Call Me Mother!
.
.
.
Sasuke Uchiha, Sakura Haruno, Sarada Uchiha
.
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Dilarang PLAGIAT dan COPAS dalam bentuk APAPUN!
Don't Like Don't Read
Selamat membaca!
oOo
Sasuke tersenyum kala onyxnya menangkap sesosok gadis berambut pink yang sedang duduk di taman bersama banyak anak-anak kecil. Senyum kecil terkembang di wajahnya kala melihat kekasihnya itu sedang tertawa bahagia bersama beberapa anak kecil yang mengelilinginya. Dia segera berjalan mendekat ketika kekasihnya itu melambaikan tangannya.
"Lihat ini, Sasuke-kun! Mereka menyukaiku!" Sakura tertawa bahagia.
Mau tak mau, Sasuke ikut duduk diantara anak-anak kecil itu dan tertawa bahagia. Sejak saat itulah, dia menyukai anak-anak kecil.
"Sasuke-kun, suatu saat nanti aku akan menjadi guru TK atau dokter anak, karena aku menyukai anak kecil."
Sasuke mengacak lembut rambut kekasihnya.
oOo
Seorang gadis kecil berlari menyusuri lorong rumah sakit. Dia menaikan kacamata berbingkai merah yang digunakannya sembari menyeka air matanya. Dia membuka pintu dihadapannya dan menemukan sesosok wanita berambut merah terbaring lemah ditemani seorang pria bermata onyx.
"Mama!" Sarada segera mendekat dan menangis dalam pelukan wanita itu.
"Bagaimana sekolahmu, Sarada?"
Sarada Uchiha memandang ibunya yang terlihat pucat dan lemah. Dia tidak menyangka, jika ibunya akan divonis menderita kanker otak dan hidupnya tidak akan lama lagi.
"Hikss.. Mama.."
Uchiha Karin tersenyum dan mengelus rambut Sarada dengan lembut. Dia mengecup helaian hitam milik putrinya itu dan tersenyum.
"Sasuke-kun, mendekatlah kemari."
Sasuke mendekatkan telinganya kearah bibir Karin dan seketika matanya terbelalak dengan lebar.
"Tapi, Karin-"
"Jika sudah waktunya, Sarada harus tahu semuanya." Karin tersenyum memandang Sarada, "Sarada-chan, jika Mama meninggalkanmu nanti, kamu harus menuruti apa kata Papamu. Jangan nakal dan makan sayuran yang banyak, jangan terlalu banyak membaca novel di tempat gelap."
Sarada tidak bisa menahan tangisannya yang semakin terdengar keras. Karin tersenyum sebelum memejamkan matanya.
"Aku menyayangi kalian."
"Mama! Mama! Mama!" Sarada menangis meronta-ronta sembari memeluk jasad Karin. Dokter dan suster segera datang dan menutupkan kain putih kearah jenazah Karin. Malam itu, Sarada tak henti-hentinya menangis karena kehilangan Ibundanya yang sangat dia sayangi.
Malaikat dalam hidupnya, kini telah mendapatkan tempat yang indah di sisi Kami-sama.
Sarada menyeka air matanya ketika peti mati Karin diturunkan ke liang lahat. Dia sudah tidak bisa menangis lagi, air matanya sudah habis setelah dia gunakan untuk menangis semalaman. Bagi gadis kecil berusia sepuluh tahun sepertinya, ini adalah pukulan telak baginya.
"Sarada."
Sarada menolehkan kepalanya dan melihat Chouchou datang menghampirinya. Segera dia memeluk sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Chouchou.
"Sudahlah Sarada, tidak apa. Kamu tidak usah menangis lagi, nanti aku akan mentraktirmu es krim yang paling lezat. Asal kamu tidak menangis lagi."
Sarada tidak bisa menahan tawanya diantara airmatanya mendengar kalimat Chouchou. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada sahabat gembulnya itu.
"Kamu.. hiksss.. menyebalkan.. hikss.. Chouchou!"
Chouchou tersenyum dan mengelus bahu Sarada dengan lembut. Sebagai sahabat yang baik, dia akan terus berada disisi Sarada untuk menghibur gadis dengan kacamata itu. Biar bagaimanapun, ini merupakan pukulan yang keras bagi Sarada.
