"Bagaimana keadaan Jellal?" tanya Lucy pada Mavis. Mereka bertiga langsung pulang ke markas setelah Jellal pingsan secara tiba-tiba
"Luka lamanya belum sembuh total, tetapi sudah muncul luka baru. Kalau begini pulihnya bisa lama"
"Ta-tapi nyawa Jellal tidak berada dalam bahaya bukan?"
"Memang tidak, tetapi tetap saja…"
Mendengar hal itu Lucy pundung seketika. Dia terus menyalahkan diri sendiri. Semua salahnya karena tidak cukup kuat, untuk melindungi Jellal, untuk melindungi yang lain. Mavis menepuk pundaknya pelan, hendak memberi semangat, seakan mengetahui apa yang Lucy pikirkan sekarang. Jam tepat menunjukkan pukul sembilan malam. Suasana di markas begitu sepi, sedangkan dia masih berada di sisi Jellal. Tak bisa berhenti merasa khawatir. Hingga suara langkah kaki membuatnya tersadar, tengah menuruni tangga menuju lantai bawah.
"Yo, mau kemana malam-malam begini?" tanya Natsu mecegat jalan depan. Membuat orang itu berhenti berjalan
"Kenapa kamu masih di sini? Tidak menjenguk Jellal?" dia balik bertanya, memasang tatapan tidak suka, karena masalahnya hendak diikut campuri
"Baru mau naik ke atas. Seharusnya, aku yang bertannya seperti itu padamu, Meredy"
"Untuk apa memberi perhatian? Setelah semua perkataan yang dia lontarkan padaku...kamu mengetahuinya, bukan?"
"Tentu, karena aku berada di sana. Sama sepertimu, aku juga merasa dia sangat kejam, dan tidak berperikemanunisaan"
"Lalu, kenapa kamu masih begitu baik padanya?!" Meredy gagal menahan emosinya, yang langsung meledak tiba-tiba. Merasa tidak terima, dengan perlakuan semua orang terhadap Jellal. Padahal dia sudah membunuh ibu Lucy, tetapi kenapa...kenapa...?
"Mau bagaimana pun juga. Perkataan Jellal ada benarnya"
"Kau sama saja dengannya! Aku pergi dulu, jangan beritau yang lain" peringat Meredy berlalu pergi, menutup pintu perlahan supaya tidak diketahui anggota lain
Orang baik apanya? Dia tidak lebih, dari pembunuh kejam berhati bengis. Natsu tidak mencegat atau apa pun, dia hanya terdiam dan naik ke atas, memperhatikan Lucy yang masih setia menemani. Kebetulan ada Mystogan, walau terlihat acuh tak acuh, ia masih memperhatikan Meredy. Jelas, karena mereka semua adalah teman sekarang. Suka tidak suka, itulah kenyataannya. Mental Lucy memburuk sangat cepat, jangan sampai dia mengetahui hal ini.
"Hey, ada yang ingin aku bicarakan" panggil Natsu mendekat, berbisik pelan agar tidak menganggu
"Tentang apa? Kondisi nii-san?"
"Bukan itu, melainkan tentang Meredy. Kita bicara di luar saja, aku tidak ingin, membuat suasana hati Lucy semakin kacau"
"Ba-baiklah" walau agak terpaksa–karena Mystogan ingin menemani kakaknya. Nada bicara Natsu terdengar serius, tidak seperti biasanya. Pasti masalah ini sangat penting, bahkan bisa saja, menyangkut hidup dan mati
Meredy POV
Perjalanan menuju gedung pemerintah cukup jauh. Aku masih harus, menempuh jarak sekitar satu kilo meter. Tujuanku tidak lain, adalah ingin balas dendam, karena Erza sudah membunuh semua warga desa mata merah, dan berlaku juga, untuk anggota pemerintah yang lain. Akhirnya terlihat, sebuah bangunan megah berdiri kokoh di atas tanah seluas ribuan hektar. Penjagaan di depan gerbang sangatlah ketat, jika ingin menerobos tanpa persiapan apa pun, maka jangan harap bisa selamat. Aku percaya diri dengan kemampuanku sekarang. Pasti bisa!
