Beberapa hari kemudian…
Lucy sudah pulang ke rumahnya, pergi ke sekolah dan menjalani aktivitas seperti biasa. Berita tentang kematian Laxus menyebar luas ke berbagai daerah dengan sangat cepat, setiap kali melihatnya dia langsung mematikan televisi ataupun memalingkan muka dari siaran televisi yang memuat berita tersebut. Hingga sekarang pelaku dari pembunuhan sadis itu masih belum terkuak, bahkan sangat mustahil karena jejak pembunuhnya sudah terhapus secara keseluruhan.
Jika ketahuan mungkin sekarang Lucy akan dijatuhi hukuman mati, kalau tidak hukuman penjara seumur hidup, meski semua itu agak terdengar berlebihan karena dia hanyalah murid SMP kelas dua. Palingan masuk pusat rehabilitasi, dan selang beberapa tahun kemudian dunia menolaknya mentah-mentah karena tindakan yang tidak dapat ditoleransi oleh akal sehat maupun hati nurani.
"Lu-chan, akhir-akhir ini kamu agak aneh" ucap Levy terdengar khawatir, membuat Lucy terbuyar dari lamunannya
"Ah ya, begitulah…" balasnya menunduk lesu, masih teringat akan kematian Laxus
"Laxus-san adalah kakakmu satu-satunya, jadi aku mengerti kenapa kamu merasa sedih"
"Kami berdua turut berduka cita atas kematian Laxus-san" jawab Levy ikut berkabung, berempati kepada sahabatnya
"Terima kasih Levy-chan, Wendy-chan"
Mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju sekolah, sebenarnya ibu Lucy melarang untuk masuk karena buah hatinya terlihat belum siap menghadapi semua ini, tetapi Lucy tetap memaksakan diri untuk pergi dan selama pelajaran berlangsung ia hanya melamun sambil melihat ke arah jendela. Kalau saja bukan dirinya sendiri yang membunuh Laxus, mungkin tekanannya tidak akan sebesar sekarang ini. Levy dan Wendy memandangi sahabat mereka iba, berusaha mencari cara agar Lucy kembali senang.
"Bagaimana kalau sepulang sekolah kita pergi ke toko buku, aku dengar ada novel keluaran terbaru" ujar Levy berusaha mencairkan suasana, ingin membuat Lucy tertarik akan idenya
"Setelah itu kita pergi makan di cafe, berbelanja lalu karaoke di tempat biasa!" usul Wendy menanggapi saran Levy barusan
"Kalian saja, aku tidak ikut"
"Tapi kenapa? Biasanya kamu paling bersemangat saat aku ataupun Wendy mengusulkan rencana sehabis pulang sekolah. Kami hanya ingin membuatmu tidak mengingat kematian Laxus-san yang tiba-tiba"
"Aku tau niat baik kalian, tetapi setelah pulang sekolah nanti aku ada urusan, maaf ya…"
"Baiklah, kami tidak akan memaksamu. Sebagai gantinya berjanjilah bahwa kamu tidak akan terlibat masalah apapun"
"Aku berjanji…"
Bisa dibilang jika Lucy mengucapkannya tanpa berpikir dua kali, bahkan sebenarnya dia tidak terlalu menyimak rencana Wendy dan Levy. Hati maupun pikirannya tidak berada di sana, melainkan berpencar ke segala arah tanpa diketahui yang pasti kemana. Keinginan Lucy sekarang hanyalah bel pulang cepat-cepat berbunyi, dengan begitu dia bisa bertemu Mystogan ataupun Jellal di depan gerbang area terlarang.
Saat bel pulang berbunyi…
"Kami pergi dulu, Lu-chan" ucap Levy melambaikan tangan diikuti Wendy, yang dibalas dengan anggukan
Tanpa menunggu lebih lama lagi selesai berbenah Lucy langsung pergi, mengayuh sepeda kesayangannya dengan cepat menuju area terlarang. Saat masuk Lucy pun harus berjuang keras, melewati setiap jalan yang bisa dibilang cukup sempit, melewati turunan bahkan belokan, salah sedikit saja nyawa pun bisa jadi taruhan. Untuk sesaat ia sempat merasa ragu, apa Mystogan atau Jellal berada di depan gerbang? Jujur saja Lucy tidak janjian dengan siapapun untuk bertemu di sana, kalau mereka tidak ada bagaimana?
