Author

xjungyoox

Main Cast

Jung Daehyun x Yoo Youngjae

a.k.a Daejae

Other Cast

Ms.Yoo, Kim Himchan, Bang Yongguk, Kim Hyera, Lee Tanhae

NOTE: Maafkan jika banyak typo segala macem ini pemula. Maklumlah ff pertama publish.. hehe semoga diterima. Ini asli dari pemikiran sendiri yang datang secara tbtb'-'.

...DaeJae...

Suara alarm terdengar disalah satu kamar tidur dengan penghuninya yang masih betah diposisinya, dengan malas ia mematiakan alarm tersebut dan beberapa kali mengucek matanya. Jika bukan karena Ujian-nya ia malas sebenarnya untuk bangun dari tidurnya itu. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar mandinya. Di dapur, Ms.Yoo sibuk menyiapakan sarapan pagi untuk anak tercintanya, berbagai bahan yang tesedia didalam lemari esnya telah ia ubah menjadi sebuah hidangan yang siap untuk disantap. Mengingat hari ini adalah hari ujian Youngjae, Ms.Yoo rela bangun lebih awal agar bisa membuat sarapan spesial untuk anaknya itu. Setelah semua makanan sudah tertata rapi di meja makan, Ms.Yoo memanggil Youngjae untuk segara keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama.

"Ibu membuat ini semua?" Seru Youngjae ketika melihat menu sarapannya yang begitu berbeda.

"Tentu dong sayang, Ibu membuat ini semua agar kamu lebih semangat lagi ujiannya hari ini" Ujar Ms.Yoo "Makanlah.." Lanjutnya lagi. Youngjae tidak menjawab hanya duduk dan mulai menikmati sarapanya.

"Setelah pulang kuliah, kau temui Hyera untuk fitting baju ya" Ms.Yoo berujar lagi.

"Harus sekali hari ini?"

"Tentu, kapan lagi dong sayang?? Acaramu akan dilangsungkan minggu depan"

"Tapi sayangnya aku sudah ada janji dengan Daehyun Hyung" Ujar Youngjae berbohong.

"Tidak bisa kau batalkan saja?"

"Tidak bisa bu, ini lebih penting"

"Hm.. Baiklah mungkin besok saja kalo begitu"

"Ya.. yaa terserah ibu saja" Kembali Youngjae hanya pasrah dengan kemauan ibunya lagi.

.Daejae.

"Kenapa dia susah dihubungi?" Sejak datang ke kampusnya Youngjae terus mendengus kesal. Pasalnya Gurunya Jung Daehyun tidak bisa ia hubungi, padahal ada hal yang ingin ia bicarakan.

"Hey, mate wajahmu mengerikan sekali ada apa?" Himchan yang memperhatikan gerak gerik Youngjae sejak tadi mengeluarkan suaranya.

"Tidak apa-apa hyung!!"

"Kau Yakin?" Himchan melirik pada ponsel yang Youngjae pegang. "Oh,. Jung Daehyun" Lanjutnya lagi. Youngjae langsung memeluk ponsel didadannya. "Haha.. Temui saja langsung, kalo memang susah dihubungi" Himchan mulai mengerti masalah Youngjae.

"Aiis.. apa-apaan kau ini hyung" Youngjae mengelak.

"Kau mulai menyukainya ya.. " Himchan mengintrogasi Youngjae. Youngjae hanya meduduknya bola matanya malas. "Akui saja, dari pada keduluan yang lain". Deg, Tiba-tiba Youngjae teringat buku kecil yang ia temukan beberapa hari yang lalu. Tentang Daehyun yang sedang menyukai seseorang, hatinya seketika berdenyut nyeri, apa mungkin? Namun, Youngjae tetap mencoba menutupi perasaannya itu di depan Himchan.

"Hyung,. berhenti menuduhku bahwa aku menyukainya" Kesal Youngjae.

"Aku tidak menuduh, hanya mengingatkan"

"Terserah" Youngjae bangkit dari duduknya meninggalkan Himchan disana.

"Dasar, awas saja kalo dia benar-benar menyukai Daehyun" Himchan bergerutu kesal.

.Daejae.

