Call Me Mother!

.

.

.

Sasuke Uchiha, Sakura Haruno, Sarada Uchiha

.

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

Dilarang PLAGIAT dan COPAS dalam bentuk APAPUN!

Don't Like Don't Read

Selamat membaca!

oOo

Sakura tersenyum ketika beberapa kolega Sasuke tersenyum kearahnya. Tema pesta kali ini adalah pesta kebun, dan Sasuke lebih banyak menghabiskan waktu untuk bicara dengan beberapa koleganya. Dia khawatir dengan Sarada, kemudian pikirannya melayang ke masa lalunya, sepuluh tahun yang lalu.

Dirinya menyeduh coklat hangat dan meletakannya di meja. Mendudukan dirinya di sofa, Sakura mulai menonton acara televisi. Diluar sedang hujan deras dan dia tidak berniat untuk keluar kemanapun. Untuk gadis muda berumur 19 tahun, dia tidak berminat keluar ke klub-klub malam bersama teman-temannya.

Sayup-sayup dia bisa mendengar suara pintu apartemennya diketuk. Segera dia bangkit untuk membukakan pintu bagi tamunya yang datang. Dalam hati dia sempat menggerutu, siapa yang datang ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam?

"Sasuke-kun.."emerald Sakura membulat melihat siapa yang datang bertamu.

Sasuke mengangkat kepalanya, onyxnya menatap emerald Sakura sebelum memeluk gadis itu dengan erat.

Sakura tidak bisa mengatakan apapun ketika Sasuke mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Kekasihnya itu telah dijodohkan oleh putri koleganya dan akan menikah bulan depan.

"I-ini tidak mungkin kan, Sasuke-kun." Sakura menatap onyx kekashinya itu.

"Aku ingin menolaknya. Tapi ibu mengatakan jika Karin memiliki penyakit kanker otak yang menggerogotinya. Ini permintaan terakhirnya, dia ingin menikah denganku."

Sakura tidak bisa menahan air matanya yang tumpah. Sasuke membawa Sakura ke dalam pelukannya dan memeluk gadis itu dengan erat. Sebelum akhirnya, Sasuke membawa Sakura keatas ranjang milik gadis itu.

Sakura hanya bisa memejamkan matanya dan menerima segala sentuhan yang diberikan Sasuke. Malam ini, dia membiarkan kekasihnya itu memilikinya seutuhnya.

Satu bulan semenjak kejadian itu, Sakura kerap kali memuntahkan isi perutnya. Tadinya dia tidak ingin datang ke pernikahan kekasihnya. Ya, sampai sekarang pun diantara mereka tidak ada yang mengucapkan kata putus. Bagi Sakura, biarkan waktu yang akan memisahkan mereka.

Mengenakan gaun panjang berwarna hijau seperti warna matanya, Sakura datang ke pernikahan Sasuke yang digelar meriah sekali. Emeraldnya menatap Sasuke yang terlihat gagah dengan setelan jas dan sedang menunggu mempelai wanita diatas altar.

Sakura tidak tahu harus menangis atau bahagia ketika melihat kekasihnya bergandengan tangan dengan gadis lain. Ya, Uzumaki Karin tersenyum bahagia ketika bergandengan tangan dengan Sasuke, kekasihnya. Dia ingin ikut bahagia ketika melihat Karin yang menderita kanker yang menggerogotinya bahagia, tetapi hatinya tersayat-sayat ketika onyx milik Sasuke menatap emerald miliknya.

Sakura mengusap perutnya ketika dia duduk di bangku gereja. Benih Sasuke telah tumbuh di dalam rahimnya.

.

.

"Kamu yakin tidak ingin mengatakan yang sesungguhnya kepada Sasuke-kun?" Ino menyerahkan jus tomat tanpa gula kepada Sakura.

Mereka sedang duduk di salah satu cafe. Kebetulan Sakura ataupun Ino tidak ada kelas dan memilih untuk nongkrong di salah satu cafe.

"Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam pernikahan Sasuke-kun dan Karin," ucap Sakura meminum jusnya.

"Sasuke-kun berhak tahu tentang anak yang kamu kandung, Sakura."

"Tidak Ino, biarkan saja seperti ini."

"Terserahmu saja." Ino menarik nafas panjang, "Aku akan selalu ada di sampingmu ketika kamu membutuhkanku."

Sakura tidak bisa menahan dirinya dan memeluk Ino dengan erat. Dia tidak tahu harus bersyukur dengan cara apa karena mendapatkan sahabat yang begitu baik baginya.

"Anoo.. Sakura-san?"

Sakura melepaskan pelukannya dan memandang siapa yang memanggilnya. Emeraldnya terbelalak kaget melihat siapa yang datang.

"Karin-san?"

Karin menaikan kacamatanya dan tersenyum. Dia lalu mendudukan dirinya di sebelah Sakura.

"Apa kabar, Sakura-san?" tanya Karin.

"Ba-baik." Sakura tersenyum kikuk.

Karin meneliti penampilan Sakura dari atas ke bawah. Lalu matanya tertuju kepada perut Sakura yang membuncit.

"Kamu sedang.. hamil?" Karin memandang Sakura dengan pandangan tidak percaya.

Sakura tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ino yang duduk di hadapan Sakura juga sama.

"Apa itu anaknya, Sasuke-kun?" tanya Karin dengan ragu-ragu.

"Ja-jangan salah paham dulu, Karin-san." Sakura mencoba tersenyum, "Biarpun ini anak Sasuke-kun, aku tidak akan meminta pertanggung jawaban darinya."

Karin terdiam, dia memandang Sakura dengan intens sebelum buka suara.

"Apa.. aku bisa memiliki bayi itu setelah dia lahir?"

"Apa?!" bukan Sakura yang terpekik kaget, melainkan Ino.

"Tidak cukupkah kamu sudah mengambil Sasuke-kun dari hidup Sakura! Dan kamu menginginkan bayi itu juga! Kau benar-benar jalang!" Ino tidak bisa menahan emosinya yang meledak-ledak.

"Ino, sudahlah." Sakura mencoba menenangkan Ino, lalu emeraldnya beralih memandang Karin, "Memangnya kamu tidak bisa memiliki anak dari Sasuke-kun?"

"Bukan begitu." Karin mengibaskan tangannya, "Aku sangat ingin memiliki anak dari Sasuke-kun. Tetapi Sasuke bahkan tidak mau menyentuhku. Dia berkata padaku, jika dia tidak akan menyentuh wanita yang tidak dia cintai. Sedangkan, aku menginginkan anak meski itu bukan anakku. Apakah kamu mau membantuku, Sakura-san?"

Sakura terdiam sesaat, matanya melirik Ino yang menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan bahwa dirinya harus menolak permintaan Karin. Sakura menarik nafas panjang sebelum menjawab.

"Baiklah, aku akan membantumu."

Karin tidak tahu harus mengatakan apa. Baginya, Sakura adalah malaikat yang baik hati. Dia sudah mengambil kekasihnya, dan sekarang Sakura rela memberikan bayi yang sedang di kandungnya. Wanita berambut merah muda itu benar-benar berhati malaikat.

.

.

Sasuke memandang Karin dengan pandangan curiga. Tidak biasanya istrinya itu mengajaknya makan keluar rumah.

"Ada apa ini, Karin?" tanya Sasuke menatap tajam istrinya itu.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Sasuke-kun."

Karin tersenyum ketika Sakura melangkahkan kakinya memasuki restaurant tempatnya dan Sasuke duduk. Sasuke sendiri terlihat sangat terkejut melihat Sakura.

"Sakura?"

Sakura mencoba tersenyum sebelum duduk di adapan pasangan suami istri itu.

"Sedang apa kamu disini, Sakura?" tanya Sasuke.

