The terror
Presented by Chocolate Bubbletea
Boboiboy copyright to Animonsta/Monsta
Genre : Mystery, Crime, Supernatural.
Warning: OOC, OC, miss typing, AU, foul word, and more
Don't Like Don't Read
Masa-masa sekolahnya. Kejadian sang Grim reaper. Fang dan juga Mira. Jika memang rangkaian kejadian yang Boboboi alami selama empat bulan terakhir itu hanyalah sebuah halusinasi yang dibuat oleh alam bawah sadarnya, kalau begitu mengapa Mira yang seharusnya merupakan bagian dari fragmen mimpi itu ada disini, bersamanya, di dunianya, terbaring lemas masih tak sadarkan diri.
Dua minggu berlalu semenjak Boboiboy bangun dari komanya. Selama dua minggu itu pula ia terus memikirkan 'mimpi' itu. Menghubungkan setiap benang merah yang ada mimpi itu pada dunianya. Mencoba menemukan koneksi diantara dua dunia yang tak seharusnya terhubung itu.
Kakek dan teman-temannya tentu saja merasa khawatir dengan keadaan Boboiboy karena selama ia ada di rumah sakit hingga ia kembali ke rumah, Boboiboy lebih memilih untuk sendiri daripada bergaul bersama teman-temannya.
"Kau tidak apa-apa Boboiboy? Sikapmu berubah semenjak bangun dari komamu." Tanya sang kakek khawatir -entah untuk yang keberapa kalinya hari itu.
Boboiboy menggelengkan kepalanya seperti biasa. "Aku tidak apa-apa tok. Aku hanya mencoba menyesuaikan diri dengan lingkunganku saja. Koma selama empat bulan itu tidak sebentar."
"Kau yakin hanya itu? Apa kau yakin tidak ada sesuatu yang mengganjal hatimu?"
Ada. Ada satu hal yang mengganjal hatinya. Tapi tentu saja Boboiboy tidak bisa mengucapkannya. Tidak saat ini. "Tidak ada. Atok tidak perlu khawatir. Sekarang aku mau istirahat dulu, besok aku harus ke sekolah."
"Baiklah. Tapi jika kau butuh bantuan atok, katakan saja."
Boboiboy mengangguk mengerti. Kakeknya pun bangun dan berjalan keluar dari kamar Boboiboy. Boboiboy memejamkan kedua matanya. Mulai besok ia harus kembali ke sekolah. Siap atau pun tidak.
oOo
Sejujurnya harus Boboiboy akui kalau sebenarnya ia takut. Keadaan di sekolahnya hampir sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpinya. Setiap sudut sekolah ini, guru pengajar, penjaga sekolah bahkan kepengurusan dewan siswa dan klub sekolah pun sama persis. Seolah mimpi itu adalah sisi lain dari dunia nyata ini. Seperti dua sisi koin, berbeda namun ada pada tempat yang sama. Hanya saja yang membedakannya adalah tak ada kejadian maupun desas desus mengenai sang grim reaper.
Boboiboy seperti mengenal lingkungan sekitarnya dengan baik namun disaat yang bersamaan ia juga merasa asing. Ditambah dengan kehadiran orang-orang sudah tiada dalam mimpinya itu seolah hanya sebuah halusinasi di mata Boboiboy. Terkadang ia merasa mual begitu mengingat keadaan orang-orang tersebut dalam dunia alam bawah sadarnya . Dan tentu saja hal tersebut membuat Boboiboy sama sekali tak dapat fokus memperhatikan penjelasan guru kimia di depan kelasnya.
"Pssst! Boboiboy!" Bisik Gopal dari arah belakangnya -tempat yang seharusnya diisi oleh Fang. "Kau kenapa? Dari tadi kau seperti ingin muntah begitu."
"Aku tidak apa-apa." Balas Boboiboy lemas.
"Kau yakin?"
Sebelum Boboiboy menjawab, sebuah deheman dari depan kelas menyita perhatian kedua pemuda tersebut. "Sepertinya obrolan kalian berdua lebih menarik dari pelajaran saya. Keberatan jika kalian berdua menceritakan apa yang kalian obrolkan pada kami?"
Gopal mulai gelagapan menghadapi pertanyaan halus namun mematikan tersebut, namun Boboiboy terlihat tenang dan mengacungkan tangannya. Sang guru menaikan sebelah alisnya heran.
"Pak, saya merasa tidak enak badan. Bolehkan saya pergi ke ruang kesehatan?"
Sang guru awalnya tak percaya namun begitu melihat wajah pucat Boboiboy akhirnya guru itu mengangguk. "Tentu, silahkan."
