The Terror

By Chocolate Bubbletea

Boboiboy ©Animonsta

Warning: OOC, Typo, AU, Grown up Boboiboy, Gore, Alur maju mundur, less dialogue, no-romance, and more

oOo

Don't Like Don't Read

oOo

Ia membenci murid baru.

Itulah yang dikatakan semua murid di sekolah.

Tapi menurut anggota pecinta misteri -sebuah klub illegal yang keberadaannya hanya diketahui oleh para murid-, pernyataan itu salah. Menurut hasil penelitian mereka nama 'Grim Reaper' di kenal tiga belas tahun yang lalu. Berbeda dari kisah sekarang, Grim Reaper masa itu adalah seorang penyelamat. Ia menyelamatkan setiap murid baru yang di bully,

Dengan membunuh mereka.

Mungkin ia ingin menghentikan penderitaan mereka dalam sekali tembak. Mungkin ia ingin menunjukan pada para senior kalau apa yang mereka lakukan salah. Namun semenjak kemunculannya, tak pernah lagi ada pembullyan di sekolah. Setiap senior takut akan kehadiran sang Grim Reaper. Mereka takut mereka dituding atas pembunuhan yang tidak mereka lakukan.

Menurut mereka Grim Reaper adalah roh salah satu murid yang meninggal karena pembullyan. Ia di kunci di ruang musik pada malam hari. Mereka menyetel lagu kematian di speaker sekolah. Mereka menutup lubah ventilasi. Mereka menyebar serbuk lada dan tepung lalu meniupkannya dengan kipas. Dan mereka tertawa diatas penderitaannya hingga sang malaikat kematian mengambilnya melalui sesak nafas dan serangan jantung.

Dari sanalah hari Grim Reaper muncul. Ia membunuh semua seniornya dengan cara yang sama seperti apa yang mereka lakukan. Tapi ia tidak puas. Para senior tak bertanggung jawab lainnya masih melakukan pembullyan. Semua pembullyan ini tak ada akhir hingga ia memutuskan untuk membantu menghilangkan penderitaan korban pembullyan. Membunuh mereka dengan cepat tanpa rasa sakit. Seperti seorang Dewa Kematian. Grim Reaper.

"Lalu, kenapa ia kembali kalau semua pembullyan itu sudah berakhir?" pertanyaan Boboiboy membuat semua anggota klub terdiam selama beberapa saat.

"Masih belum. Pembullyan itu kembali terjadi dua tahun yang lalu."

Ya. Pembullyan itu kembali terjadi dua tahun yang lalu. Entah siapa yang memulainya. Tapi hal itu memicu kembalinya sang Grim Reaper.

oOo

Mereka berlari. Tapi langkah kaki itu masih bergerak teratur tanpa peduli menambah laju gerak langkahnya. Seolah ia yakin kalau ia akan mampu menangkap mereka dengan mudah.

Mereka terus berlalu dan suara langkah itu masih mengikuti bahkan bergema si seluruh koridor melalui sistem pengeras suara. Suara nyanyian mengikuti suara langkah konstan tersebut.

Twingkle twingkle little star. How i wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky.

"Ini semua konyol!" teriak pemuda dengan kacamata nila itu frustasi.

Berbeda dengan apa yang mereka perkirakan, pergerakan sang Grim Reaper terlalu cepat untuk mereka samai. Kaki panjangnya menendang jatuh pisau lipat yang mereka pegang. Ia menyayat pergelangan tangan mereka yang memegang tongkat baseball dengan pisau kecilnya. Seringai puas terlukis di wajahnya yang tertutup poni.

Tanpa pikir panjang mereka berlari. Berlari demi keselamatan mereka. Berlari demi seluruh murid di sekolah mereka. Semua orang harus tahu siapa sang Grim Reaper.

menemukanmu.

Kikikan senang dan kalimat yang diucapkan dengan nada tinggi itu membuat kaki kedua pemuda itu semakin berpacu. Armor konyol di tubuh mereka menghambat gerak mereka. Dilemparkan lah perisai yang diperuntukan untuk perlindungan diri tersebut. Mereka harus cepat.

Seolah mengetahui pergerakan mereka, sang Grim Reaper telah memasang perangkap. Mereka terjatuh saat tanpa sadar kaki mereka menyandung senar tajam di depan. Kaki mereka berdarah namun mereka harus tetap berlari. Dengan langkah terseok mereka terus berlari.

