The Terror

By Chocolate Bubbletea

Boboiboy ©Animonsta

Warning: OOC, AU, Typo, Gore, no-romance, alur maju mundur, gaje, and more

oOo

Don't Like Don't Read

oOo

Sudah berhari-hari berlalu semenjak mereka mulai menyelidiki kasus Grim Reaper ini. Tapi semuanya nihil. Tak ada informasi apapun yang dapat menuntun mereka pada sang pelaku. Walaupun semua anggota klub pecinta misteri –bahkan seluruh murid- beranggapan bahwa yang melakukan ini adalah arwah seorang murid yang dahulu mati di bully, tapi mereka yakin ada sebuah penjelasan logis tentang semua ini.

"Kalian tidak boleh menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi!"

Itulah yang di ucapkan ketua OSIS saat mereka meminta data siswa satu angkatan tiga belas tahun yang lalu. Matanya menyorotkan rasa takut saat mereka mengucapkan nama Grim Reaper.

Ia adalah seorang siswi tingkat akhir dengan sikap yang terlalu serius. Tak ada yang berani mendekatinya. Katanya ia tidak suka bercanda, ia tidak suka seluruh murid angkatannya, dan yang paling tidak ia sukai adalah klub pecinta misteri. Tak ada yang tahu apa alasannya. Mungkin ia seorang realist sejati yang tak suka cerita tahayul. Mungkin juga karena ia seorang ketua OSIS hingga apapun yang melanggar peraturan akan ia benci. Tapi yang jelas ia cukup membenci klub pecinta misteri hingga ia selalu berusaha menghilangkan keberadaan klub tersebut.

Walaupun apa yang ia dapat adalah zero. Ia tidak mungkin bisa menghilangkan klub illegal yang bahkan kepengurusannya pun tidak jelas.

Fang mencurigainya.

Sikap tidak wajarnya, keinginan besarnya untuk menghapuskan keberadaan klub pecinta misteri, dan sorot matanya saat pertama kali Fang bertatapan dengannya. Semua itu adalah beberapa petunjuk yang membuat Fang mencurigai sang ketua OSIS. Tapi ia tidak bisa gegabah. Ia tidak memiliki bukti kuat dan ia bukan seorang esper atau ahli psikolog yang dapat membaca air muka seseorang dengan mudah.

"Tidak mungkin ketua OSIS kan? Kita tidak punya bukti apapun."

Boboiboy tidak dapat setuju dengan Fang. Posisi ketua OSIS terlalu mencolok. Yang pertama kali disorot atas kejadian ini tentu saja ketua OSIS jadi kemungkinan untuk ketua OSIS yang menjadi pelakunya itu sangatlah tipis.

Tapi disaat yang bersamaan posisi itulah yang membuatnya dapat berkamuflase dengan baik.

oOo

"Semua orang di dunia ini busuk!"

Sorot mata yang tadinya ceria, penuh rasa cinta dan kagum pada padanya berubah drastis saat Boboiboy bertanya mengapa ia melakukan semua ini. Pisau bedah di tangannya ia tancapkan di meja. Di cabut. Di tancapkan lagi hingga kelima kalinya ia berhenti. Ia kembali menatap Boboiboy.

Boboiboy takut. Tubuhnya bergetar tapi coba ia lawan rasa takut masih membungkam mulutnya dan menangis. Ying pun demikian, hanya saja ia menutup kedua matanya erat-erat. Gopal menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis dan rasa perih akibat diinjak-injak dengan sepatu berhak kayu milik Mira. Dan Mira... ia berjalan ke arah Boboiboy. Mengelus kedua pipinya dan tersenyum cerah.

"Tapi kau berbeda. Hanya kau. Hanya kau yang pantas ada di dunia ini. Hanya kau Boboiboy."

Boboiboy menelan ludahnya, berusaha untuk tetap tenang. "Lalu, bagaimana dengan kau? Jika menurutmu semua orang itu busuk. Bagaimana dengan kau?"

