Matahari keluar perlahan-lahan dari kandangnya, menampakkan sinar keemasan, yang menerpa hangat wajah mereka berdua. Usai membuat kuburan, Jellal duduk di atas batu reruntuhan, masih memegang sekop yang sudah ternodai darah segar. Lucy berdiri di belakangnya, menitihkan air mata melihat tumpukan tanah berisi kepala Meredy, tanpa badan atas maupun bawah. Dia dapat merasakannya, hujan jatuh membasahi pucuk kepala Jellal, tidak lain berasal dari Lucy seorang.
"Hey...ada yang ingin kutanyakan padamu"
"Langsung katakan saja. Tidak perlu basa-basi segala" bahkan di saat-saat seperti ini pun. Nada bicaranya masih terdengar datar, sedikit ketus, seakan tidak turut berduka cita, atas kematian rekan seperjuangan
"Apa kamu sedih, ketika melihat Meredy meninggal, di depan mata kepala kita sendiri?" pertanyaan yang Lucy ajukan, membuat Jellal terdiam sejenak. Agak menyakitkan, kalau harus jujur
"Untuk apa menangisinya? Membuang tenaga saja"
"Bahkan...setelah melihat temanmu mati dibunuh...kamu...kamu masih bisa berkata seperti itu?! Manusia macam apa kamu ini?! Atau mungkin iblis? Cepat katakan, katakan!" emosinya tidak lagi dapat ditahan. Lucy berteriak seperti orang gila, menguncang-guncang pundak Jellal, yang juga terbalut perban putih
"Entahlah, kira-kira apa, ya?" Jellal justru balik bertanya, membuatnya semakin marah
"Tatap wajahku sekarang!" pinta Lucy terdengar memaksa. Kembali, ekspresi khas miliknya tertangkap oleh iris karamel itu. Dia pun pergi meninggalkan Jellal sendirian, namun dicegat Mavis dan Gray
"Kalian bertengkar lagi? Tidak bisakah berhenti sehari saja?" tanya Gray terlihat tidak suka. Padahal sedang berduka cita, mereka berdua bisa-bisanya menyimpan tenaga untuk hal tidak perlu
"..."
"Lucy-chan, tidak berangkat ke sekolah?" kini giliran Mavis yang bertanya, menatap heran akibat ekspresi Lucy terkesan aneh, berbeda dari biasanya
"Untuk apa? Aku kan sudah dikeluarkan beberapa hari lalu. Tetapi anehnya, kenapa aku sempat pergi ke sana? Semua orang terlihat biasa saja, termasuk Wendy dan Levy. Apa mereka lupa? Kepala sekolah juga tidak menegur" Lucy berbicara sendiri. Berusaha mengingat semua itu
"E...eh...maaf, aku tidak tau. Lebih baik kita masuk ke dalam saja. Tinggalkan Jellal sendiri, dia butuh ketenangan"
Ucapan dari Mavis, seakan menyimpan kode tersirat, dan hanya Gray yang mengetahuinya. Lucy masih memasang pose berpikir ala detektif, tetapi dia tidak menemukan apa pun. Akibat terlalu memaksa, dia merasa pening pada bagian kepala. Jam tepat menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Mereka berkumpul di ruang tamu, kecuali Jellal, yang masih sibuk menyendiri. Suasana hening cukup lama, sampai seseorang membuka pintu, dan membantingnya tanpa alasan jelas.
"Cih...seharusnya aku kunci" ucap Lucy bernada ketus. Memalingkan wajahnya, supaya tidak bertatap muka, dengan orang di belakang pintu, yaitu Jellal sendiri
"Masih ada waktu sebelum terlambat. Ayo pergi ke sekolah"
"Kamu lupa apa? Karenamu aku dikeluarkan, dituduh membunuh dan mencuri. Mau menembus kesalahan pun, sudah terlambat sekarang"
"Jangan membuang waktu. Kamu bisa dihukum Laxus-sensei nanti"
Dengan sedikit paksaan, dia sukses membawanya keluar dari markas. Pemberontakan seperti apa pun, tidak mampu menghentikan Jellal, kalau keputusannya bulat. Tidak sampai lima belas menit berjalan–entah bagaimana semua terasa cepat. Mereka sampai di kompleks perumahan, sekitar tempat tinggal Lucy. Dari jarak tidak terlalu jauh, dia dapat melihat bayangan kedua sahabatnya. Sadar kedua orang itu mencari Lucy, Jellal semakin mempercepat langkah kaki. Alhasil mereka berhasil mengejar.
