Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Warning : typo(s) ?, crack pair (untuk beberapa chap ke depan Itona x Manami)
Jika tidak suka, harap tekan tombol kembali.
Incomplete
*beberapa hari setelah hari kelulusan SMP
*ting tong ting tong*
Suara bel rumah Manami bergema ke seluruh ruangan pagi itu. Tidak terkecuali Manami yang sedang berada di kamarnya, menjadi pengangguran setelah lulus SMP. Manami segera turun dari tangga menuju ke depan pintu sambil meneriakkan "Sebentar!" meminta untuk si tamu agar menunggu.
Cklek
"Ahh, Itona-kun ternyata. Ada apa ?" tanya Manami
"Ohayou Okuda-san. Apakah aku boleh masuk?" permintaan Itona menyadarkan Manami kalau ternyata dia lupa untuk menyuruh tamunya masuk dahulu.
"Ohh iyah, maafkan aku" Manami segera mempersilahkan Itona masuk.
Manami menyuruh Itona untuk duduk di sofa ruang tamunya lalu dia berlalu menuju ke arah dapur untuk mempersiapkan minuman dan beberapa cemilan.
Sambil membawa nampan Manami duduk di depan Itona. Dia menaruh minuman dan cemilannya di meja.
"Apa kamu sudah mencari apartemen dekat SMA Koen Okuda-san ?" tanya Itona langsung.
"Iya, aku sudah mencarinya, di situ bagus dan tidak terlalu mahal. Kebetulan masih ada yang kosong, Itona sudah mencari belum?"
"Kebetulan aku belum mencarinya. Yasudah aku bareng saja denganmu, mungkin aku juga langsung pindah" Itona bersandar pada sofa sambil memakan cemilannya.
"Tunggu sebentar" Manami mengambil sebuah pulpen dan secarik kertas. Lalu menuliskan alamat apartemennya lalu memberikannya pada Itona.
"Tapi Itona-kun, kita kan belum test. Apa tidak apa-apa kalau kamu sudah pindah duluan?" tanya Manami.
"Tenang saja Okuda-san, si guru gurita itu sudah mengajari kita dengan bagus. Bahkan Terasaka yang bodoh pun bisa lulus dengan nilai yang bagus" jawab Itona.
Mendengar itu Manami hanya ber-sweatdrop ria sambil tersenyum.
"Hehe yasudah. Mudah-mudahan saja test kita lancar yah Itona-kun. 2 minggu lagi yah, aku jadi deg-degan" Manami meletakkan tangannya di dada.
"Mudah-mudahan saja. Ohh iyah Okuda-san, kapan orang tua mu pindah?" tanya Itona. Kini dia meminum minumannya.
"3 minggu lagi. Bertepatan dengan pengumuman test masuk itu. Kalau aku diterima, orang tuaku sekalian akan membawa barang-barangku ke apartemen. Dan kalau tidak, aku akan ikut dengan mereka" Manami menundukan kepalanya ketika kata-kata yang terakhir itu meluncur dari mulutnya.
"Aku benar-benar ingin diterima di sekolah itu. Aku tidak ingin terlalu jauh dengan teman-teman lamaku. Dengan kota ini, terlalu banyak kenangan disini" lanjut Manami. Kini tangannya menggenggam rok yang dipakainya.
"Aku yakin kamu sudah berusaha Okuda-san dan masih ada 2 minggu lagi. Kamu pasti bisa" Itona tersenyum tipis, tapi itu sudah cukup untuk member arti bahwa cowok bermarga Horibe itu mendukung Manami.
"Bukan aku saja, tapi kau juga yah Itona-kun"
"Hmm, pasti"
"Tapi sepertinya berat juga yah jadi Itona-ku" ucap Manami
"Maksudnya?" Itona tidak dapat menangkap maksud Manami dengan jelas.
Ini membuat Manami sedikit canggung, apakah harus dilanjutkan atau tidak perbincangan ini.
"A-Ayah Itona-kun meninggalkan kamu dan uang yang didapat dari pembunuhan itu tidak cukup untuk melunasi utang perusahaan Ayah Itona-kun. Dan dia juga belum kembali kepada Itona-kun" Manami bersimpati kepada temannya itu.
Itona hanya terdiam atas pernyataan Manami. Dia menatap ke atas untuk mengurangi rasa sedihnya. Memang benar selama ini dia telah mengalami banyak sulit, bahkan Ayahnya sendiri tega meninggalkannya saat dia tidak tahu apa arti kehidupan. Tapi setelah masuk kelas E dia melupakan semuanya dan terus bergerak maju. Dan akhirnya Itona hanya tersenyum tipis.
