Sudah seminggu terakhir ini Lucy sibuk dengan urusan pribadinya, dan semua itu sempat menimbulkan tanda tanya besar bagi kedua sahabat juga orang tuanya. Setiap kali diajak Wendy dan Levy pergi jalan-jalan dia langsung menolak, selalu dengan alasan yang sama "aku ada urusan" bahkan saat ibunya mengajak Lucy ke pusat perbelanjaan ia langsung menolak dengan alasan serupa. Bukankah terlalu misterius?
"Lu-chan, akhir-akhir ini kamu sering ada urusan apa?" tanya Levy terlihat tidak senang karena sahabatnya terus-menerus sibuk, padahal biasanya Lucy sangat easy going
"Urusan itu…a..ah itu rahasia" tolak Lucy memberitau tentang urusan rahasianya, kalau Levy dan Wendy tau bukankah akan sangat berbahaya?
"Jangan-jangan Lucy-chan mengikuti seleksi itu!" Wendy terlihat heboh sendiri dengan pemikirannya yang tidak dimengerti oleh Lucy maupun Levy
"Seleksi apa?" merasa heran Lucy pun bertanya, memang akhir-akhir sering heboh bicara tentang hal itu, tetapi apa yang mereka maksud?
"Tentang seleksi masuk menjadi anggota pemerintahan, apa Lucy-chan berpatisipasi?"
"Bukankah itu hanya untuk usia tujuh belas tahun keatas?"
"Oh, aku ingat! Itu khusus anak-anak berumur tiga belas sampai lima belas tahun, jadi Lu-chan bisa ikut. Tetapi katanya sulit, hanya dua puluh yang terpilih dari beberapa ratus partisipasian" terang Levy mengingat-ingat kembali, berita ini sangat populer dan sayang untuk dilewatkan begitu saja
"Ya begitulah, aku mengikuti seleksi itu, jadi maaf ya kalau akhir-akhir ini agak sibuk"
"Kalau begitu kami mendoakan yang terbaik untukmu!" seru mereka berdua secara bersamaan, menganggap serius perkataan Lucy
"A-arigatou!"
Soal mengikuti seleksi sudah jelas jika Lucy berbohong, daripada menjelaskan yang sebenarnya dia lebih memilih untuk menutupi rahasia tersebut. Setiap kali pertemuan digelar di markas, Jellal selalu menegaskan tiga syarat kepada semua anggotanya. Pertama, segala infromasi yang ada tidak boleh dibocorkan ke orang luar, termasuk data diri pribadi dan asal gulid. Kedua, tidak boleh menjalankan misi/kegiatan yang berhubungan dengan pemerintah tanpa sepengetahuan ketua gulid dan yang terakhir adalah, dilarang keras mengajak orang asing ke dalam markas.
Meski hanya tiga hukumannya tidak main-main, melanggar salah satu syarat di atas maka nyawa menjadi taruhan. Entah kenapa Jellal ini sangat suka memenggal kepala orang, apa dia seorang kolektor kepala manusia? Membayangkannya saja sudah mengerikan…ketika bel pulang sekolah berbunyi Lucy langsung pergi ke markas, apalagi katanya hari ini ada misi penting sehingga semua anggota harus hadir.
"Maaf terlambat"
SRIINGG..!
"Tu…tunggu, ada apa ini?" tanya Lucy terpekik kaget, tiba-tiba saja Jellal menodong lehernya dengan pedang
"Apa kamu melupakan ketiga syarat itu?"
"A-aku mengingatnya! Jelaskan dulu mengapa kamu menodongkan pedang padaku begitu saja!" teriaknya keras sambil menyingkirkan pedang tersebut dari lehernya, sangat berani ya?
"Kamu melanggar syarat kedua"
"Yang dilarang mengikuti misi atau kegiatan berhubungan dengan pemerintah?"
"Bagus jika kamu sudah tau, lalu kenapa melanggar?"
"Apa sih maksudmu?! Aku sama sekali tidak mengerti!"
"De-dengarkan penjelasan kami terlebih dahulu" ucap Mystogan menengahi pertengkaran mereka berdua
"Asal Lucy-chan tau saja, Mystogan dan Jellal selalu mengawasimu saat bersekolah. Mulai dari awal pelajaran hingga bel akhir berbunyi" terang Mavis yang langsung dibalas tatapan pokerface oleh Lucy, apa maksudnya ini…?