Naruto menepuk bahu sahabatnya yang bahkan tidak menampakan ekspresi apapun.
"Apa yang setelah ini kamu lakukan, Teme?" tanya Naruto.
"Karin memintaku untuk mencarinya dan membawanya kembali."
Mata Naruto membulat.
"Dia- maksudmu-"
"Ya. Dia orangnya."
Begitu sampai di rumah, Sarada langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci diri. Sasuke menarik nafas panjang melihat putrinya yang terlihat rapuh. Selama ini Sarada selalu terlihat tangguh, kematian orang tercintanya pasti membuatnya terpukul dan rapuh.
Sarada memeluk bantalnya dan menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Dia memandang pigura di meja nakasnya, pigura yang terdapat fotonya dan juga Mamanya yang sedang tersenyum bahagia.
"Kenapa Kami-sama jahat padaku! Kenapa dia mengambil Mama dariku!"
Mikoto menarik nafas panjang ketika Sarada tidak keluar untuk makan malam. Sebagai nenek, dia khawatir dengan kondisi cucunya itu.
"Dia pasti sangat tertekan," ucap Fugaku.
"Aku tahu itu, Fugaku-kun. Kita harus membujuknya untuk makan malam." Mikoto memandang Sasuke, "Sasuke-kun! Ajak Sarada-chan untuk makan malam!"
Sasuke mendesah lelah.
"Aku sudah membujuknya, dia tidak mau."
"Kalau begitu, biar aku yang membujuknya."
Sarada membuka pintu kamarnya setelah mendengar suara neneknya. Dia memeluk neneknya sebelum dituntun menuju meja makan. Sasuke bisa bernafas lega setelah melihat Sarada duduk di meja makan, meski gadis kecilnya itu makan hanya sedikit.
"Sarada-chan.. kamu harus menjadi gadis yang kuat. Meski Mama meninggalkanmu, kamu tidak boleh terpuruk dalam kesedihan."
Sarada bagaikan terbangun dari tidurnya. Seperti ada sesuatu yang membisikinya.
Ya. Dia adalah gadis yang tangguh dan tegar, dia tidak boleh terlihat rapuh ataupun lemah.
oOo
Sarada merapikan rok sekolahnya sebelum menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Setidaknya, dia tidak boleh terlihat lemah jika bertemu dengan teman-temannya. Dia sudah tidak sabar bertemu Chouchou dan menceritakan banyak hal, bertemu dengan Inojin yang mengajarinya menggambar, bertengkar dengan Boruto dan Mitsuki, dan menggangu Shikadai yang tertidur di kelas.
Sasuke yang sedang meminum kopinya terkejut ketika Sarada muncul dengan seragam sekolahnya. Tadinya dia kira gadis kecilnya itu tidak akan keluar dari kamar. Tetapi, dugaannya ternyata salah.
"Sarada, kamu mau roti?" tanya Sasuke bangkit dari duduknya.
Menaikan kacamatanya, Sarada tersenyum tipis. Ayahnya yang tampan itu tidak pernah menyentuh dapur, memasak pun baru kali ini dia melihatnya.
"Nasi goreng, bagaimana Pa?"
Sasuke memandang Sarada dengan pandangan tidak percaya. Dalam hidupnya, baru kali ini dia memasak. Tetapi, demi menyenangkan hati putri kecilnya itu, Sasuke segera memasakan nasi goreng ekstra tomat. Meski dia sendiri meragukan rasa masakannya.
Setengah jam kemudian, masakan Sasuke selesai. Dari tampilannya saja menggugah selera, masakan ayahnya pasti sangat lezat.
"Dimana kakek dan nenek?" tanya Sarada, setahunya saat makan malam kakek dan neneknya masih ada di rumahnya.
"Mereka sudah pulang setelah makan malam," Sasuke bangkit dari duduknya, "Nah, ayo kita segera berangkat ke sekolah."
Sarada duduk di dalam mobilnya dengan tenang sembari membaca novelnya. Sasuke hanya melirik putrinya itu sebelum memusatkan perhatiaannya kearah jalanan. Untuk gadis seusianya, kehilangan ibu pasti adalah hal yang berat.