Di depan ada sebuah belokan yang mengarah pada tangga. Mereka hanya perlu menuruni dua tangga dan mereka akan dapat keluar dari gedung besar ini. Tak ada jaminan mereka akan selamat saat keluar, tapi mereka tahu mereka jauh lebih aman saat berada di luar. Terkecuali jika sang Grim Reaper memiliki senjata tembak.

Begitu siap menuruni tangga tanpa tertuga tubuh Fang terjatuh. Bagai sebuah slow motion Boboiboy melihat sebuah besi panjang nan tipis –seperti sebuah jarum besar- tertancap di punggung sang pemuda. Matanya menatap horror saat tubuh tegap sang pemuda bergelinding dan bagian kepala Fang lah yang pertama kali menyentuh lantai.

Sang Grim Reaper memiliki senjata tembak.

Darah mengalir dari kepalanya. Kacamatanya pecah berkeping-keping. Tak ada pergerakan dari tubuhnya yang terkujur kaku di lantai. Sang Grim Reaper telah mendapatkan Fang.

Kakinya bergetar hebat. Boboiboy menjatuhkan dirinya di lantai. Terduduk dan tak dapat melakukan apapun.

"Aku menemukanmu."

Suara itu kembali dan Boboiboy merasakan rasa sakit di kepalanya.

oOo

Mira.

Gadis dengan tatanan rambut yang sedikit tertinggal. Kepang dua dengan poni lurus di atas alis. Banyak yang mengatakan kalau ia adalah kutu buku. Penyendiri. Freak. Bahkan ada yang mengatakan kalau ia adalah seorang lunatic.

Tapi tak ada yang benar-benar tahu siapa gadis tersebut selain informasi dasar bahwa ia adalah murid kelas 1-2.

Ia diam. Ia cenderung menjauh dari keramaian. Ia bahkan kerap kali menundukan kepalanya saat berjalan. Tapi tak ada satu pun yang dapat menyangkal kalau gadis itu memiliki paras manis nan menawan. Dengan kulit putih pucat bagai gadis asia timur, mata bulat, hidung mancung dan bibir tipis.

Membuatnya semakin menjadi bahan cemooh dan benci dari para senior maupun teman seangkatannya.

"Kau tidak apa-apa?" pertanyaan normal yang diajukan Boboiboy hari itu membuat pipi gadis itu merona.

Ia menggeleng lemah, meyakinkan pemuda dengan topi jingga itu bahwa terjatuh karena tersandung kaki orang lain tidak membuatnya harus di rawat di ruang kesehatan.

"Kau yakin? Wajahmu pucat."

Ia kembali menggeleng lemah dan pergi menjauh saat tatapan benci terarah padanya. Boboiboy hanya menatap kepergian gadis itu heran. Di belakang Boboiboy, Rena dan kawan-kawannya tersenyum puas.

oOo

Twingkle twingle little star. How i wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky.

Lagu itu. Lagi-lagi lagu itu kembali bergema di gendang telinganya. Kali ini tidak seperti berasal dari sistem suara, tapi langsung dinyanyikan oleh seseorang. Bergema indah namun mengerikan saat terdengat suara gesekan benda tajam di atas benda tajam lainnya.

Kepalanya sakit. Ia mencium bau amis dan merasakan basah di pelipisnya. Ia terduduk dan tangannya diikat di tangan kursi. Matanya mencoba fokus. Meneliti keadaan sekitarnya.

Putih. Dan ia melihat hitam besar di dekat tembok. Matanya kembali untuk fokus. Itu piano, dan ia ada di ruang musik namun ia tidak sendirian. Di depannya berdiri seorang gadis dengan rambut hitam panjang terurai. Ia memakai seragam sekolahnya. Entah apa yang tengah ia lakukan karena gadis itu membelakanginya. Disisi pinggirnya ada seorang gadis berdiri –atau lebih tepatnya menempel di tembok. Kedua tangannya ditahan oleh besi yang terlihat seperti potongan borgol yang di tanam di tembok, dan kakinya disangga entah oleh apa. Tapi benda itu terlihat seperti sebuah pemanas. Gadis itu Yaya.

Disampingnya dengan keadaan yang sama seperti Boboiboy, Ying, terikat di sebuah kursi. Mulutnya disumpal kain dan kacamatanya entah menghilang kemana. Kedua kakinya pun diikat di kaki kursi. Ia tidak dapat bergerak bebas.

Disampingnya lagi ada seorang pemuda gembul yang telah menjadi sahabatnya selama lima tahun terakhir. Gopal. Ia sama sama seperti Yaya, hanya saja ia tidak berdiri tapi tertidur. Kakinya pun di tekan ke lantai dengan potongan borgol tersebut.

