Mystogan POV
Sepertinya aku sudah berjalan cukup jauh dari markas, tempat ini begitu asing bagiku. Apa mungkin aku tersesat, lagi? Ku menghela nafas dan kembali berjalan, hanya tidak habis pikir, apa aku tidak bisa pergi ke suatu tempat dengan kekuatanku sendiri? Semenjak masih kecil, aku tidak pernah jauh dari kata tersesat, kalau saja tidak ada nii-san mana mungkin aku bisa pulang ke rumah.
Setelah melewati hamparan padang rumput, kini aku sampai di sebuah kota tak di kenal. Ada begitu banyak deretan rumah di sana, hanya saja sangat sepi, bahkan semua lampu di rumah tersebut mati. Apa mungkin mati lampu? Saat menengok kesalah satu rumah, ada seseorang yang melihat dari jendela di lantai dua, dia membuka jendela tersebut dan melemparkan sebuah kertas padaku.
Pergilah dari sini!
Aneh…apa mereka menolak kedatanganku? Akan tetapi aku terus berjalan, semakin lama semakin banyak orang yang melempariku kertas, bukan kertas melainkan batu. Kepala dan badanku terus di hantam oleh batu yang ukurannya bervariasi. Tiba-tiba saja langkahku terhenti dan segera aku meloncat, bersembunyi di semak-semak, ada beberapa orang yang nampak mencurigakan, bukankah seragam itu merupakan milik pemerintah? Anggota pemerintahan, ya…
Terlintas sebuah ide di dalam benakku, ya ini adalah ide yang buruk, akan tetapi sepertinya menyenangkan untuk dilakukan. Kuletakkan kedua tanganku di atas tanah, membaca mantra dan kemudian siap untuk menyerang, sedikit kejutan pasti akan membuat mereka senang (A/N : Mystogan rada OOC, gomen)
"Ketujuh lingkaran akan menghukum kalian : Trap!" kuhentakkan tangan kananku ketanah
Sepertinya anggota pemerintahan telah masuk kedalam jebakanku, ketika ada seseorang yang masuk kedalam lingkaran sihir tersebut, maka itu akan aktif dan muncullah serangkaian petir yang akan menyerang korban. Sepertinya tangkapan kali ini cukup bagus, tiga orang telah masuk kedalam jebakan tersebut. Saat mereka pingsan, aku keluar dari tempat persembunyianku dan mengecek mereka satu-persatu, tetapi sepertinya tidak berjalan lancar.
"Kau tidak akan bisa kemana-mana!" ancamnya
"Anggota pemerintahan yang lain?"
Rupanya masih tersisa satu yang hidup, hanya saja aku sedikit tidak diuntungkan dalam keadaan ini. Pertarungan jarak dekat, itulah yang menjadi masalah bagiku, bisa di bilang kelemahanku. Ia melancarkan pukulannya kepadaku dan tanpa perlawanan ( di baca Mystogan tidak melakukan perlawanan), dengan kasarnya ia menarik kerah bajuku dan meninjuku berulang kali, ketika ingin membalas tinju itu, dengan mudahnya di tahan pukulanku tersebut.
"Lambat" ledeknya sambil terus meninjuku
"Ada apa, mengapa tidak melawan? Apa kau takut, bocah?"
"…"
"Baiklah, yang paling penting aku telah menangkapku, sekejap uang seratus miliyar itu akan menjadi milikku, bukankah Erza-sama akan senang, iyakan, iyakan?" ucapnya sambil menunjukkan sebuah poster padaku
"Bodoh, kau salah orang"
"Salah orang? Apa maksudmu?!" teriaknya geram
"Bukankah jika menangkapku hanya dihadiahi lima puluh miliyar?"
"…?!"
Kesempatan itu kumanfaatkan dengan baik, kutendang perutnya itu dan segera berlari untuk menjaga jarak dengannya. Mataku terbelalak saat melihatnya berlari, dia terlalu cepat! Sepertinya sudah tidak mungkin untuk jaga jarak dengannya, kekalahanku sudah mutlak rupanya…
BOOOM!
Tiba-tiba saja disekitarku muncul asap yang amat tebal, apa ini ulahnya? Terdengar suara teriakan yang tidak terlalu jauh, apa orang lain yang melakukan hal ini? Setelah asapnya menipis, aku tidak melihat siapapun di sana, hanya ada anggota pemerintahan yang tadi mengejarku, akan tetapi penampilannya menjadi kacau balau. Ada sebuah tusukan di perut dan juga tangan kanannya.
"Kau!" teriaknya sambil berlari kearah-ku dengan membawa pisau
Kakikku sama sekali tidak bisa digerakkan, bukannya aku takut atau apa, tetapi sepertinya ia menggunakan sihir. Tusukan dari pisau tersebut sukses menikam perutku dengan amat dalam, kini aku sama sekali tidak bisa berkutik. Sepertinya terjadi sebuah keajaiban, sebuah pisau mendarat tepat mengenai kepalanya, satu tusukan tersebut langsung membuatnya tewas.
