Jellal POV

Daerah di perumahan sekitar nampak sangat sepi tanpa seorangpun di luar sana, jalanan aspal yang sudah retak dengan batuan berserakan membuat suasana desa semakin tidak karuan. Apalagi langit kala itu mendung hingga sesekali terdengar suara gemuruh petir. Tidak salah lagi, ini adalah desa mata merah, tempat di mana Erza akan menampakkan dirinya kapanpun. Tidak ingin membuang waktu, segera aku menyelusuri tempat ini, guna mencari sebuah informasi yang dapat berguna nantinya.

"Hey, kita akan pergi kemana?"

"Aku akan mencari Erza ke segala arah, mungkin sebaiknya juga kita menanyakan hal ini ke warga sekitar"

"Kamu benar-benar serius ingin melawannya?"

"Ya, lalu kenapa? Ini adalah urusanku, jadi tidak perlu ikut campur"

Mendengar jawaban ketus dariku sempat membuat ekpresi wajah Meredy berubah, mimiknya seakan berkata "Siapa juga yang peduli denganmu!" Ya apapun itu aku tidak peduli.

BRAKKK!

Pintu kayu tersebut kubanting, membentur tembok dengan keras dan langsung lepas engselnya. Keluarga yang berada di dalam rumah tersebut nampak ketakutan melihat wajahku, padahal aku tidak memiliki niat untuk membunuh ataupun keinginan jahat lainnya.

"Apa Erza ke sini?" tanyaku langsung to the point, mengintrogasi seorang kakek yang berusia sekitar tujuh puluh tahun

"Di…di-dia masuk ke sini, bahkan cucu semata wayangku dibunuhnya!" teriak sang kakek penuh rasa takut, mengerti maksud ucapannya kuambil sepotong kepala tanpa mata tersebut, memperlihatkannya tanpa rasa kasihan sedikitpun

"Kepala ini adalah cucu kakek bukan?"

"Ja…jangan memperlihatkannya, jangan…."

"Oh" jawabku singkat tanpa ada maksud membalas, melempar kepala tersebut asal tepat mengenai badan si kakek

Perbuatannya sudah melewati batas, apa dia setega itu untuk membunuh anak berusia sekitar enam tahun, menjual bola matanya di pasar gelap tanpa mempedulikan perasaan sang kakek? Tidak sepantasnya aku berkata seperti itu, karena berdasarkan kenyataan tindakkanku dengannya sama-sama tidak memperhatikan perasaan siapapun.

"Jellal, apa maksud dari perbuatanmu barusan?!" tanya Meredy setengah berteriak, sudah kuduga dia tidak suka dengan perbuatanku barusan

"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya bertanya"

"Tapi perbuatanmu barusan sangatlah jahat, kamu tidak kasihan pada kakek itu?!"

"…."

Wajar jika dia benar-benar marah, tetapi memang lebih baik begini. Cepat atau lambat Meredy akan mengetahu perangi asliku, dan menutupinya adalah hal yang sia-sia. Karena iris kemerahan itu mampu melihat jiwa, serta sifat seseorang yang berada di dalamnya tanpa perlu lagi bertanya ataupun mengenal lebih jauh.

Seorang wanita berambut merah scarlet panjang menghentikan langlah kakiku, tengah menatap kedua bola mataku seperti seekor elang hendak memangsa lawannya, menyeringai pelan tetapi tergambar jelas kesadisannya. Dia pasti Erza, orang yang telah membunuh sebagian besar warga desa mata merah. Semua itu dapat diketahui hanya dengan mencium bau tubuhnya yang bersimbah darah.

"Senang bertemu denganmu, Jellal Fernandes-san" sapanya terdengar ramah, membuatku sempat menggertakkan gigi merasa tidak suka dengan sikapnya

"Aku tidak butuh salam darimu, Erza" balasku tajam tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun

"Akhir-akhir ini aku sering mendengar tentangmu, sekelompok bocah yang menentang pemerintahan dan ingin menendangku pergi dari posisi kepala negara"

"Kau terlalu banyak basa-basi…"

"Ini pertama kalinya aku bertemu dengan anak semanis dirimu, kalau kamu berteriak bagaimana ya?" tanyanya memasang muka penasaran, membuat suasana di sekitar menjadi lebih tegang

"KAMULAH YANG AKAN KUBUAT BERTERIAK, ERZA!"

