Jellal POV
Sinar matahari pagi ini benar-benar menyilaukan. Perlahan-lahan kubuka mataku dan melihat keadaan sekeliling, aneh, padahal seingatku aku berada di bangunan tua sebelah markas, mengapa sekarang aku berada di sebuah rumah? Seorang kakek tua masuk kedalam dan duduk disampingku. Wajahnya mengingatkanku pada nenek…
"Kamu sudah bangun rupanya" Suaranya benar-benar terdengar parau ditelingaku
"Ini, di mana?"
"Di rumah kakek. Kemarin, kakek menemukanmu tergeletak di jalan. Apa kamu sudah merasa lebih baik?"
"Ya…Begitulah"
"Kakek bawakan semangkuk bubur untukmu, jangan lupa di makan ya"
"Oh"
Aku hanya terdiam sambil memandangi kakek keluar dari kamar. Pasti ini bukan Magnolia, aku yakin jika seseorang menteleportku ke suatu tempat dan akhirnya aku sampai di tempat asing ini. Pikiranku benar-benar kabur, apa yang terjadi kemarin? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu" Kakek tua itu kembali masuk dan berdiri disampingku
"E…Eh…Tidak"
"Kamu bukan berasal dari sini ya?"
"Aku dari Magnolia"
"Kota yang sekarang kamu tempati ini adalah ibu kota Magnolia"
"Ibu kota?"
Akhirnya aku ingat. Ibu kota adalah tempat di mana yanng lemah di tindas, yang tidak bersalah di hukum mati, yang miskin dikucilkan oleh orang-orang, kota yang penuh dengan kejahatan dan korupsi juga kemunafikan. Aku sangat membenci kota ini, karena pasukan dari pemerintah membunuh anak-anak sepertiku.
"Istirahatlah yang cukup, dengan begitu lukamu bisa cepat sembuh"
"O..Oh…Arigato"
3 hari kemudian…
Sebenarnya lukaku belum sembuh total, 3 hari sudah berlalu. Tiba-tiba saja dari luar aku mendengar sebuah suara teriakan, terdengar suara parau yang sedang berteriak meminta maaf.
"Kumohon maafkan aku, tetapi aku tidak punya uang"
"Sudah berapa kali kamu gunakan alasan yang sama?! Jangan katakan hal itu lagi! Cepat bayar!" Ucapnya sambil menendang kakek
"Kumohon ampuni aku"
"Bayar atau mati!"
"Hentikan!" Teriakku yang berhasil membuat mereka berhenti
"Ya ampun kakek, kenapa kamu tidak bilang jika kamu memiliki seorang anak kecil?"
"Apa yang akan kalian lakukan padanya?"
"Karena kamu tidak bisa membayar hutang, kamu harus membayarnya dengan cara memberikan anak itu kepada kami!"
"Tidak, jangan…"
"Hey nak! Ikut kami atau kakek ini kami bunuh"
Tidak ada pilihan lain, aku hanya ingin kakek ini selamat sehinngga kuputsukan untuk mengikuti mereka. Rupanya mereka anggota gulid, aku bisa mengetahuinya karena di depanku berdiri sebuah gulid yang cukup mewah, Black Card, itulah nama yang terpampang di papan tersebut. Aku tidak tau apa-apa soal gulid ini, tetapi kuyakin jika mereka semua sama dengan gulid lain di kota ini.
"Nah, mulai sekarang kau akan bekerja di sini. Bersihkanlah gulid dan cuci piring, mengerti?"
"Oh"
"Sekarang, sapu bagian dalam gulid, lakukan dengan benar atau kakek itu akan kami bunuh, mengerti bocah?"
Sialan! Ancaman mereka membuatku tidak bisa berkutik. Gulid tersebut amatlah kotor, asap rokok bertebaran di mana-mana, dipenuhi oleh penjudi dan juga orang-orang jahat. Ketika sedang mengepel, salah satu dari mereka dengan sengaja menumpahlan air yang membuat lantai tambah kotor. Mereka berkata "Tanda perkenalan" Ya, itu amatlah menganggu. Selesai bekerja, aku duduk dipojokkan gulid sambil memegang pel. Orang yang sepertinya ketua gulid tersebut datang menghampiriku.
"Aku sudah selesai" ucapku datar
"Kalau begitu jangan bersantai, cepat bersihkan halaman depan gulid, sekarang!"
