Author
xjungyoox
Main Cast
Jung Daehyun Yoo Youngjae
a.k.a Daejae
Other Cast
Ms. Yoo, Kim Himchan, Bang Yongguk, Kim Hyera, Lee Tanhae
NOTE: Maafkan jika banyak typo segala macem ini pemula. Maklumlah ff pertama publish.. hehe semoga diterima. Ini asli dari pemikiran sendiri yang datang secara tbtb'-'.
...
Youngjae baru saja mengantarkan Daehyun pulang kerumahnya setelah acara jalan-jalanya di taman kota. Mobil putih kesayanganya mulai memasuki garasi rumahnya. Youngjae menggeliat lelah setelah pintu mobilnya ia tutup kembali. Youngjae berjalan dan membuka pintu rumahnya, baru saja beberapa langkah berjalan Youngjae mendengar panggilan Ibunya dari arah ruang tamu.
"Youngjae-yaa"
"Ne, Eomma" Jawab Youngjae lesu.
"Duduklah, Eomma ingin bertanya sesuatu padamu" Seru Ms. Yoo. Youngjae tanpa rasa curiga menghampiri Ibunya disana.
"Kau dari mana?"
"Menemani Hyera belanja"
"Bohong, Tadi Hyera kemari dan dia bilang pada Ibu kalau kau meninggalkannya di Mall, apa benar?"
"Heuh.. ternyata dia benar-benar mengadu"
"Yak..jawab pertanyaan Ibu Youngjae-ya.."
"Kalau ia memang kenapa? Ibu akan membelanya?"
/Plak/ Tamparan keras berhasil mendarat dipipi chubby Youngjae.
"Kau sudah mempermalukan keluargamu sendiri, bagaimana jika keluarga Kim tau tentang masalah ini? Mereka akan menganggap kita keluarga tidak tau diri, Kau akan dinilai tidak bertanggung jawab terhadap keselamatan Hyera, Kerja sama antar keluarga akan gagal jika kau bersikap seperti ini"
"Selesai, bicaranya?" Youngjae dengan nafasnya yang memburu tidak dapat menahan lagi emosinya. Ia tidak menyangka jika ibunya akan menamparnya seperti tadi.
"Aku sudah lelah dengan semua ini. Melakukan apapun yang Ibu mau, menuruti semua keinginan Ibu, aku pikir jika itu semua hanya untuk kebaikanku, tapi ternyata Ibu mementingkan itu semua hanya untuk kesenangan Ibu sendiri. Bukan untukku Bu," Youngjae menumpahkan semua kekesalannya selama ini, awalnya dia memang menuruti semua keinginan ibunya itu. Tapi kali ini ia jengah dengan semuanya. Emosinya memuncak ketika Ibunya menampar pipi manisnya dengan entengnya.
/Plak/ Untuk kedua kalinya Ms. Yoo menampar anaknya lagi.
"Jaga, ucapanmu!".
"Bahkan, aku tidak menyangka jika Ibu berani menamparku. Ibu benar-benar berubah setelah kepergian ayah, Ibu bukan Ibu yang Youngjae kenal dulu, Ibu.."
/Plak/...
"Berhenti berbicara hal yang tidak benar, kau hanya tinggal menuruti apa kata ibu. Ibu melakukan semua ini untuk kebaikanmu juga. Ibu tidak ingin mendengar penolakan yang tidak masuk di akal"
"Kebaikanku? Apa ibu yakin? Bukanlah ibu melakukan ini semua hanya untuk uang semata?"
"Kau berani melawan Ibumu sendiri? Pernikahanmu sebentar lagi akan dilakukan, Jadi bersikaplah yang baik terhadap calon istrimu dan mertuamu"
"Heuh.. Tapi sayangnya aku akan membatalkan pernikahan itu".
Mendengar kalimat yang teterlontar dimulut anaknya Ms. Yoo menatap Youngjae murka.
"Apa kau bilang?"
"Iya, aku akan membatalkan pernikahan itu" Youngjae mengulang kalimatnya lagi, Tangan Ms. Yoo mulai melayang lagi siap mendarat dipipi Youngjae, Namun tangan Youngjae berhasil menahanya.