"Kalian berdua selalu mengawasiku?!"
"Termasuk saat kamu mengganti baju" sela Natsu tiba-tiba yang langsung dijitak oleh Gray
"Ya ini semua untuk mengantisipasimu berbuat hal-hal aneh, dan kami berdua mendengar jika kamu mengikuti seleksi masuk anggota pemerintahan" ucap Jellal kembali menodongkan pedangnya, kali ini ke dagu Lucy
"Ayolah aku hanya berbohong, ber-bo-hong! Aku saja tidak tau ada seleksi semacam itu, kalau tidak Levy dan Wendy akan terus bertanya padaku…"
"Baiklah, langsung kita mulai saja"
Tanpa meminta maaf ataupun merasa bersalah Jellal langsung memulai rapat karena pertengkaran tadi terlalu banyak membuang waktu. Anak itu…dia sangat keterlaluan! Lucy terus menggerutu tentang tingkah Jellal barusan, apa dia tidak pernah diajarkan tata krama?! Saat sedang asyik-asyiknya menggerutu, dengan suara lantang Jellal berteriak.
"Dengarkan atau kau tidak akan tau apa-apa nantinya!"
"Ha….h'ai!" seru Lucy secara spontan, terdengar takut tanpa berani melawan
"Aku mendapatkan misi ini dari seorang kakek di Desa Mata Merah. Kita diminta untuk pergi ke sebrang kota dan membunuh anggota pemerintahan yang dicurigai melakukan perdagangan gelap"
"Memang dia menjual apa?"
"Ini" ucap Gray sambil menyodorkan sepasang bola mata merah
BRAKKK!
Kaget saat melihatnya Lucy langsung terjatuh dari sofa, bukankah perdagangan anggota tubuh itu dilarang keras? Ini adalah pelanggaran hukum!
"Ta…tapi kenapa mereka menjual bola mata merah?"
"Tujuannya hanya satu, yaitu untuk mendapatkan uang. Satu bola mata dihargai lima ratus juta, maka dari itu anggota-anggota pemerintahan level rendah lebih tertarik untuk membunuh anak-anak terkutuk dibandingkan menjalankan misi, apa kamu tau satu misi dihargai berapa?" jelas Jellal kemudian melontarkan pertanyaan ke Lucy
"Pasti sampai berjuta-juta kan?"
"Salah, hanya empat ratus ribu untuk satu misi…"
"Empat ratus ribu-kan sudah lumayan, dengan uang sebanyak itu aku bisa membeli makanan" dan lagi-lagi Natsu menyela, memang sih perkataannya benar, kalau dikumpulkan bisa dapat hingga berjuta-juta bukan?
"Mereka itu serakah, empat ratus ribu dengan lima ratus juta, kamu pasti lebih memilih pilihan kedua bukan? Memang ada pelarangan tentang penjualan anggota tubuh, sayang aturan itu tidak berlaku untuk anak-anak terkutuk seperti kami. Diam-diam Erza membunuh beberapa orang anak saat berada di desa, dan semua dilakukannya hanya untuk mengambil dua pasang bola mata"
"Ke…kejam.." komentar Lucy usai mendengarkan penjelasan Jellal
"Sedangkan bola mata yang kupegang ini berhasil diamankan sebelum Erza mengambilnya" ucap Gray memandang iba, memasukannya kembali ke dalam toples
"Lalu Erza kemanakan bola mata itu? Menjualnya ke pasar gelap?"
"Tidak, dia menjualnya ke kolektor, karena Erza tidak mungkin melanggar peraturan"
"Padahal gajinya besar, tetapi dia masih saja serakah…"
Ekspresi Meredy saat mendengar semua penjelasan barusan seketika berubah, dia terlihat sangat kesal dan seperti berkeinginan untuk balas dendam. Mungkin semua itu ada hubungannya dengan masa lalu.