Hari ini adalah hari terakhir ujian Youngjae. Dan tepat seminggu ini juga Youngjae tidak bertemu dengan gurunya itu. Jika dia boleh jujur, sebenarnya dia sangat merindukan sosok guru yang menyebalkan baginya itu. Entah kenapa tapi rasanya itu tidak bisa Youngjae tolak. Dan untuk kesekian kalinya, Youngjae mencoba menghubunginya lagi. Berharap kali ini Daehyun meresponnya. Dan...

"Ya... ada apa-.." suara yang Youngjae harapkan akhirnya terdengar juga ditelinga indahnya.

"Hyungg.. Akhirnya, kau menjawab telponku juga" Youngjae berteriak senang

"Ada apa?" Daehyun hanya menjawab datar.

"Yak.. Kau tidak merindukanku? Kemana saja kau selama ini?" Youngjae berbicara apa yang ada dalam otaknya, dengan nada bercanda.

"Heuh.. Hanya mediasi,"

"Kau ada jadwal hari ini?"

"Tidak ada"

"Sepulang kuliah, aku tunggu di taman kota ya"

"Heemmm"

"Kau kenapa? Apa kau sakit? Suaramu berbeda sekali" Tanya Youngjae Khawatir.

"Ya..Sepertinya"

"Kau sakit apa? Apa aku saja yang kerumahmu nanti?"

"Tidak perlu"

"Yak kau tidak menjawab pertanyaanku, kau sakit apa?"

"Hatiku-"

Tut..tutt...

"Hyung..? Aisshh..kenapa telponnya ditutup?" Youngjae melirik pada ponselnya, dan memang benar Daehyun telah menutup sambunganya.

"Ehhemm..ada yang lagi bahagia nih," Himchan berceloteh disamping Youngjae.

"Yakk.. Sejak kapan kau datang?" Youngjae tidak bisa menutupi kekagetanya.

"Sejak kau menelpon denganya,. Ternyata benar dugaanku selama ini" Youngjae menunduk malu,. "Jujur saja,kalo kau memang menykainya"

"Hmm,.menurutmu hyung?

"Yak kau benar menyukainya?" Himchan berteriak senang dan Youngjae hanya mengangguk malu.

"Ahk.. Akhirnyaa.. "

"Tapi bagaimana dengan Hyera?"Youngjae bertanya takut.

"Kau akan bertungan denganya sabtu inikan?" Kembali Youngjae hanya mengangguk.

"Kau belum menikah dengannya, masih ada kesempatan kurasa"

"Semoga" Jawab Youngjae lesu. Namun Himchan tiba-tiba memeluknya.

"Aku senang akhirnya.., kau bisa jatuh cinta juga" Ujar Himchan. Youngjae hanya tersenyum malu, merasa bahagia temannya ini sangat mendukungnya.

.daejae.

Dilain tempat, terlihat suasana begitu berdeda disalah satu rumah kecil. Terlihat gelap namun masih terlihat bayangan-bayangan kecil karena cahaya matahari yang masuk lewat ventilasi. Seseorang tertunduk lesu menyender pada sofa yang ada disana. Terlihat sedih, dan frustrasi. -Jung Daehyun- orang tersebut dengan keadaan yang acak-acakan dan tatapan kosongnya terlihat benar-benar seperti orang gangguan jiwa. Mungkin benar dia memang sedang dalam gangguan tapi bukan jiwanya namun hatinya. Beberapa hari ini dia tengah frustasi karena satu hal cintanya. Ia tau, ia faham betul ini salah. Tapi entah kenapa sakitnya bisa ia dapatkan sesakit ini. Ia hanya mencintai muridnya Yoo Youngjae dan hanya ingin bersamanya apakah salah?. Sungguh karena ini semua ia bahkan lupa untuk mengisi perutnya sendiri. Ia ingin mencoba bertemu dengan muridnya itu namun kembali kata Hyera terus teringiang dipikirannya. Hari ini tepat seminggu ia tidak bertemu dengan muridnya itu, dan Youngjae menghubunginya lagi, setelah ia menolaknya beberapa kali, hanya untuk mediasi. Sejujurnya ia juga sangat merindukan sosok muridnya itu, namun seperti kata sebelumnya Hyera, Hyera dan Hyera. Dan memang benabenar saja hati memang tidak bisa untuk dibohongi lagi, Ia mencoba melawan hari ini. Melawan untuk bertemu Youngjae. Sebelum hari bejat itu datang.

