Disclaimer: I do not own Naruto..
AN: Makasih buat review, favorit, dan follownya.. ^^ dan special thanks buat Drak Yagami yang udah ngingetin ratingnya, hehe..
Warning: AU, mungkin OOC (tapi percayalah, LittleChomper sudah berusaha semaksimal mungkin agar mereka tidak OOC), mengandung genderbend..
Chapter 2
Gaara berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Kamar nomor 67. Ini pasti tempatnya." Gaara mengetuk pintu kamar itu, tapi tak ada jawaban.
Ia mencoba mengetuk sekali lagi, tapi masih tak ada jawaban. Gaara akhirnya memutuskan untuk masuk, namun alangkah kagetnya ia saat menemukan ruangan itu dalam keadaan kosong. Ia keluar dan bertanya pada salah seorang suster yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Maaf suster, pasien yang berada di ruangan ini kemana ya?"
Suster itu melirik clipboard yang dipegangnya. "Namikaze Naruto?"
Gaara tak yakin dengan marga gadis itu, tapi ia ingat kalau gadis itu mengatakan namanya Naruto, jadi Gaara mengangguk menjawab pertanyaan suster itu.
"Ah, maafkan aku. Tapi pasien ini meninggal tadi pagi. Lukanya terlalu parah sehingga ia tak bisa bertahan bahkan setelah operasinya dinyatakan sukses."
Gaara terperanjat. Meninggal? Ini pasti suatu kesalahan. Tak diperhatikannya suster itu sudah pergi. Ia menggelengkan kepalanya. Ia menolak untuk percaya gadis itu sudah meninggal sebelum memastikannya dengan mata kepalanya sendiri. Gaara mengeluarkan smartphonenya dan memanggil seseorang.
"Kankurou? Cari data seorang gadis bernama Namikaze Naruto. Mungkin ia anggota agen khusus kepolisian. Aku tak peduli bagaimana caranya, kau harus mendapatkan apa yang kuminta. Kau paham?"
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Gaara langsung memutuskan panggilannya.
##
Kring..kring..
"Sasuke, bisa bantu kaa-san dan angkat telfonnya?"
Sasuke yang sedang membaca buku meletakkan bukunya di meja dan mengangkat telfon.
"Kediaman keluarga Uchiha disini."
"Maaf, bisa berbicara dengan Uchiha Sasuke?"
Sasuke mengerutkan keningnya. Jika menebak dari suara penelfon ini, ia seorang laki-laki yang masih muda. Tapi Sasuke tak mengenal suara ini.
"Ada urusan apa?" Sasuke langsung saja bertanya tanpa menjawab pertanyaan penelfon itu.
"Apa kau Uchiha Sasuke?" penelfon itu kemudian terdiam sejenak. "Ah, lupakan. Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari seseorang untukmu."
"Seseorang?"
"Pesannya, 'Teme, maafkan aku tak sepintar dirimu, tapi aku sudah berusaha sebaik yang aku bisa. Semoga kau nanti bisa menemukan partner yang cocok denganmu.' "
Hanya satu orang yang berani memanggilnya 'teme' dan orang itu sudah menghilang selama beberapa bulan.
"Itu saja?" Sasuke sebenarnya ingin bertanya lebih banyak, tapi harga dirinya sebagai seorang Uchiha lagi-lagi menghentikan pertanyaan yang sudah berada di ujung lidahnya.
"Kau tak ingin bertanya apa yang terjadi pada pemberi pesan ini?" suara di seberang terdengar marah.
"Apa masih ada yang ingin kau sampaikan?" Sasuke memaksakan suaranya tetap terdengar datar.
"Dia sudah tewas." Ucap penelfon itu sebelum menutup telfonnya.
Tuut…
Sasuke menatap telfon dengan tidak percaya. Ia masih tetap termangu sambil memegang gagang telfon sampai kemudian Itachi yang baru turun dari kamarnya menepuk bahunya.
"Otouto, apa kau tidak ingin ikut makan siang? Kaa-san sudah memanggil dari tadi."
Sasuke tersentak. "Hn." Jawabnya pendek.
Itachi hanya mengangkat bahunya dan berjalan menuju ruang makan. Begitu melihat Itachi menjauh, Sasuke segera mengecek nomor yang menelfonnya tadi, tapi tidak ada nomor. Hanya ada tulisan 'unidentified number'.