"Karin-san yang mengundangku." Sakura tersenyum.

Sakura sudah terbiasa menata perasaannya. Dia harus bisa terlihat tegar di hadapan Sasuke dan juga orang banyak.

"Karin, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Sasuke menatap tajam Karin.

"Aku.. Sakura-san sedang hamil, dia hamil anakmu. Aku.. menginginkan anak itu, Sasuke-kun. Kamu kan tahu, kamu tidak akan bisa menyentuhku, sedangkan aku menginginkan seorang anak dalam pernikahan kita."

"Kamu bisa mengadopsi anak lain! Tidak dengan bayi yang sedang di kandung Sakura!"

Karin terkejut mendengar nada suara Sasuke yang meninggi.

"Sasuke-kun.." Karin memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya.

"Kamu sudah berhasil menikahiku dan memisahkanku dengan Sakura! Lalu kamu meminta bayiku dan Sakura! Sebenarnya apa yang kamu inginkan?! Jangan bersikap egois, Karin!"

Karin menundukan kepalanya. Ya, dia memang wanita yang egois. Dia egois karena dibutakan oleh cintanya terhadap Sasuke.

"Tidak apa, Sasuke-kun." Sasuke memandang Sakura dengan pandangan tidak percaya.

"Aku akan membantu Karin dan memberikan anak ini kepada kalian."

"Sakura! Jangan gila!" Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk menggenggam tangan Sakura, "Bayi itu yang akan menjadi pengikat kita."

"Aku tahu, Sasuke-kun." Sakura menatap onyx Sasuke, "Jika dia tinggal bersamamu, hidupnya pasti akan terjamin. Jika dia hidup bersamaku, aku tidak tahu bisa menghidupinya atau tidak. Aku hanyalah seorang anak dari petani yang merantau ke kota, Sasuke-kun. Hidup bayi ini akan susah jika bersamaku."

Baru kali ini Karin melihat bahu suaminya itu bergetar ketika memeluk Sakura. Sebegitu besarnyakah cinta Sasuke terhadap Sakura? Karin hanya bisa tersenyum kecut, nasi sudah menjadi bubur. Dia telah dibutakan oleh cintanya terhadap Sasuke.

"Aku berjanji, akan membawamu kembali suatu saat nanti. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia."

Sakura mengusap bahu Sasuke yang terlihat rapuh. Baru kali ini Sasuke menangis di pundaknya.

.

.

"Sakura, bertahanlah.."

Sakura mencoba mengeluarkan bayi dalam kandungannya. Peluh mengalir di dahi Sakura dan Sasuke selalu mengusap peluh di dahi Sakura. Tangannya menggenggam tangan Sakura dengan erat, menyalurkan semangat bagi wanita yang sedang berjuang melahirkan bayinya itu.

Suara tangisan bayi menggema di dalam ruang bersalin itu. Sakura bisa bernafas lega ketika melihat bayinya yang masih merah dan bersimbah darah itu. Setelah dibersihkan dan Sakura diberi perawatan, barulah Sasuke muncul bersama bayi mereka.

"Bayi kita perempuan," ucap Sasuke menyerahkan bayi mereka yang telah dibalut dengan selimut tebal.

"Dia mirip denganmu, Sasuke-kun." Sakura mengusap pipi tembam bayi mereka yang mungil dan kemerah-merahan.

"Hn."

Sasuke sendiri tidak tahu harus mengekspresikan rasa bahagianya seperti apa. Sakura mencium pipi bayi mungil itu.

"Ini adalah kado terindah untukku, Sasuke-kun," bisik Sakura.

Sasuke mengecup dahi Sakura dengan lembut sebelum mencium pipi bayi mungilnya itu.

"Setelah ini, aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi." Sakura berujar dengan getir, "Bolehkah aku memberikannya nama?"

Sasuke tersenyum tipis.

"Sarada. Beri dia nama Sarada."