"Itu hanya masa lalu Okuda-san. Memang benar uang yang aku dapat tidak mencukupi utang itu tapi dengan uang itu aku bisa membiayai sekolah dan sewa apartemen untuk beberapa tahun ke depan. Aku juga bisa kerja sambilan. Masih banyak hal yang bisa disyukuri" Itona mengambil minuman dan meminumnya.
"Syukurlah" Manami tersenyum, lega karena temannya sekarang sudah benar-benar bisa untuk berpikir positif.
Mata Itona melebar, dia sedikit kaget dengan respon Manami.
"Ini terlalu manis Okuda-san"
Entah itu memang benar terlalu manis karena gulanya kebanyakan atau itu mendapat tambahan manis dari gadis yang duduk di depannya itu.
"Yasudah Okuda-san, aku pulang dulu" Itona pamit kepada Manami.
"Ohh iyah Itona-kun, untuk test masuk, Ma-mari kita berjuang!" Manami mengangkat sedikit tangannya yang terkepal.
"Oke" balas Itona "Dadah Okuda-san"
Setelah menutup pintu, Manami mengambil smartphone-nya, melihat wallpaper yang dipasang sejak hari itu. Dia hanya tersenyum.
"Karma-kun juga harus berjuang yah"
*Pada saat hari pengumuman SMA Koen
Hari ini adalah hari pengumuman bagi anak-anak SMP yang mendaftar ke SMA Koen. Sangat mendebarkan rasanya saat kamu harus mencari namamu di papan pengumuman. Tidak terkecuali bagi Manami, alumni SMP Kunugigaoka ini.
Harap-harap cemas Manami mencari namanya mulai dari peringkat 1 hasil test masuk ini.
"Ada nama Itona-kun diperingkat ketiga" gumam Manami sambil terus mencari namanya.
Manami membulatkan matanya tidak percaya saat dia melihat namanya ada di peringkat 10 test masuk ini. Manami akhirnya tersenyum lega.
"Okuda-san, sepertinya kita berhasil yah" tiba-tiba Itona berbicara disamping Manami. Mukanya datar, muka orang yang habis bangun tidur kalau kata anak kelas E.
"Iyah Itona-kun. Tapi Itona-kun hebat yah, walaupun banyak yang bilang kamu pemalas karena mukamu itu tapi sebenarnya kamu cerdas dan pintar. Sama seperti Karma-kun" ucapan polos Manami membuat Itona terdiam.
Itona teringat saat Terasaka mengatakan kalau dia kelihatan bodoh. Siapa yang tidak tidak marah saat diejek bodoh oleh orang macam Terasaka.
Itona berdecak. Dia juga jadi teringat oleh Akabane Karma, orang yang pernah dia anggap kuat tapi memang itu kenyataannya. Orang yang pernah membuat dia berkata 'Aku lebih kuat darimu, jadi aku takkan membunuhmu', tapi sekarang 'kekuatan' itu hilang.
"Jangan samakan aku dengan orang itu Okuda-san" dengan kalimat Itona pergi meninggalkan Manami yang merasa kebingungan dan merasa bersalah.
Pada saat itu juga Manami teringat orang tuanya untuk member tahu kabar bahagia ini dan segera bergegas untuk memindahkan barang-barangnya ke apartemennya.
"Itona-kun sudah pindah atau belum yah?" gumam Manami.
Saat Manami sampai diapartemennya, dia melihat kamar apartemen disebelahnya. Tepatnya di dinding disamping pintu samping pintu tertulis nama keluaraga Itona 'HORIBE'. Itona ternyata sudah pindah, Manami segera masuk ke apartemennya untuk membereskan barang-barangnya. Orang tuanya juga tidak bisa lama menemaninya, karena mereka juga harus pindah ke rumah baru mereka. Dan tentu saja Manami tidak mau merepotkan mereka. 'Aku harus mandiri' itulah yang dipikirkan Manami
Setelah beberapa jam beres-beres, Manami akhirnya selesai dengan pekerjaannya. Dia berbaring sebentar untuk mendinginkan badannya tapi tetap saja bulir keringat mengalir deras. Dan Manami akhirnya memutuskan untuk mandi.
Selesai mandi dia menonton tv yang ada di ruang tengah aprtemennya. Dari pintu masuk akan langsung terhubung dengan koridur menuju ruang tengah, di sebelah kanan ruang tengah ada kamar Manami. Sebelah kirinya ada dapur untuk memasak, dan disamping dapur ada kamar mandi yang cukup luas untuk sekalian mencuci baju. Apartemen ini benar-benar nyaman pikir Manami.
Lalu samar-samar dia mendengar suara pintu terbuka lalu tertutup dari pintu aparetemen sebelah
'Mungkin itu Itona-kun, aku akan memberinya makanan sekaligus minta maaf. Sepertinya aku telah berbuat salah' pikiran Manami melayang mengingat kejadian tadi. Dia bergegas menyiapkan makanan lalu pergi ke pintu sebelahnnya.