"Terima kasih, pak. Tapi apa boleh saya mengajak teman saya untuk mengantar saya ke ruang kesehatan? Saya takut tiba-tiba pingsan di jalan."
"Ya, silahkan."
"Terima kasih." Lalu Boboiboy pun menarik lengan Gopal untuk ikut dengannya. Sebelum kedua pemuda itu keluar kelas, sang guru terlebih dahulu mengingatkan.
"Usahakan untuk segera kembali ke kelas ya, Gopal." -atau mungkin lebih tepatnya mengancam.
Gopal mengangguk cepat dan keduanya pun keluar. Sebelum pergi ke ruang kesehatan, Boboiboy terlebih dahulu menyeret Gopal ke toilet. Boboiboy memuntahkan seluruh sarapannya tadi pagi di wetafel, membuat Gopal sedikit jijik.
Sejujurnya Boboiboy tidak mengerti, merasa ia bisa merasa sejijik ini bahkan hingga muntah hanya karena sekelabat memori yang bahkan tidak nyata keberadaannya. Ia tidak pernah merasa sejijik ini saat masih ada dalam mimpinya.
Lalu kenapa harus sekarang? Kenapa harus disaat Boboiboy tak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak?
Boboiboy menengadahkan kepalanya. Kedua matanya membulat. Dalam bayangan cermin di depannya, seseorang yang tak seharusnya ada disini kini berdiri di belakangnya. Menyender pada salah satu pintu stal. Sorot matanya redup, tapi Boboiboy yakin kalau dia tengah menatap tepat ke arah Boboiboy seolah meminta pertolongan darinya.
Orang itu tak seharusnya berada disini. Boboiboy tahu itu namun jantungnya yang terpacu adrenalin, nafasnya yang tersenggal, dan matanya yang tak dapat fokus membuat pemuda bertopi jingga itu bertanya-tanya.
Dimana kenyataan itu berada?
"Ada apa Boboiboy?"
Dengan cepat Boboiboy menggeleng-gelengkan kepalanya namun sosok itu masih ada. Gopal mendekatinya seolah ia tidak menyadari keberadaan seseorang di belakang Boboiboy –atau mungkin ia tidak melihatnya?. Perlahan rasa penasaran Boboiboy mengalahkan rasa takut dalam dirinya. Menekan adrenalin dan perasaan ragu.
Boboiboy menoleh ke belakan namun sosok itu tidak menampakan wujudnya seolah ia tidak pernah ada disana.
"Kau kenapa Boboiboy? Apa ada sesuatu di belakangku? Apa jangan-jangan setelah koma kau jadi bisa melihat hantu? Jangan katakan kalau dibelakangku-"
"Bawa aku ke ruang kesehatan!"
"Eh?! Apa kau-"
"CEPAT SIALAN!" tanpa sadar Boboiboy telah berkata kasar pada sahabatnya sendiri. Ia tidak tahu kenapa ketika kedua iris violet itu menusuknya, seluruh sistem tubuhnya seolah membeku. Dan entah mengapa kedua iris violet itu telah mengunci pandangan Boboiboy pada cermin yang menghubungkan keduanya.
Sekarang yang ada dalam pikiran Boboiboy adalah ia harus keluar dan sebisa mungkin menjauhi semua cermin. Menjauhi sosoknya yang menghantui setiap sel otak Boboiboy.
Menjauhi sosok Fang.
Ooo
Boboiboy sadar kalau ia tidak bisa selamanya menghindar. Suatu saat nanti ia harus menghadapi apapun yang tengah menghantui dirinya saat ini. Namun sebelum ia melakukannya ada satu hal yang harus ia pastikan terlebih dahulu.
"Catatan siswa tiga belas tahun yang lalu? Kenapa kau ingin mengetahuinya? Apa ada sesuatu disana?" tanya Yaya penuh selidik.
Boboiboy sadar betul bahwa Yaya adalah gadis yang cerdik. Ia pasti akan sadar dengan mudah saat ada sesuatu yang tidak beres terjadi di sekitarnya atau sekitar teman-temannya. Dan tentu saja seorang Boboiboy menanyakan hal seperti catatan siswa itu adalah sebuah anomali yang patut dipertanyakan jadi percuma saja jika Boboiboy ingin mengelak.
"Aku sendiri masih belum yakin apa ada sesuatu disana, hanya saja aku ingin memastikan satu hal."
"Apa itu?"
Boboiboy ragu apakah ia harus memberi tahukan Yaya atau tidak soal kejadian aneh yang menimpanya semenjak ia meninggalkan rumah sakit. Tapi mau tidak mau Boboiboy memang harus memberitahukan Yaya jika ia masih menginginkan catatan tersebut.