Tanpa mengatakan apapun aku pergi sambil membawa sapu. Saat sedang menyapu, aku melihat seorang anak perempuan berambut putih yang seusia denganku sedang berlari menuju gulid. Ia langsung memeluk seorang pria yang lebih tinggi darinya, pasti ayahnya.
"Tadaima, otou-san" ucapnya bermanja-manja dipelukan ayahnya
"Lisanna sudah pulang rupanya. Bagaimana sekolahnya?"
"Membosankan sekali"
"Itu pasti karena anak ayah pintar"
Kupegang erat-erat sapu tersebut, secara tiba-tiba aku teringat akan masa lalu, dulu kehidupanku sangatlah normal, aku bersekolah, bermain dan berteman, tetapi semenjak Erza mengambil alih pemerintahan masa-masa indah itu lenyap seketika. Tidak seharusnya aku mengingat masa lalu yang suram tersebut.
"Ayah, dia siapa?" tanyanya sambil menunjukku
"Oh iya, aku lupa menanyakan namamu. Siapa namamu?"
"Jellal" jawabku singkat
"Jellal ya…Sepertinya pernah dengar"
"Sudahlah ayah lupakan saja. Mana mungkin anak kecil seperti dia itu seorang pembunuh"
"Benar juga ya. Lanjutkan pekerjaanmu!" perintahnya
Bisa dibilang jika untuk sekarang aku terselamatkan, kalau saja mereka sadar aku ini seorang pembunuh, mungkin aku akan di tangkap dan di hukum mati. Itu tidak akan pernah terjadi sebelum tujuanku tercapai.
"Orang sepertimu seharusnya mati! Mati dengan di hukum yang seberat-beratnya dan masuk neraka! Dasar iblis!"
Ucapan Lucy sehari yang lalu, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Ya…orang sepertiku memang pantas masuk neraka dan di hukum seberat-berantnya. Apa lagi dulu…Tidak, aku ingin melupakannya…
Keesokan harinya…
Seperti biasanya, aku membersihkan gulid dan halaman depan gulid. Hanya saja hari ini aku di beri tugas tambahan, cukup mudah, ayah Lisanna menyuruhku untuk membeli beberapa roti di warung yang cukup dekat. Hanya berjalan sekitar 10 menit saja aku sudah sampai. Di dekat warung tersebut ada seorang pengemis berbaju lusuh, aku memberikan roti tersebut untuknya dan kemudian beranjak pergi.
"Terima kasih" ucapnya pelan
Perkataannya barusan sama sekali tidak kubalas. Warna mata itu…rupanya kita sama ya. Sesampainya di gulid ayah Lisanna menagih roti yang tadi kubeli di warung, dari raut wajahnya sudah tergambar jelas jika ia merasa heran.
"Mana rotinya?"
"Oh itu, tadi ada pengemis, karena kasihan aku memberikan semua roti itu untuknya" jawabku jujur
"Semuanya kau berikan padanya?!" ucapnya geram
"Ya, dia lebih membutuhkan daripada Lisanna"
PLAKK…!
Tamparan itu sangat keras, sampai-sampai membuat pipiku bengkak, sepertinya Lisanna mendengarkan percakapanku dengan ayahnya. Bisa di tebak, dia memarahiku dan keadaan semakin memburuk karena pengemis itu berdiri tepat di depan gulid.
"Hai" sapanya sambil tersenyum
"…."
"Eh, itukan rotiku. Sini kembalikan!" ucap Lisanna yang berusaha merebut kantong plastik berisi roti
"Jangan! Dia yang memberikannya padaku, jangan diambil!"
Terjadilah pertengkaran di antara mereka, yang satu berusaha untuk merebut dan yang satu lagi berusaha untuk mempertahankannya, kantong plastik tersebut hampir saja robek, aku tidak bisa membiarkan hal ini. Secara paksa kutarik kerah baju Lisanna sehingga dia mundur beberapa langkah dari tempat berpijaknya tadi.
"Hey! Apa yang kamu lakukan?!"
"Hentikan saja, berikan roti itu untuknya"
"Mana bisa, itukan rotiku, dasar bodoh!"
"Berikan padanya!" tegasku
Akhirnya aku menunjukkan tatapan death glare padanya, langsung saja dia menangis dan berlari memeluk ayahnya. Keadaan semakin memburuk saja, meski aku sudah bisa menduganya.
