The terror
By Chocolate Bubbletea
Boboiboy ©Animonsta
Warning: OOC, Typo, AU, Gore, No-romance, less dialogue, alur maju mundur , and more
oOo
Don't Like Don't Read
oOo
Gelap.
Dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia bisa ada disini? Apa yang sebenarnya ia lakukan? Siapa ia sebenarnya?
oOo
Ia tidak diinginkan.
Sejak pertama kali kedua orang itu mengambil tanggung jawab untuk menjaganya, Fang tahu mereka tidak pernah benar-benar menginginkannya. Itu hanya alasan, sebuah strategi untuk mengambil dan menggunakan apa yang belum dapat Fang miliki karena umur yang masih terlalu belia. Mereka hanya menggunakannya untuk mendapatkan semua hak miliknya yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya karena sebuah kecelakaan mobil.
PRANG.
Entah sudah yang keberapa kali piring melayang ke arahnya. Mengenai kepalanya dan jatuh hingga pecah. Bukan hanya piring saja. Sendok, garpu, gelas, vas bunga, pigura foto dan benda-benda keras lainnya kerap kali mereka layangkan padanya ketika amarah mulai menguasai. Ia tidak bisa melakukan apapun. Mereka mengikatnya. Mereka tahu batasan apa yang tidak bisa ia lewati untuk menghadapi mereka.
"Cepat punguti sampah itu dan pergi dari hadapanku!" itulah yang selalu mereka teriakan padanya saat mereka puas.
Fang tidak punya pilihan lain selain melakukan apa yang mereka perintahkan. Ia memunguti pecahan piring bekas makan malam itu dengan cepat. Tidak peduli jika kepalanya masih berdenyut-denyut dan perih. Tidak mempedulikan serpihan kecil yang menusuk dan melukainya. Ia tidak ingin berlama-lama diam di tempat ini. Ia tidak ingin berlama-lama ada di hadapan salah satu atau kedua orang yang menyebut diri mereka sebagai paman dan bibinya.
Paman dan bibinya kembali berkelahi karena sebuah alasan konyol. Perselingkuhan, harta benda, alkohol dan diskotik. Fang sama sekali tidak mengerti mengapa mereka harus meributkan hal konyol seperti itu, dan ia sendiri tidak mengerti mengapa selalu dirinya yang menjadi pelampiasan amarah mereka.
Setelah selesai memunguti dan membuang pecahan piring itu, Fang bergegas naik ke kamarnya. Kamarnya dan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ia tersenyum simpul begitu melihat sosok gadis kecil yang masih balita tengah bermain dengan boneka kelinci kesayangannya. Gadis kecil yang merupakan satu-satunya keluarga yang paling ia sayangi semenjak ia kehilangan kedua orang tuanya.
Gadis kecil itu menoleh begitu mendengar pintu kamarnya dibuka. Ia tersenyum lebar dan memeluk Fang erat. "Kakak!"
"Maaf aku meninggalkanmu sendirian lagi."
Gadis kecil dengan rambut gelap sebahu itu menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum lebar pada sang kakak. "Yang penting kakak kembali dan bersamaku."
Fang kembali tersenyum. Ia sungguh merasa bersalah pada adik kecilnya ini. Ia selalu meninggalkan gadis kecil dengan nama Mira itu di tempat ini. Fang memang mengunci kamar ini jika keluar agar kedua orang itu tidak bisa menyentuh adik kecilnya tapi tetap saja Fang merasa bersalah karena ia tidak bisa selalu bersama dengan Mira seperti apa yang ia janjikan pada kedua orang tuanya.
"Kakak membawa nasi lemak ini dari bawah, sekarang makanlah!" ucap Fang sembari mengeluarkan sebungkus nasi lemak yang diam-diam ia ambil dari dapur. Mira memperhatikan nasi lemak itu dan Fang bergantian. Mata bulatnya yang ia warisi dari sang ibu menatapnya polos tapi Fang sadar jika adik kecilnya ini sedang menelitinya.