Saat mobil ayahnya berhenti di depan sekolahnya, dia segera turun dari mobilnya. Pipinya bersemu merah ketika mendapatkan kecupan di pipinya dari sang ayah. Onyxnya menatap beberapa murid yang diantar oleh ibunya, rasa sesak kembali terasa di dadanya.
"Sarada!"
Sarada tersenyum ketika Inojin menghampirinya.
"Aku turut berduka cita soal kematian bibi Karin," ucap Inojin.
Sarada menaikan kacamatanya.
"Ya, terimakasih."
"Ayo, kita ke kelas. Shikadai dan Chouchou pasti sudah ada di kelas."
Mereka berdua berjalan ke kelas sembari bercanda tawa. Sejenak, Sarada bisa melupakan beban yang melanda hidupnya. Dia segera menghampiri Chouchou dan duduk di sampingnya.
"Sarada, nanti sepulang sekolah temani aku beli es krim di taman ya!" pinta Chouchou.
"Sepertinya tidak bisa." Sarada menopang dagunya, "Papa akan menjemputku."
"Huh! Paman Sasuke protective sekali!" gerutu Chouchou.
"Bukankah dia memang seperti itu?" Sarada mendenguskan wajahnya.
"Oi Sarada!" Sarada memandang Boruto yang menghampirinya.
"Mau cari masalah?" tantang Sarada.
"Aku tidak menyangka, jika gadis garang sepertimu bisa menangis juga."
Sarada siap membalas perkataan pedas Boruto jika bocah berambut pirang itu tidak segera duduk di bangkunya. Mitsuki datang dan memberikan sebuah boneka beruang kepadanya.
"Apa ini?" tanya Sarada.
"Ini untukmu. Supaya kamu tidak bersedih. Sebenarnya aku membelinya patungan dengan Boruto, meski dia yang menyumbang uang paling banyak."
Sarada tidak bisa mengatakan apapun dan menolehkan kepalanya ke belakang. Memandang Boruto yang sedang mendenguskan wajahnya.
"Ohayou anak-anak, segera keluarkan tugas yang ibu berikan kepada kalian." Kurenai sensei memasuki kelas.
Bel istirahat berbunyi dan beberapa murid keluar dari kelas untuk segera pergi ke kantin. Sarada mengeluarkan kotak bekalnya dan itu menarik perhatian Chouchou dan Inojin.
"Apa itu?" tanya Inojin.
"Bekalku, tentu saja."
"Siapa yang memasakannya untukmu?" Inojin memandang Sarada.
"Papaku."
"Aku tidak menyangka paman Sasuke bisa memasak juga," ucap Chouchou.
"Tentu saja dia bisa. Diakan Papaku!" Sarada mendenguskan wajahnya.
"Boleh aku mencobanya?" tanpa dijawab oleh Sarada, Inojin mengambil nasi goreng buatan Sasuke dan melahapnya. Sedetik kemudian, wajah Inojin yang sudah pucat bertambah pucat.
"Inojin, kamu baik-baik saja?" Sarada bertanya dengan khawatir ketika temannya itu tidak bereaksi apapun.
"Mungkin aku harus ke toilet."
Sarada memandang Inojin yang berlari keluar kelas. Seburuk itukah masaka ayahnya? Onyxnya memandang Chouchou.
"Chouchou, kamu mau mencobanya?" Sarada menyodorkan kotak bekalnya.
"Hmm.. boleh juga." Chouchou menyendokan nasi goreng ke dalam mulutnya, "Lumayan."
Sarada mendesah lega ketika mendengar komentar Chouchou. Berarti masakan ayahnya tidak seburuk apa yang dia pikirkan. Menyendokan nasi gorengnya, Sarada segera melahapnya.
"Huaaah!" Sarada mengipas-ngipas mulutnya. Yang benar saja! sepertinya ayahnya berniat membunuhnya dengan membuat nasi goreng super pedas untuknya.
"Kenapa, Sarada?" tanya Chouchou bingung.
"Pedas sekali!"
"Benarkah? Aku tidak merasakan pedas."
Sarada langsung meminum air putih yang dia bawa sebelum memandang Chouchou dengan pandangan horor.