"Aku tidak mencintai Hyera bu, Dia memang teman kecilku tapi bukan berarti aku juga mencintainya. Aku tidak bisa, aku mohon jangan memaksaku"
"Ibu melakukan ini semua untuk mu, kebaikanmu sendiri. Hyera orang yang baik, dia bisa segalanya apa lagi yang kurang darinya? Hyera orang yang tepat untukmu Youngjae-ya.. Apa salah jika Ibu menjodohkanmu dengannya karena itu"
"Tapi tidak dengan Hyera bu, masih banyak orang lain yang lebih pintar darinya"
"Lalu siapa? Siapa yang bisa..."
"Daehyun- Hyung" Potong Youngjae.
Ms. Yoo membelalak kaget, Nafasnya tertahan seketika.
"Siapa kau bilang? Tarik kembali ucapanmu itu"
"Itu benar bu, aku lebih mencintai Daehyun Hyung dari pada Hyera" Dengan nafas yang tersisa Ms. Yoo tertunduk menahan rasa kekagetannya, sampai akhirnya cairan bening keluar menetes disudut matanya.
"Kau tau itu salah, bukan?"
"A.. ku-"
"Ibu tidak pernah mengajarimu untuk mencintai seorang pria, APA KAU GILA? Siapa yang mengajarimu hal bodoh seperti itu? Oh... Aku tau, ayahmu? Iya?"
"Jangan membawa ayah dalam masalah ini, Ini semua bukan karenanya"
"Oh.. atau anak itu sendiri? Gurumu itu? ANAK SIALAN ITU? Aku menyuruhnya mengajarimu hal baik, Bukan menjerumuskanmu kedalam hal gila semacam ini?"
"Bukan, bu-"
"Heuh... Ternyata selama ini aku mendapatkan orang yang salah"
"Tidak bu, bukan dia-"
"Berhenti berkilah, sekarang kau masuk kamarmu"
"Bu.." Ms. Yoo pergi ke kamarnya meninggalkan Youngjae mematung diruang tamu.
"Sial.. Apa yang aku lakukan? Kenapa aku harus mengatakan itu semua..? Ahkk, Bodoh kau Yoo Youngjae" Youngjae bergerutu sendiri. Sebelum akhirnya dia pergi masuk kekamarnya.
.Daejae.
Suara pintu kamar mandi terbuka menampakakan seorang pria dengan balutan anduk di pinggangnya. Mengacak rambutnya yang berantakan, Daehyun baru saja menyelesaika acara mandinya. Setelah berpakaian seadanya Daehyun mengambil handphonenya bermaksud menyalakan musik, namun tiba-tiba matanya tertuju pada galeri handphone ditanganya.
Dia mencoba membuka file tersebut, betapa kagetnya Daehyun ketika melihat fotonya dan Youngjae ada disana. Daehyun menerka-nerka kapan dia berfoto bersama Youngjae dalam keadaan *Hmm* saling tatap menatap seperti itu?. 5 detik kemudian Daehyun menepuk jidatnya. Kejadian tadi siang, Daehyun baru sadar ternyata handphone-nya menggunakan kamera depan. Daehyun terus menatap foto tersebut, hingga akhirnya sudut bibirnya tertarik ke atas bergaris sebuah senyuman.
"Kau memang benar-benar cantik Youngjae-ya.." serunya. "Akan kusimpan baik-baik foto ini" ujarnya lagi.
...
Di lain tempat, Hyera baru saja pulang dari kediaman rumah Youngjae, Ia terus saja bergerutu kesal mengenai kejadian tadi dimall, jika saja Youngjae mengikuti kemauannya ia tidak akan pulang dengan jalan kaki seperti sekarang, "Menyebalkan". Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkannya.
"Hyeraa..". Mendengar suaranya di panggil Hyera berbalik dan berusaha lari kemudian setelah tau siapa yang memanggilnya.
"Hey.. hey.. Tunggu, mau kemana? hm?" Tanhae seseorang yang memanggilnya tadi memberhentikan langkah Hyera.
"Yakk.. lepas, apa yang kau lakukan?" Hyera memberontak.
"Ikut denganku sekarang"
"Tidak mau, Yak.. lepas,". Tanhae memaksa Hyera masuk kedalam mobilnya.
"Yak kau gila? Kau mau membawaku kemana ?" Tanhae menutup pintu mobilnya, dan mulai memasang sabuk pengamannya.
"Diam dan jangan berontak, Ikuti saja. Pasang sabuk pengamanmu" Mobil yang dibawa Tanhae akhirnya melesat dijalanan ramai kota Seoul. Di dalam perjalanan Hyera tidak berhenti mengoceh, apa tujuan Tanhae menculiknya. Ia tidak suka diperlakukan seperti ini.
