Ansatsu Kyoushitsu Matsui Yuusei
Warning : typo(s) ?
Pair : Karmanami, slight Itonami
Jika tidak suka, harap tekan tombol kembali.
Happy Reading ^^
Dert Dert Dert
Getaran smartphone Manami membangunkan pagi indahnya. Tentu saja indah karena hari ini dia akan bertemu Karma yang sudah membuat janji dengannya waktu itu. Dan dia akan bertemu nanti jam 8.
Kembali lagi pada getaran smartphone-nya, rupanya itu panggilan dari seseorang. Manami jarang sekali mengaktifkan suara panggilan dia malam hari, getaran saja pikirnya sudah cukup dan juga dia tidak perlu terganggu dengan suaranya jika dia sedang tidur.
Nama yang tertera disitu adalah nama yang membuat janji dengannya hari ini. Langsung saja dia mengangkat.
"Halo Okuda-san ? Maafkan aku, hari ini kita tidak bisa bertemu jam 8. Senpai-senpai bodohku di ekskulku mengadakan pertemuan mendadak hari ini dan katanya wajib. Aku benar-benar minta maaf, tapi kita bisa bertemu sekitar jam 2an, bagaimana ?" tentu saja Manami hanya kecewa dengan penuturan Karma.
Tapi Manami tidak ingin egois, dia berusaha mengerti keadaan Karma. Lagipula itu pertemuan yang mendadak dan sepertinya Karma juga sedang terburu-buru.
"Hmm iyah, aku akan menunggumu" dan pada akhirnya Manami hanya perlu bersabar untuk menunggu. Menunggu pangeran bermahkota merahnya datang.
Banyak hal yang sudah Manami siapkan untuk acara janjinya ini, mungkin dia juga bisa berterima kasih pada pertemuan mendadak itu walaupun itu artinya dia tidak akan menghabiskan banyak waktu dengan Karma.
Manami mengenakan dress panjang selutut berwarna ungu dan memakai jepit rambut bunga berwarna senada. Biasanya dia hanya suka memakai celana pendeknya tapi kali ini tidak.
Manami menunggu di taman waktu pertama kali mereka bertemu disini dengan Itona juga dan di pohon yang sama.
Manami sengaja datang lebih awal karena dia juga tak punya kegiatan apapun lagi di aprtemennya. Rindangnya pohon ini dan juga angin yang berhembus membuat suasanya sangat damai. Manami memejamkan matanya sebentar untuk lebih merasakannya.
"hooh hooh hooh" suara hembusan nafas yang keras mengangetkan Manami.
Tiba-tiba Karma sudah berdiri dihadapannya, terlihat sangat kelelahan. Rambutnya berantakan, dahinya dipenuhi oleh keringat.
"Ma-maafkan aku Okuda-san" Karma mengatur nafasnya lagi.
"Ahh iyah tidak apa-apa Karma-kun. Duduklah dulu dan minumlah jus ini" Manami menyodorkan kotak jus susu stoberi kesukaan Karma.
Karma duduk dan meminum jusnya. Dia kini sudah mendingan, bagaimana tidak separah ini, setelah pertemuan itu dia bergegas pulang kerumahnya untuk mandi dan siap-siap lagi. Dan dia berlari dari stasiun ke taman ini.
"Lihatlah dirimu Karma-kun, rambutmu berantakan dan keringatmu banyak sekali" Manami mengelap keringat Karma dengan sapu tangannya dan membenarkan bentuk rambutnya. Dia jadi merasa bersalah melihat Karma yang susah payah meluangkan waktunya hanya untuk menemuinya walaupun Karma sendiri yang membuat janji.
"Apakah seburuk itu penampilanku?" Walaupun perlakuan Manami kepadanya membuat jantungnya sudah tidak waras. Tapi dia masih bisa mengendalikan dirinya. Dan soal penampilan Karma baru menyadari bahwa Manami memakai baju dengan warna yang sama dengannya. Sama-sama ungu muda. Dia menyimpan senyumnya dibenaknya.
"Hmm, tidak" Manami menggeleng sambil tersenyum tipis. "Karma-kun pasti lapar, ayo kita makan dulu sebelum jalan-jalan" ucap Manami dengan senyumnya yang kembali melebar.
Dan Manami jadi benar-benar berterima kasih pada pertemuan mendadak Karma, dia jadi sempat membuat bento untuk mereka berdua. Karma makan banyak karena tentu saja dia belum makan siang.