Tapi bagaimana cara Boboiboy menjelaskan hal rumit yang ia alami ini?
Lama pemuda bertopi jingga itu tidak menjawab, Yaya pun akhirnya menghela nafasnya. "Sepertinya kau kesulitan menjelaskannya padaku." Yaya pun berdiri dari tempat duduknya. "Kau membutuhkannya kan? Besok pagi datanglah ke ruang dewan, aku akan memberikan catatannya padamu."
"K-kau mau membantuku?"
"Aku tidak punya pilihan lain kan? Kau adalah temanku dan sudah seharusnya aku membantumu. Tapi pastikan kau menceritakan apapun yang kau hadapi ini padaku dan yang lainnya, mengerti?"
Boboiboy mengangguk antusias. "Mengerti."
Dan setelah itu gadis berkerudung pink itu berpamitan pada Boboiboy untuk segera pergi ke ruang dewan karena ada rapat yang harus ia hadiri. Boboiboy sendiri memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Berharap ia dapat menemukan petunjuk apapun yang dapat membawanya pada kebenaran yang ia cari.
Keadaan perpustakaan disini tak jauh berbeda dari apa yang ia ingat. Boboiboy bahkan ingat dimana tempat ia biasa belajar bersama Gopal ketika menjelang ulangan harian. Walaupun semua itu hanya halusinasi yang dibuat sistem otaknya.
Tunggu dulu... kalau dunia ini sama dengan mimpinya itu maka...
Tepat di ujung perpustakaan, tepatnya di meja belajar yang berada di sudut ruangan, duduk seorang gadis dengan kacamata tebal yang membingkai iris hazelnutnya. Persis seperti apa yang ada di dalam ingatan Boboiboy. Dan jika Boboiboy juga tidak salah ingat...
"Permisi, apa benar kau yang bernama Siti?"
"Benar, itu aku. Um... kau siapa ya?"
Bingo! Tepat seperti apa yang ada di ingatannya. Dan jika ingatannya tidak menghianatinya maka...
"Namaku Boboiboy. Aku dengar kau dulu berteman dengan seorang gadis bernama Mira, apa itu benar?"
Siti terlihat gelisah dalam duduknya. Ia terus melihat ke selain Boboiboy. "Um... mungkin lebih tepatnya hanya rekan sekelas saat masih sekolah menengah."
Setidaknya, gadis ini sedikit banyak tahu tentang siapa Mira itu. "Kalau begitu apa kau bisa memberitahuku sedikit banyak tentangnya?"
"Kenapa kau ingin tahu tentangnya?" tanya gadis itu cepat. Sorot matanya menunjukan ketidak percayaan atas pertanyaan Boboiboy.
"Bisa dibilang, dia adalah gadis yang membuatku tidak masuk sekolah selama empat bulan terakhir. Sedikit banyak, aku ingin tahu beberapa hal tentangnya."
"Um... sebenarnya aku tidak tahu banyak tentangnya. Sejak sekolah menengah dulu dia selalu menjauhi orang-orang dan menolak berteman dengan siapapun tapi dari yang aku tahu, dia berasal dari panti asuhan Emerald mungkin orang-orang disana tahu banyak tentangnya." Jelas gadis itu.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak atas infonya." Sebelum Boboiboy pergi, gadis itu terlebih dahulu menahan Boboiboy.
"Se-sebaiknya kau menjauhinya. Aku memang tidak tahu apapun tentangnya tapi... kurasa dia itu berbahaya."
Huh. Berbahaya katanya. Gadis itu lebih mirip mesin pembunuh di mata Boboiboy tapi tentu saja ia tidak mungkin mengatakannya pada Siti.
"Aku tahu itu."
Ooo
Tepat di depan matanya berdiri dengan kokoh sebuah bangunan bercat putih gading sebagai fondasi utamanya. Ukuran bangunan tersebut memang tidak lebih besar dari rumahnya tapi cukup besar untuk menampung beberapa belas atau mungkin puluh orang di dalam. Beberapa anak berlarian kesana kemari menikmati masa kanak-kanak mereka selagi sang penjaga masih sibuk dengan orang-orang berseragam polisi.
Kira kira ada apa ya?
Tak lama setelah beberapa petugas polisi itu pergi, seorang wanita yang tadi sempat ditanyai melihatnya. Wanita itu menyunggingkan senyum hangat pada Boboiboy sembari melambai-lambaikan tangannya, meminta Boboiboy untuk mendekatinya.