"Kalau begitu untukmu saja."
"Benarkah? Terimakasih."
Sarada lebih memilih memberikannya kepada Chouchou dari pada memakannya. Bisa-bisa dia bolak-balik ke toilet gara-gara mules. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
Ngomong-ngomong, bagaimana nasib Inojin?
.
.
Sasuke melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaannya dan karyawatinya memandanginya dengan tatapan berminat. Siapa yang tidak mau dengan Uchiha Sasuke? Duda tampan dengan sejuta pesona, meski telah menjadi duda sekalipun.
Menarik nafas panjang, Sasuke mengacak rambutnya sebelum menelpon Kakashi.
"Kakashi, aku ingin kamu mencari keberadaan seseorang."
Sarada meringis ketika Kurenai Sensei mengatakan jika Inojin dijemput oleh kedua orang tuanya karena tidak berhenti bolak-balik ke toilet. Dalam hati dia merasa bersalah, ini pasti karena nasi goreng buatan ayahnya. Dia melirik Chouchou, sahabat gembulnya itu baik-baik saja?
"Sarada, kamu yakin tidak mau menemaniku membeli es krim?" tanya Chouchou.
"Iya, ayahku yang akan menjemputku," ucap Sarada.
"Baiklah, sampai jumpa."
Setelah kepergian Chouchou, tak berapa lama mobil milik ayahnya terlihat. Sarada segera berlari memasuki mobil milik ayahnya.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Sasuke melirik Sarada.
"Um.. tidak ada yang istimewa." Sarada mengangkat bahunya.
"Kamu ingin makan apa?"
Sarada terlihat sedikit berfikir sebelum menjawab. Jarang-jarang ayahnya memiliki waktu untuk makan bersamanya.
"Ramen paman Teuchi!"
Sasuke memandang Sarada sebelum menganggukan kepalanya.
"Hn."
Sarada tersenyum ketika ayahnya menginjakan kakinya ke kedai paman Teuchi, kapan lagi ayahnya mau makan bersmanya. Ayahnya adalah orang yang super sibuk, sekali-kali membawa ayahnya makan di kedai tidak ada salahnya.
Sasuke mengelus rambut putrinya dengan lembut. Dia tahu, jika Sarada pasti ingin makan bersamanya.
.
.
Sarada menutup novelnya dan meletakannya di meja nakas. Mengambil bantalnya dan selimut bergambar tomat miliknya, dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar ayahnya.
"Papa, bolehkah aku tidur denganmu?" Sarada melongokan kepalanya.
Sasuke yang sedang memeriksa laporannya tersenyum dan menepuk ranjang disisinya.
"Hn."
Sarada segera melangkahkan kakinya masuk dan merebahkan diri di samping ayahnya.
"Papa, ada yang ingin aku tanyakan."
Sasuke melirik Sarada sebelum menjawab.
"Hn, tanyakan saja."
Sarada menarik nafas panjang sebelum buka suara.
"Kenapa Kami-sama jahat pada Sarada? Kenapa Kami-sama mengambil Mama secepat ini?"
Sasuke menghentikan kegiatannya dan memandang Sarada yang mengalihkan pandangannya. Dia yakin, air mata putrinya itu bisa tumpah kapan saja.
"Dengarkan Papa," ucap Sasuke, "Kami-sama mengambil Mama untuk meringankan bebannya. Jika Mama masih hidup sampai sekarang, dia pasti akan menderita dengan penyakit yang dideritanya."
"Tapi-"
"Ingat Sarada, kamu adalah gadis yang kuat. Jangan bersedih lagi dan kembalilah seperti dulu."
Sarada menyeka air mata disudut matanya dan tersenyum.
"Papa benar."
Sasuke tersenyum dan segera menyelesaikan memeriksa pekerjaan anak buahnya. Sarada mengangkat satu alisnya ketika melihat wallpaper laptop milik sang Ayah. Disana, terpampang foto seorang wanita berambut pink dengan mata emerald dan senyuman yang menawan.
"Papa, siapa dia?"
Sasuke terkejut, kenapa dia bisa sampai lupa untuk mengganti wallpaper laptopnya.
"Hn. Dia adalah cinta pertama Papa, namanya Haruno Sakura."