Mira terdiam. Ia mundur. Ia mengedip-ngedipkan matanya dan memiringkan kepalanya bingung. "Aku?"

Boboiboy kembali menelan ludahnya. Jika ia salah mengucapkan pertanyaannya maka rasa kagum Mira padanya akan hilang. Ia akan balik membenci Boboiboy seperti ia membenci semua orang. Hal itu akan membahayakan dirinya dan teman-temannya.

"Aku tidak tahu."

oOo

Allissya.

Siswi kelas 3-1. Ketua OSIS dengan reputasi sebagai ketua OSIS yang paling tegas dan serius selama sepuluh tahun terakhir. Semua orang takut padanya. Satu kesalahan kecil saja maka kau akan langsung dikirim ke ruang BK.

Banyak rumor yang mengatakan kalau dulu ia penyendiri. Ia pemalu. Dan ia tidak memiliki seorang pun teman. Sasaran empuk untuk mejadi mainan bagi kakak kelas yang mulai bosan dengan kehidupan sekolah mereka.

Dua tahun lalu ia pernah ditemukan tergeletak lemas dengan rambut berantakan, baju compang-camping, dan bekas lebam dimana-mana. Ia tidak berbicara. Ia bahkan menolak membuka mulutnya. Selama lebih dari dua minggu ia dirawat di rumah sakit.

Satu bulan kemudian muncul sebuah berita kalau beberapa murid kelas 3 ditemukan tewas terombang-ambing di sungai. Tak ada saksi mata. Tak ada bekas penganiayaan. Banyak yang mengasumsikan bahwa mereka mati bunuh diri karena stress.

Tapi semenjak kejadian itu sikap Allisya berubah. Ia menjadi sosok yang serius dan semakin menjauhkan diri dari banyak orang.

"Itu yang membuatnya lebih mencurigakan dari yang lainnya!"

Fang masih bersikeras dengan kesimpulannya. Setiap analisis yang ia lakukan akan selalu mengarah pada sang ketua OSIS. Ia seolah ingin memojokan sang ketua OSIS. Namun disaat yang bersamaan ia terlihat tidak ingin memojokannya.

"Kita tidak punya bukti apapun. Itu hanya kesimpulan tanpa dasar."

"LALU APA?! Apa yang harus kita lakukan? Aku lelah dengan kasus ini." Fang munundukan kepalanya. Tubuhnya masih sedikit bergetar setelah melihat kejadian kedua beberapa jam yang lalu. "Tapi aku tidak bisa membiarkan semua ini terus terjadi."

Harus ia akui, tubuhnya pun masih bergetar setelah melihat keadaan salah satu teman sekelasnya tadi pagi. Tangannya masih dingin dan ia tidak bisa fokus.

"Apa yang sebenarnya ia inginkan?"

oOo

Tak banyak yang diinginkan oleh Mira. Ia hanya ingin Boboiboy ada disampingnya. Menemaninya dan berbicara dengannya. Hanya dengannya.

Kejadian malam itu mengubah hidup Boboiboy seratus delapan puluh derajat. Tak ada lagi bercengkrama dan bercanda gurau di kelas. Tak ada lagi makan bersama di kantin. Tak ada lagi bermain sepak bola bersama di lapangan. Bahkan semua teman-teman baiknya seolah kehilangan jati diri mereka.

Yaya. Ia mengundurkan diri dari semua klub dan jabatan yang ia miliki. Banyak guru dan rekannya yang menyayangkan hal tersebut tapi Yaya tidak pernah mengatakan alasan mengapa ia mengundurkan diri dari semua jabatan yang telah ia raih dengan susah payah itu. Setiap hari ia hanya duduk di kelas tanpa pergi kemanapun, ia hanya akan keluar jika bel tanda pulang sudah berbunyi. Ia selalu keluar cepat tanpa mempedulikan panggilan teman-temannya.

