"Oh, rupanya kamu masih hidup"

Tangan Jellal yang awalnya gemetar kini bersikap normal seperti tadi, dia mengatasi rasa takutnya dengan sangat cepat! Sudah tidak diragukan lagi bahwa dia adalah pembunuh professional. Wanita yang disebut-sebut bernama Ultear-san hanya tersenyum-senyum melihat perubahan sikap dari seorang Jellal, tatapan itu terlihat menyukai tetapi juga penuh kebencian.

"Kamu pikir aku akan mati semudah itu? Sebelum berhasil balas dendam aku tidak boleh mati terlebih dahulu!"

"Balas dendam untuk kejadian tiga tahun lalu?"

"Ya, karenamu sahabatku terbunuh! Omong-omong wajahmu mirip dengannya ya" ujar Ultear-san menatap kearahku sambil tersenyum

"Eh, aku?" tetapi mirip dengan siapa? Memang aku punya kembaran?

"Jangan bilang kalau kamu belum menceritakan hal itu padanya…"

"Memang belum, lalu kenapa?"

"Sampai kapan kau akan terus menutupinya, Jellal?"

Entah karena marah atau apa, Jellal langsung melesat cepat sambil menebaskan pedangnya tetapi mendadak gerakannya menjadi sangat lambat sehingga mudah dihindari oleh Ultear-san. Sihir waktu? Bisa saja, tetapi baru pertama kali ini aku melihat sihir kuno tersebut dari jarak dekat, jadi benar-benar ada ya…muncul bola kristal di tangan kanan Ultear-san, dan dalam sekejap banyak duplikat serupa yang menyerang dengan cepat. Jellal menangkisnya tanpa berhenti sedikitpun, ya sedetik saja berhenti bola itu akan menghabisimu!

"Aku akan menangkisnya!" seruku pada Natsu dan Meredy, bersiap pada posisi masing-masing

"Yosh, aku akan membantumu Lucy!"

Meredy berdiri di belakang, menjaga jarak dari serangan dan bersiap-siap untuk menembak menggunakan senapan laras angin, sedangkan Natsu melempar bom ke arah bola tersebut hingga menghasilkan kepulan asap di sekitar, meski itu tidak akan cukup untuk menghancurkan semuanya atau bahkan gagal total. Meredy segera menarik pelatuk, peluru melesat cepat dan nyaris mengenai kaki kiri Ultear, bola kirstal pun berhenti menyerang kami semua untuk sesaat.

"Refleksnya bagus" ucap Meredy singkat terdengar seperti memuji, bersiap untuk menyerang kembali

"Kerjasama yang bagus, tetapi aku tidak ingin kalian ikut campur antara urusanku dengan Jellal" tegas Ultear seperti tidak suka, mungkin dia merasa jika kami bertiga menganggu pertarungannya dengan Jellal

"Jadi bagaimana?" tanya Natsu meminta pendapatku

"Jika Jellal berada dalam bahaya baru kita menolongnya, untuk saat ini posisikan diri sebagai penonton"

Mereka berdua terdiam untuk sesaat, tidak ada yang menyerang maupun bergerak dari posisinya sekarang. Ada apa ini? Tiba-tiba Jellal dan Ultear bergerak bersamaan ke satu arah, saling menyerang satu sama lain dengan hasil perut Ultear tertikam cukup dalam, sedangkan Jellal terlihat baik-baik saja tanpa luka sedikitpun. Dengan susah payah ia berdiri, memegangi perutnya yang berlumuran darah dan menarik kerah baju Jellal.

"Kau sangat kuat…tapi kenapa…kenapa…?"

"Kemampuanmu lebih dari ini bukan?"

"Asal kamu tau saja, aku ini tidak sekuat yang semua orang pikirkan. Aku lemah, sangat lemah bahkan…"

"Jadi apa yang kamu inginkan, Ultear?"