"Siang" sapa seseorang berdiri di depan gerbang
"Mystogan ya?" panggil Lucy terdengar agak ragu, masih belum bisa membedakan kedua saudara kembar tersebut
"Seratus untukmu, tumben kesini"
"E…eto…sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan padamu, boleh?"
"Boleh boleh saja, tetapi jangan terlalu sulit"
"Apa kamu pernah membunuh seseorang?" Lucy menanyakan hal tersebut dengan sangat serius, membuat ekspresi wajah Mystogan seketika berubah
"Pernah, lalu kenapa?"
"Si-siapa yang kamu bunuh?"
"Dia adalah pacarku, orang yang sangat dekatku selain kakak…" jawab Mystogan tersenyum, padahal tadi dia nampak sedih
"Maaf menanyakan hal ini, bagaimana perasaanmu saat membunuh…nya?"
"Sedih, ya aku sangat sedih"
"Kalau memang sedih kenapa kamu malah tersenyum seperti tadi?!"
"Siapa orang yang pertama kali Jellal bunuh?" pertanyaan Lucy masih berlanjut, padahal dalam hatinya Mystogan menggerutu 'kapan dia selesai bertanya?'
"Ka-kalau itu aku kurang tau, kenapa Lucy terlihat antusias menanyakan hal-hal seperti ini?"
"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran. Satu lagi, apa semua anggota gulid kalian pernah membunuh?"
"Aku juga kurang mengetahuinya, kalau mau tanyakan saja langsung pada kakak, dia mengetahui semua masa lalu anggota gulid"
"Baiklah terima kasih sudah menjawab semua pertanyaanku"
"Jangan langsung pulang, lebih baik mampir sebentar"
Lucy POV
Padahal tadinya aku ingin pulang dan mengunci diri di kamar, tetapi tidak ada salahnya untuk pergi ke markas. Selama perjalanan ke sana pikiran negatif terus menghantui, kalau Gray masih menolakku bagaimana, kalau dia mengusirku? Kuacak-acak rambutku sendiri, tidak tau harus berbuat apa jika terjadi "hal buruk" Saat Mystogan membuka pintu sebenarnya aku hendak kabur, tetapi kakiku malah membeku di saat-saat seperti ini!
"Yo Luingi!" apa-apaan itu, dia salah memanggil namaku dan masih terlihat riang?!
"Namaku Lucy bukan Luingi!"
"Dia adalah Natsu Dragneel, anggota baru gulid kita" ucap Mystogan memperkenalkannya, oh aku ingat dia adalah orang yang beberapa hari lalu berada di lokasi TKP
"Aku masih bagian dari gulid ini…?"
"Tentu saja iya, salam kenal Lucy-chan!" anak perempuan itu…dia juga berada di lokasi TKP dan aku sempat melihatnya bertarung sengit dengan Erza
"Namanya Meredy, sekarang kamu memiliki dua teman baru, Lucy"
Entah kenapa tetapi Mystogan terlihat senang untukku, dan ucapan darinya sempat membuatku tersenyum untuk sesaat. Tiba-tiba saja dengan hebohnya Natsu berteriak.
"Kamu benar-benar pandai dalam menghibur wanita, aku salut!"
"Ha-hal seperti itu tidak pantas untuk disaluti, a..a…"
"Sepertinya Jellal mendapat saingan baru" ucap Mavis ikut-ikutan dalam percakapan tersebut
"A…aku tidak menyukainya!" tegas Mystogan dengan semburat merah dikedua pipinya, dia berbohong atau serius?