"Cinta pertama?" tanya Sarada, "Kenapa bukan foto Mama yang Papa jadikan wallpaper?"
Sasuke terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Ayo kita tidur, Sarada." Sasuke meletakan laptopnya di meja nakas dan merebahkan diri di samping Sarada.
Gadis kecil dengan kacamata itu ingin bertanya lebih lanjut, tetapi dia lebih memilih mengurungkan niatnya. Sasuke memeluk Sarada sebelum menaikan selimutnya.
"Oyasumi Papa, Sarada sayang papa."
Sasuke tidak bisa menahan senyumnya dan mengecup puncak kepala Sarada dengan lembut.
"Papa juga sayang Sarada."
oOo
"Sarada!" Sasuke meletakan sandwich buatannya diatas meja makan beserta susu coklat kesukaan Sarada.
Tak berapa lama, Sarada muncul dengan seragam sekolahnya dan langsung duduk di kursi. Menyantap sandwichnya, Sarada segera menghabiskannya dan meminum susunya. Dalam hati dia mengakui jika masakan ayahnya sudah jauh berkembang dari pertama kali kematian Mamanya. Sarada bangga melihat Sasuke yang terlihat gagah tetapi mampu mengurusinya.
"Sudah selesai?" Sasuke melepas apronnya.
"Papa tidak sarapan?" tanya Sarada.
"Tidak, tadi sudah minum kopi. Ayo kita berangkat."
Sarada mengambil tasnya dan memandang bingkai foto Karin yang ada di buffet. Mengambilnya, Sarada mencium foto itu. Ini sudah seminggu sejak kematian Karin, meski dia masih belum bisa menerimanya, tetapi setidaknya dia harus terlihat tegar seperti kata ayahnya.
"Sarada!"
"Iya pa!" Sarada berlari menghampiri ayahnya.
Sarada keluar dari mobil milik ayahnya dan berjalan memasuki kelasnya. Chouchou sudah menyambutnya dan memberikan kue coklat milik gadis berkuli eksotis itu.
"Sarada, dua minggu lagi kan hari ulang tahunmu. Kamu ingin aku memberikan hadiah apa?" tanya Chouchou.
Sarada baru ingat, jika dua minggu lagi adalah tanggal 28 Maret, hari lahirnya.
"Hmm.. tidak usah memberiku macam-macam. Aku akan mengundangmu, Inojin, Shikadai dan duo menyebalkan Boruto dan Mitsuki ke acara ulang tahunku. Aku akan mengatakannya kepada Papa!"
"Baiklah! Siapkan saja makanan yang banyak!"
"Chouchou menyebalkan!"
Sasuke memandang Kakashi yang memasuki ruangannya. Dia berharap jika asistennya membawa kabar yang baik.
"Ada apa, Kakashi?"
"Aku berhasil menemukannya."
.
.
Sasuke menghentikan mobilnya di sebuah TK. Melangkahkan kakinya, dia bisa melihat seorang wanita sedang duduk diantara murid-muridnya dan mengajari murid-muridnya menggambar. Senyum tipis terkembang di bibirnya ketika memandang wanita itu.
Wanita yang sama. Wanita berambut pink dengan mata emerald yang mensejukkan dan juga senyum menawannya. Wanita yang telah membawa hatinya pergi.
"Ibu gulu! Ada paman aneh disana!"
Wanita berambut pink itu menolehkan kepalanya, emeraldnya memandang terkejut kearah pria yang berdiri diambang pintu kelasnya dengan setelan jas lengkap.
"Sasuke-kun..."
"Sakura."
.
.
.
.
.
-Bersambung-
.
.
.
Catatan kecil Author :
Jaaaaa! Sakura muncul lagi dengan fict gajeeee :D kali ini masukin Sarada :3 meski lagi sakit, tetep aja nggak bisa diem untuk nggak buat fict :3 rasanya tangan gatel kalo nggak megang laptop..
Okeee.. semoga reader suka dengan cerita ini! typo masih banyak dan alur cerita aneh juga kecepetan, nggak ada gregetnya pula :D
Baiklaaaahh.. sampai ketemu di chap selanjutnya!
-Aomine Sakura-