Karin tidak bisa menahan air mata yang mengalir keluar dari mata indahnya ketika melihat bagaimana Sasuke mengecup bibir Sakura dengan lembut, ketika bayi mungil itu menangis dan menyusu untuk pertama kalinya. Karin bukannya tidak sadar, jika dia tidak akan bisa menggantikan posisi Sakura bagi suaminya itu.

.

.

Sakura tersentak kaget ketika Sasuke memeluk pinggangnya dengan lembut. Sejenak, lamunan tentang masa lalunya buyar.

"Hn, ada apa?" tanya Sasuke.

"Tidak. Aku hanya haus." Sakura tersenyum memandang Sasuke, "Ayo kita mencari minum."

.

.

Sarada tidak mempercayai apa yang dia baca di Diary milik Mamanya itu.

12 Juni

Ini hari pertamaku masuk ke sekolah menengah pertama. Saat itu, mataku sudah tertuju kepada seorang pemuda yang tampan yang berdiri di podium karena mendapatkan nilai paling tinggi ketika masuk ke sekolah baru ini. Namun, aku harus patah hati ketika melihat senyum tulusnya tertuju pada gadis berambut pink.

Sarada membuka halaman diary itu secara acak.

23 July

Ini hari ulang Tahun Uchiha Sasuke. Pemuda yang aku sukai diam-diam. Dia mengumumkan kepada seluruh murid di sekolah jika gadis cantik bermabut pink bernama Haruno Sakura menjadi kekasihnya. Sejenak, aku menjadi patah hati.

Sarada membuka halaman diary itu secara acak. Onyxnya semakin terbelalak lebar. Disana dia menemukan tulisan tangan ibunya yang ditulis bukan semasa sekolah menengah lagi, tetapi saat Mamanya dan Papanya menikah.

12 July

Ini adalah hari pernikahanku dengan Uchiha Sasuke. Aku sangat bahagia ketika bisa menikah dengannya, meski aku harus memohon kepada keluarganya sebagai permintaan terakhir seorang penderita kanker. Aku tidak melihat rona bahagia di wajah Sasuke-kun. Matanya selalu tertuju kepada Sakura yang duduk diantara tamu undangan. Katakanlah aku wanita yang kejam, karena telah memisahkan Sasuke dengan Sakura. Tapi mau bagaimana lagi, aku kini telah dibutakan oleh cinta.

Sarada membuka halaman diary itu secara acak. Onyxnya semakin terbelalak lebar, bahkan air mata mulai membasahi matanya.

28 Maret

Ini adalah ulang tahun Sakura sekaligus hari kelahiran Sarada. Katakanlah aku adalah wanita paling egois di dunia ini, aku memang kejam! Setelah aku mendapatkan dan menikah dengan Sasuke-kun, kini aku menginginkan bayi yang dikandung Sakura. Sasuke-kun tidak pernah menyentuhku, aku tahu jika dia pasti jijik untuk menyentuhku. Aku tidak tahu harus berkata apa, dia adalah wanita yang baik hati, aku berjanji akan merawatnya dengan baik.

Air mata Sarada tumpah. Jadi selama ini orang yang dia benci, yang selalu dia maki-maki adalah ibunya sendiri? Sarada tidak tahu harus berkata apa, dia merasa sangat bersalah.

Sebuah kertas jatuh dari dalam Diary milik Karin. Sarada memungutnya dan air matanya bertambah banyak.

Dear, Uchiha Sarada putri mama yang cantik.

Apa kabar sayang? Mama merindukanmu, dan jika kamu membaca buku ini, Mama sudah tidak ada di sampingmu. Kamu pasti bertanya-tanya kenapa Mama menulis surat ini bukan?

Mama hanya mau mengatakan fakta sebenarnya. Jika kamu bukan anak Mama. Haruno Sakura, itulah mama kamu yang sebenarnya. Mama hanya menjadi pengganggu dalam hidup papamu, dan mama slalu dihantui rasa berdosa itu. Mama tahu jika Papamu tidak mencintai mama, dari dulu yang ada di hatinya hanyalah Sakura.

