Call Me Mother!

.

.

.

Sasuke Uchiha, Sakura Haruno, Sarada Uchiha

.

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

Dilarang PLAGIAT dan COPAS dalam bentuk APAPUN!

Don't Like Don't Read

Selamat membaca!

oOo

Sarada keluar dari kamarnya dengan wajah masam dan ditekuk. Sasuke yang sedang meminum kopinya hanya bisa menghela nafas panjang. Ini sudah tiga hari sejak ulang tahun Sarada, gadis kecilnya itu sepertinya masih belum bisa menerima kenyataan jika Sakura yang akan menjadi calon ibu baginya.

"Sarada, hari ini mau makan apa?" tanya Sasuke.

Sarada yang sedang meminum susunya melirik ayahnya sekilas.

"Aku ingin sushi di dekat kedai ramen paman Teuchi."

Sasuke tersenyum tipis ketika mendengar jawaban Sarada. Setidaknya gadis kecilnya itu masih mau bicara padanya.

"Hn."

.

.

Sarada melangkahkan kakinya masuk ke kelasnya dan langsung mendudukan diri di sebelah Chouchou. Gadis kecil bertubuh tambun berkulit eksotis itu melirik Sarada yang memasang wajah cemberut.

"Masih tidak bicara dengan ayahmu?" tanya Chouchou.

"Hn."

"Kasihan sekali ayahmu, dia kan tampan malah kamu cueki."

"Biar saja. Aku tidak mau menerima ibu baru dalam hidupku."

Chouchou mengangkat bahunya. Bagi gadis seumurannya, dia merasa pening jika memikirkan masalah Sarada.

Sasuke yang sedang memeriksa laporan karyawannya melirik ponselnya yang bergetar. Setelah melihat caller IDnya, barulah dia mengangkat telepon yang masuk.

"Moshi-moshi, Sasuke-kun."

Sasuke tidak bisa menahan senyumnya ketika mendengar suara merdu di seberang telepon.

"Hn."

"Aku hanya ingin bertanya bagaimana keadaan Sarada," ucap Sakura.

"Dia baik-baik saja, mungkin hanya belum bisa menerima kenyataan yang terjadi."

Sakura menghela nafas di seberang telepon. Untungnya TKnya belum masuk, jadi dia bisa menyempatkan diri menelpon Sasuke barang sebentar. Biar bagaimanapun, restu Sarada adalah yang utama baginya.

"Bagaimana jika kita membatalkan pernikahan ini?" tanya Sakura sembari menggigit bibirnya.

"Jangan bercanda, Sakura. Aku sudah memerintahkan Kakashi untuk mengurus semuanya dan akan beres minggu depan. Kita akan menikah dengan atau tanpa restu dari Sarada."

Sakura hanya bisa menarik nafas panjang mendengar perkataan Sasuke. Pria itu masih belum berubah, dia akan melakukan apapun untuk bisa mencapai tujuaannya. Tipe Uchiha sekali.

"Terserahmu saja Sasuke-kun."

Sasuke tersenyum tipis mendengar perkataan Sakura. Inilah yang dia suka dari wanita musim seminya itu, tidak banyak membantah dan mampu mengerti dirinya.

"Hn. Makan siang nanti, datanglah ke restaurant sushi di sebelah kedai Ramen Ichiraku."

"Baik."

.

.

Sarada merasakan harinya ini sangat melelahkan. Dia masuk ke dalam mobil papanya dan langsung memejamkan matanya. Hari ini Boruto membuat onar lagi dan membuat beberapa guru marah. Jika bocah pirang berisik itu bukan putra pemilik sekolahan itu, mungkin beberapa guru akan menendangnya keluar.

Sasuke melirik Sarada yang sedang memejamkan matanya. Dia tahu, jika hari putrinya pasti sangat berat. Senyum tipis terukir di bibirnya ketika restaurant sushi sudah terlihat di depan mata.

"Sarada, ayo kita turun."

