Sasuke mendudukan dirinya di samping Sakura, tangannya terulur untuk membelai rambut bocah lelaki yang memandanginya dengan tatapan bertanya.
"Kenapa kamu bisa berada disini, Sasuke-kun?" bisik Sakura tercekat.
"Ada yang ingin aku bicarakan, hanya berdua denganmu."
Call Me Mother!
.
.
.
Sasuke Uchiha, Sakura Haruno, Sarada Uchiha
.
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Dilarang PLAGIAT dan COPAS dalam bentuk APAPUN!
Don't Like Don't Read
Selamat membaca!
oOo
Sakura menarik nafas panjang sebeum bangkit dari duduknya.
"Ibu guru mau keluar sebentar, jangan ramai ya, anak-anak." Senyum Sakura.
"Baik bu gulu!"
Sakura keluar kelasnya diikuti Sasuke.
"Apa maumu, Sasuke-kun?" tanya Sakura.
"Ini tentang Karin."
Sakura menaikan satu alisnya.
"Karin? Aku sudah tidak ada hubungannya dengannya lagi."
"Karin meninggal minggu lalu."
Sakura menutup mulutnya tidak percaya.
"Dia-"
"Dia tidak bisa bertahan lagi dari penyakit yang menggerogotinya. Dia memintaku membawamu kembali."
Sakura menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak mungkin, Sasuke-kun. Sudah 10 tahun berlalu dan aku juga sudah melupakan kejadian itu, aku-"
"Tapi tidak denganku, Sakura!" Sasuke menggenggam tangan Sakura, "Meski 10 tahun berlalu, tetapi rasa ini tetap sama."
"Sasuke-kun.." Sakura tidak tahu harus berbuat apa.
.
.
Sarada mendesah lelah sembari membaca novelnya. Ini sudah hampir satu jam semenjak bel tanda pelajaran berakhir dan ayahnya masih belum menampakan batang hidungnya. Sebuah tangan mengulurkan air mineral dan membuat Sarada menolehkan kepalanya.
"Mitsuki?" Sarada terkejut ketika melihat teman satu kelasnya itu.
"Kenapa belum pulang?" tanya Mitsuki.
Sarada mendenguskan wajahnya.
"Papa belum menjemputku," jawab Sarada, "Kamu sendiri, kenapa belum pulang?"
"Aku baru selesai bermain game online bersama Boruto."
Sarada masih mendenguskan wajahnya. Anak-anak lelaki memang menyebalkan.
"Aku turut berduka tentang bibi Karin."
Sarada melirik Mitsuki.
"Hn, terimakasih."
Keheningan kemudian menyelimuti keduanya, hingga mobil Sasuke memasuki pelataran sekolahnya.
"Aku harus segera pulang." Sarada bangkit dari duduknya, "Terimakasih air mineralnya."
Mitsuki tersenyum ketika Sarada melangkahkan kakinya memasuki mobil ayahnya. Sasuke melirik Sarada yang masuk ke dalam mobil membawa air mineral.
"Siapa dia?" tanya Sasuke memutar balik arah kendaraannya.
Sarada mendesah lelah.
"Papa, jangan mulai lagi overprotectivenya," ucap Sarada, "Dia hanya teman satu kelasku, namanya Mitsuki."
"Hn."
Sarada membuka tutup botol dan meneguk air mineral pemberian Mitsuki hingga setengahnya.
"Papa, dua minggu lagi aku berulang tahun."
Sasuke melirik Sarada.
"Kamu ingin hadiah apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin merayakan ulang tahunku dengan teman-temanku dan juga kakek, nenek juga Paman Itachi."
"Baiklah."
"Tapi, bisakah minggu depan kita mengunjungi makam milik Mama?" tanya Sarada penuh harap.
Sasuke tidak bisa menjawab apapun sepersekian detik. Ada sesuatu yang menohok hatinya mendengar permintaan Sarada.
"Hn."
.
.