"Kamu tidak perlu bohong, aku bisa mendengar suara hatimu" balas Natsu yang langsung membuat Mystogan terpojok, anak itu benar-benar suka iseng rupanya…
Belum pernah aku merasa sesenang ini, kesedihanku hilang untuk sesaat karena gelak tawa dari mereka semua, kecuali Jellal yang hanya terdiam dengan perban di sekujur tubuh bahkan wajahnya juga.
"Sesi kedua, Gray akan mengucapkan permintaan maaf kepada Lucy!"
"Tu-tunggu Natsu, a-apa maksudmu? A…aku…"
"Gray telah menyakiti hati Lucy-chan, jadi harus minta maaf" ucap Mavis tersenyum layaknya anak kecil berusia ima tahun, langsung membuat hati Gray luluh
"Ma…maaf karena beberapa hari lalu aku mengataimu pengkhianat"
"Tidak apa-apa, aku sudah tau kamu akan beranggapan seperti itu"
"Hanya begini saja? Baiklah sesi selanjutnya adalah ungkapan cinta Jellal untuk Lucy!"
Dan saat sesi ketiga dimulai Jellal langsung pergi menaiki tangga sambil memalingkan muka. Yang jelas pasti Jellal tidak akrab dengan siapapun, kecuali Mystogan mungkin.
"Hampirilah dia" usul Meredy padaku
"Ta-tapi aku harus mengatakan apa?"
"Tanyakan saja apapun, asal kamu tau saja diam-diam Jellal me-nyu-ka-i-mu!" eja Natsu pada kata terakhir, sempat membuatku merasa malu
Apa Natsu serius, atau dia hanya sekedar bergurau? Aku menaiki tanggga sebelum Jellal hendak masuk ke sebuah ruangan yang kupikir adalah kamarnya, suasana terasa begitu tegang juga sunyi, apa yang harus kutanyakan?!
"Lukamu parah ya?" tanyaku memulai pembicaaran di antara kami berdua
"Tidak juga"
"Habisnya di sekujur badan dan mukamu penuh perban, seperti mumi…"
"Oh"
"Hanya oh saja, tidak marah ataupun balik meledek?!"
"Kenapa kamu selalu menggunakan penutup mata, punya penyakitkah?"
"Tidak, hanya saja…aku takut melihat masa depan"
Bahkan seorang Jellal pun bisa merasa takut, aku sendiri tidak terlalu mengerti maksud dari perkataannya barusan, akan tetapi aku ingat tentang kutukan "melihat masa depan" yang pernah disebut-sebut saat berkenalan dulu.
"Kalau tidak salah kamu pernah mengatakannya saat berkenalan dulu, apa sebegitu menyeramkannya?"
"Tergantung situasi"
"Menurutku itu keren, karena bisa mengetahui masa depan kamu akan lebih siap bukan?"
"Semua yang terlihat selalu terjadi tiba-tiba, selanjutnya kamu akan bertanya 'berarti kamu mengetahui jika Laxus-nii akan segera terbunuh' iyakan?"
"Di-dia benar-benar mengetahuinya!"
"Ka-kamu benar-benar mengetahuinya?! Jadi semua kejadian beberapa hari lalu sudah kamu lihat dalam masa depan?!"
"….."
"Apa ka…"
"Apa aku pernah membunuh? Ya pernah, dan bagaimana perasaanmu? Aku menyesal…"
"Jangan memotong perkataanku begitu saja Jellal! Kalau kamu memang menyesal kenapa tidak ditunjukkan saja?!"
"Memangnya perlu? Kupikir tidak, asal kamu tau saja aku juga memiliki emosi layaknya manusia biasa"
Kutukan itu benar-benar ada! Jujur saja pada awalnya aku tidak mempercayai soal kutukan atau hal-hal lain, tetapi Jellal sudah membuktikan semuanya, dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bahkan belum kuajukan, tetapi itu agak membuat kesal juga karena sedari tadi Jellal terus memotong perkataanku!
"Apa aku menyukaimu? Dimataku kamu hanyalah sandera, Lucy" ucap Jellal menjawab pertanyaanku kembali, dan jawaban terakhirnya benar-benar membuatku syok!
