The terror
By Chocolate Bubbletea
Boboiboy belongs to Animonsta
Warning: OOC, Typo, AU, Gore, less dialogue, alur maju mundur, and more
oOo
Don't Like Don't Read
oOo
"Semua orang di dunia ini busuk."
Itulah yang dikatakan oleh kakaknya ketika ia kembali ke kamar mereka dengan bekas membiru di sekujur tubunya dan tanpa sepotong roti atau sebotol air ditangannya. Awalnya gadis kecil dengan rambut hitam ikat dua itu tidak mengerti apa maksud kalimat tersebut. Ia mengira kalau kakaknya hanya berucap asal seperti apa yang biasa ia lakukan. Karena itulah gadis kecil bernama Mira itu diam dan memperhatikan sang kakak hingga ia kembali menjadi sosok kakaknya yang seperti biasa.
Mira selalu ingin bertanya mengapa sang kakak tidak ingin ia kekuar dari kamar mereka namun rasa takut dan hormatnya pada sang kakak membuatnya mengurungkan niatnya. Hingga pada suatu hari kakaknya keluar tanpa mengunci kamar mereka.
Awalnya Mira tidak berani keluar dari kamarnya. Ia telah berjanji pada sang kakak kalau ia tidak akan pernah keluar sebelum sang kakak mengizinkannya namun rasa penasaran membuatnya melanggar janji tersebut. Apalagi setelah ia mendengar suara ribut dari arah bawah dan jeritan dari pamannya yang terdengar berbeda dari biasanya.
Perlahan Mira membuka pintu yang terasa cukup berat tersebut. Ia menengok ke arah kanan dan kiri, setelah dirasa aman kaki kaki kecilnya mulai berlari ke arah bawah. Kedua kaki kecilnya bergerak ke arah suara gaduh itu.
Kedua mata bulatnya menatap bingung apa yang tengah terjadi. Di tangan kakaknya sebuah pisau dapur berlumur darah ia main-mainkan. Ia tersenyum dan pamannya yang ada di depan bergerak mundur.
"A-apa yang mau kau lakukan?"
Sang kakak tak menjawab tapi dengan cepat ia berlari ke arah sang paman dan menghunuskan pisau tersebut tepat ke dadanya. Darah segar melucur bebas dari mulut sang paman. Dari dadanya pun darah mengalir deras.
Kakaknya tertawa, ia menarik cepat pisau tersebut dan kembali menghunuskan pisau itu ke arah perut pamannya. "AHAHAHAHAHAHAHA."
Kakaknya terus menusukan pisau tersebut ke perut sang paman hingga Mira melihat sesuatu keluar dari perutnya bersamaan dengan pisau yang ditarik dan ditusukan ke arah perutnya. Tak lama kakaknya pun berhenti. Ia menarik pisaunya dan tubuh pamannya jatuh ke lantai dengan keras.
Kedua mata kakaknya terlihat kosong. Ia berjalan ke arah pintu dimana Mira bersembunyi. Belum sempat sang kakak sampai bibinya yang berlari dari arah belakang Mira masuk ke dapur. Kedua mata sang bibi membulat.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Sang kakak berlari ke arah bibinya dan dengan cepat menghunuskan pisaunya tepat ke arah perut sebelum wanita itu pergi. Sang kakak melakukan hal yang sama hingga ia membiarkan tubuh wanita itu tergeletak di lantai.
Mira tidak mengerti saat sang kakak kembali berbalik dan mengambil dua buah roti dan botol air mineral. Ia juga tidak mengerti mengapa sang kakak tiba-tiba tertawa dan mengatakan. "Aku bebas." Namun satu hal yang ia tahu, cahaya di mata sang kakak kembali. Ia melihat tatapan mata kakaknya lagi dan kali ini ia tersenyum dengan cahaya itu di kedua matanya.
Kakaknya telah kembali seperti dulu lagi.
oOo
Paginya sang kakak kembali berkemas dan berangkat ke sekolah. Kali ini ia tidak melarang Mira untuk keluar, ia justru membiarkan gadis itu untuk bisa berkeliaran bebas di rumahnya yang terletak cukup jauh dari rumah tetangga-tetangganya.
Mira terus menunggu kehadiran sang kakak namun pemuda dengan rambut gelap berantakan itu sama sekali tidak muncul. Ia terus menunggu hingga malam tiba. Namun sekali lagi sang kakak belum kembali.
Berhari hari berlalu namun sang kakak belum juga kembali. Hanya berbekal makanan yang terdapat di lemari es Mira terus menunggu sang kakak. Hingga pada hari ke empat ia mendengar seseorang masuk ke rumahnya. Ia sempat berpikir kalau itu kakaknya namun yang ia dapati hanyalah seorang pria paruh baya dan beberapa pria berseragam masuk ke rumahnya
Pria itu tersenyum ke arahnya dan memintanya untuk ikut. Mira menggeleng. Ia tidak mau mengingkari janjinya pada sang kakak. Bagaimana jika ia kembali dan ia tidak bisa memukan Mira dimana pun? Mira tidak mau kalau kakaknya kembali bersedih.