"Apa ini?!" Boruto memandang undangan ulang tahun berwarna merah dengan gambar tomat di tengahnya.
"Kamu tentu bisa melihatnya itu apa," sindir Sarada.
"Kamu akan berulang tahun di tanggal 28 Maret?" tanya Mitsuki.
"Hn."
"Aku tidak akan memberimu kado," ucap Boruto.
"Aku juga tidak ingin menerima kado darimu."
"Mereka mulai bertengkar lagi," bisik Chouchou kearah Shikadai dan Inojin.
"Haahh.. merepotkan."
"Kadomu pasti berisi hal yang tidak berguna." Sarada tersenyum meremehkan.
"Apa?! Kau-"
"Hei teman-teman, jangan mulai bertengkar lagi." Chouchou menengahi, "Ayo Sarada, temani aku ke kantin."
"Hn."
.
.
Sarada membuka pintu kamar ayahnya dan menemukan ayahnya yang tampan itu sedang duduk menghadap laptop. Meletakan bantal dan selimutnya, Sarada segera duduk di pangkuan Sasuke.
"Hn. Ada apa, Sarada?" tanya Sasuke.
"Bolehkah aku tidur bersama Papa lagi malam ini?" pinta Sarada.
"Kamu tidak usah bertanya tentang hal itu, Sarada." Sasuke mengacak rambut Sarada dengan lembut.
"Papa, apakah Papa merindukan Mama?"
Sasuke menghentikan kegiatannya dan memandang Sarada.
"Kamu ini bicara apa, Sarada? Tentu saja Papa merindukan Mamamu."
Sarada tersenyum dan memeluk Sasuke dengan lembut.
oOo
Sasuke memandang Sarada yang sedang duduk di depan sebuah nisan seraya mengatupkan tangannya di depan dada. Sarada membuka matanya dan mengelus nisan di hadapannya dengan lembut.
"Mama, apakah Mama bisa mendengarku?" tanya Sarada, "Kenapa Kami-sama harus mengambil Mama dengan cepat?"
Sasuke terdiam, dia tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Mama ingat bukan, sebentar lagi tanggal berapa? Sebentar lagi adalah tanggal 28 Maret dan hari itu adalah hari ulang tahun Sarada."
Sarada tidak melanjutkan perkataannya, dia menyeka air matanya yang siap tumpah kapan saja.
"Jika Mama masih ada di samping Sarada disaat ulang tahun Sarada, Mama akan memberikan kado apa?" bisik Sarada disela air matanya, "Tapi, Mama tenang dan bahagia berada di sisi Kami-sama saja sudah membuat Sarada bahagia dan senang."
Sasuke menepuk bahu Sarada dan tersenyum tipis.
"Ayo kita pulang."
Sarada menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Sarada harus pulang dulu, Mama. Semoga Mama tenang disana."
Sasuke menggenggam tangan Sarada dan membawa gadis kecilnya itu ke dalam mobil miliknya, dan mobilnya meninggalkan pemakaman.
.
.
"Saradaaa! Selamat ulang tahun!"
Sarada menutup telinganya ketika Chouchou datang dengan kado berbentuk bulat, sama seperti orangnya.
"Tidak perlu berteriak seperti itu, Chou," ucap Sarada.
"Heehe.."
Inojin dan Shikadai muncul tak lama kemudian. Bocah lelaki kecil itu terlihat menggemaskan dengan setelan jas di tubuhnya. Sarada tersenyum ketika teman-temannya itu datang, apalagi ketika Pamannya, Itachi, mengelus kepalanya dan memberikan sebuah kacamata.
"Hei, ini untukmu."
Sarada yang sedang mengobrol dengan Chouchou terkejut menerima sebuah kado. Mengangkat kepalanya, Sarada bisa melihat Boruto yang sedang mengalihkan wajahnya dan juga Mitsuki.
"Apa ini? jangan bilang ini adalah petasan," sindir Sarada.
"Ck, sudah syukur aku memberikanmu kado," ucap Boruto, "Kembalikan kalau tidak mau."