Matahari kini sudah mulai turun dari singgasananya. Sekarang jam 3 sore, ternyata membutuhkan waktu sejam untuk menghabiskan bekal yang dibawa Manami sambil sesekali mereka berdua mengobrol. Entah itu obrolan tentang pertemuan bodoh tadi atau kecerobohan Manami yang tadi sempat menggoreng ayam sampai gosong. Pertemuan mereka kali ini cukup menyenangkan.
"Okuda-san, apakah kita hanya akan menghabiskan waktu ditempat ini. Aku bosan sekali"
"Benar juga yah. Bagaimana kalau kita ke taman hiburan kota Koen. Aku belum pernah kesana, dan kata temanku hari ini mereka mengadakan pertunjukan kembang api dan parade" ajak Manami
"Wah kebetulan sekali" Karma yang terlihat antusias langsung menggandeng tangan Manami untuk mengajaknya segera pergi. Muka Manami langsung berubah menjadi merah seperti kepiting rebus atau sama seperti rambut cowo yang sedang menggenggamnya itu.
Perjalanan mereka ke taman hiburan didominasi oleh kesunyian yang mereka sendiri bingung harus berbicara apa. Karena sepertinya mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing-masing walaupun tangan mereka masih terhubung. Dan mereka juga enggan untuk melewatkan kesempatan ini, jadi biarkanlah saja dulu seperti ini, pikir mereka berdua.
Setelah mereka berjalan kurang lebih 15 menit mereka akhirnya sampai di taman hiburan itu. Banyak orang yang mengunjungi tempat ini, wajar karena hari ini hari minggu.
"Ramai sekali" gumam Karma sambil mengeratkan genggaman tangannya dengan Manami.
Manami hanya tersenyum melihat perlakuan Karma kepadanya, tapi tak bisa dipungkiri juga dia teringat dengan Itona beberapa hari yang lalu.
"Okuda-san, kita naik roller coaster yuk!" ajak Karma yang menariknya menuju wahana tersebut.
Manami mengerutkan dahinya, tentu saja dia takut. Dia tak terlalu suka dengan wahana yang menguji adrenalin seperti ini. Berbeda sekali dengan Karma yang sangat antusias.
"Tenang saja, aku akan selalu bersama denganmu" ucap Karma berusaha menenangkan Manami.
"Baiklah" Manami tersenyum dan mengumpulkan semua keberaniannya.
Saat wahana sudah berjalan dan meluncur, mereka berdua berteriak bersamaan. Raut wajah mereka juga bukan raut wajah ketakutan, raut wajah bahagia.
"Hahaha, itu buktinya kau tidak ketakutan Okuda" Karma menggoda Manami.
"hehe iyah, tapi sekarang kepalaku pusing sekali" Manami memegang kepalanya.
Terlihat sedikit ekpresi panik yang timbul di wajah Karma, tentu saja dia juga khawatir.
"duduk di bangku sana, aku akan beli air putih" ucap Karma yang masih berusaha bersikap tenang.
Manami hanya mengangguk dan berjalan perlahan ke arah bangku yang ditunjuk Karma tadi.
Setelah beberapa menit akhirnya Karma kembali, dia duduk disamping Manami dan menyodorkan airnya. Kini Manami tersenyum setelah meminum air yang diberikan. Mengisyaratkan bahwa dia sudah tidak apa-apa. Karma bernafas lega dan tersenyum melihatnya.
"Maafkan aku Okuda-san" Karma merasa bersalah sekarang.
"Ehh tidak apa-apa kok Karma-kun, tadi sangat menyenangkan sekali. Lihat, sekarang aku sudah tidak apa-apa. Kau terlalu khawatir" Manami tersenyum sekali lagi untuk membuat cowo disampingnya itu selesai dengan rasa bersalahnya.
"Bagaimana kalu kita naik bianglala saja" ajak Manami yang kali ini antusias sekali.
"Tentu saja. Ayoo" Lagi-lagi Karma menarik tangan Manami.
Manami kali ini senang sekali, karena dia tidak terlalu takut dengan bianglala. Dia juga bisa melihat keindahan kota Koen diatas sini. Apalagi dengan seseorang yang sangat berarti untuknya.
"Karma-kun, ayo kita berfoto" ajak Manami. Manami lalu mengeluarkan smartphone-nya dan akhirnya mereka berfoto.