Mira adalah gadis yang pintar. Ia paham kapan ia boleh makan dan tidak. Fang tahu jika Mira selalu memakan apa yang ia berikan saat pagi hari sedikit demi sedikit agar saat siang ia juga masih dapat makan. Fang juga tahu kalau Mira melakukan hal itu setelah gadis kecil itu melihatnya melakukan hal yang sama. "Kakak juga makan."
Fang tersenyum miris. Mira masih sangat memperhatikannya disaat Fang hanya bisa memberikan sedikit makanan dan waktunya untuk gadis kecil itu. Hampir setiap hari ia harus selalu berangkat ke sekolah untuk menjalani tugasnya sebagai seorang siswa. Hampir setiap hari ia meninggalkan Mira sendirian di ruangan kecil mereka dengan hanya ditemani oleh boneka kelinci putih pemberian ayah mereka dan suara teriakan dua orang dewasa dari lantai bawah. Fang ingin keluar dari sekolahnya. Ia ingin berhenti bersekolah dan tetap di sisi Mira untuk menjaganya. Tapi ia tidak bisa.
Mereka melarangnya. Mereka akan memaksanya masuk karena itu adalah salah satu kebohongan busuk yang mereka buat agar mereka terlihat seperti penjaga yang baik. Agar mereka masih dapat menguasai apa yang tengah mereka pegang saat ini. Dan ia tidak bisa menolaknya. Ia harus pergi ke tempat bernama sekolah itu atau mereka akan melakukan sesuatu pada adik kecilnya.
oOo
"Cih! Tukang pamer."
"Sok populer! Dia pikir dia ini keren hanya karena nilainya tinggi."
"Sombong sekali dia! Memangnya dia pikir laki-laki itu hanya dia."
Kalimat-kalimat itulah yang selalu ia dapat sebagai ucapan selamat pagi ketika menginjakan kakinya di sekolah. Bisikan benci sudah sering ia telan mentah-mentah. Ia tidak tertarik untuk membalas semua ucapan itu. Percuma, hanya akan membuang-buang waktu dan tenaganya. Setelah hampir setengah tahun ia bersekolah di tempat ini, ia sudah hampir terbiasa dengan perlakuan kasar senior-seniornya.
Dan ia juga terbiasa saat melihat mejanya menghilang.
Kadang Fang berpikir, apa mereka tidak bosan melakukan ini padanya? Apa salahnya? Sebegitu bencikah mereka padanya?
Fang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Setiap murid di kelas itu menundukan kepala mereka, bertingkah seolah mereka tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi pada mejanya. Percuma jika ia bertanya pada orang-orang itu. Fang berjalan ke arah jendela, melihat ke arah bawah dari kelasnya yang berada di lantai dua. Dari atas ia melihat mejanya. Fang menghela nafasnya dan kembali turun untuk mengambil meja tersebut.
Meja berwarna merah itu sudah kehilangan warna cerahnya akibat tanah yang menyelimuti. Selain itu ia juga melihat sayatan pisau di permukaan mejanya.
Menjijikan. Dasar Sombong. Freak. Dasara sialan. Pergi kau dari sini!
Itulah yang tertulis acak disana. Terlihat jelas bukan hanya satu orang yang menuliskan kata-kata tersebut. Mungkin tiga atau lebih.
Fang memang sudah mulai terbiasa dengan perlakuan seperti ini tapi tetap saja ia memiliki batasan. Fang sudah lelah dengan semua ini. Ia lelah jika harus kembali ke ruang guru untuk meminta meja baru. Ia lelah diperlakukan sebagai mainan oleh senior-seniornya. Ia lelah menjadi bahan gunjingan setiap siswa di sekolah ini.