"Enak saja!" elak Sarada.
"Kapan pestanya dimulai?" tanya Inojin tanpa basa-basi.
"Benar juga. Apa kamu menyediakan banyak makanan yang enak?" Chouchou memandang Sarada.
"Merepotkan.. kenapa yang ada di pikiranmu hanya makanan saja." Shikadai menguap dengan bosan.
"Biar saja, tuan sok jenius!"
"Ya, terserah padamu saja."
Sarada menarik nafas panjang dan menatap ayahnya yang sedang berbincang dengan pamannya.
"Papa, kapan acaranya dimulai?"
Mendengar pertanyaan Sarada, membuat Sasuke mengalihkan pandangannya menatap Sarada. Menatap arlojinya sebentar, barulah Sasuke menjawab.
"Kita akan menunggu tamu spesial. Sebentar lagi dia akan datang."
Benar saja, bel kediaman Uchiha berbunyi. Meletakan gelas berisi sampanyenya, Sasuke membukakan pintu rumahnya dan senyum terkembang di bibirnya. Disana, berdiri seorang wanita cantik yang mengenakan sebuah gaun berwarna merah. Rambut merah mudanya digelung keatas dan polesan make up natural menambah kecantikannya.
"Apakah aku terlambat?" tanya Sakura ragu-ragu.
"Tentu saja tidak. Masuklah."
Sakura masuk ke dalam rumah milik bungsu Uchiha itu dengan ragu-ragu. Di tangannya, terdapat banyak novel yang dia jadikan sebagai kado untuk Sarada.
"Sakura-chan?!" Itachi terkejut melihat Sakura.
"Ah- Itachi-nii."
"Ibu pasti terkejut melihatmu," ucap Itachi.
Chouchou mendekatkan mulutnya kearah telinga Sarada.
"Siapa dia, Sarada?" bisik Chouchou.
"Entahlah, yang aku tahu dia adalah cinta pertama Papaku."
"Cinta pertama?"
Mikoto datang dari dapur membawa kue tart dan terkejut melihat siapa yang berdiri di sebelah Sasuke.
"Sakura-chan!"
Sakura hanya bisa tersenyum canggung ketika Mikoto menghampirinya.
"Demi Kami-sama, kamu kemana saja selama ini?" bisik Mikoto tidak bisa menahan senyum bahagianya.
"Ibu, jangan menginterogasinya." Sasuke menarik tangan Sakura menuju sekumpulan anak kecil yang mengelilingi Sarada.
"Sarada, kenalkan dia adalah teman Papa. Namanya Haruno Sakura," ucap Sasuke.
"Aa. Bukankah dia yang fotonya dijadikan wallpaper di laptop Papa?" Sarada mengerling jahil.
Blush! Sasuke merasakan semburat merah di kedua pipinya dan segera menutupinya.
"Hai." Sakura berjongkok di hadapan Sarada dan memberikan novel yang dia jadikan sebagai hadiah. Profesinya sebagai guru TK, membuatnya menjadi cepat akrab dengan anak-anak, "Nama bibi Haruno Sakura. Ini hari ulang tahunmu, bukan? Selamat ulang tahun ya."
Sarada tersenyum tipis ketika melihat senyum menawan milik Sakura.
"Oh ya, Sarada." Sasuke berdeham sedikit, "Dia adalah calon ibu untukmu."
Bagai tersambar petir, senyum di wajah Sarada luntur. Onyxnya menatap tidak percaya kearah ayahnya.
"Pa-Papa pasti bercanda." Suara Sarada tercekat di tenggorokan.
Melihat tatapan serius milik ayahnya, membuat Sarada yakin jika apa yang dikatakan ayahnya itu bukanlah candaan.
"Aku membenci Papa! Aku membencimu! Secepat itukah Papa melupakan Mama! Aku membenci kalian!"