"Berhenti, ku bilang" Untuk kesekian kalinya Hyera murka, namun tetap tidak diindahkan oleh Tanhae. Hingga akhirnya, Mobil putih itu membanting stirnya dan berhenti dipinggir jalan.
"Kau cerewet sekali, Aku sudah bilang padamu, Ikuti saja"
"Aku tidak-.."
"Aku menagih jawabanmu"
"Jawaban apa?"
"Oh, kau pura-pura lupa, ini sudah hari ke sekian kalinya setelah acara pertunanganmu. Jadi apa jawabanmu? Aku tidak bisa lama-lama disini hanya menunggumu yang susah untuk kembali lagi ke Amerika"
"Dengar, aku tidak ingin kembali lagi ke Amerika aku berhenti menjadi wanita bayaranmu. Aku muak dengan semuanya. Kau memperlakukanku tidak seperti apa yang Bos bicarakan sebelumnya, Aku lelah dengan semua ini. Dan katakan pada Bos mu itu Aku berhenti menjadi budaknya" Ujar Hyera Murka.
"Hoh.. jadi itu jawabanmu, Baiklah sesuai perjanjian sebelumnya, Jangan salahkan aku jika tiba-tiba keluargamu mengetahui tentang ini semua, apalagi calon suamimu itu" Tatapan Tanhae terlihat meyakinkan.
"Dan aku akan membongkar semuanya tentang rahasia SFM jika kau melakukan itu"
"Kau mengancamku juga?" Tanhae memegang dagu manis Hyera dan melanjutkan kalimatnya "Kita lihat saja siapa yang akan menderita untuk pertama kalinya"
.Daejae.
Hari ini Youngjae kembali menjalani aktifitas seperti biasanya, pergi kuliah. Setelah semua perlengkapan kuliahnya dirasa cukup Youngjae pergi meninggalkan kamarnya, ketika knop pintu berhasil ia tutup Youngjae melihat Ibunya sedang menelpon dengan seseorang disana entah dengan siapa Ia tidak peduli.
Karena Ia dan Ibunya sedang dalam mode tidak baik, gara-gara perdebatan semalam Youngjae hanya melesat begitu saja tanpa pamit kepada Ibunya. Karena batin seorang Ibu lebih besar, Ia menyadari kehadiran Youngjae disana. Ms. Yoo memanggil anaknya itu tanpa meliriknya.
"Youngjae, Setelah pulang kuliah kembalilah cepat kerumah" Ujarnya, Youngjae menghentikan langkahnya sejenak, lalu pergi melesat begitu saja tidak ingin menimpali perkataan Ibunya.
Suasana perkuliahan hari ini begitu membosankan bagi Youngjae, Entah mengapa. Ia tiba-tiba ingin bertemu dengan gurunya itu, memerindukanya? mungkin. Himchan menendang meja yang dipakai Youngjae sebagai penopang kepalanya. Membuat Youngjae terkejut dan meliriknya sinis.
"Yak, tidak bisakah sekali saja aku melihatmu tersenyum hari ini Mr. Yoo Youngjae?" ujar Himchan jengah.
"Wae?" Jawab Youngjae malas.
"Kau belum tersenyum hari ini padaku, jadi tersenyumlah" Youngjae membuat bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman, namun kembali bersikap datar seperti sebelumnya. Himchan yang menyadari hal tersebut hanya menggeleng pelan.
"Ini, hasil Ujian kemarin. Selamat kau mendapat nilai terbesar"
"Mwo?" Youngjae mendongakkan kepalanya kaget.
"Ck, ini, lihat saja sendiri. Ahh,. Ternyata gurumu itu manjur juga ya.. hahah" Himchan berujar sambil mendudukan pantatnya pada bangku kosong disebelah Youngjae.
"Ck, kau ini hyung,." Youngjae melihat kertas yang diberikan Himchan padanya dan matanya sukses berbinar senang. "Yakk, Ini serius hyung? Wouu, aku tidak berfikir akan hasilnya seperti ini, dia pasti akan senang dengan hasilku ini, Hyung terimakasih"
"Siapa dia? Ibumu? atau Gurumu itu?"
"Siapapun, Akhh.. Aku benar-benar tidak percaya" Youngjae terus mengekspresikan kebahagiaannya,
"Baiklah, sekarang saatnya kau traktir aku makan di kantin, bagaimana?"