.Daejae.

Jam ujian terakhir telah usai, Youngjae dengan gerakan cepatnya merapikan semua buku-bukunya. Menghubungi kembali gurunya untuk bertemu. Lagi, ponsel Daehyun tidak bisa dihubungi. Youngjae dengan langkah buru-burunya meninggalkan kelasnya cepat bahkan panggilan Himchan tidak ia hiraukan. Sesampainya ditempat parkiran Youngjae melihat seseorang yang sepertinya ia kenal sedang duduk dibangku taman yang dekat dengan parkiran kampusnya.

"Dae.. Hyung??" ujar Youngjae.

Seseorang yang merasa terpanggilpun menengok ke sumber suara.

"Haii.." Daehyun dengan deretan giginya yang ia tunjukan seperti menandakan bahwa dia tidak apa-apa.

"Hyungg.. Aku kira kau tidak jadi bertemu denganku" oceh Youngjae.

"Bagaimana ujianmu?"

"Aku rasa, aku akan mendapatkan nilai bagus" Sombong Youngjae.

"Ck.. Percaya diri sekali kau"

"Ada hal yang ingin aku bicarakan" Ujar Youngjae tiba-tiba. Daehyun menaikan alisnya penasaran.

"Katakan saja"

"Kurasa kita butuh tempat yang bagus" Tanpa minta persetujuan dari Daehyun, Youngjae menarik tangan gurunya itu menuju bus yang baru saja sampai di halte bus dekat kampus Youngjae.

Cafee..

Daehyun dan Youngjae kini berada disalah satu cafe pinggiran taman kota. Dengan wajah gugupnya Youngjae langsung berbicara mengenai tujuan ingin bertemunya ia dengan Daehyun.

"Ada hal apa? Sepertinya serius sekali" Tanya Daehyun.

"Euumm.. Aku hanya ingin mengembalikan ini" Youngjae menyodorkan buku kecil yang ia sempat temukan dibuku catatannya minggu lalu. Daehyun kaget bukan main, bagaimana bisa Youngjae menemukan buku rahasia besarnya?.

"Kau.. Bagaimana ini bisa-.. "

"Aku menemukannya di buku catatanku. Aku rasa hyung salah menyimpannya" potong Youngjae. "Maafkan aku, jika aku sudah lancang membaca isinya" lanjut Youngjae. Daehyun berpikir sejenak dan memang benar ini semua kecerobohannya.

"Jadi, kau sudah tau isinya. Lalu kau akan memakiku sekarang?" Ujar Daehyun

"Tidak, aku hanya ingin menanyakan, siapa pria yang Hyung maksud dibuku itu?" Daehyun terperangah kaget, Ia pikir bahwa Youngjae akan memakinya atau menghujatnya. Tapi ia malah mendapatkan pertanyaan semacam itu.

"Aahh.. Ituu.."

"Tidak apa-apa jika hyung tidak ingin mengatakannya, aku tau ini adahal hal privasi dan seharusnya aku tidak menanyakan hal itu apalagi sampai membacanya, maafkan aku" Youngjae tertunduk malu.

"Bukan begitu maksudku, percuma jika aku ceritakan semuanya tentang dia,"

"Kenapa?"

"Dia akan segera bertunangan" Ujar Daehyun. Youngjae tersedak Coffee yang ia minum,

"Kau serius?"

"Ia begitulah, Lupakan itu. Jangan dibahas lagi oke"

"Ahh,. maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat hyung tersinggung"

"hmm.. Tidak apa-apa" Daehyun tersenyum manis.

"oh ya Hyung, aku lupa. Ini,. kau pasti datangkan? Ibuku benar-benar cerewet sekali, Dia menginginkanmu untuk dateng" Youngjae menyodorkan sebuah undangan dengan balutan pita manis didedapnya. Inilah hal yang Daehyun benci, Acara pertunangan Youngjae semakin dekat saja.

"Ahh... Ia pastii,. Aku akan datang" Kembali senyuman palsu itu disematkan lagi dibibir tebalnya.

"Kau terlihat kurus hyung?" Ujar Youngjae tiba-tiba.

"Eoh??"