Sasuke memejamkan matanya ketika mendengar suara pintu di banting. Sarada mengunci diri di kamarnya, pasti gadis kecilnya itu masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi. Sakura sendiri memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya, dia bahkan baru mengetahui tentang rencana Sasuke untuk menjadikannya ibu baru bagi Sarada hari ini.
"Dasar anak bodoh!" Mikoto menjewer telinga Sasuke, "Seharusnya kamu mengatakan hal ini disaat yang tepat!"
"Ittai-bu!" Sasuke mengusap telinganya, "Ibu kan tahu jika aku begitu mencintai Sakura. Aku tidak ingin kehilangan dirinya lagi."
Mikoto menarik nafas panjang. Ini semua karena kesalahannya di masa lalu, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan Karin saat itu.
"Boruto, kamu mau kemana?" Inojin memandang Boruto yang berjalan menuju kamar Sarada.
"Menemui si cengeng itu, tentu saja."
"Aku ikut!" Chouchou mengikuti langkah Boruto.
Shikadai mendesah lelah.
"Merepotkan."
"Hei, kau!"
Shikadai menolehkan kepalanya menatap Sasuke.
"Ada apa, Paman?" tanyanya.
"Paman titip Sarada. Katakan kepada teman-temanmu untuk menginap malam ini. Mungkin kalian bisa menghiburnya," ucap Sasuke, "Paman yang akan mengatakan kepada orang tua kalian tentang hal ini."
"Haah.. baiklah." Shikadai melangkahkan kakinya menuju kamar Sarada, "Merepotkan saja."
.
.
Sarada menangis sembari memeluk bantalnya dengan erat. Dia sama sekali tidak menyangka jika ayahnya akan secepat itu menemukan pengganti ibunya. Dia sangat membenci ayahnya! Dia juga membenci wanita berambut pink itu!
"Sarada! Buka pintunya!"
Sarada mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Boruto yang begitu nyaring.
"Kita tidak seharusnya mengganggu Sarada." Itu suara Inojin.
"Bodoh! Kita malah seharusnya menghibur Sarada!" kali ini terdengar suara Chouchou.
Sarada menghapus air matanya dan bangkit dari ranjangnya. Tangannya memutar kunci dan membuka pintu kamarnya. Boruto dengan santainya masuk ke kamar Sarada dan merebahkan diri di ranjang gadis itu.
"Hei! Sopanlah sedikit, ini kamar seorang gadis!" ucap Chouchou.
"Ck! Kalian ini berisik sekali!"
Inojin menatap Sarada dengan pandangan khawatir.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Sarada tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mengkhawatirkanku."
Boruto meletakan kedua tangannya di belakang kepalanya.
"Aku mengerti perasaanmu," ucapnya.
Sarada mendenguskan wajahnya.
"Aku tidak yakin akan hal itu."
Boruto hanya melirik Sarada.
"Jika aku di posisimu dan ayah bodoh itu memutuskan untuk menikah lagi setelah kematian ibuku. Aku sudah pasti akan membencinya seumur hidupku."
"Merepotkan, tapi apa yang dikatakan Boruto itu benar," ucap Shikadai.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tetapi aku mungkin tidak bisa membenci ayahku, meski sebenarnya aku sangat ingin." Mitsuki angkat bahu acuh tak acuh.
Boruto segera mendudukan dirinya dan memandang teman-temannya.
"Bagaimana kalau kita main monopoli?" tanyanya.
"Ayo saja." Inojin tersenyum.
"Mungkin aku akan mencari makanan di dapur, ayo Sarada." Chouchou menarik tangan Sarada.
.
.
Sakura memandang Sasuke dengan pandangan tidak mengerti. Mau apa Sasuke membawanya ke sebuah restoran mewah?
"Kita mau apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura bingung.
"Diam dan ikuti aku saja."
Sakura menerima uluran tangan Sasuke dan mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam restoran.
"Forehead!"
Sakura terkejut ketika mendengar teriakan yang memekakan telinganya. Ino langsung memeluknya dengan erat.
"Lama tidak berjumpa, Pig." Senyum Sakura.
