Keesokan harinya...

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Memang, misi dilaksanakan nanti malam, tetapi tetap saja, untuk memejamkan mata pun rasanya sulit sekali, sehingga terbangun pada jam lima. Kira-kira, yang lain sedang apa? Merasa penasaran, aku berjalan pelan di sekitar lorong. Masih gelap di sini, itu berarti belum ada yang memulai aktifitas. Kamar Jellal terlihat menarik, mungkin dia menyimpan rahasia di dalam, seperti majalah hentai, koleksi barang aneh, dan lain-lain. Niatku untuk iseng mulai membara. Benar juga, saat dia terbangun nanti, akan kukagetkan! Bagaimana ekspresinya, ya?

Kriekkk...

Usai membuka pintu, aku langsung menutupnya kembali. Bisa gawat jika ketahuan, apalagi kalau si bawel Natsu, yang mengetahui hal tersebut. Markas akan langsung dihebohkan, oleh suara cemprengnya. Benar dugaanku, Jellal tertidur sangat lelap! Belum lama berjalan mendekat, aku dikagetkan lemparan pisau searah, tertancap di dinding tembok karena berhasil kuhindari. Apa dia sudah bangun? Namun tidak ada tanda-tanda. Baiklah, sudah waktunya beraksi!

"HIK!" teriakku pelan tersentak kaget. Orang macam apa dia? Tidur sambil memegang pisau! Aku menyingkirkan tangannya ke samping, lalu...

"Siapa kau?" me-me...melotot! Jellal sangat seram! Aku hendak kabur, tetapi dia malah menarik tanganku, sehingga terjatuh membentur sisi ranjang

"Jangan harap bisa kabur!"

CKLEK!

Seseorang membuka pintu dan menyalakan lampu kamar, nampak mengusap-usap matanya karena menahan kantuk. Dari semua anggota, kenapa harus Natsu yang melihat?! Tak lama kemudian, Mavis, Gray dan Lisanna ikut menyusul. Berhasil tidak, kena malu iya! Mulutku beku seratus persen, sedangkan Jellal masih terdiam. Melihat ekspresi polos itu, semakin membuat kedua tanganku gemas, ingin sekali mencubit pipinya sampai berwarna merah. Gawat, apa yang mereka pikirkan sekarang?

"Ka-ka...kalian...tidur berdua semalam?" tuduh Natsu asal-asalan. Kenapa harus anggapan itu yang keluar dari mulut embernya?!

"Kata siapa?! Jangan asal menuduh Natsu! Ini bukan seperti dalam bayangan kalian, aku..."

"Apa benar, semalam kamu tidur bersamaku?" Jellal balik bertanya, kenapa dia menjadi bodoh?! Pandangan mata Natsu menampakkan kecurigaan. Keadaan justru bertambah buruk

"Aku belum cukup umur, untuk melakukan tindakan senonoh seperti itu! Maaf, tolong jangan penggal kepalaku sekarang. Aku hanya berniat iseng saja, tidak lebih"

"Lucy-chan memang menyukai Jellal. Kalau tidak, mengapa bukan mengusili orang lain?"

"Kamu salah sangka. Aku punya alasan sendiri. Siapa tau dia menyimpan harta karun, seperti majalah hentai atau koleksi barang aneh!" memang terlalu kekanak-kanakan, tetapi kalau tidak jujur, Jellal bisa saja berceloteh riang, dan itu menyebabkanku semakin minder

"Majalah hentai? Sayang sekali, barang yang kamu cari tidak ada di kamarku. Kalau kamu mau, beli saja di toko buku terdekat"

"Cewek hentai..." gumam Gray mulai bersuara. Meski pelan, aku bisa mendengarmu!

"Berkacalah dulu sebelum mengataiku seperti tadi! Kamu sering buka baju, saat kita berkenalan, saat kamu melawan Laxus-nii, waktu rapat kemarin dan sebelumnya. Siapa yang lebih hentai? Coba jawab!"

"Lagi pula itu bukan kejahatan. Terserah kamu saja, aku mau mandi dan sarapan" main kabur saja si Gray. Baiklah, kali ini aku biarkan, selanjutnya tidak ada kata ampun!

