KRIIING…..KRIING….

Aku mematikan jam alaram dan bangun dari tidurku yang nyenyak. Sesekali aku menguap, rasanya aku masih mengantuk. Saat mandi aku teringat akan kejadian kemarin, semuanya terasa seperti mimpi yang nyata. Aku yang berkenalan dengan Jellal di sekolah, Sting yang dibunuh oleh Jellal, aku yang bergabung dengan gulid Fairy Tail, apa mungkin setelah bergabung wajahku akan berada di poster buronan? Kalau sampai hal itu terjadi, maka hancurlah sudah kehidupanku.

Selesai mandi, aku pergi sarapan dan berangkat ke sekolah, tidak lupa aku berpamitan pada ayah dan ibu. Bergabung dengan gulid pembunuh, aku tidak ingin mempercayainya, bisa dibilang jika aku membencinya…Bagaimana reaksi ayah dan ibu setelah tau aku bergabung dengan gulid pembunuh? Untuk apa bertanya, mereka pasti akan marah besar dan menyuruhku keluar.

Sesampainya di sekolah, aku membuka loker dan mengganti sepatu lalu menutupnya. Mataku menatap sebuah pintu kayu yang selalu tertutup rapat. Setauku tidak ada yang pernah masuk ke ruangan ini, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, seperti ada seseorang yang menutup kedua mataku dari belakang.

"Lu-chan"

"Ini pasti ulahmu, iya kan Levy-chan?"

"Seratus untukmu!" Ucapnya sambil tersenyum

"Dasar kamu ini"

"Lucy-san sedang melihat apa?"

"Hanya melihat sebuah pintu kayu yang selalu tertutup rapat"

"Oh itu, setauku didalamnya ada sebuah benda pusaka" Ucap Wendy

"Benda pusaka?"

"Ya, aku tidak tau jelas itu apa. Katanya sih sebuah batu"

"Sudahlah, untuk apa dipedulikan. Ayo masuk ke kelas" Ajak Levy

Levy-chan menarik tanganku dan Wendy, selama menaiki tangga menuju kelas sesekali kami bercanda dan tertawa, sehingga tak terasa sudah sampai di depan kelas. Benda pusaka yang berupa sebuah batu? Pasti maksud Wendy adalah batu bulan, sepertinya ada sedikit titik terang. Aku tidak mau ke-empat anak aneh itu mengacak-acak isi sekolah atau malah menghancurkan sekolah.

Pelajaran pertama di hari ini adalah matematika, seperti biasanya membosankan dan hampir membuatku tertidur. Tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan sebuah suara yang berada didalam kepalaku.

"Lucy, hari Minggu nanti kita berkumpul di depan gerbang sekolahmu, jam sembilan pagi"

"Lucy? Halo…?"

"DIAM! Aku mengerti!"

Sepertinya teriakan ku tadi mengundang perhatian semua murid termasuk guru. Aku langsung duduk dan menundukkan kepala, ini pertama kalinya aku melakukan hal yang sangat, sangat memalukan. Ingin rasanya aku kabur dari kelas dan melupakan semua kejadian hari ini.

"Lucy, kamu berbicara dengan siapa?!"

"Haha….I….I-itu… Sumimasen, sensei" Ucapku sambil berdiri dan menundukkan badan

"KELUAR! Jangan ikuti pelajaran saya selama 3 hari!" Tegasnya

Benar-benar menyeramkan, ini pertama kalinya aku membuat Laxus-sensei semarah ini. Akhirnya aku pun keluar dari kelas dan berdiri di depan kelas. Lagi-lagi suara itu muncul.

"Hey, jangan marah-marah napa?"

"Jangan berbicara didalam kepalaku!"

"Gomen, gomen. Aku lupa, kamu kan sedang belajar didalam kelas. Lanjutkan saja ya, jaa ne"

Lanjutkan? Lanjutkan bagaimana? Sekarang aku sedang dihukum, dengan santainya Gray mengatakan lupa. Mungkin kalian heran kenapa aku bisa tau dia itu Gray, ya sudah sangat jelas dari suaranya dan gaya bicaranya. Ketika jam istirahat tiba, Levy-chan dan Wendy-chan menatapku dengan pandangan yanng aneh. Pasti karena kejadian yang tadi.

"Lu-chan, kenapa tiba-tiba kamu berteriak?" Tanya Levy khawatir

"E…Eto…"

"Apa kamu punya dendam dengan Laxus-sensei?" Tanya Levy lagi

"Tidak, aku ini bukan orang yang pendendam kok"

"Kalau begitu, apa ada hal yang menggangu pikiranmu?" Giliran Wendy yang bertanya

"Jangan khawatir, aku baik-baik saja kok"

"Oh iya, hari Minggu nanti kami mau mengajakmu jalan-jalan. Apa kamu ada waktu?" Tawar Levy

"Gomen, aku ada janji"

"Janji dengan siapa?"

"E…Eto…"

"Ohhh… Aku mengerti kok. Semoga kencanmu berjalan dengan lancar ya" Ucap Levy usil

Kencan? Yang benar saja… Pacar saja tidak punya, mau kencan dengan siapa? Masa iya aku kencan dengan Jellal? Lebih baik aku kencan dengan pocong deh, hahahaha. Daripada kujelaskan yang sebenarnya lebih baik aku diam.

6 hari kemudian…

Akhirnya hari Minggu pun tiba. Seharusnya kan aku bersantai hari ini dan jalan-jalan dengan kedua sahabatku. Jika aku tidak datang, mereka pasti akan mencariku sehingga rencanaku rusak. Selesai bersiap-siap aku hendak membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar, tetapi ibu datang dan memanggil namaku.