Ying. Ia juga mengundurkan diri dari klub yang ia masuki. Ia membungkam mulutnya. Tak pernah sekalipun mengeluarkan lagi suara tinggi khasnya. Ia tak pernah ingin berlama-lama di kelas. Ia selalu berlari entah kemana. Kadang duduk di taman sekolah. Kadang menyendiri di pojok perpustakaan. Tapi ia lebih sering menyembunyikan dirinya di tempat dimana tidak ada siapapun disana. Ia hanya akan kembali tepat ketika bel tanda masuk berbunyi.

Gopal. Tiga hari pertama ia tidak masuk sekolah. Alasannya karena ia sakit. Hari keempat dan seterusnya ia selalu menjauhi Boboiboy. Ia bahkan tidak pernah lagi ingin bertatap muka dengan Boboiboy. Selera makannya menurun. Bahkan kerap kali ia memuntahkan apa yang baru saja ia telan. Ia tidak pernah keluar dari rumahnya, hanya keluar untuk pergi bersekolah kemudian langsung pulang dan mengunci dirinya di kamar.

Fang. Tak ada kabar yang jelas tetangnya. Boboiboy bahkan tidak tahu apakah pemuda itu masih hidup atau tidak. Tubuhnya menghilang tanpa jejak. Mira bahkan tidak pernah menyebutkan apapun tentang Fang. Gadis itu seolah tidak pernah mengenal dan melihat pemuda itu. Ia seolah lenyap begitu saja ditelah bumi. Tak ada yang tahu rumahnya. Bahkan file file identitas dirinya menghilang begitu saja walaupun namanya dalam daftar hadir masih ada.

Sedangkan Boboiboy, ia harus tetap berada di sisi Mira. Membiarkan gadis itu memeluk lengannya. Menggenggam tangan Mira –tangan yang sama dengan tangan yang membunuh orang-orang dengan keji- tiap kali ada siswa yang menatap benci gadis itu. Mencoba meyakinkan Mira bahwa ia tidak butuh orang lain. Ia hanya butuh Boboiboy.

Orang tua teman-temannya sudah menghubungi pihak polisi begitu mereka melihat perubahan sikap anak-anak mereka. Namun polisi tak pernah mendapat informasi apapun karena baik Yaya, Ying, maupun Gopal tidak mau membuka mulutnya saat di investigasi. Hanya keberadaan orang tua Fang yang tidak diketahui saja lah yang tidak melapor pada polisi tentang putra mereka yang menghilang entah kemana. Mereka seolah tak peduli pada anak mereka.

Tak banyak yang dapat Boboiboy perbuat. Dengan Mira yang selalu berada disisinya, ia tidak dapat bergerak bebas. Hanya ketika gadis itu pergi ke toilet dan saat pulang saja Boboiboy dapat bergerak bebas.

oOo

Tanpa di duga, kejadian keempat terjadi. Hari itu kelas 1-2 akan melaksanakan pelajaran olah raga. Semua murid menunggu di lapangan sedangkan guru pengajar mereka pergi untuk mengambil beberapa bola basket di gudang perlengkapan.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKHHHH!"

Teriakan serak itu membuat semua murid di lapangan berlari ke arah gudang perlengkapan. Guru pengajar mereka terduduk lemas di depan gudang. Semua murid bertanya apa yang sudah terjadi sampai salah seorang murid laki-laki menunjuk ke arah dalam gudang.

Dua orang gadis. Mereka tergeletak tak bernyawa di dalam sana. Tangan, kaki, bahkan jari-jari mereka patah. Patah ke segala arah. Lengan gadis dengan rambut pendek sebahu bahkan seperti hampir terputus. Rambut mereka basah, wajah mereka memar, dari hidung mereka masih mengalir darah segar yang bercampur dengan air. Rahang mereka terlepas dan lidah mereka seperti ditusuk oleh besi panas.

Disampingnya Mira menatap kedua orang tersebut dengan tatapan sedingin es. Tak ada rasa takut. Tak ada rasa bersalah. Bahkan tak ada rasa puas dan senang disana. Kedua iris gelapnya seolah mati.