Bertahun-tahun yang lalu, Mama hanyalah pengagum rahasia Papamu. Mama semakin jatuh cinta dengan Papamu ketika dia bisa mendapatkan nilai tertinggi dan sangat pintar. Karena ego mama, mama meminta orang tua papamu untuk menjodohkan Mama dan Papamu agar mama bisa slalu berada di samping Papa. Selain itu, Mama juga mengatakan jika itu sebagai permintaan terakhir Mama.

Tanpa tahu apa yang terjadi, Sakura mengandung dirimu sayang. Dia tidak mengatakan kepada Papamu tentang kehamilannya dan berniat membesarkanmu seorang diri. Namun, dengan kejamnya Mama ingin memilikimu juga.. Akhirnya Sakura dengan suka rela memberikan dirimu yang saat itu baru lahir kepada Mama. Mama adalah sosok egois dan jahat, karena telah memisahkanmu dari ibu kandungmu.

Mama sayang padamu, melihatmu seperti melihat sosok Sakura. Jika kamu bertemu dengannya, berbuat baiklah kepadanya karena dialah ibu kandungmu.

Sarada, mama akan slalu sayang padamu.

Salam sayang,

Uchiha Karin.

Sarada menekuk lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Dia sungguh merasa bersalah karena telah memperlakukan Ibu kandungnya dengan tidak layak dan kejam. Dia adalah anak yang durhaka.

Sarada mengambil sebuah kepingan kaset di dalam diary itu dan memasukannya ke dalam VCD player. Sarada semakin menangis sesenggrukan karenanya.

"Tuhan..besok aku akan diturunkan ke dunia. Siapa yang akan menjagaku Tuhan?" si bayi mungil bertanya.

"Di dunia akan ada malaikat yang lembut yang akan menjagamu. Dia akan menjagamu dari orang jahat, membawamu menuju kebaikan. Tapi kamu harus berbuat baik kepadanya, dia adalah orang yang akan slalu sayang padamu."

"Siapa malaikat itu tuhan?" si bayi mungil bertanya kembali.

"Kamu harus memanggilnya dengan sebutan ibu.."

Sarada kembali terisak sembari memeluk foto milik Sakura. Dia ingin segera bertemu dengan Sakura dan memeluknya dengan erat. Mengucapkan kata maaf kepada Sakura.

"Hikss.. Mama.."

.

.

Sarada nyaris ketiduran di sofa ketika mendengar suara mobil papanya memasuki pelataran rumahnya. Dia segera bangkit ketika pintu rumahnya dibuka.

"Mama.. hikss.."

Sakura terkejut ketika Sarada memeluknya dan menangis dalam pelukannya.

"Maafkan Sarada, Ma.. hiks.. Sarada menyesal.." isak Sarada.

Sakura tidak tahu harus melakukan apa selain memeluk Sarada dan menangis. Akhirnya, Kami-sama memberikan buah hasil kesabarannya selama ini.

"Sebelum kamu meminta maaf pada Mama, mama sudah memaafkanmu," bisik Sakura diantara isak tangisnya, "Mama senang, kamu mau memanggilku dengan sebutan itu."

Sarada menangis semakin keras ketika Sakura memeluknya. Mereka berdua menumpahkan air matanya.

"Sarada akan memanggil Mama sampai Mama bosan."

Sakura tidak bisa menahan tawanya diantara isak tangisnya. Sasuke yang melihat keluarga kecilnya itu berjalan mendekat. Dia memeluk Sarada dari belakang. Kini impiannya memiliki keluarga bahagianya telah terwujud. Hanya dirinya dan malaikat-malaikatnya.

oOo

Sakura menarik nafas panjang memandang isi lemarinya. Hari ini dia akan makan malam bersama suami dan putri cantiknya itu. Namun, dia bingung untuk memilih pakaian apa yang akan dia kenakan.