"Stealth" usai nama sihirnya kusebut, semua prajurit yang menjaga gerbang, seakan tidak mengetahui kehadiranku. Karena memang, itulah kegunaannya, untuk menyusup dan menyembunyikan dan keberadaan seseorang. Meski tidak dapat bertahan lama
Semua nampak asing di mataku. Ada banyak ruangan, kira-kira mana yang paling aman? Gawat, waktunya tinggal sedikit! Efek dari sihir ini akan segera menghilang, sepuluh menit lagi. Aku memutuskan masuk ke pintu tengah, membuka perlahan supaya tidak menimbulkan suara mengernyit. Sekitar terlihat seperti penjara, namun tidak ada siapa pun di dalam. Justru terdapat barang-barang aneh. Kebetulan salah satu pintu terbuka, karena penasaran aku masuk dan berkeliling melihat. Ada banyak koleksi antik di sana, seperti kulit monster boss, bermacam-macam senjata berukuran raksasa, juga...
"Bo-bola mata merah. Pasti ini ulah Erza" ada label harga yang tertempel. Sesuai perkataan Jellal, dijual lima ratus juta per satu buah. Cih, kenapa di saat-saat seperti ini, aku malah mengingat namanya?
Seseorang masuk ke dalam, yaitu seorang wanita berambut putih, mungkin dia lebih tua tiga atau empat tahun dariku. Tangannya memegang toples tersebut. Jarak kami sangat dekat, hanya terpaut tiga centimeter. Aku harus pergi dari sini, kalau tidak orang itu akan segera mengetahui keberadaanku, cepat atau lambat. Waktu yang tersisa tinggal lima menit, namun karena terlalu tergesa-gesa, justru aku menyandung pintu, terjatuh membentur lantai cukup keras. Matilah sudah.
"Sudah kuduga. Ada penyusup di sekitar sini. Salah satu komplotan Jellal, ya?"
"BERISIK! Jangan menyebut nama itu di depanku!" usai berteriak, aku langsung melemparkan bom asap ke arahnya. Bagus, sekarang adalah kesempatan terbaik untuk kabur
Detak jantung serta langkah kakiku tidak lagi teratur. Kerumunan prajurit menghadang jalan, baik di depan maupun belakang. Sial! Padahal jarak diperlukan untuk melancarkan serangan, tetapi keadaan sama sekali tidak menguntungkan. Selaku pembunuh professional, aku tidak akan kabur begitu saja, sampai Erza berhasil ditemukan dan ditembak mati! Kedua pistol ditanganku menembak teratur. Kumpulan mayat menumpuk jadi satu. Mereka hanya prajurit biasa, tidak perlu sok kuat ingin menangkapku.
PRANNNG...!
Suara pistol dan pedang saling beradu satu sama lain. Dia wanita yang tadi! Aku mengambil jarak beberapa langkah, isyarat yang diberikannya membuat semua mundur ke belakang. Kami berdua melakukan kontak mata, kemudian menyerang dengan sihir masing-masing. Orang itu bukanlah sembarang prajurit. Keahlian berpedang dan kecepatannya berada di atas rata-rata. Walaupun begitu, tetap saja, dia tidak lebih kuat dari Jellal! Aku masih memiliki kesempatan, tentu, aku memilikinya!
"Meteor!" ucapku menyebut nama mantera. Lingkaran sihir bermunculan dari satu arah, menembakkan laser bekecepatan cahaya. Kelemahannya adalah, aku tidak dapat mengatur jarak sesuai keinginan, tetapi memiliki dampak kerusakan paling besar, di antara semua sihir yang kupunya
"Shield" hampir sama seperti barrier milik Mavis, namun lebih mudah rapuh. Dan sihirku, dapat menembus pertahanannya sangat mudah
"Jangan harap bisa kabur. Eagle eyes!" kali ini aku meningkatkan akurasi tembakan, supaya sihir meteor jauh lebih mudah digunakan
"Flash"
Di atas langit-langit atap, wanita itu melancarkan satu serangan dengan kecepatan di luar nalar. Aku menggunakan kedua buah pistol sebagai perisai, yang kemudian rusak menjadi kepingan kecil. Di saat bersamaan, sihir meteor milikku tepat mengenainya. Untung saja sempat dipasang sebelum dia menggunakan jurus maut tersebut. Dengan sengaja, aku memasang peluru sihir di sekitar ruang utama, akan menyerang secara langsung jika ada orang lain di dalam sini, karena aku sudah memasang perintah yang berbunyi sedemikian rupa. Siapa sangka, dia masih bernafas. Terpaksa sihir pergantian kugunakan sekali lagi.