Kejadian tersebut tak ayal membuat setiap kegiatan di sekolah di hentikan. Polisi berdatangan dan melakukan olah TKP dengan cekatan. Awak media kembali datang dan meliput kejadian mengerikan tersebut, merekam dan mewawancari beberapa murid dari kelas 1-2.

"Kenapa kau lakukan semua ini? Bukankah kau tidak akan menyakiti siapapun lagi?"

Mira hanya terdiam dan bertingkah polos seolah tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Boboiboy saat mereka berhasil menjauh dari keramaian. Boboiboy menggigit bibit bawahnya kuat. Ia ingin berteriak, ia bahkan ingin menampar atau bahkan memukul gadis di depannya ini. Tapi ia tidak bisa melakukannya.

Sudah berkali-kali ia mencoba mencari cara untuk menangkap dan mengirimkan gadis ini ke pihak kepolisian namun sayangnya ia tidak bisa menunjukan bukti apapun. Mira menguasi semua bukti yang ia butuhkan. CCTV, alat perekam, bahkan sistem alarm sekolah. Ia mengendalikan semuanya.

"Karena mereka pantas mendapatkannya." Itulah yang diucapkan Mira setelah ia terdiam selama beberapa menit. Ia kembali tersenyum dan menarik-narik lengan Boboiboy. "Ayo ke kantin!"

oOo

Kejadian keempat memaksa Boboiboy untuk kembali turun tangan. Ia memasuki sekolah secara sembunyi-sembunyi seperti malam itu.

Sekolah terlihat sepi. Kali ini Boboiboy hanya menyiapkan pisau lipat sebagai pertahannya. Takut-takut jika ia bertemu dengan Mira yang kehilangan kendali dirinya.

Matanya terus mengedar, mencari kejanggalan di setiap tempat yang ia lewati. Nihil. Tak ada satupun kejanggalan. Semuanya terlihat normal. Tapi Boboiboy tetap tidak bisa mengendorkan pertahanannya. Ia tidak boleh melakukan kesalahan seperti malam itu.

Jantungnya berpacu, keringat dingin meluncur bebas di pelipisnya, bulu kuduknya berdiri, dan seluruh tubuhnya menegang begitu mendengar jerit pilu jauh di depannya.

Ia harus maju. Ia harus bergerak. Ia harus menolong siapapun orang tersebut. Tapi kakinya menolak.

Boboiboy menarik nafasnya dalam. Ia menguatkan genggamannya pada pisau lipat di tangan dan mulai berlari. Berlari menuju sumber teriakan tersebut.

Ia berbelok, menuruni tangga dan berhenti. Matanya terbelalak lebar. Di depannya berdiri sosok Mira dengan cipratan darah segar di seragam putih dan kulit pucatnya. Rambutnya kembali terurai. Ditangan kanannya, ia genggam sebuah palu kecil yang sering Boboiboy lihat di ruang kesehatan. Palu itu sudah tak berbentuk dengan darah segar mengalir dari tangan Mira hingga ujung palu tersebut. Di tangan kirinya, ia menarik kepala seseorang. Seorang murid laki-laki. Ia menyeret tubuh mungil orang yang sepertinya masih benafas itu seolah ia adalah boneka manusia.

"Boboiboy? Kenapa kau ada disini?"

Mira melepaskan orang tersebut. orang tersebut jatuh dengan keras. Boboiboy dapat melihat jelas betapa mengerikannya hal yang dilakukan Mira pada pria malang tersebut. Hidungnya patah, pipinya sudah sangat membiru dan berdarah-darah, bibirnya robek dan sebelah matanya berdarah seperti habis ditusuk bagian tajam palu di tangan Mira. Membuatnya sulit untuk dikenali. Selain itu kedua kakinya patah tak berbentuk, dan bajunya kotor seperti telah diinjak berkali-kali.

