"Tunggu, jangan sembarangan memutuskan! Kamu tidak lihat? Jellal terluka parah!" teriakku penuh rasa emosi. Aku sendiri tidak terlalu menyadarinya, tau-tau ucapan itu keluar dari mulut
"Eh? Ternyata masih ada yang peduli padanya. Kamu menyukai Jellal?" Lisanna bertanya menggoda. Membuat semburat merah, menghiasi kedua pipiku
"Siapa juga yang menyukainya! Kami hanya sebatas teman, itu saja. Apa kalian saling mengenal? Maksudku dengan Natsu"
"Memang. Dulunya kami teman satu tim, tetapi dia keluar dari pemerintahan dan menjadi pengkhianat. Hebat sekali, Natsu Dragneel" sindirnya tersenyum sinis. Kalau tidak Gray tahan, dia bisa saja ikut campur urusan mereka berdua
"Jadi, kamu datang kesini, karena ingin balas dendam? Atas kematian ayahmu?" tanya Jellal kembali buka mulut, setelah menyimak cukup lama
"Ayahku? Maksudmu ketua gulid Black Card? Asal kau tau saja, orang itu tidak memiliki hubungan apa pun denganku. Erza-sama memberi misi padaku, untuk memusnahkan mereka. Menurutku membosankan, jika tidak bermain-main sebentar. Jadi, aku memanipulasi ingatannya, sehingga dia berpikir seperti itu"
"Bukankah tindakanmu agak kejam?" usai mendengarnya–Lisanna tertawa cukup keras. Pasti dia merasa, kalau perkataan itu, tidak pantas jika diucapkan seorang pembunuh, apalagi oleh Jellal
"Aku tidak salah dengar? Tindakanmu justru ratusan kali lipat, lebih kejam dariku. Aku balas dendam, karena kamu telah merebut misi tersebut. Karena gagal, Erza-sama menghukumku, dan tidak main-main kejamnya. Kau harus membayar semua ini!"
"Oh, begitu" jawaban singkat dari Jellal, sukses membuat Lisanna bertambah geram. Setidaknya, dia bisa memberikan respon, yang jauh lebih baik
"Satu hal lagi. Aku diperintahkan untuk merebut Natsu dari kalian. Erza-sama membutuhkanmu, begitu juga denganku"
"Maaf Lisanna, tetapi aku tidak akan pernah kembali. Bergabunglah dengan kami, lagi pula kita sama, bukan?"
"Jangan mencoba menghasutku!"
Mungkin tak lama lagi, pertengkaran di antara mereka berdua, akan segera meledak. Aku baru tau, kalau dulunya Natsu adalah anggota pemerintahan. Tetapi, apa yang membuat Lisanna sangat terikat? Dia terlihat sangat berambisi, terutama saat ingin mengajak Natsu kembali. Jellal terdiam menyaksikan, begitu juga dengan Mavis dan Gray. Aku tidak suka, menonton pertandingan dua teman lama. Tanpa mempedulikan keadaan sekitar, kerah baju belakangnya kutarik sekuat tenaga. Dia harus istirahat total, kalau tidak, harus menunggu sampai kapan baru sembuh?
"Hoi tunggu, mau kau bawa kemana Jellal?!" teriak Lisanna yang tidak lagi mempedulikan Natsu, bahkan dia berjalan cepat mengejarku
"Sudah jelas kan, membawanya untuk pergi beristirahat. Berduel denganmu hanya buang-buang tenaga saja. Pergilah, kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini"
"Beraninya kau menentang permintaanku!" satu detik awal, dia langsung mengaktifkan sihir pemanggilan. Menyadarinya aku bergerak refleks, mengindari serangan yang nyaris menggores kulit wajahku
"Kenapa kamu menyerang? Aku tidak ingin bertarung!"
"Kalau begitu. Aku menantangmu berduel denganku" ajakannya tidak kuladeni sama sekali. Aku menengok ke belakang, seperti mendengar suara percikan. Ternyata dia tipikal orang pemaksa, tangan kanannya bersiap melempar bom api. Namun, yang paling membuatku khawatir adalah, jarak kami berdua, hanya terpaut tiga centi meter!