"O…oh, sepertinya aku mulai mengetahui mengapa kalian menentang pemerintahan"
"Memang menurutmu apa?" tanya Mavis yang tertarik dengan perkataan Lucy barusan
"Erza bertindak tidak adil, penjualan anggota tubuh memang dilarang tetapi tidak berlaku untuk kalian, larangan membunuh pun ada tetapi kalian malah menjadi target pembunuhan banyak orang hanya untuk dua pasang bola mata…"
"Bagi Erza anak-anak terkutuk adalah ancaman, karena kami ditakdirkan untuk membunuh, ya hanya itu. Sebelum potensi tersebut muncul, dia sudah melakukan antisipasi terlebih dahulu dengan membunuh anak-anak berusia sekitar lima atau enam tahun. Bisa dibilang mendapat dua keuntungan"
Saat mengatakan hal tersebut ekspresi wajah Natsu pun terlihat lebih serius dibandingkan biasanya, Lucy juga perlahan-lahan mengerti tekanan apa yang mereka alami selama ini. Pasti sulit bukan memperjuangkan hak hidup karena pada dasarnya anak-anak terkutuk tidak dibiarkan hidup layaknya orang biasa?
"Aku mengerti, jadi kapan kita akan melaksanakan misi ini?"
"Nanti malam sekitar jam delapan, untuk misi kali ini aku, Lucy, Natsu dan Meredy yang akan pergi"
"Yosh, aku semakin bersemangat!"
"Mohon bantuannya Lucy-chan"
"I-iya aku juga, tapi kenapa aku bukan Gray atau Mystogan?"
Lucy kembali meragukan kemampuannya, dibandingkan semua anggota dia adalah yang paling lemah dengan level terendah pula. Saat perjalanan pulang pun Lucy masih memikirkan alasan dibalik Jellal memilihnya, tetapi semakin dipikirkan alasan yang dia temukan semakin tidak karuan saja. Ya karena sudah begini mau bagaimana lagi…
Malamnya…
Langkah kaki Lucy terdengar buru-buru, dia sudah terlambat lima belas menit dari jam yang telah ditentukan. Bukan karena apa-apa pergi tanpa menimbulkan suara sangatlah sulit baginya, dan dia beruntung karena mereka bertiga belum pergi ke kota sebrang.
"Maaf, aku…aku terlambat…lagi" pintanya dengan nafas ngos-ngosan
"Masih bisa ditoleransi, jangan sampai terlambat lebih dari tiga puluh menit" peringat Jellal tidak main-main, membuat bulu kuduk Lucy merinding seketika
"Jadi bagaimana cara kita pergi? Jalan kaki, naik kendaraan?" Natsu sendiri terlihat antusias, begitu juga dengan Meredy
"Aku akan mengantar kalian dengan sihir teleport" ucap Mavis yang sedari tadi sudah berada di depan pintu markas
Lucy POV
Sihir teleport? Setauku sihir itu sangat sulit dipelajari dan kebanyakan orang gagal untuk melakukannya, kalau dilihat-lihat mereka semua spesial ya…sisi inilah yang tidak Erza ketahui, kalau tau mereka semua sangat hebat pasti dia berubah pikiran.
"Jangan melamun saat menjalankan misi!"
TUK!
"Ittai, ada apa sih?" tanyaku merasa kesal, tetapi kemudian terheran-heran karena lingkungan sekitar berubah drastis
"Kita sudah sampai Lucy-chan, ayo lanjut!"
Eh…? Semua terjadi terlalu cepat, aku jadi tidak mengerti dengan situasi dan kondisi sekarang. Kami berempat memasuki sebuah rumah besar, anehnya adalah tidak ada jebakan ataupun penjagaan ketat di dalam sana. Firasatku mendadak sangat buruk, jangan-jangan misi yang Jellal terima adalah jebakan karena semua terasa sangat mudah dan aneh.
"Akhirnya kalian datang juga" sambut seseorang dari balik tembok, membuat kami bersiap-siap pada posisi masing-masing
"Ka…kamu…"
"Sudah lama tidak bertemu, Jellal"
"Ultear?!" teriaknya kaget, apa kedua orang ini memiliki hubungan?
Aku tidak tau apapun, tetapi yang kami bertiga ketahui adalah Jellal terlihat kaget juga ketakutan…
Bersambung…
Next Chapter : Jellal Past