Semua teman-temannya terlihat ketakutan. Mereka menangis dalam diam. Bahkan Gopal sekalipun.

"A-apa yang mau kau lakukan pada teman-temanku?

Gadis dengan rambut panjang terurai itu menoleh. Kulit putih pucat bak gadis asia timur, mata bulat, hidung mancung dan bibir tipis. Boboiboy pernah melihatnya. Walau rambutnya sudah tak dikepang dua, ia ingat siapa gadis itu. Mira ia dan Fang sering berpapasan dengan gadis itu di perpustakaan.

Mira tersenyum lebar. Rautnya mukanya cerah, tidak seperti saat siang. Ia melompat-lompat dan menepuk kedua tangannya senang. "Akhirnya kau bangun!"

"A-apa yang akan kau lakukan?"

Gadis itu mengejap-ngerjapkan kedua matanya seolah tanpa dosa. Ia tersenyum manis. "Tidak ada."

Bohong. Baju putih dengan bercak merah di bagian depannya. Dua tangan dengan bekas luka dimanapun. Dan nyanyiannya tadi. Tidak mungkin tidak ada apa-apa.

Ie berjalan ke arah Boboiboy. Jemari lentiknya menyentuh kening Boboiboy. Mengusapnya dan membersihkan bekas darah disana. Jemarinya bergerak ke arah bibir Boboiboy dan mengusapnya pelan sekali. Ia terkikik senang dan kembali ke tempatnya tadi. Entah melakukan apa.

"Apa kau yang melakukan semua ini?" tak ada respon. Mira masih tetap berkutik dengan apapun yang ada di tangannya. "Kenapa? Kenapa kau melakukan semua ini."

Mira pun berbalik.

Matanya menyorotkan rasa sedih dan amarah secara bersamaan. "Itu salah mereka." tatapan polos yang tadi menatapnya berubah menjadi tatapan benci. Dingin. Seolah siap membunuh kapanpun ia mau. Namun ekspresinya kembali berubah. Ia tertawa puas. "Ya. Itu semua salah mereka. Mereka semua salah. Mereka telah menyakitimu."

Mira melompat senang ke arah Boboiboy. Ia mengelus kedua pipinya. "A-apa?" tanya Boboiboy gemetar. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia takut. Ia ngeri.

"Kau tidak ingat?" tanya Mira sekali lagi. Boboiboy menggeleng lemah. Mira bergerak mundur, menatap Boboiboy polos. "Satpam itu. Dia melarangmu masuk hanya karena terlambat satu menit, ia bahkan menatapmu geram. Rena, dia selalu menertawakan hasil karya senimu. Dan Pak Heri, dia memarahimu hanya karena kau tidak bisa mengerjakan soal di papan tulis."

Boboiboy membulatkan matanya. Ini semua gila.

Mira kembali tertawa. Ia mengambil sebuah pisau kecil yang biasa dipakai saat praktek mempelajari anatomi katak. Ia memain-mainkan pisau tersebut. Ke atas dan ke bawah. Melemparnya dan menangkapnya dengan lihai. "Aku mengajari satpam itu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya dengan matanya itu. Aku mengajari Rena apa arti seni itu sesungguhnya. Dan aku mengajari pak Heri rumus-rumus kimia dan apa fungsinya."

Mira tersenyum lembut ke arah Boboiboy. "Ini semua untukmu."

Boboiboy menggelengkan kepalanya kuat. Tidak. Semua ini tidak benar. "L-lalu, a-apa yang akan kau lakukan pada teman-temanku?"

"Teman-teman? Mereka?"

Mira berjalan ke arah Yaya. Pisau kecil di tangannya ia dekatkan pada pipi Yaya. Ia menyeringai, kemudian ia goreskan secara perlahan pisau tajam itu pada pipi sang gadis. "Yaya. Cantik. Feminime. Disukai banyak orang." Pisau itu perlahan bergerak menuju dagu dan berhenti tepat di bawah dagu Yaya. Yaya menutup matanya kuat-kuat dan menahan isak tangisnya. "Tapi dia menggunakan wewenangnya untuk membuatmu di hukum dan berdiri di atas terik matahari. Karena itu ia juga harus merasakan apa itu panas." Ucapnya sembari mengetuk-ngetuk pemanas di bawah kaki telanjang Yaya.