"Tenang saja, kami akan memberi tahukan kakakmu." Ucap pria itu.
Mira ragu namun setelah pria itu meyakinkannya untuk ke sepuluh kalinya akhirnya Mira setuju. Ia pun ikut pergi dengan pria paruh baya tersebut ke sebuah rumah besar dengan banyak sekali anak-anak seumurnya berlarian kesana kemari.
Mira tinggal di rumah itu. Menunggu kakaknya hingga ia kembali dan mereka akan hidup berdua seperti dulu.
oOo
Kakaknya tidak pernah kembali. Seberapa lama pun Mira menunggunya, sang kakak tidak pernah kembali. Tiap kali ia bertanya pada wanita yang tinggal bersamanya untuk sementara wantu, wanita itu hanya menggeleng dan memintanya untuk tetap menunggu. Dan Mira hanya bisa menunggu.
oOo
Mira tidak ingat sudah berapa lama ia menunggu tapi ia masih tetap menunggu kehadiran sang kakak.
"Pergi kau! Dasar menjijikan."
Mira tidak mengerti mengapa semua orang-orang itu selalu mengatakan hal tersebut padanya. Yang ia pahami adalah mereka selalu memukulnya dan melakukan hal yang kejam padanya.
"Kenapa? Apa salahku?"
"Semua orang di dunia ini busuk."
Kalimat yang diucapkan oleh kakaknya hari itu melintas di otaknya. Apa ini yang dirasakan oleh kakaknya? Jika iya, apa yang harus ia lakukan.
"Orang-orang seperti itu sebaiknya menghilang saja dari dunia ini."
Kakaknya pernah mengatakan hal itu. Dan jika kakaknya yang mengatakan maka itu benar. Orang-orang itu tak sepantasnya berdiri di dunia ini. Mereka tak sepantasnya tertawa sementara dirinya hanya bisa terdiam tak melakukan apapun. Mereka tak sepantasnya ada disini karena yang pantas ada hanyalah orang-orang seperti kakaknya.
oOo
Merah.
Warna itu menjadi warna kesukaannya. Ia senang saat warna itu ada di kedua tangannya. Ia senang saat warna itu berasal dari orang-orang yang tak sepantasnya berdiri di dunia yang penuh warna ini.
Warna itu adalah sebuah simbol kebebasan. Itulah yang diucapkan oleh kakaknya. Dan itulah kenyataan yang Mira terima saat warna itu menghiasi kedua tangan-tangan kecilnya. Ketika warna itu muncul, Mira tidak pernah lagi disakiti. Ia mendapatkan kebebasannya.
Hari ini adalah hari pertama ia memasuki sekolah barunya. Dengan rambut yang dikepang dua seperti apa yang pernah diajarkan kakaknya, Mira berjalan dengan kepala tertunduk. Mira tidak ingin melihat wajah-wajah yang -mungkin- akan merampas kebebasan miliknya. Ia enggan bertatap mata dengan pria yang hanya akan bersikap manis di depannya namun bersikap bajingan dan pengecut di belakangnya.
Mira berjalan perlahan. Melewati beberapa gang dan trotoar sebelum ia harus menyebrang jalan besar untuk bisa mencapai sekolahnya. Jalanan saat itu lenggang. Tak banyak mobil berlalu lalang. Lampu sudah menunjukan warna hijau untuk pejalan kaki. Mira pun berjalan menyebrang sendirian.
Masih dengan menundukan kepalanya, dari jauh ia seperti mendengan suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal.
"AWAAAAAAASSS!"
Kejadian itu terjadi dalam hitungan detik. Tubuhnya dipeluk erat sebelum akhirnya terpental cukup jauh. Kepalanya membentur pagar jalan dan pandangannya membuyar. Warna jingga lah yang matanya tangkap sebelum semuanya menjadi gelap.
oOo
Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa ia ada disini. Mengapa tubunya dipenuhi bercak merah. Mengapa tubuh seseorang terkapar lemah di lantai. Mengapa seseorang dengan topi jingga menatapnya benci namun satu hal yang ia tahu adalah sebuah suara yang memanggil namanya. Suara yang selalu ia tunggu-tunggu.
Mira membalikan tubuhnya dan kedua iris gelapnya menangkap bayangan seorang pemuda dengan rambut gelap berantakannya, tersenyum pada Mira. Ia adalah kakaknya. Orang yang selama ini ia tunggu-tunggu.
"Kakak!"
Tanpa pikir panjang ia berlari ke arah sang kakak. Memeluknya dengan erat namun ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Kenapa tubuhnya tiba tiba kaku? Kenapa perutnya sakit? Dan kenapa pandangannya kembali mengabur?
