Ternyata benar perkataan Jellal. Belum lama dibicarakan pun, seseorang terdengar mengetuk pintu, sebanyak tiga kali. Natsu membuka penuh harap, mendapati bahwa keinginannya menjadi kenyataan. Yang berada dibalik sana memang Lisanna, tersenyum malu menatap wajah sang teman dari dekat. Kalau disebut reuni, mungkin cocok dengan kondisi sekarang. Semua meyambut kedatangannya penuh suka cita, meski Gray terkesan agak cuek.

"Salam kenal. Namaku Lisanna Strauss. Job blade taker. Level seratus tiga puluh empat. Mohon bantuannya. Jangan penggal kepalaku, ya?" dia trauma akibat ulah mengerikan Jellal. Tanpa mengucapkan apa pun, Natsu langsung memeluknya erat. Setahun tidak bertemu dirasa cukup lama

"Kamu sama sekali tidak berubah. Masih saja suka memelukku"

"Kata siapa aku tidak berubah? Tinggi badanku naik banyak, bahkan Jellal lebih pendek dariku. Hahaha...!" entah kenapa, dia terdengar sangat bangga mengatakan hal tersebut. Lucy hanya tertawa tidak jelas. Memang perkataan Natsu ada benarnya

"Maaf menganggu reuni kalian. Ada yang ingin kubicarakan"

Mau rapat lagi? Apa tidak bisa, diundur sebentar? Gerutu Lucy merasa malas. Satu masalah baru selesai, sudah muncul masalah lain. Ada yang kurang, tetapi apa? Pintu baru saja ditutup, seseorang sudah membukanya kembali dan masuk ke dalam. Benar juga, bagaimana bisa dia melupakan Mystogan? Walau kenyataan berkata, hawa keberadaannya memang rendah dibanding yang lain. Setelah tidak lagi ditemukan kendala, rapat pun dimulai sekarang.

"Mystogan keluar mencari informasi, mengenai keberadaan bola mata milik Meredy. Aku ingin kita merebutnya kembali, kalau tidak, bisa saja disalah gunakan"

"Bagaimana caramu mengetahui, jika itu milik Meredy?" tanya Lucy menyela. Meski berkata malas, sebenarnya dia jauh lebih bersemangat, dibanding pemikirannya sendiri

"Beberapa waktu terakhir, aku mengintai seorang kolektor barang langka. Erza berada di sana, melakukan transaksi dengannya. Sehari setelah Meredy dibunuh" jelas Mystogan ringkas, karena memang begitu adanya. Mau ditambahkan apa lagi?

"Nama kolektor itu adalah Bickslow. Menurut surat kabar, dia memiliki puluhan pasang bola mata merah, yang tidak lain berasal dari anak-anak terkutuk, dan penjualnya adalah Erza"

"Dia pasti sangat kaya raya. Aku ada pertanyaan lagi, setelah didapatkan mau kita apakan?"

"Mengembalikan, apa yang menjadi milik Meredy sampai kapan pun" jarang sekali, mendengar Jellal berkata seperti itu. Padahal dia selalu cuek, terkesan tidak peduli mau kehilangan siapa. Meskipun orang tersebut, adalah teman satu gulidnya sendiri

"Bola mata yang lain, akan disumbangkan ke rumah sakit. Kalau tidak, diberikan pada anggota keluarga nya sebagai kenangan" mendadak seperti badan amal saja. Siapa sangka, hati Jellal jauh lebih mulia, dibanding tindakannya selama ini

"Pada misi kali ini, aku tidak ikut serta. Lucy, kau bertanggung jawab sepenuhnya" ucap Jellal langsung memutuskan, tanpa meminta pendapat apa pun dari orang bersangkutan

"Ke-kenapa aku? Mystogan saja, dia kan wakil ketua" berusaha menolak secara halus

"Adikku tidak ikut. Kalian akan bertarung di dalam ruangan nanti. Jika masih bersikeras, dalam sekali serang langit pun bisa runtuh, akibat ulahnya"

"Cepat sebutkan, siapa saja yang ikut serta bersamaku?"

