat tujuan. Sebelumnya aku akan menjelaskan tentang dunia ini. Dunia yang kutinggali ini bernama Earthland. Selain kota Fiore ada juga kota sebrang. Kedua kota ini disebut sebagai 2 kota yang paling banyak populasi penyihirnya.

Penyihir dibedakan menjadi 3 macam, yaitu penyihir tongkat, penyihir pedang dan yang terakhir penyihir pisau. Mereka semua memiliki keunggulan masing-masing saat bertarung.

Dunia ini dipimpin oleh Master, orang yang paling tinggi tingkatannya. Master dibantu oleh beberapa orang yang ia percayai. Intinya Earthland adalah dunia sihir, tetapi tidak sepenuhnya, karena ada banyak orang biasa yang tinggal di dunia ini.

Akhirnya kami berdua telah sampai disebuah padang rumput. Kini kami saling berhadapan, langsung saja aku memanggil pedangku yang kini sudah berada ditangan kiri dan kananku. Senjata yang kugunakan adalah steno atau mungkin lebih tepatnya dual steno, sedangkan senjata yang ia gunakan, sebuah medusa? Senjata langka rupanya… Senjataku sendiri bukan senjata langka, senjata ini bisa dibeli ditoko maupun dibuat.

"Apa kamu sudah siap?" Tanyanya

"Tentu saja aku sudah siap"

Muncul sebuah kotak transparann disekitar kami. Diatas kepala kami, ada bar HP dan MP. Jika HP habis maka otomatis kalah, jika MP habis tidak bisa menggunakan sihir, untuk menambah MP dan HP harus menggunakan potion. Pertanyaannya, berapa point HP dan MP dia? Semoga lebih sedikit dariku, ya supaya bisa menghabisi dia dengan satu kali serangan hehehe..

"1,2,3"

Dihitungan ke-tiga duel pun dimulai. Yang menyerang duluan maka potensi menangnya lebih besar, langsung saja aku menyerang dengan menggunakan sonic boom. Dua tebasan dengan kecepatan cahaya dalam satu waktu, serangan tadi menghasilkan debu yang menutupi dirinya. Kulihat point HPnya berkurang banyak, satu serangan lagi dan dia akan kalah.

Tiba-tiba saja kakiku tidak bisa digerakan, ternyata dia menggunakan sihir pembekuan, sehingga aku tidak bisa bergerak dalam waktu 20 detik.

Awalnya aku masih santai, ya…Pikiranku saat itu berkata jika aku akan menang, tetapi, setelah melihat ancang-ancang tersebut, aku merasa tak lama lagi aku akan kalah. Seorang Grandmaster? Penyihir dibedakan dalam 3 job, yaitu fighter untuk pedang, mage untuk tongkat dan rogue untuk pisau. Jobku sendiri adalah Sword Master. Job memiliki beberapa tingkatan sesuai dengan levelnya. Semakin tinggi levelnya, semakin kuat dirinya. Ya, meski kuatnya seseorang tidak hanya ditentukan oleh level.

Satu serangan darinya langsung mengakhiriku. Benar-benar hebat, kalau diperkirakan, mungkin serangannya itu menghabiskan HP sekitar 20k, HPku sendiri hanya 12k. Duel berakhir dalam waktu 50 detik, waktu duel tidak boleh lebih dari 3 menit, jika lebih dari itu maka draw. Setelah duel berakhir, aku bangkit berdiri dan menghampirinya. Ya, aku hanya ingin mengucapkan selamat, itu saja…

"Aku akui kamu menang. Great Thunder tadi benar-benar hebat" Nama skill yang tadi dia gunakan

"Ya, kamu juga hebat. Aku hampir kalah"

"Sesuai perjanjian, kamu boleh menyuruhku melakukan apapun"

"Aku hanya ingin kamu memberitauku, kenapa kamu bisa mengenal nii-san?"

"Kami sekelas dan tadi aku sempat menghampirinya, karena curiga" Jawabku jujur apa adanya

"Kumohon jangan curigai nii-san. Dia itu orang baik"

"Tapi…Kenapa?"

"Aku akan memberitaumu satu hal, jangan lupakan ini. SMP Tanaka sedang dalam bahaya"

"Dalam bahaya?" Tanyaku terheran-heran

"Ya, cepat atau lambat SMP Tanaka bisa hancur"

"Tapi, kapan?"

"Aku tidak tau. Ah iya, satu lagi. Aku adiknya Jellal"

"Adiknya Jellal…?"

"Sudah dulu ya. Jaa ne"

"Tunggu!"

"Apa lagi?"

"Darimana kamu tau SMP Tanaka dalam bahaya?"

"Itu rahasia"

"Beritau aku! Kalau tidak aku akan menggangapmu sebagai pembohong"

Sesaat kami terdiam, angin berhembus dengan begitu kencang sehingga rumput terlihat melambai-lambai. Aku masih menunggu jawabannya, satu menit, dua menit, tiga menit, 5 menit, rasanya aku seperti membuang-buang waktuku disini.

"Apa kau percaya dengan pengelihatan masa depan?" Tanyanya serius

"Yang kutau itu hanya ada didalam film konyol yang sering ditonton oleh ibuku"

"Kalau begitu aku tidak bisa memberitaumu"

"Jika aku berkata, aku percaya. Kamu akan memberitauku?"

"Tidak, karena saat diawal kamu mengatakan hal itu konyol"

Anak ini benar-benar mengesalkan…Tau begini aku jawab jika aku percaya, dia hendak pergi meninggalkanku, karena sudah tidak ada urusan dengannya aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Selama perjalanan pulang, aku berpikir jika dia itu orang baik, bisa dibilang aku percaya padanya, ya meski cuman 50% saja…Apa benar ucapannya barusan tentang kedua hal tersebut? Dia teman atau musuh?

"Apa kau melihatnya?" Tanyanya sambil terus memperhatikan Lucy dari atas pohon

"Ya, sangat jelas dari atas sini"

"Sepertinya dia harus bunuh" Ucapnya

"Siapa pun yang berhubungan dengan mereka harus dibunuh"

"Kalau begitu, dekatilah dia. Mengerti?"

"Aku mengerti baka, kau pikir aku ini bodoh?"

Siapakah yang berbicara? Siapa mereka? Kenapa mereka mau membunuh Lucy?

Next Chapter : Kebenaran diBalik Ucapan

Bersambung…

A/N : Singkat banget ya? Bisa dibilang sih kalo cerita ini kayak game gitu hehehe, seru gak? Gak seru gomen..