"Su…sudah kuduga, Natsu hanya bercanda soal itu…"
Sandera…bukan teman? Mendengar jawaban barusan aku langsung berlari menuruni tangga, Jellal baka Jellal baka! Dia sudah menyakiti hatiku dengan sangat berlebihan, aku tidak akan pernah kembali, sampai kapanpun tidak akan pernah!
"Lucy, Lucy!"
Normal POV
"Apa yang kakak lakukan? Membuat Lucy sampai seperti itu!"
"Aku hanya menjawab setiap pertanyaannya dengan jujur, tidak ada masalah lainnya" jawab Jellal dingin tanpa perasaan bersalah sedikitpun
"Tetapi tidak seharusnya bukan kamu membohongi perasaanmu sendiri?" tanya Natsu yang tiba-tiba menyela, langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh Jellal
"Diam! Aku tidak pantas mencintainya…"
"Tidak pantas, ya…" gumam Natsu tertahan sambil melihat Jellal kembali menaiki tangga
"Sampai matipun perasaan ini harus terus kukubur"
Sementara itu Lucy…
Ia mengunci dirinya di dalam kamar, menangis diam-diam tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Untuk saat ini Lucy sama sekali tidak bisa memikirkan apapun, yang dia rasakan hanyalah "pukulan beruntun" Pertama Laxus meninggal, sekarang Jellal yang menyakiti perasaannya dengan mengatakan "kamu hanyalah sandera dimataku" Apa dia tidak bisa berbohong dengan mengatakan hal yang lebih lembut? Tetapi kalau begitu bukan Jellal namanya…
"Jellal adalah Jellal, aku sudah mengenalnya selama beberapa bulan ini dan seperti itulah sifatnya"
Kalau suka berbohong bukan dia berarti, Lucy sempat tersenyum-senyum sendiri setiap kali memikirkannya. Dia baru ingat bahwa kemarin Jellal sempat berteriak "Jangan rebut Lucy dariku!" atau mungkin ia mengatakan hal itu tanpa disadari? Bodoh sekali tindakannya kemarin, kalau memang hanya sekedar sandera untuk apa sampai mempertaruhkan nyawa?
"Hahahaha…lucu juga…"
Dan satu lagi yang membuat Lucy penasaran adalah, mungkin Jellal dan anggota lainnya mengetahui sesuatu tentang beberapa hal. Perasaan itu baru didapatkannya saat mengobrol dengan Mystogan, mungkin semua ini berhubungan, mungkin memang mereka semua terikat oleh benang merah dengan Lucy. Takdir yang sudah tidak bisa dihindari…
Hosh…hosh…hosh…
Tap…tap…tap…
"Ha….lo….." sapa Lucy pada semua anggota di dalam markas, terlihat acak-acakkan dan lelah
"Whoaa…! Seperti yang Jellal katakan dia benar-benar kembali!" seru Natsu terlihat gembira, begitu juga dengan anggota lainnya
"Eh? Kalian sudah tau?"
"Masa depan tidak pernah berbohong, Lucy Heartfilia"
"Te-terserah kamu saja Jellal! Aku sudah memutuskan untuk tetap bergabung dengan gulid ini, jadi apa boleh?"
"Siapa bilang kamu boleh keluar dari gulid ini, ingat kamu adalah sanderaku!" seru Jellal mengacungkan jari telunjuknya ke arah Lucy, sangat serius dengan perkataan barusan
"….."
Tetap saja anak itu menganggapku sandera, gumam Lucy menunjukkan wajah poker face. Tetapi keputusannya untuk tetap bergabung sudah bulat, kalaupun ingin keluar Jellal tidak akan pernah membiarkan Lucy untuk melakukannya. Mulai dari sinilah semua akan terjawab, tentang masa lalu semua anggota gulid, tentang masa lalu pahit terkait dirinya yang tidak pernah Lucy ketahui…
Bersambung…
Next chapter : New Mission