"Mwo? Apa hubungannya dengan hasil ujianku?"
"Belaga polos, kau tidak akan mendapatkan nilai sebesar itu jika aku tidak duduk didepanmu saat itu"
"Yak, kau pikir aku menyontek dibelakangmu?"
"keke.. oke,. oke,. Maafkan aku. Jadi bagaimana jika kau tetap mentraktirku sebagai perayaan kecil atas keberhasilanmu itu?" Himchan masih tetap dengan kemauannya.
"Kenapa tidak minta Yongguk-hyung saja?"
"Dia tidak masuk kuliah hari ini"
"Ck, Alasan.. bilang saja kau tidak punya uang, Kajja, sebelum aku berubah pikiran" Akhirnya Youngjae mengindahkan keinginan Himchan.
"Enak saja kalau bicara.. Benar ya,kau yang traktir?"
"Iya,.. Kajja" Akhirnya mereka pun melesat pergi meninggalkan ruang kelas mereka.
.Daejae.
Daehyun terus menatap jam yang melingkar manis ditanganya, seseorang yang ditunggunya belum terlihat juga didepan pintu cafe yang bertuliskan tarik dorong itu. Beberapa waktu lalu seseorang menelponnya meminta untuk bertemu untuk membahas perihal.. entahlah dia sendiri juga tidak menjelaskan dengan baik, intinya dia ingin bertemu dengan Daehyun itu saja, sejujurnya ia merasa sedikit takut dengan pertemuannya ini, entahlah tapi perasaanya merasakan ada hal tidak baik yang akan menimpannya nanti. Ketika Daehyun tengah asyik dengan lamunannya suara bel pintu kafe berbunyi *Kling* Seseorang yang ditunggunya telah datang, Daehyun menunduk hormat pada seseorang tersebut yang kini menghampirinya,
"Selamat pagi Ms. Yoo" Sapa Daehyun. Tidak ada jawaban.
Mr.Yoo seseorang yang menemui Daehyun duduk dengan elegannya didepan meja Daehyun. "Lama tidak berjumpa,. Mr. Jung" Ujar Ms.Yoo "Pekerjaan yang menumpuk membuatku jarang berada dirumah. Bahkan sampai aku tidak memperhatikan tingkah laku anakku sendiri, bagaimana keadaan belajar nya sekarang?" Lanjut Ms.Yoo. Dia berbicara seolah dia tidak tau apa-apa. "Hm.. Youngjae belajar dengan baik, Dia bahkan dapat menangkap dengan cepat pelajaran yang aku berikan" Daehyun menjawab dengan tenang, walaupun dia sadar ada tatapan mencurigakan dari sudut mata Ibu dari muridnya itu.
"Oh,begitukah? Aku senang mendengarnya" sebelum akhirnya Ms.Yoo mengeluarkan kertas berbungkus warna coklat dan memberikannya pada Daehyun "Ini, bayaranmu selama beberapa bulan ini. Aku sudah melunasi semuanya, dan untuk hari ini kau tidak perlu datang untuk mengajari Youngjae lagi"
"Kenapa begitu?" Ujar Daehyun terkejut.
"Kau lupa? Kau bilang sendiri bukan akan mengajari Youngjae sampai mengerti? Lalu sekarang untuk apa? Toh Youngjae sudah menguasai semua pelajaran yang sudah kau berikan ia kan?
"Tapii.."
"Kenapa? Apa ini kurang? Oh, sebentar.." Mr. Yoo mengeluarkan lagi kertas yang sama dan menyodorkannya lagi pada Daehyun. "Ini.. Seperti tambahan, Jangan terkejut seperti itu. Kau hanya perlu melakukan satu langkah lagi, untuk melakukan suatu hal"
"Apa itu?"
"Jauhi anakku!!"
"Maaf, tapi aku tidak mengerti maksud anda Ms. Yoo" Daehyun masih menginginkan penjelasan lebih dari maksud perkataan ibu Youngjae.
"Kau tidak perlu bersikap tidak tau apa-apa. Karena aku tau semuanya. Kau sudah menjerumuskan anakku untuk mencintai seorang pria Ia bukan?"
"Aku, benar-benar tidak mengerti. Aku mengajari Youngjae seperti apa yang Ms. Yoo harapkan. Apa itu mencintai seorang pria? aku tidak mengerti?" Daehyun masih kebingungan dengan maksud Ms. Yoo.
