Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasanya. Entah kenapa aku teringat tentang kejadian kemarin, ya aku hanya merasa jika level kami berbeda jauh. Minimal orang yang kamu ajak berduel itu beda 5 level, tetapi, aku merasa kami berbeda 10 level atau malah 20…Apalagi equipnya bagus, aku yakin itu mahal.

Sudahlah untuk apa dipikirkan, aku hanya perlu menaikkan lv supaya lebih kuat dan juga memperkuat equipku hehehe. Setelah tiba di kelas, aku segera menghampiri Levy-chan dan Wendy-chan, sepertinya mereka tengah asik berbincang, jadi penasaran nih.

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanyaku menyelip pembicaraan mereka

"Tentang Jellal, bagaimana pendapatmu tentangnya?" Tanya Levy-chan

"Biasa saja"

"Apa kamu tidak berpikir jika dia itu keren dan tampan?" Tanya Wendy-chan padaku

Keren dan tampan? Dia? Memang sih, baiklah aku mengakuinya, tetapi dia terlalu pendiam, karena itu lah murid perempuan disini menggangapnya keren. Apalagi saat jam pelajaran olahraga tiba, ia menunjukkan kebolehannya bermain sepak bola. Gerakannya menghindari lawan, benar-benar membuat lawannya terkecoh. Ya, bisa ditebak semua murid perempuan dibuat tergila-gila olehnya. Muird baru ini luar biasa ya? Dia cepat dalam hal apapun.

Ketika jam istirahat tiba, aku tengah melihat Jellal sedang menatap jendela dikoridor sekolah. Dari dalam hatiku muncul sebuah niat untuk mengobrol dengannya, ya paling sekedar basa-basi gitu deh, sekalian juga minta maaf karena kejadian kemarin.

"Konnichiwa" Sapaku yang berdiri disebelahnya

"Apa kamu mau melepas penutup mataku lagi?"

"Tidak, tidak. Lagipula kamu menangkap tanganku dengan cepat, aku mana bisa melepas penutup matamu"

"Oh souka"

"Kemarin aku bertemu adikmu, bahkan aku berduel dengannya. Dia sangat hebat"

"Apa kamu menyadarinya?"

"Menyadari apa?" Tanyaku heran

"Lupakan"

"Eh, adikmu bersekolah dimana?"

"Dia tidak bersekolah"

"Tapi, kenapa?"

"Keadaannya tidak memungkinkan untuk sekolah"

"Apa dia sakit parah? Atau mungkin tidak cukup biaya?"

"Itu rahasia"

"Adikmu juga mengatakan suatu hal padaku. Apa benar SMP Tanaka dalam bahaya?"

"Oh, rupanya dia sudah memberitaumu"

"Apa itu itu benar?"

"Ya"

"Apa maksudnya SMP Tanaka dalam bahaya?"

"Sepertinya kamu terlalu banyak bertanya, jangan bebicara lagi denganku"

"Apa ma…"

Lagi-lagi dia memukul perutku sehingga aku menjadi tidak sadarkan diri. Apa dia benci berbicara denganku? Entahlah, aku tidak tau atau mungkin Jellal merahasiakan sesuatu?

"Eh, Jellal-kun. Ada apa dengan Lucy?" Tanya Levy

"Dia pingsan"

"Kamu balik saja ke kelas, biar kami yang membawanya ke UKS" Kata Wendy

"Biar aku saja"

"Baiklah. Jaga dia ya?" Pinta Levy

Jellal hanya memberikan sebuah anggukan dan lanjut pergi menuju UKS. Ia membaringkan Lucy diranjang, lalu bersandar ditembok dekat ranjang. Sting masuk ke dalam UKS dan melihat Lucy dari dekat.

"Jangan dekat-dekat dengannya"

"Kenapa marah Jellal-san? Cemburu?"

"Bukan, jadi apa yang kamu lakukan disini?"

"Hanya menjenguk Lucy. Memang tidak boleh?"

"Tidak usah berpura-pura baik"

"Kamu menyadari identitas ku?"

"Tentu, kamu berasal dari gulid Sabertooh bukan?"

"Harus kuakui, kamu memang pintar, Jellal"

"Cih, ada saja orang yang mau menjadi kaki tangan master"

"Itu suatu kehormatan. Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu"

"Oh"

"Kita lihat sihir siapa yang lebih hebat. Sihir pemanggil ku atau sihir requipmu" (A/N : Kalo Jellal pake requip kayaknya keren kwkwkw)

"Apa batu bulan itu begitu penting?" Tanya Jellal

"Tentu saja! Jika kami berhasil mendapat baru tersebut, master akan membayar kami dengan mahal dan juga batu itu bisa mengabulkan apapun yang kita inginkan. Memang kamu tidak mau?"

