Ansatsu Kyoushitsu Matsui Yuusei

Warning : typo(s) ?

Pair : Karmanami, slight Itonami

Jika tidak suka, harap tekan tombol kembali.

Happy Reading ^^

Suara desiran angin sore itu menerpa rambut Itona, dia yang kini sedang duduk dipinggiran sungai jelas tengah memikirkan sesuatu. Suara aliran sungai juga mengusik indera pendengarannya. Sudah seminggu sejak si Akabane kesini. Dan tentu saja itu menganggu perasaannya.

Ayolah, Itona tidak bodoh dan sudah mengerti akan hal semacam itu. Perasaan. Perasaan yang sangat jelas tergambar di mata pemuda bersurai merah itu.

Dan terlebih lagi, dia juga mempunyai perasaan itu.

"Itona-kun!" suara seorang gadis menyadarkan Itona. Suara yang sangat dikenalinya

"Ada apa Okuda-san?" Itona memalingkan pandangannya untuk menatap muka gadis itu.

"Tidak. Itona-kun sedang apa disini?" tanya Manami pada Itona yang kelihatannya sedang murung.

"Duduklah disini Okuda-san" ucap Itona sambil menepuk tempat yang ada disampingnya.

Manami menuruti permintaan temannya tersebut.

"Kau tahu Okuda-san, katanya jika kau bersungguh-sungguh kau akan mendapatkan hasil yang kau ingin kan. Tapi itu semua juga tidak terlepas dari campur tangan takdir, kini aku mengerti kenapa semua ini begitu tidak adil bagiku. Ini sudah menjadi takdirku." Tiba-tiba Itona bercerita panjang lebar, membuat Manami sedikit terkejut.

Itona tersenyum tipis atau lebih tepatnya miris. Kata-kata itu dia ucapkan hanya untuk menghibur dirinya dan juga membuat orang yang disampingnya sedikit lebih peka atas situasinya sekarang.

"Nee, Okuda-san coba kau tutp matamu dan dengarkan suara aliran sungai ini dan juga suara anginnya bersamaan. Benar-benar membuat tenang" ucap Itona

"Benarkah?" Manami antusias sekali, bagaimanapun juga dia suka ketenangan lebih dari apapun. Itona mengangguk.

Manami menutup matanya perlahan. Indera pendengerannya sedang fokus untuk lebih menangkap suara aliran sungai dan juga suara angin disini. Dan benar kata Itona, dia bisa merasakan ketenangan yang sangat membuat dirinya nyaman.

"Aku menyukaimu Okuda-san" suara pelan Itona di telinga Manami, membuat Manami langsung membuka matanya kaget.

Itona tidak bermaksud apa-apa, mungkin bisa dibilang curang karena memanfaatkan keadaan. Tapi dia hanya ingin mengungkapkannya.

"Apa maksudmu Itona-kun?" pertanyaan Manami bergantung disana dengan Itona yang mengambil pundak Manami dan mendekatkan Manami padanya.

"Aku menyukaimu. Apa itu tidak jelas ?" Itona juga berusaha untuk tidak gugup disini. Mengatakan kalimat itu untuk yang kedua kalinya sangat tidak mudah bahkan lebih sulit dari membunuh gurita itu pikir Itona. Jantungnya juga sudah berdetak tidak normal.

"Maafkan aku Itona-kun" dan kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulut Manami.

Itona hanya ingin mendengar itu, bukan berarti dia masokis tapi dia hanya ingin sebuah jawaban. Jawaban yang jelas atas perasaan yang dia miliki saat ini.

"Aku sudah tahu itu Okuda-san, ada yang jauh berarti bagimu. Dan itu adalah takdirmu" jawab Itona dengan wajah yang dia paksakan untuk tersenyum. Dan sebenarnya jauh didalam hatinya dia kecewa. Sangat.

'Dan lagi aku kalah untuk kesekian kalinya' batin Itona

"Tapi Okuda-san, lain kali bolehkah aku memintamu untuk menemaniku disini lain kali" pinta Itona

"Tentu saja Itona-kun" Manami juga berusaha untuk membalas senyuman itu, walaupun perasaannya sangat terganggu atas pengakuan tadi.

'sialan kau akabane' kini Itona hanya menatap langit sore yang kemerahan itu untuk kesekian kalinya


Karma mengerjapkan matanya, dia melihat ke arah jam dinding yang ada dikamarnya. Jam setengah 6, lagi-lagi dia terbangun karena udara yang sangat dingin. Tapi untuk sekarang kurasa dia harus berterima kasih, karena hari ini dia akan bertemu dengan Manami. Entah ini yang disebut kencan atau bukan.

Karma langsung mengambil handuk dan bergegas menuju ke kamar mandi, tentu saja dia ingin segera bertemu. Semakin cepat semakin baik.