"Sudahlah aku malas membahas hal yang menjijikkan, yang jelas kau berhenti menjadi guru Youngjae mulai sekarang. Dan ingat jangan coba-coba mendekatinya lagi", Ms. Yoo mengambil tasnya dan melesat pergi meninggalkan Daehyun disana.
"Youngjae mencintai seorang pria? Siapa dia?" Daehyun berpikir mengenai maksud Ms. Yoo tadi. Ada rasa khawatir yang tersembunyi dalam hati Daehyun. Ia benar-benar penasaran siapa laki-laki yang Youngjae cintai?
.Daejae.
"Yak, Youngjae kau langsung pulang?" Himchan menepuk bahu Youngjae pelan setelah jam mata kuliah selesai.
"Hmm.. Sepertinya aku akan ke rumah Daehyun-hyung dulu" Ujar Youngjae.
"Rumah Daehyun? Untuk apa? Jangan-jangan kau akan..."
"Apa..? Belajar bersamalah apa lagi" Jawab Youngjae.
"Oh, kupukir kau akan berkencan denganya" Bisik Himchan. Youngjae langsung menatap sinis teman disampinya itu. "Keke..tadinya aku ingin pulang bersamamu. Tapi.."
"Bukankah ada Yongguk-hyung?" putus Youngjae.
"Ck.. aku bilang dia tidak masuk kuliah hari ini. Kau ini benar-benar"
"Oh.. Hehe,. Ayolah, aku antar. Lagi pula jarak rumahnya satu arah dengan rumahmu"
"O.. benarkah?"
"Iya.. Ayo" Youngjae langsung meleset memasuki mobilnya.
...
"Tumben sekali kau belajar di rumahnya? Bukankah setiap belajar dia yang kerumahmu kan?" Ujar Himchan, mulai memecahkan keheningan dalam mobil Youngjae.
"Mencari suasana baru saja"
"Oh..Jadi bagaimana tentang perasaanmu itu? Kapan kau akan mengakuinya?" Tanya Himchan tiba-tiba.
"Perasaan apa?" Youngjae nampak salah tingkah.
"Ey.. Belaga so tidak tau, Kau kan mencintai Mr... Mr.. Ah..Siapa namanya? Hyun.. Ju,. Ah"
"Jung Daehyun" Jawab Youngjae.
"Nah Iya, Jung Daehyun"
"A,.ku tidak tau hyung" Youngjae menjawab dengan ragu.
"Ck..kau ini bagaimana. Jika aku boleh memberikan saran, aku harap kau cepat mengakuinya sebelum acara pernikahmu dilangsungkan"
"Aku ragu hyung, bagaimana jika dia tidak menyukaiku??"
"Hey, heii. Dari setiap cerita yang aku dengar darimu kurasa dia juga menyukaimu"
"Perasaanmu saja"
"Dengar, Jujur saja padanya. Bagaimana jika laki-laki yang dia maksud dibuku kecil yang kau temui waktu itu, Kembali lagi bertemu Daehyun dan mengatakan bahwa dia mencintai Daehyun seperti Drama-drama yang ada di televisi. Akkh.. itu akan lebih menyakitkan. Jadi lebih baik kau duluan yang merebut hatinya ia kan? Jujur saja padanya oke.. Aku memang belum bertemu dengan orang yang bernama Daehyun itu. Tapi aku merasa kalian memang cocok"
"Ya.. ya,. Terimakasih atas sarannya Mr. Kim sekarang turunlah, rumahmu sudah didepan" Youngjae membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Himchan untuk segera turun.
"Yak.. Aku sedang memberimu saran, kau mengusirku?"
"Aku bisa telat kerumahnya, jika kau terus mengoceh"
"Baiklah, katakan padanya hari ini bahwa kau mencintainya oke.. dan Sampaikan juga salam manisku padanya"
"Ya.. ya.. Aku pergi dulu Himchan hyung, bye.." Youngjae pergi meninggalkan kediaman rumah Himchan.
.Daejae.
Tuk.. tuk.. tuk*
Youngjae mengetuk pintu rumah kecil yang pernah ia kunjungi itu. Tidak perlu menunggu lama sang penghuni rumahpun keluar membukaan pintu itu untuknya.
"Youngjae..?" Kaget Daehyun sang pemilik rumah.
"Hay, hyung..?" Youngjae menampakan senyuman termanisnya. Dan langsung memasuki rumah yang pernah ia kunjungi itu.