"Ada kata-kata terakhir?" tanyaku sebelum menarik pelatuk. Bersyukurlah karena aku masih berbaik hati!
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Nyawamu berada di ujung tanduk"
"Apa maksud..."
Belum selesai melanjutkan pertanyaan barusan. Seseorang melesat cepat kemari, mencengkram leherku sampai kesulitan bernafas. Erza muncul tiba-tiba, menyeringai seram seakan berkata "Aku bisa, mengakhirimu dalam satu serangan". Sekuat tenaga, tulang keringnya kutendang menggunakan kaki kanan. Berlari menjauh sembari mengatur nafas. Sihir asteroid milikku menyerang fokus ke satu arah, menimbulkan ledakan yang cukup besar. Meski begitu, dia masih bisa bertahan, padahal aku menyebarkan sekitar seratus peluru lebih, dan itu memakan banyak mana.
"Holy taker" sihir milik cardinal? Usai menyadarinya, aku memasang perisai berukuran kecil. Namun tak lama kemudian...
PRANNNG!
Sudah jelas, itu tidak akan memberi perlindungan. Justru tindakanku tadi, malah membuang mana cuma-cuma. Tekanan dari ledakan tersebut, dapat kurasakan bukan main-main. Mau berdiri pun sangat sulit. Selama lima detik lamanya aku terkapar di atas tanah, berusaha bangkit berdiri dan memberi perlawanan, tetapi apalah daya, tenagaku diserap habis akibat serangan maut milik Erza. Dia berjalan mendekat, menjambak rambutku sambil cekikikan tidak jelas. Menyebalkan sekali.
"Kamu kalah telak, sniper-san" ucapan Erza terkesan meremehkan. Merasa kesal, aku menarik kerah bajunya, membuat jarak di antara wajah kami terpaut satu centimeter
"Seharusnya...aku yang...membunuhmu" berbicara empat patah kata, membuat mulut dan rahangku terasa berat sewaktu digerakkan. Tanganku terlepas, menggantung lemas di atas lantai, bahkan nyaris bersentuhan
"Ada kata-kata terakhir?" tanyanya kembali menyeringai seram
"A-aku..."
"Trap bentuk ketiga : Wind tornado" seru seseorang entah darimana. Sukses membuat Erza melepaskan jambakkan mautnya dari rambutku
"Hunter blast!" ledakan kembali terjadi, dengan api membara di sekitar kami berdua. Aku tau sihir ini, siapa lagi kalau bukan...
Mystogan dan Natsu! Mereka datang menyusul rupanya. Jellal juga datang bersama Lucy, yang nampak tergopoh-gopoh sewaktu berjalan. Seperti reuni saja kalau dilihat. Erza tertawa keras, membuat kami berlima merinding, karena memang, suaranya cukup mengerikan untuk seukuran wanita. Apa pun motif dibalik tindakan aneh barusan, yang pasti ini adalah pertanda bencaca. Cahaya dari lingkaran sihir berukuran raksasa, menerangi seisi ruangan dengan warna merah darah. Firasatku berkata buruk mengenai hal ini.
"Kalian yang telah menodai sinar matahari terbit. Para pendosa, yang sepantasnya dijerat oleh rantai bernama keadilan. Dengan meminjam kuasa dari sang pencipta. Akan kujatuhkan palu hukuman, demi menjaga hubungan antar manusia. Sepuluh lingkaran cahaya..."