Setelah dia mandi, dia memakai baju kemeja bewarna ungu muda karena dia tahu Manami menyukai warna ungu, dilengkapi dengan bawahan berupa jeans hitam yang tidak ketat. Dia berkaca di cermin yang ada di kamar mama tercinta, dia terlalu gengsi untuk menyimpan cermin ukuran sedang dikamarnya walaupun akhirnya dia membutuhkannya. Dan nyonya Akabane hanya mendengus geli melihat kelakuan puber anaknya tidak ingin mengganggunya dulu.

"Tampan" ucap Karma sebelum akhirnya menuju pintu keluar. Dia terlalu narsis juga ternyata.

Sebelum dia membuka pintunya tiba-tiba ada yang membunyikan belnya terlebih dahulu. Lalu Karma membukanya dan terkejut melihat siapa yang datang.

"Nagisa-kun, ada apa kesini?" tanya Karma langsung

"Para alumni klub karate kita mengadakan pertemuan untuk melihat para junior yang baru masuk. Dan para senior kita tidak bisa berbuat apa-apa, acaranya wajib jika tidak ikut kita bisa dimarahi habis-habisan. Haah menyebalkan" Jawab Nagisa.

"Padahal aku ada janji dengan Okuda-san" Karma menggigit bibir bawahnya, berusaha berpikir untuk menemukan solusi. Kabur sempat terlintas dipikirannya, tapi dia bukan siswa smp lagi.

"Kau yakin?. Tapi Karma-kun sepertinya ini pertemuan penting" Nagisa juga ikut sedih tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Tunggu sebentar, aku akan menelpon Okuda dan mengambil baju Karateku. Kuharap Okuda bisa mengerti" Karma kembali masuk ke dalam. Dia mengganti bajunya dengan yang lumayan santai tapi tetap formal.

Setelah beberapa menit Karma kembali dan langsung keluar rumahnya diikuti oleh Nagisa.

"Dan kenapa Kayano-chan ada disini juga" Karma hanya memasang muka malas setelah melihat seorang gadis mungil didepan gerbang rumahnya.

"Karma-kun jangan galak begitu dong, tadinya aku mau kerumah Nagisa mengantarkan sarapan buatanku. Ehh tapi dia juga ada kegiatan, jadi aku ikut saja kesini. Hehe" Nagisa hanya tersenyum seperti biasanya mendengar jawaban Kayano yang sekarang sudah menjadi pacarnya.

Jawaban Kayano hanya mendapat dengusan malas dari Karma, dia benar-benar kehilangan semangatnya. Nagisa menceritakan kenapa Karma bisa seperti itu kepada Kayano.

"Apa Okuda-san baik-baik saja?" tanya Nagisa ingin tahu bagaimana kelanjutan kisah mereka.

"Dia menjawab akan menungguku, mudah-mudahan saja dia bisa mengerti"

"Tenang saja Karma-kun, Okuda-san bukan orang yang seperti itu. Dia pasti mengerti" timpal Kayano dengan aura positifnya.

"Mudah-mudahan saja. Dan kalian ini membuatku kesal, hampir tiap hari bertemu" ucap Karma.

Perjalanan mereka ke sekolah berlanjut dengan candaan Kayano yang mengejek Karma karena iri pada Kayano dan Nagisa. Karma hanya bisa diam saja, karena sungguh ini mengganggu perasaan dan pikirannya.

Ketika pertemuan selesai Karma langsung bergegas pergi dan tentu saja diiringi teriakan 'Semoga beruntung" dari sang sahabat yang hanya membuatnya tersenyum tipis. Pertemuannya benar-benar membosankan dan merepotkan karena membuat badan berkeringat dengan mempraktekan gerakan-gerakan karate.

Alhasil Karma yang sudah mandi dan wangi harus kerumahnya lagi untuk mandi. Untung sekarang masih jam 12 pikirnya. Setelah sampai rumah dia buru-buru mandi lagi, dan tingkahnya itu benar-benar membuat kaget Mama tercintanya. Kebetulan Mamanya sedang ada dirumah.

"Semangat sayang kencannya" Mamanya Karma menggoda anak satu-satunya itu.

"Berisik nih Mama, aku berangkat"

"Jangan lupa nanti kenalin yah!" teriakan Mamanya Karma mengantar kepergian Karma.

Karma sampai stasiun jam 1 kurang 15 menit. Dia bernafas lega karena masih sempat untuk sampai tepat waktu. Dia tidak bisa diam dikereta karena takut kereta akan terlambat dan mengacaukan janjinya lagi.

Tbc

Huaa maafkan chap yang kali ini pendek. T_T

Mind to review ?

Terima kasih ^^