"Ada apa kau kemari?"
"Jadwal belajar, hari ini jadwal belajar ku bukan?"
"Sekarang aku bukan lagi gurumu, jadi pulanglah" Daehyun menarik tangan Youngjae untuk keluar dari rumahnya.
"Hyung..Tunggu, ada apa denganmu?"
"Ibumu sudah membayar ku penuh jadi pulanglah sekarang" Daehyun menjawab dengan muka datarnya.
"Kau bertemu ibuku?" Youngjae terbelalak kaget mendengar jawaban Daehyun.
"Sudahlah, Aku tidak ada waktu untuk membahas itu, sekarang kau pulang dan belajarlah dengan pria yang ibumu maksud"
"Hyung.. Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu" Youngjae menarik lagi tangannya seolah meminta Daehyun untuk menceritakan perihal bertemunya dia dan Ibunya.
"Aku tidak tau ada masalah apa antara kau dan Ibumu, tapi yang jelas tidak bisakah kau untuk tidak membawaku dalam masalahmu itu? Aku tidak mengerti perihal kau yang menyukai seorang pria, dan Ibumu dengan mudahnya menuduhku bahwa akulah titik permasalahan dari kalian, Aku tidak mengerti tentang semua jalan pikiranmu Yoo Youngjae" Daehyun menarik nafasnya, meluapkan semua pikiran yang tidak dimengertinya.
"Akan ku jelaskan"
"Harus"
Daehyun duduk disofa disamping Youngjae untuk mendengar penjelasanya. "Aku berdebat masalah acara pernikahan ku dengan Hyera semalam" Mulai Youngjae "Aku akan membatalkan pernikahan itu, tapi ibuku seolah mengerti semua tentang Hyera. Dia tetap memaksaku untuk menikah dengannya. Sampai ada sesusatu pikiran yang memasuki otakku untuk mengatakan langsung pada Ibuku bahwa aku tidak mencintai Hyera, tapi aku lebih mencintai seorang pria yang aku sukai selama ini. Dan dengan spontan aku mengatakan identitas dari pria tersebut, Dan murkalah Ibuku"
"Tapi apa hubungannya dengan ku?"
"Karena pria yang ku maksud adalah kau hyung" Youngjae menunduk menyembunyikan pipi merahnya dari Daehyun.
Daehyun terbelalak kaget "A..ku??.." menunjuk dirinya sendiri. Apa maksudnya? Jadi pria yang Youngjae sukai saat ini dirinya? Jung Daehyun? Ini benar-benar sulit dipercaya,
Youngjae hanya mengangguk. "Maafkan aku, sudah membawa mu kedalam masalahku" Masih dengan tatapan mengarah pada lantai rumah Daehyun. Youngjae terus berusaha menutupi rasa malunya. Tanpa aba-aba Youngjae merasakan sesuatu menarik tubuhnya kedalam sebuah pelukan hangat. Daehyun memeluknnya.
"Aku tidak tau harus berkata apa, tapi terimakasih. Aku pikir selama ini hanya aku sendiri yang mempunyai perasaan itu, aku pikir aku.." Daehyun menutus kalimatnya "kau telah membalas cintaku, Terimakasih. Aku juga mencintaimu Yoo Youngjae" ujar Daehyun Akhirnya. Youngjae terbelalak kaget mendengar ucapan Daehyun.
"Hyung kau.." Youngjae melepas pelukan Daehyun dan menatapnya tidak percaya.
"Kita akan melewati ini bersama-sama, kau dan aku. Aku janji,aku akan selalu ada bersamamu, kapanpun dimanapun" Daehyun meyakinkan Youngjae. Youngjae tersenyum bahagia.
"Hyung.. "
"Panggil aku Daehyun,"
"Daehyuniie" Youngjae kembali melesatkan tubuhnya pada pelukan Daehyun.
"Aku mencintaimu Yoo Youngjae"
"Aku mencintaimu juga Daehyuniie."
.DaeJae.
Keluarga Mr. Kim tengah bersantai diruang tengah rumahnya, Tidak ada Hyera disana hanya Mr. Kim yang tengah asyik dengan pekerjaan di laptop kesayangannya, dan Nyonya Kim dengan majalah yang dibacanya.
"Bisa kau buatkan aku teh hangat?" Ujar Mr. Kim pada Istrinya. Memecahkan keheningan yang tercipta beberapa saat.