"Jellal! Apa yang telah kau lakukan?! Membuat anakku menangis, kamu ingin cari mati?!"
"Ajari anakmu itu untuk belajar berbagi"
"Kau!"
"…."
"Ayah dia menyeramkan, aku membencinya!"
Aku membencinya! Aku membencinya! Ucapan itu terngiang-ngiang di dalam pikirkanku. Sama seperti halnya Lucy, dia pun membenciku, suatu saat nanti dia pasti akan semakin membenciku. Sebuah kenyataan pahit yang telah kututpi tiga tahun lamanya.
"Kau harus diberi pelajaran!" ucapnya sambil menyeretku kearah gudang
Di dalam gudang, ayah Lisanna menghajarku habis-habisan. Aku di kurung hingga malam tiba, di dalam sana aku hanya terdiam sambil meringkuk di pojokan. Tempat ini, bukan, kota ini membangkitkan kenanganku di masa lalu. Benar juga…Aku tinggal di kota ini 11 tahun lamanya, bagaimana bisa aku lupa tanah kelahiranku?
"Aku memang pantas menerimanya, gomen…gomen…"
"Pantas menerima apa?"
"Kau pengemis yang tadi siang, ya?"
"Aku punya nama tau, namaku Meredy, ingat itu baik-baik"
"Oh…"
"Jadi, jawab pertanyaanku barusan"
"Ini urusan pribadi"
"Baiklah jika kamu tidak mau. Namamu Jellal bukan? Ayo berteman"
"Berteman? Lucu…"
"Aku tidak sedang melawak baka! Aku selalu serius dengan setiap ucapanku"
"Oh"
"Baiklah, kita akan berkenalan lebih jauh. Kamu anak terkutuk bukan sama sepertiku? Apa kemampuanmu?"
"Melihat masa depan, ya, aku bisa melihatnya menggunakan mata kananku"
"Itu hebat! Apa kau bisa melihat negara ini akan menjadi seperti apa sepuluh tahun kedepan?"
"Aku tidak merasa kemampuan ini hebat, aku membencinya…"
"Sayang sekali, kemampuanku adalah bisa melihat tembus pandang dari jarak tertentu"
"Aku tidak bertanya, untuk apa diberitau?"
"Lho, kitakan akan berteman, harus saling mengenal satu sama lain"
"Oh"
"Selalu saja berkata OH, rupanya kamu tidak serius…"
"Memang sejak kapan aku berkata jika aku ini serius?"
"Lupakan, aku mau pergi"
Sepertinya aku sukses membuatnya marah, ucapanku selalu saja membuat orang lain marah, apa perkataanku sebegitu kejamnya? Tetapi niatnya yang ingin berteman denganku cukup membuatku senang, apa dia tau jika aku ini pembunuh? Apa setelah tau dia akan tetap berteman denganku? Pertanyaan yang tak patut untuk di jawab.
3 hari kemudian…
Meredy POV
Aneh, sudah tiga hari lamanya aku tidak melihat Jellal di halaman depan. Apa mungkin dia marah karena ucapanku tiga hari yang lalu? Padahalkan aku hanya bercanda…tetapi sekarang aku tau jika Jellal itu orangnya serius, ya aku menyesal…atau mungkin karena hukumannya sehingga dia harus berada di gudang itu tiga hari lamanya? Seorang anak perempuan keluar dari gulid tersebut, dia menghampiriku dan bertanya.
"Mencari Jellal, bukan?"
"Ya, di mana dia?" tanyaku
"Oii Jellal, pengemis ini mencarimu!"
Tak lama di panggil orang yang kucari telah muncul dihadapanku. Sepertinya dia mau selesai bersih-bersih.
"Eto…Jellal, untuk tiga hari yang lalu maaf ya. Aku marah padamu, sebenarnya aku tidak bermaksud pergi"
"….."
"I..Itu karena emosi sesaat, maafkan aku ya?"
"…."
"Hey Jellal, apa kau mendengarku?!"
"…."
"Jellal!" teriakku lantang
Tiba-tiba saja dia pingsan tepat didepanku, aku kaget dan segera membawanya pergi. Ada sebuah rumah di sana, langsung saja aku membuka pintu dan menaruhnya di atas ranjang. Lukanya begitu banyak, apa dia di hajar selama tiga hari lamanya? Langsung saja aku pergi mencari obat dan perban, akan tetapi tidak ada obat maupun perban di dalam rumah ini, apa yang harus kulakukan?