"Kau itu seorang jenius. Aku senang dapat bertemu seorang jenius sepertimu." Kata-kata guru matematikanya lah yang menjadi salah satu obat penenang bagi Fang. Guru dengan wajah tirus dan ekspresi lembut yang selalu menghiasi wajah yang begitu mengingatkan dirinya akan sosok sang ibu itulah yang membuatnya terus bertahan. Setiap kata yang ia ucapkan selalu menjadi penopang bagi Fang untuk tetap berdiri dan bertahan. Selain itu... "Kelak nanti, kau akan menjadi seseorang yang berjaya." Kalimat yang ia ucapkan itulah yang menjadi pendorong dirinya untuk tetap berada di puncak akademik walau banyak yang mencemooh dan membencinya. Setidaknya suatu saat nanti, ia akan mampu membawa Mira pergi dari neraka yang mereka sebut rumah itu.
Namun tetap saja kalimat 'suatu saat nanti' masih sangat jauh. Fang menyadari hal itu ketika beberapa senior menguncinya di salah satu bilik toilet dan menyiramnya dengan air pel. Seolah tak puas, mereka juga meletakan tanda 'SEDANG DIPERBAIKI' tepat di depan pintu toilet pria di lantai dua.
Dingin. Fang benar-benar merasa kedinginan. Dulu ia selalu berharap akan ada seseorang yang datang membantunya tapi sekarang ia sadar. Orang-orang itu terlalu penakut untuk menghadapi pihak yang membencinya –apalagi jumlah mereka cukup banyak. Mereka terlalu takut untuk mendapat perlakuan yang sama sepertinya. Fang sudah tidak pernah lagi berharap akan ada orang yang membantunya. Ia harus keluar dari masalahnya seorang diri.
Tapi Fang sadar, jauh dalam hatinya ia berharap ada seseorang yang mau membantunya dan adik kecilnya.
oOo
"KENAPA KAU JATUHKAN GELASKU!" Teriak pria paruh baya yang menyebut dirinya sebagai pamannya itu. Bau pekat alkohol tercium jelas saat ia berteriak, wajahnya pun memerah tanda ia tengah dalam keadaan mabuk berat.
Tanpa ragu pria itu memukul pipinya keras hingga ia terjatuh ke belakang. Pria itu menarik kerah seragamnya dan kembali memukul wajahnya berkali-kali. Setelah itu ia melempar tubuhnya hingga membentur tembok dan menendangnya tanpa ampun.
Fang hanya dapat mampu mempertahankan dirinya dengan kedua tagan yang ia gunakan sebagai tameng. Ia terlalu lelah untuk melawan. Ia sudah cukup merasa lelah dikunci di toilet selama berjam-jam dan harus keluar dari toilet itu tanpa bantuan siapapun dan sekarang? Begitu ia berharap dapat masuk ke kamarnya untuk beristirahat, yang ia dapat justru pukulan bertubi-tubi dari pamannya yang tengah mabuk berat.
Setelah puas menendangnya, pria itu menendang serpihan gelas bekas alkoholnya yang telah pecah ke arah Fang. Dan ia pun pergi keluar dari rumah sembari meneriakan. "Lebih baik kau mati saja!"
Perih. Sakit. Seluruh tubunya berdenyut-denyut. Ia kesulitan untuk berdiri. Tapi ia harus segera pergi dan mengambil makanan di dapur yang dapat ia berikan pada Mira. Ia harus tetap bertahan. Ia harus tetap bertahan demi adik kecilnya.
Senyum cerah menyambutnya begitu ia membuka pintu kamar mereka. Namun senyum itu tak bertahan lama begitu melihat keadaan sang kakak yang berjalan tegopoh-gopoh dengan luka lebam dan baju basah.
"Kakak kenapa?" tanya gadis mungil itu khawatir. Kedua matanya berair, siap mengeluarkan cairan bening yang entah sejak kapan tidak pernah lagi terlihat di wajah manisnya semenjak kematian kedua orang tuanya. Fang menggeleng lemah dan memberikan sebuah roti coklat yang tergeletak di meja dapur. Mira tidak mengambilnya, ia menangis sesenggukan dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mira tidak mau makan."