Mira tidak mengerti namun sekali lagi yang ia ketahui hanyalah... semuanya kembali menjadi gelap.
oOo
Tubuh gadis itu ambruk di tangan pemuda yang Boboiboy ketahui sudah menghilang secara misterius beberapa minggu yang lalu. Fang menatap Mira sendu. Ia menidurkan tubuh gadis itu dan mengelus kepalanya lembut.
"Bagaimana bisa? Kenapa? Siapa?" Entah pertanyaan apa yang coba Boboiboy lontarkan. Setiap kosa kata yang ia miliki seolah kusut dan tak dapat ia susun dengan rapi.
Fang hanya tersenyum pilu. "Ia tak seharusnya ada disini."
Boboiboy masih belum mengerti. "Apa maksudmu?"
"Kau juga tak seharusnya ada disini."
"APA MAKSUDMU?!"
Kembali Fang hanya tersenyum dan berjalan ke arahnya. "Sudah saatnya kau kembali. Tapi sebelum itu... aku ingin meminta tolong padamu."
Apa maksudnya? "Aku tidak mengerti."
"Tolong aku. Aku ingin bebas. Aku tidak ingin lagi terikat disini."
Boboiboy masih belum mengerti. Namun sebelum ia melontarkan pertanyaan yang semakin bertumpuk di kepalanya, pandangannya tiba-tiba buyar. Keseimbangan tubuhnya hilang dan semuanya menjadi gelap.
oOo
Putih. Cahaya putih itu mencoba menerobos masuk ke retina matanya. Ia mengedip-ngedipkan matanya, berusaha menyesuaikan pandangannya. Suara gaduh di sekitar membuat Boboiboy mencoba menoleh namun lehernya terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Samar-samar ia melihat beberapa orang wanita dengan pakaian suster dan seorang pria berjas putih mengelilinginya. Boboiboy mencoba bertanya walaupun tenggorokannya terasa kering hingga mengeluarkan suara saja terasa perih.
"Dimana ini?"
"Kau ada di rumah sakit." Ujar salah satu suster.
Dirumah sakit? Kenapa? Apa yang terjadi?
Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalanya. Setelah dokter selesai memeriksanya, ia pun berjalan ke keluar sembari berbicang dengan kakeknya. Teman-temannya masuk ke ruangan. Gopal menangis tersedu-sedu, Yaya dan Ying saling berpelukan dan menangis dalam diam. Boboiboy sadar ada sesuatu yang janggal disini.
Semua teman-temannya telah kembali menjadi diri mereka sendiri.
Mata Boboiboy bergerak-gerak mencari seseorang yang seharusnya juga ada -jikalau malam itu memang benar-benar terjadi.
"Mana Fang? Apa yang terjadi padanya? Dan... dimana Mira?"
Semua orang yang ada disana terlihat kebingungan. Mereka saling bertukar pandang.
"Siapa itu Fang?" Tanya Ying.
Boboiboy membulatkan matanya tidak percaya. "K-kalian tidak ingat? Di-dia teman sekelas kita kan? Dia menghilang beberapa minggu yang lalu setelah kejadian itu."
"Apa maksudmu Boboiboy? Tidak ada teman sekelas kita yang bernama Fang. Lagipula, kau bahkan belum pernah masuk karena kau koma selama empat bulan lebih setelah kejadian tabrak lari saat hari pertama masuk sekolah."
Penjelasan Gopal membuat nafas Boboiboy memburu. Jantungnya berdegup kencang. Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin.
Jika memang ia tidak pernah masuk ke sekolah. Jika memang ia koma selama empat bulan lebih lalu... kejadian-kejadian itu apa?
oOo
TBC
oOo
A/N : TBC dengan cliffhanger yang sangat... tidak elit. -.-
Maafkan keterlambatan update saya ini. Many things happened. Saya harap para reader semua menikmati chapter yang satu ini. Sekali lagi saya minta maaf karena gak bisa nulis secara detail tentang Mira dan kekejamannya. Saya gak sanggup masoin diri ngetik di hp banyak-banyak #meratapinasiblappieygdirawatinap Selain itu saya juga lagi writer-block jadi kita biarkan saja misteri soal Mira dan kekejamannya tetap menjadi misteri #plak #digiles.
Anyway, fandom ini jadi makin ramai ya? Karena terlalu lama nyemplung di fandom sebelah gegara seorang Alfred F. Jones #ditendangal , jadilah pas saya kembali saya merasa seperti anak hilang #celingakcelinguk. Banyak nama yang gak saya ketahui #udahcukupsesicurhatnya.
Terima kasih sekali lagi bagi yang masih mau bertahan baca fanfic ini. Saya ucapkan banyak terima kasih #bungkuksembilanpuluhderajat. Sekedar info, kalau ide saya gak berubah di tengah jalan kemungkinan besar chapter depan bakal jadi chapter terakhir. Akhirnyaaa... mau tamat juga!
Daripada saya mulai nyeroscos gak jelas.
For last
If you don't mind
Review please?