"Ah.. Lupakan,. Aku hanya bertanya. Hehe" Youngjae hanya tersenyum lebar. Youngjae tau bahwa gurunya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya tapi apa? Youngjae sangat penasaran akan hal itu, Tapi tidak mungkin juga ia bertanya dalam keadaan mood gurunya itu buruk. Youngjae terus menatap gurunya itu khawatir, sebelum akhirnya suara seseorang didepannya menyadarkan dia dari lamunannya.

"Heyy..." Ujar Daehyun, dengan tangannya yang terus ia lambaikan.

"Eungg.. Ya Hyung"

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang aneh ya?" Ujar Daehyun sembari melihat pakaiannya.

"Ahh.. Tidak ada," Jawab Youngjae gugup.

"Lalu?"

"Ahk,. Lupakan saja, iya lupakan" Dengan cengirannya Youngjae mencoba meyakinkan.

"Ah,. Aku tidak bisa lama-lama, ada hal yang harus aku selesaikan, jadi apa tidak apa-apa jika aku pulang duluan?" Ujar Daehyun.

"Ah.. Ia tidak apa-apa, hati-hatilah kalo begitu"

"Hemm.. Aku pergi dulu, bye"

"Ya.. Bye~" Sepergiannya Daehyun, Youngjae terus brgerutu, kenapa dia bisa segugup ini. Ia terus menarik turunkan nafasnya agar detak jantungnya normal kembali.

/sial kenapa aku bisa suka dengan pria semacam dia/

.Daejae.

Hari yang tidak dinginkan Daehyun pun tiba, hari ini tidak malam ini lebih tepatnya, Youngjae akan melangsungkan pertunangannya dengan Hyera. Tidak ingin mengecewakan keluarga Yoo Daehyun datang sesuai yang diinginkan ibu Youngjae. Bahkan Daehyun sudah menyiapkan mental bajanya untuk melihat acara puncaknya nanti.

"Pucat sekali, apa kau gugup?" Ujar Daehyun ketika ia bertemu Youngjae di Toilet.

"Apa terlalu terlihat?"

"Tidak juga, ketika dilihat dari jauh. Oh, ya ibumu mencarimu tadi"

"Benarkah? Aisjh,.. Tidak sabaran sekali"

"Sudah, hampiri saja. Lagi pula acara akan dimulai 10 menit lagi bukan?"

"Kau benar," Youngjae menarik nafasnya berat. Dan berlalu pergi meninggalkan toilet.

Acara penukaran cincin pun dimulai. Dengan teganya Ms.Yoo memosisikan Daehyun tepat disamping Youngjae, mungkin menurutnya agar terlihat seperti kakaknya, namun bagi Daehyun inilah tontonan termengerikan yang ia harus lihat dengan paksa. Daehyun menyaksikan bagaimana cincin itu ditautkan satu sama lain, seperti sudah dikatakan sebelumnya, Daehyun sudah menyiapkan mental bajanya untuk ini semua. Menyaksikan orang yang kau sukai bertunangan dengan orang lain. Berbagai tamu undangan bertepuk tangan ria menyaksikan puncak acara yang berjalan dengan lancar. Daehyun menghampiri dua sejoli itu untuk mengatakan selamat, sebelum acara jamuan dimulai. Ingin rasanya Daehyun segera pergi dari acara itu dan segera pergi tidur, Ia rasa itu jauh lebih baik dibanding ia harus menyalami semua tamu undangan dan melihat Hyera disana terus bergelayut manja ditangan Youngjae,Sungguh pemandangan merusak mata dan hati Daehyun. Namun lagi, Ini semua karena keinginan Ms. Yoo. Ibu Youngjae. Berdeda dengan Daehyun. Hyera dengan perasaan bahagianya terus berbuat manis pada Youngjae, tentunya untuk memperlihatkan kemesraan mereka didepan para tamu undangan. Youngjae(?) Semua yang ia lakukan malam ini adalah drama belaka ingat hanya drama, senyuman bahagia yang ia pancarkan itu semua kebohongan belaka, hanya untuk kesenangan ibunya. Pikiran Youngjae hanya satu, Dimana gurunya? Sejak ucapan selamat tadi, Daehyun menghilang di dekatnya begitu saja. Raganya memang bersama Hyera sekarang namun mata dan hatinya tetap tertuju pada satu orang Jung Daehyun.