Sarada membuka matanya dan segera membuka pintu mobilnya. Dia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam restaurant dan memesan seporsi sushi naga, sushi yang dibuat dari nasi yang padat dan ikan salmon pilihan, juga dengan taburan wijen, sushi yang terkenal paling enak di restaurant ini. Tentu saja harganya juga tidak main-main.

Sarada tidak bisa menahan air liurnya yang menetes ketika pesanannya datang. Melahap potongan pertama sushinya, dia lalu melirik Papanya yang hanya memandanginya.

"Kenapa tidak dimakan, pa?" tanya Sarada.

Sasuke tersenyum tipis, "Nanti saja."

Sarada mengangkat bahunya tak acuh dan memakan sushinya. Mereka bisa melihat seseorang mendekat, dan Sarada menatap tidak suka kearah wanita yang datang.

"Maaf aku terlambat, Sasuke-kun." Sakura tersenyum dan langsung mendudukan diri di sebelah Sasuke. Sakura juga menyerahkan bungkusan berisi jus tomat tanpa gula kesukaan Sarada, "Bibi juga membelikanmu itu."

Sarada memandang Sakura dengan pandangan tidak suka. Dia meneguk ochanya dan melirik Papanya.

"Kenapa Papa mengajaknya kemari?" tanya Sarada dengan sinis.

"Hn."

Sarada bangkit dari duduknya dan berjalan keluar restaurant.

"Sarada!"

Sarada tidak menghiraukan panggilan Papanya dan berjalan keluar begitu saja. Dia benar-benar tidak suka melihat wanita berambut pink itu.

Sakura memandang Sasuke dengan tatapan cemas.

"Sasuke-kun."

"Biar aku yang urus Sarada." Sasuke mengeluarkan beberapa lembar uang dan bangkit dari duduknya, "Sebaiknya aku pergi dulu."

Sakura menganggukan kepalanya dan memandang punggung Sasuke yang berjalan menjauh. Raut wajahnya berubah sedih, hatinya bagaikan tertusuk jarum melihat bagaimana Sarada memperlakukannya.

"Hn."

Sarada menolehkan kepalanya dan menemukan ayahnya berdiri di sebelahnya.

"Sudah selesai berbincangnya?" sindir Sarada.

"Hn. Kita pulang."

Sasuke menarik nafas panjang dan memasuki mobilnya. Tidak, dia tidak boleh marah kepada Sarada. Gadis kecilnya itu hanya belum tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Sakura.

Sarada sendiri masuk ke dalam mobil dan mendudukan diri di kursi. Tangannya mengeluarkan ponsel dan earphonenya sebelum memasangnya di telinganya, kemudian gadis kecil berkacamata itu menjelajahi dunianya sendiri.

.

.

Sasuke tersenyum tipis ketika memandang dirinya di depan cermin. Hari ini adalah hari pernikahannya, dia sudah tidak sabar untuk mengikat gadis merah mudanya itu dalam ikatan pernikahan. Dia tidak ingin dipisahkan lagi oleh Sakura, dia tidak ingin kehilangan wanitanya itu lagi. Sasuke keluar kamarnya dan menatap pintu kamar Sarada. Dia akan menikah dengan atau tanpa restu dari Sarada, toh pada akhirnya ini yang terbaik untuk Sarada.

"Sarada." Sasuke membuka pintu kamar Sarada dan menemukan gadis kecilnya itu sedang membaca novel diatas ranjangnya.

"Papa mau kencan dengan bibi merah muda itu?" Sarada melirik ayahnya dengan sinis.

Sasuke menarik nafas panjang sebelum menjawab.

"Papa akan menikah dengan bibi Sakura. Apakah kamu mau ikut untuk melihat Papa menikah?"

"Menikah saja. Sarada juga tidak peduli, sampai kapanpun Sarada tidak mau mengakuinya sebagai Mama Sarada. Mamaku hanya satu dan dia adalah Uchiha Karin!"

"Hn."

