"Baiklah, aku masih bisa berbaik hati, pada nona kecil sepertimu. Kamu boleh menyerang duluan" ucapnya sambil menjulurkan lidah. Seperti mengejek saja, atau mungkin dia sudah mengetahui kelemahannku?

Pukulan langsung dilancarkan, tanpa mengambil ancang-ancang. Aku tidak bisa memikirkan hal lain, terlalu sulit untuk fokus, terlalu takut untuk mati! Dia menahan serangan itu dengan mudah, memelintir tangan kananku sampai patah tulang dan terlihat bengkak. Sekarang, hanya tersisa tangan kiri, yang sama sekali tidak leluasa, aku gunakan dalam pertarungan jarak dekat. Bickslow memukul sekuat tenaga, sampai wajahku menyeret tanah bermeter-meter jauhnya, terpental ke belakang, nyaris tertusuk semak-semak berduri.

"Ups, aku lupa memberitaumu. Itu bukan duri biasa, jika tertusuk satu kali saja, maka nyawamu akan melayang, dalam sepuluh menit" Tuhan masih berbaik hati melindungiku rupanya, tetapi mana bisa terus begini?

Darah segar termuntahkan dari mulut, mengotori bajuku dengan noda berwarna merah. Pukulannya telak mengenai dadaku, bernafas pun terasa seperti siksaan! Aku mengeluarkan sebilah pisau dari dalam sarung, bergerak secepat angin supaya menimbulkan luka fatal, sewaktu menikam nanti. Bickslow menyadari hal tersebut, bersiap menahannya memakai tangan kosong. Aku mengubah arah gerakan dengan sengaja, melompat ke belakang dan melemparnya. Pertahanan terbuka lebar, kau adalah mangsaku sekarang!

Pisau melesat cepat di udara. Tinggal sedikit lagi, sampai seranganku mengenai punggungnya, tetapi di saat-saat terakhir, dia sadar dan mengapitnya dengan dua jari. Aku masih melayang di udara, orang itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bickslow melempar balik, dua kali lipat lebih kuat dari tenagaku, mau menghindar pun mustahil. Kepalaku sedikit dimiringkan ke kanan, sehinngga meleset dan tersangkut. Pendaratan gagal, aku terjatuh dengan posisi badan membentur tanah. Toples itu terlepas dari dekapan, menggelinding bebas entah kemana.

Satu-satunya yang kupunya, hanyalah pisau itu. Memang tidak mungkin, membalikkan keadaan dengan persediaan terbatas. Karena sulit berjalan, aku terpaksa merayap di atas tanah, berusaha mengambil sebelum kedahuluan. Tangan kiriku nyaris mengapainya. Padahal hanya terpaut jarak satu centimeter, tetapi Bickslow tidak membiarkan hal tersebut, dia menginjak-injak tanganku, tanpa mempedulikan erangan, yang secara alami mulutku teriakan.

"Serahkan bola matanya, maka masalah ini selesai"

"Ada di sana, aku melihat toplesnya menggelinding ke dekat semak-semak" usai diberitau. Bickslow langsung melepas injakan kakinya, mencari ke segala arah sampai ditemukan

"Untung saja masih utuh" ucap Bickslow sambil membuka isi toples tersebut, memandanginya sambil tersenyum-senyum sendiri. Namun mendadak...

BOMMM...!

Suara ledakan menyebabkan angin berhembus kencang, membuat semak-semak bergoyang mengikuti arah datangnya. Topeng Bickslow hancur seketika, membuat dia terkapar lemas di atas hamparan tanah kosong. Aku memetik jarik merasa senang, ternyata tipuan itu berhasil! Kakiku tersendat-sendat sewaktu berjalan. Sekarang kemenangan, benar-benar menjadi milik Lucy Heartfilia. Mereka pasti sudah selesai, kami harus mundur segera, sebelum polisi datang menghadang jalan.

"Dimana, bola mata yang asli?"

"Menurutmu pribadi, yang kulemparkan pada Gray itu apa? Maaf saja, tetapi aku terlalu sibuk, untuk meladeni pertanyaanmu"

"Ka-kau...! Jangan pikir sudah menang!" teriaknya hendak menjitak kepalaku. Meski berhasil mengelak, dia tetap bersikeras melawan

Tidak semua serangan bisa dihindari, terkadang aku terjatuh, lagi dan lagi. Darah segar merupakan penanda jejak , di atas tanah berwarna cokelat pekat. Kedua tanganku sudah dikorbankan, jika gegabah menyerang, kakiku bisa jadi korban ketiga dan keempat. Pintu masuk terasa jauh, apa aku bisa, sampai ke sana sebelum pingsan? Bom air mempunyai daya ledak kuat, mungkin sebentar lagi, yang kubutuhkan hanyalah waktu untuk bertahan, tidak lebih.