'Apa mungkin hanya telepon iseng?' pikir Sasuke. Tapi ia segera menghapus kemungkinan itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada dobe itu?" gumam Sasuke. Ia kembali teringat pada misi terakhir mereka, misi yang pertama kali gagal mereka laksanakan.
(Flashback)
"Mengawal seorang tahanan?" ia bertanya dengan nada sedikit kesal. Itu tugas polisi dan bukan agen seperti mereka. "Kenapa kami harus melakukannya?"
"Karena tahanan ini bukan tahanan biasa." Jawab tou-sannya, Uchiha Fugaku.
"Baiklah." Sasuke memberengut. Ia benar-benar ingin menolak misi ini, tapi mana mungkin ia membantah tou-sannya.
"Ayolah, Sasuke. Jangan berwajah seperti itu." Kaa-sannya meletakkan sepiring pudding dihadapannya. "Tou-san berharap banyak padamu."
"Bisa aku mendapatkan data tahanan itu, tou-san?"
Fugaku tersenyum kecil. Ia mengambil map yang sejak tadi sudah ada dihadapannya dan memberikannya pada Sasuke.
Sasuke menerima map itu dan membukanya. Setelah membacanya, ia meletakkan map itu dihadapannya.
"Jadi, bisa dijelaskan padaku apa yang spesial dari tahanan ini, tou-san? Aku tidak menemukan apapun yang berarti dari data yang baru saja kau berikan."
Fugaku meletakkan Koran yang sedang dibacanya.
"Ini adalah rahasia, karena itu aku tidak memasukkannya kedalam data yang baru saja kau baca."
Sasuke mengangkat alisnya. Ia mulai tertarik dengan tahanan ini.
"Kau mengenal nama Orochimaru?"
Sasuke menggeleng.
"Otogakure?"
"Bukankah itu nama perusahaan yang bergerak dibidang obat-obatan? Hampir seluruh obat-obatan yang dipakai di organisasiku adalah produksi dari perusahaan itu."
Fugaku menghela napas. "Sebenarnya, hampir selama dua tahun ini, kepolisian dan organisasimu mengawasi Otogakure. Mereka menunjukkan pergerakan yang mencurigakan."
"Mencurigakan?"
"Ada kabar kalau mereka melakukan percobaan kepada manusia dan membuat obat-obatan illegal, bahkan desas-desus mengatakan kalau mereka juga memproduksi narkoba."
"Lalu apa hubungannya dengan tahanan special kita ini?"
"Ukon adalah salah satu pengawal pribadi Orochimaru. Dan Orochimaru adalah pimpinan Otogakure."
"Kalian berhasil menangkap Ukon ini?" Sasuke bertanya kepada tou-sannya.
"Tidak. Lebih tepatnya Ukon ini menyerahkan diri. Menurutnya, saudara kembarnya yang bernama Sakon telah menghilang dan ini ada hubungannya dengan Orochimaru-sama." Fugaku mengerenyitkan hidungnya saat mengatakan 'Orochimaru-sama'.
"Jadi, ia ingin mendapatkan perlindungan?"
"Begitulah. Ia ingin mendapatkan perlindungan dan sebagai gantinya ia akan membeberkan segala informasi yang ia ketahui tentang Otogakure."
Sasuke menyandarkan punggungnya ke sofa. Hari ini adalah Sabtu dan sekolahnya libur. Biasanya Sasuke menghabiskan waktu liburnya dengan membaca buku, tapi kali ini kelihatannya ia tak bisa menyelesaikan buku yang baru saja dibelinya. Ia mengambil smartphonenya dan mengirim pesan pada partnernya. Ia tak suka mengirim pesan, biasanya ia lebih suka menelfon karena lebih praktis dan cepat, tapi untuk partnernya ini ia membuat pengecualian.
"Dobe, datang ke rumahku sekarang. Kita ada misi."
Dan setengah jam kemudian, partner pirangnya sudah duduk dengan santai dihadapannya sambil menyantap pudding mangga yang baru saja disajikan oleh kaa-sannya.
"Puding ini sangat lezat, Mikoto-baasan." Partnernya mengacungkan jempolnya pada kaa-sannya.