"Sebentar,. biar ku buatkan untukmu" Ms. Kim bangkit dari duduknya.
"Nanti kau simpan saja dimeja, aku akan mengambil berkas yang tertinggal dikamar"
"Baiklah". Tidak perlu menunggu lama Ms. Kim telah kembali dengan secangkir teh hangat ditangnnya. Setelah meletakan teh tersebut Ms. Kim tertarik pada layar laptop suaminya yang dibiarkan menyala begitu saja, dia melihat sebuah pesan e-mail masuk.
"Kau mendapat e-mail, dari seseorang" Teriak Ms. Kim pada suaminya.
"Buka saja, mungkin karyawan kantor" balas Mr. Kim dari arah kamar yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu.
Tanpa rasa curiga sedikitpun Ms. Kim membuka pesan yang tertera pada layar laptop disana. Melihat isi dari pesan tersebut dan terus menggerakan mousenya untuk melihat lebih banyak lagi isi dari pesan tersebut.
"Nugu??" Tanya Mr. Kim. Menyadarkan dari keterkejutan Istrinya.
"Li..hatlah" Ujar Ms. Kim dengan suara nafas yang memburu. Mungkin jika pesan tersebut dari teman kerjanya, Mr. Kim tidak akan seterkejut itu, tapi ini. Seseorang mengirimnya e-mail berupa foto-foto dewasa, dan sebuah vidio pendek. Oke.. sekali lagi jika orang dalam foto tersebut orang lain mungkin Ms. Kim juga tidak peduli, atau mungkin berpikir orang iseng yang tidak sengaja salah kirim. Tapi ini... Anak kesayangannya lah yang menjadi objek dari foto-foto dan vidio tersebut. Kim Hyera. Dan murkalah Mr. Kim. Ingin rasanya dia membanting benda apapun yang berada disekeliling nya, namun ditahan langsung oleh istrinya.
"Sabarlah, suamiku. Kita akan tanyakan ini pada Hyera, Mungkin ini hanya seseorang yang Iseng" Ujar Ms. Kim
"Orang iseng katamu? Kau tidak lihat dengan jelasnya anak kita berada dikumpulan orang-orang menjijikan itu tadi? Bagaimana nasib perusahaan kita jika hal ini benar dan semua orang mengetahuinya"
"AKKHHH... " Mr. Kim menarik guci besar disebelahnya, namun kembali tertahan oleh Istrinya.
"Tidak.. tidak.. jangan lakukan itu, tenangkan pikiranmu. Duduklah. Kita selesaikan ini baik-baik, kita akan diskusikan ini secara keluarga. Kita tunggu sampai Hyera pulang, sabarlah.." Ms. Kim memenangkan suaminya, sejujurnya iapun khawatir tetang pemikiran suaminya tadi. Ia takut jika nama keluarnya akan tercoreng dengan mudahnya hanya gara-gara anak kesayangan nya.
.Daejae.
Daehyun baru saja selesai membuatkan Youngjae semangkuk ramen untuk dia makan. Yang terus mengeluh sejak kedatangan nya kerumah Daehyun. Daehyun tidak menyangka jika hari ini akan jadi hari bahagia baginya, mengetahui perasaan Youngjae aslinya adalah hal terbahagia bagi Daehyun.
"Aku tidak menyangka kau bisa membuat ramen seenak ini", Puji Youngjae.
"Ini ramen instan, siapapun bisa membuatnya. Kau jangan mengada ada"
"Keke.. aku hanya menghargai usahamu. O,. aku ada sedikit kejutan untukmu" Youngjae mengelurkan secarik kertas dari tasnya "Ini.."
"Apa ini?" Tanya Daehyun keheranan.
"Ck.. buka saja"
"Woo.. kau mendapat nilai maksimal?" Kaget Daehyun. Setelah melihat hasil ulangan Youngjae dari kertas tersebut.
"Aku hebat bukan?" Sombong Youngjae.
"Keberuntungan sepertinya,"
"Ck.. kau tidak melihat usahaku selama ini?" Keluh Youngjae.
"kekeke... aku bercanda, kau memang paling terbaik, aku bangga padamu" Ujar Daehyun sembari mengacak rambut Youngjae.
"Terimakasih, Semua ini juga karena kau,"
"Jadi, bagaimana apa Bisnis sesulit yang kau kira?"