"Aku ingin balas dendam atas kematian sahabatku yang dibunuh dengan kejam olehmu! Aku…aku hanya ingin membalaskan dendam!"

Lagi-lagi sifat Ultear terlihat berubah, ia membanting tubuh Jellal keras ke atas lantai, menampar-nampar pipinya tanpa ada perlawanan sedikitpun dari Jellal. Entah kenapa Ultear-san seperti terkena gangguan jiwa..semua itu disebabkan karena kematian sahabatnya bukan? Dan soal wajah yang mirip berhubungan dengan sahabatnya, kan? Aku mebutuhkan penjelasan dari semua ini, semua yang kuperlukan agar bisa mengerti…

"Ada apa, kenapa kamu tidak melawan?!" Ultear-san berteriak terlihat kesal, membuat situasi semakin membingungkan

"…"

"Oh, aku ingin memberitaumu beberapa hal menarik" ia mengatakannya sambil beranjak berdiri, mundur beberapa langkah dan menyeringai seram

"Kalian diberi misi oleh seorang kakek tua di Desa Mata Merah bukan? Dan apa kamu tau, akulah dalang dibalik penjualan gelap tersebut, akulah yang menjual bola mata tersebut ke pasar gelap, dan kakek tua itu sudah kubunuh! Bukankah ini menarik, iyakan, iyakan?!"

Provokasi? Apa dia serius? Bukan hanya aku saja yang kaget mendengar berita ini, melainkan juga Natsu dan Meredy, mungkin Meredy-lah yang paling tertekan saat ini. Tiba-tiba saja dia berlari sambil mengaktifkan sihir untuk menyerang Ultear, perasaan aneh yang kurasakan ini adalah…perasaan balas dendam?

"Kau akan membayar semua ini Ultear! Shooting Star!" sihir khusus milik sniper tersebut memunculkan banyak lingkaran sihir penembak dari berbagai arah, dan semua itu bisa diatur sesuai dengam keinginan si pengguna. Hanya saja tidak cocok digunakan dalam ruangan sempit dan tingkat akurasinya yang kurang

Lingkaran sihir dari segala arah menembak ke satu arah, Ultear berhasil dipojokkan! Usai melancarkan sihir tersebut Meredy malah terpental jauh ke belakang, apa serangan itu gagal? Mendadak tanpa kami semua sadari Ultear sudah tidak berada di sana, melainkan berada di belakang Natsu yang tengah mendekap Meredy erat, jadi yang terkena serangan tersebut adalah….

"Jellal!" teriakku memanggil namanya, semua terjadi terlalu cepat hingga kedua mataku tidak bisa memperhatikan

"Sihir itu sangatlah berbahaya, jadi aku menukar tempatku dengan Jellal menggunakan teleport" jelas Ultear terlihat bersimpati, cih apa maksudnya memperlihatkan tatapan seperti itu…

"Aku bukanlah orang yang mudah diprovokasi, memang kenapa jika kakek meninggal? Aku harus menangis, bersedih? Hanya orang bodoh yang akan melakukannya" ucap Jellal yang membuat ekspresi Meredy semakin tidak karuan

"KAU! MESKI BAGIMU ITU TINDAKAN BODOH BAGIKU KEMATIAN SETIAP WARGA DESA MERUPAKAN HAL YANG PENTING!"

"Meredy hentikan, Jellal tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu!" ucapku berusaha menenangkannya, tetapi dia malah semakin marah

"Terserah kamu saja, aku tidak ingin bertarung dengan anggota kelompok sendiri"

"JANGAN REMEHKAN AKU SIALAN!" ronta Meredy berteriak, Natsu terlihat kewalahan untuk menahannya

"Memang aku gagal…tetapi, ada hal lain yang kuketahui, mau mendengarkan?" bisik Ultear langsung berpindah tempat ke dekat Jellal, sekarang apa lagi yang akan dia lakukan?

