Disclaimer : Masashi Kishimoto
Tgl. 23 Agustus 20XX
Ting...Tong...Ting...Tong
Bunyi lonceng St. Quirinus' Academy mendentang, Akademi yang hanya dimasuki anak-anak berbakat. Itulah yang ditulis disamping gerbang sekolah itu.
Akademi ini sangatlah terpencil, satu-satunya cara ke Akademi itu adalah dengan menaiki kereta gantung yang merupakan fasilitas Akademi tersebut.
Hanya sedikit yang bisa lulus dari Akademi ini. Bahkan ada rumor, bahwa jumlah murid yang keluar lebih sedikit dari jumlah murid yang masuk ke Akademi tersebut.
Tgl. 22 Agustus 04.00 p.m [Gedung Olahraga]
"Jadi inilah sisa dari 200 orang tadi. Eto, jumlahnya tidak mencapai 100, ya." Ucap si "Konduktor" tersebut.
Jika 200 murid tadi hanya terselisih 90 orang, apa saja kemungkinan yang bisa terjadi? Bunuh diri? Ingin kabur dari Akademi ini? Ada yang membunuh secara massal? Semua kemungkinan bisa terjadi.
"Jadi, sekian dari seleksi tadi. Silahkan ke Asrama untuk pembagian kamar. Dan inilah rank secara paralel, rank ini dihitung dari siapa yang tercepat dalam membunuh di seleksi pertama ini." Jelas Konduktor tersebut, setelah itu dia beranjak dari podium dan keluar dari gedung tersebut.
Tgl. 23 Agustus 20XX 9.45 a.m
[P.O.V]
Kejadian kemarin seperti tidak pernah terjadi, semua nampak normal di Akademi ini. Tidak ada sedikitpun yang menyinggung soal kejadian kemarin, semua beraktifitas secara normal.
"Yo! Hinata, kita sekelas" ucap seseorang padaku. Orang itu adalah orang yang sering bersamaku, Haruno Sakura, namanya. Kami berdua hanya berusia 10 tahun, kenapa kami bisa masuk Akademi ini dalam usia se-dini itu? Pertanyaan yang mudah.
Akademi ini tidak membatasi usia, yang dilihat oleh Akademi ini hanyalah bakat. Ngomong-ngomong, namaku adalah Hyuuga Hinata.
Karna sekarang adalah jam istirahat, beberapa siswa dan siswi ada yang bercanda-ria dikelas dan ada sebagian yang kekantin. Saki, maksudku Sakura. Aku memanggilnya, Saki.
Dia memandang siswi-siswi yang tertawa dan bercanda-ria tersebut sambil tersenyum. Saki memang selalu seperti itu.
"Ne, Hinata. Lihat gadis-gadis remaja itu, kupikir mereka akan dihantui rasa takut. Ternyata setelah membunuh, masih bisa bercanda-ria dan bergossip seolah tidak ada yang terjadi" ucapnya padaku.
Benar yang dikatakannya, walau secantik atau sebaik mungkin sikap seseorang disini sekarang, mereka sudah pernah membunuh. Jadi, mereka semua hanyalah 'teman palsu'. 'Teman palsu' bukan berarti aku dan Saki seperti itu. Aku dan Saki tidak pernah berteman. Kami bahkan tidak menganggap satu sama lain sebagai 'Teman'.
"Saki, kejadian kemarin. Kau membunuh berapa orang?" Tanyaku padanya.
"Itu bukan urusanmu. Lagipula, kita bukan 'teman'" jawabnya. Aku tahu apa maksud jawabannya. Itu berarti dia membunuh lebih dari satu. Aku bukan ingin mengurusi urusannya, aku hanya 'ingin tahu' saja.
Saki adalah anak yang seperti itu, dia tidak suka orang mencampuri privasinya, juga sebaliknya. Anak yang selalu memamerkan senyum palsu pada orang-orang, makanya Saki paling tahu rasanya dikhianati. Bukan berarti maksud ucapanku, Saki pernah dikhianati. Sakilah yang mengkhianati orang-orang yang disebutnya 'teman'.
Aku tidak takut dikhianatinya, karna aku bukan 'teman' -nya.