"Tidak juga ternyata, aku bahkan mulai menyukainya" Youngjae menjawab dengan mulutnya yang penuh dengan ramen.
"Menyukai pelajarannya atau gurunya? hmm?"
"Ck..apa apaan kau ini hyung. Tentu saja pelajarnya."
"Kau yakin???" Daehyun meragukan kalimat Youngjae
"Tentu, saja..."
"Baiklah.."
"Maksudku menyukai pelajaranya karena gurunya" lanjut Youngjae memotong kalimat Daehyun.
"Menggombal atau meminta nilai tinggi padaku?"
"Nilai tinggi darimu? Kau bercanda? Aku bahkan tidak menerima soal ujian akhirku darimu"
"Ck.." Daehyun berdecih kemudian mengambil tisu didepannya dan membersihkan cipratan air ramen pada pipi Youngjae "Habiskan saja ramenmu baru bicara dengan jelas" Ujarnya lagi ketika selesai membersihkan sisa noda pada pipi Youngjae. Youngjae menyembunyikan rasa malunya dan diam kaku. Suasana hening seketika, Youngjae menghabiskan sisa ramen yang ada di mangkuknya dan terus menenangkan hatinya yang berduguk kencang. Sebelum akhirnya dia mengekuarkan suara lagi.
"Dae.."
"Ya,."
"Kau tau yang kita lakukan ini salah bukan?" Ujar Youngjae tiba-tiba, tanpa perlu waktu lama berpikir Daehyun mengerti maksud Youngjae.
"Aku tidak merasa seperti itu"
"Wae?"
"Perasaan ini tercipta karena Tuhan, Apa aku harus menolak perasaan ini juga? Jae.. jujur, awalnya akupun berpikir bahwa perasaan yang kurasakan saat ini adalah sebuah kesalahan. Aku mencoba menghilangkan perasaan tersebut tapi tidak bisa, bayang-bayang mu selalu menghantuiku setiap saat. Ini membuatku sulit. Tapi setelah aku mendengar pengakuan darimu aku berpikir kembali, mungkin semuanya akan baik-baik saja jika tetap bersama. Apa kau meragukanku?"
"A..ku hanya takut, ada rasa yang sulit untukku jelaskan.. " Terlihat raut wajah keraguan dari sikap Youngjae. Daehyun menarik tangan Youngjae agar dia bisa menatapnya.
"Lihat aku. Youngjae.. aku tau kau masih meragukan perasaan itu. Ketahuilah aku mencintaimu melebihi apapun. Aku berjanji akan selalu ada bersamamu dalam keadaan apapun. Aku berjanji"
"Kau benar-benar berjanji untuku?, Akan selalu bersamaku dalam keadaan apapun?" Youngjae mengulang perkataan Daehyun. Daehyun mengangguk dan menarik Youngjae kedalam pelukannya.
"Aku berjanji" Ujar Daehyun. Youngjae mendongakkan kepalanya menatap Daehyun, Ia belum pernah merasakan perasaan sebahagia ini dengan seseorang, perasaan yang benar-benar membuat Youngjae sulit untuk dijelaskan. Daehyun mendekatkan wajahnya untuk saling menatap satu sama lain lebih dekat. Entah ada dorongan dari mana tiba-tiba Daehyun menempelkan bibir tebalnya dengan bibir kecil Youngjae. Membuat Youngjae kaget seketika. Namun tangan Daehyun dengan eratnnya memegang tangan Youngjae meyakinkan sekali lagi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Youngjae memejamkan matanya ketika Daehyun melumat dengan intens bibir kecilnya. Tanpa Daehyun sadari ada buliran air mata yang menetes di sudut mata Youngjae. Biarkan dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah Youngjae rasakan sebelumnya. Mungkin dengan adanya seseorang saat ini disamping Youngjae akan membuatnya terlihat lebih kuat dalam menghadapi sikap egois Ibunya.
"Eomma.. Mianhae.."
...
.Daejae.
TBC
Note: Chap8 dah update kawan... Gimana? Aneh? Jujur kurang pede sih sebenernya buat publish chap ini. Agak aku cepetin alurnya juga soalnya. Ya berharap pada puas deh.. hehe.. Review-nya jngn lupa babyz,. Review kalian sayang membantu buat keberlangsungan ff ini.. Terima kasih semuanya yang udah review awal-awal ampe sekarang, terimakasih juga buat yang udah support saya. Gomawo pokoknya,. Kalian terbaekkk..