"Aku mengetahu kelemahanmu, ya ke-le-ma-han-mu!"

"A-apa maksudmu?!" Jellal berteriak lantang, terlihat tidak menerima hal yang dibisikkan

"Kelemahanmu adalah masa lalumu, ya aku penasaran jika anak berambut pirang itu mengetahui yang sebenarnya, kira-kira apa yang akan dia katakan? Nenek pasti sedang mengamati anak angkatnya dari surga, melihatmu yang terus membunuh mungkin sekarang nenek sedang menangis"

"DIAM! Jangan pernah ungkit hal itu lagi!"

"Setelah nenek meninggal, kamu memutuskan untuk menekuni profesi ini, dan orang yang pertama kali kau bunuh adalah…"

"DIAM!"

Jellal terlihat sangat marah, dia terus menyerang secara acak tanpa mempedulikan apapun, setiap ayunan pedang menjadi sangat mudah terbaca, Jellal telah kehilangan kesadarannya!

"Kamu memiliki sebuah penyesalan bukan? Kamu memiliki janji yang seharusnya ditepati bukan? TEPATI JANJI ITU SEKARANG JELLAL!"

"Bagaimana, BAGAIMANA KAMU BISA MENGETAHUI JANJI YANG TELAH KUBUAT DENGANNYA?!"

"Tentu saja tau karena aku adalah sahabat dekatnya!" mereka terus bercakap sambil saling menyerang, terlihat sangat sengit tanpa seorangpun bisa menganggunya

Flashback..

"Hey Ultear, jika aku terbunuh dalam misi dan kamu mengetahui penyebab kematianku, tolong ceritakan hal ini pada Lucy ya"

"Ayolah jangan berkata seperti itu, seakan kamu akan segera mati saja"

"Segera atau nanti, ini adalah janji di antara kita berdua, kumohon tepatilah"

"Ba-baiklah, aku akan menceritakan hal ini pada Lucy jika mengetahuinya"

End flashback…

BUAKKK!

Pukulan telak itu sukses membuat Jellal terkapar, dan saat kulihat dia menangis…

"Akan kuceritakan semuanya, Lucy akulah yang telah membunuh ibumu!"

"Apa maksudmu?! Ibuku masih hidup!"

"Tiga tahun lalu…"

Jellal POV

Aku tinggal di sebuah desa terpencil, saat berumur sepuluh tahun, ketika musim semi datang menyapa, kalau tidak salah saat itu aku sedang meringkuk di pojokkan taman, melindungi diri dari lemparan batu yang terus menghujam tanpa henti.

"Hahahaha, rasakan itu!"

"Dasar anak terkutuk, warna matamu itu benar-benar menjijikan tau!"

"Pengecut, hanya karena lemparan batu saja kamu sudah ketakutan hahaha!"

Semua orang di desa membenciku, karena mereka tau jika aku adalah anak terkutuk. Tiada hari tanpa diskiriminasi, lemparan batu, caci maki dan ejekan. Ketika sedang menangis sambil melindungi diri, nenek datang dan memarahi anak-anak nakal tersebut, menghampiri dan mengelus pelan kepalaku, beliau membawaku pulang ke rumahnya, bahkan dia sudah menganggapku seperti anak sendiri.

"Sakit ya, sini nenek obati"

"Semua membenciku, kenapa nenek tidak?"

"Di mata nenek kamu hanya seorang anak kecil berusia sepuluh tahun, hidup di jalanan sulit bukan? Mulai sekarang tinggallah di rumah nenek"

"A-apa boleh? Kalau warga desa marah?"

"Tenang saja, apapun yang terjadi nenek akan melindungimu"

Sejak saat itu nenek merawatku seperti anak sendiri, meski semua warga desa jadi ikut membencinya. Muncul sebuah tekad dalam dadaku, apapun yang terjadi aku akan melindungi nenek, meskipun harus membunuh, diusir dari desa, asal nenek selamat maka tidak apa-apa. Semua berjalan seperti biasa, hingga terjadi suatu hal aneh..