Sarada tidak bisa menahan air matanya ketika Papanya menutup pintu kamarnya. Indra pendengarnya bisa menangkap suara mobil Papanya yang berjalan menjauh. Dia tidak menyangka jika Papanya akan semudah itu melupakan Mamanya, ketika Mamanya meninggalkan mereka dan berada di sisi Kami-sama, Papanya memilih untuk menikah lagi.

"Aku membencimu, Papa."

.

.

Sasuke tidak bisa menahan senyum tipisnya ketika Sakura muncul dengan gaun pengantin yang melekat indah di tubuhnya. Lekuk tubuhnya menggodanya dan membuatnya ingin segera membawa wanitanya itu keatas ranjang miliknya.

Sakura tersenyum malu-malu ketika sudah berhadapan dengan calon suaminya itu. Setelah mengucap janji sucinya, Sasuke dengan tidak sabar mencium bibir Sakura, melumat dengan mesra bibir yang lama dia rindukan.

Memandang wajah istrinya, Sasuke bersyukur karena dia telah terikat dengan Sakura. Dia tidak ingin kehilangan Sakura lagi.

Itachi tersenyum ketika melihat senyum bahagia terkembang di wajah Sasuke. Inilah kebahagiaan sebenarnya milik adiknya, membangun bahtera rumah tangga dengan Sakura. Saat menikah dengan Karin, dia tidak melihat senyum adiknya sebahagia ini.

Sasuke tersenyum ketika melihat kakaknya mengangkat gelas berisi sampanyenya tinggi-tinggi. Kakaknya selalu tahu apa yang membuatnya bahagia.

.

.

Sarada segera membalikan tubuhnya dan pura-pura tertidur ketika mendengar suara mobil milik Papanya memasuki pelataran rumahnya. Sarada yakin ayahnya pasti datang bersama ibu barunya. Air mata mengalir dari kedua bola mata indah milik Sarada. Malam itu, Sarada terisak sembari memeluk foto Karin hingga tertidur.

Sakura memandang rumah megah milik Sasuke dengan ragu-ragu. Pria bermata onyx yang sedang menurunkan koper milik istrinya itu memandang keheranan.

"Hn. Ada apa?" Sasuke memeluk Sakura dari belakang.

"Tidak. Ini tentang Sarada."

"Hn. Tidak usah terlalu dipikirkan, dia pasti akan mengerti dengan pernikahan kita."

Sakura merasakan Sasuke semakin erat memeluknya. Dia membiarkan Sasuke menggandengnya masuk sembari membawa koper berisi barang-barangnya. Mulai hari ini, kehidupan barunya akan dimulai. Dia sekarang resmi menjadi nyonya Uchiha.

"Kenapa hanya bengong?" tanya Sasuke sembari meniup belakang telinga istrinya dengan lembut, "Kamu tidak ingin memberikan adik untuk Sarada?"

Belum sempat Sakura protes. Suaminya itu segera menggendongnya bridal style ke dalam kamar mereka. Malam ini dia benar-benar resmi menjadi nyonya Uchiha seutuhnya.

oOo

Sarada keluar dari kamarnya dan memandang ayahnya yang sedang duduk di kursi makan sembari meminum kopinya. Dia bisa melihat senyum bahagia terkembang di bibir ayahnya. Senyum yang bahkan belum pernah lihat selama ini.

Gadis kecil itu menaikan kacamatanya dan tersenyum tipis. Senyumannya menghilang ketika melihat Sakura muncul membawa sup tomat.

"Sudah bangun, Sarada-chan." Sakura melepas apronnya dan tersenyum.

"Hn."

"Duduklah Sarada, kita sarapan bersama."

"Tidak mau, Sarada mau berangkat duluan saja." Sarada mendenguskan wajahnya dan berjalan menjauh.

"Mama bawakan bekal ya, Sarada-chan?" tawar Sakura.

Sarada memandang Sakura dengan pandangan tidak suka.