"Kamu pikir, bisa menghiraukanku dan terus berjalan, hah?!" jelas bukan, sama sekali tidak bisa. Tetapi aku harus menyusul Gray, lalu pulang ke markas dengan selamat. Menghiraukan perkataannya seakan cari mati. Bickslow menyepak salah satu kaki, membuatku terjatuh membentur lantai marmer. Semua terlihat bergoyang, walau agak samar-samar, aku bisa melihat, kepalaku mengeluarkan darah cukup banyak

Tanpa ampun, dia menjambak rambutku sampai ditarik ke belakang, rasa sakit akibat leher tertekuk juga semakin menjadi-jadi. membentur kepalaku berulang kali, entah berapa banyaknya. Setelah puas, Bickslow pergi meninggalkan pintu depan, pergi ke tempat Gray berada. Mendadak semua gelap...apa yang...akan terjadi?

Gray POV

Seisi ruangan sudah kuperiksa sesama. Ketua menjalankan tugasnya dengan baik, aku harus berterima kasih, sekaligus meminta maaf, karena asal menuduh tanpa berpikir. Ada sekitar enam toples, berisi barang serupa. Dia memberiku yang asli, dan membawa yang palsu berupa bom air. Mavis dan Lisanna kuminta untuk balik duluan, membawa masing-masing dua toples. Lucy berkata, kalau dia yakin, bola mata ini adalah milik Meredy, karena si pak tua maniak itu, selalu menyimpan koleksi baru di meja bagian kanan. Mystogan sendiri kurang tau, berarti cukup percaya saja.

CKLEK!

"Kembalikan...KEMBALIKAN BOLA MATANYA!"

"Ini punya teman kami, bukan punyamu" jawabku ketus

"Memangnya, dari mana kamu tau, kalau itu milik temanmu?! Aku memiliki enam yang sama, bagaimana caramu membedakannya, hah?!"

"Lucy berkata, kamu selalu menyimpan koleksi baru, di meja bagian kanan"

"Mati kau!" dari responnya barusan dapat dikonfirmasi, bola mata ini memang milik Meredy. Pantas saja, Jellal memilih Lucy sebagai ketua

Dengan menggunakan kutukan, aku mencekik lehernya sampai berwarna biru. Dia boleh saja, lebih tinggi dariku, tetapi jangan harap, bisa lepas begitu saja. Hukuman penggal kepala, mungkin terdengar menarik, tanganku kembali mencengkram, dan dalam hitungan detik, lehernya terputus dari badan. Hadiah terbaik untuk balasan bagi Erza, cukup pantas dikatakan seperti itu. Baiklah, sekarang adalah saatnya pergi mencari Lucy, dia belum menampakkan batang hidung sedari tadi.

Rumah ini cukup luas dan sepi. Salah jalan, maka aku bisa tersesat. Usai menuruni puluhan anak tangga, sesosok perempuan berambut pirang, tergeletak di atas lantai, dalam kondisi kepala berdarah. Benar juga...siapa lagi kalau bukan Lucy? Hanya dia, yang masih tertinggal bersamaku. Lukanya parah akibat benturan, dalam satu waktu. Aku harus bergerak lebih cepat, segera melarikannya ke rumah sakit terdekat, lalu melakukan donor darah. Kalau tidak, bukan Lucy yang bunuh, melainkan aku!

"Jangan dulu meninggal, aku ingin meminta maaf padamu, dan mengucapkan terima kasih. Tenang saja, aku berjanji akan menyelamatkanmu, bersama Jellal dan yang lainnya"

Keesokan harinya...

Erza POV

Aneh, kenapa kolektor maniak itu, tak kunjung menelpon? Padahal, dia belum menentukan jam pertemuannya. Mau bagaimana lagi, aku terpaksa mengunjungi duluan. Jaket kuambil dari gantungan. Hampir masuk musim dingin, angin berhembus lebih kencang di luar, dan salju mulai turun, dari atas awan. Satu kardus berukuran kecil, berisi puluhan pasang bola mata merah, masih terlantar di depan pintu. Biasanya sudah diambil, mungkin orang itu sedang pergi. Aku memutuskan, masuk sambil membawa kardusnya, menekan kode keamanan di samping pintu.

"Maaf, kode yang anda masukkan salah. Silahkan coba lagi. Jika lupa, tekan tombol riset" sejak kapan dia mengganti kode keamanannya? Saat masuk ke dalam, aku dikejutkan dengan sepotong kepala manusia, yang tidak lain adalah Bickslow sendiri

"Pantas saja, aku sempat menemukan bekas darah tadi, tetapi bukan miliknya. Berarti semalam, telah terjadi pertarungan, dan dia dibunuh, di ruangan ini. Menarik, pasti anak-anak itu pelakunya. Mereka mau menantangku"

"Baiklah, lihat saja nanti. Aku akan membuat kalian, mengikuti game buatanku"

Bersambung...

Next chapter : Tantangan Dari Erza