Kaa-sannya tersenyum. "Syukurlah jika kau menyukainya, Naruto-kun."
Naruto kemudian mengalihkan pandangannya pada piring yang ada dihadapan Sasuke. "Oi teme, kau tidak akan memakan pudingmu bukan? Buatku saja ya?"
Tanpa menunggu jawabannya, Naruto menyambar piring itu dan menghabiskan pudding jatahnya. Setelah ia menghabiskan dua porsi pudding dan segelas jus, barulah ia bertanya, "Apa misi kita?"
Sasuke menegakkan punggungnya. "Mengawal seorang tahanan."
"Kapan?"
Sasuke menatap Naruto dengan sedikit heran. Biasanya partnernya ini akan ribut jika diberi misi yang menurutnya 'terlalu mudah', tapi kali ini ia langsung menerima misi ini tanpa perlawanan.
"Besok, pukul delapan pagi. Kita akan mengawalnya ke penjara federal."
"Oke." Naruto melihat tatapan Sasuke padanya dan menambahkan. "Misi ini dari tou-sanmu bukan? Mudah atau sulit, kita tak akan bisa membantahnya."
"Hn." Dan untuk pertama kalinya, Sasuke benar-benar setuju dengan partnernya ini.
(Flashback end)
"Sasuke! Jika kau tidak bergerak sekarang juga, kaa-san tidak akan menyisakan apapun untukmu!"
Teriakan kaa-sannya memutuskan Sasuke dari lamunannya. Ia bergegas ke ruang makan sebelum kaa-sannya membuktikan ucapannya.
##
"Apa? Kau tidak menemukan apapun?" Gaara berkata dengan nada datar, namun siapapun bisa merasakan kemarahan dalam suaranya. "Aku sudah berkata kau harus menemukannya dengan cara apapun Kankurou. Apa kau berani menolak permintaanku?"
"Ta-tapi, Gaara.." Sabaku Kankurou, duduk dihadapan adiknya dengan wajah pucat. Disebelahnya duduk Temari yang juga sama pucatnya.
"Gaara, Kankurou sudah melakukan semua yang ia bisa." Temari berusaha membantu Kankurou.
"Diam Temari. Aku tak meminta pendapatmu." Gaara kemudian menatap Temari penuh pertimbangan. "Bagaimana kalau kau membantu Kankurou? Aku yakin kalian akan bisa menemukannya jika kalian mencarinya berdua."
Kankurou dan Temari terpaksa mengangguk. Mereka tak akan bisa menolak permintaan Gaara.
"Bagus. Sekarang kalian bisa keluar."
Kankurou dan Temari bergegas keluar. Mereka tak ingin berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan adik mereka. Walaupun Gaara adalah adik kandung mereka, namun Gaara sama sekali tak menganggap mereka sebagai saudaranya.
"Aku merindukan Gaara kecil yang selalu berlari mengikuti kita dan tersenyum ceria saat kita membawakannya mainan." Gumam Kankurou begitu mereka duduk di salah satu kursi di kamar Temari.
"Mau bagaimana lagi, kurasa ini juga salah kita, Kankurou." Temari berkata pelan.
Gaara adalah anak biasa. Dulunya, sebelum tou-sama mereka memutuskan Gaara akan menjadi pewarisnya.
Temari sebagai anak pertama tidak bisa menjadi pewaris karena ia seorang perempuan. Dan Kankurou menolak untuk menjadi pewaris saat Gaara berusia tiga tahun dengan alasan Gaara bisa menggantikannya.
Mereka berdua sama sekali tak menyangka tou-sama akan langsung setuju dengan perkataan Kankurou dan menjadikan Gaara sebagai pewarisnya. Gaara kemudian dikirim entah kemana dan ia kembali saat berumur sepuluh tahun.
Tapi Gaara yang kembali bukanlah Gaara yang dulu. Tidak ada lagi Gaara yang menangis saat terjatuh, atau Gaara yang suka bermain dengan boneka kayu buatan Kankurou untuknya. Ia menjadi Gaara yang dingin, tak berperasaan, dan kalau boleh dibilang, sadis.
Saat pertama kali datang, Gaara menatap mereka sambil menyeringai.