Fang menghela nafasnya. Dengan susah payah ia duduk dan mensejajarkan tubuhnya dengan Mira. Walaupun perih di pipinya masih mendominan, ia berusaha tersenyum. "Kakak tidak apa-apa. Besok juga kakak sembuh. Sekarang kamu makan ya? Nanti kalau kamu sakit, kakak juga akan sakit."
Mira masih menangis sesenggukan namun ia mengambil roti yang diberikan Fang. Fang pun segera beranjak untuk berganti pakaiannya. Ia tidak mungkin terus-terusan memakai baju basah.
Mira melahap rotinya perlahan. Ia masih menangis tapi Fang tahu gadis itu berusaha untuk menghentikan tangisannya. Mira memotong rotinya yang masih belum termakan dan memberikannya pada sang kakak begitu Fang duduk di sampingnya. Ia tidak ingat sejak kapan sosok adik kecilnya yang polos berubah menjadi gadis kecil yang kuat seperti sekarang. Fang terkejut, rasanya ia ingin menangis begitu mengingat bahwa apa yang membuat Mira seperti sekarang adalah karena ia tidak bisa menjaganya.
Ia mengambil potongan roti yang diberikan Mira. "Amis." Rasa potongan roti begitu ia kunyah itu seperti darah. Mungkin karena gusinya robek saat dipukuli. Mungkin juga karena gigi grahamnya yang patah. Tanpa sadar pandangannya mulai buram karena air mata. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Mira tapi ia sudah cukup lelah dengan semua ini. Ia tidak ingin lagi hidup seperti ini.
oOo
"Fang! Kau dipanggil kakak kelas tuh." Ucapan salah satu teman sekelasnya membuat Fang menghentikan aktifitasnya mengikat tali sepatu seusai berganti pakaian di ruang ganti. Teman sekelasnya itu menundukan kepalanya, enggan untuk menatap dirinya langsung. Fang punya firasat buruk saat teman sekelasnya itu berlari pergi setelah menyampaikan pesan yang ia dapat.
Fang memutuskan untuk mengabaikan perintah kakak kelasnya. Ia harus segera pulang sebelum kedua orang itu sampai di rumah, sebelum mereka mulai menyentuh gadis kecilnya. Namun sayangnya, senior yang memanggilnya itu justru mencegatnya di gerbang sekolah. Tiga orang senior dengan ukuran badan yang cukup besar menyeretnya ke gudang perlengkapan.
Tiga orang seniornya itu menyeringai puas ketika tubuh Fang dilempar hingga membentur keranjang bola. "Berani sekali kau mengabaikan perintah kami." Ucap salah seorang senior dingin.
"Hanya karena kau jadi anak kesayangan guru, jangan harap kau bisa seenaknya mengabaikan perintah seniormu! Gara-gara kau semua guru memandang rendah kami!"
Salah satu senior menariknya berdiri dan memegangi kedua tangannya. Dua senior lainnya menyeringai dan mulai melayangkan kepalan tangan mereka ke wajah Fang.
DUAGH BUGH DUUGH BAAKH
Tanpa ragu ketiga orang itu memukul dan menendangnya. Fang beberapa kali mencoba memberontak namun kekuatan senior yang tengah memeganginya saat ini terlalu kuat untuk ia lawan. Pada akhirnya Fang hanya dapat diam menahan sakit saat kepalan kepalan itu menghantam tubuhnya.
"Orang yang seenaknya dan sok keren sepertimu sebaiknya menghilang saja!"
Setelah puas mereka bertiga pun keluar dari gudang itu, meninggalkan Fang yang hanya bisa terduduk lemas tak bisa berdiri. Ia sakit, ia lelah, mengapa semua ini harus terjadi padanya? Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran semua orang itu.
oOo
Ia terlambat. Paman dan bibinya sudah ada di rumah. Yang lebih parahnya lagi mereka tengah bertengkar hebat. Kali ini mereka saling berteriak memperebutkan surat kepemilikan tanah yang seharusnya milik Fang dan Mira. Fang berusaha masuk dengan sembunyi-sembunyi namun dengan langkahnya yang terseok, kedua orang itu dengan cepat menyadari keberadaannya.