Ada seorang anak lelaki tengah menyebrangi zebracross sambil berlari, memainkan pesawat kertas dengan riang gembira. Aku sendiri tengah berjalan di tepian, mendadak mata kananku terasa sakit, terlihat suatu peristiwa di mana tak lama lagi anak lelaki itu akan meninggal karena ditabrak truk besar, takut terjadi apa-apa aku pun berusaha memperingatkannya.

"Nanti kamu tertabrak!"

"Apa maksudmu? Jalanan di sini kan sepi, dasar bodoh"

Selang beberapa detik kemudian, sebuah truk besar melesat cepat tanpa sempat menginjak rem, anak itu meninggal dalam keadaan mengenaskan, bagian tubuhnya tidak ada yang utuh. Warga pun berbondong-bondong datang ke lokasi, ada juga beberapa orang saksi dari kejadian ini, para saksi itu menyuarakan apa yang mereka lihat dan dengar kepada warga lain.

"Anak itu yang membunuhnya! Setelah berkata 'kamu akan tertabrak' dia benar-benar tertabrak!"

"Benar itu! Dasar anak dukun!"

"Keterlaluan sekali ya…mungkin kutukannya mulai bekerja"

"Kalau dia masih berada di sini, desa bisa berada dalam bahaya!"

"Bukan aku yang membunuhnya…bukan aku…"

"Lalu siapa lagi?! Setelah mengatakan hal barusan itu benar-benar terjadi, dasar dukun!"

"Pergi dari sini, pergi!" usir warga lain, membuatku diam membatu di tempat

Semua memfitnahku,apa boleh memutar balikkan fakta seperti itu?! Merasa kesal aku langsung pulang menuju rumah nenek, beliau sedang menjahit beberapa pakian sambil duduk di kursi goyang, melihatku sudah kembali ia langsung tersenyum ramah menyambut.

"Jellal sudah pulang rupanya, kamu terlihat kesal, ada apa?"

"Warga desa memfitnahku! Mereka berkata aku membunuh seorang anak lelaki, padahal sebuah truk besar yang menabraknya…nenek percaya padaku bukan?"

"Nenek percaya, Jellal adalah anak baik jadi tidak akan melakukan hal-hal seperti itu"

"Aku berusaha untuk memperingati anak itu, tetapi dia tidak mau mendengar…"

"Memang kamu sudah mengetahui bahwa hal itu akan terjadi?"

"Mata kananku yang memberitau, apa nenek percaya?"

"Bagaimana ya? Jangan cerita lagi ayo makan malam"

Masih lugu tanpa mengetahui apapun, ya begitulah diriku ketika berumur sepuluh tahun, yang kutau hanyalah semua orang jahat, nenek baik dan sayang padaku. Tetapi tak lama setelah insiden itu terjadi, sekitar seminggu kemudian aku yang baru saja pulang dari padang rumput menemukan nenek tergeletak tidak berdaya di atas lantai, darah menodai pakainnya juga lantai membuat suasana sekitar menjadi sangat menyeramkan.

"Siapa yang melakukan ini pada nenek, siapa?!"

"Jaga dirimu baik-baik, jadilah anak yang baik ya…"

Kalimat terakhir dan sampai kapanpun akan jadi yang terakhir. Nenek meninggal setelah beberapa minggu merawatku, dan berita itu menyebar luas hingga penjuru desa. Merasa keadaan sudah tidak aman aku memutuskan kabur dari sana, berusaha mencari dalang dari kasus pembunuhan, samar-samar sebelum masuk ke dalam rumah, aku sempat melihat seorang wanita berambut pirang bersembunyi dibalik tembok, pasti dia yang membunuh nenek, pasti dia…

Banyak hal terjadi selama beberapa bulan terakhir, dan aku mulai sadar siapa diriku sebenarnya, tentang kutukan di mata kanan, potensi membunuh dan lain sebagainya. Semenjak nenek meninggal juga kuputskan untuk menekuni profesi sebagai pembunuh, karena ini adalah takdir. Hingga pada bulan September aku menemukan wanita berambut pirang tersebut.