"Mama." Sarada melongokan kepalanya ke kamar orang tuanya.

"Kamu sudah siap, sayang?" tanya Sakura sembari tersenyum.

"Um.." Sarada menganggukan kepalanya dan mendekati Mamanya, "Kenapa Mama belum siap?"

"Mama bingung harus mengenakan apa."

Sarada mengambilkan sebuah blus berwarna merah dan menyerahkannya kepada Sakura.

"Pakai ini saja!"

Sakura menerima blus yang diberikan Sarada dengan ragu-ragu.

"Tapi.. inikan baju milik Karin," ucap Sakura, "Bukannya kamu tidak suka-"

"Mama!" Sarada mendesah lelah, "Jangan ingatkan aku tentang hal itu. semuanya sudah berbeda."

Sakura tersenyum dan mengacak rambut Sarada dengan lembut. Saat akan mengganti pakaiannya, dia bertemu dengan Sasuke yang mengangkat satu alisnya.

"Bukannya itu pakaian milik-"

"Sarada yang memilihkannya untukku." Sakura tersenyum bahagia sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

.

.

Sakura tidak bisa menahan dirinya tersenyum ketika melihat Sarada makan dengan lahap. Sarada sendiri menatap Mamanya dengan pandangan bingung.

"Kenapa tidak di makan sushinya, Mama?" tanya Sarada.

"Ah- iya." Sakura menyumpit sushi ke dalam mulutnya.

Sasuke tersenyum tipis sebelum melahap sushinya.

"Sarada, Mama punya hadiah untukmu."

Sarada mengangkat satu alisnye ketika Sakura membawa tangannya untuk menyentuh perut Mamanya.

"Mama hamil," bisik Sakura.

Sarada tidak bisa menahan senyum bahagianya. Sebentar lagi dia akan memiliki seorang adik dan dia akan menjadi seorang kakak. Sakura memeluk Sarada karena tidak tahan melihat wajah menggemaskan milik putrinya itu.

Air mata mengambang di pelupuk mata Sarada ketika sang Mama memeluknya.

"Mama.. terlalu erat.."

Sakura tertawa dan melepaskan pelukannya.

"Maafkan mama, sayang. Mama tidak tahan untuk memelukmu, kamu begitu menggemaskan."

Sarada tertawa. Dia bahagia dilahirkan dalam keluarga yang begitu hangat seperti ini.

Mama.. terimakasih karena engkau telah melindungiku, terimakasih atas tangan halusmu yang slalu memelukmu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa membalas jasamu. I love you Mom..

.

.

.

.

.

.

-Owari-

Balasan review :

Shahlia Chahayani : sudah di kilat :D

Fiiyuki : ini sudah di apdet..

HestyEclair : Hahaha.. arigatou :)

Spring oh Shasha : sudha di apdet..

Sasara Keiko : Halo Sasara-chan! :D sudah di apdet kilat nihh..

Kimmy Ranaomi : semua emang karena Sasuke :D

Bandung Girl : sudah di apdet..

Suket alang-alang : hmm.. sudah di apdet :D

Dimexsion : Hahaha.. sudah ketebak kok Sarada itu anaknya siapa :D

Tomat : Hahaha.. iya.. papa Sasu udah nggak sabar #plak

: Waahh...

Dinda adr : sudah di apdet..

Jey Sakura : sudah di apdet geledek nih :D iya.. Sarada jadi nakal :D

SayayanggemessamaSasukedanIzunaKarenamerekamirip : sudah di apdet kilat..

Queenshila : Arigatou :) silahkan aja di Fav :D

Yoru no Tsukiakari7 : betul sekali..

: sudah di apdet..

Mungkin bisalah di bikin bonus chap.. tapi nggak janji XD

Sampai ketemu di fict Sakura yang lainnya!

-Aomine Sakura-