"Aku keren bukan?" tanya seseorang yang kini berada dibelakangku
"Si…siapa?"
"Menurutmu?" kini dia bertanya dengan raut wajah serius
"….."
"Sayang, kau akan berakhir di tempat ini" ucapnya sambil tersenyum
Semuanya menjadi gelap, apa yang terjadi padaku? Dia sempat memukul perutku dengan keras tadi, tepat di mana luka itu berada, apa ini benar-benar akhir?
Normal POV
Perlahan-lahan Mystogan mulai membuka matanya, kini dia berada di sebuah kamar yang cukup luas untuk satu orang. Kepalanya terasa begitu pusing, luka diperutnya amat sakit. Seseorang masuk kedalam kamar tersebut, orang itu…?
"Yo! Kau sudah baikan?" tanyanya sambil tersenyum pada Mystogan
"Kamu itu orang yang tadi?"
"Bisa jadi. Oh iya. Aku dengar-dengar menangkapmu bisa mendapatkan lima puluh miliyar, apa itu benar?"
"Me…memang, lalu?"
Orang aneh tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah Mystogan, gerak-geriknya sungguh aneh. Setelah puas melihat-melihat, ia duduk di sebuah kursi dan kembali berbicara.
"Aku sudah lama mencarimu"
"Mencariku? Kamu mau menangkapku?"
"Menurutmu?"
"Jangan membuatku bingung! Katakan secara jelas, jangan bertele-tele!"
"Perhatikan wajahku dengan seksama, kita mirip, bukan?"
"A…ya…mata kita sama-sama berwarna merah"
"Semenjak mendengar berita tentang kalian, aku selalu mencari gulid bernama Fairy Tail, akhirnya aku menemukan salah satu anggota dari mereka"
"Lalu?"
"Tentu saja aku ingin bergabung!" pintanya sambil memegang kedua tangan Mystogan
"Ta…tapi, aku bukan ketuanya"
"Lalu siapa ketuanya? Akan kucari dia"
"Justru sekarang aku sedang mencarinya, nii-san menghilang secara tiba-tiba"
"Nii-san? Dia kakakmu?"
"Memang"
"Jadi begitu ya, hahahaha" tawanya
"Untuk apa tertawa?"
"Aku pikir orang yang berada di poster ini adalah Jellal, rupanya Mystogan, makanya aku merasa heran saat kamu berkata bukan ketua gulid"
"O..oh"
"Ah iya, namaku Natsu Dragneel, jobku entrapper, kutukanku adalah bisa mendengar dari kejauhan seberapa jauh pun jaraknya"
"Na…"
"Tidak perlu berkenalan, aku sudah tau tentangmu dan juga, kita simpan percakapan ini untuk nanti" raut wajah Natsu mendadak serius
Seseorang memecahkan kaca jendela dan masuk kedalam rumah kayu tersebut. Seragam itu tidaklah terlihat asing, lagi-lagi anggota pemerintahan. Hanya saja penampilannya agak berbeda, lelaki itu terlihat seperti seorang yang sudah pro dalam bertarung.
"Rupanya aku menemukan dua mangsa di sini" ucapnya terlihat gembira
"Dan sepertinya aku menemukan tikus raksasa yang masuk ke rumahku tanpa izin"
"Tikus? Itu terdengar menjijikan"
"Yang lebih penting, darimana kamu tau letak rumahku?" tanya Natsu dengan tatapan tajam
"Itu mudah saja, aku mengikuti seseorang yang mirip dengan Jellal dan sampai di rumahmu yang bau ini"
"Hey, tidak sopan loh mengatakan rumahku bau"
"Tu…tunggu…apa kalian saling mengenal?" tanya Mystogan yang merasa heran
"Aku tidak mengenalnya, tetapi aku tau dia siapa. Laxus Dreyar, anggota pemerintahan yang paling sadis, mengejar mangsa tanpa segan-segan dan juga matanya hijau, ya meski matanya tidak hijau, lalu kenapa aku berkata matanya hijau ya?" ucapan Natsu yang terakhir berhasil membuat Mystogan pingsan
"Mata hijau itu artinya mata duitan"
"Pantas saja tubuhnya besar dan gendut begitu, rupanya dia mata duitan"
"Itu rakus!" ucap Mystogan gemas pada Natsu
"Mengataiku rakus dan mata duitan, kau mau cari mati ya?" tanyanya pada Mystogan
"Cari mati? Dia sedang mencari kakaknya, dasar bodoh" ucap Natsu sambil terkekeh-kekeh
"BUKAN BEGITU MAKSUDKU!" teriak Laxus penuh amarah
"Berbicara dengan orang bodoh sepertimu hanya membuang-buang waktuku saja. Serahkan anak itu!"
"Menyerahkannya? Ups, maaf, akulah yang akan menyerahkanmu pada Erza dengan badan yang sudah terpotong-potong!"