Hari sudah pagi, sedangkan kala itu aku sedang berjalan di pinggiran sungai tanpa arah tujuan pasti. Kami berdua saling bertemu bahkan menatap muka satu sama lain, dia tersenyum ramah, sebuah ekspresi yang tidak pernah kulihat lagi setelah sekian lama, tetapi rasa curigaku tidak hilang sedikitpun karena gerak-geriknya bisa dibilang mencurigakan.

"Apa maumu?"

"Hanya kebetulan lewat saja"

"Jangan permainkan aku dengan senyummu"

"Apa maksudmu?"

"Tipuan murahan itu tidak akan bisa membuatku lengah, nona rambut pirang"

Aku langsung menyerang dengan menggunakan sihir requip, ya aku tidak mempelajarinya dan tau-tau bisa mengaktifkan sihir. Pedang itu menikam perutnya cukup dalam, kujambak rambut pirang kekilauan tersebut hingga kepalanya terangkat ke atas.

"Kamu ingin bermain-main denganku?"

"Bermain petak umpet maksudmu?"

"Tidak, aku benci dengan seseorang yang suka bersembunyi"

"Anak sepertimu cukup tangguh bisa bertahan dari kerasnya ibu kota"

"Bisakah kau berhenti tersenyum atau mungkin mulutmu ingin kurobek?"

"Bukankah itu terserah padamu? Apa kamu mengetahui idenditas asliku?"

"Bisa dibilang begitu, kamu kan yang membunuh nenek?!"

"….."

"CEPAT JAWAB!"

"Ya, akulah orang yang membunuh nenekmu tersayang…"

Keinginanku untuk balas dendam pun akhirnya tercapai juga, dia harus merasakan penderitaan ini, dia harus membayar semuanya! Mendadak muncul sebuah ide di dalam kepalaku, mungkin menyiksanya akan sangat menarik. Sebelum sempat melakukan apapun, tiba-tiba saja dia melompat ke belakang, berusaha menjaga jarak, dengan cepat ia berlari menuju kearahku, bersiap untuk melancarkan pukulan yang dapat dengan mudah kutangkis. Tanpa rasa kasihan, aku membalas serangan tersebut dua kali lipat lebih banyak.

"Kau harus membayar semua ini!"

Terselip lima buah pisau disela-sela jariku, dan pisau tersebut nyaris mengenai jantungnya. Tanpa membuang waktu aku memanggil pedang di tangan kanan dan langsung menebas tangan kanannya hingga terpotong. Sekarang dia hanya teridam tanpa melakukan perlawanan, tetap tersenyum seperti tadi-tadi.

"Aku bisa merasakan semuanya, kamu benar-benar marah…"

"Tentu saja! Jika orang yang kamu cintai terbunuh apa kamu…."

"Kamu ingin mengatakan apa?"

"Tidak jadi, aku tidak pantas mengatakan hal ini"

"Namaku Layla Heartfilia, siapa namamu?"

"Untuk apa menanyakan namaku? Ingin melaporkan ini kepada pemerintah agar mereka menangkapku?"

"Bukan itu, hanya ingin berkenalan saja"

"Je…Jellal Fernandes!" dan saat itu aku benar-benar heran, kenapa bisa-bisanya aku memberikan namaku kepada anggota pemerintahan?

"Berapa umurmu?"

"Cih…menanyakan umur orang lain itu sama sekali tidak sopan tau!"

"Setiap kali melihatmu, aku jadi teringat akan anakku di rumah"

"Lalu kenapa? Kamu pikir aku ingin mendengar cerita tentang anakmu?"