"Ohayou, Lu-chan. Syukurlah, ternyata kamu tidak diculik!" seru Levy memberi pelukan erat. Ibu Lucy sempat memberi laporan, kalau buah hati satu-satunya menghilang entah kemana. Polisi pun mengerahkan tenaga, untuk mencari pelaku dan memecahkan kasus ini
"Siapa orang di sebelahmu? Aneh...sepertinya aku kenal" gumam Wendy menatap lekat, dari pucuk kepala sampai kaki Jellal. Dia masih menerka-nerka, Levy pun ikut bergabung
"Benar juga, dia tidak asing. A...aku ingat! Kamu adalah, orang yang bertarung di depan sekolah, juga membunuh Sting!" mendengar pengakuan dari perempuan bersurai biru itu. Membuat Jellal shock sementara. Bagaimana bisa?
"Satpam juga membicarakan hal ini kemarin. Mereka berkata, melihat sekumpulan anak mencuri batu bulan! Lucy-chan ikut terlibat, tetapi bukan dia yang membunuh lelaki itu. Melainkan kamu!" Wendy menunjuk terang-terangan. Jellal sudah kehabisan alasan, untuk membela diri sendiri
"Sial, karenamu Lu-chan dituduh yang tidak-tidak. Untung saja, kepala sekolah cepat dalam mengambil tindakan, sehingga dia bisa bersekolah kembali!"
Lucy POV
Tu-tunggu, kenapa jadi begini? Padahal aku yakin, semua murid sudah melupakan insiden mengerikan itu, hanya aku seorang yang masih mengingatnya. Jellal terdiam sejenak, tindakan apa yang akan dia ambil? Membunuh sahabatku? Kabur? Tetap diam di tempat? Mengaku dan menyerahkan diri ke polisi? Asal bukan pilihan pertama saja. Kami bertiga menunggu jawaban, namun Jellal tak kunjung berbicara. Dibuat kesal olehnya, Levy mengambil handphone dari saku rok, hendak menelpon polisi.
"Halo. Maaf menganggu, saya telah menemukan pembunuhnya. Lu-chan aman bersamaku dan Wendy. Sekarang kami berada di..."
"Polisi tidak akan pernah datang kemari!" teriak Jellal mendadak. Menggunakan sihir pemanggilan akibat terdesak. Pistol dalam genggamannya, membuat perasaanku tidak enak. Dia mengambil pilihan pertama! Peluru tepat mengenai ponsel Levy-chan, membuatnya terjatuh dan rusak. Jellal juga menembak kepala mereka berdua, sampai tak sadarkan diri
"Ka...kau membunuh sahabatku!"
"Tidak, aku hanya membuat mereka pingsan. Putuskanlah sekarang juga, kamu ingin pergi ke sekolah, atau pulang dan melapor pada orang tuamu" ternyata dia tidak memaksaku ikut bersamanya
"Masih memikirkan sekolah, aku terlambat setengah jam tau! Ibu pasti khawatir, lebih baik aku pulang terlebih dahulu"
"Semua terserahmu, mau memberitau keberadaan kami atau apa. Aku tidak keberatan"
"Lihat saja nanti, aku tidak yakin"
Apa mungkin, Jellal melupakan ketiga syarat yang dibuatnya sendiri? Membebaskanku dari tanggung jawab anggota gulid? Ibu menunggu di depan pintu rumah, aku berlari mendekat, dan beliau langsung memelukku. Sirine mobil polisi terdengar nyaring. Beberapa masuk ke dalam rumah, menjadikanku sebagai tersangka utama, meminta keterangan selengkap mungkin. Sekarang bagaimana? Entah kenapa, aku tidak ingin berkhianat seperti dulu. Aku benci melihat ekspresi marah Gray, nada memelas Mavis sewaktu membelaku, ancaman dari Jellal. Semua itu, lebih baik dilupakan saja.