"Tou-sama berkata, aku boleh melakukan apa saja asalkan aku menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Dan itu berarti aku juga boleh memanfaatkan siapa saja untuk kepentinganku, serta boleh menyingkirkan semua yang tak aku sukai."
Mereka semua mengira Gaara hanya menggertak, tapi mereka segera melihat buktinya. Salah seorang maid menghilang setelah maid itu tak sengaja menumpahkan sup panas saat sedang menyajikannya untuk Gaara. Dari cara Gaara menjawab pertanyaan mereka saat mereka mempertanyakan kemana maid itu, mereka tahu kalau maid itu sudah tiada.
Dan sejak saat itu, tak ada yang berani membantah ataupun mempertanyakan Gaara. Apa saja yang diminta Gaara akan segera diberikan dan apapun perintah Gaara akan segera dilaksanakan.
"Sebaiknya kita segera mulai, sebelum Gaara murka kepada kita." Temari menyalakan laptopnya.
Kankurou hanya bisa mengangguk.
##
Sasuke kembali ke kamarnya begitu ia menyelesaikan sarapannya. Hari ini adalah libur nasional, tapi Sasuke tak punya rencana untuk keluar rumah.
Tok..tok..
"Sasuke, ini aku." Terdengar suara kakak lelakinya, Uchiha Itachi dari luar kamar. "Kau tidak ada rencana hari ini? Mau ikut bersamaku?"
"Tidak dan tidak aniki." Sasuke berkata begitu ia membuka pintu kamarnya.
"Tidak dan tidak?" Itachi mengangkat alisnya.
"Aku tidak punya rencana apapun dan aku tidak mau ikut bersamamu." Jelas Sasuke.
Itachi menatap otouto nya dengan sedikit kecewa. "Kau benar-benar menjadi introvert, Sasuke. Paling tidak saat Naruto masih disini, ia selalu berhasil menyeretmu keluar dari kamarmu setiap ia datang."
"Hn."
"Baiklah kalau begitu, sampai nanti Otouto."
Sasuke menutup kembali pintu kamarnya. Saat anikinya menyebut nama Naruto, Sasuke kembali merasakan perasaan yang ganjil yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Saat ia memberanikan diri bertanya kepada kaa-sannya, ia hanya tersenyum, mengelus kepala Sasuke, dan berkata, "Itu namanya rasa bersalah, dear."
Sasuke menghempaskan badannya di tempat tidur. Mau tak mau, ia kembali teringat dengan misi itu.
(Flashback)
Misi itu seharusnya misi yang mudah. Mereka menjemput tahanan itu dari kantor kepolisian pusat, dengan kata lain kantor tou-sannya, mengawalnya ke penjara federal, dan pulang dengan tenang. Mereka hanya harus memastikan tahanan itu aman.
Masalah dimulai ditengah perjalanan, saat Naruto membisikkan sesuatu padanya.
"Oi teme, aku merasa salah satu petugas kepolisian itu mencurigakan."
Sasuke tak menanggapi perkataan Naruto. Ia sudah memeriksa petugas yang bersama mereka satu persatu dan tidak ada yang mencurigakan dari mereka.
"Aku serius teme. Baunya berbeda dengan petugas yang lain. Ia berbau seperti disinfektan, tunggu mungkin rumah sakit? Atau obat?" Naruto ragu sendiri.
"Petugas yang mana?" akhirnya sasuke bertanya.
"Yang rambutnya silver dan pakai kacamata."
Sasuke melirik petugas yang dikatakan Naruto sebelum kembali fokus pada lagu yang didengarkannya.
"Itu hanya perasaanmu, dobe."
"Aku yakin!" Naruto meninggikan suaranya.
"Tenanglah dobe. Jika kau berteriak-teriak seperti itu, nanti kau bisa mabuk darat." Sasuke berkata sambil menyeringai.
"Berteriak-teriak tidak akan menyebabkan mabuk darat!"
"Coba saja kalau begitu."
Mereka menghabiskan waktu dengan cara biasa, bertengkar. Tapi mereka tetap memperhatikan sekeliling mereka dengan seksama. Saat ini mereka sedang menaiki mobil khusus kepolisian yang biasanya digunakan untuk memindahkan tahanan. Mobil hitam dengan jendela berjeruji dan kaca anti peluru.