"Jangan mengaku-ngaku Mamaku! Mamaku hanya satu dan kamu bukanlah Mamaku! Jangan sok peduli padaku! Sampai kapanpun kamu bukan Mamaku!" Sarada melangkahkan kakinya menjauh. Hari ini dia akan berangkat naik bis menuju sekolahnya.

Sasuke memandang Sakura yang terlihat sedih. Dia segera bangkit dan memeluk Sakura dengan erat.

"Hn. Tenanglah Sakura."

Sakura tidak bisa menahan air matanya yang tumpah di dada bidang Sasuke. Hatinya benar-benar sakit mendengar perkataan Sarada.

.

.

"Argghh! Aku membencinya."

Chouchou yang sedang memakan snacknya memandang Sarada.

"Apa yang terjadi denganmu? Kamu terlihat sangat kacau," ucap Chouchou.

"Kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku! Papa menikah dengan bibi merah muda itu! bibi itu bersikap sok baik padaku dan aku membencinya!" ucap Sarada.

"Mungkin karena itu Papamu memilihnya. Biar bagaimanapun, Ibuku bilang kalau Papamu pasti butuh pendamping hidup. Apalagi Papamu masih cukup muda."

"Cih. Kau tidak membantu sama sekali." Sarada mendenguskan wajahnya.

.

.

Sarada masuk ke dalam rumahnya dengan tangan memegang gadgetnya. Mendudukan dirinya di sofa, Sarada melemparkan sepatu yang dia gunakan ke sembarang arah.

"Sarada, letakan sepatumu di tempatnya," ucap Sasuke.

Sarada hanya melirik Sasuke sebelum kembali fokus pada gadgetnya.

"Tidak mau. Nanti juga bibi merah muda itu yang memberesinya."

Sakura yang kebetulan sedang membuka jas milik suaminya terdiam. Sasuke sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.

"Sarada! Dia itu Mamamu, bukan pembantumu!"

Sarada tersentak kaget mendengar bentakan Sasuke. Baru kali ini papanya membentaknya seperti itu.

"Lihat! Bahkan Papa sudah berani membentakku! Sewaktu Mama masih hidup, Papa tidak pernah melakukan hal itu!" balas Sarada menatap onyx Sasuke.

"Sarada! Jangan buat kesabaran Papa habis!"

"Sudahlah Sasuke-kun," ucap Sakura mencoba menenangkan suaminya, "Aku tidak apa-apa kok. Nanti biar aku yang meletakan sepatu Sarada ke tempatnya."

Sarada tersenyum penuh kemenangan menatap Papanya.

"Papa dengar kata-kata bibi merah muda itu, bukan?" Sarada tersenyum dan berjalan menuju kamarnya.

Sasuke hanya bisa menarik nafas panjang ketika Sarada menutup pintu kamarnya. Onyxnya menatap Sakura yang tersenyum kearahnya.

"Maafkan Sarada, Sakura," bisik Sasuke.

"Tidak apa, aku mengerti." Sakura tersenyum.

Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk mencium bibir menggoda milik Sakura.

oOo

Perilaku Sarada semakin hari semakin bertambah buruk. Tidak jarang Sarada membentak Sakura, menyuruh-nyuruhnya seperti pembantu, bahkan mendorong Sakura hingga wanita itu terjatuh. Semakin Sasuke menegur perilaku Sarada, gadis kecil itu akan semakin semena-mena.

Sasuke tidak tahu harus mengatakan apa ketika melihat senyuman Sakura. Setiap kali Sarada menyakitinya, Sakura hanya tersenyum dan menuruti apa yang diinginkan gadisnya itu. Sakura tidak pernah menangis ataupun mengeluh. Tetapi, tanpa mereka ketahui, Sakura selalu menangis ketika dia sendirian.

Memarkir mobilnya, Sasuke melangkahkan kakinya ke dalam rumahnya. Melepas dasi dan jasnya, dia segera membuka pintu kamarnya dan menemukan Sakura telah tertidur nyenyak. Melihat wajah damai istrinya, membuat rasa lelah Sasuke menghilang.