"Jarang sekali kami mendapat pengunjung anak muda sepertimu. Apa kau memutuskan untuk berhenti sekolah dan mengadopsi anak disini?" canda wanita itu.
"Ahaha... kurasa tidak."
"Oh... tenanglah nak, aku hanya bercanda. Masuklah!" titah wanita itu. Wanita yang merupakan kepala panti ini menuntun Boboiboy menuju ke ruang tamu dimana ia selalu melayani para orang tua yang memutuskan untuk mengadopsi salah satu anak di panti ini.
"Jadi ada gerangan apa kau datang kemari nak?"
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan mengenai seseorang yang tinggal di panti ini."
Sekilas wanita itu terlihat terkejut, terlebih melihat ekspresi Boboiboy yang serius namun terlihat agak ragu. Namun wanita itu kembali menyunggingkan senyum hangatnya. "Oh tentu. Siapa memangnya orang itu?"
Boboiboy menggigit bibir bawahnya. Ia sendiri tidak begitu yakin ingin mendengar apapun mengenai gadis itu tapi ia harus jika ia memang ingin menyelesaikan masalah ini. "Mira. Namanya Mira."
Wanita itu hanya diam. Boboiboy tahu ada yang tidak beres dengan gadis yang sepertinya telah ia selamatkan itu, tapi ia tidak tahu jika Mira mungkin adalah gadis yang berbahaya
-atau mungkin tidak.
Wanita tersebut tersenyum sendu. Entah apa yang tengah dipikirkannya. "Kalau tidak salah... kau pemuda yang menyelamatkannya dari tabrakan empat bulan yang lalu kan?" Boboiboy mengagguk. "Aku senang karena ternyata tuhan masih mengirimkan seorang malaikat padanya."
"Apa maksud anda?"
Wanita itu berdiri dan berjalan menuju ke sebuah lemari yang terletak di ujung ruangan. Ia mengambil sebuah buku yang ukurannya cukup tebal. Lembar demi lembar ia buka hingga tangannya berhenti pada halaman tertentu. Wanita itu meletakan buku –atau lebih tepatnya album foto- di depan Boboiboy.
Dalam album itu terdapat foto seorang gadis kecil yang tengah memeluk erat sebuah boneka usang. Sorot matanya hampa dan tak ada senyum terlukis di wajah manisnya yang agak kurus.
"Dia adalah Mira. Ia ditemukan tengah tergeletak lemas di sebuah rumah kosong sembari terus menyebut nama kakaknya."
"Kakak? Apa dia punya kakak? Siapa namanya?"
"Entahlah... aku sendiri tidak yakin jika orang ini masih ada disini atau tidak tapi kalau tidak salah namanya... Fang."
Boboiboy membulatkan matanya. Jadi benar kalau gadis yang disebutkan sebagai seseorang yang ia tolong itu ada hubungannya dengan Fang. Kalau begitu apa maksud dari mimpi itu?
"Lalu... apa ada hal lainnya tentang Mira yang bisa anda ceritakan?"
Wanita kembali tersenyum kecut. "Saat dikirim ke panti ini Mira masih berumur tiga tahun tapi gadis itu sangat pintar, bahkan mungkin jenius. Pengurus panti saat itu sangat senang mengetahuinya karena dengan begitu kami akan mendapat santunan lebih banyak. Tapi... ternyata gadis itu memiliki sesuatu yang berbahaya dalam dirinya."
"Sesuatu yang berbahaya?"
Wanita itu tertawa renyah. "Aku sendiri masih terkejut saat mengetahuinya tapi aku tidak bisa membenci gadis itu seperti yang lain karena gadis itu seperti malaikat kecil yang kesepian di mataku."
Baiklah... Boboiboy tidak mengerti maksud dari pembicaraan ini tapi ia masih harus tetap mendengarkan. Apalagi setelah ia tahu bahwa Mira memang menyimpan sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang mungkin dapat menuntunya pada kebenaran selain dari ikatannya dengan Fang.
Ooo
Tak ada yang mau mendekati gadis mungil berambut hitam yang baru saja datang minggu lalu. 'Dia aneh', 'Dia menakutkan', dan berbagai alasan lain dilontarkan bibir-bibir mungil yang ditanya. Ia penasaran ada apa dengan gadis bernama Mira itu.
Pengurus panti mengatakan bahwa gadis itu jenius dan ia akan mendatangkan banyak uang pada panti ini. Jika boleh jujur, ia tidak suka dengan sikap pengurus panti saat itu namun ia hanya bisa diam karena ia sama sekali tidak memiliki kekuatan. Baginya, Mira tidak terlihat seperti gadis jenius yang disebutkan oleh Pengurus panti. Ia terlihat seperti kebanyakan gadis mungil lainnya yang baru kehilangan seluruh keluarganya. Takut, sedih, dan kesepian.
