Aku masih terus terisak sambil mengusap batu nisan. Orang yang berharga. Orang yang aku sayangi. Dulu aku sendirian, kemudian dia datang. Neji menemani hari-hariku. Kini semuanya hilang, musnah. Tidak dengan kenangan. Tapi, tanpa sosoknya aku menjadi sebatang kara.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Genre: Family/friendship/Drama/Hurt
Rated:T or T
Main Cast: Hyuga Hinata and Hyuuga Neji, slight SasuHina
.
.
Under Twilight belong to YnK
.
.
Parte 2
Beberapa hari lalu aku mendekam dalam kamar. Acara ke makam perdanaku berakhir berantakan. Sesak, ngilu dan menyedihkan. Aku memang payah, sepanjang jalan aku menangis terisak. Bukankah sangat memalukan?
Aku sadar, aku menyedihkan. Hinata malang. Hinata menyedihkan. Rasanya hidupku tidak jauh-jauh amat dari tragis. Tidak jauh-jauh amat dari kelabu di langit.
Karena saking terpuruknya diriku, sadar tidak sadar sekolahku berhenti. Dua minggu absen, diantaranya sakit. Tapi sesungguhnya aku syok berat menghadapi kepergian kakak tunggalku. Tiga hari aku terbaring di ranjang. Selebihnya kugunakan hari-hariku untuk berdiam. Perginya kak Neji bagai hilangnya setengah jiwaku.
Pelayan di rumahku cemas, mereka begitu khawatir. Terutama Aya, dia begitu cemas. Dia bahkan menangis untukku yang hanya nona mudanya. Dia berulangkali menelpon Tuan Besar dan terisak saat menemukan Si Tuan Besar atau Ayahku hanya menyuruh sekertarisnya untuk mengantarkan parsel. Aya begitu menyayangiku sementara ayahku yang merupakan keluarga kandung sibuk mengurusi kertas-kertas berduitnya.
Hari itu, hari ke-8, aku mengepak semua barang berniat kabur. Gagal. Rupanya ayah menyuruh dua bodyguard untuk mengawasiku. Kugunakan cara lain yang ekstrem, mengiris nadiku sendiri. Barulah, ayahku kelimpungan. Dia dengan segera mengakhiri meetingnya dan membawaku ke rumah sakit. Dua bodyguardku sebelumnya kena bentak karena tidak mampu menjagaku. Sebenarnya bukan salah mereka, ini salah ayah. Aku tidak membenci ayahku, aku hanya sedih dengan kelakuannya. Aku tidak lebih berharga daripada uang-uangnya.
Aya menangis tersedu di samping ranjang. Mereka, para bodyguard sengaja aku suruh untuk jauh-jauh setelah mengucap maaf berkali-kali. Aya mengelus punggung tanganku. Dia hanya seorang pelayan, tapi kasih sayangnya bagaikan seorang kakak.
"Hinata-sama, jangan begini. Jangan bertindak ceroboh lagi. "
Diumurnya yang sekarang harusnya dia sudah menikah dan hidup bahagia. Aku menangis memikirkan Aya. Bukan apa-apa, keluarga Aya tidak mampu. Dia sebatang kara. Entah bagaimana ayah membawa Aya ke rumah dan menjadi penjagaku semenjak aku belum genap tujuh tahun.
Aku tersenyum pelan. Tanganku sakit saat aku gerakan. Selang dan jarumnya sungguh mengganggu lenganku, aku hanya berniat menaut jemari Aya kenapa dipersusah?
"Aya aku lelah. Aku ingin bersama kak Neji. "
Aya membeliakkan matanya, bibirnya berkedut. Dia tidak terisak tapi kenapa cairan bening malah membanjiri wajahnya. Lebih banyak dari sebelumnya.
"Aya? Kau kenapa? "
Dengan wajah tertunduk Aya berkata, "Jangan bicara begitu. Akan kubantu agar Hinata-sama mendapatkan informasi tentang kematian Neji-sama. "
"Apa kau sedang bercanda, Aya? "
Aya menggeleng.
"Aku tidak tahu bagaimana kak Neji meninggal. Dia datang lalu tiada. Aku tidak tahu teman-temannya, tidak tahu tentangnya. Dia ... "
"Asal kau sembuh dan bersekolah lagi akan aku lakukan apapun untuk mencari informasi Hinata-sama. Kumohon. "
Kenapa Aya begitu serius saat aku menatap matanya. Tidak ada keraguan sedikitpun. Aya ... Kau sungguh baik. Aku terisak dan memeluknya kuat. Berkali-kali aku mengucapkan terimakasih kepadanya karena mau bersusah payah membantuku. Aya ... Suatu saat aku akan membalasmu.