Tak lama setelah Naruto puas berteriak-teriak, mobil terguncang dan sopirnya segera menghentikan mobil.
"Ada apa?" Sasuke bertanya kepada sopir yang berada di depan.
"Kelihatannya salah satu ban mobil pecah, Uchiha-san."
"Tunggu disini, dobe. Aku akan memeriksanya." Sasuke membuka pintu mobil dan keluar, tapi baru saja ia akan memeriksa ban mobil itu, terdengar letusan senjata dari dalam mobil. Ia melihat seseorang berlari keluar dari mobil dan akan mengejar orang itu saat ia mendengar teriakan partnernya dari dalam mobil.
"Sialan!"
"Namikaze-san, anda terluka!"
"Oi teme, kejar orang tadi!" Naruto muncul di pintu mobil sambil memegang lengannya yang terluka.
Sasuke mengangguk dan mengejar lelaki yang berlari menjauh itu, namun belum sempat ia mencapainya, sebuah mobil berhenti dan lelaki itu masuk ke mobil itu yang segera melaju menjauh.
"Chikusoo!"
Sasuke berlari kembali ke mobil tahanan tadi untuk memeriksa kerusakan. Ia mendapati Naruto duduk di depan pintu mobil dan salah seorang petugas membalut lengannya dengan perban.
"Bagaimana dengan tahanannya?" Sasuke bertanya dengan kesal. Dan jawaban Naruto membuatnya bertambah kesal.
"Tewas."
Sasuke akhirnya meledak.
"Apa saja yang kau lakukan? Aku hanya keluar sebentar dan kau membuat semuanya kacau!"
"Maksudmu semuanya salahku, teme? Aku sudah berusaha memperingatkanmu tapi kau tidak mempercayaiku dan sekarang kau menyalahkanku?"
"Kau membiarkan tahanannya tewas!"
"Semua ini tak akan terjadi jika kau mendengarkan peringatanku!"
"Kau benar-benar tidak berguna! Jika saja kau lebih kuat dan pintar!"
Sasuke mengira Naruto akan membalas teriakannya, tapi Naruto terdiam. Ia kemudian berjalan ke arah depan mobil dan memerintahkan mobil kembali berjalan setelah mereka mengganti ban yang pecah.
Naruto tak mengatakan apa-apa selama sisa perjalanan. Begitu mereka sampai di tujuan, mereka melaporkan semua yang terjadi, tapi diluar dugaan, tak ada yang menyalahkan mereka. Pihak kepolisian justru menyalahkan pihak mereka sendiri yang sudah ceroboh dalam memilih petugas.
Begitu ia selesai melapor, Sasuke keluar, berusaha mencari Naruto, tapi ia tak menemukannya. Salah seorang petugas berkata kalau Naruto sudah lebih dahulu pergi. Sasuke berusaha menghubungi Naruto, tapi panggilannya ditolak.
Dan itulah terakhir kalinya ia melihat Naruto.
(Flashback end)
Sasuke tahu, tak seharusnya ia melampiaskan kekesalannya pada Naruto. Selama ini Naruto cukup sabar menghadapi dirinya (ia tak akan mau mengakui itu dihadapan orang lain) yang terkenal sebagai salah satu keluarga Uchiha. Saat menentukan partnernya dahulu, tak ada anak laki-laki seumurannya yang mau menjadi partnernya. Yang ada hanya anak-anak perempuan berisik memakai make up yang tak sesuai dengan umur mereka yang sibuk berteriak 'Sasuke-kyuun!'
Hanya Naruto satu-satunya yang mengulurkan tangan padanya dan memperlakukannya seperti teman-temannya yang lain.
Sasuke dalam hatinya mengakui, ia memang tak suka keramaian, tak banyak bicara, tak suka menampakkan ekspresinya apalagi bersosialisasi dengan orang lain. Tapi Naruto selalu paham apa yang ingin dikatakannya, bahkan jika ia hanya mengucapkan 'Hn' atau mengangkat alisnya.
'Apa yang terjadi pada dobe itu? Apa ia benar-benar tewas?' Sasuke berguling di kasurnya sampai tanpa ia sadari dirinya sudah tertidur.
##
Akhir kata, review please, minna?