"Lucy"

"Kaa-san?"

"Kamu mau kemana? Kenapa tidak pamitan?"

"Aku mau jalan-jalan dengan Wendy-chan dan Levy-chan"

"Kalau mau pergi boleh, jangan pulang malam-malam ya"

"Aku pergi dulu!"

"Hati-hati!"

Saking paniknya aku sampai lupa pamitan pada ibu. Sebenarnya aku hampir telat, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, gawat, gawat! Akhirnya aku sampai juga di depan sekolahku, tetapi dimana mereka? Apa mereka telat? Aku menengok kesana kemari, ada yang janggal diatas pohon, pohonnya mengeluarkan bunyi padahal tidak ada angin yang bertiup, pasti ada orang.

"Hey, hey" Panggil seseorang

"Eh? Mystogan?"

"Akhirnya kamu sadar" Ucapnya

"Turunlah"

"Lucy, kamu memanggil siapa?"

Aku sempat terkejut karena seseorang memanggil namaku begitu saja, apalagi dia tidak ada disebelah kiri maupun kanan, ternyata pak satpam memanggilku dari belakang. Membuat kaget saja.

"Maaf, tapi bapak bertanya apa?"

"Kamu memanggil siapa?"

"Tidak, bukan siapa-siapa"

"Kenapa kamu berada disekitar sekolah? Kamu ingat kan pertaruannya, hari Minggu tidak ada yang boleh masuk sekolah kecuali dia ada keperluan"

"E…Eto…"

Apa yang harus kukatakan? Aku menengok keatas pohon, sepertinya Mavis mengisyaratkan sesuatu, karena mengerti aku pun melakukan apa yang dia isyaratkan. Ya, aku melakukannya karena hal itu cukup masuk akal.

"Buku saya ketinggalan didalam kelas"

"Kalau begitu biar saya saja yang mengambilkannya. Kelasmu dimana?"

"Ja…Jangan"

"Lho? Kenapa?"

"E….Eto, itu buku diary"

"Tenang saja. Saya tidak akan membacanya"

Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan selanjutnya? Tiba-tiba saja Jellal loncat dari atas pohon dan menjitak kepala satpam tersebut dengan kaki kanannya. Mereka berempat pun turun dari atas pohon, Jellal mengambil kunci dari kantong pak satpan dan ia memuka gerbangnya dengan kunci tersebut. Sebelum masuk ke dalam sekolah, aku meminta maaf terlebih dahulu kepada pak satpman atas perbuatan Jellal.

Kami berlima pun masuk kedalam sekolah dan melihat sekeliling. Aku berjalan ke arah pintu kayu dan mengamatinya dengan seksama. Mereka berempat mengikutiku dari belakang lalu bertanya.

"Apa ini ruang tempat penyimpanan batu bulannya?" Tanya Gray padaku

"Iya. Kata temanku didalam sini ada benda pusaka, aku yakin yang mereka maksud adalah batu bulan"

"Souka, ada kode disamping pintu ini"

"Biar aku yang mencobanya" Ucap Mavis yang melangkah kedepan

Kalau kuperhatikan dia hanya menekan tombol tersebut secara asal, seperti bermain tebak-tebakan. Kapan pintunya terbuka jika dia main-main?

"Kodenya 93561" Ucap Jellal

"Baiklah"

Mavis menekan tombol sesuai dengan ucapan Jellal. Kupikir dia asal tebak juga, ternyata aku salah. Pintunya terbuka dan kami pun masuk kedalam. Di dalam sangat gelap, tidak ada obor maupun lampu minyak. Makanya saat berjalan kami hati-hati.

Selesai menuruni tangga, aku hendak melangkah maju. Kakiku seperti tersandung sebuah tali dan aku pun terjatuh. Belum sempat berdiri Jellal langsung menarik lenganku dan mengajakku berlari bersama. Dari belakang aku mendengar sebuah suara, ternyata ada sebuah batu besar yang menggelinding kearah kami. Batu tersebut tidak juga berhenti menggelinding. Tiba-tiba saja Gray berhenti berlari dan memukul batu tersebut hingga hancur berkeping-keping.

Tangan monster itu benar-benar ada. Apa semua anak terkutuk memiliki kekuatan sehebat ini? Jika iya mungkin anak terkutuk bisa saja menggulingkan pemerintahan dengan mudahnya. Kami berlima melihat sebuah pintu yang tidak terlalu jauh dari jarak kami berdiri. Tetapi ada begitu banyak laser merah yang menghalangi jalan kami.

"Sekarang bagaimana? Menurutku lebih baik kita mundur"

"Tidak ada kata mundur dalam kamusku. Kita akan melewatinya"

Lagi-lagi Jellal memegang tanganku secara tiba-tiba, entah sudah berapa kali ia memegang tanganku secara sengaja. Aneh, kenapa jantungku jadi deg-degan begini? Ia menghindari laser tersebut dengan begitu cepat begitu pula dengan yang lainnya. Mereka benar-benar membuat ku takjub. Professional memang beda, ucapku dalam hati. Ketika aku melamun tanpa kusadari Jellal menendangku hingga tubuhku menabrak pintu. Apa maksud dari perbuatannya itu?!

"Ambil batu bulannya!"

Tanpa kau beritau aku akan melakukannya, baka. Di depan mataku sebuah batu biru berwarna biru terlihat sangat mengkilap karena terkana cahaya lampu. Aku mengambil batu tersebut tanpa ada kesulitan, tetapi aku sadar jika ada seseorang yang muncul dibelakangku. Siapa dia?

Bersambung…

Next chapter : Rogue Sang Penyihir Kartu