"Lepaskan tanganku, mau dipegang sampai kapan?" apa yang membuat Jellal begitu terlena? Sudahlah, untuk apa dibahas lebih lanjut? Aku juga ingin mandi

"Kalian akrab, ya"

Tidak salah dengar? Jellal berkata aku akrab dengan Gray? Kami sempat bertengkar beberapa kali, karena emosinya yang sering kelewat batas. Pasti dia tidak tau, aku pernah dikatai pengkhianat satu kali, sekarang cewek hentai, lalu apa? Tukang numpang? Pembuat onar? Terus saja sampai kamu puas, menyebalkan sekali! Sepotong roti gandum menjadi menu sarapan. Akibat terlalu kesal, sampai menimbulkan bunyi sewaktu dikunyah. Aku bisa tau, kalau Gray akan segera berkomentar.

"Berisik sekali mulutmu, lebih baik diikat saja"

"Salah siapa, yang membuatku marah. Sadarilah kesalahanmu dan minta maaf"

"Hah? Untuk apa aku minta maaf? Sensitif dasar"

"Namanya juga perempuan! Terutama jika sedang PMS. Pantas saja, kamu masih menjomblo" ya ampun, kenapa aku mengatakan hal seperti itu di meja makan? Keringat dingin mengucur deras, pasti sukses memancing rasa penasaran mereka. Bukan berarti aku bangga, justru menyesal

"PMS? Apaan tuh? Nama makanan baru? Bagaimana rasanya? Asin atau manis? Mungkin pahit?" tanya Natsu memberondong. Untung saja dia bodoh

"Datang bulan" jawab Jellal yang terdengar jelas dari sini. Karena memang, tempat duduk kami bersebelahan!

"Apa, bulan mau datang? Ayo siapkan teh dan biskuit" mengatakannya sambil berlari menuju dapur. Syukurlah Natsu sangat, sangat bodoh...entah mengapa aku senang

Kenapa mendadak jadi acara lawak? Aku membawa setumpuk piring dan gelas, mengalirkan air dari kran cukup deras. Natsu terlihat memakan beberapa buah biskuit, bilang saja jika ingin! Tidak perlu pakai alasan, ingin menyediakan camilan dan teh untuk kedatangan bulan. Masih jam delapan pagi, apa yang harus kulakukan agar waktu cepat berlalu? Lagi-lagi aku dibuat kaget, oleh tingkah anak itu, dia menutup kaleng dengan sangat keras. Tidak bisakah, dia lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu?

"Hey, ada yang ingin kukatakan padamu"

"Langsung saja" jawabku acuh tak acuh, masih sibuk mencuci piring dan gelas

"Biskuit ini enak sekali, kamu tau siapa yang membelinya?"

"Jangan menanyakan hal aneh! Siapa yang beli atau membuatnya aku tidak peduli" kirain ada berita penting apa, ternyata pertanyaan mengenai biskuit

"Bukan itu kok, aku hanya basa-basi sebentar tadi. Pasti kamu tidak tau, Jellal cemburu melihatmu dekat dengan Gray"

"Dekat dari segi mana? Aku bertengkar, bukan berbicara baik-baik seperti anggapanmu"

"Apa kamu pernah mendengar istilah, benci jadi cinta? Jika sering bertengkar, itu akan berubah menjadi rasa suka"

"Lupakan saja, aku tidak menyukai siapa pun. Baik Gray dan Jellal"

Otaknya terkontaminasi apa sih? Jellal pun beranggap demikian. Apa mereka tidak bisa, membedakan benci dan suka? Aku memutuskan berlatih sebentar, supaya lebih siap ketika misi berlangsung nanti. Sudah lama rasanya, tidak mengikuti kelas. Benar juga, ayah dan ibu pasti khawatir. Bagaimana keadaan mereka berdua? Kasus pembunuh itu, apa sudah terkuak? Mana mungkin, kalau pun iya, pasti kita ditangkap polisi, lalu dijebloskan ke penjara.

Malam harinya...

Mempersiapkan hati dan pikiran, merupakan dua point terpenting, demi meminimalisir kesalahan. Ingatlah posisimu kali, Lucy Heartfilia! Kamu bukan menerima perintah, melainkan memberi. Apalagi jaminannya adalah kepalaku dipenggal, jika misi gagal. Tempat tujuan kami berempat adalah, sebuah rumah di kawasan elit, milik seorang kolektor barang langka bernama Bickslow. Jujur saja, aku sangat gugup, bahkan sebelum dimulai. Dari luar nampak megah, tanpa pengamanan yang ketat. Tidak ada penjagaan dari body guard. Malah dapat kukatakan, kita dapat menyelinap dengan mudah!