Bukankah melempar bom, pada jarak dekat adalah tindakan bahaya? Lisanna bisa melukai dirinya sendiri, juga orang-orang di sekitar. Dampak paling parah akan dirasakan olehku dan Jellal. Mungkin tak lama kemudian, aku bisa menjadi buruk rupa, karena kulit wajah dan badanku terkelupas semua. Justru bukan lagi cacat, melainkan dipanggil Yang Maha Kuasa! Karena terlalu takut, aku memejamkan mata seerat mungkin, berharap mendapat keajaiban, dan tiba-tiba terdengar suara...
BRUKK!
BOMMMM...!
"Dasar bodoh! Kami semua bisa celaka, akibat ulah gegabahmu itu! Pikiran baik-baik sebelum bertindak!" seru Natsu memarahi Lisanna. Ini pertama kalinya, aku melihat dia tidak terkontol seperti itu
"Diam dan jangan ikut campur! Kalau kamu tidak ingin mereka semua celaka, maka ikutlah denganku" situasi dibacanya dengan cepat. Pilihan Natsu sekarang benar-benar terbatas
"Asal kamu tau, aku memiliki alasan kenapa berhenti"
"Bahkan setelah kabur dan berkhianat...kamu masih bisa berkata seperti itu?! Apa Jellal telah mencuci otakmu, atau mungkin si bocah kerdil berambut pirang, yang melakukan hal tersebut?!"
"Bukan siapa-siapa! Aku memang ingin mengatakannya. Empat tahun lalu..."
Natsu POV
Flashback...
Kamu tau kan, aku adalah anak gelandangan, yang bekerja sebagai pencuri. Semua orang membenci, mencaci maki, bahkan melakukan tindak kekerasan padaku. Mereka memandang anak terkutuk sebelah mata. Nyawanya dianggap sebagai mainan. Anggota tubuhnya terutama bagian mata, dianggap sebagai mesin penghasil uang! Aku sangat, sangat sering menemukan, anak sebayaku dijual ke pasar gelap, dijadikan budak oleh para petinggi, lalu kemudian dibunuh begitu saja. Mereka pikir, kami ini boneka apa?!
Karena itulah, aku membenci semua orang, terutama anggota pemerintahan. Apalagi, ketika hari sudah malam. Mereka berkeliaran di jalan, membawa senjata tajam dan memulai pemburuan. Tak jarang, aku terpaksa lari dari kejaran, walau mata dan tubuhku terasa berat, untuk digerakkan. Satu per satu mengorbankan nyawa, demi melindungiku agar tidak tertangkap. Saat itu, aku sering mengutuk diri sendiri, kenapa begini? Kenapa takdir yang Tuhan berikan begitu kejam? Kenapa teman-temanku harus pergi, tanpa mampu mengejar dan meraih, impian milik mereka?
Hingga suatu hari, aku ditangkap oleh seorang wanita berambut scarlet, tidak lain adalah Erza sendiri. Waktu itu jabatannya masih anggota, bukan kepala negara. Secara paksa, aku dibawa dan dijebloskan ke dalam penjara. Mau membela diri pun, sama sekali tidak berdaya. Beberapa orang bergilir masuk, mulai dari pagi sampai malam tiba. Menyiksaku tanpa rasa ampun. Tiga hari bagaikan neraka hidup, terus menahan rasa sakit, terutama di bagian perut. Hantaman keras dari pukulan kayu atau besi Tusukan benda tajam berupa pisau, dan lain-lain. Namun entah kenapa, aku tak kunjung dikunjungi malaikat pencabut nyawa.
Hari ketiga nyaris berakhir. Waktu itu sudah malam. Kondisiku masih sama seperti kemarin. Kedua tangan dirantai menggantung. Tubuh berlumuran darah serta bekas luka. Dan yang paling mengerikan adalah, kulit kakiku robek cukup dalam. Erza datang mengunjungi, dia nampak tenang tanpa berbicara sepatah kata pun. Air mata mulai berjatuhan, yang semakin lama semakin deras. Aku ingin minta ampun, bahkan kalau dia berkenan, aku ingin dibunuh sekarang juga. Supaya penderitaan ini, segera berakhir.