Turun dari bianglala mereka membeli es krim lalu berjalan-jalan melihat taman hiburan ini. Mereka mencari area yang pas untuk melihat kembang api nanti. Karma masih menggenggam tangan Manami. Angin dingin malam sudah mulai berhembus, hari sudah semakin gelap. Mungkin kembang apinya akan terlihat sebentar lagi.
Duar, duar, duar
Kembang api sudah diluncurkan, mereka berdua melihat keindahan kembang api bersama. Manami mengingat sesuatu, raut mukanya berubah sedih dan sedikit serius.
"Kenapa Okuda-san?" Karma yang melihat perubahan tiba-tiba dengan ekspresi wajah Manami.
"Ti-tidak apa-apa kok Karma-kun. Kembang apinya indah yah" kini Manami mengalihkan pandangannya ke langit. Ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Karma. Tapi sepertinya waktunya belum tepat.
Kini mereka hanya diam sambil melihat keindahan kembang api yang masih diluncurkan ke atas sana.
"Manami-chan!" tiba-tiba saja ada yang berteriak kepada Manami. Rasanya Manami kenal dengan suara ceria itu.
Manami segera menyadari itu adalah suara Natsuki Chiya dan dia bersama Nakazawa. Natsuki melambai-lambai kepadanya dan segera menghampiri Manami dan Karma
"Halo Okuda-san" ucap Nakazawa pertama. Dia melirik Karma yang berada disamping Manami.
"Hai Chiya-san, Nakazawa-san" sapa Manami sopan.
"Manami-chan tadi aku sempat melihatmu tapi aku baru bisa menyapamu. Heheh" ucap Natsuki yang juga melirik ke arah Karma. Mungkin Manami memang kurang peka
"Apakah cowo itu pacarmu Okuda-san" ucap Nakazawa langsung. Karma tersentak mendengar kata 'Pacar' tapi dia harus bersikap biasa saja.
"Bu-bukan, dia bukan pacarku Nakazawa-san. Kenalkan ini Akabane Karma. Karma-kun ini Nakazawa Izumi dan Natsuki Chiya teman sekelasku" Manami memperkenalkan Karma pada teman-temannya.
Entah kenapa perkataan Manami membuat hati Karma sedikit sakit.
"yoo" sapaan singkat dari Karma. Dia pikir itu sudah cukup
"Kau yakin dia bukan pacarmu Okuda-san? aku tadi sempat melihatmu bergandengan tangan loh" Nakazawa mengeluarkan senyumannya. Jarang sekali melihat gadis yang satu ini tersenyum, maksud dari senyumannya jelas terlihat. "Kukira cowo berbandana dari kelas A itu pacar…"
"Izumi-chan hentikan" belum selesai Nakazawa berbicara, Natsuki sudah memotongnya. Tentu saja anak yang satu itu selalu bikin rusuh. Natsuki membungkukan badannya untuk meminta maaf atas kelakuan temannya itu.
Manami hanya terdiam untuk beberapa saat, benar juga dia tidak punya hubungan apapun dengan Karma. Selama ini dia dekat dengan Karma dari SMP itu hanya sebagai teman, tidak lebih.
Kedua orang teman Manami langsung berpamitan untuk duluan melihat suasana yang sedikit berubah antara kedua orang itu.
"Izumi bodoh" ucap Natsuki menarik Nakazawa untuk ikut pergi bersamanya.
Karma dan Manami kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Waktu sudah semakin malam dan semakin dingin. Mereka sama-sama diam, tentu saja perkataan Nakazawa masih terngiang di pikiran mereka.
Karma sedikit frustasi atas kejadian tadi, bisa-bisanya mereka menganggap Itona sebagai pacar Manami. Itu tidak bisa dia biarkan.
"Okuda-san…"
"Karma-kun, maafkan aku" belum sempat Karma menyelesaikan ucapannya, Manami telah memotongnya duluan.
"Kamu tidak usah repot-repot kesini lagi. Aku tidak mau mengganggumu, aku tahu kau sangat sibuk"
"Jangan berbicara bodoh seperti itu Okuda-san, aku kesini atas kemauanku sendiri" raut muka tidak suka Karma jelas terpampang diwajah tampannya.
"Bukan itu Karma-kun, ternyata jarak ini begitu jauh. Melihat kamu tadi siang yang seperti itu menyadarkanku" Manami tidak yakin apa yang dia ucapkan, bukan dia tidak bisa berhubungan jarak jauh. Tapi perasaan ini sungguh menyiksanya.