*ting tong* Manami membunyikan bel aprtemen Itona.
"Sebentar!" teriakkan Itona dari dalam cukup kencang
Setelah lebih dari lima menit menunggu membuat si gadis berkacamata itu bosan.
'cklek' suara pintu terbuka.
Manami sedikit membulatkan matanya, Itona hanya memakai sehelai handuk yang menutupi badannya dari pusar sampai lutut. Well, walaupun itu sudah cukup untuk menutup aurat tapi
"Itona-kun cepat pakai bajumu!" muka Manami memerah, dia berteriak sambil menutup paksa pintu apartemen Itona.
Setelah beberapa menit, akhirnya Itona kembali dengan celana hitam panjang juga kaos putih pendek yang melekat pada badannya. Jauh lebih baik
"Ada apa Okuda-san? Masuklah" Itona berjalan masuk ke dalam un tuk mengisyaratkan Manami agar mengikutinya.
"Maaf mengganggu" ucap Manami untuk formalitas.
Mereka duduk dibawah, di depan mereka ada meja bundar kecil. Manami meletakkan makanan yang ada ditangannya ke meja.
"Kau sudah makan Itona-kun? Aku membawakan makanan, tadi orang tua ku membelikanku terlalu banyak. Aku tidak akan habis memakannya sendiri" Manami duduk berhadap-hadapan dengan Itona.
"Kebetulan sekali aku belum makan, yasudah aku makan yah" Itona mengambil makanannya dan melahapnya.
Itona makan dalam diamnya sambil melihat manami yang tiba-tiba mendapat panggilan dari orang tuanya. Percakapannya juga biasa, seperti menanyakan kabar manami walaupun Itona yakin mereka pasti belum lama berpisah dan bagaimana aprtemennya. Kurang lebih seperti itu yang didengar Itona.
Manami meletakkan smartphone-nya, masih sembari makan Itona melihat wallpaper smartphone Manami yang masih menyala. 'rambut merah' pikiran Itona kembali memikirkan banyak kejadian lagi.
"kenapa Itona-kun, sudah kenyang?" Manami bertanya pada Itona yang tiba-tiba berhenti dari aktivitasnya. Itona menggeleng dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan dan minum, Itona menatap kedua mata Manami.
"Jadi ada apa lagi Okuda-san?" walaupun tatapan Itona datar seperti biasanya, Manami menjadi gugup sekali. Dan sepertinya itu juga sudah biasa bagi Manami.
"Emm, A-Aku minta maaf atas yang tadi" Manami menunduk, tidak berani lagi menatap mata Itona.
"Ohh, tidak apa-apa Okuda-san. Jangan dipikirkan" ucap Itona.
"Syukurlah" Manami tersenyum lega atas penuturan Itona.
Entah kenapa itu juga yang membuat pipi Itona merasa panas.
'Senyuman yang manis' pikir Itona
Deg deg deg. Dan sekarang jantung Itona berdegup tambah cepat, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk membunyikan wajahnya itu.
"Itona-kun, ini sudah semakin malam. Sebaiknya aku pulang saja" Manami hanya mendapat anggukan dari si tuan rumah.
Mereka berdua jalan ke pintu. Itona membukakan pintunya untuk Manami.
"Okuda-san terima kasih atas makanannya" kali ini Itona mencoba untuk tersenyum.
"Iyah Itona-kun, selamat malam" Manami membalas senyumannya.
Itona menutup pintunya. Dia hanya terdiam disitu.
"Apa aku punya kesempatan?"
Itona hanya melihat langit-langit apartemennya.
TBC
Haloo.
Kenapa Itona sama Manami? Karena aku rasa mereka akan cocok /plak ditampar para reader
Maafkan saya sebelumnya tanpa pikir panjang menulis fanfic KARMANAMI di summary (mungkin ada yang berpikir 'katanya fanfic karmanami'), tapi ini menurutku fanfic untuk mereka. Cuma disini mengisahkan apakah Manami blab la bla. Udah abaikan saja author ini, kan kalau dijelasin semua ntar gak seru.
Saya harap kalian akan tetap menikmatinya sampai akhir.
Mau bales review dulu :*
RayneaLuna : iyah nanti karmanami nya ada kok, sabar yah :3
Nurufufu : oke2, ini udah lanjut. Yap disini ada itamana
nyan-san : oke. Saya akan berusaha. ^^
Katsushika Arisa : oke2 ini sudah lanjut
blank9395 : saya hanya memberi mereka jarak dan rintangan. Hahah :D
Thank you for reviews minna-san :3
Mind to review again ?
Terima Kasih lagi *bow* ^^