"Ayo, ayo. Kita duduk," ajak Ino, "Sasuke yang memiliki ide ini, bukankah ini adalah hari ulang tahunmu?"
Sakura melirik Sasuke dan tersenyum penuh arti.
"Hei, Teme. Kamu mengirimiku pesan jika anak-anak itu akan menginap di rumahmu. Memangnya apa yang terjadi?" tanya Naruto ketika Sasuke duduk di sampingnya.
"Sarada marah padaku, setelah aku mengenalkan Sakura sebagai calon ibu barunya."
"Dasar bodoh!" bukan Naruto yang mengumpat, melainkan Ino.
"Tentu saja dia marah, kau ini bodoh atau bagaimana!" ucap Ino.
"Sudahlah Pig, jangan memarahi Sasuke-kun." Sakura tersenyum.
"Kau ini masih saja luluh dengan Sasuke-kun." Ino tersenyum jahil.
Sakura tidak bisa menahan senyum malu-malunya, emeraldnya tidak sengaja bertatapan dengan onyx Sasuke. Apalagi kala melihat senyuman milik Sasuke.
.
.
"Yak! Boruto kalah! Bayar hutangmu!" Sarada tersenyum penuh kemenangan ketika Boruto berhenti di propertinya yang paling mahal.
"Ah! Hari ini aku sial sekali!" Boruto memberikan uangnya yang habis total untuk membayar dendanya.
"Teman-teman, aku mengantuk," ucap Inojin.
"Paman Sasuke meminta kami untuk menginap di rumahmu malam ini. Bisakah kami memakai kamar tamu?" tanya Shikadai.
"Baiklah, biar aku bukakan kamar tamu untuk kalian."
Sakura tersenyum malu-malu ketika Sasuke mengantarkannya hingga apartemen milik wanita berambut pink itu.
"Terimakasih, Sasuke-kun. Kamu masih ingat ulang tahunku," ucap Sakura malu-malu.
"Hn." Sasuke memeluk pinggang Sakura agar mendekat kearahnya.
"Sasuke-kun.." cicit Sakura.
Sasuke mencium bibir Sakura dengan lembut. Sakura ingin melepaskan diri, namun pada akhirnya dia membiarkan Sasuke mencium bibirnya.
"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi." Sasuke menyatukan kening mereka.
"Aku tahu, Sasuke-kun. Tetapi ini pasti akan menjadi beban yang berat bagi Sarada, sebaiknya kita tunda dulu sampai Sarada siap."
"Sarada tidak akan pernah siap. Jadi, persiapkan dirimu untuk menjadi nyonya Uchiha," ucap Sasuke mencium bibir Sakura dengan singkat, "Cepat atau lambat, Sarada pasti akan tahu yang sebenarnya terjadi."
.
.
.
.
.
.
-Bersambung-
.
.
.
.
Balasan Review :
Shahlia Chahayani : udah di apdet nih.. kilat banget malah.. :D
Jey Sakura : yup.. udah di apdet.. makasih ya..
: Hahaha.. arigatou arigatou :D
Dinda adr : sudah di apdet..
Tomat : sudah di apdet.. sankyu..
: jangan meninggikan seperti itu :) jadi enggak enak.. hehehe.. makasih buat dukungannya :)
Bandung girl : masih rahasia.. :D udah apdet kilat banget..
Guest : udah di apdet.. makasih ya.. udah agak enakan kok ini, mungkin besok udah sembuhlah :3
Purple panda : sudah di apdeeett..
Nikechaann : sudah di apdet.. arigatou ya..
Kimmy Ranaomi : Hahaha.. masih rahasia dong Sarada anaknya siapa :3
: udah di apdeet :)
Kuro Shiina : masih rahasia :)
Mitsuo Miharu : kalo typo Sakura akui masih banyak.. tapi kalau masalah jarak, sebenarnya udah di kasih dua titik biar nggak bingung.. tapi makasih ya..
Sampai jumpa di chap selanjutnya!
-Aomine Sakura-