"Lisanna, Gray dan Mavis. Jika sampai gagal, aku akan memenggal kepalamu nanti. Camkan itu baik-baik, Lucy Heartfilia" masih saja suka mengancam. Ketua gulid memang seram, kalau sudah marah! Sindirnya dalam hati, mau menolak pun tidak bisa, seakan keputusan tersebut adalah mutlak

"Lho, aku tidak ikut?" kali ini giliran Natsu menyela

"Kita tidak butuh, dua orang dengan kemampuan serupa" blade taker dan entrapper, hanya berbeda dalam penggunaan pisau. Pada dasarnya, kedua job itu adalah tingkatan rogue, dengan skill yang rata-rata sama

"Tunggu! Kenapa kamu sangat suka memenggal kepala orang?"

"Karena denga begitu, aku tidak perlu melihat ekspresi korban yang kesakitan. Kalau kamu tidak mau dipenggal, aku bisa mengganti hukuman. Misalnya, mengulitimu dari bagian atas sampai bawah, atau memasukkanmu ke dalam peti berduri, dibakar hidup-hidup juga terdengar menyenangkan. Tidak, memotong setiap anggota tubuhmu adalah pilihan terbaik. Pertama-tama, aku akan menyiksamu terlebih dahulu, baru..."

"Jangan dilanjutkan lagi. Pergilah beristirahat" didorong Lucy paksa menuju kamarnya. Pintu terdengar dibanting keras, merupakan perwujudan emosi karena perkataan Jellal barusan

Lucy POV

Dia benar-benar psikopat sejati! Aku menolak semua hukuman itu, tidak ada yang waras! Jam menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit. Sebentar lagi waktunya jam tidur, tetapi rasa kantuk belum menyerangku kuat. Jadi, aku memutuskan untuk mencari udara segar di luar. Kebetulan ada Mavis, yang terlihat sendirian tanpa ditemani Gray. Agak jarang melihatnya begitu, padahal mereka selalu bersama, ibarat sepasang kekasih.

"Malam Lucy-chan. Belum tidur?" tanyanya memulai pembicaraan. Aku duduk di sebelah kanan, memandangi langit malam bertabur bintang

"Kamu sendiri? Biasanya yang paling awal"

"Entahlah, hari ini sangat sulit memejamkan mata. Hey, apa benar Lucy-chan menyukai Jellal?"

"Kata siapa? Aku tidak menyukainya atau apa pun itu, tetapi...aku juga tidak membencinya. Kamu sendiri? Memiliki perasaan khusus terhadap Gray?"

"Mungkin saja. Kami hanya sebatas kakak adik, meski bukan kandung sih. Lima tahun lalu..."

Flashback...

Umurku saat itu masih tujuh tahun, tinggal di desa terpencil dan mengalami krisis ekonomi. Ayah terpaksa menjualku kepada keluarga lain, untuk dinikahkan suatu hari nanti, semacam menantu cilik. Di sanalah aku mengenal Gray, yang merupakan calon suamiku sendiri. Dia begitu baik, setiap kali dimarahi ibu atau ayah angkat, aku selalu mendapat pembelaan darinya. Jika kesulitan, sewaktu mengerjakan pekerjaan rumah, dengan sukarela dia membantu. Belum pernah, aku melihatnya mengeluh atau apa, padahal kehidupan mereka cukup sulit.

Hingga suatu hari, terjadi insiden mengerikan, dan Gray dituduh terlibat...