Apa-apaan itu? Tidak seharusnya dia mempelajari sihir terlarang. Aku mengambil langkah sebesar mungkin, berlari melebihi kecepatan angin, mendorong tubuh Erza hingga tejatuh ke lantai. Bahkan setelah melakukan hal tersebut, manteranya masih berjalan. Gawat, kalau terlalu lama mengambil tindakan, kami semua bisa musnah. Mau bagaimana lagi, aku terpaksa mengeluarkan jurus pamungkas. Setidaknya teman-temanku masih hidup, termasuk Jellal.
"Wahai iblis yang berada di dalam tubuhku. Minumlah darahku dan aktifkan kutukannya. Triple shield, sihir terlarang : bom bunuh diri, ledakan nadi sihir!"
Sesuai nama dari sihir tersebut, sebentar lagi tubuhku akan meledak. Setidaknya aku bisa membawa Erza, ikut bersamaku pergi ke neraka.
"Pergilah dari sini, kalau tidak kalian bisa ikut terkena ledakan" teriakku di saat-saat terakhir. Tinggal tiga detik lagi sebelum aktif
"Tu-tunggu! Aku tidak mengerti apa maksudmu, tetapi sihir terlarang? Bukankah itu..."
"Natsu, pergilah bersama Mystogan dan yang lain! Sihirnya akan aktif dalam waktu tiga detik"
"Tapi..."
"Cepatlah, kita tidak bisa melakukan apa pun" ucap Mystogan membawa Natsu paksa. Aku belum sempat, mengucapkan selamat tinggal
Normal POV
Ledakan yang jauh lebih besar dari sebelumnya, membuat markas pemerintah hancur dalam sekejap. Mereka berempat berhasil kabur, meninggalkan Meredy yang diyakini sudah menjadi abu. Dari jauh, seorang wanita berambut scarlet nampak memperhatikan, dengan cepat menyingkirkan sisa bangunan, yang menimpa tubuhya sampai terluka parah. Tumpukan daging menyebar di mana-mana, bahkan dapat dikatakan, beberapa hilang.
"Siapa sangka, kamu akan menggunakan sihir terlarang. Untung saja, aku melindungi diri dengan mind barrier tadi. Badanmu pun, masih utuh sekarang. Beterima kasihlah, sniper-san. Baiklah, kepalamu akan kujadikan oleh-oleh bagi Jellal"
PREKK...! PLUKK! (efek suara : suara dipenggal dan terjatuh)
Kepala utuh, yang menyisikan surai berwarna pink itu, Erza penggal tanpa rasa belas kasih. Menggunakan sihir teleport, dan mengirimnya pada mereka berenam. Tepat berada di atas meja ruang tamu, yang biasa digunakan ketika rapat digelar.
Sementara itu...
Hosh...hosh...hosh...
"Kami...pulang..." ucap Natsu dengan nafas tidak karuan. Sewaktu perjalanan pulang, rute lari yang telah dipersiapkan, justru menjadi sangat kacau. Membuat mereka terus berputar, di tempat serupa
"Ka-kalian...Meredy sudah?" Gray bertanya terbata-bata, tidak mempercayai apa yang tengah disaksikannya. Mystogan membuka pintu lebar. Kini mereka berempat, dapat melihat dengan jelas, dari luar markas
Lucy bergidik ngeri, bahkan nyaris memuntahkan isi perutnya. Sebuah kepala, yang menyisakan surai berwarna pink. Namun rongga matanya kosong, tanpa apa pun di dalam sana. Mavis mengambil secarik kertas, berupa pesan dari Erza.
"Oleh-oleh untuk Jellal Fernandes dan kawan-kawan. Maaf, aku mengambil bola mata sniper-san. Jadi, jangan kaget, ya" usai membacanya pelan. Dia langsung lemas, dan tanpa sengaja, menjatuhkan kertas tersebut, membuatnya melayang di udara baru terjatuh
Tanpa berkata, Jellal mengambil kepala Meredy. Membawanya pergi ke luar markas, dengan kaki pincang. Lucy mengikuti dari belakang, merasa khawatir. Dia memegang skop, tengah menggali walau darah di kedua tangannya, mengalir deras.
"Hentikan, tanganmu belum sembuh total!" teriak Lucy memperingatkan, akan tetapi tidak diindahkan
"Diam, biarkan aku melakukannya"
Bersambung...
Next chapter : Orang Asing