Langsung saja tanpa basa-basi lagi aku berusaha menyerang punggungnya, saat menebaskan salah satu pedang di tangan kiri ia langsung berpindah tempat dengan cepatnya dan menendang punggungku keras. Tetapi hal itu tidak berpengaruh banyak, serangan beruntun dikerahkan olehnya dan sempat membuatku kewalahan untuk memblock semuanya. Bahkan meski tanpa menggunakan pedang pun tongkat itu sama tajamnya dengan pedang steno milikku.

"Ada apa? Tidak bisa menahan serangannya ya"

"…."

"Untuk seukuran anak-anak kamu cukup hebat, tetapi kita harus mengakhirinya di sini"

"Raut wajahnya berubah" gumamku terdiam, merasakan firasat buruk akan tatapan mematikan itu

"Petir keadilan akan menghukumku, shield of justice!"

Sihir area? Saat menyadarinya aku langsung mendorong Meredy kuat-kuat, jika dia sampai kena akan berbahaya. Petir kuning tersebut membuat orang terkena efek stunt, diartikan tidak bisa bergerak selama beberapa detik dan itu akan merugikan diriku, selama beberapa detik Erza akan melancarkan serangannya lain sebelum aku bisa bergerak kembali. Tongkat tersebut dihunuskan, mendorong perutku kuat kebelakang, menimbulkan debu tebal karena berbentur dengan bangunan sekitar.

DUAKKK!

Belum sempat bangkit berdiri Erza langsung menendang perutku keras, dan serangannya barusan membuatku memuntahkan darah segar dari mulut. Aku tidak tau jika sihir areanya membuat luka yang cukup fatal hampir pada seluruh bagian tubuhku. Melancarkan serangan balasan sangat musthail untuk saat ini.

"Sesuai rumor, daya tahan tubuhmu sangat kuat. Jika boleh tau siapa yang mengajarimu?" tanya Erza mendekat, menjambak rambutku sambil menyeringai sadis

"Itu tidak penting"

"Mungkin tidak jika ayahmu yang mengajari teknik pedang dan semuanya? Jujur saja aku sangat mengagumi kemampuanmu"

"Jangan membuatku mengingatnya…" tatapku penuh perasaan benci, apa dia sengaja?

"Asal kamu tau saja, aku mengetahui kelemahanmu, ya ke-le-ma-han-mu!" bisiknya pelan, dan pengejaan pada kalimat terakhir membuatku semakin tidak suka, tetapi di sisi lain aku juga merasa kaget

"Lihatlah ekspresi yang terpampang di wajahmu, benar-benar mantap, sangat mantap!"

DUK!

DUK!

DUK!

Meredy POV

Bukankah ini terlalu kejam? Aku melihat Jellal yang kepalanya terus-menerus dibanting hingga berdarah, kalau saja dia orang biasa mungkin sekarang sudah sekarat. Kakiku terasa membeku di tempat, kalau begini terus Jellal bisa benar-benar mati kehabisan darah! Tenang saja, aku berjanji akan menyelamatkanmu!

"Lihatlah itu Jellal, satu-satunya temanmu malah pergi meninggalkanmu yang sudah sekarat di sini, hahahaha!"

"Lalu kenapa, kamu pikir aku peduli? Itu lebih baik, aku hanya ingin dia selamat…"

"Ya, prioritasmu adalah menghindarkan perempuan itu dari bahaya, dan perbuatan bodoh itulah yang menyebabkan kekalahanmu sekarang!" teriak Erza kencang, entah kenapa yang pasti dia terlihat senang

"Mau kalah atau menang aku tidak peduli" jawab Jellal mengalihkan padangan, masih memasang ekpresi datar seperti tadi-tadi

"Heh? Kau serius? Hahaha kamu benar-benar anak yang menarik! Jadi temani nee-san bermain lagi, oke?"

Kepalaku sempat menoleh ke belakang sesaat, Erza hendak berbuat macam-macam lagi sepertinya. Langsung saja aku mempercepat lari dan mencari bangunan tinggi di sekitar. Ya desa ini cukup menguntungkan seorang sniper sepertiku, setelah menemukan tempat yang pas aku segera mempersiapkan semuanya, amunisi, senjata dan memposisikan agar tepat mengenai Erza.

"Arah angin diketahui, koordinat musuh telah ditemukan, peluru siap ditembakkan dalam tiga, dua, satu!"

Saat pelatuknya telah kutarik, peluru tersebut melesat cepat di udara, menimbulkan ledakan sangat besar di sekitar mereka berdua, aku harap itu mengenai Erza dan memberikan luka cukup fatal padanya. Kini kedua mataku tengah mencari keberadaan mereka, dan dia tidak terluka sedikitpun! Apa gagal mengenainya?

