Megane no Otoko
Ketika kalian menanyakanku apa yang aku suka darinya? Jawabanku mungkin membuat kalian tertawa, atau apalah. Namanya Park Chanyeol. Teman sekelas di tahun akhirku di SMA. Keturunan asli korea yang pindah ke Jepang, tidak sepertiku yang blasteran Jepang-Korea. Tubuhnya tinggi menjulang 185cm, kurus, dan kaki-kakinya kecil sekali seperti galah bambu. Dengan tingginya, sih, seharusnya dia bisa menjadi pemain basket di tim sekolah, atau minimal atlet sepak bola, atau bola voli juga bisa. Tapi tidak. Park Chanyeol yang aku bicarakan ini adalah orang cupu. Oh bukan! Mungkin dia adalah leluhurnya cupu. Di tahun 2015, dia selalu berpenampilan rapi. Bahkan lebih rapi daripada Jungmin yang menjadi objek bully di sekolahku saking cupunya. Mungkin bisa dikatakan penampilannya benar-benar seperti orang culun. Tidak ada keren-kerennya sama sekali. Aku tidak tahu banyak soal Chanyeol (begitu panggilannya), pun orang-orang di sekolah. Aku malah nyaris ragu apakah dia memang benar-benar siswa di sekolahku.
Lebih mencengangkannya lagi, dia selalu memakai masker. Maksudku, apa guna masker di setiap musim? Well, jika musim dingin aku, sih, maklum. Tapi bahkan di musim panas dan jam olahraga, pun begitu. Mungkin mukanya jerawatan atau apa. Mungkin juga di hidungnya ada tahi lalat yang besar dan memalukan. Atau mungkin bibirnya sumbing dan telat operasi sehingga bentuknya miring. Atau nafasnya terlalu bau. Atau lain-lainnya. Selama setahun dia pindah ke sekolahku, belum pernah ada seorangpun yang melihat wajahnya. Mungkin pengecualian untuk Kai. Dia kan, sepupu Chanyeol. Bahkan mungkin Kai pernah mandi bareng waktu kecil atau saling pamer dan banding wajah di kamar seperti rombongan bancinya Goto senpai yang suaranya macho tapi memakai kuteks warna norak.
Aku sampai heran, apa alasanku untuk terus mengikutinya dan memperhatikannya diam-diam di dalam perpustakaan ini. Oh tuhan! Bahkan hidungnya yang sempat kukira ada tahi lalat besarnya itu belum pernah kulihat. Aku terus mengikutinya, nyaris kemanapun. Tidak ada yang begitu mencolok dari kegiatanku mengikutinya. Secara, dia sekelas denganku, dan dia tidak melakukan kegiatan lain selain kegiatan wajib sekolah. Hanya ditambah ke kantin untuk makan siang dan ke perpustakaan waktu pulang sekolah. Aku juga beruntung karena memiliki hobi membuat wall magazine dan membuatku masuk ke klub. Sebab, klub kami tidak punya ruang klub! Itu patut dibanggakan karena dengan itu, perpustakaan akan menjadi ruangan klub kami! Hahahaha. Tidak ada alasan aneh, kan? Jika ada yang bertanya 'Hey, Baekhyun. Kenapa kamu selalu ke perpustakaan jika pulang sekolah? Membuntuti Chanyeol, ya?', kan, aku bisa menjawab 'maaf saja, ruang klub ku memakai perpustakaan, jadi aku selalu menyempatkan diri kesana setiap sore.' Bagus, kan? Byun Baekhyun memang pintar.
Oh!
Itu dia! Itu dia! Dia kembali lagi!
Chanyeol berjalan pelan sambil membetulkan letak kerah jaketnya, menuju meja yang sedang aku tempati. Aku sampai, hapal. Dia tidak akan pernah membaca buku di tempat lain. Selalu disini, walaupun disini adalah tempat kumpul klub wall magazine. Well, secara teknis, aku yang mengusulkan klubku pindah ke meja ini dua bulan lalu. Dia duduk! Duduk tepat di depanku. Aku masih berpura-pura fokus pada buku tentang perundang-undangan jepang di tanganku yang bahkan aku tidak pernah mau membacanya. Dia membaca buku tentang kedokteran, lagi. Setiap hari, dia selalu kemari untuk membaca buku kedokteran. Padahal, dia bisa membawanya pulang dan di pinjam seminggu tanpa harus ke perpustakaan setiap hari.