Natsu bergerak dengan begitu cepat, ia bermaksud untuk menyerang punggung Laxus, akan tetapi usaha tersebut sia-sia karena Laxus menyadari keberadaannya. Bom yang hampir mengenai punggungnya itu dihancurkan dengan begitu mudah, kedua tangannya mengeluarkan listrik dan bom itu pun hancur berkeping-keping.
"Sia-sia saja, karena…"
Ketika Laxus sedang menghancurkan bom tersebut, Natsu kembali berpindah tempat dan melemparkan bom sekali lagi. Kamar tersebut seketika hancur karena ledakan beruntun, meski bom yang tadi t'lah hancur berkeping-keping, tetap saja menimbulkan ledakan. Asap memenuhi ruangan tersebut dan kesempatan itu tidak dilewatkan begitu saja olehnya.
"Rasakanlah serangan berturut-turut dariku! Triple Hunter!"
Entah mengapa sepertinya dia terlalu sering melemparkan bom, Mystogan merasa tempat ini akan segera hancur tak lama lagi. Ketika melayang di udara, Natsu melemparkan tiga bom sekaligus dan kemudian ia membawa Mystogan kabur bersamanya.
"Jangan hirup racunnya, ayo pergi" ajak Natsu
Akan tetapi ketika ingin melompat dari jendela lain, Laxus menghentakkan kakinya dan muncullah petir di sekeliling mereka, meski begitu Natsu berhasil keluar dan membawa Mystogan dalam keadaan selamat, ya meski kondisinya tidak terlalu baik karena petir itu mengenainya.
"Kamu pikir bom asap, api dan racun akan membuatmu terbunuh? Lucu.." ucapnya sambil keluar dari gumpalan asap tersebut
"Bagaimana kau.." ucap Natsu tak percaya
"Aku tidak selemah yang kau pikirkan Natsu, dan juga, aku tidaklah bodoh. Rencanamu sudah terbongkar, kamu sengaja melemparkan bom asap terlebih dahulu supaya aku tidak bisa melihat sekeliling, lalu kamu lemparkan bom api supaya kayu-kayu tersebut menjadi penghantar dan berharap akan membakarku, dan terakhir, kamu melemparkan bom racun karena sadar jika aku tidak akan mati hanya karena api. Itu benar bukan?" tanyanya sambil menyeringai
"Ya, memang. Meski kamu kuat badanmu yang besar itu sudah terluka, itu berarti rencanaku tidak sepenuhnya gagal bukan?"
"Memang kamu berhasil membuatku terluka, akan tetapi lihatlah temanmu itu"
"Mystogan?" ucap Natsu memanggil namanya dan sama sekali tidak diindahkan olehnya
"Dia menghirup racun tersebut, sepertinya kamu lupa jika bom racun amatlah kuat, sehingga orang-orang yang tidak memiliki daya tahan yang kuat akan merasakan efeknya. Ya, aku berterima kasih padamu karena sekarang anak itu dalam keadaan tidak sadar, jadi serahkan dia"
"Kau!"
Natsu terlihat sangat geram, ia melempar sebuah pisau yang melesat dengan begitu cepat dan semuanya berhasil di tangkap oleh Laxus.
"Pisau tidak terlihat ya, itu tidak akan cukup untuk menipuku" ucap Laxus sambil menjatuhkan kelima pisau yang tadi di lempar Natsu
"Cih…meski aku gagal, untuk terakhir kalinya aku tidak akan gagal lagi!"
Rupanya rencana terakhir Natsu adalah kabur, meski gerakannya begitu cepat Laxus bisa mengimbanginya dan terjadilah kejar-mengejar di antara mereka berdua.
"Sampai kapan kamu akan bisa berlari Natsu?"
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu?" ucap Natsu sambil menengok kebelakang
Lucy POV
"Aku sudah menemukannya" ucap Mavis sambil beranjak berdiri
"Menemukan apa?" tanyaku
"Jellal-san sedang menuju desa mata merah. Kita akan pergi kesana bukan Gray-san?"
"Tentu, itu adalah tugas kita"
"Menemukan Jellal, tetapi bagaimana bisa?" ucapku tak percaya
"Mavis menggunakan semacam sihir, aku sendiri tidak tau jelas. Yang jelas, dia adalah supporter gulid ini, aku berhutang budi padamu" ucap Gray
"Tetapi yang lebih penting, apa kamu ingin ikut dengan kami Lucy-chan?"
"A…aku…aku tidak tau"
"Putuskanlah dengan cepat, jika tidak aku takut akan terjadi hal yang buruk nantinya" Gray mengucapkannya tanpa menengok sedikit pun kearahku
"Baiklah, aku ikut dengan kalian"
"Itu baru Lucy-chan yang selalu mencintai Jellal-san" ucap Mavis sambil tersenyum padaku
"Mencintainya? A..aku tidak menyukainya sedikit pun"
"Sudahlah, ayo" ajak Gray
Kami bertiga pergi menuju tempat tujuan, yaitu desa mata merah. Sebelum kami tiba, jangan sampai terjadi hal yang buruk padamu, Jellal.
Bersambung…