"Ini, di mana?"
"Rupanya kamu sudah sadar,bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja"
"Jangan bohong! Jelas-jelas lukamu parah"
"Terserah"
Lagi-lagi dia masa bodo, secara tiba-tiba raut wajah Jellal berubah drastis, dia nampak terkejut dan segera beranjak dari tempat tidur. Aku berusaha untuk mencegatnya, tetapi gagal. Lagi-lagi Jellal membuatku terkejut, dia kelihatan geram.
"Di mana orang-orang kurang ajar itu?!"
"Maksudmu anggota gulid Black Card?"
"Di mana mereka?!"
"Mu…Mungkin masih di gulid"
"Tidak, mereka akan segera kesini"
Rupanya Jellal benar, orang-orang dari gulid Black Card datang ke rumah tua itu. Sepertinya mereka ingin mengambil kembali Jellal, akan jadi seperti apa kedepannya?
"Ingin menantang kami bertarung, huh?"
"Jawab dengan jujur, kalian membunuh kakek bukan?"
"Kau sudah menyadarinya ya…"
"Aku bekerja selama tiga hari ini, bukankah aku sudah menepati janji?"
"Ups…Kelakuanmu terhadap anakku benar-benar keterlaluan, makanya ketika kamu di hukum aku membunuh kakek tersebut"
"KAU!"
"Mau melawan? Kamu hanya bocah mana bisa melakukan apa-apa" ledeknya
Anggota yang lain pun ikut tertawa, sepertinya mereka telah memancing emosi Jellal. Aku bisa merasakannya, aura membunuh yang amat kuat dari dirinya. Kini ia mengenggam sebuah pedang di tangan kiri dan kanannya, sepertinya dia serius ingin melawan mereka semua.
"Jellal, jangan bertindak gegabah! Jumlah mereka lebih banyak darimu!"
"Dengarkan saja perkataan pengemis itu, jadilah boneka kami dan layanilah kami, hahahaa!"
"Tugasku adalah membunuh orang-orang jahat seperti kalian, bukankah seharusnya kalian yang menjadi mainanku?"
"Hahahaha, lucu sekali ucapamu barusan, bocah…"
Ia mengambil ancang-ancang untuk menyerang, secara tiba-tiba Jellal sudah berada di belakang punggung mereka, tak lama kemudian hampir seluruh anggota gulid Black Card yang tubuhnya terbelah dua, darah berceceran di mana-mana. Hanya satu orang yang saat itu mampu bertahan, akan tetapi luka akibat tebasan tersebut tidak akan bisa membuatnya bertahan lebih lama.
"Dalam pertarungan kita tidak boleh lengkah, kau mengerti bukan, pak tua?"
"Ka…Kau, sejak kapan kau berada di belakang kami semua?"
"Sejak kau menertawaiku dan sekarang katakan sampai jumpa pada dunia"
Aku tidak tau apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba saja kepalanya terbelah begitu juga dengan tubuhnya. Jurus yang benar-benar mengerikan…Jellal mengambil kepala yang telah terpisah dari tubuh pak tua tersebut, kemudian dia berjalan keluar kearah gulid Black Card, aku mengukutinya dari belakang, apa yang akan dia lakukan? Membunuh semua anggota Black Card?
"Namamu Lisanna bukan?" tanya Jellal
"Memang, di mana ayah?"
"Oh, ayahmu benar-benar kuat, sayang dia sudah mati sekarang. Ini hadiah dariku untukmu, anggap saja oleh-oleh dari pembunuh"
Jellal melemparkan kepala tersebut kepada anak bernama Lisanna, langsung saja dia menangis, kakinya gemetaran begitu juga dengan tangannya. Tak lama kemudian anggota lain dari gulid Black Card datang, mereka pasti ingin balas dendam.
"Apa maksudmu membunuh ayah Lisanna?!"
"Itu salahnya"
"Apa salahnya?! Seharusnya kamu sadar jika yang bersalah adalah kamu!"