"Hei, Hinata. Hei! Jam istirahat sudah berakhir" ucapan Saki membuyarkan lamunanku. Dia pun kembali ke tempat duduknya, dia duduk tepat dibelakangku. Guru kelas pun sudah memasuki ruangan.
Tgl. 23 Agustus 20XX 12.30 a.m
"Berdiri! Beri hormat!" Ucap Wakil kelas itu memberi aba-aba yang langsung direspon anggota kelas.
"Terima kasih, pak!" Pemberian hormat yang dilakukan secara bersamaan itupun mengakhiri pelajaran hari ini. Semuanya keluar dari kelas setelah sudah memasukkan barang-barang mereka ke tas.
"Hinata, ayo kembali ke Asrama" ajak Sakura pada Hinata. Yah, mereka satu kamar di Asrama St. Quirinus tersebut. Mereka pun berjalan ke arah Asrama putri. Dijalan, Sakura mengecek tasnya.
"Tch! Kuso, aku meninggalkan novel itu dikelas. Hinata, kau pergi duluan saja" dengusnya kesal, sekarang dia harus kembali lagi ke ruang kelas.
"Oh, baik. Sampai jumpa di Asrama, nanti!" Ujarnya, setelah punggung Sakura tak terlihat olehnya. Dia melanjutkan jalannya ke Asrama. Di depan gerbang Asrama itu tampak seorang anak laki-laki.
Hinata memberanikan diri untuk bertanya pada anak itu. "Eto, ada yang bisa kubantu?"
"Kau Hyuuga Hinata, kalau tidak salah, bukan?" Tanya anak itu. "Ano, apa aku mengenalmu?" Tanya balas Hinata.
"Aku Uzumaki Naruto. Kau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu. Jadi tak isah dipikirkan, ttebayo" Dia memperkenalkan dirinya.
Hinata mulai beradu argumen diotaknya. Siapa dia? Bagaimana bisa dia mengenalnya? Kemudian... dia mulai kehilangan kesadaran, sepertinya 'Nata-chan' mengambil alih tubuhnya sekarang.
"Heh, jadi ada urusan apa kau dengan ku?" Tanya 'Nata-chan'. Perbedaan sikap yang berubah jauh itu tidak membuat si Naruto heran, seolah dia sudah tahu.
"Oh, jadi kau berkepribadian ganda? Itu yang menunjukkan bagaimana anak dengan kesehatan jiwa yang stabil bisa membunuh dan lolos seleksi" simpul Naruto.
"Jadi, sebaiknya kau tak perlu mengatakannya pada siapapun, jika kau masih mau hidup, bocah!" Ancam 'Nata-chan'. Namun Naruto tidak terlihat takut maupun ragu. Dia malah balik bertanya.
"Apakah temanmu yang berambut merah muda itu tahu? Soal ini?" Tanyanya ke 'Nata-chan'.
"Hina dan Saki tidak pernah berteman, bodoh. Lagipula, apa hubungannya kalau Saki tahu dengan mu!?" Sindirnya kesal. Dia sudah tak tahan bicara dengan orang ini.
"Haha... lucunya siapa sangka kalau anak polos dan anak yang lemah seperti, kamu memiliki sisi gelap yang tak pernah disangka." Dengan perkatan yg sinis.
"Cih, Diam lah kau"! Nata-chan semakin marah tangannya mulai geram dan ingin sekali menghajar anak itu... Wah, naruto mulai menyindir sekali lagi kepada Nata-chan.
"Wah aku sangat kasihan padamu kawaiisou ne... kau begitu ketakutaan akan ketahuan jati dirimu... aku merasa kau sungguh menyedihkan." Naruto sedang memancing Amarah Nata-chan, Dia memang sengaja melakukan itu.
"Aaaaargh"!, "APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP?!", BOCAH SIALAN! Dia sudah tak bisa menahan diri lagi. Dengan Amarahnya Dia siap membunuh Naruto.
" Ahaha... akhirnya" rencana Naruto berhasil, dia bermaksud membuatnya marah. Unruk tau seberapa kempampuannya. Dengan cepat dan brutal Nata - chan menyerang Naruto dengan tangan kosong. Tapi Naruto dapat melesat dan menghindarinya.