"Maaf menganggu. Saya ingin Lucy-san menjawab beberapa pertanyaan. Pertama, apakah benar, jika temanmu Levy dan Wendy, telah menemukan dalang dibalik pembunuhan?"
"Saya tidak tau apa-apa, mengenalnya saja tidak"
"Jadi, apakah benar kalau kamu diculik? Dan diminta untuk merahasiakan hal tersebut?"
"Bukan diculik, tetapi kabur dari rumah" ucapku memberi jawaban palsu
"Apa alasanmu kabur dari rumah?"
"Berhentilah bertanya! Apa pak polisi tidak tau? Saya juga mengalami tekanan besar"
"Tapi kalau tidak dijawab..."
"DIAM! AKU MAU SENDIRI"
Usai berteriak, aku langsung berlari meninggalkan rumah. Pergi menuju area terlarang, untuk menemui Jellal dan yang lain. Semoga mereka tidak marah. Semoga aku...masih bisa menjadi bagian dari gulid.
Sementara itu...
Normal POV
"Keadaan bertambah buruk rupanya" gumam seseorang dari atas pohon. Memperhatikan rumah Lucy, yang masih dipenuhi segerombolan polisi
"Sudah saatnya kita balik ke markas. Lucy-chan juga pergi ke sana"
"Kira-kira, apa yang akan pengkhianat itu lakukan? Jangan bilang, mau menggiring polisi ke markas kita"
"Kamu masih menganggapnya pengkhianat? Apa permintaan maaf itu palsu?!" mendengar temannya berkata seperti tadi. Mavis pun larut dalam emosi, dia tidak terima, jika semua beranggapan seperti Gray
"Mungkin saja. Baiklah, ayo balik"
Back to Lucy POV
Jalanan terasa sulit dilalui, bahkan tak jarang kakiku terantuk batu, membentur batang pohon yang anehnya kasat mata, terjerat jaring mirip seperti buatan laba-laba, begitu lengket dan mungkin, bisa saja aku dimakan hidup-hidup. Ada banyak jebakan yang terpasang. Entah mengapa, waktu pertama kali kemari, hal-hal semacam ini tidak kutemukan dimana pun. Mungkin memang sengaja diaktifkan, mengingat keberadaan mereka terancam bahaya. Aku berhasil sampai di depan gerbang, walau agak acak-acakan.
"Orang asing?"
Tidak mungkin mataku salah lihat. Ada seorang perempuan, bersurai putih pendek sebahu, yang sebaya dengan kami semua. Merasa penasaran, aku memutuskan berlari mendekat. Jellal berada di sana, bersama Mavis dan Gray, yang sepertinya baru sampai. Natsu tak mau ketinggalan, dia menghampiri orang asing tersebut, nampak kaget sewaktu melihat wajahnya. Apa mereka saling mengenal?
"Kalau diingat kembali, sudah tiga tahun lamanya kamu meninggalkan pemerintahan. Apa kabar, pengkhianat?"
"Lisanna...kenapa kau datang kemari?!" seru Natsu tak terima. Ada yang aneh di sini, anak itu berkata 'pengkhianat'?
"Karena aku, ingin menjadi bagian dari kalian. Tidak, bukan itu. Aku punya dendam, terhadap orang di sebelahmu" ucapnya menunjuk Jellal. Seakan berkata, kalau dia memiliki masalah serius yang harus diselesaikan sekarang juga
"Oh, aku mengingatmu. Anak perempuan di ibu kota, ya?" tanya Jellal membalas ucapan Lisanna. Dia tersenyum nakal, mendekatkan wajahnya demi menghilangkan jarak, di antara mereka berdua
"Langsung saja. Aku ingin mengajakmu berduel. Jika kalah, kalian semua akan kutangkap, kecuali Natsu. Jika menang, kamu boleh memilikiku sepenuhnya" bukankah tidak adil? Kenapa dia, hanya menyelamatkan satu orang saja?! Padahal mereka, sama-sama anak terkutuk!
Dan nasib semua anggota, termasuk aku sendiri, berada di tangan Jellal.
Bersambung...
Next chapter : Natsu Past