Aku berdehem sekali, Chanyeol tidak merasa terganggu. Aku yang begitu penasaran, mencari cara lain supaya aku bisa membuka obrolan dengannya. Duh! Apasih yang harus kubicarakan pada teman satu kelasmu yang baru pindah kemari setahun lalu dan jarang bicara denganmu? Hah? Apa?!
Meskipun Chanyeol bukan orang yang sekeren Makoto, atau sepopuler Narumi, tapi tetap saja berbicara dengan orang yang aku sukai sejak setahun lalu dan tidak pernah berbicara dengannya sedikitpun, bakal membuatku gugup setengah mati.
"Chanyeol-kun?" sapaku pelan.
Chanyeol menoleh dan mengerutkan alisnya. Rambutnya yang disisir rapi ke belakang itu tampak bergerak pelan tapi masih di tempatnya. Kira-kira, apa ya merk gel rambutnya?
"A-ano..." aku mencari bahan pembicaraan, "Kenapa belum pulang?"
"Kau sendiri belum pulang." Jawabnya datar. Suaranya teredam oleh masker, tapi tetap saja terdengar indah di telingaku.
"A-aku... ini kan, ruang klubku." Jawabku sambil membalik-balik buku yang kupegang. Bodoh! Itu, kan alasan paling bodoh! Dan kenapa pula pakai tergagap segala, sih?!
"Teman-teman klubmu sudah pulang sekitar..." dia mengecek jam di tangan kanannya, "Tujuh belas menit yang lalu."
Mulutku menganga sedikit karena percampuran antara senang dan kaget. Jadi, Chanyeol tau kalau aku ada di klub ini? Sejak kapan? Atau jangan-jangan dia juga menyukaiku lagi?!
"Kau harusnya pulang. Keretamu akan berangkat sekitar..." dia melihat jam lagi, "Delapan belas menit lagi."
Sughoi! Bahkan, dia tahu jam keretaku! Apa aku tidak sadar jika dia selalu naik kereta yang sama denganku?! Atau dia selalu memperhatikanku dan menaiki kereta setelah keretaku?! Aku nyaris teriak kegirangan. Tapi untung aku adalah Byun Baekhyun. Laki-laki yang menjadi ketua klub dan bisa membawa klub wall magazine di kejuaraan nasional di K university bulan maret lalu. Tentu aku bisa menunjukkan kepura-puraanku layaknya aku berada di depan juri wall magazine. Aku tidak menampilkan raut terkejut atau apalah, walau jantungku berdegup tak karuan.
Saking senang dan terkejutnya aku, aku sampai lupa menanyakan bagaimana dia bisa tahu dan malah bilang, "Ba-baiklah. Aku pulang dulu. Jaa!"
Dan aku cepat-cepat berlari keluar perpustakaan sambil menggendong ranselku. Aku berlari ke lokerku untuk menukar sepatu dan berhenti di sana beberapa menit, untuk mengatur nafasku.
Kubenturkan sekali kepalaku di pintu loker, "Bodoh! Kenapa pakai gugup, sih?!" kubenturkan sekali lagi kepalaku sebelum mengganti sepatuku.
Ini Aku, Byun Baekhyun. Seorang laki-laki berumur 17 tahun yang mencintai seorang laki-laki lain yang menjadi teman sekelasku selama beberapa bulan terakhir. Oke, aku mengaku. Aku adalah gay. Orang dengan species yang dianggap menjijikkan dan bisa horny hanya dengan melihat badan model celana dalam di televisi, apalagi jika dengan sentuhan cowok-cowok tampan. Aku mana tahan? Tapi, sialnya aku baru saja menyatakan jika aku menyukai Park Chanyeol –tentunya menyatakan pada diriku sendiri. Laki-laki pindahan dari Korea ke sekolahku setahun lalu, yang bahkan mukanya tidak aku ketahui. Dan tahu, tidak? Apa yang membuatku begitu suka padanya?
Aku jatuh cinta pada caranya membenarkan kacamata yang membingkai matanya yang bulat. Dengan menggunakan jari tengah tangan kanan, dengan menghentakkan kepalanya ke atas sedikit. Menurutku, jika dia melakukan itu, nilai seksi dan cool-nya bertambah 120%.
Aku bahkan tidak tahu bentuk hidungnya, apalagi bentuk bibirnya. Tapi aku menyukainya. Karena, aku mudah sekali mencintai cowok berkacamata. Ya... seperti Chanyeol ini.
End of prolog.