"Jika aku mendapatkannya, mungkin aku akan menghancurkannya, kalau bisa tepat didepanmu" Ucap Jellal sambil tersenyum sinis

"Dasar baka!" Ucap Sting sambil menarik kerah baju Jellal

"Batu itu penting ya bagimu"

"Apa pendapatmu tentang Lucy?"

"Biasa saja"

"Menurutku dia sangat cantik, pasti darahnya lezat"

"Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini"

"Begitu menurutmu? Aku melihat jika Lucy berbicara denganmu tadi. Aku diberi perintah, siapapun yang berbicara denganmu harus dibunuh"

"Erza memang tidak sopan"

"Dasar tidak tau sopan santun!"

Akhirnya aku membuka mataku perlahan-lahan. Hal yang pertama kali aku lihat adalah Jellal dan Vey sedang berbincang-bincang, aku juga mendengar jika bel pulang sudah berbunyi. Sepertinya aku pingsan cukup lama.

"Hey" Panggil Sting

"Nani?"

"Aku ingin mengajakmu kencan, apa kau mau?" Ucap Sting pelan

"Ke…Kencan?!" Tanyaku tak peraya

"Ya, mau tidak?"

"Aku…"

"Lebih baik kamu pulang, aku akan mengantarmu" Ucap Jellal yang memotong ucapanku tadi

"Tapi aku…"

Dia langsung menarik tanganku dengan kasarnya. Saat sudah keluar dari sekolah, aku langsung melepaskan tanganku dari pegangannya. Emosiku rasanya sudah sampai pada puncaknya.

"Apa-apaan sih kamu ini?!"

"…."

"Asal kamu tau, aku menyukai Sting-san dari kelas tujuh. Aku sudah lama menanti kesempatan ini tau! Kenapa kamu menghalangiku? Kamu cemburu?!"

"Dengarkan aku"

"Apa?! Mau membela diri?!"

"Jangan dekat-dekat dengannya. Dia sangat berbahaya"

"Kamu bohong kan?! Jangan mengarang cerita aneh seperti itu!"

"Aku serius"

Aku menatap matanya dengan sangat dekat. Tatapan matanya serius dan mengerikan, seperti tatapan saat orang misterius itu melawan 2 orang pria. Benar-benar mirip…Saat aku bengong, Jellal menarik tanganku lagi, tak lama berjalan aku sudah sampai di rumah. Jellal melepaskan pegangannya, sedangkan aku membunyikan bel rumah. Ibu berlari kecil dan membukakan pintu untukku.

"Tadaima"

"Okarinasai, Lucy. Apa dia temanmu? Atau pacarmu?" Tanya ibu menggodaku

"Kaa-san…Apaan sih, dia bukan pacarku" Ucapku kesal

"Rupanya dia temanmu. Ayo masuk"

"Kaa-san, jangan menyuruhnya masuk"

"Lho, kenapa?"

"Tidak perlu, aku mau pulang"

"Bagus. Sana pergi jauh-jauh!" Usirku

Sekarang Jellal benar-benar jauh dariku. Aku langsung berlari menaiki tangga dan mengganti bajuku, lalu pergi makan siang. Karena terlalu kesal, aku makan dengan sangat cepat, bahkan hampir saja tersedak.

"Sayang, jangan buru-buru makannya. Nanti tersedak"

"Habis, aku kesal" Kataku setelah selesai menelan makanan

"Kesal kenapa sayang?"

"Tadi Sting-san mengajakku kencan, tetapi Jellal malah menarik tanganku dan memaksaku pulang. Apalagi ia berkata hal-hal yang buruk tentang Sting-san"

"Memang dia berkata apa?"

"Katanya Sting-san itu berbahaya, aku tidak boleh dekat-dekat dengannya dan dia tidak memberitau ku apa alasannya"

"Sting? Memang sebaiknya kamu tidak dekat-dekat dengannya"

"Eh? Kaa-san bicara apa tadi?"

"Tidak, tidak. Lanjutkan makanmu"

Aku sempat mendengar jika ibu berkata lebih baik aku tidak dekat dengan Sting. Sebenarnya ibu dan Jellal merahasiakan apa dariku?

Bersambung…

Next Chapter : Hari X

Note : Requipnya Jellal dan Erza berbeda, kalau Erza menggunakan baju besi mungkin Jellal hanya menggunakan light armor.

A/N : Selesai juga ngetik chap 4 hehehe. Jelek ya? Gomen. RnR yaaa XD

Oh iya, balasan riview :

K. : Natsu ada cuman dia muncul di chap 10++ Tenang aja udah aku rencanain kok :D