Siang hari, kira-kira pukul satu. Aku baru selesai memetik buah di kebun. Tiba-tiba, rumah dikerumuni warga sekitar, membuatku kaget becampur khawatir. Polisi juga berada di sana, tengah menyelidki setiap orang yang memberi pengakuan, bahwa mereka melihat pembunuhan, dan itu dilakukan oleh Gray sendiri. Tentu saja, aku tidak mempercayainya, siapa tau ada kesalahpahaman, tetapi, para saksi tetap bersikukuh, kalau dia adalah tersangka utama.

Saat melihat tangan kananya berlumuran darah, dan berubah menjadi seperti monster. Semakin memperkuat bukti yang ada. Aku berusaha meminta keterangan. Mana mungkin, Gray tega membunuh ayah dan ibunya.

"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi"

"Ada seorang pak tua, dia memakai seragam pemerintah. Semua terjadi sangat cepat, ayah dan ibu dibunuh. Aku kesal, marah, lalu mendadak, tangan kananku berubah menjadi monster, dan lehernya kucekik, sampai dia meninggal"

"Dasar pemuja iblis, usir dia dari desa!" teriak salah seorang warga, diikuti yang lain. Menciptakan suasana ricuh sesaat

"Adik kecil, kami harus membawanya ke kantor polisi. Temanmu akan dimasukkan ke pusat rehabilitasi selama lima tahun"

"Gray tidak boleh pergi kemana-mana!"

Entah apa maksudnya, tanganku mengeluarkan listrik bertegangan tinggi, sewaktu mendorong pak polisi, sekejap mata dia meninggal, membuat warga desa bertambah marah. Aku terlau takut, untuk memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Kabur begitu saja, sambil menggandeng tangan Gray. Kami berdua frustasi, tertekan, takut. Terus berlari, tanpa memilki arah tujuan pasti. Dalam pelarian dadakan tersebut, muncul sekumpulan bandit yang ingin merampok. Gray terlalu takut untuk melawan, sedangkan aku tidak tau, bagaimana cara mengeluarkan kekuatan sebelumnya.

Saat itulah kami bertemu Jellal, dia memberitau banyak hal, mengenai anak terkutuk, cara mengendalikan sihir, dan point terpenting adalah, siapa diri kami sebenarnya. Mungkin semua ini terjadi, karena kehendak Tuhan. Gulid Fairy Tail pun mulai terbentuk, yang masih beranggotakan tiga orang, lalu bertambah seiring waktu berjalan.

End flashback...

Mereka juga pernah membunuh, bahkan Mavis sekali pun. Aku terdiam usai mendengarnya, tidak pernah jauh dari kejadian pilu, tindak diskriminasi, dan lain-lain. Bisa dibilang, menjadi anak normal jauh lebih menyenangkan. Daripada memiliki kemampuan spesial, namun dijauhi semua orang.

"Untuk misi besok, mohon kerja samanya"

"Pasti berat, menjadi seorang pemimpin, apalagi baru pertama kali. Tetapi aku percaya, Lucy-chan bisa melakukannya, karena Jellal yang menunjukmu langsung"

"E...eto...apa kamu membenci Jellal?" tanyaku merasa ragu. Di antara semua anggota, akulah yang paling banyak menentang tindakan dan keputusannya

"Tidak sama sekali, justru aku menyayanginya. Dia hanya seorang lelaki, yang selalu kesepian. Pasti Lucy-chan tidak mengethui hal ini. Waktu kalian bertengkar, Jellal menangis karena merasa bersalah, tidak bisa melindunginya di saat-saat terakhir. Semua orang beranggapan, kalau dia sadis, jahat, dingin, tetapi bukan begitu, mereka salah besar..."

"Ayo tidur, sekarang sudah malam"

Baru kali ini, aku mendengar seseorang membela Jellal. Pengakuannya sedikit meragukan, walau Mavis tidak mungkin berbohong. Kapan pun itu, suatu hari nanti, semua akan terkuak perlahan-lahan, dan aku, hanya perlu menunggu dengan sabar.

Bersambung...

Next chapter : Waktunya Lucy