"Darimana saja kau?" teriak sang bibi. Matanya terbelalak lebar begitu melihat keadaan Fang. "Kau berkelahi?! Dasar anak tidak berguna! Bisa-bisanya kau berkelahi seperti itu, kau bisa mencoreng nama baik kami!" bibinya mengambil asbak rokok yang ada di hadapannya. Melemparkan benda itu pada Fang. "Pergi dari hadapanku! Kau membuatku jijik!"
Fang menuruti perintahnya dan segera naik ke kamarnya dengan langkah terburu, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia bahkan lupa untuk mengambil makanan untuk Mira.
"Kakak?" tanya Mira begitu Fang masuk ke kamar mereka. Matanya kembali meneliti keadaan sang kakak. Sama seperti kemarin.
Fang tidak menghiraukannya, ia langsung menjatuhkan dirinya di lantai. Ia tidak lagi mempedulikan Mira yang menggoyang-goyangkan tubuhnya sembari bertanya apakahia baik-baik saja. Fang hanya mendudukan dirinya dan menunduk lemas.
Ia sudah lelah. Ia sudah tidak tahan dengan semua ini. Mengapa semua ini harus terjadi padanya? Mengapa semua orang itu membencinya? Apa salahnya?
Semua orang di dunia ini busuk. Fang seolah mendengar sebuah suara di kepalanya. Ia tidak tahu suara siapa itu. Mungkin itu suara hati terdalamnya, mungkin juga itu suara sisi gelap hatinya tapi entah mengapa ia tersenyum.
"Ah... itu benar. Semua orang di dunia ini busuk."
Mereka sebaiknya menghilang saja. Kali ini Fang tertawa.
"Iya... itu benar... sebaiknya mereka menghilang saja dari dunia ini."
oOo
Merah.
Tangan, baju, bahkan wajahnya dihiasi cairan merah berbau amis itu. Ia tidak ingat kenapa ia bisa berlumuran darah seperti ini. Semua memorinya blur. Yang ia ingat hanyalah ia turun dari kamarnya untuk mengambil makanan di dapur secara diam-diam. Saat ia mencoba mengambil makanan di lemari es, pamannya yang baru datang dari klub malam hari itu memergokinya. Pria paruh baya itu marah besar dan melempar kaleng birnya ke arah Fang. Lalu selanjutnya apa yang terjadi? Kenapa seluruh tubuhnya berlumuran cairan kental berwarna merah itu?
Kepalanya pening, mungkin sebaiknya ia kembali ke kamar. Lagipula ia sudah mendapatkan dua buah roti dan dua botol air mineral di tangannya. Kakinya melangkah namun terhenti saat ujung kakinya menyentuh sesuatu. Keras namun tak cukup keras untuk dikatakan sebagai meja atau kursi. Agak sedikit lembek, seperti... tubuh manusia.
Matanya bergerak perlahan ke bawah. Nafasnya memburu begitu melihat apa yang menghalangi langkahnya. Itu adalah tubuh seorang manusia, seorang pria dengan darah segar yang masih mengalir dari dada dan perutnya. Fang bergerak mundur, dua buah roti dan botol air mineral di tangannya jatuh. Matanya kembali bergerak dan kali ini ia juga melihat sosok seorang perempuan satu meter di depan mayat pria yang ia kenal sebagai pamannya itu. Keadaanya sama, darah segar masih mengalir dari dada dan juga kepalanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tapi daripada rasa takut entah mengapa ia merasa lega. Ia sudah tidak perlu lagi berhadapan dengan dua orang itu. Ia sudah tidak perlu takut lagi adik kecilnya terluka. Ia bebas.
oOo
Fang masih masuk ke sekolah. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia masih susah payah pergi ke sekolah itu padahal ia masih tetap mendapat perlakuan yang sama dari semua orang. Mereka masih mencemoohnya, di dalam lokernya masih dipenuhi oleh sampah, dan mejanya masih mereka coreti dengan coretan mengancam.