"Kemarilah"

Saat itu kami terpaut jarak beberapa centimeter, awalnya aku sempat berpikir untuk menolak, tetapi perasaanku berkata lain kalaupun Layla ingin memberi serangan dadakan, akan kutusuk langsung jantungnya menggunakan pisau dan semua jauh berbeda dari bayanganku…dia memelukku dengan sebelah tangan, terasa hangat tanpa perasaan membunuh sedikitpun dan rasa curiga dalam dadaku sirna seketika.

"Tapi, kenapa….?"

"Dimataku kamu hanyalah seorang anak berusia sepuluh tahun, pasti sulit bukan menjalani profesi ini?"

"Aku…."

"Mungkin kamu tidak tertarik, tetapi simpanlah ini sebagai kenang-kenangan"

Sebuah foto? Seorang anak perempuan berambut pirang? Layla sempat tersenyum seakan berkata "sampai jumpa" dan setelah memberikan foto itu, dia meninggalkan dunia ini dengan senyum mengembang di bibir. Dadaku terasa sesak untuk sesaat, perasaan apa ini? Menyesal? Aku menyesali tindakan barusan?

"Aku tidak mengerti, kamu memberikan foto ini dan kemudian hujan jatuh dari pelupuk mataku…"

Usai meninggal, aku langsung menguburnya di dekat pohon pinggiran sungai, sempat berdoa meski tidak lama kemudian kuputuskan untuk berhenti. Apa boleh orang keji sepertiku berdoa? Kalau melakukannya pasti Layla tidak akan hidup dengan tenang, sia-sia saja memang…

"Tenang saja, aku akan melindungi anakmu dan mengupayakan segala cara agar bisa menemukannya. Jadi percayalah padaku…"

Karena muncul sebuah keyakinan dalam hatiku yang berkata "antara aku dan anak Layla sudah ditakdirkan untuk bertemu suatu hari nanti" Jadi selama tiga tahun terakhir aku mencarimu,selama tiga tahun juga aku menutupi kejadian pilu ini…

End flashback…

Setelah mendengar semua ini apa yang harus kukatakan?

"Sekarang terserah padamu, mau membunuhku, memarahiku ataupun membenciku, dari awal aku sudah sangat siap…"

Membunuhmu, memarahimu, membencimu? Aku tidak akan melakukan ketiga hal tersebut, melainkan memberi pukulan yang lebih lembut dengan cara memberi pelukan.

"Lu…cy…?"

"Aku tidak akan melakukan ketiga hal tersebut, ibu kandungku sudah meninggal, lalu apa yang harus kulakukan? Membalaskan dendam? Tidak, bukan itu. Lagipula ibu tidak menaruh dendam, malahan beliau memelukmu, jadi aku akan melakukannya juga"

"O..oh, terserah kamu saja"

Mungkin ending seperti ini sama sekali tidak terpikirkan oleh Ultear-san, Meredy maupun Natsu, tetapi aku sudah membulatkan tekad untuk melindungi semua orang yang kusayangi, karena balas dendam tidak akan menghasilkan apapun…

"Tugas kita belum selesai, untuk memenuhi janji kepada kakek aku akan membunuhmu sekarang juga" ucap Jellal dingin melepaskan pelukannya, menatap sinis kepada Ultear

"Bunuh saja…aku sudah tidak peduli, tetapi sebagai gantinya jangan pernah lupakan aku maupun Layla, bagaimana?"

"Asal kamu tau, aku tidak akan pernah melupakan wajah dari setiap orang yang pernah kubunuh, jika sampai melupakan satu saja akan kupenggal kepalaku sendiri menggunakan pedang steno ini"

"Pegang janjimu, bocah…"

Dan ending dari misi ini adalah, kepala Ultear-san terpenggal, Jellal yang mendadak rubuh usai melakukan eksekusi mati, dan kami semua hanya terdiam tanpa bisa mengatakan apapun.

Bersambung…