Mira pun berjalan ke arah Ying. Kini ia menggoreskan pisaunya mengikuti garis rambut Ying, dari poni hingga telinga gadis itu. "Ying. Manis. Penurut. Dicintai banyak orang." Pisau itu kembali bergerak dan berhenti tepat di atas kain yang membekam mulut Ying. Menusuk-nusuknya perlahan seolah ingin merobek kain itu. Ying hanya bisa menutup matanya ketika pisau itu terus mencoba menerobos masuk. "Tapi ia tidak bisa menjaga mulutnya dan menertawakanmu hanya karena letak topimu yang tidak benar. Karena itulah ia harus belajar bagaimana cara mengunci lidahnya dengan benar."

Terakhir, ia bergerak ke arah Gopal. Ia letakan kakinya di atas perut Gopal dan menginjak-injaknya seperti ingin mematikan puntung rokok dengan kakinya. Gopal menggigit bibir bawahnya kuat agar tak ada erangan sakit keluar dari mulutnya. "Gopal. Pemuda yang menyebut dirinya kawan baikmu." Mira menghentakan kakinya di atas dada Gopal dengan kuat, membuat pemuda itu melepaskan gigitannya dan mengerang. "Tapi dia hanya memanfaatkamu saja dan menginjak-injak kau. Karena itulah ia harus mengerti apa artinya diinjak-injak itu."

Boboiboy hanya bisa terdiam di tempatnya melihat perlakuan Mira pada teman-temannya. Ia tidak dapat menggerakan bibirnya. Ia terpaku di tempat. Seluruh adrenalinnya berpacu saat mendengarkan satu persatu penjelasan Mira.

Ini gila. ini semua gila.

Mira kembali bergerak ke arah Yaya. Ia berjongkok di depan pemanas itu dan menyeringai.

Ia akan memulainya.

"Hentikan!" Mira menoleh sebelum ia sempat menekan tombol on. Boboiboy mencoba tersenyum walaupun ia terlihat lebih seperti ketakutan dengan mata yang memerah menahan air mata. "A-aku akan melakukan apapun untukmu. Jangan kau sakiti teman-temanku." Mira masih menatapnya. Menyelidiki kebenaran dalam kalimat Boboiboy. Ia berdiri dan masih menatapnya. "Apapun yang kau inginkan akan aku lakukan."

Tak lama Mira pun tersenyum cerah. Ia melompat riang ke arah Boboiboy. "Benarkah? Kau akan melakukan apapun?"

Boboiboy mengangguk cepat. Mira pun berteriak senang dan kembali melompat-lompat. Ia berlari ke arah Boboiboy dan memeluknya erat.

Ini akhirnya. Boboiboy sadar bahwa apa yang ia katakan akan mengakhiri kehidupan normalnya sebagai sebagai seorang murid. Dan akan menjadi awal dari neraka yang akan ia hadapi.

Tapi ini adalah keputusannya. Ia harus melakukannya. Yang diinginkan gadis –tidak, pembunuh keji di depannya ini adalah dirinya. Hanya ia yang dapat menghentikan aksi gilanya.

Tapi... ia takut.

oOo

TBC

oOo

A/N: Saya gak nyangka bakal dapet banyak respon. Padahal pas pertama bikin saya udah pasrah aja kalo misal cuma dapet satu atau bahkan gak dapet review sama sekali. Gak nyangka cerita hasil pelampiasan rasa kesal saya ini ada yang mau baca XD

Cerita ini masih berlanjut. Entah bakal nyampe berapa chapter. Saya masih belum puas menyiksa character fav saya. (Bagi yang merasa chara fav nya saya siksa, saya mohon maaf. Habis saya seneng sih nyiksa chara fav #dihajar). Oya, saya dapet ide ini pas banget pas saya dapet review yang ke 13. Keren ya? Bisa pas gitu!

Ngomong-ngomong, chara Mira terinspirasi dari Yuno Gasai dari Mirai Nikki (ada yang tahu?), saya sebenernya gak suka dia tapi entah kenapa saya mikir kalo chara dia pasti masuk ke fanfic ini. Oh! Dan seperti yang disebutkan di atas, alur cerita ini bakal maju mundur. Jadi maaf kalo misalnya reader agak pusing bacanya. Saya suka aja bikin alur maju mundur, lebih misteri gitu rasanya. Ahaha #plak.

Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca, mereview, memfav, dan memfollow cerita hasil sisi sadistic saya ini. Kritik dan sarannya saya terima. Flame juga boleh kok (karena saya udah nyiksa chara fav para reader soalnya).

For last

If you don't mind

Review please?