"K-Kenapa? KENAPA KAU LAKUKAN SEMUA INI?! APA SALAH MEREKA?!" tanpa sadar Boboiboy berteriak pada Mira. Gadis itu terdiam. Ia terkejut.

"K-kenapa kau berteriak padaku?" tanya Mira dengan suara bergetar. Palunya ia jatuhkan begitu saja. Bibirnya bergetar dan mataya berair. Ia kembali bertanya. "Kenapa?"

"KENAPA KAU BILANG?! ITU YANG HARUS AKU KATAKAN PADAMU!" Entah setan apa yang merasukinya hingga Boboiboy berani mengacungkan pisau lipatnya pada Mira. "AKU MEMBENCIMU! KAU MENYAKITI SEMUA TEMAN-TEMANKU!"

Mira menangis. Ia menundukan kepalanya. Matanya kosong. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu bohong... itu semua bohong."

Boboiboy masing mengacungkan pisau lipatnya. Ia marah. Ia panik. Ia takut. Mata Mira yang tadinya kosong kini menatapnya benci. Aura gelap menyelimuti gadis itu.

"Kupikir kau berbeda. Kupikir kau pantas ada di dunia ini seperti kakakku." Ucapnya dingin. Tak ada sorot kagum dimatanya, tak ada nada cerah dalam suaranya. Namun tak lama kemudian tanpa diduga Mira tertawa. Ia tertawa sembari menangis. "Tapi aku salah. Aku salah. Kau sama saja seperti orang-orang itu. KAU TAK PANTAS ADA DI DUNIA INI!"

Mira berjalan perlahan ke arah Boboiboy. Ia masih tertawa. Boboiboy takut, walau dengan pisau lipat di tangannya ia tidak yakin dapat menyaingi pembunuh gila di depannya. Boboiboy kehilangan kendali emosinya. Ia tak seharusnya melakukan hal itu. Kini semua orang di sekolah ini lebih dalam bahaya. Ia baru saja melepaskan seekor monster pembunuh berdarah dingin.

"HENTIKAN MIRA!"

Langkah Mira terhenti. Ia berhenti tertawa. Ia terkejut. Matanya terbelalak lebar dan kedua irisnya kembali mengalirkan cairan bening yang berubah kemerahan begitu menyentuh bercak merah di pipinya. Lalu ia terseyum lebar dan sorot matanya kembali cerah.

Boboiboy membalikan tubuhnya. Ia seolah mengenal suara ini. Dan sekali lagi ia terkejut. "Tidak mungkin... Ini mustahil... Bagaimana bisa..."

"KAKAK!"

"Fang..."

oOo

TBC

oOo

A/N: Cliff hanger! Dan Fang?! Apa yang sebenarnya terjadi? Ok, pertanyaan itu pasti terngiang-ngiang di otak reader semua. Saya sengaja stop disini supaya reader lebih penasaran lagi #Dihajar. Tapi serius, saya stop disini supaya lebih tegang aja. Untuk chapter depan, pertanyaan itu akan terjawab jadi mohon bersabar.

Ngomong-ngomong, waktu nulis chapter ini saya bener-bener bingung gimana mau nulis cerita ini supaya gak membosankan dan mudah ketebak. Pokoknya saya dibingungin sama peran Fang di fic ini. Itu anak bikin saya pusing deh! #DicakarHarimauBayang. Tapi akhirnya saya nemu peran yang cocok (dan mungkin agak mengejutkan). Bagi reader yang teliti pasti udah bisa nebak peran Fang disini apa.

Untuk chapter depan, saya kasih spoiler dikit. Bagi penggemar Fang, chapter depan (kemungkinan) bakal banyak fokus ke dia. Jadi bersiaplah untuk terkejut. Ok. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih bagi orang-orang yang masih mau bertahan sama fanfic horror gagal ini. Daripada horror, ini lebih mirip fanfic menyiksa karakter Boboiboy -_-

For last

If you don't mind

Review please?