"Oh, ya, aku tau salahku dan sekarang kalian akan mengetahui jika kalian juga bersalah"
Jurus maut itu pun digunakannya kembali, akhirnya aku tau nama jurus tersebut 4x-cut, bisa membuat 4 tebasan dalam waktu belasan detik, tetapi jika teknik tersebut sudah sampai pada tingkat tertinggi maka dia bisa membuat berapapun tebasan yang diingkan. Hanya dalam hitungan detik mereka semua mati, aku bisa melihat jika Lisanna amat ketakutan, dia berlari meninggalkan kami berdua. Setelah pertarungan itu berakhir, Jellal terjatuh dan dia terlihat lemas.
"Jellal, apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik"
"Tidak seharusnya aku bertanya apa kau baik-baik saja, kita harus bersembunyi"
Aku menggendong Jellal dan berlari meninggalkan tempat tersebut. Kebetulan di sana ada sebuah gang, aku berlari kearah gang tersebut dan menidurkan Jellal, jidatnya panas, apa dia demam?
"Rupanya kamu demam, aku akan membelikan obat untukmu!"
Sebenarnya aku tidak memiliki uang sepeser pun, ketika berada di apotek, aku langsung mengambil obat tersebut dan berlari sekuat tenaga. Beberapa petugas mengerjarku, aku tau mencuri bukanlah hal yang baik, akan tetapi di apotek tersebut ada begitu banyak obat, apa dia tidak ingin berbagi? Aku berhasil kabur dan segera menuangan obat untuk Jellal minum.
"Minumlah, dengan begitu demammu akan cepat sembuh"
"Kenapa kau menolongku?"
"Karena kita teman"
"Aku ini seorang pembunuh, kau tidak takut padaku?"
"Eh? Apa iya?"
Jellal berdiri dan kemudian merobek sebuah poster, dia tidak hanya merobek satu poster melainkan empat. Poster itu ditunjukan satu-persatu padaku, akhirnya aku paham siapa dirinya.
"Lihat poster ini, ini adalah wajahku dan tiga poster lainnya adalah wajah temanku"
"Rupanya kamu memang pembunuh"
"Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?"
"Bodoh!" ucapku sambil menampar pipi Jellal
"…."
"Mau pembunuh mau bukan, kita adalah teman. Aku tidak peduli tentang pekerjaanmu!"
"Meredy…"
"Minumlah obatnya, setelah itu kita pergi dari sini"
"Oh"
"Baka…" ucapku sambil tersenyum
Seharian ini banyak sekali yang terjadi, jujur saja, pada awalnya aku sempat ketakutan setelah Jellal berhasil membunuh semua anggota gulid yang ada. Padahal setauku, anggota gulid Black Card amatlah kuat, apa mereka benar-benar kalah hanya dengan sekali tebasan? Tak terasa malam sudah tiba, kami masih saja bersembunyi di gang tersebut, pasti setelah kejadian ini polisi dan anggota pemerintahan akan segera mencari Jellal.
"Ayo pergi" ajak Jellal
"Ke..kemana?" tanyaku heran
"Desa mata merah"
"Desa mata merah? Itu di mana?"
"Tidak terlalu jauh dari sini"
"Untuk apa kita kesana?"
"Erza"
"Maksudmu kepala pemerintahan ada di sana?"
"Jangan banyak bertanya! Kita harus bergegas"
Secara diam-diam kami keluar dari kota dan berjalan melintasi padang rumput, entah mengapa firasatku amat buruk, sebaiknya kita tidak kesana, bukan, jika ada Erza?
"Maaf jika aku banyak bertanya, tetapi mengapa kamu sangat ingin bertemu dengan Erza?"
"Tujuanku adalah untuk membunuhnya"
"Me..membunuhnya? Itu gila!"
"Lalu, kenapa?"
"Ti…tidak, tapi apa kau yakin bisa menang?"
"Aku sendiri tidak tau, jika kamu takut aku bisa pergi sendiri"
"…." Berpikir sejenak
"Baiklah, aku tidak akan meninggalkan temanku seorang diri dalam situasi bahaya"
Mungkin esok pagi kami akan sampai di desa mata merah, perlahan-lahan aku mulai mengingat tempat tersebut, sesuai dengan namanya di sana ada banyak anak macam kami. Tetapi, untuk apa Erza pergi kesana?
Bersambung…
A/N : Gomen yah lama update, di chap selanjutny muncul Natsu lhoo :v Tgg aja yaaa