"To-tolong...tolong bunuh...aku..." pintaku bersuara pelan. Terlalu lemas akibat kehilangan banyak darah
"Hmm...kamu memiliki bakat, untuk menjadi seorang pembunuh. Baiklah, mulai sekarang, jadilah anak buahku. Kita bersama-sama memberantas kejahatan"
Begitulah, dia justru mengajakku bekerja sama, demi menegakkan keadilan. Tiga tahun berlatih, aku mulai menunjukkan perkembangan pesat. Erza terpilih, untuk menjadi kepala negara ke sepuluh, sedangkan kami berdua, yaitu aku dan Lisanna, masih setia melayaninya, bahkan dijadikan orang kepercayaan. Penghargaan terbesar, yang tidak mungkin bisa, didapatkan setiap orang. Tentu aku memiliki kebanggan sendiri. Lalu tak lama kemudian...
Aku juga mengenal orang lain di pemerintahan, yaitu seorang wanita berusia dua puluh empat tahun, bernama Layla Heartfilia. Dia adalah mata-mata andalan Erza. Teman sekaligus guruku. Selesai menjalankan misi, aku tidak sengaja bertemu dengannya di kantin. Kami bertiga mengobrol sebentar, sampai Lisanna mendapat panggilan dari senior lain. Entah mengapa, Layla-san mendadak berbisik, sewaktu kami berbicara empat mata. Seakan tidak ingin, orang lain mendengarnya.
"Aku memiliki kabar baik dan buruk. Mau mendengar yang mana dulu?"
"Eh? Ada kabar baik apa? Kamu berhasil menangkap dalang, dibalik pembunuhan sadis beberapa minggu lalu?" tanyaku memasang ekspresi lugu. Padahal masalahnya, jauh lebih buruk dari itu
"Bukan, ini menyangkut tentangmu, Natsu. Aku mengetahui siapa orang tuamu. Mereka tinggal di desa mata merah, dan terpaksa membuangmu ke ibu kota, karena masalah uang"
"Be-benarkah?! Aku ingin bertemu dengan ayah dan ibu. Kamu bisa mengantarku ke sana besok? Lusa juga boleh"
"Jangan senang dulu. Kabar buruknya adalah, Laxus diperintahkan untuk membunuh mereka, dan orang yang menyuruhnya adalah, Erza sendiri"
"Tapi, kenapa orang tuaku harus dibunuh? Apa karena mereka melawan?"
"Erza hanya menginginkan bola mata, tidak lebih dari itu"
Tubuhku seketika membatu, usai mendengar kabar buruk dari Layla. Satu menit aku bergembira hati. Berbulan-bulan lamanya aku murung. Kebenaran itu disembunyikan dari Lisanna, Layla-san pun kuminta tutup mulut. Tanpa meninggalkan surat atau mengucapkan selamat tinggal. Aku memutuskan untuk kabur, dan menjadi seorang pengkhianat. Dalam hatiku muncul niat balas dendam. Kalau bukan karena Erza, aku pasti ikut memburu kalian semua, bersama yang lain.
End flashback...
Back to Lucy POV
"Aku berkata jujur padamu. Lisanna, ikutlah bersamaku. Kita gulingkan Erza, dari jabatannya. Mungkin tak lama lagi, kamu akan menjadi korban, dari keserakahannya"
"Sayang sekali, aku tidak peduli! Erza adalah orang baik, kamu pasti salah sangka! Layla dibunuh oleh Jellal, apa kamu tidak merasa sedih? Bukankah kamu menyayanginya? Begitu juga denganku!"
"Tentu aku sangat terpukul. Namun ingatlah, manusia hidup di dunia ini hanya sementara. Pada akhirnya, semua akan mati! Tidak ada yang tau, bagaimana cara kita meninggal nanti. Mau mengenaskan ataupun tenang, tetap harus diterima"
"Jangan menceramahiku bodoh! Jellal, aku tetap menantangmu berduel. Kamu tidak lupa, kan? Nasib semua anggota, berada di tanganmu!" ya ampun...kenapa dia masih bersikeras? Aku hendak mencegat Jellal, agar ia tidak termakan oleh ucapan Lisanna. Namun sudah terlambat
"Mana mungkin aku tinggal diam. Kalau semuanya akan ditangkap"
"Bagus, bagus. Bisa kita mulai sekarang?"
Bersambung...
Next chapter : Keputusan Lisanna