Aku masuk sekolah, semuanya terasa berbeda. Mereka memandangiku seolah aku ini alien. Mereka juga berbisik-bisik kecil berbicara mengenai diriku dengan teman ngobrolnya. Aku meliriknya sekilas kemudian menunduk. Aku mencoba memaklumi. Setelah dua minggu absen lalu tiba-tiba kau sekolah lagi tentu akan memancing kehebohan tersendiri. Kemudian, Kurenai sensei melambai padaku di koridor ujung, ah, aku harus ke ruang kepala sekolah.
Aku bergegas ke sana. Aku rasa, aku akan dapat hadiah. Yah, dihitung-hitung tindakanaku keterlaluan sih. Aku menghela napas. Kalau bukan karena sumpalan uang ayahku mungkin sekarang aku sudah tiduran di rumah dan tidak perlu sekolah lagi.
"Masuklah, Hinata-chan. "
"Ha'i sensei. "
Under Twilight
Ah... Membosankan. Aku terdiam di pojokan, mengamati siswa lain via jendela besar. Mereka kelihatan bersemangat. Tertawa. Bermain. Aku menumpukan tangan, menyangga kepalaku yang berat. Pemuda berambut hitam mencuat memasukan bola basket ke ring, siswi-siswi bersorak heboh. Ah, cassanova sekolah yah? Kudekatkan mukaku ke jendela, mataku menyipit memastikan. Benar tebakanku, Si Cassanova, Sasuke Uchiha.
Uchiha. Keluarga konglomerat. Raja. Penguasa. Pengendali ekonomi lewat bisnis gemilangnya. Putranya sendiri ada dua, setahuku, Itachi Uchiha dan adiknya, Sasuke Uchiha, anak itu. Wajah mereka sama-sama arogannya. Dingin. Tatapannya seperti falcon. Terbang, cakarnya menancap saat menatap. Cukup lama aku melihat ke bawah sampai aku tersentak kaget gara-gara mata kami saling bertumbukan.
Astaga... Segera aku alihkan pandanganku. Bisa gawat kalau para fansnya sampai melihat kami berpandangan. Bisa-bisa besok aku di bully sampai habis. By the way, fans mereka sangat rese.
Aku mengeluarkan ponsel. Menghidupkanya. Wallpaper diriku dan kak Neji terpampang di layar. Kami tersenyum. Ulang tahunku kemarin. Aku meniup lilin, Kak Neji memegang kue. Kaos putih oblongnya masih ku simpan rapi. Celana denimnya juga kutata rapi. Senyumnya masih berbekas diingatanku, begitu terasa. Seolah kemarin. Tiba-tiba air mataku terjatuh begitu saja.
"Kalau kau sakit kau bisa ke ruang kesehatan saja, Hinata. " Yamanaka-san menepuk bahuku pelan. Ah, dia adalah salah satu yang tahu penyebab aku absen selama ini.
Aku mengusap air mataku pelan, "Baiklah. Aku ke ruang kesehatan sekarang. Arigato. "
"Mau kuantar? Kau kelihatan pucat. Apa kau tidak sempat sarapan? "
Aku menggeleng, "Aku sendiri saja. Sekali lagi terimakasih, Yamanaka-san. "
Aku tersenyum.
Aku tidak tahu kalau ruang kesehatan berada sejauh ini. Atau aku yang sudah tidak kuat? Mungkin benar apa kata Yamanaka-san kalau memang harus diantarkan tadi. Kepalaku pusing mendadak, semuanya terasa berputar. Apa anemiaku kambuh?
Entahlah, yang jelas aku sempoyongan dan memutuskan untuk berhenti sebentar. Tubuhku bersandar ke tembok. Aku memejamkan mata, terasa berat. Koheren dengan napasku yang kian tersendat-sendat. Rasanya begitu sakit.
Kulanjutkan berjalan menuju ruang kesehatan, walau langkahku tertatih, napasku abnormal, mataku meredup aku mencoba berjalan ke sana. Dalam ketidakberdayaanku, dia datang. Wajahnya begitu khawatir. Aku ambruk saat itu. Kemudian dia menepuk pipiku dan memanggil namaku. Yang terakhir kurasakan adalah tubuhku ringan. Seperti terbang.
Apakah itu kau Kak Neji?
.
W/N:Part 2 sudah selesai lama sebetulnya, tetapi saya baru punya waktu buat upload lagi.
Di sini, Hinata masih kelas 3 SMA yah. Dia dan Ino teman satu kelas.Kemudian, Keluarga Hinata memiliki pelayan bernama Aya. Aya sendiri tidak tahu jati dirinya. Dia hanya tahu yatim piatu dan panti asuhan.
Sekian...
Salam sayang,
Yoshiro no Yukki