"Baiklah, kita akan menerobos masuk lewat cerobong asap. Menurut peta yang diberikan Mystogan, ada tangga di belakang rumahnya"

Serasa jadi maling dadakan. Aku berhasil mendarat dengan mulus, meski hampir terpeleset. Di dalam begitu gelap dan sepi, apa tidak ada seorang pun? Atau mungkin, pemilik rumah sudah tidur? Kami bersembunyi di balik tembok, usai memperhatikan situasi cukup aman. Aku memberi isyarat tangan, yang mengatakan maju mendekat. Ruangannya sudah terlihat, dihalangi oleh pintu berukuran raksasa. Tidak mudah untuk masuk, apalagi ada kode keamanan.

"Apa, ya? Mungkin..." gumamku sambil menekan angka empat, sembilan, tujuh dan tiga. Lalu terdengar suara mesin yang memberitau...

"Maaf, kode yang anda masukkan salah. Silahkan coba lagi. Jika lupa, tekan tombol riset"

Setelah meriset kodenya, kolektor penggila barang langka itu, pasti tidak bisa masuk lagi ke sini.. Jejeran lukisan terbentang rapi, dari awal hingga ujung. Meja ukuran variasi, menambah ramainya isi dalam ruangan. Lisanna memegang toples, yang aku yakini bertuliskan 'bola mata merah', pada label berwarna putih, di depan kaca.

BOMMM...!

Gempa bumi? Bukan itu...melainkan pendaratan mulus dari seorang lelaki, yang mengenakan topeng, sehingga menutupi mukanya. Tanpa menunggu aba-aba penyerangan, Lisanna melemparkan bom api pada pria tersebut, namun dapat dibelah dengan mudah, sehingga hanya menimbulkan ledakan kecil di sekitar. Lima buah boneka kayu, membentuk berbagai macam transformasi, dan setiap jurus, memiliki maksud tersendiri.

"Mavis, gunakan mind barrier! Dia akan menyerang dari depan!"

Gerak-geriknya terbaca dengan jelas, entah mengapa aku sangat yakin. Tangan Bickslow seakan memberi isyarat gerak, dan boneka-bonekanya bergerak ke arah belakang! Mavis yang menyadari tipu muslihat itu, segera memindahkan posisi mind barrier, tidak bisa dikatakan tepat waktu, maupun terlambat. Ayunan tangannya adalah kecohan, supaya kami berpikir, kalau dia akan menyerang dari arah depan. Sambarann petir yang kuat, membuat Mavis terdorong ke belakang, menabrak dinding sampai hancur berkeping-keping.

"Kau pemimpin yang buruk, nona kecil. Dimana Jellal?"

"Dia terluka parah, jadi harus istirahat" di antara semua pembunuh, Jellal merupakan ancaman terbesar, bagi pihak pemerintah maupun organisasi kejahatan lainnya

"Sayang sekali, Jellal meminta pada orang yang salah"

"Cih...tidak akan kubiarkan!" dengan gesit, aku menyambar toples berisi bola mata merah. Di antara semua barang koleksinya, pasti ini yang paling berharga

"Gray, pergilah mencari ke ruang sebelah. Ada pintu rahasia, dibalik lemari kayu itu!"

Sekarang aku sadar, lawan kami bukanlah sekedar kolektor biasa, dia juga seorang penyihir berpengalaman! Jika dibandingkan, maka aku tidak ada apa-apanya. Sebelum keluar dari dalam ruangan, sebuah toples kembali kulempar menuju arah Gray. Jellal berkata, menyelamatkan milik Meredy dan sebanyak-banyaknya, bukan seluruhnya. Walau hanya empat pasang, asalkan itu memenuhi tujuan misi, maka tidak masalah!

Aku memancingnya keluar rumah. Kini kami berdua, berdiri di atas hamparan tanah. Pertarungan satu lawan satu!

"Perkelahian fisik? Pilihanmu bagus juga"

"Tu-tunggu! Apa maksud...mu?" saat mengatakannya, aku baru menyadari, kalau pedang steno di tangan kananku menghilang. Begitu juga, dengan kelima boneka kayu tersebut

"Di luar rumahku, telah dipasang pelindungi anti sihir. Membawaku keluar rumah, adalah pilihan yang salah, nona kecil"

Meskipun bisa bela diri, sama saja bohong jika jarang dilatih. Aku menggunakannya, dalam keadaan terdesak saja, bukan untuk bertarung atau adu kekuatan. Benar juga, padahal Jellal sudah memberitauku kemarin. Siapa sangka, akan begini jadinya. Bagaimana lagi, aku harus melawan, apa pun yang terjadi.

Bersambung...

Next chapter : Waktunya Lucy Part 2