Tiba-tiba mata Hyera tertuju pada seseorang di kerumunan banyak Tamu undangan, Seseorang tersebut melambaikan tangannya ke arah Hyera dengan segelas minuman di tangannya. Merasa mengenali orang tersebut Hyera pun mencoba menghampirinya.

"Chagiya.. Aku menemui temanku dulu disana ya" Ujar Hyera pada Youngjae. Tanpa pikir panjang Youngjae langsung mengiakan kepergian Hyera, Ini hal bagus bukan dengan begitu ia bisa mencari Daehyun.

"Pergilah,"

"Gomawoo" Hyera pun pergi, dan menghampiri seseorang tadi.

"Lee Tanhae" Panggil Hyera dengan suara kagetnya khas seperti orang terkejut.

"Haii.. Halo sayang,. Lama tidak bertemu. Kau masih mengingatku juga ternyata" Ujar seseorang yang dipanggil Lee Tanhae tadi. Hyera langsung menarik Tanhae jauh dari para tamu undangan disana.

/Taman belakang/

"Sejak kapan kau ada di Korea?" Tanya Hyera to the point

"Sejak berita pertunanganmu dengan si pria manis itu" Jawab Tanhae sembari bersiul nakal. "Hebat ya, kau bertunangan tanpa memberitahuku dulu, padahal statusmu masih miliku" Lanjut Tanhae dengan tangannya yang mencolek dagu Hyera.

"Kita sudah tidak ada hubungan lagi, kau lupa" Ujar Hyera angkuh.

"Ohh,.. Aku pikir kau yang lupa, kau masih memiliki kontrak dengan Mr.Kim bukan?, Itu artinya kau masih menjadi teman tidurku sayang." Jelas Tanhae.

"Berhenti memanggilku sayang"

"Oh.. Kenapa? Kau takut ketahuan oleh calon suamimu itu hmm? Memang itu tujuanku. Kau pikir kontrakmu itu habis begitu saja ketika kau pergi ke Korea? Banyak pelanggan yang menunggumu disana,. Dan kau seenak jidat pergi begitu saja, lalu bertunangan dengan pria yang tak berdosa? Heuhh... Apa jadinya jika aku beritahu dia ya"

"Jangan pernah mencoba merusak kebahagiaanku" Ancam Hyera. Menarik kerah baju Tanhae.

"Ouh.. haha, aku tidak mencoba merusak kebahagiaanmu. Hanya menegakkan

kejujuran disini, memberitahu calon suamimu itu bahwa wanita calon istrinya ini adalah seorang perempuan bayaran" Tanhae membisikan kata perempuan bayaran pada telinga Hyera.

"Apa mau mu heuh? Kau mengancamku?" Hyera semakin menggentarkan cengkeramannya.

"Aku tidak menginginkan apapun, hanya menjalankan perintah saja, kau kembali ke Amerika atau tetap di Korea dengan rahasiamu yang akan bocor perlahan-lahan" Bisik Tanhae. Hyera membanting cengkramannya kesal.

"Kau juga harus ingat, tidak hanya calon suamimu itu yang tau, tapi... keluargamu juga" Lanjut Tanhae. Hyera berpikir sejenak. Hal yang ia takutkan akan terjadi, Ini semua adalah memang salahnya. Ia pulang kembali ke Korea hanya ingin merubah segalanya. merubah dirinya dari dunia gelap. Dan Hyera tau orang yang tepat membantunya adalah Youngjae, oleh karena itu ia kabur dari Amerika ke Korea hanya untuk bertemu lagi dengan Youngjae dengan kedok bahwa ia telah mempunyai pekerjaan yang layak di Amerika sana.

"Jadi bagaimana tentang penawaranku? " Tanhae membuyarkan lamunan Hyera.

"Beri aku waktu untuk beberapa hari" tawar Hyera. Tanhae tertawa lepas dan mendekatan wajahnya lalu berbisik.

"Apapun untumu.. Saya-..."

"Hyera..." Hyera berbalik pada sumber suara yang memanggilnya. Dan betapa kagetnya dia melihat sosok yang baru saja memanggilnya itu..

Youngjae berdiri mematung menyaksikan 2 sejoli yang tengah asik berbincang disana.

"Youngjaee... ya"

.

.

.

.

.

.

TBC