Sepulang sekolah ia berencana untuk mengajak Mira pergi keluar berjalan-jalan keliling kota. Mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering keluarga mereka kunjungi. Taman, pusat perbelanjaan, dan kedai coklat di tengah taman kota. Ia ingin membawa Mira kesana dan bersenag-senang dengannya.
Pelajaran terakhir adalah musik, ia mendapat tugas piket hari ini jadi ia harus membereskan semua peralatan yang telah dipakai tadi. Tidak ada yang ingin membantunya, tapi itu tidak masalah. Ia masih dapat menyelesaikannya walaupun memakan waktu yang lebih lama dari kebanyakan orang. Fang selesai dengan tugas piketnya tepat setelah hari gelap. Semua murid sudah kembali ke rumah masing-masing dan sekolah terlihat sepi karena itulah ia tidak pernah menyangka kalau ruangan tempatnya berada di kunci dari luar.
"S-siapa yang melakukan ini?!" tanya Fang panik.
Ia mencoba keluar lewat jendela tapi sayangnya dikunci juga. Fang melihat dua orang senior yang waktu itu menghajarnya di gudang perlengkapan. Mereka menyeringai puas. Dari sisi lain, seorang senior lainnya menyebar tepung dan sebuk lada lalu meniupkannya dengan kipas. Tak lama lagu Gloomy Sunday diputar di speaker sekolah dengan suara maksimal.
Fang menutup kedua telinganya. Tubuhnya bergetar hebat, dadanya sesak dan pandangannya kabur. Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padanya? Ia sudah tidak tahan lagi. Siapapun tolong dia.
Ia melihat sosok hitam. Fang tidak tahu siapa sosok itu tapi sosok itu berbisik padanya. 'Penderitaanmu akan berakhir di sini.'
Seketika jantungnya terasa sakit dan ia merasakan tubuhnya jatuh. Dan setelah itu semuanya menjadi gelap
oOo
Perlahan Fang membuka matanya. Sekelilingnya terlihat gelap namun tak cukup gelap bagi Fang untuk tidak mengenali tempat ini. Ruang musik. Apa yang sebenarnya ia lakukan disini?
"INI SEMUA SALAHMU! Gara-gara ide konyolmu itu dia jadi mati kan?"
"Kenapa aku? Kau yang menyetujuinya begitu saja. Bukankah kau yang pertama kali membullynya."
Fang mendengar dua orang saling berteriak satu sama lain. Ia mengenali suara ini. Mereka adalah seniornya.
"Bagaimana ini? Bagaimana ini? Aku tidak mau masuk penjara."
"Sudahlah jangan panik begitu. Kita sudah mengubur jasadnya. Selain itu tidak ada yang menyadari juga kan?"
Apa yang terjadi? Jasad? Siapa yang mati?
"Tapi tetap saja... bagaimana kalau orang tua si Fang itu mulai menyelidiki kasus ini? Bisa mati kita."
Fang membelalakan matanya. Ia melihat telapak tangannya dan tubuhnya bergetar hebat. Ini tidak mungkin. Fang mengecek detak jantungnya namun ia tidak menemukan apapun disana. Ia mengecek nadinya namun hasinya juga sama. Ini tidak mungkin.
Semua orang di dunia ini busuk. Sebaiknya mereka menghilang saja dari dunia ini.
Tentu. Itu benar. Mereka semua busuk. Mereka melakukan ini padanya. Mereka tidak pantas ada di dunia ini. Mereka pantas merasakan apa yang ia rasakan.