Ia mendekati gadis mungil itu dan bertanya. "Mira... kenapa kamu sendirian saja? Tidakkah kamu ingin bermain dengan teman-teman barumu?"
Gadis itu menggeleng. "Aku... menunggu kakak."
Ia mencoba bertanya lebih jauh tentang siapa kakaknya ini namun gadis itu hanya diam.
Berbulan-bulan berlalu namun sama sekali tak ada perubahan pada gadis itu. Ia selalu sendiri dan menolak berbicara dengan siapapun. Bahkan saat ditanya mengenai keluarga atau kakaknya gadis itu selalu berkata. "Aku menunggu kakak."
Hingga suatu hari ia menemukan gadis itu tertawa. Ia penasaran apa yang membuat Mira tertawa dan memutuskan untuk mendekatinya.
Ia begitu kaget saat melihat kedua tangan gadis itu dilumuri oleh darah. Awalnya ia mengira Mira terluka namun tanpa di duga dalam genggaman gadis itu terdapat seekor burung malang yang tubuhnya sudah remuk.
"Mira apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu melakukan ini?"
"Kenapa? Tentu saja karena burung ini jahat padaku. Kakak juga melakukannya." Jawab Mira polos masih dengan senyum manis mengembang di wajahnya yang juga dipenuhi bercak darah.
Kejadian itu tentu saja menggegerkan seluruh panti. Semua orang mulai takut padanya bahkan beberapa meminta pengurus panti untuk mengirim anak ini ke rumah sakit jiwa namun pengurus panti menolak dengan alasan bahwa gadis ini lebih membutuhkan mereka daripada orang-orang di rumah sakit.
Keesokannya saat ia bertanya pada Mira, gadis mungil itu terlihat kebingungan. "Burung? Burung apa? Aku tidak bermain dengan burung."
Dari sanalah ia mulai mengerti bahwa gadis itu mengidap penyakit ... atau kepribadian ganda, di umurnya yang masih sangat kecil.
Ooo
"Hingga akhir kepengurusannya, ketua masih mempertahankan Mira. Dan aku sebagai penggantinya juga... tidak bisa mengirimkan gadis itu ke tempat rehabilitasi."
Setelah mendengarkan kisah Mira, Boboiboy mulai sedikit paham dengan gadis ini. Namun masih ada yang menjanggal dalam hati Boboiboy. Seolah ada sesuatu yang tidak beres lainnya tengah menunggu Boboiboy untuk diungkap.
Ooo
Semalaman ia terus mengingat-ngingat mimpinya. Mungkin ia terlalu fokus pada Mira hingga ia melupakan beberapa bagian penting dalam mimpinya itu. Hingga ucapan permintaan maaf Yaya membuatnya sadar.
"Maaf Boboiboy, aku tidak bisa memberikan filenya padamu. Ketua dewan menolak memberikannya padaku."
Ketua dewan siswa. Tentu saja! Seniornya itu adalah salah satu bagian penting dalam mimpinya itu.
"Tidak apa-apa. Aku sendiri yang akan meminta filenya pada ketua dewan. Bisa pertemukan aku dengannya?"
Ooo
TBC
Ooo
a/n : um... kenapa malah TBC lagi ya? #plak (BBB : Bukannya kau yang bikin?) saya udah mentok. Ini bahkan ngetiknya udah berkali kali berhenti dan inilah akhirnya. Tapi...saya updatenya telat banget ya? Anyway... chapter depan itu –seriusan- chapter terakhir jadi... selamat kembali menunggu.
Untuk chapter ini entah kenapa malah kembali ada unsur hantu hantunya begitu ya? Hmm... imajinasi emang bisa berubah dengan cepat padahal saya gak niat masukin unsur hantu hantuan atau supernatural lainnya tapi kan genre awal fanfic ini emang horror jadi... begitulah *apa maksudnya coba*
Oh! Dan bagi yang membaca fanfic saya yang 'Bacause Love is not always sweet' dan 'Connection' saya harus mengatakan kabar buruk bahwa dua fanfic itu bakal berakhir discontinued karena saya mentok. Udah berkali kali saya baca ulang tapi idenya mentok. Seriusan deh. #digebugin
Seperti biasa, saya ucapkan terima kasih bagi yang mau membaca, mereview, mem-follow dan mem-fav fanfic ini.
For last
If you don't mind
Review please?