"Sasuke-kun, itukah kamu?" Sakura sedikit membuka matanya ketika merasakan seseorang tidur di sampingnya.

"Hn."

"Jam berapa ini, Sasuke-kun?" tanya Sakura mengucek matanya.

"Jam 12."

"Sudah makan?" Sakura mendudukan dirinya, "Biar aku buatkan makan malam untukmu, ya?"

"Tidak perlu Sakura." Sasuke menuntun istrinya untuk kembali tidur dan memeluknya, "Tidurlah kembali."

Sejenak keheningan menyelimuti mereka berdua. Sasuke semakin erat memeluk Sakura.

"Bagaimana Sarada? Apa dia berulah lagi?" tanya Sasuke.

Inilah yang dia lakukan jika berdua dengan Sakura di dalam kamarnya. Perbincangan ringan mengenai Sarada sebelum mereka tidur, atau melakukan ritual suami istri.

"Berulah pun aku tidak apa-apa kok, Sasuke-kun. Aku mengerti dengan psikologisnya yang masih belum bisa untuk menerimaku." Sakura tersenyum dan memeluk Sasuke dengan erat. Mencium bau harum maskulin milik suaminya itu.

"Hn."

Sasuke tidak tahu harus berkata apa. Istrinya ini terlalu sabar jika sudah menghadapi Sarada.

"Tidurlah, Sasuke-kun." Sakura mencium bibir Sasuke dengan lembut, "Oyasumi."

Sasuke semakin mempererat pelukannya dan memejamkan matanya. Siapa yang peduli jika dia belum berganti pakaian tidur?

.

.

Sarada melangkahkan kakinya menuju kamar Papanya. Hari ini dia telah melaksanakan ujian dan dia ingin menunjukan nilai matematikanya yang mendapatkan nilai sempurna. Biasanya, jika Mamanya masih hidup, Mamanya pasti akan berteriak girang dan memeluknya. Papanya akan tersenyum kearahnya dan menyentil dahinya dengan lembut.

Namun yang dilihatnya, membuatnya semakin membenci bibi merah muda itu.

"Apa yang kamu lakukan dengan pakaian Mamaku!"

Sakura yang sedang mencoba gaun milik Karin tersentak kaget. Dia tidak menyangka jika Sarada akan berdiri di depan pintu kamarnya.

"Ini-"

"Lepaskan baju mamaku! Aku tidak suka kamu memakainya!" Sarada memandang Sakura dengan tatapan kebencian.

"Sarada? Ada apa ini?" Sasuke yang baru saja mandi terkejut melihat Sarada dan wajah Sakura yang terlihat sedih.

"Lihat itu pa! Dia memakai baju milik Mamaku!" tunjuk Sarada.

"Hn? Memangnya kenapa?" tanya Sasuke tidak mengerti.

"Aku tidak suka! Dia itu bukan Mamaku! Tidak sepantasnya dia memakainya!"

"Baiklah, aku akan melepasnya." Sakura tersenyum manis.

"Sebaiknya kamu keluar Sarada, sebelum kesabaran Papa habis." Sasuke menarik nafas panjang.

Sarada membanting pintu dan berlari menuju kamarnya sembari menangis sesenggrukan. Dia membenci papanya dan dia membenci bibi merah muda itu!

Sasuke memandang Sakura dan memeluk istrinya itu.

"Kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, Sasuke-kun." Sakura melepaskan pelukannya dan tersenyum, "Sebaiknya kita segera bersiap. Kamu tidak mau terlambat datang ke pesta pernikahan kolegamu, bukan?"

Sasuke telah siap dengan jas hitam yang membalut tubuhnya. Sakura sendiri mengenakan sebuah gaun panjang berwarna biru muda, polesan make up menambah kesan cantik di wajahnya. Sasuke mencium bibir Sakura sebelum tersenyum tipis.