Karma yang kaget dengan perkataan Manami tahu betul apa yang dimaksud gadis itu, semua wanita memang suka berbelit-belit yah pikirnya. Karma tersenyum kepada Manami, dia menarik tangan Manami lalu meletakkannya di dadanya disusul dengan kepala Manami.
"Kamu bisa merasakan dan mendengarnya bukan?. Jantungku saat ini sudah tidak normal berada didekatmu. Mau sejauh apapun dirimu aku akan menemuimu" Karma mengambil jeda sejenak. Memberi kesempatan Manami untuk mengerti kata-katanya, karena dia yakin gadis itu sekarang sedang terkejut.
"Dan mohon mengerti dan percayalah, aku akan selalu mencintaimu" Karma mencium puncak kepala Manami, kata-kata yang diucapkan bukanlah rayuan gombal atau semacamnya, bukan juga candaan. Jika dia serius, dia akan serius.
Manami mengangguk, dia sudah mengerti. Ternyata perasaan cemasnya selama ini sudah dibuktikan oleh perlakuan pangeran bermahkota merahnya.
"Dan sekarang Manami" Manami terkejut mendengar Karma menyebut namanya untuk pertama kali. "Maukah kau menjadi pacarku?" tanyanya sambil menatap tajam Manami tanda artinya dia benar-benar serius.
"I-iyah" jawab Manami sambil malu-malu. Mukanya memerah.
Karma senang mendengar jawaban yang diberikan Manami.
Lalu mereka akhirnya pulang karena ini benar-benar sudah malam. Awalnya Karma menolak untuk diantar Manami, dan bukankah sudah menjadi tugas pria untuk mengantar pacarnya sampai dengan selamat sampai rumah. Tapi ini malah kebalikannya. Manami menolak diantar ke apartemennya karena ini benar-benar sudah malam, dia tidak ingin merepotkan pacar barunya itu. Karma hanya bisa menuruti keinginan Manami.
"Manami-chan aku yang pertama menembakmu bukan?" dagu Karma seperti biasanya selalu terangkat tinggi.
"Bukan kok" Manami tersenyum kecil melihat tingkah kepedean Karma.
"Apa?!" Karma kaget dengan jawaban Manami.
"I-itona-kun yang sudah menembakku pertama" ucap Manami menunduk malu.
"Sialan kau Itona" Karma menekuk mukanya. Dia mengutuk bocah itu karena mencuri start duluan.
"Tapi menurutku itu tidak masalah karena aku mencintai Karma-kun" Manami tersenyum dan memberanikan diri untuk menatap mata Karma.
"Ehh benarkah?" Karma menggoda pacar barunya itu.
Manami hanya bisa menunduk malu karena perbuatan Karma. Kenapa Karma senang sekali menggodanya, itu yang dipikirkan Manami.
"hmm yaudah, lainkali kita ke rumah hantu yuk. Aku akan melihat apakah kamu takut dengan yang begituan" Karma pindah kebelakang Manami dan pura-pura menakutinya.
"Moo, Karma-kun senang sekali menjahili orang. Aku tidak mau" Manami merajuk.
"Hahahaha, bercanda Manami-chan" ucap Karma sambil mencium pipi Manami. Karma tersenyum jahil melihat muka Manami yang memerah lagi setelah itu. Menggemaskan pikir Karma.
Sisa perjalanan itu mereka habiskan dengan canda tawa yang mereka bagi bersama. Jarak bukan lagi hal yang mereka takutkan, jika mereka jauh mereka hanya perlu mendekat lagi. Mungkin jarak merupakan tantangan yang cocok untuk jenis orang seperti mereka yang tak lelah mencari suatu keajaiban, keajaiban cinta yang mempererat takdir mereka.
Jika kita tidak kembali sejalan
Kita tinggal mencari jalan baru untuk ditempuh bersama
Karena jalan itu akan terasa begitu indah jika kita bersama
Sejauh apapun jarak yang harus ditempuh, aku tidak takut
Karena aku yakin keajaiban cintalah yang akan mengutuk takdir kita
THE END
Huhuhu, dan akhirnya selesai. Gimana endingnya nih ? maaf kalau tidak sesuai harapan yah. Heheheh.
Yasudah selesai deh, terima kasih yang selama ini mau membaca ceritanya dan segala macamnya. maafkan juga yah ga sempet bales review satu2, terima kasih saran, koreksi dan penyemangatnya. :)
Akhir kata seperti biasa.
Mind to review?^^
Mohon maaf lahir batin, selamat hari raya idul fitri bagi yang menjalankannya. Terima kasih ^^