"Kau cukup hebat bocah sniper!" teriaknya lantang kearahku, gawat jangan-jangan…

Karena keberadaanku sudah diketahui, tanpa pikir lagi aku langsung berlari menjauhi bangunan tersebut, berusaha mencari posisi lain untuk menembak. Tetapi sia-sia saja, Erza berhasil menemukan posisiku dan siap untuk memberikan serangan balasan.

"Larimu cepat juga"

"Di…diam!" tanpa mempedulikan pujian barusan, aku berusaha untuk menembaknya dengan mengganti senjata menjadi pistol, tetapi dia terus menghindar dengan cepatnya

"Kalau boleh memberikan penilaian, tembakanmu sangat akurat dan pistol yang berada ditanganmu adalah jenis terbaru bukan?"

"Tidak perlu memberi penilaian!"

"Membosankan" ucapnya datar masih mengejarku

DOR!

DOR!

DOR!

Tidak ada kata asal menembak dalam kamusku, tetapi sebanyak apapun peluru yang melesat tetap saja satupun tidak mengenainya. Saat akan menembakan peluru terakhir, tiba-tiba di depan Erza ada seorang anak lelaki berambut salam sedang menggendong seseorang, mataku terbelalak melihatnya darimana dia muncul?!

"Menghindar, jika tidak peluru itu akan mengenaimu!" peringatku sambil berhenti berlari

Hanya dengan menggunakan satu buah pisau anak itu dapat menangkisnya dengan mudah, tanpa segan-segan Erza langsung menendangnya hingga berbenturan tubuh denganku.

"Ittai…."

"Maaf, apa kamu baik-baik saja?"

"Hey, orang yang kamu gendong itu Jellal?" balikku bertanya

"Namanya Mystogan, kamu mengenal Jellal?" saat menanyakannya entah kenapa dia terlihat antusias, aku sendiri nampak keheranan menatapnya

"Ya, kami berdua baru bertemu beberapa hari lalu, tetapi sekarang aku tidak tau dia berada di mana"

"Ahh sayang sekali, sebaiknya kita kabur kalau tidak beruang itu akan segera datang"

"Beruang?"

"Siapa yang kau katai beruang anak sialan?!"

Seorang lelaki berbadan kekar tengah berdiri menghadang jalan kami berdua, jadi orang ini adalah beruang yang dia maksud? Seragam itu…bukankah dia anggota pemerintahan? Kalau begini kami benar-benar dalam bahaya!

"Sudah tidak bisa kabur ya…yosh kita akan melawannya!"

"Kita? Maksudku aku dan kamu?"

"Begitulah, oh namaku Natsu Dragneel, semoga kita bisa menjadi teman baik"

"Te…man? Na-namaku Meredy, aku sangat berharap kamu mau menjadi temanku!"

Tatapan matanya begitu hangat dan bersahabat, ya bisa dibilang dia sangat berbeda dengan Jellal dari segi manapun, tetapi sekarang aku senang bisa memiliki dua teman, meski terjadi di saat-saat yang tidak tepat.

Hosh…hosh…hosh…

Suara itu…

"Siapa di sana?!" teriakku lantang, menengok ke sana kemari berusaha mencari

"Kalian berdua lengah, lightning dragon roar!" (A/N : Tau bener tau salah, maaf ya kalo salah)

Petir kekuningan tersebut sukses mengenai kami berdua, menyetrum tanpa ampun dengan kekuatan beribu-ribu volt. Aku sempat melihatnya, dia mengeluarkan petir dari mulut! Apa ada sihir seperti itu?

"Cih, rupanya penganggu lain sudah muncul"

"Jangan harap kau bisa lari Laxus!" peringat seorang anak berambut raven, mengacungkan jari telunjuknya menghadap pria berbadan kekar itu

"Kamu mirip dengan yang di poster, Gray Fullbuster, Mavis Vermilion dan…"

"Nii-san?" panggil seorang perempuan berambut pirang ikat dua

"NII-SAN?!" teriak semua orang yang berada di sana, sedangkan aku hanya terdiam seribu bahasa, merasa kaget dengan sebutannya barusan

Perempuan berambut pirang itu adalah adik dari Laxus si anggota pemerintahan?

Bersambung…

Next chapter : Laxus dan Lucy

A/N : Akhirnya kembali lanjut setelah hiatus cukup lama, riview yaa minna!