"Biar aku berpamitan kepada Sarada."

Sarada yang sedang memandangi foto Karin buru-buru menyembunyikan foto itu di bawah bantalnya ketika mendengar pintu kamarnya di buka. Dia bisa mencium bau harum parfum milik ayahnya, segera saja dia berpura-pura menutup matanya.

"Papa tahu kamu belum tidur," ucap Sasuke mengelus rambut Sarada dengan lembut, "Papa akan pergi ke pesta pernikahan kolega Papa. Jaga diri di rumah."

Elusan di rambutnya berhenti, dia bisa mendengar suara Papanya yang sedang berbicara dengan seseorang.

"Biar aku melihatnya sebentar, Sasuke-kun."

Sarada merutuki dalam hati ketika Sakura ganti mengelus rambutnya. Mau apa bibi merah muda menyebalkan itu mengelus rambutnya?!

"Sarada sangat cantik, dia mirip denganmu." Sakura berujar dengan getir, "Sayang sekali, aku tidak bisa melihat perkembangannya. Dulu, dia adalah bayi yang mungil dan merah. Bayi yang menggemaskan dengan pipi bulatnya. Sekarang, dia telah berubah menjadi gadis yang sangat cantik dan mewarisi sifat Uchihamu itu."

Sasuke merasa dadanya terasa sesak.

"Dia juga mewarisi sifat tangguhmu, Sakura."

"Benarkah?" Sakura menolehkan kepalaya kearah Sasuke dan melihat anggukan kepala dari suaminya itu.

"Sebaiknya kita pergi, Sakura."

Sakura tersenyum sebelum mendaratkan ciuman di dahi Sarada dan mengikuti langkah Sasuke. Sarada membuka matanya dan mengelus dahinya yang mendapatkan ciuman dari bibi merah muda itu. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Ketika telinganya menangkap suara mobil Papanya menjauh, barulah dia bangkit dari ranjangnya.

Merasa sudah aman, Sarada segera memasuki kamar milik Papanya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan bibi merah muda itu, tetapi hatinya mengatakan jika dia akan menemukan sesuatu disana, dan dia akan mulai dengan laci meja nakas milik ayahnya.

Laci meja nakas milik ayahnya hanya berisi dokumen yang bahkan Sarada tidak mengerti apa itu, laci meja nakas milik bibi merah muda itu juga tidak ada hal yang penting. Langkahnya beralih menuju lemari milik Papanya dan membuka lacinya. Benar saja, dia menemukan apa yang dia cari.

Disana, dia melihat foto milik Papanya. Dimana Papanya sedang tersenyum bahagia memakai seragam SMAnya bersama bibi merah muda itu. Langkahnya terhenti di depan lemari milik Sakura. Membuka pintu lemari dan lacinya, dia menemukan sebuah buku Diary berwarna merah.

"Uchiha Karin?" Sarada membaca nama yang tertera di cover Diary itu. Ketika membuka isinya, mata Sarada membulat dengan sempurna.

"Ini, tidak mungkin-"

.

.

.

.

.

.

-Bersambung-

.

.

.

.

.

.

.

Balasan Review :

Kimmy Ranaomi : emang sengaja di bikin begitu :D

: sudah apdet kilatkah ini? :D

Azizaanr : Arigatou.. jadi tersipu nih.. :D

Shahlia Chahayani : ini sudah dicetak kilat XD Arigatou :)

Tomat : mungkin bisa kita bahas di chap selanjutnya XD

Fiiyuki : Sasuke bukannya OOC kalo ketemu Sakura? :3 Hahaha.. typo emang masih buaaanyyyaaakkk banget.. :D ini sudah di apdet.. :)

Mitsuo Miharu : Arigatou :) kita masih sama-sama belajar :)

Jey Sakura : Emangnya Sarada anaknya Sakura? :p Hahaha.. Arigatou.. ini sudah di next lhooo..

Sampai ketemu di Chap selanjutnya!

-Aomine Sakura-