Ia menyeringai dan melakukan apa yang mereka lakukan padanya hari itu pada orang-orang itu..
oOo
Orang-orang itu sudah lenyap dari semua ini, tapi kenapa orang seperti mereka itu selalu muncul? Kenapa? Apa karena ada orang-orang sepertinya yang mereka lihat sebagai mainan mereka? Mungkin ia harus menghilangkan mainan orang-orang itu. Mungkin ia bisa melakukan hal yang sama seperti sosok hitam itu. Ya, ia bisa menghilangkan penderitaan mereka seperti apa yang dilakukan sosok itu.
oOo
Semua orang-orang itu tidak pernah lagi melakukan hal itu. Mereka semua sudah tidak pernah lagi menjadikan orang lain sebagai mainan. Ia berhasil. Ia menyelamatkan semua orang itu. Sekarang ia sudah bebas –atau setidaknya itu yang ia inginkan.
Ia melihat seorang gadis dengan rambut ikal. Ada beberapa orang murid perempuan mengelilinginya. Mereka merobek-robek bajunya, menjambak rambutnya dan menendang gadis itu. Mereka tertawa puas lalu mereka pun pergi.
Ia terdiam di tempat. Ia sendiri tidak mengerti. Mungkin karena sudah lama ia tidak pernah melihat kejadian seperti ini. Mungkin bayangan-bayangan mengerikan itu masih menghantuinya. Atau mungkin karena gadis itu menatapnya tepat di mata.
"Kasihan sekali." Ucap gadis itu. Ia berusaha untuk duduk.
Siapa yang harus dikasihani? Bukankah seharusnya gadis itu yang harus dikasihani?
"Kau harus tertinggal di tempat seperti ini karena mereka. Seharusnya kau sudah bebas." Gadis itu tersenyum simpul. "Kau sudah menolong banyak orang, sekarang biarkan aku menolongmu." Dan setelah itu gadis itu pingsan, meninggalkannya dengan pertanyaan yang terngiang di kepalanya.
Menolongnya? Dari apa?
oOo
Aah... ia ingat sekarang. Ia ingat semuanya. Ia ingat apa yang ia lakukan disini. Apa tujuannya ada disini. Siapa dirinya.
Fang tertawa miris. Semua penyelidikan yang ia lakukan. Semua kejadian ini. Bahkan semua kehidupannya di sekolah selama beberapa bulan terakhir itu, semuanya palsu. Ia tidak pernah benar-benar ada dalam semua kejadian ini. Karena...
Sejak awal ia tidak pernah ada. Ia sudah mati tiga belas tahun yang lalu.
oOo
TBC
oOo
A/N: Cliff hanger lagi deh. Sebenernya saya seneng bisa nyiksa chara fav, tapi entah kenapa pas bagian Fang disiksa di rumahnya kok saya ngerasa kasihan gitu. Jadilah saya nulisnya mendet-mendet, nyiapin mental karena gak tahan nulis bagian yang di rumahnya #nangisdipojokan. Oh! Dan saya juga ngerasa aneh pas nulis efek-efek suaranya #mikirsambilnanemjamurditembok
Bagaimana? Apakah para reader merasa terkejut? Saya sendiri sejujurnya terkejut karena saya gak nyangka bakal bikin peran Fang jadi kayak gitu. Biasanya kan dia jadi idola di sekolah, nah disini dia jadi bahan bullyan sekaligus siksaan baik di sekolah maupun di rumahnya. Jadi apa udah ada yang bisa nebak siapa Fang disini? Oh! Dan saya ubah genrenya karena jujur aja, ini udah bukan lagi cerita horror. Tapi crime mystery.
Dan seperti yang saya janjikan, chapter ini lebih panjang dari yang lainnya. Untuk chapter depan karena ada reader yang ingin tahu bagaimana cara Mira bikin semua orang tutup mulut jadi chapter depan bakal fokus ke Mira. Awalnya pengen dibikin special story tapi karena saya butuh penjelasan kenapa si Mira nyerang Fang dan beberapa bagian yang belum saya jelasin, jadi dibikin cerita inti deh.
Seperti biasa, terima kasih buat orang-orang yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca bahkan sampe ngereview, nge-favourite, dan nge-follow cerita gaje ini.
For last
If you don't mind
Review please?