Dengan jahil Naruto semakin memancing Amarahnya berkata "Aaaah tidak kena~ Hah... Apa cuma itu kemampuan mu? Huh kau 'Lemah sekali'. Setelah mendengar kata - kata itu Nata - chan berhenti dan diam sebentar, seakan kata-kata itu bergema di kepalanya.
Setelah tak lama kemudian Dia menyerang Naruto tapi kali ini berbeda... dia nampak sangat serius, tatapan matanya mulai berubah. Naruto terus menghindar. Sekarang dia juga mulai serius. Tentu saja ada beberapa murid yg menontonnya. Akhirnya Nata - chan mengunakan alat/senjata miliknya menggunakan pisau berukuran kecil tapi pisau itu sangat tajam itu adalah pisau khusus untuk membelah/memutilasi, Nata tersenyum sinis dengan mengatakan.
"Sekali saja pisau itu mengenai tanganmu maka akan ada luka yg sangat parah." Dia menyerangnya tetapi meleset sedikit dari naruto lenganya terluka dan berbekas. Disaat itu juga pergelangan Nata dikunci oleh Saki. Kemudian, Naruto terlihat seperti sedang dimarah seseorang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Saki ke Nata-chan yang hanya dibalas decihan. Dia mendengus ke Naruto "Heh, kalau tak ada Saki yang menghalangi, kau sudah mati."
"Darimana saja kau, Saki?" Tanya 'Nata-chan'. Sakura hanya menunjukkan novelnya yang ketinggalan itu sambil berkata "Ketinggalan" yang hanya dibalas 'oh' oleh 'Nata-chan'.
Di sana ada kamera cctv yang merekam semua itu... tak lama kemudian mereka di panggil ke ruang guru.
Flashback [Ruang kelas 1 - B]
"Heh, kenapa aku bisa sangat pelupa" gumam Sakura. Dia sedang berjalan ke arah kelasnya. Saat dia melangkahkan kakinya ke kelas, dia melihat tempatnya diduduki oleh seseorang. Orang itu duduk sambil membaca bukunya.
"Sumimassen, boleh aku ambil buku itu?" Tanya Sakura sambil tersenyum. Dia berharap dia cepat mengembalikan novel kesayangannya. Namun, orang itu masih membacanya.
"Hn, jangan bilang kau selalu memasang senyum palsu seperti itu, menjijikkan." Balas orang itu tanpa melirik Sakura dan fokus pada buku tersebut.
"Jadi, kau punya masalah dengan itu?" Sindir Sakura, dia tak lagi tersenyum palsu tersebut, toh sudah terbongkar.
"William Shakespeare, heh. Padahal kau hanya bocah." Sindirnya balik, dan masih dalam keadaan membaca.
"Lihat siapa yang berbicara." Mereka saling menyindir, kenapa Sakura menyindirnya seperti itu? Karna orang yang mengatakannya 'bocah' ini, adalah bocah.
"Ini kukembalikan, Haruno Sakura. Atau bisa kusebut, Armanno-san." Ujarnya sambil menyeringai mengembalikan novel karya 'William Shakespeare'-nya itu. Sakura hanya terdiam, kemudian membalas.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanyanya ke anak yang masuk ke kategori bocah sialan itu.
"Heh, biasanya orang yang rahasianya terbongkar, akan bertanya 'Bagaimana kau bisa mngetahuinya?' Kau lumayan menarik." Ujarnya, bukannya dia menjawab pertanyaan Sakura, malah membahas soal itu.
"Bagaimana kau bisa tahu itu tidak penting, tapi apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui rahasiaku, itu yang penting" jawab Sakura enteng.
-...BOCAH SIALAN!" Teriakan itu sampai ke telinga Sakura. "Ini, suara Hinata. Sialan." Gumamnya.
"Ara, Naruto mulai memancingnya." Ujar anak itu, yang membuat Sakura yakin bahwa itu adalah salah satu rekannya. Dia pun bersiap melompat keluar lewat jendela. Karna itu satu-satunya jalan tercepat.
"Wew, ini lantai dua." Ucap anak itu kemudian menyusul Sakura melompat. Memang kegilaan ikut-ikutan melompat seperti ini. Namun tampaknya anak itu berhasil melakukannya dan bergegas ke tempat terjadinya perkara.
Flashback End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
